Monthly Archives: March 2011

Pertandingan Spektakuler Bayern Munchen vs Inter Milan

Baru kali ini aku menulis tentang sepak bola di blog ini. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak menulis tentang pertandingan luar biasa yang satu ini. Semalam aku baru saja menonton pertandingan yang sungguh spektakuler menurutku, antara Bayern Munchen melawan Inter Milan. Nggak sia-sia aku emenontonnya secara langsung melalui streaming. Agak kesal juga ketika aku bangun ternyata baru menyadari bahwa RCTI nggak menyiarkan pertandingan ini seperti pada partai pertama, malah menyiarkan pertandingan Manchester United (MU) vs Marseille yang menurutku sudah hampir pasti 95% diambil oleh MU.

Ada banyak kata kunci untuk menggambarkan pertandingan yang spektakuler ini: kesabaran, konsentrasi, pantang menyerah, dan keberuntungan. Bagaimana tidak, setelah unggul 1-0 melalui gol cepat Samuel Eto’o (poacher sejati yang pernah kulihat), Inter dibombardir terus menerus oleh Bayern Munchen hingga terjadilah blunder yang dilakukan oleh Julio Cesar melalui skema yang nyaris persis dengan gol telat Bayern pada partai pertama di Milan. Setelah gol Bayern itu, pemain Inter tampak down sehingga selanjutnya pertahanan mereka begitu mudahnya ditembus oleh barisan penyerang Bayern.

Gol kedua datang tidak lama setelah gol pertama. Lagi-lagi terjadi karena kesalahan barisan belakang Inter Milan. Pemain Inter tampak sangat terpukul dengan gol kedua ini. Setidaknya dua gol harus mereka ceploskan agar bisa lolos ke babak berikutnya. Suatu misi yang sangat sulit mengingat Inter begitu susah menembus barikade Bayern. Konsentrasi yang hilang setelah kebobolan 2 gol itu tampaknya masih dialami pemain Inter. Buktinya, berturut-turut Bayern mendapatkan beberapa peluang bersih yang seharusnya menjadi gol, terutama kesempatan Ribery saat berhadapan satu lawan satu dengan Julio Cesar.

Nah, di situlah titik baliknya menurutku. Pemain inter menjadi yakin bahwa peluang lolos itu masih hidup setelah Bayern beberapa kali gagal mencetak gol. Akhirnya, dengan usaha pantang menyerah, Inter dapat menambah 2 gol melalui Sneijder dan Pandev. Keduanya tercipta melalui skema kerja sama yang sangat apik. Inter pun akhirnya menang 3-2 dan secara agregat skor adalah 3-3 dengan Inter sebagai pemenangnya karena keuntungan gol tandang.

Gol emas Pandev

Gol emas Pandev

Sungguh kemenangan paling dramatis yang pernah kulihat setelah pertandingan Bayern Munchen vs Manchester United 1-2 (Final UCL 1999), Belanda vs Italia adu penalti 1-3 (Semifinal Euro 2000), Perancis vs Italia 2-1 (Final Euro 2000), Korea Selatan vs Italia 2-1 (16 besar Piala Dunia 2002), dan Jerman vs Italia 0-2 (Semifinal Piala Dunia 2006). Jangan heran kalau semuanya melibatkan Italia, soalnya saya memang fans tim Italia, hehehe. Kalau klub, saya fans Inter Milan :D. Sebenarnya ada banyak pertandingan lain yang dramatis juga, tapi yang pernah kutonton dan kuingat ya itu.

“]Final UCL 1999 MU vs Bayern Munchen 2-1 (livesoccertv.com)

Final UCL 1999 MU vs Bayern Munchen 2-1 (livesoccertv.com)

 

Adu penalti Belanda vs Italia 1-3 Semifinal Euro 2000 (rediff.com)

Adu penalti Belanda vs Italia 1-3 Semifinal Euro 2000 (rediff.com)

 

Trezeguet's golden goal, France vs Italy 2-1 in Euro 2000 Final (SportWebMedia's Flickr)

Trezeguet's golden goal, France vs Italy 2-1 in Euro 2000 Final (SportWebMedia's Flickr)

 

Gol kemenangan Ahn Jung Hwan Korea vs Italia 2-1 Perdelapan Final WC 2002 (skysports.com)

