Tag Archives: PBIM

Medali Finisher PBIM 2017

Lari Full Marathon Lagi di PBIM 2017

Akhir November kemarin (26/11) untuk keempat kalinya berturut-turut saya berpartisipasi dalam event lari tahunan Penang Bridge International Marathon (PBIM). Kali ini saya mengikuti kategori full marathon. Ini kali kedua saya mengikuti kategori tersebut setelah pertama kali ikutan 2 tahun yang lalu.

baca jugaKali Pertama Ikutan Full Marathon

Terbilang cukup nekat sih sebenarnya. Pasalnya tahun 2017 ini saya sudah jarang sekali lari. Event PBIM 2017 ini adalah event lari pertama tahun ini yang saya ikuti. Saya ikut karena diajak teman saya yang tengah semangat untuk ikutan lari marathon pertama kalinya.

Tapi saya bukannya tanpa persiapan sama sekali. Selepas lebaran saya mulai membiasakan lagi lari jarak jauh. Bertahap mulai dari 5 km. Bertambah terus sampai seminggu menjelang hari H saya melahap jarak 17 km. Sebuah persiapan yang agak mengkhawatirkan juga sebenarnya. Apalagi itu saya lakukan dengan tidak rutin, bahkan sempat bolong nggak lari sama sekali dalam 3 minggu.

Pada hari H-1 atau bertepatan dengan hari keberangkatan saya dan teman saya ke Penang tanpa disangka ada satu masalah menghampiri. Jadwal Continue reading

Advertisements

Lari Half Marathon di PBIM 2016

Hari Minggu kemarin untuk ketiga kalinya berturut-turut saya mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon (PBIM). Pada tahun sebelumnya saya mengikuti kategori full marathon. Namun kali ini saya hanya mengikuti kategori half marathon.

baca juga: Kali Pertama Ikutan Full Marathon

Sebenarnya keikutsertaan tahun ini bisa dibilang tidak direncanakan. Saya baru mendaftar tepat pada 31 Agustus lalu gara-gara diajak teman. Ceritanya dia lagi menggandrungi olahraga lari, dan ingin sekali mencoba mengikuti event lari. Saya pun merekomendasikan PBIM ini karena dari event-event lari yang pernah saya ikuti sejauh ini, PBIM adalah yang terbaik menurut saya dari segi harga, fasilitas, dan akomodasi.

Pendaftaran PBIM 2016 sendiri sudah dibuka sejak 1 Maret 2016 untuk early bird. Early bird berlangsung hanya 2 hari saja karena ternyata kuota early bird yang disediakan sudah langsung terpenuhi. Saat kami mendaftar 31 Agustus, pendaftaran sudah memasuki stage III  (atau total sudah tahapan ke-4). Pas banget itu adalah hari terakhir pendaftaran dari seluruh stage. Hanya kategori half marathon dan 10K saja yang tersisa kuotanya.

Untuk half marathon, dari biaya early bird sebesar MYR60 (IDR186.000), sudah naik hingga MYR90 (IDR279.000) saat stage III itu. Untungnya biaya segitu pun ternyata masih jauh lebih murah daripada event lari di Indonesia, seperti Continue reading

Let’s Run

Barusan tadi nyari-nyari lagu yang diputer waktu start Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015 kemarin. Waktu itu cuma denger jelas bagian reff-nya aja sih, “Let’s run, run, run… Let’s run together…”

Lagunya enak juga bikin semangat waktu mulai lari. Saya baru tahu lagu itu memang lagu official-nya PBIM. Hoo… ternyata. Niat juga. Wajar sih, PBIM ini sudah menjadi event tahunan dan ikon tourism-nya Penang juga. Hebatnya biaya pendaftaran eventnya jauh lebih murah lho setelah saya bandingkan dengan event-event lari marathon lainnya, termasuk Jakarta Marathon.

 

Kali Pertama Ikutan Full Marathon

Akhirnya pecah telur juga. Dua hari yang lalu (22/11) untuk pertama kalinya saya mengikuti lari full marathon alias lari 42,195 km. Saya ikutan lari full marathon itu di event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015. Setahun yang lalu di event yang sama, saya mengikuti lari yang kategori half marathon. Alhamdulillah target ikutan full marathon di tahun berikutnya berhasil terpenuhi. 

