Pendakian ke Gunung Gede (Bagian 2 – Tamat) : Puncak Gede

Tak terasa waktu sudah mendekati subuh. Kabut yang semalam konsisten memenuhi seluruh ruang di udara Surya Kencana, kini hanya mengapung di kepala gunung saja. Kami pun mulai memberesi perlengkapan, termasuk membongkar tenda. Tetapi sebelum itu, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan mie instan.

Sholat subuh

Sholat subuh

Butuh waktu agak lama ternyata buat memberesi perlengkapan kami dan menatanya ke dalam tas kembali. Mungkin karena ukuran tenda yang sempit membuat kami tak leluasa bergerak dan juga karena penerangan yang tak cukup. Kami pun terpaksa harus bergantian. Dua orang beres-beres, sementara yang lainnya sambil menunggu, sholat subuh dulu.

Semuanya beres ketika jam menunjukkan pukul 5. Wah, bakal kehilangan momen sunrise nih, dalam hati ku berujar. Sebabnya, jarak tempuh dari Surya Kencana Barat ke puncak Gede setidaknya memakan waktu 30 menitan. Itupun kalau kita mendaki normal tanpa banyak istirahat.

Pendakian subuh-subuh

Pendakian subuh-subuh

Faktanya, medan pendakian dari Surya Kencana Barat ke puncak Gede ini memang benar-benar sangat menanjak. Belum lagi beban carrier yang kami bawa, semakin membuat berat langkah kami. Ditambah dengan kondisi saat itu yang masih cukup gelap.

Ketika mungkin sudah ada separuh perjalanan lebih, aku pun memacu diri untuk berlari menuju puncak dengan meninggalkan teman-temanku yang masih beristirahat. Pikirku waktu itu, satu orang pokoknya harus ada yang menangkap momen sunrise itu. Tapi setelah kupikir-pikir kemudian, keputusan yang aku ambil itu sebenarnya salah juga sih, meninggalkan teman di belakang. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan mereka? Atau terjadi pada diriku sendiri?

Pada akhirnya aku sampai juga di puncak Gunung Gede lebih awal dari teman-teman. Ketika itu waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat 10 pagi. Sudah terlambat sebenarnya untuk menyaksikan sunrise. Walaupun demikian, setidaknya aku masih bisa menyaksikan langit kemerahan sisa-sisa rekahan fajar di balik sang surya. Subhanallah, sungguh pemandangan yang mempesona!

Sunrise di Puncak Gede

Sunrise di Puncak Gede

Sedikit OOT, ketika berada di puncak Gede itu, aku sempat disapa salah seorang anak ITB. Dia mengenaliku dari jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika yang kukenakan. Ternyata dia anak Tambang 2007 seangkatan denganku. Dia naik ke Gunung Gede karena ikut acara Mountain Magazine kalau nggak salah.

Sekitar setengah jam kemudian 3 orang temanku menyusul tiba di puncak Gede. Jadilah kami berfoto-foto bersama menikmati pemandangan di atas puncak Gunung Gede ini. Ketika itu, kondisi di puncak Gede ini angin bertiup cukup kencang dan suhunya juga sangat dingin.

Kawah Gunung Gede

Kawah Gunung Gede

Berempat di puncak Gede

Berempat di puncak Gede

Jalan di puncak Gede

Jalan di puncak Gede

Dari atas puncak Gunung Gede ini kita juga bisa melihat langsung Gunung Pangrango dan juga Gunung Salak di kejauhan.

Pangrango

Pangrango

Selain itu, tampak juga dari puncak Gunung Gede ini alun-alun Surya Kencana Barat yang menjadi kawasan favorit pendaki untuk berkemah.

Perkemahan di Surya Kencanan Barat

Perkemahan di Surya Kencanan Barat

Setelah puas berfoto-foto, sekitar pukul 8 pagi kami mulai perjalanan menuruni Gunung Gede ini. Kali ini jalur yang kami tempuh adalah jalur Cibodas. Dari puncak Gunung Gede kami berjalan ke arah barat. Kami melalui turunan yang oleh para pendaki dikenal dengan sebutan “turunan setan” atau “tanjakan setan” — tergantung dari mana arah kita melaluinya. Disebut demikian karena permukaan tanah yang dilalui memiliki kemiringan yang hampir mendekati 90 derajat sehingga memerlukan kehati-hatian untuk menapakinya.

Sekitar setengah jam kami menempuh “turunan setan” kemudian kami pun tiba di kandang badak yang juga merupakan kawasan favorit untuk berkemah para pendaki yang berangkat dari Cibodas. Kami pun beristirahat sebentar di sana.

Air terjun air panas

Air terjun air panas

Perjalanan setelahnya menjadi lebih seru karena kami harus melalui sebuah sungai air panas yang sangat panas. Kabarnya suhunya hampir mencapai 100 derajat celsius atau setara dengan suhu air mendidih. Awalnya kami kira sungai yang akan kami lalui tidak akan sepanas itu sebab sebelum sampai ke sungai itu, kami menemui sungai yang panas airnya terasa seperti hangatnya minuman hangat yang biasa di warung-warung itu. Ternyata itu adalah cabang kesekian dari sungai air panas yang sesungguhnya.

Sementara sungai yang kami temui berikutnya ternyata sungguh-sungguh panas. Bisa jadi ini adalah aliran utama dari sumber panasnya. Yang jelas, nggak bisa main-main saat melalui sungai air panas itu. Apalagi ketika itu kami semua hanya mengenakan sandal yang jelas-jelas terbuka. Panas banget rasanya. Untung ada bongkahan-bongkahan batu yang sepertinya sengaja disusun agar pendaki dapat menyeberangi sungai tanpa harus merendamkan kaki ke sungai.

Menyeberangi sungai air panas

Menyeberangi sungai air panas

Setelah melalui “rintangan” air panas, perjalanan berikutnya jauh lebih mudah. Hampir tak ada turunan yang curam setelah itu. Jalan yang dilalui relatif landai bahkan cenderung datar. Sekitar pukul 12-an kami tiba di kawasan wisata air terjun Cibeureum. Perlu jalan sekitar 5-10 menit untuk sampai ke air terjun Cibeureum dari pertigaan tempat pertemuan jalan dari cibodas-gede/pangrango-cibeureum. Ketika itu hanya aku dan kang Ady saja yang main ke air terjun. Kamal dan Rizky memilih untuk menunggu di pertigaan tadi.

Ketika itu kawasan wisata air terjun Cibeureum ini saat itu tengah ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Maklum, hari Minggu. Tapi, kebanyakan sih pengunjungnya adalah muda-mudi yang tengah pacaran di sana.

Air terjun Cibeureum

Air terjun Cibeureum

Tidak lama kami berada di kawasan air terjun Cibeureum itu. Habisnya kaki kami sudah cukup lelah sih saat itu dan ingin cepat-cepat sampai di “garis finish”. Apalagi kawasan air terjun itu begitu ramai dengan orang pacaran yang agak membuatku risih berlama-lama di sana. Kami pun kembali ke pertigaan tadi dan kembali melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar Cibodas.

Awalnya kami kira perjalanan ini tinggal sedikit lagi mengingat kami sudah sampai di air terjun CIbeureum yang merupakan kawasan wisata. Namun ternyata jarak yang masih harus kami tempuh adalah sekitar sejam perjalanan. Jauh juga ya ternyata. Hebat juga ini orang-orang bela-belain jalan kaki jauh sejam untuk melihat air terjun saja, pikirku.

Dan … sekitar pukul setengah dua kurang kami pun telah tiba di pintu keluar Cibodas. Kemudian kami pun melapor ke pos pendakian. Sebelum balik ke Bandung, kami menunaikan sholat Dhuhur dan Ashar terlebih dahulu di masjid kawasan wisata Cibodas serta makan siang di warung dekat sana.

Menunggu bus

Menunggu bus

Namun, sore itu kami kurang beruntung. Kami terpaksa harus ngentang sekitar satu jam di pinggiran jalan Cipanas sebelum mengetahui bahwa sore itu jalan di Puncak dibuat satu arah dan kendaraan, termasuk bus antarkota dari Bogor ke Bandung, harus melalui Sukabumi. Gedubrak! Kami pun akhirnya tiba di Bandung pukul 7 malam setelah berpindah kendaraan umum dari Cipanas-Cianjur dan Cianjur-Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s