Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

It’s Time to Move On

It’s time to move on (baca: waktunya pindahan :D).

Ya, tak terasa sudah 3 tahun aku menetap bersama 5 orang kawanku sesama angkatan IF 2007, yakni Haris, Kamal, Khairul, Adi, dan Wafi di kontrakan di jalan Sangkuriang Dalam, yang kemudian kami sebut dengan padepokan Sandal, hahaha. Kini tiba saatnya perpisahan itu harus terjadi.

Pertama, pada bulan April lalu di mana Khairul yang lulus lebih dahulu pada bulan April itu, harus pindah ke Jakarta karena ia mendapatkan pekerjaan di sana. Lalu 2 bulan kemudian,   pada minggu ketiga Juni, Kamal menyusul pindahan ke rumah yang baru dibelinya di Bandung ini. Dan kini aku dan Wafi yang pindah ke kosan yang baru di Cisitu. Adi dan Haris sementara ini masih berada di kontrakan yang lama.

Malam kemarin kami berlima — minus Adi — melakukan farewell party (ceileeh istilahnya…) dengan makan malam bersama di Abuba Steak. Keesokan harinya, alias hari ini, kami, khususnya aku dan Wafi, mulai mengemasi barang-barang untuk pindahan hari ini juga. Yup, semalam akan menjadi malam terakhir aku menginap di kontrakan ini.
Khairul menyortir barang-barangnya

Khairul menyortir barang-barangnya

Capai juga ya mengurusi pindahan itu. Apalagi alat angkut yang kami gunakan adalah gerobak dorong. Aku dan wafi PP kosan lama-kosan baru sebanyak 3 kali. Lumayan juga sih. Barangnya banyak soalnya dan cukup berat juga.
Haris beberes

Haris beberes

Mungkin dalam 1-3 tahun ke depan aku bakal masih pindah-pindah. Soalnya rencana yang kumiliki dalam kurun waktu itu masih abu-abu. Yah, mungkin kalau sudah beristri (amin… mudah-mudahan bisa menyegerakan :D), semuanya bakal lebih jelas. Setidaknya bisa memulai mencari tempat tinggal tetap, hehehe.
Anyway, waktu 3 tahun tinggal bersama kawan-kawan ini ternyata terasa sebentar. Tak terasa kami semua masing-masing sudah mulai menentukan jalan masing-masing. Walaupun kami masing-masing berpisah sudah tidak akan menetap di rumah itu lagi, tapi kenangan itu akan tetap terjaga selamanya di rumah kontrakan itu. Duh, kok jadi melankolis gini, hehehe. Lanjut beres-beres ah. 😛 

Nonton Langsung Indonesia Open SSP 2012 (Bagian 2-Tamat) : Final

Berbeda dengan pertandingan semifinal hari sebelumnya di mana aku hanya menonton seorang diri, kali ini aku menonton bersama Khairul dan Lutfi, dua orang teman seangkatan Informatika ITB 2007 yang kini keduanya bekerja di Jakarta. Pertandingan final hari itu dimulai pukul 12.00.

Kami sengaja melewatkan aksi hiburan yang disajikan panitia yang menampilkan artis-artis, salah satunya adalah Ayu Tingting. Sebab, kami lebih memilih untuk menikmati terlebih dahulu arena hiburan di luar stadion. Ketika waktu mulai mendekati pukul 12 siang, kami pun segera memasuki tribun di dalam stadion.

Tribun kelas satu yang kami masuki ternyata saat itu telah penuh dengan penonton. Kami pun sampai terpaksa menempati bangku di dekat giant screen. Tak disangka, di sana kami berjumpa dengan 3 orang adik angkatan kami di Informatika ITB, yakni angkatan 2010. Mereka kebetulan juga merupakan anggota Unit Bulutangkis ITB.

Eh, ternyata masih sempat lihat Ayu TIngting sebentar ding, hehe.

