Di Lembah Mandalawangi

Pendakian Gunung Pangrango (Day 2-Tamat)

Minggu, 19 Oktober 2014

Setelah sholat subuh, kami menghangatkan kembali kacang hijau yang sudah kami masak malam sebelumnya. Kemudian Rani yang meracik kacang hijau tersebut untuk menjadi bubur kacang hijau. Bubur kacang hijau ini menjadi menu “pengganjal perut” kami sebelum nanjak ke puncak Pangrango.

Karena posisi tenda kami berada di jalan pendakian menuju Puncak Pangrango, tak jarang kami bertemu dengan pendaki-pendaki yang hendak menuju ke puncak.

Naik ke puncak dan Lembah Mandalawangi

Setelah sarapan bubur kacang hijau, kami mulai bersiap-siap untuk naik ke puncak. Tenda kami kunci rapat-rapat. Barang-barang seperlunya seperti kamera dan beberapa botol air minum kami bawa.

Tepat pukul 7 pagi kami memulai pendakian menuju puncak ini. Tanpa menenteng tas carrier di pundak, pendakian kali ini terasa jauh lebih ringan. Kami juga bisa melangkah lebih cepat.

40 Menit waktu yang kami butuhkan untuk trekking dari tempat kami menuju ke puncak ini. Berbeda dengan tetangganya, Gunung Gede, puncak Gunung Pangrango ini cukup sempit. Juga tak ada kawah di sana. Di kanan kiri pun banyak pepohonan yang cukup lebat. Jadi kalau soal view, aku pikir masih lebih cantik view puncak Gunung Gede.

Di puncak Pangrango ini kami berfoto-foto dengan papan triangulasi yang ada di sana. Di papan triangulasi tersebut tercetak tulisan “Puncak Pangrango 3019 MDPL”. Secara ketinggian, puncak Gunung Pangrango ini memang sedikit lebih tinggi daripada Gunung Gede yang tingginya 2958 mdpl.

Di Puncak Pangrango

Di Puncak Pangrango

Setelah puas menikmati puncak, kami berjalan menyusuri jalan setapak yang berada di dalam rimbunnya pepohonan. Cukup 10 menit saja berjalan dari puncak ini, kami selanjutnya sudah berada di realm yang berbeda. Sebuah padang yang cukup luas dengan banyak pepohonan Edelweiss di sana. Inilah Lembah Mandalawangi!

Lembah Mandalawangi cukup populer di kalangan para pendaki. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah karena sosok Soe Hok Gie. Soe Hok Gie jatuh cinta pada tempat ini sehingga tercipta sebuah puisi yang menggambarkan kecintaannya pada alam Mandalawangi ini (baca di sini puisi Mandalawangi oleh Soe Hok Gie).

Pagi itu Lembah Mandalawangi memberikan kesan misterius. Kabut tebal yang menyelimuti lembah sepertinya yang memberikan kesan misterius tersebut. Meski waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, sinar matahari tak mau masuk ke dalam Lembah Mandalawangi. Justru udara dingin yang menyapa kulit kami pagi itu.

Di Lembah Mandalawangi

Di Lembah Mandalawangi

Berselimut kabut

Berselimut kabut

Menatap Lembah Mandalawangi

Menatap Lembah Mandalawangi

Semilir angin sepoi-sepoi di pagi hari yang diselimuti kabut membuatku seolah ingin terus-terusan berada di tempat ini menikmati hidup. Benar-benar sebuah ketenangan dan kesegaran yang tak akan pernah bisa kudapatkan di hiruk pikuk keramaian kota.

Kembali ke Tenda

Sayang sekali, tak bisa berlama-lama kami berada di Lembah Mandalawangi. Kami harus berhitung dengan waktu agar tidak kemalaman pulang dari Cibodas nantinya.

Menjelang pukul 9 kami turun kembali ke tenda. Kali ini kami hanya butuh waktu 30 menit saja untuk sampai ke tenda dari Lembah Mandalawangi ini. Jelas saja, rutenya kali ini berupa turunan semua.

