Tag Archives: kucing

Bonci Versi 2.0

Yak inilah dia kucing kesayangan kontrakan kami. Namanya Bonci. Berasa pernah dengar ya sebelumnya? Iya, sekitar setahun lebih yang lalu kami juga pernah punya anak kucing dengan nama yang sama. Hal itu juga pernah ku-post di artikel terdahulu di sini.

Bonci versi 2.0 in action

Bonci versi 2.0 in action

Kenapa dinamai Bonci lagi? Jangan tanyakan itu kepadaku karena Wafi — salah satu teman sekontrakanku — yang menamainya :P. Ya, di antara para penghuni kontrakan kami, Wafi memang yang paling perhatian sama kucing. Dan Bonci “versi 2.0” ini adalah satu-satunya the survivor di antara anak-anak kucing lain seangkatannya yang dilahirkan oleh si Kuma. Pemberian nama “Bonci versi 2.0” sebenarnya juga menunjukkan bahwa Bonci berada di bawah peliharaan sekumpulan anak-anak Informatika, hehehe.

Masa-masa sulit di mana kami — khususnya Wafi — harus bolak-balik membersihkan kotoran dan air pipisnya yang suka sembarangan kini berangsur-angsur mulai terlewati. Si Bonci versi 2.0 ini mulai tumbuh menjadi kucing yang lovely dan menggemaskan. Paling suka memang ngelus-ngelus bulunya si Bonci ini, hehehe. Kalau lagi suntuk, entah kenapa setiap ngelus-ngelus bulunya Bonci ini jadi bikin rileks.

Si Bonci ini punya kebiasaan tiap salah seorang dari kami keluar kontrakan, dia selalu mengikuti ke mana kami pergi walaupun paling jauh biasanya cuma 20-30 meteran. Tapi sewaktu kami keluar bertiga, dia tiba-tiba mengikuti kami berjalan hingga ratusan meter sampai ke kosan teman.

Bukan cuma kami yang suka main-main dengan si Bonci. Anak kecil tetangga depan rumah juga suka ngajak main si Bonci, minimal sekedar ngelus-ngelus. Tak hanya anak itu, ayahnya ternyata juga suka tiba-tiba manggil-manggil si Bonci, terus dielus-elus. Hahaha … Bonci, bonci … 😀

 

Kucing Padepokan Sandal36B

Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang kucing yang melahirkan di kontrakanku (a.k.a. “Padepokan Sandal36B”). Dari 6 anak kucing yang lahir saat ini tinggal 1 saja yang masih hidup. Tiga kucing mati karena dibunuh (lebih tepatnya dimakan?) oleh seekor kucing garong. Sementara dua kucing lainnya mati karena kekurangan gizi akibat kalah bersaing memperebutkan susu induknya dengan kucing satunya. Nah, satu kucing yang masih hidup itu sekarang sudah besar dan sudah bisa main-main.

Gemas juga melihat polah tingkahnya yang lucu itu. Oiya, perkenalkan namanya Bonci. Itu yang memberi nama adalah teman satu kontrakanku, si Wafi. Tiap malam, Bonci sering tidur bersama Wafi di kamarnya. Mereka berdua plus induknya, si Kuma, sudah layaknya keluarga bahagia aja, hehehe. Si Bonci ini memang tidak bisa sendirian. Tiap kali lihat orang pasti diikutin. Udah gitu dia berlagak seperti predator gitu, kalau jalan, suka mengintai-ngintai. Lumayanlah ada hiburan baru di kosan. Tiap lagi jenuh dengan belajar atau aktivitas lainnya, aku main-main sama si Bonci ini, hehehe.

Ni dia foto si Bonci ketika lagi menyusu ke induknya. 😀

Bonci dan Kuma

Bonci dan Kuma

Semua Repot Karena Kucing

Kurang lebih sudah ada 2 bulan ini, Kuma (seekor kucing betina yang kami beri nama demikian), selalu ngendon di kontrakan kami. Entah gimana awalnya hingga ia tiba-tiba jadi ikut menjalani hidup bersama kami dalam satu atap. Perasaanku dulu kucing ini langsung ngacir setiap kepergok masuk ke dalam rumah. Anehnya sekarang kok nggak ada rasa takut sama sekali. Kayaknya karena sudah terlanjur kami manja dengan sering kami kasih makan jadinya kucing ini jadi betah di rumah kami. Ketika sebagian anak-anak pergi saat liburan semester kemarin si kucing ini jadi sering tidur di dalam rumah, bahkan sampai tidur di kasur kami. Oiya, nama Kuma ini yang beri si Kamal, entah apa alasannya diberi nama itu.

Nah, beberapa hari yang lalu si Kuma ini melahirkan bayi kucing yang lucu-lucu. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 6! Udah gitu, si Kuma ngelahirinnya di kamar salah satu penghuni kontrakan kami, namanya Wafi. Terpaksa dia ngalah, dan ia menyingkir dari kamarnya untuk sementara waktu, numpang tidur di tempat penghuni kontrakan yang lain, Haris, selama beberapa malam. Akan tetapi, setelah hari kelahiran anak-anak Kuma itu, beberapa hari kemudian si Wafi ini iba sampai ngurusin Kuma ma bayi-bayainya. Mulai menyediakan kardus buat tempat tidur bayi-bayinya, membuatkan susu untuk anak-anak si Kuma, dsb. Ya Allah, sungguh lelaki yang berhati mulia temanku satu ini… 🙂

Bahkan, saking antusiasnya dengan kelahiran anak-anak Kuma, Si Wafi sampai beberapa kali update status di Facebook menceritakan segala hal terkait Kuma. Ini salah satu screenshot status Wafi di Facebook:

Status facebook Wafi tentang Kuma

Status facebook Wafi tentang Kuma

Sampai akhirnya kemarin, kamis pagi, tiba-tiba si Wafi teriak-teriak di rumah kalau anaknya si Kuma mati. Jumlahnya cukup banyak, ada separuhnya (3). Aku sendiri belum jelas matinya si Kuma kenapa. Kata Wafi sih, anaknya mati kedinginan, sementara kata Kamal anaknya mati karena “dibunuh” sama kucing garong yang tiba-tiba sering menyusup ke dalam rumah.

Yang jelas, apapun sebab matinya 3 bayi kucing itu, si Kuma tiba-tiba saja jadi agresif. Ia menjadi sangat posesif terhadap anaknya. Aku pegang sedikit saja anaknya, dia langsung mengeong-ngeong seolah meneriakiku agar menyingkir dari anak-anaknya.

Sepanjang pagi hari itu, si Kuma survei ke tempat-tempat yang ada di dalam kontrakan. Tampaknya ia akan mencari tempat tinggal baru yang aman dan nyaman buat anak-anaknya. Orang-orang di rumah (terutama Wafi) jadi repot sendiri ngurusin perpindahan Kuma. Awalnya sempat dipindahin ke dalam kardus dan ditaruh di luar. Tiba-tiba ada pemulung yang mengambil kardusnya dan membiarkan anak-anak Kuma terlantar di jalanan. Wah, wah, dunia memang kejam.

Akhirnya, si Kuma mindahin satu-satu anaknya ke dalam rumah. Kasihan juga si Haris. Kasurnya, sempat jadi tempat tinggal si anak-anak Kuma itu. Kebetulan Haris waktu itu nggak ada di rumah. Jadi, begitu aku tahu kasurnya Haris dijadikan sarang baru bagi mereka, langsung aku pindahin anak-anaknya Kuma ke dalam kardus yang baru. Tapi dasar Kuma pinginnya tetap tinggal di dalam rumah, aku pun menaruh kardus itu di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Tapi ya gitu, tiap ada orang makan dia langsung dempet-dempet. Arrgghhh… bikin repot aja. Tiap mau makan harus pindah-pindah menghindari kucing satu ini. Kalau nggak gitu, siap-siap aja kucing ini bakal nekad menerjang lauk yang ada di piring.

Repot memang ngurus kucing satu ini. Tiap pagi, pasti kami harus mberesin tempat sampah yang ada di dalam kontrakan karena malamnya diberantakin ma si Kuma. Duh, harus sabar…

Kuma dan anak-anaknya

Kuma dan anak-anaknya

[HotNews] Jumlah Penduduk Dunia Bertambah Lima, KF Siap Tanggung Jawab

Bandung, menjelang siang hari ini Selasa, 20 April 2010 sekitar pukul sepuluh, wanita yang tidak diketahui namanya berkunjung ke salah satu kontrakan mahasiswa di daerah sangkuriang dalam, menunjukkan tanda-tanda hendak melahirkan. Mahasiswa yang menempati kontrakan bertanya-tanya terlebih ketika wanita itu berusaha memaksa memasuki kamar salah satu mahasiswa yang berada di lantai dua, yaitu Khairul Fahmi (KF). Namun tentu saja Khairul Fahmi tidak menginginkan hal tersebut sehingga dia langsung mengunci kamarnya.

Setelah sekian lama erangan si wanita tersebut tak tertahankan lagi, akhirnya hati Khairul pun luluh dan bersedia memberikan tempat – meskipun bukan kamarnya – untuk wanita tersebut agar dapat mempersiapkan kelahirannya. Namun pada akhirnya wanita tersebut yang masih misterius identitasnya tersebut memilih untuk melahirkan di lantai satu yang ternyata anaknya kembar lima.

Kini kelima anaknya telah ditempatkan di tempat yang telah disiapkan Khairul sebelumnya. Salah seorang reporter sempat bertanya kepadanya seputar hal ini. “Maaf, no comment”, kata Khairul menolak menanggapi peristiwa tersebut. Kelima anak tersebut sekarang masih tertidur tanpa nama. Meskipun demikian kejadian ini masih belum dilaporkan ke polisi setempat untuk menemukan tempat tinggal atau keluarga wanita tersebut. Bukan hanya karena wanita tersebut masih dalam keadaan labil, melainkan juga karena wanita tersebut ternyata diketahui sebagai seekor kucing biasa. (diadaptasi dari kisah nyata, dari blog teman satu kontrakan, Kamal Mahmudi)

Si ibu kucing bersama anak-anak yang baru dilahirkannya

Si ibu kucing tenang bersama anak-anak yang baru dilahirkannya