Ayu Tingting di Istora

Ayu Tingting (tampak kejauhan) di Istora

Pertandingan final pertama yang dipertandingkan pada hari itu adalah partai ganda wanita sesama pemain China yang juga ganda nomor 1 dan 2 dunia, yakni Wang Xiaoli/Yu Yang dan Zhao Yunlei/Qian Ting. Awalnya aku kira pertandingan ini akan berjalan membosankan karena kedua pasangan merupakan satu negara. Namun, dugaanku salah. Kedua pasangan ternyata bermain apik dan ngotot. Permainan pun berakhir dengan 3 set untuk kemenangan Wang/Yu.

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Wang Xiaoli/Yu Yang

Zhao Yunlei/Qian Ting vs Wang Xiaoli/Yu Yang

Pertandingan berikutnya adalah partai ganda putra antara pasangan Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen (MB/CM) melawan ganda putra terkuat Korea, Lee Yong Dae/Jung Jae Sung (LYD/JJS). Sudah pasti seluruh stadion heboh, terutama cewek-cewek ABG nih. Apa lagi kalau bukan karena Lee Yong Dae.

Dalam pertandingan itu ada kejadian lucu dan agak malu-maluin sih sebenarnya menurutku. Saat jeda antara set kedua dan ketiga, Lee Yong Dae kan ganti kaos. Gila, cewek-cewek se-Istora pada histeris semua. Padahal sebelumnya, si Mogensen ganti kaos semuanya biasa-biasa saja. Ckckck.

Tentang pertandingannya itu sendiri, mantap … seru banget!! Sayang banget pasangan Denmark yang terlihat meyakinkan di awal set 1 — sempat unggul hingga 5-0 — harus kalah dalam final itu. Memang mereka sempat bangkit di set kedua. Namun, berbicara set ketiga, it’s always Korea. Pasangan LYD/JJS ini memang terkenal punya stamina yang cukup bagus. Terbukti, di set ketiga itu MB/CM tidak mampu mengimbangi lagi permainan LYD/JJS. Mereka kalah segala-galanya.

Mathias Boe/Carsten Mogensen vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung

Mathias Boe/Carsten Mogensen vs Lee Yong Dae/Jung Jae Sung

Pertandingan berikutnya atau pertandingan ketiga final kali itu, yakni partai tunggal putri antara Li Xuerui (China) melawan Saina Nehwal (India). Bagi Saina, ini adalah partai Continue reading

Nonton Langsung Indonesia Open SSP 2012 (Bagian 1) : Semifinal

Hari Sabtu seminggu yang lalu, 16 Juni 2012, aku menonton langsung pertandingan semifinal turnamen Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2012 atau yang cukup disingkat DIOSSP2012 saja. Tidak seperti tahun lalu di mana aku menonton langsung bersama Pras dan Rizky, kali ini untuk pertandingan semifinal aku menonton sendirian.

Aku berangkat dari stasiun Bandung pukul 6.30 dengan menaiki kereta Argo Parahyangan — lumayan dapat tiket promo eksekutif Rp 20 ribu — dan tiba di stasiun Gambir pukul 9.45. Setelah itu langsung menuju ke stadion Istora Senayan dengan menumpang bus TransJakarta. Sesampainya di arena, aku langsung mencari ticket box dan melakukan penukaran tiket dengan voucher yang kudapatkan secara online (dari situs blibli.com).

Gerbang masuk Istora

Gerbang masuk Istora

Oh ya, tak terlalu banyak berbeda konten dan penataan arena hiburan di luar stadion antara tahun ini dan tahun lalu. Mungkin bedanya hanya stand makanan dan minuman yang dikumpulkan jadi satu tempat luas dan diberi nama food festival. Oh ya, sama sekarang ada celebrity bazaar di mana beberapa selebritis termasuk pebulutangkis Greysia Polii yang ikut menjual beberapa produk pakaian di stand-stand di luar stadion itu juga. Selain itu di luar lantai atas stadion juga terdapat booth Yonex yang menjual peralatan dan perlengkapan bulutangkis meliputi jersey, raket, tas raket, dll.

