Tag Archives: buku

Asumsi

 

Beberapa hari belakangan ini saya tengah asyik membaca buku ustadz Nouman Ali Khan yang berjudul “Revive Your Heart: Putting Life In Perspective”. Saya baru membaca beberapa bab awal. Sejauh ini saya cukup menikmati tulisan ustadz Nouman Ali Khan dalam buku itu. Tulisannya sangat ringan. Insya Allah jika saya sudah selesai membaca semuanya, akan saya tulis reviewnya.

Dalam buku itu ada satu bab yang ketika membacanya saya mencoba merenunginya. Sebab, saya merasa apa yang disampaikan oleh ustadz cukup relevan dengan kondisi kehidupan sehari-hari. Tak jarang juga mungkin tanpa disadari saya sering melakukannya. Bab tersebut membahas mengenai ‘Asumsi’.

“O you who have believed, avoid much (negative) assumption. Indeed, some assumption is sin. …” (QS. 49:12)

Kutipan di atas adalah potongan dari QS. Al-Hujurat (Chapter 49) ayat 12. Pada Surat Al-Hujurat sendiri — selain ayat tersebut — ada banyak sekali mengandung ayat yang mengajarkan prinsip-prinsip moral yang perlu dijalankan oleh setiap individu agar terbina kehidupan bermasyarakat yang ‘sehat’. Salah satunya adalah ayat tersebut yang menyuruh kita untuk mencegah diri dari membuat asumsi (yang negatif).

Asumsi. Apa itu asumsi? Kalau menurut Oxford Dictionary, pengertian asumsi adalah seperti ini:

A thing that is accepted as true or as certain to happen, without proof.
~Oxford Dictionary

Kurang lebih makna ‘asumsi’ adalah sesuatu yang kita anggap hal tersebut adalah benar padahal kita tidak memiliki bukti terhadapnya. Well, penggunaan asumsi sendiri cukup luas sebenarnya.

Dalam konteks ilmiah, hipotesis sebenarnya adalah pada awalnya adalah sebuah asumsi juga karena belum terbukti secara teori. Namun berangkat dari hipotesis tersebut kemudian dilakukan (beberapa) eksperimen dan pengujian untuk membuktikannya.

Sementara ‘asumsi’ yang dimaksud pada ayat di atas itu adalah kaitannya dengan hubungan antar manusia. Lanjutan dari potongan ayat tersebut adalah larangan untuk mencari-cari keburukan dan menggunjing orang lain.

Kalau dipikir-pikir memang benar, tak jarang terjadinya kesalahpahaman, retaknya sebuah hubungan, atau terjadinya konflik itu diawali dari sebuah asumsi. Asumsi letaknya ada di pikiran. Ketika ‘asumsi’ itu tersebar kepada orang lain, ia bisa menjadi gosip, rumor, atau bahkan fitnah.

Dalam beberapa kasus juga tak jarang seseorang merasa offended ketika tengah berdiskusi. Misalnya ketika argumennya dibantah atau ia diberikan kritikan atau nasehat. Orang tersebut merasa lawan bicaranya ingin mempermalukan dia atau menunjukkan superioritas terhadap dirinya. Bisa ditebak sikap tersebut berasal dari sebuah asumsi. Siapa yang tahu intensi lawan bicara kita kan.

Karena itu, sejak dari pikiran kita memang sudah diperintahkan untuk mencegah hal-hal yang demikian, sebelum keluar dalam ucapan maupun tindakan. Di sisi lain secara natural setiap hal yang ditangkap oleh panca indera kita akan diproses menjadi persepsi. Namun persepsi setiap orang terhadap suatu hal yang sama acapkali akan berbeda. Dalam persepsi itu tanpa disadari biasanya ada bumbu-bumbu asumsi yang ditambahkan karena keterbatasan informasi yang dimiliki.

Oleh karena itu, sebagaimana yang ditekankan oleh ustadz Nouman Ali Khan, tidak membuat asumsi itu memang memerlukan effort. Ia bukanlah hal yang terjadi secara natural seperti orang bernafas. Prinsipnya adalah, “Until you are absolutely firm about what actually is, do not pass judgement. Do not make assumptions.”  

