Tag Archives: reaktif

Bepergian dengan Kereta Api di Masa Pandemi

Libur hari kemerdekaan dan long weekend yang menyusul sesudahnya ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Malang. Akhirnya, saya pulang kampung (dan ke luar kota) lagi setelah sekitar setengah tahun mendekam di Bandung.

Kekhawatiran akan tertular Covid-19 atau menjadi carrier tentunya pasti ada. Namun, mumpung ada libur yang bisa dipakai lumayan panjang saat ini, jadi kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Entah kapan lagi libur panjang berikutnya.

Kereta Api menjadi pilihan saya yang paling nyaman dan (insya Allah) aman menurut saya untuk bepergian saat ini walaupun belum ada kereta api yang langsung ke Malang pada tanggal yang saya pilih. Saya harus transit dulu di Surabaya dan berganti kereta api lagi ke Malang.

Tiket sudah saya beli sejak sekitar 10 hari sebelum keberangkatan. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Mungkin memang masih sedikit orang yang bepergian di masa pandemi ini. Atau mungkin lebih memilih naik kendaraan pribadi.

Untuk dapat diizinkan melakukan perjalanan dengan kereta api, setiap calon penumpang wajib juga untuk menyertakan surat keterangan non-reaktif pada hasil rapid test-nya. Surat ini akan diperiksa saat pemeriksaan tiket di pintu boarding.

Continue reading

Berkomentar Tanpa Membaca Dulu?

Sering aku membaca artikel-artikel berita online, entah itu berita politik, sosial, budaya, agama, hiburan, olahraga, dan sebagainya. Tak jarang di beberapa artikel itu telah masuk beberapa komentar dari para pembacanya. Bahkan, tak jarang pula di dalamnya sampai berdebat satu sama lain yang jikalau dikumpulkan bisa menjadi satu atau lebih artikel tersendiri.

Menurutku itu sangat wajar. Setiap orang punya hak beropini, sambil tetap memerhatikan aturan yang ditetapkan oleh moderator atau admin berita. Kadang-kadang malah aku sebagai pembaca malah lebih asyik membaca komentar-komentar pembaca yang lain daripada isi artikelnya itu sendiri :).

Tapi, suatu ketika aku mendapati artikel berita di Yahoo ini, yang komentar-komentar di dalamnya ternyata sangat kontradikitf dengan konten beritanya. Kalau sekedar membaca judul beritanya mungkin bakal nyambung, tapi setelah membaca isi berita dan komentar-komentar di bawahnya, cuma bisa tersenyum-senyum saja.

Suatu ketika aku juga pernah membaca artikel di sini. Aku tahu link berita ini dari tweet akun Twitter portal berita yang bersangkutan. Penasaran dengan judul “Pengurus Bulu Tangkis Ramai-Ramai ke London” dalam tweet tersebut, aku mencoba membuka link berita dan membacanya. Ya Allah … ternyata judulnya menjebak. Secara sekilas, aku berpikir bahwa ‘Pengurus Bulu Tangkis” yang dimaksud adalah pengurus PBSI. Tapi setelah mengunjungi link berita dan membacanya, ternyata yang dimaksud adalah pengurus BAM (PBSI-nya Malaysia). Ini penulisnya sengaja atau bagaimana sih.

Kemudian aku tertarik mengamati mention yang muncul sebagai tanggapan terhadap berita itu. Ternyata sebagian besar follower memiliki persepsi awal yang sama denganku. Mereka mengkritik PBSI melalui mention mereka ke artikel berita itu. Padahal isi beritanya tidak demikian.

Yah, itu mungkin hanya sebagian kecil contoh saja yang kutemukan. Yang bisa kuambil sebagai pertanyaan buat diriku sendiri khususnya, adalah apakah kita sudah sedemikian terlalu reaktifnya — sudah ‘sedemikian’, pakai ‘terlalu’ lagi 😀 — terhadap suatu isu yang muncul, sehingga kita lebih mengedepankan insting atau nafsu kita (entah itu berupa fisik, hujatan, cacian, dsb) untuk merespon isu itu dan tidak mengindahkan nalar lagi (mungkin dengan berusaha menelusuri asal-muasal sumber atau penyebabnya terlebih dahulu).

Tapi, by the way, sepertinya seru juga ya membuat aplikasi semacam sentiment analysis begitu untuk mengamati bagaimana respon pembaca terhadap suatu artikel. Tapi aplikasi ini fokus ke seberapa kontradiktifnya opini ‘pembaca’ (termasuk opini nyampah) terhadap konten berita. Manfaatnya? Kurang tahu juga sih. Tapi setidaknya jadi bisa tahu bagaimana karakter atau budaya berkomentar masyarakat kita di dunia maya.