Legenda Indonesia Open

Legenda Indonesia Open

Tak perlu menunggu lama untuk menyaksikan pertandingan badminton hari Sabtu itu. Pertandingan dimulai sejak pukul 11.30. Tapi aku memilih untuk melepas pertandingan pertama antara dua ganda wanita China karena waktunya sangat tanggung dengan waktu masuk sholat Dhuhur.

Aku baru menonton pertandingan kedua antara Wang Yihan melawan Li Xuerui. Sebuah pertandingan yang mata seru walaupun mereka sesama China, karena yang satu adalah peringkat 1 dunia dan satunya lagi adalah pemain muda yang baru saja menjuarai All England dan India Open 2012. Pada pertandingan itu sayang sekali Wang Yihan harus kalah dan terpaksa melepas gelar yang tahun lalu direbutnya.

Wang Yihan vs Li Xuerui

Wang Yihan vs Li Xuerui

Pertandingan antara Wang Yihan vs Li Xuerui ini berlangsung dalam dua set saja dan berakhir sekitar pukul 1 siang. Artinya, masih ada jeda sekitar satu jam setengah sebelum pertandingan utama yang disiarkan di TV ataupun BWF channel. Jeda yang cukup lama itu diisi oleh pihak organizer dengan hiburan-hiburan yang mendatangkan artis Cherrybelle dan Judika, dengan dipandu oleh MC Stenny Agustaf.

Cherrybelle di Istora

Cherrybelle di Istora

Acara hiburan ini berlangsung kurang lebih selama sejam, mulai dari pukul setengah dua hingga setengah tiga. Ketika itu suasana dalam stadion belum cukup ramai penonton. Namun, begitu mulai masuk pertandingan pertama yang menampilkan partai Koo Kien Keat/Tan Ben Heong vs Mathias Boe/Carsten Mogensen, stadion mulai disesaki oleh penonton.

Koo Kien Keat-Tan Boon Heong vs Mathias Boe-Carsten Mogensen

Koo Kien Keat-Tan Boon Heong vs Mathias Boe-Carsten Mogensen

Pertandingan antara ganda putra Malaysia melawan Denmark itu sendiri berlangsung tidak seimbang. Pemain Denmark menang dengan mudah dua set dalam waktu kurang dari setengah jam. Hmm … bisa jadi karena faktor dukungan penonton yang lebih memihak Denmark dan tak jarang juga penonton mem-‘boo’ pemain Malaysia setiap mereka mendapat poin.

Setelah pertandingan ganda putra ini adalah partai ganda putri antara pasangan favorit Indonesia Meiliana Jauhari/Greysia Polii melawan ganda nomor dua China Zhao Yunlei/Qian Ting. Di atas kertas sebenarnya pasangan China ini lebih unggul. Namun, di atas lapangan ternyata pasangan kita benar-benar menampilkan semangat juang yang luar biasa. Walaupun kalah, tapi pertandingan berlangsung sangat ketat dan pasangan kita bisa mencuri satu set.

IMHO, di antara pemain-pemain kita, semangat bertanding Meiliana dan Greysia ini paling aku acungi jempol lah. Sering banget mereka sampai jatuh-jatuhan buat mengembalikan kok. Yang sering kulihat mainnya sering seperti itu (baca: jatuh-jatuhan) selain Meiliana/Greysia itu adalah Jung Jae Sung dari Korea Selatan.

