Category Archives: Kontrakan

Memasak Opor Ayam

Menyambut Lebaran dengan Memasak Opor Ayam

Ada yang berbeda pada lebaran tahun ini. Seperti kita ketahui bersama, lebaran tahun ini terjadi di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Untuk mengantisipasi penyebaran yang semakin parah, pemerintah pun mengeluarkan larangan mudik. Mau tidak mau saya pun terpaksa tidak mudik pada lebaran tahun ini.

Ini pertama kalinya saya tidak bisa merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Tentunya ada yang kurang karena tidak bisa bertemu dengan sanak saudara.

Untungnya di perantauan ini saya tidak sendiri. Masih ada teman-teman sekontrakan (housemate) yang juga tidak bisa pulang kampung.

Untuk mengobati rasa rindu pada tradisi lebaran di kampung halaman, pada siang hari ini tadi kami memasak opor ayam bersama untuk menyambut malam lebaran. Walaupun kampung halaman kami berbeda-beda — ada yang dari Malang, Semarang, Solo, Sragen, Karanganyar, dan Kendal — tradisi kami sama-sama biasa makan opor ayam dan ketupat. Namanya juga tradisi masyarakat Indonesia. Hihihi.

Kebetulan ada teman yang memang jago masak. Dia sudah hafal berbagai bumbu masakan di luar kepala. Untuk mempersiapkan masakan ini, kami tinggal mengikuti instruksinya.

Berapa jumlah bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, serai, dan bumbu-bumbu lainnya yang perlu dimasukkan, dia yang memberi tahu. Kemudian bagaimana ayamnya dimasak, kami juga mengikuti arahannya. Saya pribadi pun jadi belajar masak juga ke dia.

Mengulek bumbu-bumbu

Sementara itu, untuk ketupat kami tidak membikin sendiri. Kami mencari yang sudah jadi. Namun sayangnya ketika keluar mencari di pasar menjelang dhuhur, stoknya sudah tidak ada.

Tapi alhamdulillah hari ini tadi teman kantor salah seorang teman kontrakan juga ada yang mengirimkan paket makanan berisi ketupat, opor, sambal goreng kentang, rendang daging, dan sayuran lainnya.

Kami pun bisa makan opor ayam lengkap dengan ketupat. Malah ada kelebihan yang masih bisa dihangatkan lagi untuk besok pagi setelah sholat Ied.

Buka bersama malam lebaran dengan opor ayam

Alhamdulillah walaupun tidak bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, saya sangat bersyukur masih mendapatkan kesempatan untuk berbagi keceriaan lebaran ini bersama teman-teman dan menikmati hidangan yang biasa disajikan dalam tradisi lebaran kami.

Btw, selamat berlebaran 1441 H kawan-kawan semua! Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadan kemarin diterima Allah SWT dan kita diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan yang akan datang. Aamiin YRA.

It’s Time to Move On

It’s time to move on (baca: waktunya pindahan :D).

Ya, tak terasa sudah 3 tahun aku menetap bersama 5 orang kawanku sesama angkatan IF 2007, yakni Haris, Kamal, Khairul, Adi, dan Wafi di kontrakan di jalan Sangkuriang Dalam, yang kemudian kami sebut dengan padepokan Sandal, hahaha. Kini tiba saatnya perpisahan itu harus terjadi.

Pertama, pada bulan April lalu di mana Khairul yang lulus lebih dahulu pada bulan April itu, harus pindah ke Jakarta karena ia mendapatkan pekerjaan di sana. Lalu 2 bulan kemudian,   pada minggu ketiga Juni, Kamal menyusul pindahan ke rumah yang baru dibelinya di Bandung ini. Dan kini aku dan Wafi yang pindah ke kosan yang baru di Cisitu. Adi dan Haris sementara ini masih berada di kontrakan yang lama.

Malam kemarin kami berlima — minus Adi — melakukan farewell party (ceileeh istilahnya…) dengan makan malam bersama di Abuba Steak. Keesokan harinya, alias hari ini, kami, khususnya aku dan Wafi, mulai mengemasi barang-barang untuk pindahan hari ini juga. Yup, semalam akan menjadi malam terakhir aku menginap di kontrakan ini.

