Monthly Archives: February 2011

Ronda-Ronda!

Ada kebijakan baru di lingkungan RT tempat aku ngontrak sekarang. Kabarnya kebijakan baru itu datangnya dari ketua RW dan diteruskan ke RT-RT di bawahnya. Kebijakan apa itu? Kebijakan itu adalah penggalakan kembali program Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Aku dan teman-teman pun menyambut baik program itu karena berharap dengan adanya siskamling di lingkungan kami, lingkungan kami menjadi lebih aman. Kontrakan kami sendiri pernah menjadi korban pencurian oleh maling. Laptop, handphone, dan sepatu berhasil digenggamnya.

Jadwal siskamling pun disusun. Nama kami ternyata belum terdaftar. Kami pun menunggu pemberitahuan lanjutan. Hingga akhirnya tadi malam, sekitar jam 11 malam lewat tiba-tiba ada seorang bapak datang bertamu ke kontrakan kami. Saat itu, aku sedang asyik

“Assalammu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku.

“Dik, sekarang dapet giliran ngeronda ya malem ini?” tanya beliau, tapi dengan nada seperti orang mengingatkan.

Terus terang, aku yang kebetulan menyambut Bapak itu jadi bingung sendiri. Apa benar sekarang kami dapat jadwal ronda, pikirku. Anak-anak sudah tidur lagi. Belum lagi aku ada tugas kuliah yang harus dikerjakan buat besoknya. Kalau ronda, bagaimana tugasku.

“Maaf Pak, kami belum dapat jadwal ronda sebelumnya.” jawabku terus terang.

“Lho, padahal anak saya yang ngantarkan lho dik.” kata bapak itu. “Tapi, di jadwal harusnya adik sekarang. Ya udah, coba saya tanya koordinator siskamlingnya dulu.”

Setelah itu, bapak tersebut meninggalkanku dan kembali ke tempat ronda. Namun, tak berapa lama kemudian bapak itu kembali sambil membawa lembar jadwal siskamling dengan nama kami sudah terdaftar di dalamnya.

“Dik, ini jadwalnya yang bener.” kata bapak itu sambil menyerahkan lembar jadwal siskamling kepadaku.

“Oh, jadi sekarang ya Pak rondanya?” tanyaku memastikan dan tanpa bapak itu menjawab pun aku sudah tahu jawabannya.

Awalnya aku sempat berpikir, bagaimana nih tugasku, masih belum selesai. Belum lagi, nantinya ada siaran langsung Liga Champions Inter vs Muenchen. Tiba-tiba terlintas di pikiranku ketika itu: Kapan lagi kesempatan bisa kumpul-kumpul dengan warga seperti ini dapat datang lagi. Aku pun langsung mengajak Wafi, satu-satunya penghuni kontrakan selain aku yang saat itu masih bangun malam itu (sekitar pukul 23.30), untuk ikut menemani aku ronda.

Sampai di tempat ronda, aku dan Wafi langsung berkenalan dengan bapak-bapak yang ada di sana, termasuk bapak yang “menjemput”-ku tadi. Parahnya kami, ternyata bapak yang “menjemput” kami itu tadi adalah Pak ketua RT yang baru. Oalah… 😀

Selain bapak-bapak, ternyata ada juga anak muda lainnya seperti kami, hehehe. Mereka ada dua orang, sama-sama berasal dari Medan. Namun, keduanya bukan mahasiswa ITB. Yang satu kuliah di salah satu kampus hukum di Kota Bandung ini, yang satunya lagi belum kuliah, tapi kerja jadi SPB di BIP.

Nah, yang anak hukum itu punya kakak kandung cewek yang ternyata adalah kakak angkatanku di Informatika. Yang bikin aku terkejut, ternyata kakaknya adalah istrinya kakak kelasku di SMA yang juga teman semasa kuliah kakaknya itu. Wow, what a small world!

Sepanjang malam itu, akhirnya kami berempat ngobrol-ngobrol panjang tiada habisnya. Banyak yang diobrolin. Kebetulan dia aktivis mahasiswa yang juga suka mengikuti berita-berita sosial dan politik, sama seperti aku juga (meskipun aku bukan aktivis :D). Kami pun nyambung ngobrol selama malam itu.

Akhirnya ronda diakhiri sekitar jam 4 subuh kurang. Asek… masih sempat nonton Inter vs Muenchen. Tapi sayangnya ternyata Inter kalah pada pertandingan dini hari itu, hihihi.