Meiliana/Greysia vs Zhao/Qian

Meiliana/Greysia vs Zhao/Qian

Partai berikutnya mempertandingkan tunggal putra tersisa Indonesia, Simon Santoso, melawan pemain yang sedang on fire dari India, Kashyap Parupalli. Namun, pertandingan semifinal ini sepertinya menjadi anti-klimaks bagi Continue reading

Pendakian ke Gunung Gede (Bagian 2 – Tamat) : Puncak Gede

Tak terasa waktu sudah mendekati subuh. Kabut yang semalam konsisten memenuhi seluruh ruang di udara Surya Kencana, kini hanya mengapung di kepala gunung saja. Kami pun mulai memberesi perlengkapan, termasuk membongkar tenda. Tetapi sebelum itu, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan mie instan.

Sholat subuh

Sholat subuh

Butuh waktu agak lama ternyata buat memberesi perlengkapan kami dan menatanya ke dalam tas kembali. Mungkin karena ukuran tenda yang sempit membuat kami tak leluasa bergerak dan juga karena penerangan yang tak cukup. Kami pun terpaksa harus bergantian. Dua orang beres-beres, sementara yang lainnya sambil menunggu, sholat subuh dulu.

Semuanya beres ketika jam menunjukkan pukul 5. Wah, bakal kehilangan momen sunrise nih, dalam hati ku berujar. Sebabnya, jarak tempuh dari Surya Kencana Barat ke puncak Gede setidaknya memakan waktu 30 menitan. Itupun kalau kita mendaki normal tanpa banyak istirahat.

Pendakian subuh-subuh

Pendakian subuh-subuh

Faktanya, medan pendakian dari Surya Kencana Barat ke puncak Gede ini memang benar-benar sangat menanjak. Belum lagi beban carrier yang kami bawa, semakin membuat berat langkah kami. Ditambah dengan kondisi saat itu yang masih cukup gelap.

Ketika mungkin sudah ada separuh perjalanan lebih, aku pun memacu diri untuk berlari menuju puncak dengan meninggalkan teman-temanku yang masih beristirahat. Pikirku waktu itu, satu orang pokoknya harus ada yang menangkap momen sunrise itu. Tapi setelah kupikir-pikir kemudian, keputusan yang aku ambil itu sebenarnya salah juga sih, meninggalkan teman di belakang. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan mereka? Atau terjadi pada diriku sendiri?

Pada akhirnya aku sampai juga di puncak Gunung Gede lebih awal dari teman-teman. Ketika itu waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat 10 pagi. Sudah terlambat sebenarnya untuk menyaksikan sunrise. Walaupun demikian, setidaknya aku masih bisa menyaksikan langit kemerahan sisa-sisa rekahan fajar di balik sang surya. Subhanallah, sungguh pemandangan yang mempesona!

Sunrise di Puncak Gede

Sunrise di Puncak Gede

Sedikit OOT, ketika berada di puncak Gede itu, aku sempat disapa salah seorang anak ITB. Dia mengenaliku dari jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika yang kukenakan. Ternyata dia anak Tambang 2007 seangkatan denganku. Dia naik ke Gunung Gede karena ikut acara Mountain Magazine kalau nggak salah.

Sekitar setengah jam kemudian 3 orang temanku menyusul tiba di puncak Gede. Jadilah kami berfoto-foto bersama menikmati pemandangan di atas puncak Gunung Gede ini. Ketika itu, kondisi di puncak Gede ini angin bertiup cukup kencang dan suhunya juga sangat dingin.

Kawah Gunung Gede

Kawah Gunung Gede

Berempat di puncak Gede

Berempat di puncak Gede

Jalan di puncak Gede

Jalan di puncak Gede

Dari atas puncak Gunung Gede ini kita juga bisa melihat langsung Gunung Pangrango dan juga Gunung Salak di kejauhan.

Pangrango

Pangrango

Selain itu, tampak juga dari puncak Gunung Gede ini alun-alun Surya Kencana Barat yang menjadi kawasan favorit pendaki untuk berkemah.

