Tag Archives: bandung

Color Me Run

Hari Minggu kemarin (29/12) OZ Radio Bandung mengadakan event lari yang berjudul OZ Color Me Bdg (OZCMBDG). Bedanya dengan event lari yang lain adalah pada event lari ini tidak ada yang namanya cepet-cepetan lari untuk menjadi juara 1, 2, 3, dan seterusnya. Event ini murni untuk fun, dan diselenggarakan dalam rangka ulang tahun OZ Radio Bandung yang ke-42.

Ketika Rizky memberikan info event ini, pikiranku langsung tertuju pada The Color Run yang memiliki konsep serupa. Kupikir event ini diselenggarakan oleh The Color Run Indonesia, ternyata bukan. Biaya registrasi OZCMBDG ini Rp100.000, jauh lebih murah daripada event The Color Run 5K Jakarta, Rp225.000, yang akan diadakan minggu terakhir Januari 2014 nanti.

Aku pun ikut saja acara ini. Jarang-jarang ada event lari di Kota Bandung. Race pack-nya juga tampak menarik. Dapat kaos, handuk, tas race pack dari Niion, dan mie Nissin. Selain itu ada berbagai door prize menarik yang disediakan (sayangnya aku nggak dapat, hiks hiks). Aku ikut bersama 3 orang teman. Baru kali ini aku ada berengan event lari sampai 3 orang, hihi.

Start dan finish mengambil tempat di gerbang Balai Kota Bandung. Rutenya dari balai kota belok menuju Jalan Jawa, lalu belok lagi ke Jalan Sumbawa, Belitung, Banda, Diponegoro, Juanda, dan sampai di balai kota lagi. Sayangnya, color zone yang sebenarnya menjadi magnet utama event lari ini cuma tersedia dua spot saja sepanjang rute ini. Bayanganku minimal setidaknya ada dua zona lah.

Terlepas dari itu, menyenangkan juga ya ternyata lari tanpa diburu-buru waktu. Jarak 5K menjadi terasa sangat pendek dibandingkan dengan kenikmatan mengeluarkan keringat (halah haha). Apalagi sepanjang rute yang dilalui bertebaran pohon-pohon besar nan rindang di pinggir jalan, memberikan kesejukan bagi para pelari. Di dua spot color zone itu kita dilempari serbuk-serbuk warna oleh panitia. Namun, color zone itu adalah pilihan. Bagi peserta yang tak ingin kena lempar serbuk warna-warni itu, bisa mengambil lajur ‘aman’ yang disediakan.

Alhasil setelah finish, kaos dan celana lari pun penuh dengan bercak-bercak berwarna-warni. Rambut, kulit tangan, kaki, dan sepatu pun juga tak luput dari serbuk berwarna-warni itu. Sudah kayak orang gila aja nih penampilan. Sebelum pulang kan kami sempat mampir di Pujasera Merdeka. Sepanjang jalan orang-orang pada melihat ke arah kita, haha. Untungnya kami jalan berempat. Kalau sendirian pasti makin malu-maluin, haha.

Hadew… sekarang repot nyucinya nih. Katanya sih noda-noda warna ini (dari tepung tapioka) gampang dibersihinnya. Let’s see.

Advertisements

Solo Backpacking ke Penang (Bagian 1): Pesan Tiket Pesawat & Penginapan

Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, plan awal perjalanan ke Penang ini sebenarnya adalah untuk mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon. Namun, karena pinggang yang masih mengalami cedera, rencana tersebut batal dan agenda selama di Penang pun berganti, yakni hanya jalan-jalan saja selama di sana, hehe. 😀

Nah, catatan dari perjalanan kemarin rencananya akan aku bagi ke dalam 3 artikel. Artikel pertama, atau artikel yang sedang Anda baca ini, akan kutuliskan sedikit cerita mengenai hunting tiket, booking penginapan, dan bagaimana perjalanan dari Bandung hingga tiba di Penang International Airport. Artikel kedua akan menceritakan mengenai ‘petualangan’ hari pertama di Penang, dan artikel ketiga sudah barang tentu akan menceritakan mengenai petualangan di hari kedua atau terakhir di Penang.