Aku ingin sedikit berkomentar tentang aktivitas ronda ini. Menurutku dengan dilibatkannya mahasiswa dalam siskamling di lingkungan warga ini sangat bagus. Mahasiswa sudah seharusnya tidak cuma “numpang” tempat tinggal di lingkungan barunya saja, tapi seharusnya juga berpartisipasi aktif dalam menjaga, khususnya kebersihan dan keamanan lingkungan sekitar dan yang paling penting adalah harus bersosialisasi juga kepada warga sekitar. Berdasarkan pengalaman dan pengamatanku sejak menetap di Bandung ini, khususnya daerah kos-kosan dekat kampus ITB ini, aku lihat mahasiswa cenderung kurang membaur dengan warga di sekitarnya. Entahlah apa penyebabnya. Bisa jadi karena kesibukan mahasiswanya atau mungkin warga tidak ingin merepotkan mahasiswa dalam kegiatan kampung mereka.

Tapi ada sisi nggak enaknya dengan ikut ronda ini. Bagi mahasiswa yang besoknya ada kuliah pagi tentu akan jadi mengantuk keesokan harinya di saat kuliah. Untuk itu, penentuan jadwal yang pas bisa jadi solusinya. Tetapi sebenarnya, bapak-bapak yang lain pun juga mengalami masalah yang sama. Mereka yang kerja kantoran, mungkin akan jadi kendala juga ronda itu untuk produktivitas di tempat kerjanya karena jadi mengantuk keesokan harinya. Aku sendiri beruntung semester ini kuliah sudah tidak terlalu padat. Makanya, ronda ini nggak kuanggap sebagai beban. Malah senang bisa berkumpul bareng warga lainnya. 😀

Mengapa Bangsa Asia Kalah Kreatif dari Bangsa Barat?

Lagi-lagi saya dapat info menarik dari Pak Rinaldi melalui note yang beliau tulis di Facebook yang kata beliau merupakan hasil share dari milis. Isinya tentang tulisan Profesor Ng Aik Kwang, owner dari The Idea Resort, pada buku yang dikarangnya, Why Asians Are Less Creative Than Westerners (2001), bercerita mengenai bagaimana paradigma yang terbentuk dan metode pendidikan di sebagian besar bangsa Asia yang menyebabkan mereka (kita lebih tepatnya ^_^) menjadi kalah kreatif dibandingkan bangsa Barat. Bukunya memang sudah lama (tahun2001), dan mungkin sudah banyak yang membacanya, tapi tidak ada salahnya saya share di sini juga karena ada seorang sahabat pernah berkata kepada saya: “Jangan pernah bosan untuk selalu menerima ilmu walaupun engkau sudah pernah mendengarnya 1000 kali, karena bisa jadi engkau akan benar-benar paham ketika mendengarnya untuk yang ke-1001 kali”.

Ini dia tulisan beliau yang cukup provokatif dan pantas untuk direnungkan:

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”. (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yg wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi.

Dari poin di atas saya paling suka dengan poin yang mengatakan “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun). Terus terang saya setuju sekali dengan pemikiran itu. Sejak pendidikan sekolah, kami dituntut untuk mengerti banyak hal, tapi tidak dituntut untuk menjadi master salah satunya. Namun, kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan kita sebenarnya dituntut untuk menjadi master di semua bidang. Hmm… suatu tuntutan yang mungkin boleh saya bilang tidak logis jika itu benar adanya.

Saya jadi teringat dengan wejangan yang diberikan Mas Narenda (baca di sini) saat kuliah tamu Kriptografi. Ketika itu, beliau mengatakan carilah bidang ilmu spesifik di ranah kita (Informatika) yang kita sukai dan jadilah “the best” di bidang itu. Kemudian, beliau mengambil contoh ada seseorang (saya lupa persisnya) yang sangat menguasai pemrograman low level yang bersentuhan dengan hardware di mana di dunia ini konon tidak ada orang yang sejago dia. Akhirnya, dia direkrut sebuah perusahaan di Jerman dan digaji dengan nominal yang sangat luar biasa (saya juga lupa berapa persisnya).

Apa yang bisa saya ambil dari kisah itu? Di bidang Informatika yang menurut kita (atau mungkin hanya saya saja :)) sudah spesifik, ternyata masih ada cabang ilmu yang jauh lebih spesifik lagi yang perlu saya gali lagi di mana sebenarnya keahlian dan passion saya. Dan sambil mencanangkan target: SAYA HARUS BISA MENJADI MASTER DI BIDANG ITU!

