Tag Archives: membaca

Harus Banyak Membaca Buku Lagi

Tahun 2018 ini saya mencoba membuat target membaca 10 buku di Goodreads. Padahal tahun lalu hanya 2 buku yang berhasil saya tamatkan. Hahaha.

Banyak buku yang masih saya baca sebagian kemudian berhenti entah kapan dilanjutkan. Kalau boleh kasih pembelaan, buku-buku yang tengah saya baca itu kebetulan memang topiknya cukup berat dan banyak istilah dalam bahasa Inggris yang digunakan dalam buku-buku itu yang tak saya mengerti. Jadinya cukup sering mengecek dalam kamus.

Padahal sih nyatanya gara-gara sering keasyikan membaca timeline di Twitter atau Instagram, yang saya pikir-pikir tidak ada manfaatnya. Efek sindrom FOMO (Fear of Missing Out) nih kayaknya.¬†ūüėĘ

Di Goodreads saya lihat lumayan lah ada 1,2, 3 (dari 152!) teman yang terlihat suka meng-update progress membacanya. Mudah-mudahan bisa ikut memotivasi saya untuk konsisten membaca buku.

 

Advertisements
Buku 2014

My 2014 In Books

Tahun 2014 ini bisa dibilang tahun semangat-semangatnya saya membaca buku, hehe. Sejak selesai kuliah, membaca buku memang menjadi hal yang jarang dilakukan. (Padahal pas kuliah baca buku juga jarang-jarang haha)

Kebiasaan buruk saya itu, setiap habis membeli buku, baru membaca setengah dari buku, saya sudah mulai bosan untuk melanjutkan membaca lagi hingga habis. Biasanya di tengah jalan suka ganti baca buku yang lain.

Nah, pada tahun 2014 ini, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan membaca 6 buku. Sebenarnya beberapa sudah start membacanya pada tahun 2013.

Keenam buku tersebut adalah:

1. Steve Jobs: Stay Hungry Stay Foolish (oleh Jay Elliot & William L. Simon)
*Versi bahasa Indonesia dari The Steve Jobs Way: iLeadership for a New Generation*

Buku ini merupakan tulisan dari Jay Elliot, mantan senior vice president Apple. Di buku ini Jay bercerita tentang perjalanan karir seorang Steven Jobs. Bagaimana Steve Job memimpin Apple dalam membangun produk yang bersifat game-changing pada masa itu seperti Apple II dan Macintosh, keluarnya beliau dari Apple, bergabungnya beliau dengan Pixar, pengembangan iPod, iPhone, iPad, dan masih banyak lainnya. Melalui buku ini kita benar-benar bisa merasakan bagaimana visi seorang Steve Jobs dalam menghasilkan sebuah produk. Continue reading

Beli Buku di AlfatihBookStore.com

Dari dulu sebenarnya rencana untuk beli buku-bukunya ustadz Felix Siauw. Tapi beberapa kali ke toko buku Gramedia dan Togamas selalu nggak nemu buku-nemu buku beliau. Sepertinya kehabisan. Akhirnya malah beli buku yang lain.

Dan rencana itu akhirnya baru konkret sekarang. Kali ini langsung pesan online di toko bukunya langsung, di http://www.alfatihbookstore.com/. Alhamdulillah, pesan hari Minggu kemarin, Selasa sampai Bandung.

Selain buku karangan Felix Siauw (Muhammad Al-Fatih 1453 dan Beyond The Inspiration), saya juga membeli 3 buku yang lain. Lumayan, ada stok buku bacaan hingga akhir tahun kayaknya, hehe. Sekarang saya lagi mau menyelesaikan membaca buku yang Steve Jobs itu dulu. Hmm… mungkin bisa sambil paralel salah satu dari kelima buku ini.

Saya selalu ingat kata mentor saya waktu SMA dulu, “Membeli buku itu sama dengan investasi ilmu. Nggak ada kata rugilah.” Ya, term “investasi” tidak selalu identik dengan uang. Ilmu pun bisa diinvestasikan. Apalagi kalau buku kita ada yang meminjam, dan bahkan sampai terjadi diskusi setelahnya terkait dengan isi buku, insyaAllah ilmunya mengalir dan berkah :).

buku

Berkomentar Tanpa Membaca Dulu?

Sering aku membaca artikel-artikel berita online, entah itu berita politik, sosial, budaya, agama, hiburan, olahraga, dan sebagainya. Tak jarang di beberapa artikel itu telah masuk beberapa komentar dari para pembacanya. Bahkan, tak jarang pula di dalamnya sampai berdebat satu sama lain yang jikalau dikumpulkan bisa menjadi satu atau lebih artikel tersendiri.

Menurutku itu sangat wajar. Setiap orang punya hak beropini, sambil tetap memerhatikan aturan yang ditetapkan oleh moderator atau admin berita. Kadang-kadang malah aku sebagai pembaca malah lebih asyik membaca komentar-komentar pembaca yang lain daripada isi artikelnya itu sendiri :).

Tapi, suatu ketika aku mendapati artikel berita di Yahoo ini, yang komentar-komentar di dalamnya ternyata sangat kontradikitf dengan konten beritanya. Kalau sekedar membaca judul beritanya mungkin bakal nyambung, tapi setelah membaca isi berita dan komentar-komentar di bawahnya, cuma bisa tersenyum-senyum saja.

Suatu ketika aku juga pernah membaca artikel di sini. Aku tahu link berita ini dari tweet¬†akun Twitter portal berita yang bersangkutan. Penasaran dengan judul “Pengurus Bulu Tangkis Ramai-Ramai ke London” dalam¬†tweet¬†tersebut,¬†aku mencoba membuka link berita dan membacanya. Ya Allah … ternyata judulnya menjebak. Secara sekilas, aku berpikir bahwa ‘Pengurus Bulu Tangkis” yang dimaksud adalah pengurus PBSI. Tapi setelah mengunjungi link berita dan membacanya, ternyata yang dimaksud adalah pengurus BAM (PBSI-nya Malaysia). Ini penulisnya sengaja atau bagaimana sih.

Kemudian aku tertarik mengamati mention yang muncul sebagai tanggapan terhadap berita itu. Ternyata sebagian besar follower memiliki persepsi awal yang sama denganku. Mereka mengkritik PBSI melalui mention mereka ke artikel berita itu. Padahal isi beritanya tidak demikian.

Yah, itu mungkin hanya sebagian kecil contoh saja yang kutemukan. Yang bisa kuambil sebagai pertanyaan buat diriku sendiri khususnya, adalah apakah kita sudah sedemikian terlalu reaktifnya — sudah ‘sedemikian’, pakai ‘terlalu’ lagi ūüėÄ —¬†terhadap suatu isu yang muncul, sehingga kita lebih mengedepankan insting atau nafsu kita (entah itu berupa fisik, hujatan, cacian, dsb) untuk merespon isu itu dan tidak mengindahkan nalar lagi (mungkin dengan berusaha menelusuri asal-muasal sumber atau penyebabnya terlebih dahulu).

Tapi,¬†by the way, sepertinya seru juga ya membuat aplikasi semacam¬†sentiment analysis¬†begitu untuk mengamati bagaimana respon pembaca terhadap suatu artikel. Tapi aplikasi ini fokus ke seberapa kontradiktifnya¬†opini ‘pembaca’ (termasuk opini¬†nyampah)¬†terhadap konten berita. Manfaatnya? Kurang tahu juga sih. Tapi setidaknya jadi bisa tahu bagaimana karakter atau budaya berkomentar masyarakat kita di dunia maya.