Monthly Archives: July 2014

[Kuliner] Karnivor Restaurant

Kamis pekan lalu (17/7) aku dan teman-teman kantor mengadakan event buka bersama. Kali ini tempat yang menjadi pilihan kami adalah Karnivor Restaurant yang berlokasi di Jalan Riau no. 127, Bandung. Ini pengalaman pertamaku mencoba menu makanan di sana.

Reservasi tempat

Pada event buka bersama ini aku kebagian urusan reservasi tempat. Total ada 14 orang yang saat itu rencananya akan ikut buka bersama. Tentu akan riskan apabila kami spontan datang ke sana. Dengan jumlah orang sebanyak itu belum tentu kami bisa mendapatkan tempat saat datang ke sana menjelang waktu berbuka.

Sangat mudah untuk menemukan nomor telepon reservasi Karnivor ini. Di akun Twitternya @KARNIVOResto dan page Facebooknya @Karnivor-Restaurant sudah dengan jelas tertera nomor telepon yang bisa dihubungi, yakni 022-7103111.

Dua hari sebelum hari H aku pun menelepon ke sana. Dari percakapan telepon itu aku baru tahu sebenarnya untuk reservasi itu jumlah minimal orangnya adalah 15. Namun, karena kami jumlah orangnya dekat-dekat itu jadi masih bisa ditoleransi lah, hehe.

Untuk reservasi ini kami harus membayar DP 200 ribu sebagai tanda jadi reservasi. Selain itu kami juga sudah harus menentukan menu-menu yang kami pesan. Jadi pihak Karnivor mengirimkan file image (resolusi tinggi) menu makanan dan minuman di sana via email kepada kami, kemudian kami mencatat menu apa saja yang kami order.

Menu makanan

Menu makanan

Menu minuman

Menu minuman

Keesokan harinya atau H-1 aku dan salah seorang teman kantor datang ke Karnivor Restaurant. Kami menyerahkan daftar menu yang kami order pada secarik kertas dan membayar 200 ribu rupiah sebagai DP. Mbak-mbak yang melayani kami kemudian memberikan kwitansi sebagai bukti DP.

Menu-menu yang dipesan

Pada hari H kami datang beberapa menit menjelang pukul setengah 6 sore. Masih ada waktu sekitar 20 menitan sebelum adzan Maghrib. Kami langsung menuju ke meja yang sudah disiapkan oleh pihak Karnivor. Alhamdulillah ada ta’jil gratis yang disediakan oleh mereka di lobby depan untuk para pengunjung, yakni air kacang hijau.

Sekitar 10 menit setelah kami datang, makanan-makanan dan minuman-minuman yang sudah kami pesan sehari sebelumnya mulai diantarkan ke meja kami. Menu yang aku pesan saat itu adalah Continue reading

Advertisements
Pengunjung berbondong-bondong menuju Angkor Wat (photo by Ian)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 7): Day 6 – Angkor Wat Tour

Kamis, 29 Mei 2014

Pukul 4 pagi aku sudah terbangun. Aku bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Subuh saat itu yang waktunya masuk pukul 4.10. Agenda kami hari itu adalah mengikuti full day tour di kompleks Angkor Wat hingga sore hari. Setelah itu malamnya kami akan meninggalkan Siem Reap menuju ke Phnom Penh. Karena itulah kami harus check-out hari itu juga.

Sesuai dengan perjanjian dengan sopir tuk-tuk sehari sebelumnya, kami akan dijemput di hostel pukul 5 pagi. Karena kami akan berada di kompleks Angkor Wat sampai sore, sedangkan batas waktu check-out adalah pukul 12 siang, maka kami check-out saat subuh itu juga, sebelum berangkat tur. Namun, ada beberapa orang dari kami yang extend semalam supaya ada tempat untuk istirahat sebentar dan menaruh barang-barang sembari menunggu keberangkatan bus ke Phnom Penh.

Ba’da sholat aku langsung mengemasi barang-barangku. Setelah itu aku langsung datang ke resepsionis untuk menyerahkan kunci kamar dan loker. Tas carrier-ku kuletakkan di sudut ruang lobby hostel. Di sana banyak sekali tas-tas carrier besar yang dititpkan. Yup, walaupun kita sudah check-out dari hostel, kita boleh kok menitipkan tas kita di sana. Sampai malam pun boleh kata respsionisnya.

