Tag Archives: lari pagi

Covid-19 Diary (4) : Berjemur

Salah satu kebiasaan masyarakat yang saya perhatikan mulai muncul sejak wabah coronavirus ini terjadi adalah kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari. Setidaknya itu yang saya perhatikan di permukiman sekitar tempat tinggal saya di Bandung.

Setiap 2-3 hari sekali saya lari pagi ke luar rumah. Ketika lari pagi itulah saya melihat beberapa warga berada di luar rumah mereka masing-masing sambil melakukan senam atau sekadar berdiri saja. Kebanyakannya adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang mungkin sudah berusia 40 tahun ke atas.

Selain di permukiman, saya lihat beberapa petugas keamanan yang berjaga di beberapa kafe di daerah Dago juga menyempatkan diri untuk berjemur di area yang disinari matahari di halaman kafenya.

Orang-orang rata-rata berjemur dengan menghadap atau memunggungi arah datangnya sinar matahari dari sisi timur. Beberapa orang, terutama bapak-bapak atau anak kecil, bahkan sampai membuka baju agar bisa terpapar sinar matahari secara maksimal. Saya paling banyak menjumpai warga yang berjemur ini pada waktu sekitar jam 9 pagi.

Kebiasaan berjemur ini sebetulnya bukan hal baru. Waktu kecil dulu rasanya sering sekali mendapat nasehat untuk keluar rumah pada pagi hari agar mendapatkan sinar matahari. Di Jawa bahkan ada istilah khusus untuk aktivitas berjemur, yakni “dede”. Mungkin penamaan tersebut ada hubungannya dengan khasiat berjemur yang katanya bisa menambah vitamin D.

Kebiasaan ini semakin sering terlihat di masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini. Bahkan tak jarang dilakukan bersama-sama, tentunya dengan tetap menjaga jarak. Seperti yang dilakukan oleh prajurit-prajurit di Koramil 01/Purwodadi sebagaimana yang diberitakan di sini.

Ramainya orang berjemur ini mungkin karena banyak kabar yang menyebutkan bahwa virus Corona yang menjadi penyebab Covid-19 ini tidak kuat terhadap suhu panas walaupun masih belum ada bukti kuat yang mendukung hal tersebut. Yang pasti, menurut beberapa penelitian berjemur dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh.

Hanya saja masih ada perdebatan mengenai waktu terbaik untuk berjemur ini. Ada yang bilang di atas jam 10 tidak bagus. Ada pula yang bilang di atas jam 10 lebih optimal.

Kalau menurut saya, terkait waktu berjemur ini patokannya memang tidak bisa pakai jam karena waktu matahari terbit di setiap daerah tidak sama. Namun kita bisa mengikuti anjuran untuk menyesuaikan lamanya waktu berjemur sesuai intensitas sinar matahari. Kalau sudah dirasa panas, sebaiknya tidak perlu berlama-lama untuk amannya.

Lari Pagi Sambil Nonton Persib Latihan

Rabu pagi kemarin adalah hari libur nasional dalam rangka Hari Buruh. Saya memanfaatkan libur itu untuk lari pagi di Sarana Olahraga Ganesha (Saraga) ITB.

Tak disangka, ternyata di lapangan sepakbola Saraga pagi itu tengah ada latihan Persib. Saya baru tahu kalau Persib ternyata sekarang memanfaatkan Saraga sebagai tempat latihan juga. Maklum, saya tidak terlalu mengikuti Persib sebetulnya.

Walaupun cukup sering lari pagi di Saraga, baru kali ini saya melihat Persib latihan di sana. Padahal kalau baca di berita ini, pada bulan Februari kemarin pun Persib sudah mulai latihan di sini. Mungkin waktu saya lari saja yang tidak pas.

Ini pertama kali saya menonton sebuah tim sepakbola profesional latihan. Menarik juga bisa menonton mereka latihan dari jarak dekat.

Ketika saya lari, latihan belum dimulai. Pemain masih santai-santai. Baru kemudian mereka lari keliling lapangan sepakbola 1 atau 2 putaran. Setelah itu lanjut pemanasan ringan.

Setelah pemanasan, mereka main game bola tangan. Nggak ngerti juga apa tujuan latihan bola tangan dalam untuk seorang atlet sepakbola. Mungkin untuk relaksasi saja.

Setelah itu, latihan dilanjutkan dengan latihan taktik oleh pelatih. Sepertinya Miljan Radović yang memimpin langsung latihan taktik saat itu. Saya agak kurang jelas sih karena melihat dari jauh.

Dia tampak mengarah-ngarahkan posisi pemain. Setelah itu, para pemain pun bermain game kecil-kecilan dengan posisi gawang yang tidak biasa.

Tidak lama sih saya menonton Persib latihan. Mungkin sekitar setengah jam saja. Sehabis lari, saya langsung pulang.

Run To Work

Akhirnya tadi pagi nyobain juga lari ke tempat kerja alias “Run To Work”. Tapi jangan bayangkan aku berlari dengan mengenakan tas dan pakaian rapi untuk dipakai kerja. Sehari sebelumnya semua perlengkapan kerja, termasuk pakaian dan laptop, kutinggal di kantor. Aku hanya berlari dengan mengenakan kaos lari dan tas punggung kecil.

Jarak kosan dengan kantor lewat jalan ‘normal’ sebenarnya cuma sekitar 3-4 km saja. Namun, karena ingin mendapatkan jarak yang lebih jauh agar berkeringat lebih banyak, aku memilih jalan memutar lewat Dago Pojok dan Dago Atas. Lumayan bisa menambah jarak hingga 3 km.

Tiga kilometer pertama kontur jalan lebih banyak berupa tanjakan (bisa dilihat di diagram di bawah). Setelah itu, jalanan terus menurun hingga ke kantor. Berlari di jalan raya memang jauh berbeda dengan berlari di trek lari khusus. Pelari harus berhati-hati dengan lalu lalang kendaraan di sekitar. Karena itu tak heran average pace saat lari kemarin menurun hingga 6:29 menit/km. Padahal biasanya rata-rata di trek mendatar average pace sekitar 5 menit/km.

Begitu sampai di kantor, pendinginan sebentar, terus mandi. Wuih … segarnya. 😀

lari dago-cigadung

 

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui