Penulisan “di” sebagai Kata Depan dan Imbuhan

Saya jadi gatal menulis topik tentang ini setelah melihat sebuah video di Instagram yang dibuat oleh seorang content creator. Di dalam video tersebut disertakan subtitle dari kata-kata yang diucapkannya.

Di dalam subtitle itu semua “di” yang seharusnya menjadi imbuhan dari kata kerja yang diucapkannya tertulis dalam kata tersendiri (dipisahkan oleh spasi). Contohnya kata “dibuat” ditulis menjadi “di buat” dan “dijadikan” menjadi “di jadikan”.

Di kesempatan lain saya pernah juga melihat kasus kebalikannya. Yakni kata depan “di” disambung dengan nama tempat yang berada setelahnya.

Kadang kepikiran. Apakah bahasa Indonesia sesulit itu ya untuk membedakan “di” sebagai kata depan dan imbuhan.

Mudah-mudahan setelah menulis ini saya tidak dianggap sebagai grammar nazi. Hehehe. Saya sendiri juga masih terus belajar untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya cukup mengapresiasi influencer seperti Ivan Lanin yang menurut saya cukup sukses meningkatkan kepedulian (utamanya) anak-anak muda terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Melalui twit-twitnya, beliau sering membagi trivia-trivia dengan contoh-contoh yang membuat belajar bahasa Indonesia itu mengasyikkan.

Gowes Sepeda yang Kembali Ngetren di Kala PSBB ini

Ada sebuah fenomena menarik beberapa minggu terakhir ini di Bandung. Khususnya sejak Lebaran kemarin. Di jalanan kini ramai sekali dengan pesepeda. Mereka umumnya bersepeda secara beramai-ramai dengan kelompok atau komunitasnya.

Bahkan pada hari Minggu minggu lalu, ketika saya tengah lari pagi di daerah Dago, saya berpapasan dengan rombongan pesepeda yang saking ramainya separuh jalan sampai dipakai oleh pesepeda. Memang salah satu destinasi para pesepeda ini biasanya daerah Dago ke atas sampai ke Warung Bandrek.

Cukup menarik menerka bagaimana fenomena gowes sepeda ini bermula. Dugaan saya sih aktivitas ini sudah mulai ngetren lagi ketika bulan Ramadan kemarin. Saya beberapa kali berpapasan juga dengan pesepeda saat jam-jam sore menjelang berbuka puasa.

Aktivitas bersepeda ini juga sempat didukung oleh banyaknya jalan yang ditutup dalam masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ini. Jalan Dago, Braga, dan Asia Afrika adalah jalan-jalan yang sempat ditutup ketika itu. Jalan-jalan itu kini sudah kembali dibuka untuk kendaraan seminggu setelah lebaran.

Jalan Asia Afrika yang sempat ditutup dari kendaraan ketika PSBB

Kosongnya jalan tersebut ternyata dimanfaatkan banyak orang untuk bersepeda. Banyak orang tua yang keluar bersepeda bersama anaknya yang masih kecil tanpa perlu khawatir terserempet kendaraan lain.

Fenomenar ngetrennya gowes ini dibuktikan juga oleh naiknya penjualan sepeda di Kota Bandung hingga 50% sebagaimana diberitakan di sini. Bagi mereka yang belum punya sepeda pasti merasa gatal juga ingin bergabung dengan kawan-kawannya untuk gowes bersama. Hehehe.

Fenomena ini tentunya sangat positif juga bagi masyarakat kita. Insya Allah dengan banyak yang bersepeda begini, akan terbentuk masyarakat yang sehat juga.

Bagaimana di kota Anda? Apakah fenomena bersepeda ini juga terjadi di kota Anda? 😀

Review Coursera: Stanford Introduction to Food and Health

Saya baru saja menamatkan kelas “Stanford Introduction to Food and Health” di Coursera. Kelasnya cukup singkat, yakni hanya 4 minggu saja. Itu pun setiap minggunya kita hanya cukup meluangkan waktu sekitar 30-60 menit untuk menonton video dan mengerjakan kuis yang berjumlah 5 soal saja.