Berangkat ke kompleks Angkor Wat

Pukul 5 pagi teng kami sudah berkumpul di depan hostel. Lima tuk-tuk sudah menunggu kami di sana. Satu tuk-tuk lagi menjemput Abdan dkk. di Palm Garden Lodge.

Berangkat ke Angkor Wat (photo by Ian)

Berangkat ke Angkor Wat setelah subuh (photo by Ian)

Tuk-tuk langsung meluncur ke Angkor Wat. Kalau lihat di Google Maps sih, jarak dari hostel kami ke pintu gerbang kompleks Angkor Wat ini sekitar 5 km. Jalanan Siem Reap ba’da subuh itu masih cukup sepi.

Di perjalanan menuju kompleks Angkor Wat ini kami sempat beberapa kali melewati kelompok-kelompok kecil bersepeda. Umumnya bule-bule sih yang naik sepeda ke Angkor Wat ini. Suatu saat kalau ada kesempatan ke Siem Reap lagi, harus nyobain nih nggowes ke Angkor Wat juga.

Untuk dapat memasuki candi-candi di kompleks Angkor Wat ini kita harus memiliki tiket yang disebut dengan Angkor Pass. Admission fee-nya sebesar USD 20. Tiket itu berlaku untuk one day tour di sana.

Suasana loket tiket Angkor Wat (photo by Rizky)

Suasana loket tiket Angkor Wat (photo by Rizky)

Karena Angkor Wat ini merupakan sebuah kompleks candi-candi yang sangat luas yang hampir mustahil dijelajahi seluruhnya dalam sehari, pihak pengelola menyediakan opsi tiket terusan untuk 3 hari (tidak harus berturutan) dan 1 minggu. Admission fee untuk masing-masing opsi tersebut adalah USD 40 dan USD 60.

Di Angkor Pass yang kita dapatkan akan tertera foto kita. Foto diambil saat itu juga ketika kita membayar admission fee di loket. Di Angkor Pass tertera juga tanggal berlaku tiket. Angkor Pass ini wajib kita tunjukkan kepada petugas setiap kali hendak memasuki suatu candi. Mereka akan mencocokkan wajah kita dengan foto yang tertera di tiket. Yup, dengan begitu tiket ini sifatnya non-transferable.

Angkor Pass

Angkor Pass

Melihat sunrise di Angkor Wat

Jujugan candi pertama kami adalah Angkor Wat itu sendiri. Angkor Wat ini terkenal dengan view sunrise-nya yang sangat indah. Tak heran banyak orang yang sudah datang ke Angkor Wat ini pagi-pagi itu.

Pengunjung berbondong-bondong menuju Angkor Wat (photo by Ian)

Pengunjung berbondong-bondong menuju Angkor Wat (photo by Ian)

Kami memiliki waktu untuk menikmati Angkor Wat ini hingga pukul 8-an. Sebenarnya fleksibel sih waktunya. Tapi kami pikir 2,5 jam di dalam sudah cukup puaslah. Jadi sementara kami berkeliling di dalam Angkor Wat, sopir tuk-tuk akan stand by di depan.

Pagi itu penampakan sunrise yang kami lihat tidak seindah seperti yang aku lihat-lihat di wallpaper-wallpaper HD yang menampilkan sunrise Angkor Wat. Entah karena sedang tidak beruntung atau memang akhir Mei bukan waktu terbaik untuk melihat sunrise di Angkor Wat, atau spot yang kami pilih memang salah. Entahlah. Namun, orang-orang tampak bahagia menikmati pemandangan sunrise pagi itu. 😀

Siluet Angkor Wat

Siluet Angkor Wat

Tak ingin terlalu lama befoto-foto dengan background sunrise, kami beranjak masuk menjelajahi kompleks dalam Angkor Wat. Tampak banyak sekali restorasi di sana-sini di dalam kompleks. Jerman dan Perancis mendominasi proyek restorasi ini. Aku bisa tahu itu dari keterangan-keterangan pada peralatan-peralatan yang digunakan untuk restorasi ini.

Foto bersama (photo by Ian)

Foto bersama (photo by Ian)

Angkor Wat

Angkor Wat

Angkor Wat ini seolah menawarkan suasana yang mistikal di dalamnya. Mistik yang kumaksud bukan yang berhubungan dengan hal-hal ghaib tentunya. Di sana aku seolah-olah seperti kembali ke era kerajaan Khmer di masa kejayaan Raja Suryawarman II di abad 12. Lorong-lorong di dalam candi yang lembab dan gelap menambah suasana mistikal itu.

