Nelayan di Inle Lake

Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 3 – Inle Lake (Bag. 2)

Pukul 9 pagi saya mendatangi meja resepsionis untuk check out. Kebetulan saya melihat tulisan di papan di dinding belakang meja resepsionis bahwa hotel menyediakan jasa booking bus ke Bagan, Yangon, dan beberapa jurusan lain. Saya pun memutuskan untuk memesan sekalian saya tiket bus ke Yangon untuk malam hari itu.

Saya paham harga yang ditawarkan pihak hotel biasanya akan lebih mahal karena bakal ada fee untuk mereka. Tapi tak mengapa karena saya memang ingin menghemat waktu.

Mbak resepsionis yang melayani saya kemudian menghubungi kantor agen bus untuk menanyakan ketersediaan tiket bus ke Yangon malam itu. Untungnya masih ada. Tiket bus diantarkan setengah jam kemudian oleh orang dari agen bus. Nama perusahaaan busnya Thit Sar Oo Express. Harga tiketnya Ks15.000.

Sebelumnya, sambil menunggu tiket bus tersebut diantarkan, saya menikmati breakfast gratis yang disediakan oleh pihak hotel. Sekedar omelette, roti bakar, pisang, dan kopi saja sih.

Sembari makan saya memikirkan plan saya hari itu. Aktivitas utama yang populer di Inle ini adalah naik perahu menikmati Inle Lake dan melihat aktivitas nelayan di Inle Lake yang ikonik itu. Nelayan lokal di sana terkenal memiliki cara yang unik dalam mendayung perahu mereka. Mereka berdiri dengan satu kaki di ujung perahu, sementara kaki mereka yang lain dilingkarkan pada sebuah dayung dan mendayung dengan kaki tersebut.

Selain faktor nelayan tersebut, Inle Lake ini saya pilih dalam itinerary saya di Myanmar karena pertimbangan Inle Lake ini saya butuhkan karena bakal menjadi oase di perjalanan saya di mana pariwisata Myanmar ini memang identik dengan pagoda. Di mana-mana pagoda. Apalagi saya makin penasaran dengan Inle Lake setelah melihat foto-foto nelayan Inle Lake yang ikonik itu di artikel ini http://davidlazarphoto.com/2013/06/the-story-behind-photographing-the-fishermen-on-inle-lake-in-myanmar/.

Kebetulan pihak hotel menawarkan juga paket boat menjelajahi Inle Lake ini. Harganya pun sama dengan agen-agen di luar, 15.000 Kyat per perahu. Ya, kita masih bisa dapat lebih murah sebenarnya kalau mendatangi langsung ke nelayannya. Kabarya bahkan bisa cuma Ks12.000.

Tapi pesan via hotel ini enaknya saya bisa sharing dengan backpacker yang lain yang juga menginap di sini. Lumayan bisa menghemat pengeluaran. Saya sharing perahu bersama 3 orang backpacker masing-masing berasal dari Amerika Serikat, Jerman, dan Selandia Baru saat itu.

Kami baru keluar penginapan berjalan kaki menuju kanal sekitar pukul 11 siang. Seharusnya kami bisa berangkat lebih awal sih. Namun, dua orang backpacker dari Jerman dan Selandia Baru itu baru siapnya jam segitu. Mereka baru bangun tidur jam 10 coba, haha.

Naik ke perahu

Naik ke perahu

Cuaca siang itu agak hujan sebenarnya. Gerimis, berhenti, gerimis, berhenti. Begitu terus. Di atas perahu disediakan jas hujan untuk berjaga-jaga jika hujan masih turun Untungnya ketika kami naik perahu gerimis sudah reda. Sempat gerimis sebentar ketika kami berada di tengah danau. Namun setelah itu alhamdulillah hujan benar-benar reda kembali.

Perahu menyusuri kanal menuju danau melewati sela-sela tumbuhan ilalang yang banyak tumbuh di tengah-tengah air. Udara Inle Lake sungguh sejuk, tidak lembab sebagaimana yang saya rasakan di Yangon dan Bagan. Benar-benar penawar dari perjalanan di Myanmar ini.

Hari itu kami tidak terlalu beruntung sepertinya. Kami tidak melihat cukup banyak nelayan beraktivitas di Inle Lake. Total mungkin hanya sekitar 5 orang saja yang sempat kami lihat. Entah karena kondisi cuaca yang baru saja hujan dan masih mendung atau karena waktu memang sudah terlalu siang.

Nelayan di Inle Lake

Nelayan di Inle Lake

Perahu mendekat ke dua orang nelayan yang tampak sedang menata jalanya. Ada kepuasan tersendiri menyaksikan langsung hal yang sebelumnya cuma saya lihat via internet ini. Perahu melambat untuk memberikan kesempatan kepada kami agar dapat mengamati lebih lama aktivitas nelayan-nelayan tersebut. Bule-bule yang satu perahu bersama saya terkagum-kagum melihat bagaimana nelayan-nelayan tersebut melakukan aktivitasnya dengan berdiri di ujung perahu tanpa kehilangan keseimbangannya. Mereka bahkan sampai berdiskusi mengenai hal tersebut, bagaimana hal tersebut secara ilmiah dapat dilakukan.

Setelah itu perahu melaju hingga ke ujung selatan Inle Lake. Di sana ternyata terdapat pemukiman rumah panggung yang berdiri di atas danau ini. Kami merapat ke sebuah pondok yang ternyata merupakan tempat pembuatan perahu. Perahu yang kami lihat saat itu (lihat foto di bawah) katanya dijual seharga 2.500.000 Kyat atau sekitar 25 juta Rupiah.

Area pemukiman di Inle Lake

Area pemukiman di Inle Lake

Industri pembuatan perahu di Inle Lake

Industri pembuatan perahu di Inle Lake

Di area tersebut juga terdapat rumah tempat pelintingan rokok tradisional khas Inle Lake. Kami masuk ke dalam. Tanpa saya duga di sana saya kembali bertemu dengan 2 backpacker Italia yang saya temui dini hari sebelumnya di dalam angkot. Kami saling bertegur sapa.

Salah seorang pegawai di sana menawarkan rokok kepada kami untuk mencobanya. Karena saya bukan perokok, saya pun menolaknya dengan halus. Bule backpacker yang sharing perahu bersama saya sempat mencoba rokok tersebut. Dia sepertinya terlihat cukup terkesan dengan rasa rokok tersebut, sampai dia pun membeli 1 bungkus.

Industri pelintingan rokok khas Inle Lake

Industri pelintingan rokok khas Inle Lake

Ada hal menarik saat saya masuk ke sana. Saya sempat dikira orang lokal oleh mbak-mbak yang menjadi guide bagi para turis yang datang. Saya bilang kepada mbak itu bahwa saya berasal dari Indonesia. Ternyata ketika saya mengatakan itu ada turis cewek Perancis yang terlihat antusias. Dia kemudian menegur saya dan bertanya apakah saya benar berasal dari Indonesia. Dia bilang kepada saya dengan nada yang sangat antusias, “I love your country so muucchh.”

Kemudian dia menceritakan pengalamannya ke Indonesia beberapa tahun yang lalu. Walaupun dia menyukai Indonesia secara umum, dia ternyata cukup benci dengan kota Jakarta karena macet dan ketidakteraturannya. Dia sempat bertanya kepada saya beberapa kosa kata bahasa Indonesia untuk mengingatkan kenangannya kembali saat berada di Indonesia dahulu.

Dia datang ke Myanmar ini bersama pasangannya. Mereka katanya baru saja menjual flat dan barang-barang mereka di Perancis untuk bisa full time traveling. Waah.. kayak cerita yang sering saya baca di artikel-artikel traveling tentang orang-orang yang memutuskan keluar dari pekerjaannya dan full time traveling dan mencari penghidupan dari sana. Dia berharap dapat berkunjung ke Indonesia lagi suatu saat nanti.

Tak lama kemudian kami semua kembali ke perahu. Kami dibawa ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari situ, di tengah danau. Kami makan siang di sana.

Restoran di Inle lake

Restoran di Inle lake

Setelah makan siang, kami dibawa kembali mengunjungi tourist attraction lain di Inle Lake ini. Daann… coba tebak apakah tempat tersebut. Yup, pagoda. Di Myanmar ini core pariwisata yang ditawarkan sepertinya memang pagodanya ya, hehe. Di mana-mana pagoda.

Pagoda pertama yang kami kunjungi adalah Phaung Daw Oo Pagoda. Banyak burung dara yang beterbangan di halaman pagoda ini. Bule Selandia Baru yang datang bersama saya tampak menikmati sekali bermain kejar-kejaran dengan burung-burung tersebut haha.

Halaman Phaung Daw Oo Pagoda

Halaman Phaung Daw Oo Pagoda

Pagoda berikutnya yang kami kunjungi adalah Nga Phe Kyaung Monastery. Bukan pagoda juga sih sebenarnya. Nga Phe Kyaung ini bisa dibilang adalah semacam pondok pesantren buat biksu-biksu di sana. Bangunannya berbentuk rumah panggung, terbuat dari kayu, dan berada di atas danau. Di sekelilingnya terdapat floating farm yang sangat luas.

Salah satu lorong di Nga Phe Kyaung Monastery

Salah satu lorong di Nga Phe Kyaung Monastery

Nga Phe Kyaung Monastery menjadi persinggahan terakhir kami di Inle Lake ini. Setelah itu kami kembali ke Nyaungshwe. Kami menyusuri floating gardens yang berada di area sekitar monastery. Beberapa petani tampak tengah bercocok tanam dengan menggunakan perahu. Unik juga. Umumnya tanaman tomat yang banyak ditanam di sana.

Menyusuri floating farm

Menyusuri floating farm

Sesampainya di dermaga saya langsung berpamitan kepada teman-teman backpacker yang satu perahu bersama saya. Saya harus buru-buru kembali ke penginapan mengejar bus saya ke Yangon waktu petangnya. Saya dijemput oleh pick up shuttle di penginapan. Pick up shuttle tersebut membawa saya ke pertigaan Shwenyaung yang berjarak sekitar 11 km dari Nyaungshwe. Di tengah perjalanan dari dalam mobil saya sempat melihat ada sebuah masjid di Nyaungshwe ini, berada tidak jauh dari kanal.

Jadi, pertigaan Shwenyaung ini adalah tempat singgah bus-bus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang yang hendak menuju atau pergi meninggalkan Nyaungshwe. Bus saya saat itu ternyata belum tiba.

Saya baru ngeh kalau bus saya ternyata start-nya dari Taunggyi. Jadi ketika saya naik, bus sudah penuh dengan penumpang. Saya naik berdua saja dari Shwenyaung ini bersama seorang backpacker cewek yang berasal dari Jepang.

Bus singgah di rumah makan

Bus singgah di rumah makan

Setelah menempuh 3 jam perjalanan bus berhenti di sebuah rumah makan untuk istirahat. Suasana tengah gerimis malam itu. Seperti biasa tidak lebih dari 30 menit waktu yang diberikan untuk istirahat. Setelah itu bus melanjutkan perjalanan kembali ke Yangon.

————————————————————————————————————————

Pengeluaran Day 3 – Inle Lake

  • Tiket masuk wilayah Inle Lake : MMK 13.000
  • Angkutan dari tempat turun bus ke penginapan : MMK 2.000
  • Penginapan di Lady Princess Hotel : MMK 15.000
  • Bus Shwenyaung-Yangon : MMK 15.000
  • Sharing perahu Inle Lake tour : MMK 3.750
  • Makan siang di Inle Lake : MMK 2.400

Total = MMK 51.150 ~ IDR 548.296 

* Kurs USD 1 = IDR 13.560 = MMK 1.265
* MMK = Myanmar Kyat

————————————————————————————————————————

Indeks Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N:

2 thoughts on “Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 3 – Inle Lake (Bag. 2)

  1. Matius Teguh Nugroho

    Jadi traveler itu memang untung-untungan ya, bro. Waktu kita terbatas. Jadi harus pasrah dengan kondisi lokasi dan iklim saat itu. Beda dengan fotografer yang bisa stay di satu tempat sampai mendapatkan situasi ideal yg diinginkan. Awal bulan lalu waktu aku ke Bangkok, hujan turun deras dan cukup merusak agenda😦

    Wah, bangga banget ada bule Perancis yg cinta banget sama Indonesia. Gue bakal ngobrol antusias sama dia dan mempromosikan objek-objek wisata Indonesia.😀

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Sebenarnya bulan Agustus di Myanmar itu memang lagi musim hujan sih. Jadi nggak terlalu kecewa karena sejak awal memang sudah tahu bakal menghadapi kemungkinan bakal turun hujan pada hari yang dikunjungi. Btw tiket murah justru banyaknya pas low season kayak gitu sih biasanya, haha.

      Iya, dia pun tahu di Indonesia banyak sekali tempat wisatanya. Makanya dia pingin balik lagi nyoba tempat wisata yang lain.

      Liked by 1 person

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s