Oh ya, ada tambahan minggu ke-5 untuk kelas memasak. Tapi itu tidak wajib sih. Lebih tepatnya bisa dibilang bonus video kali ya.

Singkatnya waktu kelas ini menjadi alasan saya mengambilnya. Lalu alasan kedua yang penting bukan kelas tentang IT. Soalnya saya juga tengah mengambil course IT lain yang saya ikuti dengan durasi yang lebih panjang dan memerlukan praktik. Jadi perlu sedikit selingan agar tidak berkutat di IT melulu.

Topik “Food and Health” juga cukup related dengan saya karena saya menaruh perhatian juga dengan makanan yang saya makan. Namun saya nggak bisa dibilang selalu makan makanan yang sehat juga sih. Saya jadi perhatian begini mungkin karena kebiasaan dari kecil selalu dinasehati ibu soal makanan yang saya makan.

Btw, kelas dari Stanford ini tidak bisa dibilang sebuah kuliah menurut saya. Kalau disebut Food and Health 101, kurang tepat juga karena materinya masih sangat basic. Mode kelasnya pun juga santai karena dikemas dengan video berupa obrolan antara Maya Adam — pengajar dalam kelas ini — dan Michael Pollan yang menjadi pakar yang dimintai penjelasan oleh Maya Adam.

Kalau diperhatikan, kelas ini sebenarnya lebih banyak berbagi tips atau nasehat yang mungkin sudah sering kita dengar sehari-hari soal makanan. Seperti soal mengurangi konsumsi gula, mengurangi konsumsi makanan olahan (processed food), memperbanyak konsumsi sayuran, dan makan secukupnya. Namun saya masih merekomendasikan kelas ini kok demi meningkatkan awareness kita terhadap kualitas makanan yang kita makan.

Ada beberapa highlight pengetahuan baru yang saya dapatkan setelah mengikuti kelas ini:

  • Menurut publikasi WHO tahun 2015, jumlah free sugar yang kita konsumsi sebaiknya tidak lebih dari 5% dari total kalori yang kita konsumsi per harinya. Per hari orang membutuhkan asupan sebanyak rata-rata 2000 kalori (Orang yang aktif secara fisik tentunya akan memerlukan jumlah yang lebih banyak daripada ini). Artinya konsumsi gula kita sebaiknya tidak lebih dari 100 kalori per hari. 100 kalori setara dengan 25 gram gula atau setara dengan 6 sendoh teh (1 sendok teh gula = 4,2 gram gula).
  • Madu ternyata juga termasuk ke dalam kategori free sugar. Gula yang kita dapatkan secara alami dari buah-buahan (kecuali yang sudah dijus) dan sayur-sayuran tidak termasuk. Wah, setelah ini saya harus memperhatikan juga takaran madu yang saya konsumsi per harinya.
  • Maya Adam memberikan tips untuk mengetahui sebuah makanan adalah processed food atau bukan. Makanan yang sehat tidak akan perlu label untuk menjelaskan kandungan nutrisinya. Di sisi lain makanan yang kemasannya dipenuhi dengan keterangan komposisi dan kandungan nutrisinya, umumnya menunjukkan bahwa makanan tersebut high atau over processed. Well, tampaknya tips ini sepertinya hanya bisa berlaku di supermarket saja. Tidak berlaku untuk snack-snack yang kita jumpai di pinggir jalan. Hehehe.
  • Bagaimana kita mengonsumsi makanan umumnya juga tidak lepas dari faktor kultur juga. Di Amerika (dan masyarakat dunia pada umumnya) obesitas menjadi suatu fenomena di kehidupan modern saat ini. Dalam kultur mereka, mereka mengatakan “I’m full” (saya kenyang) ketika berhenti makan. Sementara di Perancis, mereka mengatakan “Je n’ai faim” (saya tidak lapar lagi) ketika berhenti makan. Kelihatan perbedaannya kan?
  • Michael Pollan juga sempat menyebutkan tradisi di negara lain pandangan soal proporsi makanan yang dikonsumsi. Menariknya ia sempat mengutip Qur’an soal jangan makan makanan berlebihan ini. Hanya saja yang saya pahami Qur’an tidak menyebut angka definitif 2/3 ini. Setahu saya itu dari sabda Nabi Muhammad yang menyebutkan bahwa kapasitas perut kita ini 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air, dan 1/3 untuk udara. Mungkin 2/3 itu diambil dari hadits Nabi itu kali ya (untuk makanan dan air).
Screenshot from Coursera: Stanford Introduction to Food and Health