Bisa dibilang nekat juga sih. Sejujurnya sejak terakhir ikutan half marathon setahun yang lalu, saya tidak pernah lari lebih dari belasan kilo. Makanya sempat ragu-ragu juga sih apakah saya kuat untuk tiba-tiba berlari sejauh 42,195 km ini.

Dan ternyata memang tidak kuat. Namun alhamdulillah saya Continue reading

Solo Backpacking ke Penang (Bagian 2): Keliling dengan Rapid Penang di Hari ke-1

Sabtu, 16 November

Kira-kira pukul 8.15 aku menjejakkan kaki di Penang International Airport. Cepet banget penerbangan Medan-Penang. Nggak ada satu jam kayaknya.

Setelah menyelesaikan urusan imgrasi, aku bingung mau ngapain dan ke mana selanjutnya. Aku duduk-duduk nggak jelas di bangku selasar terminal kedatangan mengamati kondisi sekitar. Pertama yang di benakku adalah mencari counter HP yang menjual kartu perdana DiGi, operator seluler favorit kalau lagi di Malaysia.

Aku butuh operator lokal untuk dapat akses internet. Kebutuhan akses internet ini lumayan vital buatku, terutama untuk membuka aplikasi Google Maps dan browsing. Sayang di bandara cuma ada counter Celcom saja. Karena aku nggak mau berspekulasi pakai kartu operator seluler yang belum kuketahui tarifnya, terutama paket internetnya, jadi aku nggak beli itu kartu Celcom.

Setelah itu, aku mencari lokasi halte bus Rapid Penang di bandara ini. Lokasinya ternyata sangat dekat. Persis di seberang terminal kedatangan. Kebetulan pas banget ketika aku ke sana, ada bus 401E yang datang. Eitts, jangan sampai salah bus ya. Walaupun sama-sama bus 401E, pastikan dulu tujuan bus tersebut apakah ke Balik Pulau atau Jetty. Gampang saja sih, kalau di busnya tertulis (digital) Balik Pulau-Jetty, berarti bus itu mau ke Jetty. Begitu pula sebaliknya kalau tulisannya Jetty-Balik Pulau, berarti tujuannya ke Balik Pulau. Sebab, baik yang tujuan Balik Pulau maupun Jetty, keduanya sama-sama singgah di halte yang sama di bandara ini. 

Tips: Pelajari rute bus-bus Rapid Penang di sini atau di sini

Ke Queensbay Mall

Tujuan pertamaku adalah ke Queensbay Mall. Untuk ke sana aku naik bus 401E jurusan Jetty. Ongkos bus bandara-Queensbay Mall ini RM 2. Ongkos bus Rapid Penang ini bervariasi, tergantung jarak tujuan. Jadi begitu naik, kita sebutkan tujuan kita ke mana, nanti sang sopir akan menyebutkan berapa ongkosnya. Setelah itu uang kita masukkan ke dalam box yang ada di samping sopir, dan si sopir akan memberikan karcis sesuai dengan ongkos yang disebutkan. Dari yang kuamati, sepertinya kalau kita sudah tahu ongkosnya, bisa saja sih sebenarnya langsung bayar ke sopirnya tanpa ngasih tahu tujuan kita dulu. Di sini modal kejujuran benar-benar diperlukan. Oh ya, usahakan selalu menggunakan uang pas ketika membayar. Sebab, jarang sekali sopir menyediakan kembalian, soalnya uang yang dibayarkan langsung dimasukkan ke dalam box.

Ada apa di Queensbay Mall? Tujuanku ke sana adalah untuk mengambil race pack PBIM (Penang Bridge International Marathon). Walaupun batal lari, seenggaknya race pack harus tetap diambillah, haha.

Sepertinya Queensbay Mall ini adalah mall terbesar di Pulau Penang ini. Halaman parkirnya luasnya nggak kalah dengan halaman parkir stadion, haha. Di halaman parkir itu sudah berjejer-jejer stand-stand sponsor acara PBIM, termasuk sekretariat untuk pengambilan race pack. Di seberang Queensbay Mall ini pun juga telah dipasang gate start dan finish perlombaan.