Serupa dengan pernyataan “Jack of all trades, but master of none”, saya juga jadi teringat omongan salah seorang dosen kuliah saya yang pernah mengenyam pendidikan di Australia dan Perancis. Setelah menjalani kehidupan di kedua negara itu, beliau menyadari ada perbedaan antara orang Indonesia dengan orang-orang di Barat itu yang cukup mencolok dalam hal melakukan suatu pekerjaan. Orang Indonesia cenderung suka melakukan pekerjaan secara multitasking. Mungkin seperti peribahasa: “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”. Padahal, ujung-ujungnya hasil yang diperoleh cuma setengah-setengah (tidak maksimal). Beda dengan orang Barat, yang ketika mengerjakan sesuatu, mereka akan benar-benar fokus dengan pekerjaan itu agar hasilnya maksimal.

Yah, ini hanya sekedar opini dari saya hasil kutipan dari dosen-dosen saya di kelas. Saya sendiri belum pernah pergi ke luar negeri. Jadi, sebenarnya saya tidak layak untuk membanding-bandingkan antara Indonesia, Asia, atau Barat. Tapi, jika ada yang lebih baik, kenapa kita tidak belajar dari mereka dan meninggalkan hal yang buruk itu?

Why Asians Are Less Creative Than Westerners

Serunya Arkavidia 2.0

Dua hari kemarin, Sabtu dan Ahad, 20 & 21 Februari 2011, himpunanku (HMIF) mengadakan sebuah acara besar bernama Arkavidia. Pada tahun 2011 ini acara itu merupakan penyelenggaraan kali kedua (makanya diberi tambahan “2.0”) setelah acara yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009. Ke depannya acara ini memang akan dijadikan trade mark acara besar HMIF ITB yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali.

Banyak kegiatan dan stand yang diadakan pada Arkavidia 2.0 kali ini. Di antaranya ada seminar, career day, Gerakan Seribu Jari (GSJ), lomba-lomba, stand kuliner, dan music performance. Untuk tahu lebih jelasnya tentang acara-acara tersebut bisa baca langsung saja di situs officialnya Arkavidia di www.arkavidia.net. Mudah-mudahan waktu Anda membaca tulisan ini, situs tersebut masih online :D.

Suasana rapat akbar H-1

Suasana rapat akbar H-1

Dalam acara Arkavidia ini aku juga ikut ambil bagian dalam kepanitiaan, tepatnya di dalam divisi perizinan, di bawah asuhan Fikran Faris Utomo sebagai katua divisinya. Sebagai staf perizinan aku turut merasakan repotnya mengurus perizinan dalam penyelenggaraan acara di kampus ITB ini. Sebenarnya nggak repot juga sih, hanya saja karena beberapa divisi lain agak telat dalam menghubungi divisi perizinan dalam meminta tolong untuk menguruskan surat perizinan ke Lembaga Kemahasiswaan (L*K) dan unit Keamanan, Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (K*3L) ITB, akhirnya terpaksa beberapa hari terakhir aku dan Fikran sampai nglembur ngurusin keluarnya surat izin itu. Bagaimana tidak, bahkan permohonan surat izin yang terakhir kami masukkan itu baru dilakukan pada H-2. Padahal pemrosesan surat di L*K setidaknya membutuhkan waktu 4 hari. Makanya kami dan beberapa pegawai L*K terpaksa nglembur hingga malam penyelenggaraan untuk mengurusi perizinan itu. Hihihi.

Di hari H-nya, yaitu Sabtu dan Minggu, aku tidak bisa banyak turut berpartisipasi karena ada acara lain juga yang kebetulan dilaksanakan pada kedua hari itu. Hari Sabtu aku ada kuliah studium generale hingga pukul 11.30. Jam 12 siang aku baru bisa mengikuti acara Arkavidia. Di acara Arkavidia itu aku mengikuti acara career day yang bertempat di Aula Barat, melihat-lihat lowongan-lowongan pekerjaan atau mencari tahu jenis-jenis pekerjaan yang ada di perusahaan-perusahaan IT yang terlibat di career day Arkavidia itu. Selain itu, aku juga turut serta dalam kegiatan mengetik yang disebut Gerakan Seribu Jari di mana hasil ketikan kita itu akan dikirim ke sebuah lembaga yang akan mencetak sebuah buku dalam huruf braille untuk saudara-saudara kita yang tuna netra. Hal lain yang tak ketinggalan untuk kunikmati dalam acara Arkavidia ini adalah stand kulinernya yang menyuguhkan berbagai aneka jajanan dan makanan lainnya. Sambil menikmati jajanan yang dibeli, aku bersama teman-teman yang lain duduk menikmati pula performance musik dari teman-teman HMIF.