Ambil Penerbangan Rute Bandung-Medan-Penang PP

Agak bingung sebenarnya aku dalam merencanakan keberangkatan dan kepulangan Bandung-Penang PP ini. Pasalnya, tak ada penerbangan langsung Bandung-Penang. Sedangkan penerbangan langsung dari Jakarta (yang terjangkau) cuma ada AirAsia pukul 17.45. Itupun sebenarnya masih termasuk mahal ongkosnya, yakni sudah kisaran 1 juta rupah saat aku cek. Selain itu, kalau aku mengambil penerbangan jam segitu, artinya aku sudah harus cabut 6 jam sebelumnya dari Bandung. Sebuah pilihan yang sulit, karena dengan begitu artinya aku harus ambil cuti atau kerja cuma setengah hari saja.

Beruntunglah ada situs seperti Traveloka (bukan promosi, hehe). Dengan mesin pencarinya aku bisa mendapatkan daftar kombinasi penerbangan yang dari sisi schedule dan harga oke buatku. Dari daftar tersebut aku memperoleh informasi bahwa rute penerbangan AirAsia Bandung-Medan-Penang adalah yang paling oke dari sisi schedule dan harganya pun paling murah di antara opsi yang lain. Bahkan opsi tersebut jauh lebih murah daripada penerbangan langsung AirAsia dari Jakarta tadi. Selisih sampai hampir 400 ribu rupiah. Apalagi rute AirAsia Bandung-Medan dan Medan-Penang itu lagi promo saat itu. Medan-Penang bahkan cuma Rp105.000!

Selain karena harga, sebenarnya faktor yang paling meyakinkanku untuk memilih opsi itu (transit di Medan) adalah karena jadwalnya yang bersahabat, tak perlu membuatku untuk izin kerja. Oh ya, ada satu faktor lagi, yakni rasa penasaran untuk melihat kayak bagaimana sih Bandara Kuala Namu yang dibanggakan itu, haha.

Namun, sialnya sekitar 2-3 minggu sebelum hari H keberangkatan, AirAsia menginformasikan bahwa mereka membatalkan penerbangan Bandung-Medan pukul 19.45. Sebagai gantinya, penerbanganku diganti oleh mereka menjadi pukul 8.00. What??!

Sempat terpikir olehku apa aku sekalian mengambil cuti saja ya agar bisa sekalian jalan-jalan di Medan, sambil menunggu penerbangan ke Penang. Sempat bimbang juga sih. Tapi nggak enak ah kalau ambil cuti di minggu hectic gini. Akhirnya, seminggu sebelum hari H aku baru mengkonfirmasi pembatalan kepada AirAsia. Aku mengisi form refund tiket secara online di website AirAsia. Btw, ini kali pertama aku melakukan pembatalan tiket pesawat. Kalau tiket kereta api mah sudah sering, hehe.

Penerbangan Bandung-Medan pun batal. Sebagai gantinya aku memilih penerbangan dengan Lion Air dari Jakarta pukul 21.35. Kupilih karena itu adalah opsi penerbangan paling malam menuju Medan dari Soekarno-Hatta, dan juga harganya nggak jauh beda dengan tiket AirAsia yang kubatalkan itu.

Booking Penginapan

Karena perjalanan ini bakal menjadi pengalaman pertamaku melakukan backpacking sendirian, aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya sejelas mungkin, termasuk penginapan. Online booking adalah cara yang paling mudah. Layanan online booking yang kupilih adalah Agoda, mengingat reputasinya yang sudah cukup populer.

Aku cari-cari penginapan dengan kriteria lokasi yang berada di Georgetown (ibukota Penang), dan sebisa mungkin jaraknya dekat dengan Terminal Bus KOMTAR, terminal pusat bus interchange di Penang, agar akses ke mana-mana mudah. Selain itu, sebisa mungkin tarif kamar per malamnya di bawah IDR 100 ribu.

Ada beberapa hostel yang sesuai dengan kriteriaku. Setelah membaca beberapa testimonial user lain baik di Agoda dan juga TripAdvisor, akhirnya pilihanku jatuh pada Kimberley House. Tipe kamar yang kupilih adalah kamar dengan model dormitory, yang satu kamarnya berisi 3 kasur tingkat. Tarif per malamnya adalah Rp 84.370, sudah termasuk pajak hotel 6% dan service charge 10%.

Untuk pembayarannya, karena aku tidak punya kartu kredit, aku mencoba googling cari jasa agen tour & travel yang bisa bantu booking hotel via Agoda. Sebenarnya bisa saja sih aku numpang kartu kredit milik teman. Tapi nggak enak karena sudah terlalu sering, hehe. Ujungnya aku pun menemukan link agen tour & travel yang melayani jasa booking hotel Agoda.

Sempat ragu-ragu sih jangan-jangan itu agen abal-abal. Setelah komunikasi via email, menurutku jawaban mereka sangat meyakinkan, akhirnya aku pesan melalui agen ini. Dan Alhamdulillah di hari H, semua lancar tanpa masalah. Aku bisa langsung check-in di Kimberley House dengan hanya menunjukkan voucher hotel dari Agoda yang dikirim oleh agen ini beserta pasporku.

Jumat, 15 November

Aku sudah pasrah hari itu jika aku sampai ketinggalan pesawat. Penyebabnya aku ketinggalan travel Xtrans yang akan mengantarkanku ke Cengkareng, yang berangkat dari Bandung pukul 15.30. Asumsi perjalanan Bandung-Jakarta adalah 5 jam (sudah termasuk macet-macetnya), maka itu adalah jadwal terakhir yang paling aman untuk sampai di bandara tepat pada waktunya.

Namun, untungnya aku masih bisa mengejar travel Cititrans yang seharusnya berangkat pukul 15.45, tapi hingga pukul 16.00 masih belum berangkat karena tak ada penumpang saat itu. Karena itu, jadilah aku penumpang satu-satunya yang berangkat dengan Cititrans sore itu. Btw, ini jadi pengalaman pertamaku naik travel sendirian (bersama sopir tentunya).

Alhamdulillah walaupun macet hampir di sepanjang jalan (cuma waktu di tol cipularang yang bisa ngebut buanget), travel bisa sampai di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu sekitar 4,5 jam. Masih ada waktu 45 menit sebelum batas masuk boarding gate.

Malam itu, pesawat Lion Air yang akan kutumpangi mengalami delay sampai 30 menit. Nggak terlalu masalah sih buatku, sebab pesawat ke Penang baru berangkat pukul 06.30 keesokan harinya! Pesawatku sendiri malam itu mendarat di Bandara Kuala Namu menjelang pukul 1 malam.

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Aku benar-benar dibuat terkesan dengan bandara Kuala Namu ini. Yang paling mencolok adalah hall kedatangannya yang super luas, ada eskalator dan lift ke hall keberangkatan, dan di depan pintu keluar hall kedatangan langsung menghadap ke stasiun kereta api bandara. Mungkin detail ceritanya akan kutuliskan di artikel tersendiri. 🙂

Malam itu aku terpaksa menunggu keberangkatan sambil tiduran di bangku di selasar terminal keberangkatan. Kurang cocok nih Kuala Namu untuk para backpacker yang mau numpang nginap di bandara. Bandara Juanda menurutku lebih bagus soal ini karena punya hall khusus untuk tempat tiduran para calon penumpang yang menginap. Tiduran di bangku itu nggak nyaman saudara-saudara. Apalagi selasar terminal keberangkatan ini menghadap ke ruang terbuka, jadi anginnya lumayan kencang. Dingin lagi. Jadi nggak nyenyak tidur malam itu. Tapi lumayan bisa memejamkan mata selama hampir 1,5 jam.

Naik Kereta Surabaya-Bandung Lewat Pantura

Perjalanan arus balik ke Bandung kemarin menjadi pengalaman pertamaku menaiki kereta api melalui jalur pantai utara (pantura) dari Surabaya. Terhitung sejak 1 Maret 2013, KA Harina yang aslinya hanya melayani trayek Bandung-Semarang (stasiun Semarang Tawang), diperpanjang rutenya hingga Surabaya (stasiun Surabaya Pasar Turi). Mungkin ini adalah kali pertama ada kereta Surabaya-Bandung yang melintasi jalur utara.

Menurut jadwal, KA Harina berangkat dari stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 16.00. Untuk mengantisipasi seandainya jalanan macet, aku pun berangkat sekitar 5 jam lebih awal dari Malang. Sekitar pukul 10.15 aku menaiki bus patas HAZ dari terminal Arjosari Malang menuju Surabaya. Perjalanan Malang-Surabaya ternyata sangat lancar. Pukul 12 siang lebih sedikit bus sudah tiba di terminal Bungurasih.

Setiap singgah di terminal Bungurasih ini aku hampir selalu menyempatkan untuk mampir ke warung dan menyantap nasi rawon. Nggak ada warung khusus sih. Dan nggak cuma di terminal Bungurasih ini. Pokoknya kalau pas lagi mampir di terminal atau stasiun di Jawa Timur, selalu aku sempatin mampir makan rawon di warung. Maklum, makanan favoritku ini, haha, dan kalau di Bandung susah sekali menemukan warung yang menyediakan rawon.

Setelah makan, aku langsung menuju ke terminal bus dalam kota. Untuk mencapai stasiun Surabaya Pasar Turi dari terminal Bungurasih ini kita bisa menumpang bus kota nomor 32, melewati Jayabaya dan Kupang, kemudian baru stasiun Pasar Turi. Ongkosnya 5000 rupiah. Jalanan Surabaya siang itu cukup lancar. Hanya sempat agak merambat di jalan Ahmad Yani, tapi masih dalam batas wajar. Perjalanan terminal Bungurasih-stasiun Pasar Turi pun ditempuh dalam waktu setengah jam, dan masih harus menunggu sekitar 2,5 jam sebelum waktu keberangkatan KA Harina.

KA Harina

KA Harina

Btw, ini pertama kalinya pula aku berkunjung ke stasiun Pasar Turi. Ternyata bangunan stasiunnya masih kalah besar dengan stasiun Gubeng. Tapi di stasiun Pasar Turi ini terdapat dipo lokomotif dan trek-trek untuk parkir beberapa rangkaian kereta. Uniknya, di ujung utara stasiun terdapat gedung semacam mall(?) yang di bawah gedung itu melintas rel-rel dari stasiun Pasar Turi. Mirip seperti stasiun Surabaya Kota (Semut). Kalau nggak salah, dari sekian rel di bawah gedung itu, hanya ada satu atau dua rel yang menembus gedung menuju Dipo Sidotopo.

Dibandingkan jalur selatan, jalur utara ini ternyata tidak terlalu ramai lalu lintas kereta apinya. Setidaknya sepanjang rute Surabaya-Semarang. Hanya sekali berpapasan, yakni dengan KA Argo Bromo Anggrek di stasiun Bojonegoro kalau tidak salah. Setelah Semarang, ya mulai terasa ramainya.

Secara keseluruhan waktu tempuh KA Harina ini mengacu pada GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api), lebih lama setengah jam dibandingkan KA Mutiara Selatan yang melalui lintas selatan. Yang unik dari KA Harina ini, sesampainya di stasiun Cikampek, lokomotif akan berpindah ke ‘belakang’ rangkaian, dan akan menarik ‘mundur’ kereta ke Bandung via Purwakarta. Selama 2 jam perjalanan Cikampek-Bandung, penumpang akan duduk dengan menghadap ke belakang kereta. 🙂

 

Ceramah Tarawih Ridwan Kamil di Cisitu

Seorang Ridwan Kamil — walikota Bandung yang baru saja terpilih — mengisi ceramah tarawih mungkin hal yang biasa saja. Masjid Salman ITB selalu rutin mengundang banyak tokoh nasional untuk mengisi tarawih di sana. Nah, kalau mengisinya di sebuah masjid di sebuah perkampungan padat penduduk nan jalannya berupa gang sempit yang hanya selebar dua motor… hmm… rasanya jarang mendengar hal itu terjadi.

Nah, itulah yang terjadi dua hari yang lalu (10/07), tepatnya pada malam hari ke-2 bulan Ramadhan, di Masjid Al-‘Urwatul Wutsqo, Cisitu Lama, Bandung. Usai sholat subuh pengurus DKM mengumumkan bahwa penceramah tarawih malam itu adalah Ridwan Kamil. Rasanya agak sukar dipercaya, seorang walikota datang ke masjid yang terletak di dalam suatu gang perkampungan padat begini.

Ba’da maghrib ketika aku pulang kerja dan mampir ke sebuah warung, antusiasme warga menyambut kedatangan kang Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) dapat kurasakan. Bapak-bapak yang kebetulan berkumpul di warung itu, tengah membicarakan Ridwan Kamil. Anak-anak kecil yang tengah bermain dipelataran masjid pun juga tahu akan kedatangan Ridwan Kamil. “Eh, nanti ada Ridwan Kamil lho di tarawihan,” begitu kata salah satu dari mereka. Masjid Al-‘Urwatul Wutsqo malam itu juga sepertinya penuh sekali. Ada muka-muka baru yang kulihat. Jamaah yang biasanya sholat di masjid lain, sepertinya khusus malam itu menyempatkan untuk mengikuti sholat Isya’ dan tarawih di sini.

Di awal ceramahnya beliau mengutip ayat perintah puasa, yakni Al-Baqarah 183. Lalu beliau juga mengutip beberapa ayat Ar-Rahman, mengingatkan jamaah akan betapa pentingnya untuk selalu bersyukur. Menyambung hal tersebut beliau mencoba mengaitkan bahwasannya tiket kebahagiaan itu tak ada hubungannya dengan jumlah kekayaan. Indonesia, walaupun secara GDP (Gross Domestic Product) masih kalah jauh dari negara-negara maju, tingkat kebahagiaannya atau yang dikenal dengan Happy Planet Index (HPI) pada tahun 2012 berada pada peringkat 12, di atas negara-negara maju. (bisa dilihat di sini: wikipedia)

Sebagai warga kota, tanggung jawab kita untuk menjaga kenyamanan kota. Jika kota tetap seperti itu-itu saja tidak mau berubah mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk, bukan tidak mungkin ketika kita baru keluar rumah, kemacetan sudah menunggu di depan. Kota yang nyaman salah satu indikatornya adalah warganya nyaman untuk bepergian ke luar rumah, tidak kena copet dan tidak takut kena macet.

Selanjutnya beliau menyinggung beberapa program beliau saat menjabat walikota. Pertama, Masjid-Net. Yakni, memasang wifi atau spot-spot internet di masjid-masjid. Ide di balik gagasan ini adalah untuk mengajak generasi muda yang saat ini haus akan informasi dan gemar mengakses internet untuk mengunjungi masjid. Daripada nongkrong-nongkrong tidak jelas dan tidak bermanfaat, dengan adanya akses internet di masjid ini akan menarik bagi mereka untuk ke masjid. Program itu selaras dengan keinginan beliau untuk memanfaatkan menara masjid sebagai menara untuk pemancar seluler juga. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kebutuhan akan lahan untuk memasang menara seluler di kota Bandung. Beliau mengatakan bahwa beliau telah berkomunikasi dengan ketua umum MUI Bandung, bapak K.H. Miftah Farid terkait hal ini.

Program kedua adalah 1 kampung 1 taman bermain (aku tak ingat dengan pasti apakah beliau menyebut 1 RW atau 1 kampung). Idenya adalah dewasa ini anak-anak kita, terutama di pemukiman yang padat penduduk, sedikit sekali yang memiliki area lapang untuk bermain. Idealnya memang satu kampung memiliki satu area terbuka. Oleh karena itu, beliau akan meminta setiap kampung yang belum punya area terbuka tersebut untuk mengajukan kepada pemkot dan akan dibantu oleh pemkot untuk membebaskan lahannya. Range luas lahan itu sekitar 100-200 meter persegi. Sejauh ini sudah ada dua area lahan yang dibebaskan, salah satunya ada di Kopo.

Sesi bincang-bincang warga dengan Ridwan Kamil

Sesi bincang-bincang warga dengan Ridwan Kamil

Program ketiga adalah anggaran 100 juta/RW/tahun. Untuk mendapatkan ‘jatah’ ini setiap RW perlu mengajukan proposal akan digunakan apa saja anggaran 100 juta itu. Terkait dengan program ini, di akhir pelaksanaan sholat Tarawih dan Witir Kang Emil mengadakan sesi bincang-bincang khusus untuk berinteraksi dengan warga sekitar setengah jam. Nah, di sesi tersebut itulah muncullah saran atau ide-ide kegiatan atau pengadaan fasilitas untuk memanfaatkan uang 100 juta itu. Dari ceramah dan sesi bicang-bincang itu, beliau menekankan harapannya agar warga Bandung dapat menjadi masyarakat madani, yakni masyarakat yang mampu menemukan solusi untuk permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Anyway, aku sangat antusias dengan acara seperti ini. Seorang pemimpin mendatangi warganya untuk secara langsung menyampaikan program-programnya sekaligus mendengarkan masukan-masukan dari warganya. Aku tak melihat adanya pencitraan di sini. Dari dulu sejak beliau belum menjadi walikota, sudah banyak kontribusi konkret yang beliau berikan untuk Kota Bandung ini pada khususnya. Semoga ini menjadi awal yang baik sebelum beliau resmi menjabat sebagai walikota per tanggal 16 September nanti. Semoga beliau tetap istiqomah dan amanah ketika menjalankan tugasnya. 🙂

Main ke Trans Studio Bandung

Semenjak dibuka pertama kali untuk umum pada Juni 2011, baru Sabtu pekan lalu (18/05) akhirnya aku berkunjung ke Trans Studio Bandung. Padahal aku tinggal (ngekos) di Bandung. Tapi malas saja ke sana. Alasannya, selain harga tiket masuknya yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa (ketika aku masih mahasiswa), juga karena tidak ada teman yang mau diajak main ke sana, hihi.

Sabtu kemarin itu kebetulan ada acara walimahan teman sesama angkatan 2007 Sekolah Elektro dan Informatika ITB di gedung dekat McD Gatot Subroto. Banyak teman, baik dari Elektro maupun Informatika yang menghadiri acara tersebut. Nah, setelah acara walimahan, muncul keinginan untuk jalan bareng ke suatu tempat, sekedar untuk meluangkan waktu bersama sambil mengobrol tentang  pekerjaan masing-masing atau mengenang kembali memori saat mahasiswa dulu. Dipilihlah Trans Studio Mall karena lokasinya yang sangat dekat dengan gedung pernikahan.

Sekitar pukul 2 siang berangkatlah kami bersepuluh (9 cowok + 1 cewek) ke Trans Studio Mall. Aku satu-satunya yang berasal dari Informatika di rombongan itu. Yang lain anak Elektro semua. Awalnya, rencana kami cuma ingin menonton film saja. Film apapunlah yang ada saat itu.

Tapi setelah mempertimbangkan (kalau tidak salah) kebetulan semua dari kami belum pernah ke masuk ke wahana Trans Studio, kenapa tidak sekalian saja main ke sana. Kebetulan ada salah satu teman yang tak keberatan untuk mentraktir kami semua ke Trans Studio, hehe. Tiket masuk untuk weekend 250.000 rupiah per orang. Alhamdulillah, pertama kalinya ke Trans Studio ada yang bayarin, hehe. Semoga rezekinya lancar terus ya mas! 🙂

Sebenarnya sore hari adalah waktu yang kurang tepat untuk memulai kunjungan ke Trans Studio. Sebab Anda akan melewatkan beberapa wahana seperti Special Effects Action dan Trans City Theater yang hanya menampilkan pertunjukan di siang hari.

Wahana yang kami kunjungi pertama yaitu Vertigo Galaxy, wahana permainan berupa kincir raksasa yang berputar 360 derajat. Cuma 4 orang dari kami yang menaiki wahana ini. Aku dan yang lain nggak mau karena merasa perut masih kenyang sehabis makan di walimahan sebelumnya, haha. #alibi

Vertigo Galaxy

Vertigo Galaxy

Setelah itu, kami masuk ke wahana Si Bolang-Bocah Petualang. Wahana Si Bolang ini begitu kental terasa Indomie-nya, hehe. Bagaimana tidak, di mana-mana ada properti bertuliskan Indomie. Bahkan, ketika kami berkeliling menggunakan kereta menjelajahi “Indonesia” yang menampilkan ragam rumah adat, pakaian adat, dan budaya masing-masing daerah, properti Indomie itu masih mendominasi. Hmm… sepertinya pepatah “di mana pun daerahnya, kulinernya tetap Indomie” cocok menggambarkan “petualangan” Bolang kami, hehe.

Membolang dengan naik kereta

Membolang dengan naik kereta

Setelah selesai membolang, selanjutnya kami kembali mengulang pelajaran-pelajaran Kimia dan Fisika sewaktu sekolah dulu. Pelajaran sekolah itu kami dapatkan di Science Center. Di “rumah belajar” ini kami menemukan hal-hal menarik untuk diketahui.

Sebagai orang yang berlatar belakang teknik — yang dahulu ketika masih tingkat satu pun kami mendapat kuliah Fisika Dasar dan Kalkulus — objek-objek sains di Science Center ini cukup menarik bagi kami. Ada alat untuk mengukur kekuatan genggaman tangan, harpa dengan senar laser yang bisa dimainkan layaknya harpa sungguhan, mesin elektrostatik Van De Graff, simulasi angin topan, dsb. Sebagian memang sudah pernah kulihat di Jatim Park (waktu SMP dulu), tapi di Trans Studio ini objek sainsnya lebih banyak — kebanyakan objek fisika. Cocok bangetlah buat pelajar-pelajar yang suka sama Fisika, hehe.

Science Center

Science Center

Keluar dari Science Center entah bagaimana ceritanya kami terpisah menjadi dua kelompok. Tiga orang entah ke mana. Sementara aku dan 6 orang lainnya lanjut ke wahana yang lain. Giant Swing menjadi pilihan kami. Di satu artikel Detik Travel pernah disebutkan tentang 5 wahana Trans Studio yang bisa bikin jantung ‘copot’, dan Giant Swing ini adalah salah satunya, juga  Continue reading

10-11-12

Dua hari yang lalu bertepatan dengan tanggal ‘cantik’ 10-11-12 (10 November 2012). Sudah menjadi rahasia umum, banyak sekali pernikahan yang dilangsungkan pada hari itu. Termasuk dua saudara sepupuku. Yang satu (dari keluarga besar ibu) menikah di Pekanbaru, dan yang satu lagi (dari keluarga besar ayah) menikah di Purwokerto. Namun, sesuai pertimbangan keluarga, aku hanya hadir di pernikahan adik sepupuku yang di Purwokerto.

Out of topic sebentar, kemarin itu adalah kali pertama aku ke Purwokerto. Bingung mau naik apa ke sana. Kereta api nggak ada yang jalur Bandung-Purwokerto. Akhirnya naik bus malam dari Bandung. Kurang tahu sih, pilihan busnya apa saja. Tapi sewaktu datang ke terminal Cicaheum, oleh agen-agen bus di sana kompak disuruh naik bus Sinar Jaya jurusan Wonosobo.

Busnya kelas eksekutif. Ongkosnya Rp50.000 baik dari Bandung maupun sebaliknya. Di Banjar istirahat sebentar sekitar 30 menit di rumah makan yang dikelola oleh PO Sinar Jaya. Perjalanan Bandung-Purwokerto ini idealnya 6-7 jam, tapi kemarin fakta di lapangan menempuh waktu sampai 8 jam.

Ok, back to topic. Kembali ke tentang tanggal 10-11-12. Kira-kira berikutnya tanggal cantik apalagi ya yang bakal ramai banyak orang nikah *sekalian cari-cari tanggal* #eh *cari calon dulu* :P.

Yang paling dekat sih 12-12-12 (12 Desember 2012), 20-12-2012 (20 Desember 2012). Untuk tahun depan mungkin 3-1-13 (3 Maret 2013), 1-3-13 (1 Maret 2013),  dan 11-12-13 (11 Desember 2013). Ada lagikah? Tapi kalau bagiku sih, apalah arti tanggal, hehehe. Insya Allah, bila telah menemukan yang pas, lebih cepat lebih baik. #BukanEdisiGalau

Ikutan #GDG #DevFestBDG

Hari Sabtu yang lalu, 6 Oktober 2012, aku mengikuti acara Google Developer Group (GDG) DevFest Bandung yang bertempat di Hotel The Luxton, Dago-Bandung. Sebagaimana dilaporkan oleh blog GDG Bandung, acara ini diikuti oleh sekitar 140 orang peserta. Namun, aku agak heran juga sih, dari sekian jumlah itu — di luar panitia — hanya sedikit mahasiswa/alumni ITB yang mengikuti acara itu. Selain aku, ada satu orang lagi anak STI ’09 yang ikutan.

Yang pasti yang nggak ikutan akan menyesal. Soalnya tempatnya cozy lux banget. Ada coffee break dan makan siang prasmanan khas hotel berbintang, serta dapat goodies kaos dan sticker, hehehe.

Tapi bukan karena itu juga kali motivasi untuk datang ke sini. Topik-topik yang ditawarkan di acara ini menurutku cukup menarik. Ada tentang project butter Android Jelly Beans, tips membangun aplikasi Android, membangun aplikasi dengan HTML5, menggunakan Canvas di HTML5, membangun aplikasi artificial intelligence sederhana, dan perkenalan beberapa electronic frameworks.

Presentation by Tony Chan

Presentation by Tony Chan (src: foto panitia)

Dari sekian pembicara yang berkesempatan sharing knowledge pada hari itu, materi yang disampaikan oleh Tony Chan (Google Android Dev. Advocate) adalah yang paling menarik bagiku. Di sesi pertama dia menjelaskan mengenai project butter yang digunakan di Android 4.1 (Jelly Beans).Perubahan-perubahan apa saja yang terdapat pada Jelly Beans dibandingkan OS terdahulunya. Bagaimana strategi yang digunakan para engineer OS Android di sana untuk membuat proses display menjadi lebih smooth. Bagaimana fitur notifikasi di Jelly Beans sekarang lebih fleksibel dan sebagainya.

Di sesi kedua Tony menjelaskan mengenai tips-tips dalam membuat aplikasi Android, terutama dari segi desain atau layout. Materi ini sebenarnya sangat menarik dan berguna sekali bagi developer. Karena dengan mengetahui tips-tips tersebut, para developer akan mengetahui bagaimana aplikasi yang dipandang menarik oleh user. Sayang sekali, waktu untuk sesi kedua ini benar-benar terbatas sekali. 😦

Kang Imaduddin

Kang Imaduddin menyampaikan materi HTML5

Materi lain seperti HTML5 juga cukup menarik. Memberikan pandangan kepadaku mengenai pros n cons membangun aplikasi dengan HTML5, dibandingkan dengan native, dan juga hybrid. Terus terang HTML5 ini adalah hal yang baru bagiku. Aku belum banyak mengoprek di sana. Hmm … jadi tertarik untuk mempelajari lebih dalam HTML5. Terutama fitur canvas-nya yang pada pertemuan kemarin banyak sekali demo yang diperlihatkan tentangnya.

Sementara itu materi dari Pak Peb — oh ya, aku nggak nyangka kalau Pak Peb mengisi juga di acara ini — sebelumnya asa sudah pernah dapat. Kalau tidak salah, di acara Phyton Meet Up beberapa bulan yang lalu di kampus ITB. Tapi tidak pernah ada kata rugi atau bosan untuk mendengarkan materi yang sama untuk kedua kalinya. Karena biasanya yang kedua, (seharusnya) jadi lebih mengerti, hehehe.

Materi terakhir mengenai electronic frameworks. Itu merupakan materi yang benar-benar baru bagiku karena selama berkuliah di Informatika, tidak pernah bersentuhan dengan itu. Sayangnya kebanyakan framework tersebut berbayar euy. Mudah-mudahan ada waktu untuk mengoprek framework-framework itu. Seru juga sepertinya ‘bermain-main’ dengan electronic frameworks itu.

Alhamdulillah, puaslah ikutan acara kemarin. Selain dapat makanan gratis (banyak lagi, hihihi), kaos gratis, tapi yang paling penting nih … juga dapat banyak knowledge baru. 😀

Foto bersama seusai acara

Foto bersama seusai acara (src: foto panitia)