Oh ya, dari depan Queensbay Mall ini kita bisa melihat pemandangan Penang Bridge di kejauhan. Kalau mau melihat lebih dekat lagi, kita bisa menyeberang jalan di depan Queensbay Mall dan berjalan kaki ke arah utara. Sekitar beberapa ratus meter akan ada semacam taman untuk pikinik gitu. Nah, view Penang Bridge akan terlihat lebih jelas dari sana. Sayang waktu itu aku tak sempat ke sana karena aku sendiri baru tahu belakangan ketika naik bus 401E balik ke bandara.

Ke Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR)

Dari Queensbay Mall aku berencana untuk langsung menuju ke Kompleks Tun Abdul Razak atau yang dikenal dengan singkatan KOMTAR saja. Di sanalah terletak terminal sentral kota Georgetown ini. Penginapanku juga hanya berjarak sekitar 500 m dari sana.

Lama juga ternyata menunggu bus 401E yang ke sana. Oh ya, sebelum naik, lagi-lagi perlu diperhatikan ke mana tujuan bus 401E yang transit di halte Queensbay Mall ini. Ada yang ke Balik Pulau, dan ada yang ke Jetty. Kalau hendak ke KOMTAR, berarti kita ambil jurusan Jetty.

Nah, saat menunggu bus 401E ini, aku melihat ada bus dengan nomor yang lain yang ternyata juga lewat KOMTAR. Cuma aku lupa nomornya. Wih… jalurnya panjang banget. Kayaknya dia memang nggak straight langsung ke KOMTAR, tapi muter-muter dulu. Nggak heran jika ongkosnya sampai RM 2,70.

Oh ya, saat naik bus Rapid Penang ini jangan harap kita bakal mendengar sang sopir bus berteriak-teriak menyebutkan nama halte atau daerah tempat bus akan berhenti seperti yang jamak kita temui di Indonesia. Kita harus proaktif tanya sama penumpang lain jika memang tak tahu di mana halte tempat kita berhenti. Aku sempat kebablasan ketika naik bus itu karena dengan pedenya, yang dimaksud lewat KOMTAR itu adalah bus masuk ke sebuah terminal bus seperti foto-foto yang kulihat di internet.

Well, ternyata tak semua bus yang menyebutkan KOMTAR sebagai rute yang dilaluinya berarti akan masuk ke dalam terminal. Sebab KOMTAR itu sesungguhnya adalah kompleks area bisnis, mulai dari pertokoan, restoran, perkantoran, dengan terminal bus di dalamnya juga. Dan dari sisi luar KOMTAR, terminal bus itu tak kelihatan. Karena itulah, sekali lagi, tak ada salahnya untuk bertanya atau meminta penumpang di sebelah Anda, atau sopir bus, untuk memberi tahu Anda ketika sudah tiba di tujuan. Aku sendiri kemudian diminta sang sopir untuk menambah RM 1.70 karena kebablasan ini, dan dipersilakan untuk tetap di dalam bus yang akan mengambil rute balik melalui terminal KOMTAR.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 ketika aku sampai di terminal KOMTAR. Perut sudah keroncongan. Aku ingat bahwa aku belum makan dari siang hari sebelumnya. Akhirnya aku mampir ke KFC di kompleks pertokoan di lantai atas terminal KOMTAR ini. Setelah makan, aku mampir membeli kartu perdana DiGi di salah satu counter DiGi yang juga masih di area pertokoan yang sama itu. Asyik akhirnya bisa akses internet.

Akses Internet Gratis

Oh ya, bicara mengenai akses internet, sebenarnya di Penang ini ada akses internet gratis via hotspot bernama “Penang Free Wifi“. Well, memang tidak semua tempat mendapatkan coverage wifi gratis ini. Tapi di beberapa tempat seperti KOMTAR, Esplanade, Fort Cornwellis, sinyal wifi ini cukup bagus. Namun, untuk dapat menggunakan akses internet tersebut kita diwajibkan untuk registrasi terlebih dahulu melalui web Penang Free Wifi (nanti akan di-redirect ke web begitu terhubung ke ke hotspot tersebut). Tenang saja, registrasi tersebut tak dipungut biaya kok.