Light Sleeper

Saya baru tahu ternyata ada istilah untuk menyebut orang yang mudah bangun. Light sleeper istilahnya. Saya tidak tahu apakah ada padanan serupa dalam bahasa Indonesia.

Saya mengetahui istilah ini dari film Knives Out (2019). Di film tersebut salah seorang karakternya diceritakan merupakan seorang light sleeper. Ia menjadi salah satu saksi dalam kasus pembunuhan yang menjadi fokus utama cerita film tersebut di mana ia secara kebetulan terbangun saat tengah malam karena mendengar suara berisik.

Dari dulu sebetulnya saya sudah penasaran dengan istilah untuk menyebut orang dengan kebiasaan mudah terbangun ketika tidur itu. Sebab saya merasa memiliki kebiasaan serupa. Saya cukup sensitif dengan suara ketika tidur.

Contohnya saya tidak bisa tidur (dengan pulas) dalam keadaan TV atau radio masih menyala. Saya mungkin bisa tertidur selama 1 jam pertama. Namun jika lebih dari itu TV atau radio masih menyala (dengan volume sekecil apapun), besar kemungkinan saya akan kembali bangun dalam rentang 1 jam berikutnya.

Dan ketika terbangun itu, rasanya pusing sekali. Makanya biasanya saya berikan timer agar perangkat tersebut dapat mati secara otomatis.

Tidur nyenyak saat tahun baru atau malam lebaran dan sebagainya juga hampir mustahil bagi saya karena pada malam itu biasanya akan banyak yang menyalakan petasan. Saya pernah mencoba tidur cepat sekitar jam 10 malam, namun sudah terbangun ketika memasuki jam 11-an malam.

Tapi alhamdulillah sensitifitas terhadap suara ini ada manfaatnya juga bagi saya. Saya jadi tidak perlu mengandalkan alarm untuk membangunkan saya dari tidur. Suara adzan subuh (dan juga adzan awal yang jam 3 pagi) sudah bisa membuat saya terbangun.

Btw, soal subuh ini memang yang terberat bukan masalah bangunnya. Saya yakin sebenarnya setiap orang pasti akan mudah terbangun juga saat ada adzan ini. Sebab pada jam-jam ini harusnya jam biologis kita sudah mengajak untuk bangun kecuali yang tidurnya sangat larut. Hanya tinggal masalah kuat-kuatan dorongan untuk bangkit dari tempat tidur setelahnya itu saja. 😀

Selain sensitif terhadap suara, saya juga sensitif terhadap cahaya terang ketika tidur. Entah kenapa tidur dalam keadaan lampu menyala membuat saya lebih mudah terbangun setiap saat. Kualitas tidur saya jadi berkurang sekali. Saya baru bisa tidur pulas jika lampu dimatikan.

Mungkin hal-hal yang saya alami ini masih termasuk normal kali ya. Sebab, kalau membaca artikel ini, kebiasaan light sleep ini ternyata ada banyak macam penyebabnya. Ia bisa timbul karena dipicu persoalan lain seperti kebanyakan kafein, stress, kecemasan, sleep disorder, dan lain-lain.

Alhamdulillah sejauh ini sih tidak bermasalah dengan tidur. Kalau penyebab-penyebab tadi sepertinya lebih mengarah ke insomnia kali ya. Pernah sih mengalami sekali dua kali. Tapi alhamdulillah bukan sesuatu yang menjadi kebiasaan terus-menerus.

Silaturahmi virtual

Silaturahmi Lebaran Secara Virtual di Tengah Pandemi

Tidak bisa mudik ke kampung halaman, bukan berarti kita tidak bisa tetap menjalani silaturahmi dengan sanak saudara. Beruntungnya kita saat ini hidup di era teknologi yang memungkinkan kita untuk tetap berkomunikasi beramai-ramai walaupun terpisah jarak.