Perkemahan di Surya Kencanan Barat

Perkemahan di Surya Kencanan Barat

Setelah puas berfoto-foto, sekitar pukul 8 pagi kami mulai perjalanan menuruni Gunung Gede ini. Kali ini jalur yang kami tempuh adalah jalur Cibodas. Dari puncak Gunung Gede kami berjalan ke arah barat. Kami melalui turunan yang oleh para pendaki dikenal dengan sebutan “turunan setan” atau “tanjakan setan” — tergantung dari mana arah kita melaluinya. Disebut demikian karena Continue reading

Alun-alun Surya Kencana Timur

Pendakian ke Gunung Gede (Bagian 1) : Surya Kencana

Ini adalah cerita tentang pendakian ke Gunung Gede yang aku lakukan bersama tiga orang teman: kang Ady, Rizky, dan Kamal pada tanggal 2-3 Juni 2012 yang lalu. Aku akan membagi cerita ini ke dalam dua tulisan. Tulisan pertama adalah pendakian kami hingga Alun-Alun Surya Kencana pada hari pertama. Tulisan kedua berecerita tentang pendakian ke puncak Gunung Gede dan menuruninya. Oke, sekarang aku mulai saja.

Sebenarnya pendakian ini yang merencanakan teman-teman dari Comlabs-ITB yang dikoordinir oleh kang Ady. Namun, aku sengaja mengajak dua teman seangkatan Informatika dan teman jalan-jalan biasanya juga, yakni Rizky dan Kamal itu. Eh tak disangka mendekati hari H, dari Comlabs-nya yang bisa cuma kang Ady (dan juga aku).

Namun karena semua persiapan telah dilakukan, termasuk urusan perizinan, rencana pendakian ini tetap dilaksanakan. Dari 8 orang yang awalnya berencana ikut, akhirnya cuma tersisa 4 orang saja.

Malam sehari sebelumnya kami mengambil peralatan hiking yang hendak kami sewa atau beli di Alment, yang berlokasi di dekat jalan Suci, Bandung. Di antaranya ada tenda, tas carriersleeping bag, parafin, dll. Bukan bermaksud promosi, tapi harga yang ditawarkan di Alment ini memang tergolong murah dan sangat terjangkau oleh kantong mahasiswa.

Hari Sabtunya, pukul 5 pagi aku, Kamal, dan Rizky berangkat dari kosan kami di daerah Cisitu Bandung menuju terminal Leuwi Panjang dengan menumpang angkot. Kami janjian langsung ketemu kang Ady di terminal sana.

Di angkot menuju Gunung Putri

Di angkot menuju Gunung Putri (Rizky’s)

Pukul 6.30 bus ekonomi jurusan Ciawi berangkat dari terminal mengantarkan kami menuju Cipanas. Ongkos Bandung-Cipanas adalah Rp25.000 per orang. Jarak tempuhnya sekitar 3 jam kala itu. Maklum, namanya juga bus ekonomi. Lumayan cukup sering ngetem juga mencari penumpang.

Sekitar pukul 10 kurang seperempat kami tiba di Cipanas. Kami pun mencari angkot yang bisa dicarter untuk mengantarkan kami menuju Gunung Putri. Sempat tawar-menawar dengan aa’ sopir angkotnya, akhirnya kami sepakat di angka Rp40.000 dari tawaran pertama Rp60.000. Kami diantarkan hingga jalan dekat pos pendakian Gunung Putri.

Warung nasi

Warung nasi

Sebelum memulai pendakian, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan mampir makan di warung dekat pos pendakian. Serius, murah banget makanan di sana. Nasi goreng dengan porsi hampir 1,5 kali normal cuma Rp7.000. Padahal, kalau di Bandung, dengan porsi segitu bisa sampai Rp10.000. Oh ya, buat teman-teman yang hendak mendaki, sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Lebih enak makan sebelumnya daripada di tengah-tengah pendakian. Tapi kalau tak sempat makan atau masih tetap lapar juga di tengah jalan, tak usah khawatir karena di tengah pendakian banyak penduduk sekitar yang rela naik gunung berjualan nasi uduk atau sekedar gorengan ataupun bandrek.

