Monthly Archives: May 2012

Keliling Putrajaya

Di hari terakhir di Malaysia kemarin aku dan Jiwo — teman yang bersamaku pergi ke Malaysia — memutuskan untuk jalan-jalan ke kota Putrajaya. Kebetulan hari Sabu kami kosong, alias tidak ada kerjaan lagi yang harus dikerjakan hari itu.

Seperti diketahui, Putrajaya merupakan pusat administrasi dan pemerintahan di Malaysia. Kota ini baru didirikan pada tahun 1995. Jadi jangan heran ketika berkunjung ke kota ini, menemukan banyak sekali tanah lapang dan merasakan kesunyian di sana. Walaupun demikian, kota ini sebenarnya menyajikan banyak bangunan dengan arsitektur-arsitektur megah dan menarik sehingga menjadi worth it untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

Pukul 9.30 (GMT+8) kami check out dari hotel. Kemudian kami naik kereta komuter KTM dari stasiun Mid Valley menuju menuju KL Sentral. Di sana kami menitipkan tas-tas kami di locker penitipan barang yang memang tersedia di sana.

Selanjutnya kami menumpang KLIA Transit menuju stasiun Putrajaya. Tarifnya lumayan mahal, RM9,5 atau sekitar Rp25ribu per orang. Tapi sebandinglah sama kenyamanan dan kecepatan yang ditawarkan. Keretanya full AC, bersih, tersedia wifi, dan cepat (rata-rata 130 km/jam). KL Sentral-Putrajaya ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.

KLIA Transit

KLIA Transit

Papan info rute bus

Papan info rute bus

Sesampainya di stasiun Putrajaya, kami sempat bingung akan pergi ke mana dulu dan naik transportasi apa. Untungnya di sana telah tersedia papan peta kota Putrajaya beserta rute-rute bus transportasi umum di sana. Bagusnya lagi, di sana juga tertera nomor-nomor bus untuk mencapai objek-objek wisata di Putrajaya itu. Salut buat pemerintah Malaysia yang selain gencar mempromosikan negaranya, namun juga menggarap sarana transportasi umum dan penyediaan informasi dengan baik. Karena dua elemen itu yang menurutku adalah hal yang paling dibutuhkan oleh seorang turis.

Namun, walaupun sudah ada papan informasi, kami tetap perlu bertanya kepada beberapa orang di terminal sana bagaimana menuju ke tempat-tempat itu, just want to make sure. Lucunya kami sempat dikira sebagai orang asli sana yang hendak mengikuti karnaval Hari Belia Negara, yah … semacam hari pemuda di Indonesia begitulah. Karena ketika itu, di terminal memang tengah disiapkan beberapa bus gratis untuk pemuda-pemuda yang mau ke sana. Wah, nggak deh pak … terima kasih. 😀

Terminal Bus Putrajaya Sentral

Terminal Bus Putrajaya Sentral

Kami pun akhirnya memilih bus dengan nomor rute 101 karena melalui kompleks Perdana Putra. Cukup menarik sistem pembayaran di bus di sana. Tiap bus memiliki mesin register di mana calon penumpang harus memasukkan uangnya terlebih dahulu ke dalamnya kemudian sopir akan memverifikasi dan mencetak bukti pembayaran melalui mesin itu. Tidak ada kembalian untuk setiap pembayaran. Jadi memang harus pas jika tidak ingin rugi. Tarif bus di sana, murah sekali. Jauh dekat cuma RM 0,5 alias 50 sen atau kalau dirupiahkan sekitar Rp1500 lah.

Bus 101 yang kami tumpangi

Bus 101 yang kami tumpangi

Jadilah kami menaiki bus 101 itu dan berkeliling kota Putrajaya. Jika diamati kota ini bisa dibilang sangat sepi. Jarang terlihat kesibukan orang-orang di sepanjang jalan. Bisa jadi memang karena penduduknya yang tak banyak. Maklum, kota ini masih berusia muda dan didirikan khusus untuk kompleks pemerintahan.

Kami sebenarnya tak yakin juga tujuan kami ke mana saat itu. Kompleks Putra Perdana, Istana Melawati, dan Taman Putra Perdana telah kami lewati. Sebab ketiganya tak tampak seperti destinasi turis. Kami pun berkeliling dengan bus saja sampai akhirnya turun di Mall Alamanda. Begitu menginjakkan kaki di depan mall … alamak … Continue reading

Advertisements

Ke Kuala Lumpur Lagi

Sudah 2 hari ini (mulai dari hari Selasa kemarin) berada di Kuala Lumpur. Ini kali keempat aku ke sini. Kali ini kami menginap di Boulevard Hotel yang lokasinya berada di kawasan Mid Valley.

