Tag Archives: warung

Kawah Cibuni Rengganis

Berendam Air Panas Belerang di Kawah Cibuni Rengganis

Sabtu minggu lalu (19/1) saya bersama teman-teman kantor jalan-jalan ke salah satu tempat wisata di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan, yakni Kawah Cibuni atau dikenal juga dengan nama Kawah Rengganis. Kawah Cibuni ini berada tidak jauh dari Situ Patengan, salah satu tempat wisata yang sangat terkenal di Ciwidey.

Kami datang menjelang waktu Dhuhur. Saat itu, Kawah Cibuni ini tidak begitu ramai didatangi pengunjung. Cuaca agak sedikit mendung.

Tidak ada tiket yang dipungut untuk memasuki kawasan wisata ini. Kita hanya dikenakan biaya parkir sepeda motor sebesar Rp5.000 per motor.

Sebelum ini, menurut penuturan teman saya yang sudah 2 kali pergi ke sana, ada biaya tiket masuk yang dikenakan. Ketika itu memang Kawah Cibuni masih dikelola oleh perusahaan swasta. Namun pengelolaan itu sekarang diserahkan ke warga karena perusahaan tersebut rupanya tidak mengantongi izin.

Sepintas topografi Kawah Cibuni ini mengingatkan saya pada kawah di Gunung Papandayan. Asap belerang mengepul dari beberapa lubang di sela-sela bebatuan kapur berwarna kekuningan. Warna kuning itu sepertinya dihasilkan karena batu terpapar asap belerang secara terus-menerus.

Continue reading
Advertisements

Warung Ariel

Tiba-tiba saja ingin menulis tentang ini. Gara-garanya, di timeline akun twitter @itweetb lagi membahas tentang warung Indomie (bukan ngiklan). Di daerah kosan mahasiswa-mahasiswa ITB, termasuk daerah Cisitu, warung-warung Indomie ini memang bertebaran. Sebenarnya nggak bertebaran juga sih. Di Cisitu ada 4-5 warung yang kutahu. Menu standarnya selain Indomie, juga ada bubur kacang hijau, bubur ayam, dan minuman (kopi, jahe, susu, STMJ, dsb.).

Warung-warung itu cukup populer di lingkungan kami. Apalagi kalau sudah larut malam atau dini hari gitu. Warung tersebut boleh dibilang menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Maklum saja, warung-warung Indomie itu buka 24 jam, kecuali saat Jumatan :D.

Tapi ada satu hal yang menarik. Di Cisitu ada satu warung yang cukup laris karena salah satu mas-mas karyawannya, wajah, potongan rambut, dan posturnya mirip Ariel Peter Pan, hihihi. Makanya teman-teman dekat memberikan sebutan untuk warung itu dengan nama “warung Ariel”. Nah, di tweet akun @itweetb itu ternyata banyak juga yang berpikiran demikian. Tampaknya memang tidak hanya aku dan teman-temanku yang merasa mas-mas itu punya tampang mirip Ariel, anak-anak ITB juga punya pendapat yang sama, hehehe. Sayang nggak ada fotonya. Kalau ada, mungkin bisa dibandingkan :mrgreen: (*kurang kerjaan).

Serba-Serbi Warung di Daerah Sekitar Kosan

Namanya anak kosan, setiap kali makan, mau nggak mau memang harus nyari sendiri. Entah harus beli di warung atau masak sendiri. Nggak mungkin disediain. 😀

Saking seringnya beli makan di warung bu ini atau bu itu, anak kosan biasanya jadi akrab juga sama yang jual. Terus di kalangan para kosaners (para anak kosan) sering beredar nama-nama unik yang gampang diinget untuk menyebut nama suatu warung. Biasanya ini terjadi kalo warung itu nggak punya nama dan si kosaners hanya tau lokasi warung itu. Jadi ketika ngajak temannya makan di warung itu, si X akan bilang ke temannya si Y, “Makan di warung Z yuk!” Dengan Z = nama warung yang mereka ciptakan sendiri, hehehe…