Gol kemenangan Ahn Jung Hwan Korea vs Italia 2-1 Perdelapan Final WC 2002 (skysports.com)

 

Gol Del Piero, Jerman vs Italia 0-2, Semifinal WC 2006 (Reuters)

Gol Del Piero, Jerman vs Italia 0-2, Semifinal WC 2006 (Reuters)

[Keamanan Informasi] Aplikasi Rentan Akibat Buffer Overflow

Masih seputar tugas mata kuliah Keamanan Informasi. Kali ini deskripsi tugas yang diberikan oleh Pak Budi Rahardjo adalah sebagai berikut:

Anda bisa memilih salah satu dari tugas ini:

1. Anda diminta untuk membuat aplikasi yang rentan dan bermasalah dengan out of bound array (buffer overflow). Misalnya aplikasi meminta pengguna memasukkan nama dengan panjang tertentu tetapi Anda memasukkannya dengan teks diluar batas tersebut. Tunjukkan bahwa program Anda crash dan memiliki potensi celah keamanan (misal jatuh ke root prompt)
2. Anda membuat aplikasi yang menguju aplikasi lain untuk potensi out of bound array tersebut. Misalnya, aplikasi Anda membuat (generate) teks yang panjang untuk dimasukkan ke form (pada aplikasi berbasis web), atau aplikasi Anda memberik teks yang aneh-aneh (fuzzer).

Dari kedua opsi itu, saya memilih opsi nomor dua karena merasa lebih mudah dan cepat dalam mengkodingnya, hehehe. Aplikasi saya buat dengan menggunakan Microsoft Visual C# 2010. Sebenarnya tidak ada yang istimewa pada aplikasi yang saya buat ini. Secara umum, fungsi aplikasi ini adalah membangkitkan teks sesuai dengan jumlah karakter yang dimasukkan oleh pengguna. Perlu dicatat, teks yang dibangkitkan bertipe alfanumerik (0-9, A-Z, a-z,ย !@#%^&*() etc…). Dalam aplikasi ini juga ada fungsi “copy to clipboard” yang akan memudahkan pengguna untuk menyalin teks yang dibangkitkan dengan cukup sekali klik. Setelah itu, pengguna cukup tekan Ctrl+v untuk mem-paste teks tersebut ke dalam suatu form.

Aplikasi tersebut saya beri nama “TextGen”. Berikut ini tampilan aplikasi yang saya buat:

Tampilan aplikasi (idle)

Tampilan aplikasi (idle)

Oke, sekarang saya akan jelaskan satu persatu antarmuka aplikasi itu. Textbox yang berada di samping label “Text length” itu adalah untuk memasukkan panjang teks yang kita inginkan (jumlah karakter). Tombol “GENERATE!” jika diklik akan menghasilkan teks dengan panjang sesuai masukan pada textbox yang pertama saya sebutkan tadi dan akan ditampilkan dalam textarea yang berada di bawah label “Output“. Pada saat bersamaan, tombol “COPY TO CLIPBOARD” dan “CLEAR” akan aktif. Tombol “COPY TO CLIPBOARD” jika diklik, akan menyalin teks pada textarea ke dalam memori dan siap di-paste di tempat manapun. Sedangkan tombol “CLEAR” jika diklik, akan membersihkan textarea dari teks.

Pengujian

Nah, sekarang saatnya untuk menguji suatu website untuk melihat sejauh apa ketangguhan website tersebut dalam mengatasi masalah out of bond array. Sasaran pertama saya adalah website yang sudah pasti sering kita buka, yaitu Google. Ini dia hasil pengujian saya dengan memasukkan input teks dengan berbagai variasi panjangnya ke dalam kotak pencarian, mulai dari 100 hingga 1.000.000.000!

1) 100 karakter

Dengan input sepanjang 100 karakter ternyata Google masih sanggup memprosesnya dengan tetap melakukan pencarian ke dalam koleksi dokumen mereka.

3) 750 karakter

Hasilnya masih sama dengan yang masukan 100 karakter. Google masih memprosesnya. Hanya saja kali ini ada pesan tambahan. Google hanya memproses maksimal 32 query saja. Terkait pesan yang satu ini terus terang saya baru tahu. Dari 750 karakter yang saya masukkan itu ternyata terdapat lebih dari 32 kata.

