Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Belajar Bareng vs Sendirian

Walaupun sudah nggak kuliah lagi, saya masih suka belajar — masih di bidang saya, yakni Information Technology — terkait knowledge baru yang belum pernah diajarkan di kuliah atau mendalami topik yang sebelumnya sudah diajarkan namun kurang begitu mendalam. Maklum, bidang yang saya geluti ini memang termasuk yang begitu cepat perkembangannya. Selain itu juga karena tuntutan pekerjaan juga. Saya harus up to date terhadap perkembangan teknologi informasi terkini agar solusi yang kami tawarkan untuk proyek yang sedang kami kerjakan tetap relevan dan yang terbaik.

Terasa sekali bedanya dengan belajar di kuliah dan di luar kuliah. Di dalam kuliah kurikulum belajar kita sudah tersistematis, jadi kita tinggal mengikuti saja apa yang ada dalam silabus. Kita juga masih menerima materi secara langsung dari dosen. Kalau tidak mengerti, bisa berdiskusi langsung kepada sang dosen baik di dalam maupun di luar kelas. Yang paling enak tentu saja ada banyak teman yang bisa diajak belajar dan berdiskusi bareng. Ujung-ujungnya kita bisa menyerap ilmu lebih mudah dan cepat.

Salah satu momen kuliah (coba cari saya di mana :D)

Salah satu momen kuliah (coba cari saya di mana :D) *

Nah, di kehidupan pasca kuliah ini kesempatan belajar bersama itu mahal, alias hampir susah kita dapatkan. Setiap orang punya kesibukan atau interest masing-masing. Dan nggak semuanya punya waktu luang yang sama. Alhasil saya lebih banyak belajar sendiri.

Untuk menyiasatinya saya ikutan kuliah yang ditawarkan Coursera. Sayangnya saya belum pernah berhasil tamat. Paling banter sejauh ini cuma bisa mengikuti separuh kuliah. Kendalanya memang soal waktu dan akses internet sih. Materinya kan disampaikan lewat video. Sementara saya di rumah hanya mengandalkan akses internet dari HP yang kuota paket internetnya lebih banyak berlaku untuk dini hari hingga pagi hari saja.

Sejujurnya saya masih mencari terus tips untuk belajar yang efektif di Coursera ini agar bisa mengikuti sampai akhir. Sayang sekali jika Coursera ini tidak dimanfaatkan. Kuliahnya bagus-bagus. Mungkin ada yang sudah pernah berhasil tamat? Boleh dibagi dong tipsnya hehe.

Selain lewat Coursera, saya juga ikut milis-milis atau grup-grup di social media terkait topik yang menjadi interest saya, seperti OpenNLP, Big Data, dan beberapa bahasa pemrograman. Memang tidak mungkin jika kita ikuti semua pembahasan yang terjadi. Biasanya saya baca secara berkala saja dan sengaja alokasikan waktu untuk mengikuti pembahasan yang terjadi.

Yang paling susah dari belajar sendiri itu adalah menjaga motivasi dan konsistensi. Untungnya sejak sebulan yang lalu di kantor ada inisiatif untuk membuat sharing session tiap hari Jumat. Kami bergantian sharing ilmu mengenai teknologi terbaru atau topik-topik lain yang relevan dengan pekerjaan kami.

Belajar sendiri itu memang tidak mudah. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah menjaga kemauan untuk terus belajar itu. Sering saya lihat orang menjadikan usia dan tidak adanya waktu sebagai alasan pembenaran untuk malas belajar.

*) foto diambil dari blog Pak Budi Rahardjo

Menantikan Pasar Seni ITB 2014

Ada teaser menarik nih dari panitia Pasar Seni ITB 2014:

Video di atas diambil pada tanggal 25 April yang lalu dan baru diupload awal Juli ini. Kreatif bangetlah idenya. Jadi nggak sabar untuk menantikan hari H penyelenggaraan Pasar Seni ITB 2014. Sayang euy belum ada pengumuman tanggalnya. Masih dirahasiakan ceunah supaya kita makin dibuat penasaran, haha.

Btw, event Pasar Seni ITB ini adalah event yang sangat besar dan diadakan empat tahun sekali. Acaranya cuma sehari tapi full dari pagi sampai malam. Event terakhir diadakan pada 4 tahun lalu pada tanggal cantik 10-10-10 (10 Oktober 2010). Sayangnya pada penyelenggaraan 4 tahun yang lalu aku nggak bisa menikmati acara dengan maksimal. Saat itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di stand Tokema (Toko Kesejahteraan Mahasiswa) ITB.

Maklum ketika itu aku memang masih aktif di Tokema dan kami ikutan menyewa stand di acara Pasar Seni ini jualan souvenir-souvenir ITB. Kami benar-benar sibuk melayani pengunjung mulai dari pagi sampai malam menjelang tutup. Cerita tentang aktivitasku di Pasar Seni ITB 2010 itu aku tulis di artikel ini (nggak terasa sudah lama juga ya aku nulis blog ini, haha).

Well, setelah 4 tahun berlalu dan tidak lagi kuliah di ITB, momen Pasar Seni ITB 2014 ini nanti bisa menjadi momen yang tepat untuk menjadi alasan kuat bagi kami para alumni untuk datang ke acara ini dan melakukan reuni kecil-kecilan dengan kawan-kawan lama, hihi. 🙂

Updated: Menurut kabar yang ku terima dari temannya teman yang kebetulan buka stand di Pasar Seni ITB 2014 ini, Insya Allah event tahun ini akan diselenggarakan pada tanggal 23 November. 🙂

Nonton Final Indonesia Open 2014

Untuk keempat kalinya secara berturut-turut aku berkesempatan menyaksikan langsung aksi-aksi pebulutangkis terbaik di dunia di perhelatan Indonesia Open Super Series Premier. Namun ada yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini. Stadion Istora Gelora Bung Karno yang tahun-tahun sebelumnya selalu identik dengan warna merah menyala, kali ini berganti menjadi warna biru.

Yup, seperti yang sudah diketahui bersama, title sponsor event Indonesia Open tahun ini adalah Bank Central Asia (BCA), menggantikan peran Djarum yang sudah bertahun-tahun “menikahi” Indonesia Open. Hal ini bisa terjadi karena aturan baru dari BWF di mana event olahraga mereka tidak boleh disponsori oleh perusahaan rokok. Memang sih, kenyataannya walaupun sudah tidak disponsori oleh Djarum, tapi bau Djarum di event ini masih sangat terasa. Melalui Djarum Foundation mereka masih ikut menyemarakkan event Indonesia Open ini sebagai sponsor.

Bagiku warna biru yang menggantikan warna merah ini adalah sebuah penyegaran. Bosen juga lihat warna merah melulu di Indonesia Open, hehe. 😀

Hari itu, Minggu 22 Juni, Aku dan Pambudi berangkat pagi dari Bandung menumpang travel dengan tujuan Sarinah. Kami tiba di sana sekitar pukul setengah 11. Setelah itu kami langsung meluncur ke Istora Gelora Bung Karno dengan menumpang bus Transjakarta. Bus Transjakarta sedang ada program gratis ongkos hari itu dalam rangka HUT DKI Jakarta *lumayan*.

Kami turun di halte POLDA. Setelah itu kami berjalan kaki menuju Istora. Setibanya di sana kami langsung mencari lokasi ticket box untuk event Indonesia Open ini. Ticket box untuk pembelian langsung ternyata berada di luar gerbang samping Istora. Sedangkan ticket box yang di dalam hanya untuk penukaran tiket dan tiket VIP saja.