Di daerah sekitar kosanku pun seperti itu. Waktu tingkat satu dulu aku dan temen-temen sekosan sering makan warung “Tenda Biru” di daerah Cisitu Lama. Nama “Tenda Biru” ini memang mereka yang kasih sendiri, bukan dari kami para kosaners. Diberi nama itu karena memang warungnya berada di pinggir jalan dan ditutup terpal warna biru. Warung ini memang murah banget di antara warung lainnya yang ada di daerah sekitar situ. Nggak heran kalo jadi jujugan para kosaners yang lagi pingin  menghemat. Bahkan, kalo Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan diskon dari ibunya yang jual. Tapi ternyata warung ini punya nama lain, yaitu warung “Bu Kodok”. Lho Kok?

Dari mana ceritanya tiba-tiba warung itu dapet nama warung “Bu Kodok”? Emangnya di sana jualan sate kodok ya? Hehe.. tentu saja tidak. Bisa dibilang itu sebutan oleh para kosaners sebagai tanda perhatiannya sama ibu yang jual :p. Sebutan itu bermula dari kebiasaan ibunya yang sering latah bilang “pake kodok?”, “mau kodok”, dll. Jadi, anak-anak pada nyebut warung itu warung “Bu kodok”. Bahkan, bisa jadi nama itu lebih melegenda di kalangan kosaners daripada nama “Tenda Biru”. Anak-anak di sana kalo ditanya warung “Tenda Biru” pasti nggak ngeh di mana, tapi kalo kita udah bilang warung “Bu Kodok”, pasti langsung tau.

Ada lagi cerita tentang warung yang berada di parkiran Asrama Bumi Ganesha, masih di Cisitu juga. Para kosaners nyebutnya warung “Bu Tepung” karena di sana memang masak lauknya, entah itu ayam, tahu, tempe, ati ampela, sampau lele, semuanya digoreng pake tepung. Karena warung itu belum punya nama sendiri, biar anak-anak gampang nyebutnya, langsung aja bikin nama sendiri. Akhirnya keluarlah nama warung “Bu Tepung”. Tapi, sekitar sebulan yang lalu, saat mampir ke sana lagi, ternyata warung itu udah punya nama sendiri. Namanya, warung “Sabar Menanti”!!

Pasti orang yang belum pernah beli di sana bertanya-tanya, “Kok diberi nama itu sih?” Tapi, mungkin sebagian dari mereka udah membuat hipotesis sendiri. Yup, Anda benar. Sesuai namanya, kita memang harus “sabar menanti” kalo mau makan di warung itu, karena antriannya sering panjang dan memang masaknya juga cukup lama karena lauknya digoreng pake tepung. Pasti yang biasa masak taulah kenapa nggoreng pake tepung selalu lama.

Lalu ada lagi warung di dekat kontrakanku. Kalo yang ini aku yakin nggak banyak yang tau dan memang sebutan ini hanya berlaku di kontrakanku dan anak yang sering nginep di kontrakanku. Kami menyebut warung yang satu ini dengan nama warung “Bu Sahur”. Anak-anak baru sering beli makan di warung ini saat bulan Ramadhan kemarin. Karena malas nyari makan yang jauh, akhirnya tiap kali sahur selalu beli makan di warung ini. Padahal habis Ramadhan ibunya nggak buka warung pas waktu sahur :D. Bukanya mulai dari pagi sampe malam aja. Tapi anak-anak di kontrakan masih manggil dengan nama “Bu Sahur”. Sekali lagi, untuk yang satu ini hanya sebutan untuk kalangan terbatas, hehe… 😀

Tulisan ini bukan ditujukan untuk bermaksud ghibah atau sejenisnya ya. Biar bagaimanapun mereka adalah pahlawan juga bagi para mahasiswa-mahasiswa kosaners ini. Coba bayangkan, kalo nggak ada mereka, tiap pagi kita harus ke pasar beli bahan-bahan makanan, terus masak sendiri. Iya, kalo di kosan kita boleh bawa perlatan masak. Nah, kalo ngga? Bisa kelaparan kita di kosan. Hehehe…

Mungkin Anda punya cerita unik yang lain tentang warung di sekitar kosan Anda? 😀