4) 1500 karakter

Kali ini Google sudah benar-benar tidak memproses query yang saya masukkan sepanjang 1500 karakter. Setelah saya coba kecilkan lagi, yakni sebesar 1000 karakter, ternyata Google tetap tidak memprosesnya. Pesan yang ditampilkannya adalah “Request-URI Too Large”.

5) 20.000 karakter

Kali ini pesannya berbeda meskipun sama-sama tidak diproses oleh Google. Pesan yang ditampilkan adalah “Request Entity Too Large”. Saya sendiri tidak paham apa bedanya dengan pesan “Request-URI Too large”.Saya mencobanya lagi untuk masukan hingga 100.000 karakter hasilnya tetap demikian. Salut, Google ternyata sudah siap untuk menangani kasus yang seperti ini.

6) 1.000.000 karakter

membangkitkan 1000000 karakter

membangkitkan 1000000 karakter

Terakhir, saya iseng mencoba memasukkan teks sepanjang 1000000 karakter ke dalam kotak pencarian Google. Ternyata pesan yang ditampilkan browser saya adalah “The connection was reset”. Tampaknya, jaringan saya tidak kuat dalam mengirimkan paket data sebesar itu. Akhirnya sampai terjadi time out seperti itu. Saya coba turunkan hingga 200.000 karakter ternyata memang hasilnya selalu itu. Sepertinya, memang masalah kapasitas pengirimannya yang terbatas.

Google tampaknya memang tangguh. Input sepanjang apapun dapat dia tangani dan dia cegah agar tidak terjadi error pada websitenya. Saya pun jadinya masih tetap penasaran. Saya coba situs lain, yakni sebuah situs forum terkemuka di Indonesia. Saya coba masukkan teks hingga sepanjang 10.000 karakter, situs tersebut masih tetap mampu menangani. Namun, ketika saya masukkan sebanyak 20.000 karakter situs itu menampilkan pesan error seperti ini:

Oke, cukup sudah pengujiannya. ๐Ÿ˜€ Bagi yang mungkin tertarik untuk mencoba memakai aplikasi sederhana ini (siapa tahu), saya sediakan source code dan file binarynya di sini (unduh dan ubah ekstensi filenya menjadi zip):

TextGen-bin

TextGen-src

Keterangan: Aktivitas yang saya uraikan dalam tulisan ini hanya untuk kepentingan tugas kuliah semata, tidak ada maksud jahat atau apapun. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin saya timbulkan karena perbuatan saya.

[Keamanan Informasi] Port Scanning

Berikut ini adalah deskripsi tugas kuliah Keamanan Informasi berkaitan dengan port scanning:

Anda diminta untuk menggunakan program sniffer (seperti tcpdump, wireshark, dan sejenisnya) untuk memantau jaringan dan menunjukkan adanya port scanning.

Hint:

  1. Jalankan tcpdump/wireshark di sebuah komputer (misal IP 192.168.1.7) dan monitor paket yang menuju ke komputer tersebut (dst 192.168.1.7)
  2. Gunakan nmap di komputer lain untuk melakukan port scanning ke 192.168.1.7
  3. Simpan hasil capture dari tcpdump dan tunjukkan mana aktivitas port scanning

Dalam tugas yang saya kerjakan, saya menggunakan aplikasi Wireshark untuk menangkap (capture) paket yang masuk dan keluar dari komputer saya. Oiya, IP komputer saya dalam kasus ini adalah 192.168.1.101. Sedangkan tool yang saya gunakan untuk melakukan port scanning adalah Zenmap.

Oke, sekarang langkah pertama yang saya lakukan adalah menjalankan fungsi capture pada wireshark untuk menangkap paket yang keluar masuk melalui interface LAN saya. Kemudian, fungsi capture itu saya filter dengan ekspresi “ip.dst == 192.168.1.101” dengan tujuan untuk melihat paket yang masuk ke komputer saya saja.

Filter Wireshark dengan IP destination ke 192.168.1.101

Filter Wireshark dengan IP destination ke 192.168.1.101

Selanjutnya, dari komputer lain (IP: 192.168.1.111) saya melakukan port scanning (nmap) ke komputer saya (IP: 192.168.101) dengan menggunakan tool Zenmap tadi.

Port scanning

Port scanning

Setelah itu, saya melihat hasil capture pada Wireshark di komputer saya:

Paket port scanning yang masuk

Paket port scanning yang masuk

Untuk lebih jelasnya, kemudian saya coba periksa port scanning yang dilakukan terhadap port 80. Baris yang diblok warna biru menunjukkan aktivitas port scanning yang dilakukan oleh host 192.168.1.111 terhadap 192.168.1.101 (komputer saya):

paket port scanning port 80

paket port scanning port 80

Yup, demikian tugas Keamanan Informasi kali ini yang saya kerjakan. ๐Ÿ˜€

Saya Ingin Lanjut Kuliah Ke Luar Negeri

Hahaha… sesuai judulnya, ada kata-kata “ingin”, artinya saya memang masih belum tahu apakah bakal kesampaian untuk kuliah ke sana. Tapi saat saya menulis ini, saya mulai memantapkan niat untuk melangkah ke sana. Yak, terus terang awalnya tak ada bayangan dari saya untuk melanjutkan kuliah S2. Yang terbayang adalah ingin lulus S1 lalu mendapatkan pekerjaan yang layak atau bikin start up company bersama teman-teman dan mendapatkan gaji yang tinggi untuk menghidupi keluarga saya kelak (hahaha…).

Tapi perspektif berpikir saya mulai berubah setelah (lebih tepatnya sedang) menjalani Tugas Akhir (TA) di tingkat terakhir ini. Adalah dosen pembimbing saya yang mengatakan bahwa kalau saya mau serius mengerjakan TA saya ini, TA saya itu dapat berguna untuk melanjutkan S2 di luar negeri. Beliau menceritakan itu karena memang beliau sudah pengalaman (beliau S3 di JKU Linz-Austria). Ketika saya mendengar itu pertama kali, saya merasa biasa-biasa saja, sampai akhirnya saya mulai mengerjakan TA dan banyak membaca paper-paper dari luar negeri sebagai bahan TA saya. Saya mulai berpikir, “Wah, asyik juga ya kalau bisa melakukan riset seperti ini. Saya bisa memberikan sesuatu yang kontributif untuk masyarakat banyak.” Terus terang saya kagum dengan banyaknya riset yang ada di luar negeri. Bahkan, untuk topik TA yang saya ambil, banyak juga paper dari Vietnam yang saya peroleh dari internet. Selain itu banyak juga paper yang saya baca juga berasal dari negara-negara Eropa Timur, seperti Bulgaria dan Republik Ceko. Dari sini saya melihat dunia riset di negara-negara berkembang ternyata sangat banyak juga. Ayo, Indonesia jangan mau kalah… ๐Ÿ˜€

Kembali lagi ke perihal lanjut S2. Entah kenapa tiba-tiba saya memilih untuk berusaha mengambil S2 di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Daejeon, Korea Selatan. Mungkin karena topik TA yang saya ambil serupa dengan salah seorang kakak angkatan yang saat ini sedang mengambil S2 di KAIST sana, hehehe.

Saya pun banyak berdiskusi dengan dia mengenai perkuliahan di sana dan bagaimana kehidupan di Daejeon sana, terutama bagi seorang muslim seperti saya ini. Ternyata, menurut dia, boleh dibilang perguruan tinggi di luar negeri yang sangat kondusif bagi mahasiswa muslim itu ya di KAIST itu. Di sana ada Mushola yang disediakan dalam kampus, makanan halal juga tidak susah diperoleh, sholat Jumat juga mudah karena hanya berjarak 15 menit dari Islamic Center of Daejeon (ICD). Biaya hidup di sana juga tergolong sangat murah. Dari 900 ribu won yang dia terima dari beasiswa perbulannya (1 won = Rp 9) katanya dia cuma menghabiskan 300 ribu won saja.

Sisi lain Daejeon, di sana juga banyak tempat-tempat riset perusahaan multi nasional seperti Samsung, LG, Hyundai, dll. Bisa dibilang Daejeon itu sillicon valley-nya Korea, kata dia. Kayak Bandung mungkin ya, dengan ITB salah satu di dalamnya :D.

