Tag Archives: kosan

Mirip Artis?

[Story 1] Suatu ketika di sebuah warung pulsa dekat kosan.

S (Saya) : “Teh, mau beli pulsa.”
T1 (Teteh penjual pulsa) : “Sok a’ ditulis nomornya.”
S : (lagi menulis nomor HP di kertas)
T1 : “Kok rasanya pernah lihat aa’ di TV. Main di acara apaaa… gitu.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
T2 (teman si teteh jualan pulsa) : “Teh ini ngefans sama mas.”
T1 : “Nggaakk … cuma ngerasa aja pernah lihat si aa’ di TV.”
S : (Pura-pura antusias) “Wah, siapa ya teh artisnya?”
T1 : “Nah itu, saya lupa.”
S : “Pulsanya sudah masuk teh. Makasih ya.”

[Story 2] Suatu ketika di tempat laundry dekat kosan.

S (Saya) : “Assalammu’alaikum.”
T (Teteh pemilik laundry) : “Wa’alaikumsalam. Oh, Dhito ya?”
S : “Iya teh, bener.”
T : (Sambil menghitung laundry-an) “Eh, Dhito kemarin Ramadhan atau lebaran gitu habis main film ya?”
S : (Bingung tiba-tiba ditanya begitu) “Ah, nggak teh. Saya di Ramadhan di Bandung, sama mudik ke Malang.”
T : “Tapi kemarin sempat nonton film ada yang mirip sama Dhito. Saya pikir itu Dhito.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
S : “Ah, teteh bisa aja. Saya mah nggak pernah main film teh, hehehe.”
T : “Bener itu bukan Dhito?” (Dengan nada yang agak memaksa)
S : “Haha, bukan teh, saya jamin.”
S : “Udah teh, gitu aja ya. Saya pamit dulu. Makasih. Assalammu’alaikum.”
T : “Wa’alaikumsalam.”

Advertisements

It’s Time to Move On

It’s time to move on (baca: waktunya pindahan :D).

Ya, tak terasa sudah 3 tahun aku menetap bersama 5 orang kawanku sesama angkatan IF 2007, yakni Haris, Kamal, Khairul, Adi, dan Wafi di kontrakan di jalan Sangkuriang Dalam, yang kemudian kami sebut dengan padepokan Sandal, hahaha. Kini tiba saatnya perpisahan itu harus terjadi.

Pertama, pada bulan April lalu di mana Khairul yang lulus lebih dahulu pada bulan April itu, harus pindah ke Jakarta karena ia mendapatkan pekerjaan di sana. Lalu 2 bulan kemudian,   pada minggu ketiga Juni, Kamal menyusul pindahan ke rumah yang baru dibelinya di Bandung ini. Dan kini aku dan Wafi yang pindah ke kosan yang baru di Cisitu. Adi dan Haris sementara ini masih berada di kontrakan yang lama.

Malam kemarin kami berlima — minus Adi — melakukan farewell party (ceileeh istilahnya…) dengan makan malam bersama di Abuba Steak. Keesokan harinya, alias hari ini, kami, khususnya aku dan Wafi, mulai mengemasi barang-barang untuk pindahan hari ini juga. Yup, semalam akan menjadi malam terakhir aku menginap di kontrakan ini.
Khairul menyortir barang-barangnya

Khairul menyortir barang-barangnya

Capai juga ya mengurusi pindahan itu. Apalagi alat angkut yang kami gunakan adalah gerobak dorong. Aku dan wafi PP kosan lama-kosan baru sebanyak 3 kali. Lumayan juga sih. Barangnya banyak soalnya dan cukup berat juga.
Haris beberes

Haris beberes

Mungkin dalam 1-3 tahun ke depan aku bakal masih pindah-pindah. Soalnya rencana yang kumiliki dalam kurun waktu itu masih abu-abu. Yah, mungkin kalau sudah beristri (amin… mudah-mudahan bisa menyegerakan :D), semuanya bakal lebih jelas. Setidaknya bisa memulai mencari tempat tinggal tetap, hehehe.
Anyway, waktu 3 tahun tinggal bersama kawan-kawan ini ternyata terasa sebentar. Tak terasa kami semua masing-masing sudah mulai menentukan jalan masing-masing. Walaupun kami masing-masing berpisah sudah tidak akan menetap di rumah itu lagi, tapi kenangan itu akan tetap terjaga selamanya di rumah kontrakan itu. Duh, kok jadi melankolis gini, hehehe. Lanjut beres-beres ah. 😛 

Kenapa Kau Modem Mobi?

Modem

Modem

Agak kecewa dengan kinerja modem M*bi Sm**tfr*n akhir-akhir ini. Entah kenapa tiba-tiba koneksi sering putus sendiri. Tidak cuma aku yang mengalami hal serupa. Teman sekosan juga mengeluhkan hal yang sama.

Pengaruh sinyal atau jaringan? Kurang tahu, dan bisa jadi. Ya, di daerah kosanku, daerah Cisitu-Sangkuriang dan sekitarnya, entah kenapa di beberapa tempat, sinyal beberapa operator seluler cukup buruk di sini. Salah satunya adalah operator modem ini. Padahal ini adalah daerah kosan mahasiswa yang potensial sekali untuk menjadi pelanggan mereka.

Tapi yang jelas, sebelumnya aku selalu nyaman menggunakan modem ini. Mungkinkah karena semakin hari pengguna yang semakin banyak? Sehingga membuat bandwidth menjadi berkurang? Oh iya, permasalahannya bukan lelet ding. Tapi koneksi yang putus-putus. Sebelumnya tak pernah seperti ini.