Tibalah kami di pos pendakian Gunung Putri. Pos ini berupa rumah panggung. Di luarnya terpasang papan tulisan Departemen Kehutanan. “Petugas”-nya yang mengecek persiapan kami masih muda-muda, sekitar seusia kami juga. Kami sempat ditegur karena tidak menggunakan sepatu untuk mendaki gunung ini. Kami semua hanya mengenakan sandal gunung saja. Namun, kami tetap diizinkan untuk melakukan pendakian.

Perlu diketahui ada beberapa jalur masuk menuju Gunung Gede. Dua di antaranya yang populer adalah melalui Gunung Putri dan Cibodas. Gunung Putri memiliki jarak tempuh yang pendek, tapi memiliki medan yang sangat menanjak. Sedangkan Cibodas memiliki jarak tempuh yang sangat jauh, namun medannya cukup landai.

Jalan mendaki dan berkabut

Jalan mendaki dan berkabut

Kami memulai pendakian dari pos tersebut sekitar pukul 11.30. Tak beberapa lama kemudian nafas mulai terengah-engah karena saking semangatnya berjalan mendaki. Yak, kuncinya memang harus pandai mengatur nafas sih untuk menempuh perjalanan kaki jauh  seperti ini. Untungnya cuaca ketika itu tidak panas, malah bisa dibilang cukup dingin karena langit agak mendung dan bukit cukup berkabut. Hawa dingin khas pegunungan juga sungguh terasa, padahal jam masih menunjukkan pukul 12 siang.

Istirahat dulu (Rizky's)

Istirahat dulu (Rizky’s)

Setelah menempuh sekitar setengah perjalanan, kami menjadi banyak istirahat. Beberapa meter berjalan, beberapa detik untuk istirahat. Kalau kata Rizky sih, cukup 30 detik untuk sekali istirahat. Padahal 30 detiknya keseringan, hahaha.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan 5 jam dan menyalip 6 rombongan (ini yang Rizky paling banggakan) — dari pukul 11.30 hingga 16.30, kami pun tiba di alun-alun Surya Kencana Timur. Rasa lelah pun terbayarkan begitu menginjakkan kaki pertama kali di alun-alun Surya Kencana Timur ini. Hamparan padang ilalang beserta pohon Edelweiss di sisi-sisinya membuat mata ini sejuk memandangnya. Subhanallah!!

Alun-alun Surya Kencana Timur

Alun-alun Surya Kencana Timur

Narsis dulu gan! (Rizky's)

Narsis dulu gan! (Rizky’s)

Namun, ini bukanlah akhir dari pendakian kami. Kami masih Continue reading

Keliling Putrajaya

Di hari terakhir di Malaysia kemarin aku dan Jiwo — teman yang bersamaku pergi ke Malaysia — memutuskan untuk jalan-jalan ke kota Putrajaya. Kebetulan hari Sabu kami kosong, alias tidak ada kerjaan lagi yang harus dikerjakan hari itu.

Seperti diketahui, Putrajaya merupakan pusat administrasi dan pemerintahan di Malaysia. Kota ini baru didirikan pada tahun 1995. Jadi jangan heran ketika berkunjung ke kota ini, menemukan banyak sekali tanah lapang dan merasakan kesunyian di sana. Walaupun demikian, kota ini sebenarnya menyajikan banyak bangunan dengan arsitektur-arsitektur megah dan menarik sehingga menjadi worth it untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

Pukul 9.30 (GMT+8) kami check out dari hotel. Kemudian kami naik kereta komuter KTM dari stasiun Mid Valley menuju menuju KL Sentral. Di sana kami menitipkan tas-tas kami di locker penitipan barang yang memang tersedia di sana.