Mendengar cerita dari kakak itu tentang KAIST, potensi, peluang, dan kehidupan di sana membuat saya semakin mantap untuk berusaha agar bisa kuliah di sana. Tapi jauh sebelum itu harus saya selesaikan dulu TA saya ini, hehehe. Apalagi, yang dibilang dosen pembimbing saya (seperti yang saya sebutkan di awal) ternyata memang benar. TA dia sewaktu masih S1 dulu ternyata menjadi pertimbangan profesor di sana untuk bisa diterima di KAIST.

Tulisan ini saya buat bukan untuk menyombongkan diri (memang apanya yang mau disombongkan? :D), melainkan untuk pemacu diri saya saja dan siapa tahu ada teman-teman yang sudah kuliah di luar negeri (syukur kalau alumni KAIST) mau share juga kepada saya. Bagi saya, cita-cita memang harus tinggi, karena usaha kita akan berbanding lurus dengan tingginya cita-cita yang kita canangkan. Dulu saya sewaktu SMA bercita-cita masuk ITB, saya buka webnya, dan hal yang paling banyak saya lakukan saat browsing itu cuma melihat foto-foto kampus dan kehidupan di dalamnya. Tujuannya sih supaya di otak saya saat itu berpikir “ITB, ITB, ITB, dan ITB”, hahaha. Belajar pun jadi semangat. Makanya saya sisipin foto KAIST di tulisan ini juga, hehehe. Bismillahirrahmanirrahim, yang penting TA dulu! ๐Ÿ˜€

KAIST (source: apec-smeic.org)

KAIST (source: apec-smeic.org)


Android Bootcamp di ITB

Hari Jumat kemarin (4/3/2011) Indosat Mega Media (IM2) mengadakan sebuah kegiatan yang diberi tajuk “Android Bootcamp” bertempat di gedung Aula Barat ITB. Kegiatan “Android Bootcamp” ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian sosialisasi kompetisi Android Application Contest 2011 yang diadakan oleh IM2 yang secara resmi dibuka sejak tanggal 15 Desember 2010 yang lalu (wah, aku baru tahunya sekarang). Kompetisi itu akan dilangsungkan hingga penutupan pengumpulan aplikasi pada tanggal 15 Juni 2011 atau tepat 6 bulan sejak dibuka. Selain sosialisasi kompetisi Android Application Contest, pada kegiatan itu juga diberikan training membuat aplikasi Android oleh trainer Ruly Hasibuan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8.55 ketika aku masuk ke Aula Barat. Saat itu, para peserta training sedang diarahkan untuk memasang aplikasi IDE Eclipse dan Android SDK ke laptop masing-masing. Untung aku sudah pernah menginstal sebelumnya. Tapi akhirnya aku menginstal juga Android SDK yang diberikan panitia karena ternyata punya mereka lebih lengkap. Bayangkan, ukurannya saja sampai 2 GB lebih, sudah mencakup seluruh SDK mulai Android 1.1 sampai 3.0 (Honeycomb). Sementara di laptopku baru kupasang yang Android 2.2 saja.

Sekitar pukul 10 kurang, acara resmi dibuka oleh salah seorang perwakilan pejabat IM2. Kemudian acara langsung dilanjutkan dengan training Android untuk kelas beginner. Awal-awal dijelaskan langkah per langkah mulai dari cara membuat projek Android baru di IDE Eclipse, komponen-komponen apa saja yang terdapat di file projek itu, serta dituntun pula membuat aplikasi Android sederhana HelloWorld. Pada training pertama ini para peserta memang diasumsikan sebagai beginner. Karena itu, materinya pun masih sangat dasar. Training sesi pertama berakhir menjelang waktu sholat Jumat.

Setelah break sholat Jumat, peserta disuguhkan makan siang prasmanan (masih) di Aula Barat. Alhamdulillah… jarang-jarang aku bisa makan banyak (dan gratis lagi) ini selama jadi anak kosan :D. Pukul dua siang kurang acara dilanjutkan kembali.

Peserta Android Bootcamp

Peserta Android Bootcamp

Kali ini acara menginjak pada sesi “seminar”. Acara dibuka dengan sambutan Pak Suhono, Kepala Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB. Salah satu quote dari beliau yang aku catat adalah “Inovasi berbeda dengan kreativitas. Inovasi adalah kreativitas yang menghasilkan impact bagi lingkungan di sekitarnya”. Dengan kata lain, kreativitas yang tidak memiliki impact positif, tidak bisa disebut sebagai “inovasi”.