Kami membeli 3 tiket untuk kelas I seharga Rp150.000 untuk satu tiketnya. Selain aku dan Pambudi, ada satu teman lagi, Putri TI’08, yang datang menyusul. Dia terpaksa menyusul karena sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota.

Setelah tiket ada di tangan, kami bisa bersantai-santai dahulu sambil menunggu pertandingan yang dimulai pukul 13.30. Kami makan siang dulu di food court yang tersedia di sana.

Beres makan siang, kami keliling melihat stand-stand yang lain. Kami juga sempat berfoto-foto di properti selamat datang ke BCA Indonesia Open 2014 dan wall of fame juara-juara Indonesia Open yang berasal dari Indonesia tentunya.

Di depan Istora

Di depan Istora

Bersama "Taufik Hidayat" di Wall of Fame

Bersama “Taufik Hidayat” di Wall of Fame

Well, bagi yang sudah pernah datang ke Indonesia Open tahun-tahun sebelumnya, format seperti itu tentu sudah sangat familiar. Tak terasa bedanya antara ketika disponsori Djarum dan BCA. Mungkin yang paling mencolok bedanya keberadaan SPG-SPG Djarum yang kini sudah tidak ada lagi di sini.

Yang aku baru tahu dan mungkin tidak ada di tahun-tahun sebelumnya, di front hall dalam Istora terdapat stand main Xbox. Aku dan Pambudi killing time main game FIFA di sana. Gratis lho. Lumayan kami bisa main 20 menitan di sana. Tidak perlu berlama-lama karena kami harus sholat Dhuhur dulu sebelum masuk ke tribun agar tidak merepotkan saat menonton.

Seusai sholat Dhuhur, kami langsung menuju ke tribun kelas I, masuk melalui pintu A8. Ketika itu jam kira-kira menunjukkan pukul 13.00. Berarti masih ada setengah jam lagi sebelum pertandingan dimulai. Namun tribun ternyata sudah lumayan ramai.

Waktu setengah jam itu diisi dengan penampilan Hivi Band yang menyanyikan lagu-lagu andalannya di tengah arena stadion. Btw, sejujurnya aku baru tahu ada band bernama Hivi Band saat itu. Maklum, udah nggak terlalu ngikuti blantika musik Indonesia, haha.

Tak berapa lama seusai Hivi Band menutup penampilannya, dua MC final Indonesia Open saat itu, Steny Agustaf dan Nirina Zubir masuk ke tengah arena menyambut penonton. Mereka memimpin penonton untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, mengajak penonton untuk menyanyikan dan meneriakkan yel-yel khas Indonesia Open dan melakukan body wave di dalam stadion.

Dan akhirnya  Continue reading

Kantor imigrasi Kamboja

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 6): Day 5 – Bangkok-Siem Reap

Rabu, 28 Mei 2014

Subuh itu kami semua sudah terbangun dari tidur. Seusai melaksanakan sholat Subuh, kami semua mulai melakukan packing barang masing-masing. Menurut rencana, kami akan meninggalkan Bangkok pagi ini menuju Siem Reap, Kamboja, pukul 9 dari Mo Chit Bus Station.

Berdasarkan pengalaman sehari sebelumnya, waktu yang dibutuhkan oleh bus kota dari Mo Chit menuju Khao San Road adalah sekitar 1 jam pada siang hari. Tentunya di pagi hari kondisi jalan bakal lebih macet karena bersamaan dengan orang-orang yang berangkat sekolah dan kerja. Karena itulah paling telat pukul 7 pagi kami menargetkan sudah cabut dari hostel.

Teman-teman yang menginap di Thrive The Hostel dan Suneta Hostel masing-masing berangkat sendiri. Sedangkan kami yang menginap di Hiig Hostel barengan dengan mereka yang menginap di Four Sons Village karena lokasinya yang memang bersebelahan. Pagi itu kami tak sempat sarapan. Paling cuma makan roti yang kami beli di 7Eleven dekat hostel.

Berangkat ke Mo Chit Bus Station

Dari hostel kami yang berada di Soi Rambuttri kami berjalan kaki melalui gang tembusan ke jalan Phra Athit. Rute bus no. 3 yang menuju ke Mo Chit berbeda dengan rute kebalikannya. Bus ini tidak melewati Khao San Road, tetapi jalan Phra Athit. Walaupun demikian lokasinya nggak terlalu jauh juga sih. Masih walkable lah.

Beruntung sekali kami pagi itu. Baru saja tiba di halte bus merah no. 3 sudah berhenti di depan kami. Kami semua pun buru-buru naik.

Ada yang agak aneh pagi itu. Continue reading

Kompetisi Blog AirAsia Indonesia Berhadiah ke Nepal

Ok, break sejenak dari tulisan berantai mengenai catatan perjalanan backpacking Indochina kemarin. Buat teman-teman blogger, khususnya yang beraliran travel writer (btw memang ada ya aliran-aliran blogger, hehe), ada info menarik nih dari AirAsia Indonesia, yang sayang banget jika dilewatkan. Ini dia poster pengumumannya:

Poster pengumuman Kompetisi Blog AirAsia

Berikut ini informasi lebih detailnya yang aku kutip dari link bit.ly/airasiablogcompetition2014

—————————————————————————————-

Mimpi berpetualang ke Himalaya, Nepal?
Mengeksplor peninggalan sejarah yang unik di Penang?
Atau bersantai di pantai eksotis yang ada di Pulau Dewata, Bali?

Ikuti kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia

Tema: “Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?”

Hadiah:
· Juara Pertama Piala dan Piagam + 2 Tiket PP ke Nepal, uang saku Rp 10 juta, dan akomodasi (5 hari 4 malam)
· Juara Kedua Piala dan Piagam + 2 Tiket PP ke Penang, uang saku Rp 7,5 juta, dan akomodasi (4 hari 3 malam)
· Juara Ketiga Piala dan Piagam + 2 Tiket PP ke Bali, uang saku Rp 5 juta, dan akomodasi (3 hari 2 malam)

Periode: 1 Juli – 31 Agustus 2014

Syarat & Ketentuan:
· Kompetisi terbuka untuk umum, Warga Negara Indonesia (WNI), usia 18 sampai 55 tahun
· Kontestan wajib memiliki Blog, Facebook, dan Twitter
· Tulisan harus karya sendiri dan tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan kekerasan
· Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
· Panjang tulisan minimal 500 kata maksimal 1000 kata yang sudah diposting di dalam blog
· Kontestan wajib mengirimkan biodata (Nama, No. KTP/passport, Nomor HP, Alamat email, Alamat blog) beserta tulisan
· Tulisan dikirim ke AABC_ID@airasia.com, jangan lupa cantumkan biodata di body email plus link tulisan
· Kontestan boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan
· Kontestan wajib follow  social media AirAsia Indonesia, www.facebook.com/AirAsiaIndonesia dan www.twitter.com/AirAsiaID, serta blog dan social media Trinity, www.naked-traveler.comwww.facebook.com/TrinityTraveler, dan www.twitter.com/TrinityTraveler
· Tulisan yang dikirimkan akan menjadi milik AirAsia Indonesia
· Kompetisi ini tertutup untuk karyawan AirAsia Indonesia dan keluarga
· Untuk pertanyaan lebih lanjut, silakan tulis komen di notes pada link bit.ly/airasiablogcompetition2014
· Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang

Juri:
· Trinity (Blogger & Travel Writer)
· Tim AirAsia Indonesia

Tulis, sebarkan, dan wujudkan mimpi petualanganmu sekarang juga!

—————————————————————————————-

Menarik nih hadiahnya. Apalagi Nepal dengan Himalaya-nya ada di dalam travel bucket list-ku. Coba aja ah, siapa tahu beruntung. 😀

Wat Arun jelang maghrib (photo by Ian)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 5): Day 4 – Krabi-Bangkok

Selasa, 27 Mei 2014

Subuh itu kami semua sudah cukup disibukkan dengan aktivitas packing. Yup, pagi itu kami akan check out dari hotel karena akan melanjutkan petualangan kami ke destinasi berikutnya, Bangkok, via jalur udara.

Packing

Packing

Jadwal penerbangan kami ke Bangkok adalah pukul 10.50 dari Krabi International Airport dengan AirAsia. Karena itu kami sudah harus tiba di bandara setidaknya sejam sebelumnya. Sebenarnya kami memesan penerbangan pukul 8.35 dengan niatan agar punya waktu yang lebih banyak di Bangkoknya. Sialnya penerbangan kami kena cancel oleh AirAsia sejak seminggu sebelumnya dan diganti menjadi pukul 10.50. 😦

Jarak dari penginapan kami ke bandara hampir 30 km. Untuk transportasi ke bandara, kami sudah memesan travel via pihak hostel. Ternyata dapatnya lebih murah dibandingkan jika membeli tiket airport shuttle yang banyak dijual oleh agen-agen di sepanjang jalan Ao Nang. Kami dipesankan 2 travel oleh pihak hostel dengan tarif 700 baht per travel. Jatuhnya jauh lebih murah karena 1400 baht itu dibagi kami ber-18. Sementara airport shuttle mengenakan tarif 150 baht per orang.

Bagi mereka yang kebetulan jalan sendiri dan mau ngeteng ke bandara Krabi dari Ao Nang, ada alternatif yang lebih murah. Yakni, Continue reading

Rombongan kapal lain yang sedang snorkeling (photo by Ian)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 4): Day 3 – Phi Phi Island Tour

Senin, 26 Mei 2014

Menurut jadwal yang telah ditentukan pihak penyelenggara tur, kami akan dijemput dari penginapan sekitar pukul 8 pagi. Berarti kami punya waktu yang cukup untuk jalan-jalan mencari sarapan pagi itu. Waktu subuh di Ao Nang saat itu adalah 4.30, dan matahari terbit menjelang pukul 6 pagi.

Sarapan pagi

Pukul setengah tujuh pagi ketika langit sudah mulai terang, beberapa dari kami keluar mencari sarapan bersama. Setelah 5 menit berjalan kaki, di pinggir jalan utama tak jauh dari Family Mart, kami menjumpai sebuah warung makan sederhana yang penjualnya ibu-ibu dan mbak-mbak berjilbab bertampang mirip Melayu.

Cukup banyak warga sekitar yang membeli sarapan di sana. Menunya miriplah sama masakan yang biasa dijual di dekat kampungku kalau pagi-pagi. Ada bubur (bukan bubur ayam tapinya), urap-urap, sayur pecel, ayam goreng, dan jajanan-jajanan pasar.

Aku memilih menu bubur sebagai sarapanku pagi itu. Komposisi bubur ini cukup unik. Ada sayur kangkung, potongan telor asin, dan ikan patin. Rasanya lumayanlah, nggak jauh beda dengan masakan di negeri sendiri. Harganya 25 baht kalau aku tidak salah ingat.

Berangkat ke Ao Nang Pier

Setelah sarapan, kami kembali ke hostel untuk bersiap-siap tur Phi Phi Island. Aku hanya membawa pakaian ganti, handuk, dan kamera underwater untuk snorkeling.

Jam telah menunjukkan pukul 08.15, namun kendaraan yang akan menjemput kami belum datang sesuai jadwal yang dijanjikan, yakni dari seharusnya pukul 08.00. Akhirnya aku inisiatif untuk menelepon pihak Angel Tour tempat kami memesan paket tur ini. Oleh ibunya yang kemarin melayaniku, aku diminta untuk sabar menunggu sebentar lagi.

Benar saja, sekitar 10 menit kemudian kendaraan truk besar, atau yang disebut songthaew di sana, akhirnya tiba juga. Aku pun menyerahkan bukti pemesanan paket tur kami kepada mbak-mbak petugasnya yang menjemput kami. Masing-masing dari kami diberikan stiker untuk ditempel di kaos, menandakan kami peserta tur.

Kami masih harus menjemput 4 orang teman kami lagi yang menginap di J Hostel. J Hostel ini lokasinya searah menuju ke Ao Nang Pier, tempat kami akan naik boat untuk tur ini. Pas banget ternyata, songthaew ini mampu menampung kami yang berjumlah 22 orang ini.

Songthaew jemputan (photo by Ian)

Songthaew jemputan (photo by Ian)

Dermaga Ao Nang Pier

Dermaga Ao Nang Pier

Tur pun dimulai

Kami memulai tur Phi Phi Island ini dari Ao Nang Pier. Kapal yang kami naiki ternyata kapal besar yang digunakan untuk umum juga. Jadi ada beberapa orang, hampir semuanya, yang ikut menumpang kapal kami sambil membawa tas-tas besar.

Btw, kapal yang kami naiki cukup bagus. Terdiri dari dua tingkat. Di dalamnya full AC. 

Di atas kapal (photo by Putri)

Di atas kapal (photo by Putri)

Tapi nggak asyik kan kalau tur di laut tapi cuma di dalam kapal terus. Bakal sayang banget apbila pemandangan-pemandangan cantik di luar sana dilewatkan. Kami pun duduk-duduk di atas deck depan dan belakang kapal menikmati pemandangan sekitar sambil berfoto-foto.

Foto-foto di atas kapal (photo by Putri)

Foto-foto di atas kapal (photo by Putri)

Tujuan pertama kapal ini adalah ke Railay Island. Railay Island adalah sebuah pulau cantik yang terkenal dengan tebing-tebingnya yang tinggi menjulang. Karena itu, tak mengherankan bila pulau ini menjadi destinasi favorit bagi para pecinta olahraga ekstrim panjat tebing yang berkunjung ke Thailand.

Kapal kami yang cukup besar tidak dapat merapat ke pulau ini. Lagi pula memang sejatinya kapal ini tidak berniat untuk singgah di sana. Kapal hanya menjemput calon penumpang yang berasal dari Railay Island ini. Dari pantai Railay mereka naik perahu-perahu yang kemudian merapat ke kapal kami. Baru kemudian mereka naik.

Railay Island

Railay Island

Penumpang dari Railay Island

Penumpang dari Railay Island

Dari Railay Island, kapal melanjutkan pelayaran ke Phi Phi Island. Kapal menurunkan penumpang-penumpang yang ikut menumpang (ya iyalah penumpang yang menumpang, haha) tadi. Sementara kami tetap berada di atas kapal.

Setelah semua penumpang “tamu” tadi turun, kapal berlayar lagi ke pulau Ko Phi Phi Le. Di sinilah tempat Maya Bay yang terkenal karena film “The Beach” yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio itu. Sayangnya kapal kami tak merapat ke pantai tersebut. Maklum, kapal kami terlalu besar untuk dapat merapat di pantai tersebut. Selain itu, suasana pantai di sana juga sangat ramai. Banyak perahu yang tengah merapat di sana.

Rombongan kapal lain yang sedang snorkeling (photo by Ian)

Rombongan kapal lain yang sedang snorkeling (photo by Ian)

Di bagian laut yang berjarak beberapa ratus meter dari Maya Beach kami diberikan waktu oleh penyelenggara tur untuk snorkeling di sana. Sebelum itu, kami semua disajikan soft drink dan snack oleh mereka di atas kapal. Peralatan snorkeling termasuk pelampung sudah disediakan oleh pihak tur.

Air laut di situ cukup jernih. Banyak ikan nemo Continue reading