Selanjutnya kami menumpang KLIA Transit menuju stasiun Putrajaya. Tarifnya lumayan mahal, RM9,5 atau sekitar Rp25ribu per orang. Tapi sebandinglah sama kenyamanan dan kecepatan yang ditawarkan. Keretanya full AC, bersih, tersedia wifi, dan cepat (rata-rata 130 km/jam). KL Sentral-Putrajaya ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.

KLIA Transit

KLIA Transit

Papan info rute bus

Papan info rute bus

Sesampainya di stasiun Putrajaya, kami sempat bingung akan pergi ke mana dulu dan naik transportasi apa. Untungnya di sana telah tersedia papan peta kota Putrajaya beserta rute-rute bus transportasi umum di sana. Bagusnya lagi, di sana juga tertera nomor-nomor bus untuk mencapai objek-objek wisata di Putrajaya itu. Salut buat pemerintah Malaysia yang selain gencar mempromosikan negaranya, namun juga menggarap sarana transportasi umum dan penyediaan informasi dengan baik. Karena dua elemen itu yang menurutku adalah hal yang paling dibutuhkan oleh seorang turis.

Namun, walaupun sudah ada papan informasi, kami tetap perlu bertanya kepada beberapa orang di terminal sana bagaimana menuju ke tempat-tempat itu, just want to make sure. Lucunya kami sempat dikira sebagai orang asli sana yang hendak mengikuti karnaval Hari Belia Negara, yah … semacam hari pemuda di Indonesia begitulah. Karena ketika itu, di terminal memang tengah disiapkan beberapa bus gratis untuk pemuda-pemuda yang mau ke sana. Wah, nggak deh pak … terima kasih. 😀

Terminal Bus Putrajaya Sentral

Terminal Bus Putrajaya Sentral

Kami pun akhirnya memilih bus dengan nomor rute 101 karena melalui kompleks Perdana Putra. Cukup menarik sistem pembayaran di bus di sana. Tiap bus memiliki mesin register di mana calon penumpang harus memasukkan uangnya terlebih dahulu ke dalamnya kemudian sopir akan memverifikasi dan mencetak bukti pembayaran melalui mesin itu. Tidak ada kembalian untuk setiap pembayaran. Jadi memang harus pas jika tidak ingin rugi. Tarif bus di sana, murah sekali. Jauh dekat cuma RM 0,5 alias 50 sen atau kalau dirupiahkan sekitar Rp1500 lah.

Bus 101 yang kami tumpangi

Bus 101 yang kami tumpangi

Jadilah kami menaiki bus 101 itu dan berkeliling kota Putrajaya. Jika diamati kota ini bisa dibilang sangat sepi. Jarang terlihat kesibukan orang-orang di sepanjang jalan. Bisa jadi memang karena penduduknya yang tak banyak. Maklum, kota ini masih berusia muda dan didirikan khusus untuk kompleks pemerintahan.

Kami sebenarnya tak yakin juga tujuan kami ke mana saat itu. Kompleks Putra Perdana, Istana Melawati, dan Taman Putra Perdana telah kami lewati. Sebab ketiganya tak tampak seperti destinasi turis. Kami pun berkeliling dengan bus saja sampai akhirnya turun di Mall Alamanda. Begitu menginjakkan kaki di depan mall … alamak … Continue reading

Ke Kuala Lumpur Lagi

Sudah 2 hari ini (mulai dari hari Selasa kemarin) berada di Kuala Lumpur. Ini kali keempat aku ke sini. Kali ini kami menginap di Boulevard Hotel yang lokasinya berada di kawasan Mid Valley.

Ini dia beberapa view yang kuambil dari kamar tempat menginap (lantai 18)

Stasiun Mid Valley (pojok kanan bawah)

Gedung seberang

Gedung seberang

Suasana lalu lintas di depan hotel

Suasana lalu lintas di depan hotel

: