Jalan-Jalan di Padang & Bukittinggi (Bag. 2): Malam Minggu di Jam Gadang

Dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi kami sempat singgah di dua tempat. Pertama kami mampir ke Air Terjun Lembah Anai yang terletak tepat di pinggir jalan raya trans Sumatera yang menghubungkan Kota Padang dengan Bukit Tinggi. Air Terjun Lembah Anai ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Tanah Datar.

Sayangnya kami tiba di sana ketika waktu sudah memasuki maghrib. Langit sudah agak gelap. Jadi saya tidak bisa dengan jelas mengambil gambar air terjun tersebut.

Sebentar saja kami berkunjung ke Air Terjun Lembah Anai ini. Setelah mengambil foto yang hasilnya pun buram karena gelap, kami pun kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, tepatnya di Kota Padang Panjang, kami singgah lagi di Rumah Makan Sate Mak Syukur untuk makan malam. Sate Mak Syukur ini kabarnya merupakan Sate Padang yang paling enak dan sudah melegenda di kalangan wisatawan.

Terbukti ketika kami datang ke sana, banyak rombongan pelancong yang bersantap malam di sana. Bahkan sampai ada beberapa bus juga parkir di sana.

Kemasyhuran Rumah Makan Sate Mak Syukur ini pun sampai ke kalangan tokoh-tokoh pejabat nasional juga. Dari foto-foto yang dipajang tampak bahwa Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, dan mantan presiden SBY pun juga pernah berkunjung ke sana.

Foto-foto pejabat yang berkunjung ke Sate Mak Syukur

Foto-foto pejabat yang berkunjung ke Sate Mak Syukur

Saya dan Rizky sama-sama memesan Sate Padang serta Teh Talua. Ini kali pertama saya mencoba Continue reading

Advertisements

[Solved] Jaspersoft Studio Glitches on Ubuntu

Yesterday I installed Jaspersoft Studio for the first time in my laptop. I’m using Ubuntu 17.10 as the operating system for my laptop.

I don’t usually work on Jasper Reports. But there was an error in a report on a project that I’m working on that needed to be fixed ASAP.

It was just a little error actually. So I decided to fix it myself. I installed Jaspersoft Studio 6.2.2 in my laptop. Since I’m using Ubuntu, I downloaded the .deb one.

Then I opened up the app. Strangely when I opened my jrxml file, the report design didn’t show up. There was an error message displayed but then it quickly disappeared before I could even read it (but I could quickly take a screenshot of the error message, haha). Moreover, the app itself was running very slowly.

Error opening the jrxml file on Ubuntu 17.10

Error opening the jrxml file on Ubuntu 17.10

So then I tried to download and install the .tgz one, hoping this time it could work. Still there was no luck. It still had the same problem.

I then googled the issue and, thanks God, finally I came accross this article in jaspersoft community forum. Apparently the problem is the app by default is not compatible with the version of GTK+3 used by Ubuntu. Fortunately the solution is easy. We just need to insert the magic words i.e. export SWT_GTK3=0 into the script runubuntu.sh.

#!/bin/bash
export SWT_GTK3=0
DIR=$(dirname "$0")
export UBUNTU_MENUPROXY=0;
"$DIR"/Jaspersoft\ Studio $*

Then execute again the script runubuntu.sh. Tadaaa….! Finally it works.

Yayyy... now it can show up

Yayyy… now the report design can show up

 

Jalan-Jalan di Padang & Bukittinggi (Bag. 1): Sekejap di Padang

Selepas dari acara pernikahan Neo, saya dan Rizky menaiki angkot menuju Masjid Raya Sumatera Barat. Lokasinya tidak jauh dari tempat acara. Masih di ruas jalan yang sama. Hanya berjarak 2 km saja.

Masjid Raya Sumatera Barat ini memiliki gaya arsitektur yang unik, tidak seperti bentuk masjid pada umumnya. Desainnya memang disengaja agar menonjolkan arsitektur khas rumah adat Minangkabau, rumah gadang, yakni bangunan dengan atap bergonjong.

Di masjid ini kami melaksanakan sholat jama’ Dhuhur dan Ashar. Kami sempat agak kesulitan mencari tempat wudlu karena kurangnya petunjuk. Sepertinya masjid ini memang belum sepenuhnya selesai. Di beberapa bagian juga masih tampak tengah dilakukan pembangunan.

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat

Usai sholat, kami berdiskusi mengenai tujuan selanjutnya. Berhubung Rizky sudah pernah ke Padang, Rizky lebih banyak menentukan tempat yang hendak kami kunjungi sih. Jadi saya tinggal mengikuti saja. Hehehe.

Diputuskanlah tujuan kami berikutnya adalah ke Jembatan Siti Nurbaya. Menurut Google Maps, jarak dari Masjid Raya Sumatera Barat ke salah satu ikon wisata Kota Padang tersebut adalah 6 km. Kami pergi ke sana dengan menaiki Gojek yang kami pesan masing-masing.

Setelah turun dari Gojek, kami kemudian berjalan kaki naik ke atas Jembatan Siti Nurbaya. Sembari berjalan, kami melihat-melihat pemandangan di sekitar dan berfoto-foto.

Jalan kaki menyusuri Jembatan Siti Nurbaya

Jalan kaki menyusuri Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya ini berdiri di atas Sungai Batang Arau, menghubungkan Jalan Nipah dengan Jalan Kp. Batu yang berada di seberang, yakni di kaki Gunung Padang. Konon jembatan tersebut diberi nama demikian karena Gunung Padang yang dihubungkan oleh Jembatan Siti Nurbaya ini merupakan bukit di mana Siti Nurbaya pertama kali bertemu dengan kekasihnya Samsul Bahri, menurut novel Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1922).

Sore itu beberapa orang tampak mulai mempersiapkan lapak perniagaannya di pinggir jembatan. Pada malam hari kawasan jembatan ini memang berubah menjadi kawasan kuliner yang menawarkan menu khas Minang.

Jembatan Siti Nurbaya berdiri di atas Sungai Batang Arau

Jembatan Siti Nurbaya berdiri di atas Sungai Batang Arau

Usai puas menikmati pemandangan dari atas jembatan, kami kembali turun menuju Jalan Nipah. Kemudian kami berbelok ke kanan menyusuri Jalan Batang Arau, tepatnya di jalur pedestrian yang berada di pinggir sungai.

Kawasan utara pinggir Sungai Batang Arau yang kami lalui ini dikenal sebagai kawasan Kota Tua Padang. Di sinilah cikal bakal dari keberadaan Kota Padang dahulu bermula. Banyak bangunan tua yang masih berdiri di sana. Mayoritas memang tampak seperti sudah tidak ditempati. Di pinggir sungai juga terlihat jejak rel kereta api yang sebagian besar sudah tertanam di dalam tanah.

Salah satu sudut kawasan Kota Tua

Salah satu sudut kawasan Kota Tua

Di kawasan Kota Tua ini kami singgah di sebuah warung kopi bernama Kopi Tua Coffee. Kebetulan langit ketika itu semakin mendung menandakan hujan akan turun sewaktu-waktu. Benar saja, tak lama kemudian hujan deras pun turun mengguyur kawasan Kota Tua ini. Kami pun menunggu hujan reda sembari menyeruput kopi tubruk serta menikmati menu banana crispy di tempat tersebut.

Banner di Kota Tua Coffee

Banner di Kota Tua Coffee

Seharusnya jika cuaca cerah, rencana kami berikutnya adalah mengunjungi Pantai Padang. Namun, berhubung hujan deras masih mengguyur, akhirnya kami memutuskan untuk langsung lanjut ke Bukittinggi. Rizky pun mengontak Bang Untung, driver yang sudah kami pesan sebelumnya melalui kawan kami, Julino, untuk menjemput kami di Kota Tua Coffee ini.

Julino ini kawan kami semasa kuliah dulu yang kini sudah banting setir dari dunia IT untuk fokus menekuni bisnis di bidang travel. Dia menjalankan bisnisnya dari kampung halamannya di Bukittinggi. Namun sayangnya hari itu dia sedang tidak berada di Bukittinggi. (bersambung)

————————————————————————————-

Indeks link seri artikel Jalan-Jalan di Padang & Bukittinggi:

 

Pertama Kali ke Ranah Minang

Dua minggu lalu (10/2) untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Ranah Minang. Perjalanan saya ke Provinsi Sumatera Barat ini sebenarnya dalam rangka untuk datang ke resepsi pernikahan seorang sahabat masa kuliah saya dulu, Neo, di Padang.