 

 

 

 

Advertisements

Beli Buku di AlfatihBookStore.com

Dari dulu sebenarnya rencana untuk beli buku-bukunya ustadz Felix Siauw. Tapi beberapa kali ke toko buku Gramedia dan Togamas selalu nggak nemu buku-nemu buku beliau. Sepertinya kehabisan. Akhirnya malah beli buku yang lain.

Dan rencana itu akhirnya baru konkret sekarang. Kali ini langsung pesan online di toko bukunya langsung, di http://www.alfatihbookstore.com/. Alhamdulillah, pesan hari Minggu kemarin, Selasa sampai Bandung.

Selain buku karangan Felix Siauw (Muhammad Al-Fatih 1453 dan Beyond The Inspiration), saya juga membeli 3 buku yang lain. Lumayan, ada stok buku bacaan hingga akhir tahun kayaknya, hehe. Sekarang saya lagi mau menyelesaikan membaca buku yang Steve Jobs itu dulu. Hmm… mungkin bisa sambil paralel salah satu dari kelima buku ini.

Saya selalu ingat kata mentor saya waktu SMA dulu, “Membeli buku itu sama dengan investasi ilmu. Nggak ada kata rugilah.” Ya, term “investasi” tidak selalu identik dengan uang. Ilmu pun bisa diinvestasikan. Apalagi kalau buku kita ada yang meminjam, dan bahkan sampai terjadi diskusi setelahnya terkait dengan isi buku, insyaAllah ilmunya mengalir dan berkah :).

buku

Meminjam Buku-Buku Tentang Kehutanan

Buku-buku yang kupinjam

Buku-buku yang kupinjam

Baru kali ini aku meminjam buku di perpustakaan sampai 6 buah sekaligus. Tambahan lagi, keenam buku itu semuanya adalah buku tentang kehutanan. Sebenarnya aku ingin meminjam buku sampai 8 buah, yang merupakan batas maksimum jumlah peminjaman buku di perpustakaan pusat ITB untuk sekali pinjam. Tapi apa daya, tangan ini tak muat membawanya, hehe.

Aku ‘terpaksa’ meminjam buku-buku kehutanan itu karena butuh banyak referensi untuk menulis makalah yang ditugaskan pada mata kuliah studium generale. Sebenarnya topik yang ditawarkan ada 9 buah dan aku memilih topik yang berjudul “Kedaulatan dan Potensi Hutan Indonesia”. Aku memilih topik tersebut karena selain suka, juga karena topik tersebut menurutku lagi hot akhir-akhir ini, terutama dalam kaitannya dengan isu global warming dan penyalahgunaan lahan. Alhamdulillah, ternyata di perpustakaan pusat menyediakan banyak buku referensi tentang hutan Indonesia. Meskipun ITB terkenal dengan tagline sebagai kampus sains, seni, dan teknologi, ternyata di dalam perpustakaannya terdapat koleksi umum yang sangat banyak, walaupun kebanyakan bukunya sudah jadul. 😀

Buku-Buku Pun Bisa Diperoleh dengan Gratis

Membeli buku? Wah, mungkin kata-kata itu susah ditemukan dalam kamus mahasiswa sekarang. Bayangkan saja harga buku kuliah, semisal Fisika Dasar Ha***day saja (waktu zaman aku masih tingkat 1 dulu) harganya Rp 120.000,-. Itu baru satu mata kuliah. Belum lagi untuk mata kuliah yang lain. Bisa jadi satu semester kita harus keluar uang lebih dari setengah juta untuk membeli buku (ditambah lagi membayar SPP satu semester). Bahkan, aku masih ingat dulu ingin membeli buku Concepts In Engineering terbitan Mc***w Hill karena melihat ukurannya yang jauh lebih tipis daripada buku fisika dasar Ha***day tadi, eh ternyata perkiraanku salah. Harganya sampai tiga kali lipatnya! Wow kk wow… Untungnya, alhamdulillah, ada perpustakaan jurusan sehingga kita bisa tetap membaca buku referensi. Kalau ngotot tetap ingin punya buku sendiri, ya terpaksa fotocopy. Yah… buku murah memang hanya mimpi. Benar kata orang, pengetahuan itu mahal harganya. Untuk memperolehnya pun ikut-ikutan mahal.