Ini dia beberapa view yang kuambil dari kamar tempat menginap (lantai 18)

Stasiun Mid Valley (pojok kanan bawah)

Gedung seberang

Gedung seberang

Suasana lalu lintas di depan hotel

Suasana lalu lintas di depan hotel

:

Mutual Friend di Facebook

Pernah nggak sih kalian ketika facebook-an, terus tiba-tiba terlintas di pikiran, “Lho, ternyata si A kenal juga sama si B.”

Atau kadang-kadang bisa juga, “Oh, si A ternyata pernah satu sekolah sama si C.” Dan lain sebagainya. Di Facebook kita mengenal fitur mutual friends untuk menemukan “irisan” teman-teman kita dengan seseorang.

Nah, jadi ceritanya kenapa tiba-tiba aku menulis artikel ini adalah karena baru saja aku mengetahui ada seorang teman di ITB (selisih 1 tahun denganku) — sebut saja si A — yang ternyata kenal dengan kakak kelasku di SMA 3 dulu (selisih 3 tahun denganku) — sebut saja si B. Si B dulu kuliah di ITS dan sekarang melanjutkan S2 di NTUST Taiwan. Kebetulan si A baru saja masuk di NTUST dan di sanalah mereka berkenalan. Aku tahu mereka saling kenal ketika melihat si A itu memberikan komentar di status si B di Facebook.

Lalu ada juga cerita tentang seorang teman SMA — sebut saja si C — yang tiba-tiba ngetag foto teman kuliahku — sebut saja si D. Setelah kulihat-lihat profil mereka, ternyata mereka dulu pernah satu sekolah di Jakarta sewaktu masih SD.

Kayaknya seru juga ya kalau di Facebook ada fitur “How I met his/her”, atau “Where I met his/her”, atau “When I met his/her” gitu. Halah, kok jadi kayak film serial How I Met Your Mother gini, hahaha. Terus ada semacam meeting record map gitu. Misal simpelnya kayak gini nih:

Kadang-kadang kan kita suka mengingat-ngingat ya, gimana sih ceritanya aku bisa kenal sama si ini, si itu, dan lainnya. Kadang-kadang juga kita penasaran ingin tahu, di mana sih si A bisa kenal sama si B. Kalau ada fitur ini, bakal semakin melengkapi fitur Timeline-nya Facebook. Jadi suatu saat mungkin akan ada tambahan info di detail mutual friend: “Si A bertemu dengan si B pada saat Ospek di Kampus ITX pada tanggal 30 Februari 2012.”


Tiket Promo Kereta Api

Tiket promo kereta api

Tiket promo kereta api

Akhirnya ngerasain juga dapat tiket promo kereta api. Aku dapat 2 tiket promo untuk perjalanan dengan KA Argo Parahyangan Bandung-Jakarta Gambir PP. Lumayan kan, bisa naik kelas eksekutif dengan harga miring (Rp 20.000), lebih murah daripada kelas bisnis (Rp 45.000) dan tentu saja harga eksekutif normal, Rp 80.000. Tapi jadwalnya masih lama sih. Aku pesan buat bulan depan, hehehe.

Kebetulan sekarang PT KAI memang sedang menyediakan tiket promo untuk beberapa perjalanan kereta kelas eksekutif. Setiap perjalanan ada paling tidak 4-10 tiket promo. Untuk mengetahui apakah suatu perjalanan kereta menyediakan tiket promo atau nggak, kita bisa mengecek situs PT KAI di http://kereta-api.co.id. Pilih stasiun asal dan tujuan perjalanan, lalu akan muncul daftar kereta bersama dengan rincian harga tiket per kelasnya. Kalau memang tersedia tiket promo, maka di sana akan tertera harga untuk tiket promo.

Setelah itu, datang ke stasiun dan mengisi formulir pemesanan. Cantumkan di sana bahwa kita ingin tiket promo. Kalau tidak ditulis, kita bisa juga ngomong langsung ke petugas loketnya. Tentu saja selama persediaan tiket promo masih ada. Tapi ingat, tiket ini tidak bisa dibatalkan atau dialihkan.

[Kuliner] Abuba Steak

Rib eye

Rib eye

Sudah lama nggak keluar kulineran bareng temen-temen kosan. Kali ini sasaran kami adalah Abuba Steak. Ini untuk pertama kalinya kami ke sana. Padahal lokasinya terbilang cukup dekat dengan kosan kami — masih sama-sama di daerah Dago — apalagi jauh lebih dekat dengan kampus kami.

Hmm … melihat daftar menunya — dan tentu juga harganya 🙂 — really killing me. Paling murahnya steak dengan daging sapi lokal itu sekitar 40 ribuan. Sedangkan yang daging impor dari USA dan New Zealand, harganya sekitar 50-100 ribuan, tergantung daging sapi bagian mana dan berapa bobotnya. Pantes saja semasa kuliah anak-anak lebih suka traktiran atau makan-makan di Warung Steak & Shake, Javan, ataupun D’Kos karena harganya relatif terjangkau untuk mahasiswa, selain tentu saja lokasinya juga tidak jauh dari kampus.

Aku sendiri mencoba menu “Rib Eye” daging sapi New Zealand seperti yang ada di foto di atas ini. Maaf, jepretannya jelek, hehehe. Oh ya, harganya Rp 65.000. Mahal bukan 🙂 ? Tapi dari segi rasa, menurutku cukup worth it lah. Sekali-sekali nggak apa-apalah ya. *siap-siap puasa 3 hari ke depan :P*

KA Ekonomi Pun Kini Banyak Calo

Kereta ekonomi (ilustrasi)

Kereta ekonomi (ilustrasi)

Tulisan ini kubuat karena aku sudah tidak paham lagi dengan sistem penjualan tiket kereta di negeri ini, khususnya kereta ekonomi. Sudah tiga kali aku gagal pulang kampung gara-gara kehabisan tiket KA Kahuripan.

Pertama, pada libur long weekend Nyepi pada akhir Maret lalu. Aku datang ke stasiun untuk membeli tiket pada H-2. Tiket habis. Ok, aku paham.

Kedua, pada libur long weekend Paskah pada awal April lalu. Aku datang ke stasiun pada H-3. Tiket habis. Ok, aku paham. Lain kali aku harus datang lebih awal lagi.

Sampailah pada hari Rabu kemarin tanggal 9 Mei atau H-7 sebelum rencana keberangkatan. Aku datang ke stasiun Kiaracondong pada pukul 7.30 dan berencana untuk membeli tiket KA Kahuripan untuk keberangkatan tanggal 16 Mei. Antrian cukup panjang ketika itu. Aku termasuk berada di antrian tengah-tengah. Mungkin ada sekitar 12-15 orang yang antri di depanku. Nah, ketika sampai pada giliranku — waktu menunjukkan pukul 8.05, aku pun memesan tiket KA Kahuripan. Tak dinyana, petugas mengatakan bahwa tiket KA Kahuripan sudah habis. Beliau menawarkan tiket KA Pasundan yang tentu saja tidak mungkin buatku untuk membelinya karena tidak sesuai dengan tujuan dan jam keberangkatan yang ku bisa.

Serius? Loket baru buka sekitar sejam, tapi tiket sudah habis. Ok, anggaplah  sekali perjalanan kereta membawa 6 gerbong penumpang yang masing-masing kapasitasnya 103 (CMIIW). Dikali 6 berarti ada sejumlah 618 kursi. Ok, mungkin aku mengabaikan fakta bahwa sistem ticketing ini sudah online di mana semua stasiun yang dilalui bisa melayani pemesanan tiket di saat bersamaan. Belum lagi pemesanan Indomaret, kantor pos, dan agen-agen. Tapi satu tiket pun masa tak tersisa di saat pemesanan dilakukan pada 1 jam setelah loket buka?

Yang bikin kesal, di luar stasiun ada saja calo-calo yang menawarkan tiket. Sebelumnya nggak pernah ada istilah kereta ekonomi itu dicaloin karena kapasitasnya yang ‘tak terbatas’. Kalau aku sih, lebih baik nggak pulang daripada harus beli tiket di calo. Toh, transportasi yang lain masih ada, walaupun tidak akan semurah naik kereta ekonomi. Hmm … mungkin lain kali harus menginap di stasiun kali ya biar bisa dapat antrian pertama.