Oh ya, berhati-hatilah dengan warga lokal yang menawari dupa di lorong-lorong dalam Angkor Wat ini. Mereka baik-baikin pengunjung yang mereka temui dengan menawari dupa dan mengajak untuk bersembahyang. Jangan terima dupa tersebut. Itu scam! Tolak saja dengan halus. Ada teman yang terjebak, dan harus membayar 2 dollar.

Salah satu lorong di dalam Angkor Wat

Salah satu lorong di dalam Angkor Wat

Sarapan

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jujur, waktu 2,5 jam itu ternyata cukup sebentar. Aku masih belum sempat menjelajahi halaman belakang Angkor Wat ini. Yah… memang sih kalau nggak banyak foto-foto, cukup sebenarnya waktu 2,5 jam itu menjelajahi Angkor Wat ini, haha. Karena kami sudah janjian dengan sopir tuk-tuk, tentu nggak enak juga kalau kami menambah durasi waktu kami sepihak di sana.

Dari Angkor Wat ini selanjutnya kami dibawa oleh sopir tuk-tuk ke warung makanan untuk sarapan. Jadi di kompleks Angkor Wat yang besar itu ada satu area di mana di sana terdapat banyak warung-warung makanan berjajar. Di sana ada toko-toko souvenir juga.

Di warung makan (photo by Abdan)

Di warung makan (photo by Abdan)

Harga menu di sana mahal-mahal sih. Kisaran USD 4-6 lah. Aku memesan menu salad buah. Cari yang aman saja. Soalnya agak ragu sama kehalalan menu-menu yang lainnya. Salad buah ini harganya USD 5. Mahal ya. But, the show must go on. Begitu pun perut harus tetap diisi.

Untuk minum, aku beli botol air mineral 1,5L seharga USD 1. Mahal ya. Di minimart samping hostel harganya USD 0,75. Jadi mending beli dekat hostel kalau nggak mau rugi. Haha, perhitungan banget memang.

Ke kompleks Angkor Thom

Peta kompleks Angkor

Peta kompleks Angkor

Jam telah menunjukkan pukul setengah 10 pagi ketika kami selesai sarapan. Angkor Thom menjadi destinasi kami berikutnya. Kami diantarkan ke sana oleh sopir tuk-tuk. Kami diberi waktu hingga pukul 12 siang untuk berkeliling menjelajahi candi-candi di Angkor Thom ini. Setelah mengantarkan kami, sopir tuk-tuk meninggalkan kami Continue reading

Belajar Bareng vs Sendirian

Walaupun sudah nggak kuliah lagi, saya masih suka belajar — masih di bidang saya, yakni Information Technology — terkait knowledge baru yang belum pernah diajarkan di kuliah atau mendalami topik yang sebelumnya sudah diajarkan namun kurang begitu mendalam. Maklum, bidang yang saya geluti ini memang termasuk yang begitu cepat perkembangannya. Selain itu juga karena tuntutan pekerjaan juga. Saya harus up to date terhadap perkembangan teknologi informasi terkini agar solusi yang kami tawarkan untuk proyek yang sedang kami kerjakan tetap relevan dan yang terbaik.

Terasa sekali bedanya dengan belajar di kuliah dan di luar kuliah. Di dalam kuliah kurikulum belajar kita sudah tersistematis, jadi kita tinggal mengikuti saja apa yang ada dalam silabus. Kita juga masih menerima materi secara langsung dari dosen. Kalau tidak mengerti, bisa berdiskusi langsung kepada sang dosen baik di dalam maupun di luar kelas. Yang paling enak tentu saja ada banyak teman yang bisa diajak belajar dan berdiskusi bareng. Ujung-ujungnya kita bisa menyerap ilmu lebih mudah dan cepat.

Salah satu momen kuliah (coba cari saya di mana :D)

Salah satu momen kuliah (coba cari saya di mana :D) *

Nah, di kehidupan pasca kuliah ini kesempatan belajar bersama itu mahal, alias hampir susah kita dapatkan. Setiap orang punya kesibukan atau interest masing-masing. Dan nggak semuanya punya waktu luang yang sama. Alhasil saya lebih banyak belajar sendiri.

Untuk menyiasatinya saya ikutan kuliah yang ditawarkan Coursera. Sayangnya saya belum pernah berhasil tamat. Paling banter sejauh ini cuma bisa mengikuti separuh kuliah. Kendalanya memang soal waktu dan akses internet sih. Materinya kan disampaikan lewat video. Sementara saya di rumah hanya mengandalkan akses internet dari HP yang kuota paket internetnya lebih banyak berlaku untuk dini hari hingga pagi hari saja.