Khairul menyortir barang-barangnya

Khairul menyortir barang-barangnya

Capai juga ya mengurusi pindahan itu. Apalagi alat angkut yang kami gunakan adalah gerobak dorong. Aku dan wafi PP kosan lama-kosan baru sebanyak 3 kali. Lumayan juga sih. Barangnya banyak soalnya dan cukup berat juga.

Haris beberes

Haris beberes

Mungkin dalam 1-3 tahun ke depan aku bakal masih pindah-pindah. Soalnya rencana yang kumiliki dalam kurun waktu itu masih abu-abu. Yah, mungkin kalau sudah beristri (amin… mudah-mudahan bisa menyegerakan :D), semuanya bakal lebih jelas. Setidaknya bisa memulai mencari tempat tinggal tetap, hehehe.
Anyway, waktu 3 tahun tinggal bersama kawan-kawan ini ternyata terasa sebentar. Tak terasa kami semua masing-masing sudah mulai menentukan jalan masing-masing. Walaupun kami masing-masing berpisah sudah tidak akan menetap di rumah itu lagi, tapi kenangan itu akan tetap terjaga selamanya di rumah kontrakan itu. Duh, kok jadi melankolis gini, hehehe. Lanjut beres-beres ah. 😛 

Bonci Versi 2.0

Yak inilah dia kucing kesayangan kontrakan kami. Namanya Bonci. Berasa pernah dengar ya sebelumnya? Iya, sekitar setahun lebih yang lalu kami juga pernah punya anak kucing dengan nama yang sama. Hal itu juga pernah ku-post di artikel terdahulu di sini.

Bonci versi 2.0 in action

Bonci versi 2.0 in action

Kenapa dinamai Bonci lagi? Jangan tanyakan itu kepadaku karena Wafi — salah satu teman sekontrakanku — yang menamainya :P. Ya, di antara para penghuni kontrakan kami, Wafi memang yang paling perhatian sama kucing. Dan Bonci “versi 2.0” ini adalah satu-satunya the survivor di antara anak-anak kucing lain seangkatannya yang dilahirkan oleh si Kuma. Pemberian nama “Bonci versi 2.0” sebenarnya juga menunjukkan bahwa Bonci berada di bawah peliharaan sekumpulan anak-anak Informatika, hehehe.

Masa-masa sulit di mana kami — khususnya Wafi — harus bolak-balik membersihkan kotoran dan air pipisnya yang suka sembarangan kini berangsur-angsur mulai terlewati. Si Bonci versi 2.0 ini mulai tumbuh menjadi kucing yang lovely dan menggemaskan. Paling suka memang ngelus-ngelus bulunya si Bonci ini, hehehe. Kalau lagi suntuk, entah kenapa setiap ngelus-ngelus bulunya Bonci ini jadi bikin rileks.

Si Bonci ini punya kebiasaan tiap salah seorang dari kami keluar kontrakan, dia selalu mengikuti ke mana kami pergi walaupun paling jauh biasanya cuma 20-30 meteran. Tapi sewaktu kami keluar bertiga, dia tiba-tiba mengikuti kami berjalan hingga ratusan meter sampai ke kosan teman.

Bukan cuma kami yang suka main-main dengan si Bonci. Anak kecil tetangga depan rumah juga suka ngajak main si Bonci, minimal sekedar ngelus-ngelus. Tak hanya anak itu, ayahnya ternyata juga suka tiba-tiba manggil-manggil si Bonci, terus dielus-elus. Hahaha … Bonci, bonci … 😀

 

Jogging Pagi Kontrakan—Alun-Alun Bandung

Akhirnya dengan “susah payah” rencana jogging pagi dari kontrakan menuju alun-alun kota Bandung via balai kota dan Braga terwujud juga :). Alasan kenapa aku tambahkan keterangan “susah payah” karena rencana sebelum-sebelumnya cuma berakhir menjadi sebuah kebambangan alias hoax. Yup, sudah beberapa minggu yang lalu sebenarnya aku dan dua teman sekontrakanku berencana untuk jogging pagi ke Braga, tapi selalu gagal karena susahnya anak-anak bangun subuh-subuh karena kebiasaan begadang malamnya.