Sekitar 2-3 minggu sebelumnya, Neo membagikan undangan via Whatsapp ke grup sahabat jalan-jalan masa kuliah kami dulu. Salah seorang kawan saya di grup tersebut, Rizky, kemudian melalui private message mengajak saya untuk menghadiri pernikahan Neo tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya pun menyambut baik ajakan tersebut. Kapan lagi ada momen untuk pergi ke Tanah Minangkabau ini, pikir saya. Sudah lama sebetulnya saya penasaran ingin main ke sana.

Bagaimana tidak penasaran. Selama masa kuliah dulu beberapa kawan dekat saya banyak yang berasal dari sana. Sampai-sampai saya yang ketika tinggal di Malang bisa dihitung dengan jari berapa kali makan nasi Padang dalam setahun, sejak berteman dengan mereka, dalam seminggu minimal sekalilah makan nasi Padang. Hahaha.  Eh, ada hubungannya nggak ya? 😅

Karena itulah momen perjalanan ke Sumatra Barat ini pun, selain datang ke pernikahan Neo, juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan mengeksplorasi Kota Padang. Rizky yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Sumatera Barat dalam rangka urusan pekerjaan merekomendasikan untuk sekalian mengunjungi ke Bukittinggi dan daerah sekitarnya.

Jadilah disepakati usai acara pernikahan Neo, saya dan Rizky langsung pergi jalan-jalan. Sebelumnya, di acara pernikahan Neo pun kami sudah menjajal beberapa kuliner khas Minang. Ada Sate Padang, Martabak Kubang, dan tentu saja Nasi Padang. Hehehe.

Untuk cerita jalan-jalan di Padang dan sekitarnya akan saya coba tulis terpisah di artikel berikutnya. Btw, selamat menempuh hidup baru Neo! Semoga sakinah mawaddah wa rahmah.

 

 

Menikmati Lemang To’ki di Bentong-Pahang

Dalam perjalanan pulang selepas mengikuti LDB International 2018 di Lurah Bilut, Ab mengajak saya untuk mampir makan siang di rumah makan yang sangat populer di Bentong, Pahang. Lemang To’ki namanya.

Siang itu Lemang To’ki tengah ramai dengan pengunjung. Kata Ab, kebanyakan orang yang singgah di sini adalah para traveler yang sedang melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Terengganu atau sebaliknya.

Lokasi Lemang To’ki ini memang persis berada persis di pinggir jalan utama Bentong yang merupakan jalan lintas negara bagian itu. Tempatnya sebenarnya agak terpencil. Jauh dari kota. Di sekelilingnya terdapat perkampungan dan juga hutan.

Salah satu yang membuat spesial tempat ini adalah di sini kita bisa melihat bagaimana lemang disiapkan secara langsung. Mulai dari beras ketan dibungkus dengan selembar daun pisang, dimasukkan ke dalam seruas bambu, sampai akhirnya kemudian bambu tersebut dibakar hingga matang.

Bambu-bambu berisi lemang tengah dibakar

Bambu-bambu berisi lemang tengah dibakar

Sesuai namanya, menu utama yang ditawarkan di Lemang To’ki ini adalah lemang, yang disajikan dengan beberapa macam pilihan lauk. Saya memesan 1 set lemang dengan rendang daging. Harganya cukup bersahabat, yakni RM4,50 saja.

Selain lemang, ada menu lain juga yang tersedia. Kalau melihat tempat pembakarannya, tampak ada ikan, ayam, dan daging yang tengah dibakar juga.

Harga menu Lemang To'ki

Harga menu Lemang To’ki

Selain makanan, di sana juga menyediakan beraneka macam minuman. Saya memesan es cendol untuk dinikmati bersama dengan lemang. Cocok sekali untuk suasana siang itu yang memang sangat terik.

Lemang + rendang daging dan es cendol

Lemang + rendang daging dan es cendol

Secara penampilan lemang ini mungkin mirip lemper kalau di tempat saya. Bedanya kalau lemper ada isi daging ayamnya, kalau lemang hanya nasinya saja. Kalau lemang dimakan sendirian tanpa lauk pendamping rasanya menjadi hambar.

Setelah mendapatkan meja kosong untuk duduk, saya pun tak sabar untuk segera menyantap lemang ini selagi masih hangat. Daun pisang yang membungkus lemang saya kelupas secara perlahan.

