Tag Archives: ladang

Trekking di Bukit Batu Sawa

Satu bulan yang lalu saya dan Kun berkunjung ke Kuala Lumpur kembali. Pada akhir pekan kawan kami di KL, Ab, mengajak kami untuk pergi trekking lagi bersama kawan-kawannya. Sebelum ini pada akhir Januari lalu kami diajak olehnya pergi mendaki Gunung Angsi di Negeri Sembilan.

Kali ini Bukit Sawa menjadi tujuan kami berikutnya. Juga berada di Negeri Sembilan. Tepatnya di distrik Jelebu, yang berjarak kurang lebih 100 km dari Kuala Lumpur.

baca jugaMendaki Gunung Angsi

Ab datang menjemput kami pada pukul 4 pagi di kawasan Kerinchi, KL. Selepas itu kami langsung menempuh perjalanan selama hampir 2 jam menuju Jelebu. Kami berhenti di sebuah surau yang berada di kawasan Kampung Simpang Gelami, Jelebu untuk melaksanakan sholat subuh.

Di sana pulalah kami bertemu dengan 4 kawan Ab yang lain. Yakni Zu, Fariha, Miera, dan Nor. Dengan Zu dan Fariha saya sudah kenal sebelumnya karena ikut mendaki bersama juga di Gunung Angsi. Dengan Miera dan Nor baru kali ini saya bertemu.

Tidak ada petunjuk yang cukup jelas di mana jalan masuk ke Bukit Batu Sawa ini. Kami sempat salah jalan sebelum kami diberitahu oleh salah seorang warga bahwa jalan masuk Bukit Batu Sawa ada di tempat lain. Bukan di hutan dekat rumah warga tersebut.

Kami pun kembali ke mobil dan menuju tempat yang dimaksud. Rupanya Bukit Batu Sawa ini memang berbeda dengan Gunung Angsi yang kami kunjungi dulu. Tidak ada pos masuk di mana pengunjung diharuskan untuk membayar tiket masuk.

Di awal jalur trekking kami melalui kawasan ladang Continue reading

Advertisements
Melewati hutan antara Pos 2-3

Pendakian Gunung Sumbing Via Kaliangkrik (Bag. 2): Mendaki Sampai Pos 3

Minggu, 25 Desember 2016

Basecamp (1722 mdpl) – Pos 1 (2127 mdpl)

Dari basecamp menuju Pos 1 ini di awal medan trek masih berupa jalan cor-coran karena masih berada di dalam dusun. Kemiringan jalannya lumayan terjal. Selepas keluar dari dusun, kami melewati ladang-ladang milik warga setempat.

Di jalan kami cukup sering berpapasan dengan warga yang sedang bercocok tanam di ladangnya. Beberapa warga juga tampak tengah turun membawa ranting-ranting kayu bakar, rumput, atau hasil ladang mereka.

Mereka sangat ramah kepada pendaki. Suka menyapa kami dan tak sedikit yang bilang, “Monggo pinarak mas…”

Cukup banyak variasi tanaman yang ditekuni oleh penduduk setempat di ladang-ladang mereka ini. Sejauh mata memandang, saya melihat tanaman-tanaman antara lain seperti kol, bawang, wortel, dan teh. Selain itu, masih ada lagi tentunya.

Berjalan melalui ladan-ladang warga

Berjalan melalui ladan-ladang warga

Di situ medan trek yang kami hadapi sudah berupa anak-anak tangga yang tersusun dari batu-batu. Jalan yang kami lalui juga konsisten menanjak terus. Belum sampai pos 1 Continue reading

Memasuki kawasan hutan cemara

Catatan Pendakian Gunung Merbabu (Hari 1)

Kamis, 31 Desember 2015

Bus Kramat Djati yang saya tumpangi dari Bandung tiba di Terminal Boyolali tepat ketika waktu menunjukkan pukul 5.30. Di terminal telah menunggu Listi, mbak Meli, mas Teguh, dan mas Jamal. Mereka masing-masing datang dari Jakarta dan Cikampek. Kecuali Listi, yang lain baru saya kenal saat itu.

Selain kami, di terminal juga ada 2 orang pendaki lagi yang juga hendak naik Merbabu. Mereka berdua datang dari Majalengka. Kami semua berencana untuk naik Gunung Merbabu melalui pintu masuk Selo.