Setelah tiba di tenda, kami mulai mengeluarkan peralatan memasak lagi. Tadi pagi masih belum cukup cuma makan bubur kacang hijau saja, hehe.

Kalau malam sebelumnya, cewek-cewek yang masak, kali ini cowoknya nggak mau kalah. Gantian Listi, Gin, dan aku yang masak menu sarapan kali ini. Menunya yang simpel-simpel aja: Nasi Goreng! Haha.

Kami bertiga bahu-membahu memasak nasi goreng ini. Ada yang mengupas bawang, menggoreng nasi, menggoreng telor, dsb. Kami cukup bangga saat itu ternyata nasi goreng yang kami sajikan rasanya ternyata cukup enak. Halah, memuji diri sendiri haha. Perasaan kalau sudah di gunung, makanan dengan rupa kayak gimanapun rasanya pasti selalu enak, haha.

Turun ke Cibodas

Sekitar jam 11 kami mulai memberesi barang-barang kami. Tenda kami lipat kembali. Barang-barang kami kepaki ke dalam tas carrier kami masing-masing. Sampah-sampah kami kumpulkan ke dalam satu trash bag. Setelah semuanya siap, perjalanan turun ke Cibodas kami mulai.

Dalam perjalanan trekking menuju Kandang Badak ini kami sempat agak bingung menentukan rute ketika menghadapi sebuah percabangan. Kami merasa jalan yang kami lalui tidak sama dengan saat kami berangkat. Namun, ternyata jalur yang kami lalui ini mengantarkan kami tiba lebih cepat ke Kandang Badak.

Kami keluar di dekat aliran sungai Kandang Badak. Hanya 1,5 jam saja waktu yang kami butuhkan untuk sampai di sana. Padahal saat berangkat kami butuh waktu 3,5 jam.

Di Kandang Badak kami istirahat untuk melaksanakan sholat Dhuhur dijama’ dengan Ashar. Di sana kami juga sempet mengisi perut dengan memakan mie goreng yang kami masak sebelum berangkat tadi. Kami juga sempat tidur-tiduran sebentar sembari menunggu bergantian sholat.

Satu jam berada di Kandang Badak, kemudian kami melanjutkan trekking lagi ke Cibodas. Aku berjalan lebih dulu daripada yang lain. Tas berat dan trash bag yang kupikul dan rasa lelah yang sudah mulai datang, membuat aku lebih nyaman jika berjalan cepat-cepat. Karena itu, tak terasa dalam dua jam aku sudah tiba lebih dulu di basecamp Cibodas.

Di Cibodas aku duduk-duduk sambil istirahat melepas lelah. Sementara itu, teman-teman yang lain baru tiba sekitar setengah sampai satu jam kemudian.

Setelah semuanya komplit, kami langsung menyerahkan kembali SIMAKSI yang kami pegang kepada pos lapor. Setelah itu, kami pun berjalan keluar meninggalkan kompleks Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ini. Kami mampir di masjid kantor TNGGP untuk melaksanakan sholat maghrib.

Setelah itu, menyegat angkot kuning untuk turun ke bawah. Ongkos angkot kali ini Rp5.000 per orang. Hitungannya kami adalah sebagai penumpang umum. Berbeda dengan waktu keberangkatan ke sini yang kami harus mencarter angkot sebesar Rp60.000 dibagi bersepuluh.

Di pertigaan Cibodas aku dan Gin berpisah dengan Listi, Putri, Rani, dan Dwi. Kami menyegat bus tujuan Cianjur sebelum oper bus tujuan Bandung. Sementara mereka menyegat bus tujuan Jakarta. (tamat)

3 thoughts on “Pendakian Gunung Pangrango (Day 2-Tamat)

  1. sherlanova

    Halo Dhito, ini mbak Ales. Inget gak? Yang di ITBCC? Kalo belom inget, tanya Ariz coba.😀

    Oya, request boleh ya? Kalo mau naik gunung, ajak-ajak saya yak? Nuwun sewu.🙂

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s