Check-in Penginapan

Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, dalam selama di Penang ini aku stay di hostel Kimberley House. Sebenarnya di aturannya tertulis check-in baru bisa dilakukan pukul 14.00 waktu setempat (1 jam lebih awal daripada WIB). Sedangkan saat itu jam masih menunjukkan pukul 12.30.

Tapi aku nekat saja, toh seandanyai masih belum check-in aku bisa Continue reading

Mission Failed di PBIM 2013

Event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2013 Kemarin Minggu (17/11) harusnya menjadi event lari pertama yang kuikuti di luar negeri. Selain itu, juga akan menjadi event lari kategori half marathon pertama yang kuikuti. Hehe, ceritanya lagi mau naik kelas sedikitlah. 😀

Dua bulan yang lalu aku sudah registrasi ke situs official PBIM 2013 ini. Tiket pesawat dan penginapan pun sudah ku-booking pula. Sayang, teman tak ada yang bisa saat kuajak. Akhirnya, terpaksa pergi sendirian. Bondo nekad sajalah. 😀

Melihat galeri foto event PBIM ini di tahun-tahun sebelumnya bikin aku penasaran. Start lari dini hari dan lari melintasi jembatan yang menghubungkan dua daratan yang terpisahkan oleh laut, wow… membayangkannya saja sepertinya sudah luar biasa. Memang sih, kata beberapa kenalan, walaupun larinya dini hari gitu, bukan hawa dingin yang dirasakan, tapi hawa lembab khas laut yang bikin gerah!

Walaupun begitu keinginan untuk lari sambil menikmati view Penang Bridge masih menarikku. Demi bisa lari melintasi lebih jauh Penang Bridge yang memang ikonik itu, aku pun mendaftarkan diri di kategori half marathon (21 km). Karena kalau lari 10K, cuma kebagian ujung jembatannya aja, kurang sampai ke tengah. Sedangkan kalau ikut lari yang full marathon, aku merasa kurang yakin karena half marathon saja aku belum pernah.

Untuk mempersiapkan itu, sebulan sebelumnya aku mulai merutinkan lari dengan jarak minimal 10 km tiap 3 hari sekali, dan menaikkan kilometernya sedikit demi sedikit. Sayang, dua minggu sebelum hari H, daerah pinggang mengalami cedera setelah jatuh dari sepeda ketika downhill dari Bukit Moko. Rasa sakitnya ternyata masih bertahan hingga dua minggu kemudian.

Jumat pagi, hari terakhir sebelum aku berangkat ke Penang, rasa sakit itu masih terasa hingga akhirnya kuputuskan aku mundur saja dari keikutsertaan di PBIM 2013 ini. Lari 5 km sambil menahan sakit mungkin aku masih sanggup, tapi lari 21 km? Umm… I don’t think so. 

Sebagai gambaran, karena demi menghindari rasa sakit itu pula, aku nggak bisa gerak-gerak berbaring ke kiri dan kanan saat tidur. Untuk mengganti posisi tidur itu, bahkan sering terjaga terlebih dahulu sebelum dengan perlahan merubah posisi badan. Eh, kok malah jadi curhat. 😀

Namun, apa daya nasi sudah menjadi bubur, tiket pesawat dan penginapan sudah terlanjur dibeli. Sayang kalau gara-gara nggak jadi ikut event lari, perjalanan ke Penang dibatalkan juga. Akhirnya dua hari kemarin (Sabtu dan Minggu) kumanfaatkan dengan berjalan-jalan di Penang, dengan itinerary yang dipersiapkan agak mendadak. Untuk catatan perjalanannya, akan aku share di tulisan berikutnya. Tunggu saja. 😉

Tapi tetap saja, walaupun dua hari kemarin alhamdulillah puas menjelajahi Pulau Penang, hari ini setelah lihat foto-foto acara kemarin di akun Facebook-nya PBIM, aku cuma bisa meringis saja. Makin mupeng setelah melihat cover photo-nya PBIM yang diunggah tadi. Kayaknya seru tuh sensasi lari di atas laut. Semoga tahun depan ada kesempatan untuk ikut event ini.