Di terminal telah menunggu sebuah minibus jurusan Boyolali-Cepogo-Selo. Bus tersebut belum mau berangkat jika penumpang bus dirasa belum cukup. Total saat itu kami sudah bertujuh. Oleh mas sopirnya sebenarnya sudah ditawari berangkat saat itu juga. Kami meminta masnya untuk menunggu lebih lama lagi karena kami perlu belanja logistik dulu. Tapi oleh masnya kami ditawari untuk belanja di sekitar Pasar Cepogo saja. Kami pun setuju. Jadilah kami berangkat saat itu juga.

Belanja Logistik di Cepogo

Setelah 30 menit perjalanan, bus tiba di Pasar Cepogo. Tak ada penumpang tambahan yang naik sepanjang perjalanan itu. Sepi juga penumpangnya. Pantas kata masnya nggak banyak bus yang menuju Selo ini. Di atas jam 11 siang sudah nggak ada bus yang ke Selo katanya.

Di Cepogo ini terdapat pasar yang sangat luas. Ada pusat sayur-sayurannya pula. Lebih murah daripada beli di Boyolali. Di sekitar pasar terdapat minimarket Indomaret dan Rahma Swalayan.

Di Cepogo kami membeli kebutuhan logistik, terutama untuk perbekalan makanan selama pendakian nanti. Namun di sini kami tidak berhasil mendapatkan gas kaleng. Untungnya Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 2): Dieng Plateau

Hari 2: Minggu, 23 Desember 2012

Subuh-subuh kami semua sudah bangun. Kami bergantian untuk menunaikan sholat Subuh dan juga mandi.

Ketika pagi datang, kami semua keluar untuk sarapan Soto Semarang di sebuah rumah makan di dekat rumah Dhana. Rasanya ini pertama kalinya aku makan soto Semarang. Enak bangeetttternyata. Maknyus. Soto Semarang disajikan secara khas dengan mangkuk kecil dan ada sate-satean (telur puyuh, ayam) dan perkedel yang juga bisa kita pilih untuk menambah nikmatnya makan kita.

Sekitar pukul 8 pagi kami berpamitan kepada Dhana dan keluarganya untuk melanjutkan pengembaraan alias mbolang kami ke Dieng. Ya, setelah berdiskusi, jadinya kami memang berencana akan pergi ke Dieng dan Yogya saja, dengan Dieng sebagai tujuan pertama kami.

Di dalam bus ke Dieng

Di dalam bus ke Dieng

Kami menyegat bus di daerah Banyumanik, Semarang. Kami menumpang bus tujuan Purwokerto via Wonosobo. Ongkos bus hingga Semarang-Wonosoboadalah 25 ribu per orang. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3,5 jam.

Setelah turun di Wonosobo, kami berganti menumpang mikro-bus Wonosobo-Dieng. Ongkosnya adalah 8.000 per orang. Perjalanan ke Dieng ini memakan waktu sekitar sejam. Di tengah jalan sempat hujan deras. Beruntung ketika kami tiba di Dieng, hujan sudah reda.

Kami pun mulai menyusuri jalan sambil mencari wisma atau motel untuk menginap. Btw, aku cukup terkejut di Dieng ini aku tak menemui para “calo” yang biasanya berkeliaran di kawasan villa atau tempat rekreasi pada umumnya menawarkan tempat menginap. Di Puncak, Songgoriti-Batu, dan Bromo, calo-calo itu hampir selalu kita temui.

Di depan penginapan

Di depan penginapan

Akhirnya kami pun menemukan satu wisma yang cukup murah dan sedang kosong dua kamar, yakni wisma “ASRI”. Tarif per kamarnya 75 ribu. Sepertinya itu harga ketika peak seasonnya. Kebetulan memang waktu itu sedang long weekend. Satu kamar kami isi bertiga.

Sore harinya kami keluar cari makan. Ya, nggak terasa dari pagi kami belum makan dan tanpa sadar perut sudah meronta-ronta. Kami makan di sebuah rumah makan di dekat kantor kecamatan Dieng yang juga bersebelahan dengan ‘terminal’.

Sehabis makan, kami jalan-jalan ke kompleks Candi Arjuna yang memang menjadi ikon Dieng itu. Tiket masuk 10 ribu per orang. Entah karena memang sudah terlalu sore atau Continue reading