Suasana gerakan seribu jari

Suasana gerakan seribu jari

Di hari Minggu-nya aku juga tidak bisa ikut dari pagi karena ada latihan wing chun. Baru bisa datang ke acara sekitar siangan jam 2. Suasana lapangan tempat panggung utama Arkavidia sudah ramai saja saat aku ke sana. Apalagi kalau bukan duduk menunggu tampilnya Mocca di acara penutupan Arkavidia 2.0 ini. Sebelum itu, ada pengumuman mengenai para pemenang 3 jenis lomba yang diadakan pada Arkavidia. Yang aku ingat sayangnya cuma juara satunya saja. Untuk lomba Programming, pemenangnya dari SMA BPK Penabur Bandung. Lomba innovation contest, dimenangkan oleh siswa dari SMAN 3 Yogyakarta. Dan lomba system design competition dimenangkan oleh mahasiswa ITS Surabaya.

Setelah pengumuman pemenang lomba-lomba dan pembagian door prize kepada pengunjung, acara pun secara resmi ditutup. Sebagai penutup rangkaian acara Arkavidia 2.0 ini, dihadirkanlah band Mocca untuk tampil menghibur pengunjung dan panitia Arkavidia 2.0 yang telah memenuhi lapangan CC kala itu. Tampaknya kepanitiaan di Arkavidia ini adalah yang terakhir aku ikuti selama kuliah di kampus ITB, hehehe.

Performance Band Mocca

Performance Band Mocca

Penjelasan Resmi dari Kepala K3L ITB Soal Pembakaran Kampus

Sore ini ketika aku lagi membuka facebook, tiba-tiba ada postingan note dari akun Pak Rinaldi Munir, dosen Informatika ITB, yang sepertinya diperoleh dari milis dosen yang isinya kurang lebih semacam klarifikasi resmi dari rektorat, yang disampaikan oleh Ketua UPT K3L ITB.

Berikut ini isinya:

Bapak2 dan Ibu2 dosen yth,

Kami sampaikan kronologis kejadian yng sebenarnya:

1 ) Pada hari Rabu tanggal. 16 Februari 2011 pukul.02.15 wib Satpam menerima laporan bahwa ada api di Labtek V lantai II Informatika, setelah diperiksa ternyata

sumber api adalah sebuah tong sampah dan Satpam melihat kejadian tersebut segera memadamkan api dengan cara menyiramkan air menggunakan ember yang berada di kamar mandi sebelah.

2 ) Pada pukul.02.30 Wib (16Feb), tim keamanan saat berpatroli

melihat adanya kepulan asap dari dalam Labtek VIII lantai 1, setelah diperiksa

sumbernya ternyata sebuah keranjang sampah dan kloset duduk di dalam W.C umum sudah terbakar, melihat kejadian tersebut Satpam segera memadamkan api yang tersisa dengan menyiramkan air menggunakan ember yang berada di wc sebelah.

3 ) Pada pukul.14.30 wib (16 Feb) ada laporan dari Dit SP bapak Dedi Sopandi bahwa ada tong sampah kecil terbakar disamping gedung Comlab, namun setelah diperiksa ternyata sudah dibersihkan oleh cleaning service.

4 ) Pukul. 06.00 wib (16 Feb), satpam menemukan blower yang berada di wc wanita gedung TVST lantai bawah sudah terbakar.

5 ) Tgl 17 Feb, jam 21.OO ditemukan kejadian tombol Lift di Labtek 8 dibakar

6 ) Mengenai kepala babi, kami sudah mendapatkan klarifikasi dari mahasiswa sbb:

Pada hari Jumat 11Feb mahasiswa fsrd melakukan pesta syukuran pesta seni 2010, dan sisa kepala babi bakar yg tersisa. Ide iseng adalah menggantungkannya di jembatan antara Labtek 5 dan 6. Penempatan kepala babi adalah tersembunyi/tertutup tanaman sehingga diketahui tgl 16feb dan sudah berbau busuk. Jadi antara kepala babi dan kebakaran BUKAN kejadian yg berhubungan.