Total ada 4 potong lemang kecil-kecil. Saya lahap satu-persatu bercampur dengan potongan daging rendang dalam satu suapan. Ahh… sedapnya. Aroma daun pisang yang panas akibat pembakaran bambu tadi ikut meresap dalam lemang tersebut. Kombinasi antara lemang dengan rendangnya juga pas banget. Rasanya mantap.

Lemang + Rendang Daging

Lemang + Rendang Daging

Lemang ini mengingatkan saya dengan penganan sejenis yang berasal dari Kota Batu. Yakni, Pos Ketan Legendaris yang berlokasi di kawasan Alun-Alun Kota Batu itu. Kalau di sana beras ketan yang dimasak saya nikmati bersama durian (dan kuah durian) yang manis, di sini dinikmati bersama rendang yang rasanya asin. Dua-duanya sama-sama sedap.

 

 

 

Trail Run di LDB International 2018

Tiga hari setelah naik Gunung Angsi, saya diajak Ab untuk mengikuti event trail run bertajuk LDB International 2018 – Trail Run & MTB. Event tersebut diselenggarakan oleh Felda (Federal Land Development Authority) di Lurah Bilut, Bentong, Pahang. Sesuai namanya, event ini tidak hanya memperlombakan trail run saja, tetapi juga MTB.

Ini untuk pertama kalinya saya pergi ke Negara Bagian Pahang. Perjalanan ke sana ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Kuala Lumpur. Di Lurah Bilut inilah saya melihat gambaran pedesaan di Malaysia, yang selama ini dengan Kuala Lumpurnya, lebih dikenal dengan banyaknya gedung bertingkat.

Pada event ini, peserta MTB mendapatkan privilege untuk mulai jalan terlebih dahulu, yakni pukul 8 pagi, dan menempuh jarak 30 km. 15 Menit kemudian peserta trail run menyusul dengan menempuh rute lebih pendek, yakni 12 km.

 

Walaupun namanya trail run, kalau dihitung secara kasar, mungkin proporsinya 50% lari di jalan beraspal dan 50% lainnya baru lari di trail, tepatnya di kawasan ladang kelapa sawit yang dikelola oleh Felda. 

Meskipun demikian, rute yang dilalui cukup berat bagi saya.Apalagi saya sudah lama tidak rutin berlari. Cukup banyak tanjakan dan turunan sepanjang rute ini. Selain itu, tak jarang rute melewati tanah berlumpur dan tergenang air sehingga harus melaluinya secara pelan-pelan.

Saya sendiri akhirnya finish di urutan 116 dari 300-an peserta. Jarak yang hampir 12 km tersebut saya tempuh dalam masa kurang lebih 1 jam 20 menit.

Medali Trail Run LDB International 2018

Medali Trail Run LDB International 2018

Dari segi penyelenggaraan event, saya cukup puas sih. Dengan biaya pendaftaran RM50, dapat goodie bag dan kaos yang bahannya juga ok banget menurut saya. Persediaan air minum selama berlangsungnya event juga mencukupi. Usai lari pun peserta juga mendapatkan menu makanan berat. Worth the price lah.

(Nyaris) Kehilangan Paspor

Masih menyambung tulisan sebelum ini. Siang itu, selepas pulang dari main ATV, kami mampir ke Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights untuk melaksanakan sholat Dhuhur sekaligus bersih-bersih diri.

Kami bergantian menggunakan toilet surau yang memang hanya ada 2 saja. Usai bersih-bersih diri, saya dan Kun masuk ke dalam surau untuk melaksanakan sholat Dhuhur.

Selesai sholat Dhuhur, saya memindahkan barang-barang saya dari tas Ab yang saya pinjam. Barang-barang Kun yang ikut dititipkan dalam tas Ab tersebut pun diambilnya.

Sampai di situ saya pikir semua barang punya saya sudah saya pindahkan ke tas saya. Namun rupa-rupanya, ketika saya tiba di hotel untuk check-in dan harus menunjukkan paspor, saya tidak menemukan paspor di dalam tas saya. Saya pun panik kalang kabut.

Semua tas sudah saya geledah, tetapi tidak ada penampakan paspor saya sama sekali. Saya pun menghubungi Ab untuk menanyakan apakah ia melihat paspor saya di dalam tasnya yang saya pinjam. Ternyata tidak ada.

“Deg-deg… deg-deg… deg-deg…”

Dada saya berdegup karena mulai Continue reading