Malam kemarin aku minta mereka termasuk aku tidur cepat agar bisa berangkat jogging habis subuh. Kenapa harus berangkat habis subuh, ya karena jalanan pada jam segitu masih sepi-sepinya, jadi kami bisa leluasa untuk jogging tanpa harus berhenti lari.

Kami berangkat dari kontrakan pukul 5 lewat 15 menit. Sebenarnya ini sudah termasuk siang dan lewat dari target untuk berangkat pukul 5 tepat. Langit juga sudah mulai terang dan jalanan mulai bermunculan kendaraan yang lalu lalang. Jogging pagi hari ini kami mengambil rute Sangkuriang-Tamansari-Purnawarman-Balai kota-Braga.

Orang-orang jogging di area balai kota

Orang-orang jogging di area balai kota

Dalam rute perjalanan itu kami menyempatkan mampir ke dalam area lingkungan balai kota Bandung. Masak sudah 4 tahun menetap di Bandung nggak pernah main-main ke dalam areanya, hihihi. Sebenarnya karena kami melihat banyak orang yang juga berolahraga di sana sih, jadi mumpung ramai main-main ke sana saja sekalian foto-foto.

Setelah puas foto-foto dan lari mengelilingi area balai kota serta menikmati udara sejuk dan asrinya pepohonan di sana, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Braga. Langit sudah semakin terang. Jalanan pun semakin ramai. Jam sudah menunjukkan waktu sekitar pukul 6.15.

Jalanan Braga yang lengang

Jalanan Braga yang lengang

Akhirnya sampai juga di Braga. Kami pun berfoto-foto sejenak di sana sambil menikmati jalanan Braga yang agak lengang. Kawasan Braga ini memang terlihat sangat bersih dan trotoarnya pun nyaman untuk dilalui oleh pejalan kaki, tidak seperti beberapa trotoar di tempat lain. Selain itu, trotoarnya juga cukup lebar.

Awalnya niat kami hanya jogging pagi sampai jalanan Braga saja. Tapi kami merasa kurang puas. Cieee… pakai acara nggak puas-puasan segala ini anak-anak. Kami pun melanjutkan langkah kami menuju ke alun-alun kota melalui jalanan Asia-Afrika tentunya.

Tiang-tiang bendera Gedung Merdeka

Tiang-tiang bendera Gedung Merdeka

Di sekitaran gedung Asia-Afrika lagi-lagi anak-anak berhenti untuk foto-foto kembali. Jalanan Asia-Afrika, tepatnya di area sekitar gedung Merdeka, sudah sangat ramai ketika itu. Walaupun ada beberapa saat di mana jalanan menjadi sangat lengang. Sementara itu, alun-alun dengan menara masjid Agung-nya tampak sangat jelas dari posisi kami saat itu. Ya, jarak kami sudah 100 meteran lagi dari alun-alun.

Setelah sampai alun-alun, terus? Kami berjalan menuju area Pasar Baru untuk mencari angkot ungu yang ke Cisitu. Ya, kami langsung balik pulang dan memutuskan mencari sarapan di daerah Cisitu saja karena ada banyak pilihan. Hmm… lumayanlah jogging pagi hari ini, cukup membakar kalori. Habis ini sepertinya mau merutinkan lari pagi di lapangan SARAGA saja, hehehe.

 

Mati Listrik, Ngapain Ya?

Mati listrik (ilustrasi)

Nyala lilin di kontrakan

Tumben-tumbenan sore ini tadi mati listrik hingga 3 jam, dari sekitar jam 4 sore hingga jam 7 malam. Cukup lama juga mati listrik sore ini. Termasuk yang terlama yang pernah kurasakan selama di Bandung.Dulu pernah sih, mati listrik selama itu sebelumnya, tapi itu terjadi saat malam hari di mana orang-orang sudah terlelap, jadi nggak begitu terasa, hehe.