Berikutnya, Pak Rinaldi Munir juga tidak ketinggalan memberikan sambutannya dalam acara itu. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwasannya Bandung ini adalah pusat industri kreatif. Tidak hanya seni, tetapi perusahaan-perusahaan IT atau software house pun banyak terdapat di Bandung ini.

Pak Hermanudin, Business Planning Development General Manager IM2, yang mendapat giliran bicara setelah Pak Rinaldi, pada kesempatan itu mengajak peserta training untuk berbisnis di internet dengan aplikasi Android. Beliau menjelaskan mekanisme bagaimana seorang developer mendapatkan uang dari aplikasi yang dibuatnya. Kalau aplikasi berbayar, tentu kita sudah paham bahwa si developer akan mendapatkan uang dari user yang membeli aplikasinya. Nah, kalau aplikasi gratis? Ternyata si developer juga bisa tetap memperoleh pemasukan meskipun dia melepas aplikasinya secara gratis. Caranya? Pasang iklan. Salah satunya bisa dengan menggunakan Google AdMob. Lalu bagaimana dengan pemasarannya? Dalam kesempatan itu pula beliau sambil berpromosi menyebutkan bahwa IM2 memberikan peluang bagi para developer untuk memasarkan aplikasinya dengan mengunggahnya ke situs application market buatan IM2 yang diberi nama “I-Store” (mirip android market) secara gratis.

Selain menjelaskan peluang bisnis bagi para developer, beliau juga menyinggung mengenai Android Application Contest 2011 yang diadakan oleh IM2. Beliau menjelaskan dengan cukup detail mengenai pelaksanaan kompetisi itu, termasuk besarnya hadiah dan sistem penilaiannya.

Menyambung isi seminar yang disampaikan Pak Hermanudin mengenai Google AdMob, berbicara juga pada kesempatan itu, perwakilan dari Google AdMob, Leonard Agustinus, yang menyampaikan lebih detail mengenai Google AdMob itu. Intinya sih, kalau kita ingin memasang iklan di aplikasi Android kita, kita tinggal unduh saja Google AdMob SDK lalu mengintegrasikan code iklannya ke aplikasi kita. Uang yang kita peroleh sebanding dengan banyaknya user yang mengklik iklan tersebut dari aplikasi kita. Di samping menjelaskan mengenai Google AdMob, Leonard juga memberikan tips untuk meningkatkan daya jual aplikasi kita. Caranya antara lain pasang iklan mengenai aplikasi kita atau membuat situs khusus untuk aplikasi kita (official site). Cara itu setidaknya dapat membuat aplikasi kita get discovered, yaitu orang lain tahu mengenai aplikasi kita.

Berikutnya giliran Arif Burhan, mewakili Forum Android Indonesia, berbicara mengenai Forum Android Indonesia dan mengajak peserta Android Bootcamp yang hadir pada saat itu untuk bergabung ke dalam forum yang beralamat di http://www.android-indonesia.com itu. Pada kesempatan itu, Arif juga menyampaikan mengenai perkembangan Android beserta pertumbuhan penjualan handsethandset yang mengusung OS Android dibandingkan handset lain.

Terakhir, Ibnu Sina, owner dari GITS Indonesia yang juga alumni IF ITB angkatan 2005 itu, menyampaikan testimonialnya mengenai pengalaman selama menjadi developer Android, khususnya dari segi bisnis. Dalam kesempatan itu mas Ibnu membagi tips-tips membuat aplikasi yang banyak diminati dan cara-cara mendapatkan pemasukan dari aplikasi yang dibuat itu. Aplikasi yang laris itu adalah aplikasi yang secara tepat dalam memenuhi kebutuhan user dan memiliki desain user interface yang menarik. Sementara itu, mengenai tips mendapatkan pemasukan dari aplikasi yang kita buat, selain Google AdMob, bisa dilakukan juga dengan cara bekerja sama dengan perusahaan yang memang membutuhkan aplikasi. Maksudnya, kita bisa membuatkan suatu aplikasi sesuai permintaan suatu perusahaan dan aplikasi itu kemudian dibeli oleh perusahaan tersebut. Namun, bisa juga kita membuat suatu aplikasi yang akan dilempar ke market, tetapi kita juga menawarkan kepada perusahaan untuk mencantumkan perusahaan tersebut di aplikasi kita (sebagai sarana promosi perusahaan tersebut). Sebagai contoh, aplikasi Toresto yang dibuat oleh GITS, yaitu sebuah aplikasi yang menyajikan tempat-tempat kuliner di Kota Bandung. Restoran atau tempat makan yang ingin ditampilkan dalam aplikasi itu tentunya akan membayar GITS karena membantu mereka dalam hal promosi/iklan.