Sejujurnya saya masih mencari terus tips untuk belajar yang efektif di Coursera ini agar bisa mengikuti sampai akhir. Sayang sekali jika Coursera ini tidak dimanfaatkan. Kuliahnya bagus-bagus. Mungkin ada yang sudah pernah berhasil tamat? Boleh dibagi dong tipsnya hehe.

Selain lewat Coursera, saya juga ikut milis-milis atau grup-grup di social media terkait topik yang menjadi interest saya, seperti OpenNLP, Big Data, dan beberapa bahasa pemrograman. Memang tidak mungkin jika kita ikuti semua pembahasan yang terjadi. Biasanya saya baca secara berkala saja dan sengaja alokasikan waktu untuk mengikuti pembahasan yang terjadi.

Yang paling susah dari belajar sendiri itu adalah menjaga motivasi dan konsistensi. Untungnya sejak sebulan yang lalu di kantor ada inisiatif untuk membuat sharing session tiap hari Jumat. Kami bergantian sharing ilmu mengenai teknologi terbaru atau topik-topik lain yang relevan dengan pekerjaan kami.

Belajar sendiri itu memang tidak mudah. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah menjaga kemauan untuk terus belajar itu. Sering saya lihat orang menjadikan usia dan tidak adanya waktu sebagai alasan pembenaran untuk malas belajar.

*) foto diambil dari blog Pak Budi Rahardjo

Menantikan Pasar Seni ITB 2014

Ada teaser menarik nih dari panitia Pasar Seni ITB 2014:

Video di atas diambil pada tanggal 25 April yang lalu dan baru diupload awal Juli ini. Kreatif bangetlah idenya. Jadi nggak sabar untuk menantikan hari H penyelenggaraan Pasar Seni ITB 2014. Sayang euy belum ada pengumuman tanggalnya. Masih dirahasiakan ceunah supaya kita makin dibuat penasaran, haha.

Btw, event Pasar Seni ITB ini adalah event yang sangat besar dan diadakan empat tahun sekali. Acaranya cuma sehari tapi full dari pagi sampai malam. Event terakhir diadakan pada 4 tahun lalu pada tanggal cantik 10-10-10 (10 Oktober 2010). Sayangnya pada penyelenggaraan 4 tahun yang lalu aku nggak bisa menikmati acara dengan maksimal. Saat itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di stand Tokema (Toko Kesejahteraan Mahasiswa) ITB.

Maklum ketika itu aku memang masih aktif di Tokema dan kami ikutan menyewa stand di acara Pasar Seni ini jualan souvenir-souvenir ITB. Kami benar-benar sibuk melayani pengunjung mulai dari pagi sampai malam menjelang tutup. Cerita tentang aktivitasku di Pasar Seni ITB 2010 itu aku tulis di artikel ini (nggak terasa sudah lama juga ya aku nulis blog ini, haha).

Well, setelah 4 tahun berlalu dan tidak lagi kuliah di ITB, momen Pasar Seni ITB 2014 ini nanti bisa menjadi momen yang tepat untuk menjadi alasan kuat bagi kami para alumni untuk datang ke acara ini dan melakukan reuni kecil-kecilan dengan kawan-kawan lama, hihi. 🙂

Updated: Menurut kabar yang ku terima dari temannya teman yang kebetulan buka stand di Pasar Seni ITB 2014 ini, Insya Allah event tahun ini akan diselenggarakan pada tanggal 23 November. 🙂

Nonton Final Indonesia Open 2014

Untuk keempat kalinya secara berturut-turut aku berkesempatan menyaksikan langsung aksi-aksi pebulutangkis terbaik di dunia di perhelatan Indonesia Open Super Series Premier. Namun ada yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini. Stadion Istora Gelora Bung Karno yang tahun-tahun sebelumnya selalu identik dengan warna merah menyala, kali ini berganti menjadi warna biru.

Yup, seperti yang sudah diketahui bersama, title sponsor event Indonesia Open tahun ini adalah Bank Central Asia (BCA), menggantikan peran Djarum yang sudah bertahun-tahun “menikahi” Indonesia Open. Hal ini bisa terjadi karena aturan baru dari BWF di mana event olahraga mereka tidak boleh disponsori oleh perusahaan rokok. Memang sih, kenyataannya walaupun sudah tidak disponsori oleh Djarum, tapi bau Djarum di event ini masih sangat terasa. Melalui Djarum Foundation mereka masih ikut menyemarakkan event Indonesia Open ini sebagai sponsor.