Ada banyak aplikasi yang kita bisa gunakan secara gratis untuk berkomunikasi menggunakan video call. Entah itu Whatsapp, Zoom, atau yang terkini ada Messenger Rooms.

Alhamdulillah pagi ini tadi saya dan keluarga besar juga bisa melakukan silaturahmi secara virtual dengan menggunakan aplikasi Messenger Rooms. Awalnya kami ingin menggunakan aplikasi Zoom. Namun, tidak jadi karena ada beberapa yang kesulitan untuk menginstal.

Sementara itu, aplikasi Messenger Rooms terbilang cukup mudah digunakan karena kita tinggal mengklik saja link yang diberikan untuk bisa bergabung ke dalam ruang percakapan. Tidak perlu menginstal aplikasi tertentu.

Alhamdulillah pada hari lebaran ini kami masih bisa bermaaf-maafan melalui video call beramai-ramai. Senang rasanya bisa melihat wajah dan mendengar suara eyang, pakdhe, budhe, om, bulik, dan saudara-saudara di kejauhan sana.

Walaupun demikian, di balik kecanggihan teknologi yang ada saat ini, jika bisa memilih, kita semua tentunya ingin tahun depan bisa berlebaran bersama secara langsung. Secanggih-canggihnya teknologi, kehangatan yang terasa saat silaturahmi secara langsung tidak akan bisa tergantikan.

Apalagi dalam silaturahmi virtual ini tak jarang ada kendala teknis yang terjadi. Beberapa saudara tidak bisa bergabung karena versi OS yang tidak mendukung, internet yang putus-putus, suara yang tidak jelas, atau gambar yang blur. Jumlah wajah saudara-saudara yang bisa kita lihat secara bersamaan pun juga terbatas (hanya 8 participant yang bisa kita lihat dalam satu layar).

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Semoga tahun depan kita masih dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan dan bisa bersilaturahmi kembali dengan normal. Aamiin YRA. Rindu sekali rasanya merasakan suasana hari raya bersama sanak saudara.

Memasak Opor Ayam

Menyambut Lebaran dengan Memasak Opor Ayam

Ada yang berbeda pada lebaran tahun ini. Seperti kita ketahui bersama, lebaran tahun ini terjadi di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Untuk mengantisipasi penyebaran yang semakin parah, pemerintah pun mengeluarkan larangan mudik. Mau tidak mau saya pun terpaksa tidak mudik pada lebaran tahun ini.

Ini pertama kalinya saya tidak bisa merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Tentunya ada yang kurang karena tidak bisa bertemu dengan sanak saudara.

Untungnya di perantauan ini saya tidak sendiri. Masih ada teman-teman sekontrakan (housemate) yang juga tidak bisa pulang kampung.

Untuk mengobati rasa rindu pada tradisi lebaran di kampung halaman, pada siang hari ini tadi kami memasak opor ayam bersama untuk menyambut malam lebaran. Walaupun kampung halaman kami berbeda-beda — ada yang dari Malang, Semarang, Solo, Sragen, Karanganyar, dan Kendal — tradisi kami sama-sama biasa makan opor ayam dan ketupat. Namanya juga tradisi masyarakat Indonesia. Hihihi.

Kebetulan ada teman yang memang jago masak. Dia sudah hafal berbagai bumbu masakan di luar kepala. Untuk mempersiapkan masakan ini, kami tinggal mengikuti instruksinya.

Berapa jumlah bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, serai, dan bumbu-bumbu lainnya yang perlu dimasukkan, dia yang memberi tahu. Kemudian bagaimana ayamnya dimasak, kami juga mengikuti arahannya. Saya pribadi pun jadi belajar masak juga ke dia.

Mengulek bumbu-bumbu

Sementara itu, untuk ketupat kami tidak membikin sendiri. Kami mencari yang sudah jadi. Namun sayangnya ketika keluar mencari di pasar menjelang dhuhur, stoknya sudah tidak ada.