Tetapi ternyata jika kita mempelajari sejarah, buku murah, bahkan buku gratis, itu pernah terjadi pada masa kekhalifahan Islam, tepatnya pada masa Khalifah Al-Makmun. Beliau yang bernama asli Abdullah bin ar-Rasyid bin al-Mahdi (putera dari Khalifah Harun ar-Rasyid dan saudara khalifah sebelumnya, al-Amin) adalah khalifah dari Bani Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 813-833 Masehi. Beliau merupakan seorang negarawan yang sangat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa beliau berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah.

Pada masa beliau itu ilmu pengetahuan benar-benar mencapai puncaknya. Buku-buku dibayarkan oleh negara kepada penulis dengan emas seberat buku yang ditulis. Buku tersebut kemudian dipasarkan dengan gratis atau seharga minimal sekadar mengganti ongkos cetak. Sedangkan penulisnya tidak perlu lagi menerima bayaran atau royalti dari penerbit. Salah satu penerjemah yang terkemuka pada masa khalifah al-Makmun adalah Hunain ibn Ishaq (809-877 M), seorang filsuf berbakat sekaligus pakar fisika yang. Beliau dibayar oleh khalifah al-Makmun dengan emas seberat kitab-kitab ilmu pengetahuan yang ia salin ke bahasa Arab.

Semua orang berhak untuk memperoleh buku-buku tersebut ketika isinya adalah ajakan pada kebaikan ataupun ilmu pengetahuan. Pengetahuan bukan milik kalangan tertentu saja. Bahkan ketika seseorang memiliki suatu pengetahuan atau informasi yang bemanfaat bagi kemaslahatan bersama, ia wajib untuk menyebarkannya.

Oleh karena itu, setiap orang berhak untuk menggandakan suatu buku dengan cara apa pun. Tidak akan ada penulis atau penerbit yang merasa dirugikan karena konsumen menggandakan tanpa seizin mereka. Bahkan sebaliknya, mereka akan sangat mendorong setiap orang untuk sama-sama menyebarkan buku dan isinya tersebut. Tidak ada lagi orang yang berteriak-teriak menuntut ganti rugi karena bukunya disalin atau digandakan tanpa seizinnya. Alasannya adalah hak cipta, padahal intinya ia berteriak karena dirugikan secara materi. Hal ini memang biasa terjadi di alam Kapitalisme karena memang segala sesuatu selalu dinilai secara materi.

Dalam sistem Islam yang begitu menghargai ilmu pengetahuan, kaya tidaknya seorang ulama/ilmuwan tidak bergantung dari laku tidaknya karya mereka di pasaran. Khalifah akan memberikan imbalan lebih dari cukup kepada pengarang, penerjemah dan ilmuwan agar mereka bisa hidup layak. Bila kehidupan terjamin maka konsentrasi dan dedikasi menjadi lebih fokus untuk pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan Islam dan kemaslahatan umat manusia. Tak heran bila saat itu, wilayah kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalahkan peradaban lainnya di zaman itu, melahirkan banyak ilmuwan dan ulama yang terkenal akan ketinggian ilmunya semisal al-Farabi (ahli filsafat), Ibnu Khaldun (sejarawan dan ahli sosiologi), Ibnu Sina (dikenal sebagai”Bapak Kedokteran Dunia”), al-Zahrawi (penemu alat bedah modern pertama), dan masih banyak lainnya.

Tapi sayang sekali, hari ini orang-orang berprestasi dengan keahlian di bidang sains dan teknologi, kurang pendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya di negeri ini. Bahkan acara-acara televisi di negeri ini banyak diisi hiburan-hiburan yang sia-sia. Padahal televisi itu dapat menjadi media penyebar pengetahuan yang efektif dan murah, bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat. Di negara maju saat ini, orang-orang cerdas begitu dihargai, karena mereka sangat mengerti bahwa boleh jadi satu orang berilmu lebih berharga dibandingkan dengan seribu orang bodoh.

Sumber: voa-islam, dudung.net, wikipedia