Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N: Day 4 – Yangon (Bag. 1)

Rabu, 19 Agustus 2015

Pukul setengah 5 subuh bus yang saya tumpangi akhirnya tiba di di terminal bus Aung Mingalar, Yangon, mengakhiri perjalanan selama 11 jam. Langit masih gelap. Saya turun dari bus. Banyak sopir taksi sudah menunggu di luar bus menyambut para penumpang yang baru turun.

Para sopir taksi tersebut menawarkan jasanya kepada setiap penumpang, tak terkecuali saya. Saya lagi-lagi dikira orang Myanmar. Begitu saya menggeleng dan mengatakan saya bukan orang Myanmar, salah seorang dari mereka menebak, “Are you from Thailand?”

Saya tersenyum sambil mengatakan, “No. I’m not from Thailand.” Itu bukan kali pertama juga saya dikira orang Thailand.

Sejujurnya pengalaman orang lain salah menebak negara asal saya itu adalah hal yang cukup menarik bagi saya. Saya penasaran berapa negara yang mereka sebutkan sampai akhirnya mereka bisa menebak dengan benar. Jarang sekali mereka berhasil menebak dengan tepat saya berasal dari Indonesia pada tebakan pertama, kedua, atau bahkan tak jarang hingga ketiga.

Ada sopir taksi lain yang menebak Malaysia. Yang cukup bikin kaget, belum sempat saya menjawab, dia langsung bercakap dengan saya menggunakan bahasa Melayu.

Saya pun membalas dalam bahasa Indonesia (masih sama kayak bahasa Melayu juga sih sebenarnya haha), “Saya bukan dari Malaysia.”

“Oh… dari Indonesia?” tanyanya sekali lagi dengan nada yang cukup yakin.

“Iya, hehe,” jawab saya sambil tersenyum.

Dia pun menawarkan jasanya kepada saya dalam bahasa Melayu. Saya bertanya berapa ongkos taksi dari terminal ini menuju downtown. “Cukup 9000 Kyat saja,” katanya.

Saya tawar 7.000 Kyat. Dia langsung setuju aja. Sebenarnya bisa dapat 6.000 Kyat lah kalau mau. Segitu normalnya seharusnya. Tapi saya cukup terkesan dengan sikapnya yang friendly, makanya saya lebihkan sedikit. Beberapa sopir taksi yang lain yang sedari tadi menyimak pembicaraan saya dengannya — padahal kayaknya nggak ngerti juga kami ngomong apa — tanpa dikomando langsung mundur teratur.

Dalam perjalanan di dalam taksi itu kami mengobrol lumayan banyak. Oh ya, menurut saya obrolan dengan sopir taksi itu cukup menarik. Makanya  di tulisan di bagian pertama ini saya terpaksa isi dengan percakapan saya dengan abang sopir taksi itu saja. Nanti di bagian kedua baru saya cerita mengenai aktivitas saya di Yangon pagi hingga sore harinya.

Saya memulai dengan pertanyaan bagaimana ceritanya dia sampai bisa berbicara bahasa Melayu. Ternyata dia pernah bekerja di Malaysia selama kurang lebih 10 tahun sebagai kurir.

Katanya banyak orang Myanmar yang menjadi tenaga kerja di Malaysia sana. Saya pun bilang, “Wah, sama dong, orang Indonesia pun juga banyak yang bekerja di Malaysia.”

“Iya, saya punya banyak teman dari Indonesia saat bekerja di Malaysia,” katanya, “bahkan saat itu saya sempat pacaran juga sama orang Indonesia.”

“Kapan itu dia pernah telepon saya terus bilang `aku ora iso mangan… aku kangen kowe…` ke saya,” lanjutnya sambil tertawa.

Saya pun juga tertawa mendengar cerita dia. “Jadi kamu ngerti bahasa Jawa juga ya?” tanya saya.

“Iya, pacar saya itu orang Jawa. Dia yang ngajari saya bahasa Jawa. Tapi saya cuma ngerti sedikit saja,” katanya, “sudah lama saya nggak ketemu dia.”

Lalu saya bertanya mengapa dia memutuskan kembali pulang ke Myanmar. Dia menjelaskan bahwa sejak pemerintahan Myanmar di bawah junta militer berakhir pada tahun 2011, pembangunan infrastruktur di Myanmar mulai bergairah. Hal tersebut kemudian berdampak terbukanya banyak lapangan pekerjaan baru di Myanmar. Oleh karena itu tak sedikit tenaga kerja Myanmar yang pulang kembali ke negaranya, termasuk dirinya.

Dia kemudian membandingkan Myanmar dengan pengalamannya saat bekerja di Malaysia. “Di Myanmar ini aman sekali. Tidak ada rampok. Saya dulu saat bekerja menjadi kurir di Malaysia, beberapa kali malam-malam dicegat rampok di jalan. Karena itu saya senang sekali bisa pulang bekerja di Myanmar.”

Sesaat tiba-tiba kami terhening memikirkan topik pembicaraan berikutnya. Tanpa saya duga dia menyanyikan sebuah lagu salah satu band Indonesia yang tidak asing bagi saya. Saya bertanya kepadanya, “Itu lagu band Indonesia?”

“Iya, itu lagu Wali Band. Dulu lagu ini populer sekali saat saya di Malaysia,” jelasnya.

“Iya, band-band Indonesia setahu saya banyak yang populer di Malaysia,” kata saya.

Kemudian saya menyebut satu per satu band Indonesia yang kira-kira cukup populer di Malaysia. Bertanya kepadanya apakah dia tahu band tersebut. Ternyata sebagian besar dia tahu, dan sempat menyanyikan beberapa lagi mereka sambil mengingat-ingat.

“Musisi Indonesia lagunya bagus-bagus. Saya suka lagu-lagu Indonesia,” katanya.

Masih banyak obrolan yang lain sebenarnya. Singkat cerita saya akhirnya tiba di depan flat mertua senior saya yang berada di daerah downtown. Pada hari pertama saya di Myanmar saya sudah mengunjungi flat beliau ini dan untuk menemukannya cukup mudah. Sebelumnya saya juga sudah mengirim SMS ke mertua senior saya itu mengabarkan waktu perkiraan kedatangan saya.

Setelah membayar ongkos taksi, saya pun turun. Tak disangka ternyata abang sopir taksi itu juga turun kemudian menyalami saya. “Terima kasih banyak. Senang bertemu dengan kamu. Semoga kamu menikmati liburan di Myanmar.”

Saya pun membalasnya, “Iya, senang juga bertemu dengan kamu. Terima kasih sudah mengantarkan saya. Sampai jumpa lagi ya.” Kemudian dia pun kembali ke dalam mobil dan melambaikan tangannya sambil menancap gas.

Mertua senior saya turun ke bawah menyambut saya. Saya diberikan kunci kamar yang pada hari pertama juga sudah sempat saya gunakan. Suasana pagi itu masih agak gelap karena mendung dan cuaca tengah sedikit gerimis. Saya langsung menunaikan sholat Subuh di kamar kemudian beristirahat. Lumayanlah bisa meluruskan punggung sejenak sebelum melanjutkan aktivitas lagi. (bersambung)

————————————————————————————————————————

Indeks Catatan Perjalanan Solo Backpacking di Myanmar 4D3N:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s