Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Hiking to Mount Gede (photo by Ferdian)

Pendakian Gunung Gede 3.0 (Hari 1)

Sabtu, 28 November 2015

Setelah hampir setahun absen di dunia pendakian gunung, akhirnya akhir pekan kemarin saya kesampaian lagi pergi naik gunung. Terakhir kali naik gunung yaitu Desember tahun lalu ke Gunung Semeru. Seharusnya bulan lalu saya pergi melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Tiket pesawat sudah dibeli. Namun sayang, saya batal pergi karena tidak bisa meninggalkan kerjaan di kantor.

Gunung Gede menjadi pilihan pendakian kali ini karena dekat dari Bandung dan Jakarta, kota domisili saya dan teman-teman yang ingin melakukan pendakian, sehingga tidak memerlukan persiapan khusus membeli tiket kereta api atau pesawat. Pendakian Gunung Gede ini menjadi kali ketiga bagi saya.

Mencetak SIMAKSI

Awalnya ada 12 orang yang bergabung untuk ikut pendakian ini. Kami sudah mendaftar secara online sejak sebulan sebelumnya. Namun, seminggu sebelum hari H, hanya 5 orang yang konfirmasi jadi. Tak masalah, kami yang 5 orang ini pun tetap jalan.

Kami sepakat menetapkan meeting point di Cibodas pada hari Sabtu (28/11) pukul 9 pagi. Saya berangkat dari Bandung dan 4 orang lainnya dari Jakarta.

Sebenarnya kami mendaftar naik Gunung Gede melalui pintu masuk Gunung Putri. Namun kami harus mencetak SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) terlebih dahulu di Continue reading

Let’s Run

Barusan tadi nyari-nyari lagu yang diputer waktu start Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015 kemarin. Waktu itu cuma denger jelas bagian reff-nya aja sih, “Let’s run, run, run… Let’s run together…”

Lagunya enak juga bikin semangat waktu mulai lari. Saya baru tahu lagu itu memang lagu official-nya PBIM. Hoo… ternyata. Niat juga. Wajar sih, PBIM ini sudah menjadi event tahunan dan ikon tourism-nya Penang juga. Hebatnya biaya pendaftaran eventnya jauh lebih murah lho setelah saya bandingkan dengan event-event lari marathon lainnya, termasuk Jakarta Marathon.

 

Kali Pertama Ikutan Full Marathon

Akhirnya pecah telur juga. Dua hari yang lalu (22/11) untuk pertama kalinya saya mengikuti lari full marathon alias lari 42,195 km. Saya ikutan lari full marathon itu di event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2015. Setahun yang lalu di event yang sama, saya mengikuti lari yang kategori half marathon. Alhamdulillah target ikutan full marathon di tahun berikutnya berhasil terpenuhi. 

Bisa dibilang nekat juga sih. Sejujurnya sejak terakhir ikutan half marathon setahun yang lalu, saya tidak pernah lari lebih dari belasan kilo. Makanya sempat ragu-ragu juga sih apakah saya kuat untuk tiba-tiba berlari sejauh 42,195 km ini.

Dan ternyata memang tidak kuat. Namun alhamdulillah saya Continue reading

Royal Palace

Ke Phnom Penh Lagi

Pekan lalu saya berkesempatan traveling ke Kamboja kembali. Bukan khusus jalan-jalan sih. Ada suatu keperluan sebenarnya.

Tiga hari saya berada di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Sedangkan satu setengah tahun yang lalu saya hanya sempat mampir setengah hari saja di kota ini, dalam rangkaian perjalanan backpacking Indochina dari Kuala Lumpur hingga Ho Chi Minh. Dalam masa setengah hari itu saya hanya sempat mengunjungi kawasan Riverside (tepi sungai Mekong) dan taman depan Royal Palace saja. Karena itu tentu saja puas banget lah kali ini.

Di sela-sela waktu 3 hari itu saya sempat berjalan-jalan ke beberapa tempat di Phnom Penh. Riverside dan Royal Palace tentu saja salah satu di antaranya. Ke Phnom Penh menurut saya tidak lengkap kalau tidak mampir ke tempat ini.

Saya pergi ke kedua tempat itu saat sore hari. Menyenangkan sekali suasana sore di sana. Banyak orang Continue reading

Rumah adat Shan State

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 4 – Yangon (Bag. 2)

Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seharusnya pukul segitu matahari sudah membagikan kehangatannya kepada penduduk kota Yangon. Namun ternyata awan mendung masih setia menutupi langit sedari subuh.

Saya dan bapak mertua senior saya keluar rumah memakai payung. Kami pergi ke restoran di dekat flat untuk menikmati sarapan. Saya memesan menu nasi goreng dengan telor mata sapi. Enak juga ternyata nasi gorengnya. Saya suka bagaimana telor mata sapi itu disajikan. Dia tidak ditaruh di atas nasi goreng langsung, tetapi ditempatkan pada piring terpisah dan disiram kuah kari. Tidak saya sangka kuning telornya yang masih setengah matang bercampur dengan kuah kari ternyata memberikan rasa yang enak yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Ke National Races Village

Seusai sarapan, saya pamitan kepada mertua senior saya untuk pergi ke National Races Village. Saya bertanya bus no berapa yang menuju ke sana dari downtown ini. Tanpa saya duga beliau malah langsung membantu saya menyegatkan bus. Saya pun jadinya tidak tahu sebenarnya bus no berapa yang saya tumpangi, haha. Tulisannya keriting semua.

Bus kota di Yangon ini besar-besar. Jumlahnya juga banyak. Penumpangnya pun juga hampir selalu penuh. Mungkin karena di Yangon ini bebas Continue reading

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 4 – Yangon (Bag. 1)

Rabu, 19 Agustus 2015

Pukul setengah 5 subuh bus yang saya tumpangi akhirnya tiba di di terminal bus Aung Mingalar, Yangon, mengakhiri perjalanan selama 11 jam. Langit masih gelap. Saya turun dari bus. Banyak sopir taksi sudah menunggu di luar bus menyambut para penumpang yang baru turun.

Para sopir taksi tersebut menawarkan jasanya kepada setiap penumpang, tak terkecuali saya. Saya lagi-lagi dikira orang Myanmar. Begitu saya menggeleng dan mengatakan saya bukan orang Myanmar, salah seorang dari mereka menebak, “Are you from Thailand?”

Saya tersenyum sambil mengatakan, “No. I’m not from Thailand.” Itu bukan kali pertama juga saya dikira orang Thailand.

Sejujurnya pengalaman orang lain salah menebak negara asal saya itu adalah hal yang cukup menarik bagi saya. Saya penasaran berapa negara yang mereka sebutkan sampai akhirnya mereka bisa menebak dengan benar. Jarang sekali mereka berhasil menebak dengan tepat saya berasal dari Indonesia pada tebakan pertama, kedua, atau bahkan tak jarang hingga ketiga.

Ada sopir taksi lain yang menebak Malaysia. Yang cukup bikin kaget, Continue reading

Nelayan di Inle Lake

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 3 – Inle Lake (Bag. 2)

Pukul 9 pagi saya mendatangi meja resepsionis untuk check out. Kebetulan saya melihat tulisan di papan di dinding belakang meja resepsionis bahwa hotel menyediakan jasa booking bus ke Bagan, Yangon, dan beberapa jurusan lain. Saya pun memutuskan untuk memesan sekalian saya tiket bus ke Yangon untuk malam hari itu.

Saya paham harga yang ditawarkan pihak hotel biasanya akan lebih mahal karena bakal ada fee untuk mereka. Tapi tak mengapa karena saya memang ingin menghemat waktu.

Mbak resepsionis yang melayani saya kemudian menghubungi kantor agen bus untuk menanyakan ketersediaan tiket bus ke Yangon malam itu. Untungnya masih ada. Tiket bus diantarkan setengah jam kemudian oleh orang dari agen bus. Nama perusahaaan busnya Thit Sar Oo Express. Harga tiketnya Ks15.000.

Btw, saya baru paham kenapa hotel yang saya inapi ini namanya Lady Princess Hotel. Pegawainya cewek semua soalnya, haha. Yang ini saya cuma nebak-nebak aja, hahaha. At least dari beberapa yang saya temui semuanya cewek sih.

Sebelumnya, sambil menunggu tiket bus tersebut diantarkan, saya menikmati breakfast gratis yang disediakan oleh pihak hotel. Sekedar omelette, roti bakar, pisang, dan kopi saja sih.

Sembari makan saya memikirkan plan saya hari itu. Aktivitas utama yang populer di Inle ini adalah naik perahu menikmati Inle Lake dan melihat aktivitas nelayan di Inle Lake yang ikonik itu. Nelayan lokal di sana terkenal memiliki cara yang unik dalam mendayung perahu mereka. Mereka berdiri dengan Continue reading