Sesi seminar Android Bootcamp

Sesi seminar Android Bootcamp

Sesi seminar atau talk show itu kira-kira berlangsung hingga dua jam. Sesi training kedua yang seharusnya dijadwalkan pada pukul 15.00 pun akhirnya molor hingga pukul 4 sore lebih. Terpaksa training sesi II yang diperuntukkan untuk tingkat intermediate itu pun terpotong waktunya. Tidak banyak yang bisa disampaikan oleh Ruly dalam waktu sesingkat itu. Akhirnya, pukul 17.15 tepat sesi training Android dalam kegiatan ini berakhir.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian door prize untuk para peserta. Acara pembagian door prize ini menandai berakhirnya kegiatan Android Bootcamp pada hari itu.

Dengan adanya acara ini aku sendiri terus terang banyak mendapatkan wawasan baru. Yang jadi poin utamaku dari acara ini adalah sekarang aku jadi paham mengenai aktivitas bisnis aplikasi mobile seperti aplikasi Android itu. Khususnya, mengenai bagaimana seorang developer mendapatkan pemasukan dari aplikasi yang dibuatnya. Setelah mengikuti acara ini, tampaknya aku jadi tertarik juga untuk berkecimpung di dunia aplikasi mobile, khususnya aplikasi Android, hehehe. Handset (Alhamdulillah) sudah punya. Sekarang saatnya tidak cuma menjadi pengguna aplikasi Android, tetapi juga menjadi pembuatnya. ๐Ÿ˜€

Kompetisi Android Application Contest 2010

Dua Puluh Dua Tahun

Dua puluh dua tahun aku berdiri
Dua puluh dua tahun adalah pertanda kedewasaan diri

Panjangnya usia tiada guna
Jika tak memberikan inovasi
Panjangnya usia sungguh durhaka
Jika tak mengabdi dan berbakti
Panjangnya usia kan sia-sia
Jika tak beribadah kepada Ilahi

Alangkah syukurnya diri ini
Mendapat kesempatan dari Ilahi tuk bernafas hingga detik ini
Alangkah sedihnya diri ini
Sangat sedikit amal kebajikan dan kontribusi di kehidupan ini

Sisa hidup tiada yang tahu selain Sang Mahakuasa
Detik demi detik waktu sungguh berharga
Tuk goreskan tinta di kehidupan dunia

[Dhito – 4 Maret 2011]

Selamat Ulang Tahun ke-52 Kampus ITB-ku!

Hari ini tepat tanggal 2 Maret 2011 adalah hari ulang tahun ke-52 kampus ITB. Kalau kita kurangi tahun ini dengan angka 52, artinya ITB lahir atau berdiri pada tahun 1959. Akan tetapi, sebenarnya sebelum itu, kampus ITB ini sudah berdiri. Hanya saja namanya memang bukan Institu Teknologi Bandung seperti sekarang. Ketika itu, “ITB” dibangun oleh penguasa saat itu (Belanda) dalam rangka memenuhi tenaga teknik yang dibutuhkan mereka. Kampus itu diberi nama De Techniche Hoogeschool te Bandung yang didirikan tanggal 3 Juli 1920. Namun, pada tanggal 2 Maret 1959 dengan didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan serta wawasan ke masa depan, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung (ITB). (Sumber: http://www.itb.ac.id/about-itb/)

Yak, di kesempatan ini mungkin aku cuma ingin mengucapkan saja “Selamat Ulang Tahun ITB”, semoga semakin jaya ke depannya dan terus bisa berkontribusi untuk perkembangan bangsa Indonesia ini. Syukur Alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan untuk dapat berkuliah di kampus Gajah ini. Semoga aku pun juga dapat menjadi bagian dari kontribusi yang diberikan ITB untuk bangsa ini. Amin.

Depan Kampus ITB (Januari 2008)

Depan Kampus ITB (Januari 2008)