Tag Archives: jalan kaki

Menjajal SkyBridge Terminal Tirtonadi-Stasiun Solo Balapan

Masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya tentang perjalanan saya ke Solo awal Bulan September kemarin. Pada perjalanan itu akhirnya saya berkesempatan menjajal untuk pertama kalinya SkyBridge yang menghubungkan Terminal Bus Tirtonadi dan Stasiun Solo Balapan.

Setelah tiba dari naik bus Semarang-Solo, saya melanjutkan untuk naik kereta api ke Sragen dari Stasiun Solo Balapan. Sebenarnya ada bus Solo-Sragen. Namun saat itu tidak menjadi pilihan saya karena busnya sangat lambat karena sering ngetem. Sementara saya butuh cepat sampai di Sragen.

Mudah saja menemukan jalan menuju SkyBridge di Terminal Tirtonadi ini. Persis di depan Masjid Al-Musafir, Terminal Tirtonadi, terdapat tangga untuk menuju SkyBridge. Jalurnya terbuka. Siapapun boleh melewatinya. Tidak harus memiliki tiket kereta api.

Saat awal dibuka Juni 2017 lalu SkyBridge ini sebetulnya ditujukan untuk penumpang kereta api baik yang mau naik maupun turun di Stasiun Solo Balapan. Karena itu ada pemeriksaan tiket bagi mereka yang hendak melalui SkyBridge ini menuju Stasiun Solo Balapan. Namun kini terbuka untuk umum.

Tidak banyak pejalan kaki yang saya temui ketika berjalan kaki di SkyBridge ini pada Sabtu siang itu. Mungkin hanya sekitar 5 orang saja. Entahlah. Mungkin memang bukan jam sibuk.

Tidak banyak orang melewati SkyBridge
Rumah penduduk di sekitar SkyBridge

Dengan hadirnya SkyBridge ini tentu saja sangat memudahkan mobilitas penumpang yang beralih moda transportasi dari bus ke kereta api atau sebaliknya. Jarak jalan raya yang sebesar 1,5 km dapat dipangkas menjadi sekitar 700 meter. Jarak tersebut saya tempuh dalam waktu kurang lebih 7 menit saja.

Eskalator/Tangga SkyBridge di halaman Stasiun Solo Balapan

SkyBridge ini berakhir di halaman depan Stasiun Solo Balapan. Namun sebelum tangga/eskalator terakhir itu, sebenarnya terdapat beberapa tangga/eskalator turun ke peron Stasiun Solo Balapan, salah satunya peron bangunan stasiun kereta bandara yang sudah hampir jadi. Tetapi semuanya ditutup oleh palang. Mungkin kelak akan dibuat gate agar penumpang bisa langsung turun ke peron tersebut tanpa harus turun dulu di depan Stasiun Solo Balapan.

Advertisements
Medali Borobudur Marathon 2018

Lari Full Marathon di Borobudur Marathon 2018 (Bag. 2-Tamat): Race Day

Pukul 3.30 saya dan Dani sudah terbangun dari tidur. Tanpa banyak membuang waktu kami langsung bersiap-siap untuk event lari Borobudur Marathon pagi itu. Menurut jadwal, kategori Full Marathon (FM) yang kami ikuti akan start pada pukul 5 tepat.

Setelah mandi, ganti baju, sholat subuh, dan pakai sepatu, dengan mengendarai sepeda motor kami pun bergerak menuju Candi Borobudur. Sampai di lokasi kurang lebih 30 menit sebelum waktu start. Dari halaman parkir sepeda motor sampai ke tempat garis start di Taman Lumbini masih lumayan jauh juga masuknya.

Para pelari FM telah menumpuk di belakang garis start. Alhamdulillah saya dan Dani bisa nyelip di bagian agak tengah. Kami pemanasan sebentar kurang lebih selama 5 menit.

Suasana di belakang garis start FM Borobudur Marathon 2018

Tak lama kemudian MC mengajak peserta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, MC memanggil Pak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, untuk memberikan sambutan. Setelah sambutan, beberapa saat kemudian MC pun mulai menghitung mundur pertanda akan dimulainya perlombaan lari kategori FM Borobudur Marathon 2018. 

Lari Pun Dimulai

Tepat pukul 5 pagi para peserta Full Marathon pun memulai lari.  1 Kilometeran pertama lari masih di sekitaran halaman Taman Lumbini. Baru setelah itu keluar kompleks Candi Borobudur memasuki perkampungan dan areal persawahan.

Continue reading

Trail Run di Goat Run Series 2018 – Gunung Guntur (Bag. 2-Tamat)

Tepat pada pukul 7 pagi, start pun dimulai. Peserta dari kedua kategori, 20 km dan 35 km, semua start bersamaan.

Sampai 10 km pertama kedua kategori memiliki rute yang sama. Setelah mengitari kawah Gunung Guntur, kedua kategori berpisah rute. Kategori 20 km putar balik turun kembali ke jalur semula, sementara kategori 35 km masih harus naik lagi sampai ke puncak kemudian turun melalui jalur yang berbeda.

Sekitar 3 km pertama rute yang dilalui masih berupa jalan beraspal. Selepas itu trek sudah berupa tanah berkerikil. Elevasinya pun secara bertahap juga semakin meningkat.

Kilometer awal Goat Run Gunung Guntur

Kilometer awal Goat Run Gunung Guntur

Berlari di kampung. Gunung Guntur tampak di kejauhan.

Berlari di kampung. Gunung Guntur tampak di kejauhan.

Saya yang pertama kali berlari di gunung ini tidak memasang target muluk-muluk. Yang penting asal bisa finish strong. Saya mencoba menghemat tenaga dengan berjalan kaki setiap melalui tanjakan dan berlari di medan yang datar dan juga turunan.

Water station pertama ada di KM 4. Ada berbagai macam refreshment yang tersedia. Mulai dari semangka, pisang, isotonik, dan air mineral.

Water station di KM 4

Water station di KM 4

Sampai sekitar 2 km selepas water station KM 4 medan masih berupa alam terbuka dengan tanah pasir berkerikil dan ilalang di kanan kiri jalan. Setelah itu, menjelang water station kedua di KM 8 Continue reading

Medali Finisher PBIM 2017

Lari Full Marathon Lagi di PBIM 2017

Akhir November kemarin (26/11) untuk keempat kalinya berturut-turut saya berpartisipasi dalam event lari tahunan Penang Bridge International Marathon (PBIM). Kali ini saya mengikuti kategori full marathon. Ini kali kedua saya mengikuti kategori tersebut setelah pertama kali ikutan 2 tahun yang lalu.

baca jugaKali Pertama Ikutan Full Marathon

Terbilang cukup nekat sih sebenarnya. Pasalnya tahun 2017 ini saya sudah jarang sekali lari. Event PBIM 2017 ini adalah event lari pertama tahun ini yang saya ikuti. Saya ikut karena diajak teman saya yang tengah semangat untuk ikutan lari marathon pertama kalinya.

Tapi saya bukannya tanpa persiapan sama sekali. Selepas lebaran saya mulai membiasakan lagi lari jarak jauh. Bertahap mulai dari 5 km. Bertambah terus sampai seminggu menjelang hari H saya melahap jarak 17 km. Sebuah persiapan yang agak mengkhawatirkan juga sebenarnya. Apalagi itu saya lakukan dengan tidak rutin, bahkan sempat bolong nggak lari sama sekali dalam 3 minggu.

Pada hari H-1 atau bertepatan dengan hari keberangkatan saya dan teman saya ke Penang tanpa disangka ada satu masalah menghampiri. Jadwal Continue reading