Bingung juga tadi sore begitu pulang dari kampus sehabis UAS, dihadapkan dengan listrik mati di kontrakan. Mau balik ke kampus, tapi ngapain. Akhirnya aku ambil sisi positifnya sajalah. Aku jadi tidak menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Sudah lama juga merindukan suasana hening dan gelap seperti ini. Hitung-hitung memberi kesempatan indera penglihatan dan pendengaran ini untuk sementara dari keramaian cahaya dan suara yang hampir setiap saat ditemui (kecuali waktu tidur :P).

Kesempatan itu aku manfaatkan juga ngumpul-ngumpul bareng anak-anak sekontrakan yang beberapa memang lagi ada di rumah. Kami ngumpul di kamar Khairul yang memang lebih luas dan lebih terang. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul ke mana-mana dan seperti biasa si Wafi selalu memancing perdebatan.

Kalau kalian gimana? 😀

Kucing Padepokan Sandal36B

Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang kucing yang melahirkan di kontrakanku (a.k.a. “Padepokan Sandal36B”). Dari 6 anak kucing yang lahir saat ini tinggal 1 saja yang masih hidup. Tiga kucing mati karena dibunuh (lebih tepatnya dimakan?) oleh seekor kucing garong. Sementara dua kucing lainnya mati karena kekurangan gizi akibat kalah bersaing memperebutkan susu induknya dengan kucing satunya. Nah, satu kucing yang masih hidup itu sekarang sudah besar dan sudah bisa main-main.

Gemas juga melihat polah tingkahnya yang lucu itu. Oiya, perkenalkan namanya Bonci. Itu yang memberi nama adalah teman satu kontrakanku, si Wafi. Tiap malam, Bonci sering tidur bersama Wafi di kamarnya. Mereka berdua plus induknya, si Kuma, sudah layaknya keluarga bahagia aja, hehehe. Si Bonci ini memang tidak bisa sendirian. Tiap kali lihat orang pasti diikutin. Udah gitu dia berlagak seperti predator gitu, kalau jalan, suka mengintai-ngintai. Lumayanlah ada hiburan baru di kosan. Tiap lagi jenuh dengan belajar atau aktivitas lainnya, aku main-main sama si Bonci ini, hehehe.

Ni dia foto si Bonci ketika lagi menyusu ke induknya. 😀

Bonci dan Kuma

Bonci dan Kuma

Ronda-Ronda!

Ada kebijakan baru di lingkungan RT tempat aku ngontrak sekarang. Kabarnya kebijakan baru itu datangnya dari ketua RW dan diteruskan ke RT-RT di bawahnya. Kebijakan apa itu? Kebijakan itu adalah penggalakan kembali program Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Aku dan teman-teman pun menyambut baik program itu karena berharap dengan adanya siskamling di lingkungan kami, lingkungan kami menjadi lebih aman. Kontrakan kami sendiri pernah menjadi korban pencurian oleh maling. Laptop, handphone, dan sepatu berhasil digenggamnya.

Jadwal siskamling pun disusun. Nama kami ternyata belum terdaftar. Kami pun menunggu pemberitahuan lanjutan. Hingga akhirnya tadi malam, sekitar jam 11 malam lewat tiba-tiba ada seorang bapak datang bertamu ke kontrakan kami. Saat itu, aku sedang asyik

“Assalammu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku.

“Dik, sekarang dapet giliran ngeronda ya malem ini?” tanya beliau, tapi dengan nada seperti orang mengingatkan.

Terus terang, aku yang kebetulan menyambut Bapak itu jadi bingung sendiri. Apa benar sekarang kami dapat jadwal ronda, pikirku. Anak-anak sudah tidur lagi. Belum lagi aku ada tugas kuliah yang harus dikerjakan buat besoknya. Kalau ronda, bagaimana tugasku.

“Maaf Pak, kami belum dapat jadwal ronda sebelumnya.” jawabku terus terang.

“Lho, padahal anak saya yang ngantarkan lho dik.” kata bapak itu. “Tapi, di jadwal harusnya adik sekarang. Ya udah, coba saya tanya koordinator siskamlingnya dulu.”

Setelah itu, bapak tersebut meninggalkanku dan kembali ke tempat ronda. Namun, tak berapa lama kemudian bapak itu kembali sambil membawa lembar jadwal siskamling dengan nama kami sudah terdaftar di dalamnya.

“Dik, ini jadwalnya yang bener.” kata bapak itu sambil menyerahkan lembar jadwal siskamling kepadaku.

“Oh, jadi sekarang ya Pak rondanya?” tanyaku memastikan dan tanpa bapak itu menjawab pun aku sudah tahu jawabannya.

Awalnya aku sempat berpikir, bagaimana nih tugasku, masih belum selesai. Belum lagi, nantinya ada siaran langsung Liga Champions Inter vs Muenchen. Tiba-tiba terlintas di pikiranku ketika itu: Kapan lagi kesempatan bisa kumpul-kumpul dengan warga seperti ini dapat datang lagi. Aku pun langsung mengajak Wafi, satu-satunya penghuni kontrakan selain aku yang saat itu masih bangun malam itu (sekitar pukul 23.30), untuk ikut menemani aku ronda.

Sampai di tempat ronda, aku dan Wafi langsung berkenalan dengan bapak-bapak yang ada di sana, termasuk bapak yang “menjemput”-ku tadi. Parahnya kami, ternyata bapak yang “menjemput” kami itu tadi adalah Pak ketua RT yang baru. Oalah… 😀

Selain bapak-bapak, ternyata ada juga anak muda lainnya seperti kami, hehehe. Mereka ada dua orang, sama-sama berasal dari Medan. Namun, keduanya bukan mahasiswa ITB. Yang satu kuliah di salah satu kampus hukum di Kota Bandung ini, yang satunya lagi belum kuliah, tapi kerja jadi SPB di BIP.

Nah, yang anak hukum itu punya kakak kandung cewek yang ternyata adalah kakak angkatanku di Informatika. Yang bikin aku terkejut, ternyata kakaknya adalah istrinya kakak kelasku di SMA yang juga teman semasa kuliah kakaknya itu. Wow, what a small world!

Sepanjang malam itu, akhirnya kami berempat ngobrol-ngobrol panjang tiada habisnya. Banyak yang diobrolin. Kebetulan dia aktivis mahasiswa yang juga suka mengikuti berita-berita sosial dan politik, sama seperti aku juga (meskipun aku bukan aktivis :D). Kami pun nyambung ngobrol selama malam itu.

Akhirnya ronda diakhiri sekitar jam 4 subuh kurang. Asek… masih sempat nonton Inter vs Muenchen. Tapi sayangnya ternyata Inter kalah pada pertandingan dini hari itu, hihihi.

Aku ingin sedikit berkomentar tentang aktivitas ronda ini. Menurutku dengan dilibatkannya mahasiswa dalam siskamling di lingkungan warga ini sangat bagus. Mahasiswa sudah seharusnya tidak cuma “numpang” tempat tinggal di lingkungan barunya saja, tapi seharusnya juga berpartisipasi aktif dalam menjaga, khususnya kebersihan dan keamanan lingkungan sekitar dan yang paling penting adalah harus bersosialisasi juga kepada warga sekitar. Berdasarkan pengalaman dan pengamatanku sejak menetap di Bandung ini, khususnya daerah kos-kosan dekat kampus ITB ini, aku lihat mahasiswa cenderung kurang membaur dengan warga di sekitarnya. Entahlah apa penyebabnya. Bisa jadi karena kesibukan mahasiswanya atau mungkin warga tidak ingin merepotkan mahasiswa dalam kegiatan kampung mereka.

Tapi ada sisi nggak enaknya dengan ikut ronda ini. Bagi mahasiswa yang besoknya ada kuliah pagi tentu akan jadi mengantuk keesokan harinya di saat kuliah. Untuk itu, penentuan jadwal yang pas bisa jadi solusinya. Tetapi sebenarnya, bapak-bapak yang lain pun juga mengalami masalah yang sama. Mereka yang kerja kantoran, mungkin akan jadi kendala juga ronda itu untuk produktivitas di tempat kerjanya karena jadi mengantuk keesokan harinya. Aku sendiri beruntung semester ini kuliah sudah tidak terlalu padat. Makanya, ronda ini nggak kuanggap sebagai beban. Malah senang bisa berkumpul bareng warga lainnya. 😀