Tapi alhamdulillah hari ini tadi teman kantor salah seorang teman kontrakan juga ada yang mengirimkan paket makanan berisi ketupat, opor, sambal goreng kentang, rendang daging, dan sayuran lainnya.

Kami pun bisa makan opor ayam lengkap dengan ketupat. Malah ada kelebihan yang masih bisa dihangatkan lagi untuk besok pagi setelah sholat Ied.

Buka bersama malam lebaran dengan opor ayam

Alhamdulillah walaupun tidak bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, saya sangat bersyukur masih mendapatkan kesempatan untuk berbagi keceriaan lebaran ini bersama teman-teman dan menikmati hidangan yang biasa disajikan dalam tradisi lebaran kami.

Btw, selamat berlebaran 1441 H kawan-kawan semua! Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan kemarin diterima Allah SWT dan kita diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan yang akan datang. Aamiin YRA.

Sebulan Puasa Twitter-an & Instagram-an

Hari ini tepat menginjak malam ke-30 bulan Ramadan. Hari ini menandai pula sudah sebulan saya deaktivasi akun Twitter dan Instagram saya.

Saat malam pertama bulan Ramadan kemarin, saya memutuskan untuk menonaktifkan kedua akun tersebut. Alasannya jelas, yakni untuk mengurangi waktu saya yang banyak tersita karena berselancar di kedua platform media sosial tersebut.

Terus terang, keduanya memang menjadi distraksi dalam keseharian saya. Secara alam bawah sadar, setiap ada handphone di dekat saya, sebentar-sebentar saya menggenggam HP lalu scrolling linimasa kedua media sosial itu.

Sayang sekali rasanya jika waktu saya tersita untuk hal-hal seperti itu. Padahal waktu yang ada seharusnya saya manfaatkan untuk kegiatan lain yang lebih produktif dan bermanfaat. Apalagi di momen bulan Ramadan.

Sebelum mendeaktivasi akun, saya sudah berusaha untuk mengurangi online presence saya dengan hanya melihat update dari orang-orang yang secara personal memang dekat dengan saya atau update dari akun-akun yang sifatnya informatif atau edukatif. Untuk akun-akun tersebut biasanya saya pasang notifikasi.

Tapi setelah membuka aplikasinya, tak jarang akhirnya saya kebablasan membuang waktu dengan melihat story atau post yang tidak ada relevansinya dengan saya. Kalau di Twitter, saya sering terjebak membaca sampai habis thread-thread atau twitwar yang kebetulan lagi trending.

Apa yang saya alami itu mungkin adalah indikasi dari apa yang disebut dengan fear of missing out (FOMO). Saya merasa ada yang kurang ketika tidak membaca update apa yang sedang terjadi atau dibicarakan di luar sana.

Saya mencoba merenungkan apa sebenarnya manfaat yang saya dapatkan dengan aktif di Twitter dan Instagram selain mendapatkan update dari orang lain. Ternyata tidak ada.

Tapi bukannya tidak ada sama sekali. Saya banyak mendapatkan pengetahuan baru dari berita, artikel teknologi, video tausiyah, dan lain sebagainya dari akun yang saya ikuti.

Namun sebetulnya media sosial tersebut bukanlah channel satu-satunya tempat di mana saya bisa mendapatkan konten tersebut. Saya bisa saya mendapatkan konten serupa dari tempat lain. Misalnya membuka langsung situs berita, situs teknologi, atau channel YouTube media yang bersangkutan.

Malah dengan cara seperti itu biasanya kita bisa lebih fokus membaca atau mengikuti konten tersebut karena memang kita sengaja mencarinya. Bukan karena kebetulan melihatnya sekilas melalui linimasa.

Namun malam ini saya terpaksa mengaktivasi lagi akun Twitter saya karena kebijakan Twitter yang akan menghapus akun Twitter yang telah dideaktivasi selama lebih dari 30 hari (baca di sini). Setelah itu mungkin akan saya deaktivasi lagi. Sementara untuk akun Instagram, karena tidak ada batasan waktunya, saya tidak tahu kapan akan mereaktivasi lagi.