Tag Archives: sholat berjamaah

Wabah Corona dan Dilema untuk Sholat di Masjid atau Tidak

Seperti kita ketahui bersama penduduk dunia hari ini tengah dihadapkan pada sebuah pandemi yang diakibatkan oleh virus covid-19 yang terjadi secara global. Himbauan untuk melakukan social distancing dan stay at home semakin gencar dilakukan belakangan ini.

Banyak sekolah, kampus, dan kantor yang diliburkan. Tempat-tempat wisata ditutup. Masyarakat dihimbau untuk tidak membuat kerumunan.

Tempat ibadah pun juga tak luput dari sasaran himbauan ini. Masyarakat dihimbau untuk beribadah di rumah masing-masing. Sholat berjamaah di masjid saat ini tidak dianjurkan.

Beberapa masjid yang masih tetap mengadakan sholat berjamaah, mereka melakukan ijtihad dengan mengatur shaf jamaah sebagai langkah preventif terhadap persebaran virus. Caranya adalah dengan memberikan jarak antara jamaah baik dengan yang di samping maupun yang di depan atau belakangnya. Seperti yang dilakukan oleh Masjid Salman ITB di bawah ini.

View this post on Instagram

SHALAT BERJAMAAH DENGAN SOCIAL DISTANCING DI SALMAN . Dalam situasi darurat, untuk mencegah persebaran COVID-19, shalat berjamaah di Salman ITB telah menerapkan social distancing. . Caranya, dengan mengosongkan satu barisan shaf depan dengan yang di belakangnya. Kemudian setiap jamaah memberi jarak yang cukup dengan jamaah disampingnya. Jamaah juga diimbau membawa alas sujud pribadi. . Shalat berjamaah sunnahnya saf yang lurus dan rapat. Namun dalam kondisi darurat untuk menghindari persebaran COVID-19 lewat droplet, jarak aman dijaga walaupun tidak serapat kondisi normal, asalkan tetap lurus. Pertimbangan utamanya adalah prinsip "menolak mafsadat lebih utama daripada mengambil maslahat". . Selain itu pertimbangan lain adalah bahwa rapatnya shaf shalat itu adalah untuk kesempurnaan shalat berjamaah, bukan syarat sahnya shalat. . Kami hanya berpegang pada prinsip-prinsip maqashid syari'ah bahwa tujuan agama adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda. Dalam kondisi jiwa berpotensi terancam seperti situasi wabah saat ini, agama masih dapat dijaga dengan memenuhi hal-hal yang wajib. . Apabila ada yang hukumnya sunat secara fiqh namun berpotensi membahayakan jiwa, maka tentu tujuan maqashid syari'ah tidak dapat tercapai. Karena itu kami utamakan yang wajib saja tanpa sepenuhnya meninggalkan yang sunat. . Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kesehatan dan kekuatan bagi kita untuk beribadah kepada-Nya. #salmanitb #covid19 #socialdistancing

A post shared by Masjid Salman ITB (@salmanitb) on

Pada hari ini pun, hari Jumat, semestinya adalah waktunya kaum muslim laki-laki untuk melaksanakan ibadah sholat Jumat. Namun karena adanya wabah ini dan himbauan dari pemerintah dan fatwa ulama, beberapa masjid meniadakan sholat Jumat. Umat Islam diminta untuk melaksanakan sholat Dhuhur di kediaman masing-masing.

Tentunya bukan sebuah keputusan yang mudah untuk kita. Ada dilema dan pergolakan batin di dalam diri ini. Di satu sisi kita tidak ingin meninggalkan kewajiban sebagai muslim, dan di sisi lain kita juga tidak ingin tertular atau menjadi carrier virus terhadap jamaah lain.

Sebab menurut beberapa penelitian, yang membuat wabah ini sangat tricky adalah beberapa penderita yang positif corona (ada sekitar 17,9% menurut studi ini) tidak menunjukkan gejala sama sekali. Sehingga orang-orang yang tampak sehat sebetulnya bisa saja dia positif corona dan tanpa ia sadari ia ikut menularkan virus tersebut.

Terkait sholat Jumat hari ini tadi, banyak teman di grup whatsapp yang saling menanyakan bagaimana kebijakan sholat Jumat di daerah masing-masing. Kebetulan domisili dan kondisi daerah kami tidak semua sama. Ujung-ujungnya ada perbedaan sikap yang kami ambil. Ada yang tetap Jumatan, ada yang tidak.

Mereka yang berada di daerah dengan kasus yang cukup tinggi sudah mantap untuk tidak Jumatan. Sementara mereka yang tinggal di daerah dengan kasus yang sangat rendah, jauh dari daerah wabah, atau berada di komunitas yang terkontrol, masih tetap menjalankan Jumatan dengan mengikuti arahan protokol kesehatan yang direkomendasikan.

Dalam momen ini bagus juga sebetulnya kita semua menjadi lebih perhatian terhadap permasalahan fiqih, khususnya terhadap hal-hal baru yang kita temui di generasi kita seperti sekarang ini. Ketika mempelajari permasalahan fiqih ini terlihat pentingnya juga untuk memahami fakta yang ada, memiliki pengetahuan terkait permasalahan yang ada.

Berikut ini ada sebuah ringkasan kajian dari ustadz Firanda Andirja mengenai permasalahan fiqih terkait wabah Corona yang dapat kita pelajari dan ikuti.

Wallahu a’lam bisshowab. Semoga wabah ini segera berlalu sehingga kita bisa melakukan ibadah dan kegiatan sehari-hari dengan normal kembali.

Sedikit Cerita Tentang Sholat Berjamaah

Aku punya cerita tentang anak kecil di dekat kosanku. Kira-kira umurnya belum ada 5 tahun.  Aku tertarik untuk menceritakan tentang anak kecil ini karena menurutku dia dapat dijadikan contoh bagi kita semua yang sudah dewasa.

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengenal dekat dengan anak itu. Aku hanya bertemu dengan anak itu ketika melaksanakan sholat berjamaah di Musholla yang kebetulan terletak di di belakang kontrakanku. Sudah ada beberapa masjid atau musholla yang pernah kukunjungi untuk sholat berjamaah di daerah cisitu, tetapi aku jarang melihat di masjid atau musholla tersebut anak-anak remaja atau pemuda asli daerah tersebut yang ikut sholat berjamaah. Malah yang paling parah, walaupun sudah terdengar adzan tetapi masih nongkrong-nongkrong di jalan gang. Kalau anak-anak kecil yang sholat memang banyak. Di masjid atau musholla tersebut rata-rata memang ada TPQ-nya.

Tetapi di tempat baruku ini aku bertemu seorang anak kecil yang cukup rajin sholat berjamaah di musholla dekat kontrakanku itu. Hampir setiap waktu sholat berjamaah dia ikut. Nah, yang membuat aku kagum kepada anak tersebut yaitu aku sering bertemu anak itu ikut sholat subuh.

Dia jalan sendirian di jalan-jalan kecil di dalam gang di tengah suasana yang agak gelap dan dingin. Padahal banyak orang dewasa yang mungkin pada saat jam segitu masih berada di balik selimut. Dia sendiri dari yang aku amati anaknya sangat anteng (dalam bahasa Jawa artinya tenang, ora kakean polah). Biasanya anak kecil waktu sholat mengikuti apa yang dibaca imam keras-keras atau lari-lari sendiri. Tapi dia tidak seperti itu.

Melihat itu, aku jadi bergumam dalam diriku, “Ah, masak kita kalah sama anak kecil…”. Aku jadi teringat pada suatu sabda Rasulullah: “Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat al ‘Atamah (‘Isya’) dan Shubuh, niscaya mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak.” (HR. Asy Syaikhan dari Abu Hurairah)

Ya, Shalat berjamaah itu memang sangat tinggi keutamaannya. Sholat sunnah sebelum Shubuh itu pahalanya adalah dunia dan seisinya (bayangkan!). Sungguh rugi sekali jika kita melewatkannya. Pesan orang tuaku ketika mereka melepasku untuk kuliah di Bandung ini cuma satu, jaga sholat, jangan tinggalkan sholat berjamaah di masjid, tepat waktu, dan laksanakan sholat sunnah rawatib dan tahajjud. Intinya cuma sholat.

Aku ada cerita lagi tentang dosenku. Nama beliau adalah Afwarman Manaf atau biasa dipanggil Pak Awang. Beliau mengajar kuliah Jaringan Komputer (Jarkom) semester 5 ini. Penampilan beliau sangat Islami. Awal semester ini jadwal kuliah jarkom sebenarnya adalah Selasa pukul 11.00-13.00 dan Rabu pukul 9.00-10.00. Beliau meminta kami mengganti jadwal kuliah hari Selasa jam 11 itu ke jadwal lain. “Jam ini nggak baik buat saya… buat kalian juga.” itu kata kata yang kuingat dari beliau. Aku berpikir mungkin Pak Awang ada jadwal mengajar atau acar lain jam segitu. Sekitar pukul 11.45 di tengah-tengah kuliah Pak Awang meminta izin untuk keluar dulu karena ada urusan. Lama sekali kami menunggu. Sekitar setengah jam kemudian bapaknya kembali lagi. Setelah mendegar-dengar dari cerita teman-teman dan kakak angkatan, ternyata Pak Awang memang nggak suka mengajar di jam-jam yang memotong waktu awal sholat seperti jam 12 siang atau jam 3 sore. Subhanallah… Jadi Pak Awang saat itu meninggalkan kami karena ada “urusan” dengan qjji (sholat). Beliau sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Salman ITB. Akhirnya jadwal kuliah diganti Senin jam 7 pagi. Seandainya jadwal kuliah “aturan” seperti itu, sungguh bagus sekali bagi mahasiswa muslim dapat melaksanakan sholat berjamaah di Masjid, di awal waktu lagi. Amin, mudah-mudahan terjadi.