Bagiku warna biru yang menggantikan warna merah ini adalah sebuah penyegaran. Bosen juga lihat warna merah melulu di Indonesia Open, hehe. 😀

Hari itu, Minggu 22 Juni, Aku dan Pambudi berangkat pagi dari Bandung menumpang travel dengan tujuan Sarinah. Kami tiba di sana sekitar pukul setengah 11. Setelah itu kami langsung meluncur ke Istora Gelora Bung Karno dengan menumpang bus Transjakarta. Bus Transjakarta sedang ada program gratis ongkos hari itu dalam rangka HUT DKI Jakarta *lumayan*.

Kami turun di halte POLDA. Setelah itu kami berjalan kaki menuju Istora. Setibanya di sana kami langsung mencari lokasi ticket box untuk event Indonesia Open ini. Ticket box untuk pembelian langsung ternyata berada di luar gerbang samping Istora. Sedangkan ticket box yang di dalam hanya untuk penukaran tiket dan tiket VIP saja.

Kami membeli 3 tiket untuk kelas I seharga Rp150.000 untuk satu tiketnya. Selain aku dan Pambudi, ada satu teman lagi, Putri TI’08, yang datang menyusul. Dia terpaksa menyusul karena sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota.

Setelah tiket ada di tangan, kami bisa bersantai-santai dahulu sambil menunggu pertandingan yang dimulai pukul 13.30. Kami makan siang dulu di food court yang tersedia di sana.

Beres makan siang, kami keliling melihat stand-stand yang lain. Kami juga sempat berfoto-foto di properti selamat datang ke BCA Indonesia Open 2014 dan wall of fame juara-juara Indonesia Open yang berasal dari Indonesia tentunya.

Di depan Istora

Di depan Istora

Bersama "Taufik Hidayat" di Wall of Fame

Bersama “Taufik Hidayat” di Wall of Fame

Well, bagi yang sudah pernah datang ke Indonesia Open tahun-tahun sebelumnya, format seperti itu tentu sudah sangat familiar. Tak terasa bedanya antara ketika disponsori Djarum dan BCA. Mungkin yang paling mencolok bedanya keberadaan SPG-SPG Djarum yang kini sudah tidak ada lagi di sini.

Yang aku baru tahu dan mungkin tidak ada di tahun-tahun sebelumnya, di front hall dalam Istora terdapat stand main Xbox. Aku dan Pambudi killing time main game FIFA di sana. Gratis lho. Lumayan kami bisa main 20 menitan di sana. Tidak perlu berlama-lama karena kami harus sholat Dhuhur dulu sebelum masuk ke tribun agar tidak merepotkan saat menonton.

Seusai sholat Dhuhur, kami langsung menuju ke tribun kelas I, masuk melalui pintu A8. Ketika itu jam kira-kira menunjukkan pukul 13.00. Berarti masih ada setengah jam lagi sebelum pertandingan dimulai. Namun tribun ternyata sudah lumayan ramai.

Waktu setengah jam itu diisi dengan penampilan Hivi Band yang menyanyikan lagu-lagu andalannya di tengah arena stadion. Btw, sejujurnya aku baru tahu ada band bernama Hivi Band saat itu. Maklum, udah nggak terlalu ngikuti blantika musik Indonesia, haha.

Tak berapa lama seusai Hivi Band menutup penampilannya, dua MC final Indonesia Open saat itu, Steny Agustaf dan Nirina Zubir masuk ke tengah arena menyambut penonton. Mereka memimpin penonton untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, mengajak penonton untuk menyanyikan dan meneriakkan yel-yel khas Indonesia Open dan melakukan body wave di dalam stadion.

Dan akhirnya  Continue reading

Kantor imigrasi Kamboja

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 6): Day 5 – Bangkok-Siem Reap

Rabu, 28 Mei 2014

Subuh itu kami semua sudah terbangun dari tidur. Seusai melaksanakan sholat Subuh, kami semua mulai melakukan packing barang masing-masing. Menurut rencana, kami akan meninggalkan Bangkok pagi ini menuju Siem Reap, Kamboja, pukul 9 dari Mo Chit Bus Station.

Berdasarkan pengalaman sehari sebelumnya, waktu yang dibutuhkan oleh bus kota dari Mo Chit menuju Khao San Road adalah sekitar 1 jam pada siang hari. Tentunya di pagi hari kondisi jalan bakal lebih macet karena bersamaan dengan orang-orang yang berangkat sekolah dan kerja. Karena itulah paling telat pukul 7 pagi kami menargetkan sudah cabut dari hostel.

Teman-teman yang menginap di Thrive The Hostel dan Suneta Hostel masing-masing berangkat sendiri. Sedangkan kami yang menginap di Hiig Hostel barengan dengan mereka yang menginap di Four Sons Village karena lokasinya yang memang bersebelahan. Pagi itu kami tak sempat sarapan. Paling cuma makan roti yang kami beli di 7Eleven dekat hostel.

Berangkat ke Mo Chit Bus Station

Dari hostel kami yang berada di Soi Rambuttri kami berjalan kaki melalui gang tembusan ke jalan Phra Athit. Rute bus no. 3 yang menuju ke Mo Chit berbeda dengan rute kebalikannya. Bus ini tidak melewati Khao San Road, tetapi jalan Phra Athit. Walaupun demikian lokasinya nggak terlalu jauh juga sih. Masih walkable lah.

Beruntung sekali kami pagi itu. Baru saja tiba di halte bus merah no. 3 sudah berhenti di depan kami. Kami semua pun buru-buru naik.

Ada yang agak aneh pagi itu. Continue reading

Kompetisi Blog AirAsia Indonesia Berhadiah ke Nepal

Ok, break sejenak dari tulisan berantai mengenai catatan perjalanan backpacking Indochina kemarin. Buat teman-teman blogger, khususnya yang beraliran travel writer (btw memang ada ya aliran-aliran blogger, hehe), ada info menarik nih dari AirAsia Indonesia, yang sayang banget jika dilewatkan. Ini dia poster pengumumannya:

Poster pengumuman Kompetisi Blog AirAsia

Berikut ini informasi lebih detailnya yang aku kutip dari link bit.ly/airasiablogcompetition2014

—————————————————————————————-

Mimpi berpetualang ke Himalaya, Nepal?
Mengeksplor peninggalan sejarah yang unik di Penang?
Atau bersantai di pantai eksotis yang ada di Pulau Dewata, Bali?

Ikuti kompetisi blog 10 tahun AirAsia Indonesia

Tema: “Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?”

Hadiah:
· Juara Pertama Piala dan Piagam + 2 Tiket PP ke Nepal, uang saku Rp 10 juta, dan akomodasi (5 hari 4 malam)
· Juara Kedua Piala dan Piagam + 2 Tiket PP ke Penang, uang saku Rp 7,5 juta, dan akomodasi (4 hari 3 malam)
· Juara Ketiga Piala dan Piagam + 2 Tiket PP ke Bali, uang saku Rp 5 juta, dan akomodasi (3 hari 2 malam)

Periode: 1 Juli – 31 Agustus 2014

Syarat & Ketentuan:
· Kompetisi terbuka untuk umum, Warga Negara Indonesia (WNI), usia 18 sampai 55 tahun
· Kontestan wajib memiliki Blog, Facebook, dan Twitter
· Tulisan harus karya sendiri dan tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan kekerasan
· Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
· Panjang tulisan minimal 500 kata maksimal 1000 kata yang sudah diposting di dalam blog
· Kontestan wajib mengirimkan biodata (Nama, No. KTP/passport, Nomor HP, Alamat email, Alamat blog) beserta tulisan
· Tulisan dikirim ke AABC_ID@airasia.com, jangan lupa cantumkan biodata di body email plus link tulisan
· Kontestan boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan
· Kontestan wajib follow  social media AirAsia Indonesia, www.facebook.com/AirAsiaIndonesia dan www.twitter.com/AirAsiaID, serta blog dan social media Trinity, www.naked-traveler.comwww.facebook.com/TrinityTraveler, dan www.twitter.com/TrinityTraveler
· Tulisan yang dikirimkan akan menjadi milik AirAsia Indonesia
· Kompetisi ini tertutup untuk karyawan AirAsia Indonesia dan keluarga
· Untuk pertanyaan lebih lanjut, silakan tulis komen di notes pada link bit.ly/airasiablogcompetition2014
· Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang

Juri:
· Trinity (Blogger & Travel Writer)
· Tim AirAsia Indonesia

Tulis, sebarkan, dan wujudkan mimpi petualanganmu sekarang juga!

—————————————————————————————-

Menarik nih hadiahnya. Apalagi Nepal dengan Himalaya-nya ada di dalam travel bucket list-ku. Coba aja ah, siapa tahu beruntung. 😀