Alhasil karena semakin susah mendapatkan koneksi internet di kosan, ngeblog pun menjadi jarang, hehehe. Apa perlu ganti modem operator lain? Dua orang teman sekosan baru saja membeli modem operator CDMA yang lain dan tampak lancar-lancar saja. Tak ada permasalahan sinyal di daerah Cisitu-Sangkuriang ini. Streaming YouTube pun luar biasa lancarnya. Hmm … 🙄

 

Serba-Serbi Warung di Daerah Sekitar Kosan

Namanya anak kosan, setiap kali makan, mau nggak mau memang harus nyari sendiri. Entah harus beli di warung atau masak sendiri. Nggak mungkin disediain. 😀

Saking seringnya beli makan di warung bu ini atau bu itu, anak kosan biasanya jadi akrab juga sama yang jual. Terus di kalangan para kosaners (para anak kosan) sering beredar nama-nama unik yang gampang diinget untuk menyebut nama suatu warung. Biasanya ini terjadi kalo warung itu nggak punya nama dan si kosaners hanya tau lokasi warung itu. Jadi ketika ngajak temannya makan di warung itu, si X akan bilang ke temannya si Y, “Makan di warung Z yuk!” Dengan Z = nama warung yang mereka ciptakan sendiri, hehehe…

Di daerah sekitar kosanku pun seperti itu. Waktu tingkat satu dulu aku dan temen-temen sekosan sering makan warung “Tenda Biru” di daerah Cisitu Lama. Nama “Tenda Biru” ini memang mereka yang kasih sendiri, bukan dari kami para kosaners. Diberi nama itu karena memang warungnya berada di pinggir jalan dan ditutup terpal warna biru. Warung ini memang murah banget di antara warung lainnya yang ada di daerah sekitar situ. Nggak heran kalo jadi jujugan para kosaners yang lagi pingin  menghemat. Bahkan, kalo Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan diskon dari ibunya yang jual. Tapi ternyata warung ini punya nama lain, yaitu warung “Bu Kodok”. Lho Kok?

Dari mana ceritanya tiba-tiba warung itu dapet nama warung “Bu Kodok”? Emangnya di sana jualan sate kodok ya? Hehe.. tentu saja tidak. Bisa dibilang itu sebutan oleh para kosaners sebagai tanda perhatiannya sama ibu yang jual :p. Sebutan itu bermula dari kebiasaan ibunya yang sering latah bilang “pake kodok?”, “mau kodok”, dll. Jadi, anak-anak pada nyebut warung itu warung “Bu kodok”. Bahkan, bisa jadi nama itu lebih melegenda di kalangan kosaners daripada nama “Tenda Biru”. Anak-anak di sana kalo ditanya warung “Tenda Biru” pasti nggak ngeh di mana, tapi kalo kita udah bilang warung “Bu Kodok”, pasti langsung tau.

Ada lagi cerita tentang warung yang berada di parkiran Asrama Bumi Ganesha, masih di Cisitu juga. Para kosaners nyebutnya warung “Bu Tepung” karena di sana memang masak lauknya, entah itu ayam, tahu, tempe, ati ampela, sampau lele, semuanya digoreng pake tepung. Karena warung itu belum punya nama sendiri, biar anak-anak gampang nyebutnya, langsung aja bikin nama sendiri. Akhirnya keluarlah nama warung “Bu Tepung”. Tapi, sekitar sebulan yang lalu, saat mampir ke sana lagi, ternyata warung itu udah punya nama sendiri. Namanya, warung “Sabar Menanti”!!

Pasti orang yang belum pernah beli di sana bertanya-tanya, “Kok diberi nama itu sih?” Tapi, mungkin sebagian dari mereka udah membuat hipotesis sendiri. Yup, Anda benar. Sesuai namanya, kita memang harus “sabar menanti” kalo mau makan di warung itu, karena antriannya sering panjang dan memang masaknya juga cukup lama karena lauknya digoreng pake tepung. Pasti yang biasa masak taulah kenapa nggoreng pake tepung selalu lama.

Lalu ada lagi warung di dekat kontrakanku. Kalo yang ini aku yakin nggak banyak yang tau dan memang sebutan ini hanya berlaku di kontrakanku dan anak yang sering nginep di kontrakanku. Kami menyebut warung yang satu ini dengan nama warung “Bu Sahur”. Anak-anak baru sering beli makan di warung ini saat bulan Ramadhan kemarin. Karena malas nyari makan yang jauh, akhirnya tiap kali sahur selalu beli makan di warung ini. Padahal habis Ramadhan ibunya nggak buka warung pas waktu sahur :D. Bukanya mulai dari pagi sampe malam aja. Tapi anak-anak di kontrakan masih manggil dengan nama “Bu Sahur”. Sekali lagi, untuk yang satu ini hanya sebutan untuk kalangan terbatas, hehe… 😀

Tulisan ini bukan ditujukan untuk bermaksud ghibah atau sejenisnya ya. Biar bagaimanapun mereka adalah pahlawan juga bagi para mahasiswa-mahasiswa kosaners ini. Coba bayangkan, kalo nggak ada mereka, tiap pagi kita harus ke pasar beli bahan-bahan makanan, terus masak sendiri. Iya, kalo di kosan kita boleh bawa perlatan masak. Nah, kalo ngga? Bisa kelaparan kita di kosan. Hehehe…

Mungkin Anda punya cerita unik yang lain tentang warung di sekitar kosan Anda? 😀