7 ) ITB melaporkan kepada Polsek coblong tgl 16 feb pukul 20.00 ttg kejadian ini

8 ) tgl 16 feb pukul 21.00 pihak kepolisian sektor coblong melakukan olah TKP

9 ) Tgl 17 feb pukul 10 Kapolres dan jajaran Polda mendatangi kampus utk mencari tahu akar permasalahan

10) Tgl 17 Feb pukul 15 pihak KM dan himpunan/unit bertemu dg WRSO, WRAM,ketua LK, kepala UPT K3L, Dir SP di annex ccar membicarakan hal yg terjadi. Pihak ITB meminta mahasiswa utk membantu dg memberitahukan setiap gerak gerik mencurigakan di itb

11) Saat ini tiap malam mulai kemarin malam ada operasi khusus beranggotakan 14 orang melakukan patroli secara random dan kami sendiri menjaga di itb sampai dini hari.

Kami menghimbau kpd segenap bapak2 dan ibu dosen yth, utk waspada, sama2 menjaga, keamanan adalah milik bersama.. Caranya adalah:

1) Apabila ada orang yg tak dikenal berada di lingkungan kita segera menghub 022 250 0204 dg gambaran: ciri2 orang, lokasi atau langsung sms ke no HP kami. Harman ajiwibowo 081321856556

2) Mohon agar setelah jam 23 meminta mahasiswa tidak lagi ada di kampus kecuali penelitian dg ijin dari wrso

3) Mohon bersama2 saling mengingatkan utk mematuhi peraturan ITB, mematuhi rambu lalin

4) Saling menghormati antara pengguna kampus..

Yg penting sekarang adalah waspada, ”Citizen Awareness”

Terimakasih

Harman Ajiwibowo

Ka UPT K3L

Nah, yang jelas, sejak adanya kasus pembakaran ini, sekarang izin berkegiatan di dalam kampus cuma diperbolehkan hingga pukul 23.00 saja, kecuali bagi mahasiswa TA yang mengerjakan TA di lab-lab. Bagi mahasiswa, unit, atau himpunan yang mengadakan kegiatan hingga di atas jam tersebut wajib mengajukan surat izin kepada K3L itu.

[Keamanan Informasi] Tugas Casing The Joint (Mencari Informasi DNS)

Tulisan ini saya buat sebagai pekerjaan saya untuk tugas mata kuliah II3062 – Keamanan Informasi. Ada 5 soal yang diberikan oleh Pak Budi Rahardjo untuk dikerjakan:

  1. Cari pemilik domain dari data whois untuk itb.ac.id dan sebuah domain lain (yang disebutkan di kelas)
  2. Cari name server (NS) dari domain itb.ac.id dan domain lain tersebut
  3. Cari mx record (MX) dari domain itb.ac.id dan domain lain tersebut
  4. Lakukan zone transfer terhadap domain itb.ac.id dan hitung jumlah 4th level domain. (Catatan: coba buat program / skrip yang bisa melakukan hal tersebut.)
  5. Dapatkan Anda melakukan zone transfer terhadap domain lain tersebut?

Nah, berikut ini hasil pekerjaan yang telah saya buat:

1. Mengetahui pemilik (whois) domain itb.ac.id dan detik.com

Langkah yang saya lakukan adalah dengan membuka link http://www.who.is/whois/itb.ac.id/ dan juga http://whois.domaintools.com/bismillah.com. Dari sana dapat diketahui data pemilik domain http://www.itb.ac.id. Disebutkan dalam hasil pencarian dengan whois itu bahwa pemilik domain tersebut adalah sebagai berikut:

org: Perguruan Tinggi
desc: Institut Teknologi Bandung
location: Bandung
administrator-contact: bs38 (Basuki Suhardiman: basuki@itb.ac.id)
technical-contact: rinal1 (rinaldi@ee.itb.ac.id)
billing-contact: rinal1 (rinaldi@ee.itb.ac.id)

  • detik.com
Langkah yang saya lakukan adalah dengan membuka link http://www.who.is/whois/detik.com/ dan http://whois.domaintools.com/detik.com. Dari sana dapat diketahui data pemilik domain detik.com. Disebutkan dalam hasil pencarian dengan whois itu bahwa pemilik domain tersebut adalah sebagai berikut:

Registrant:
Siberkom, PT. Agranet Multicitra  (wiwi@detik.com)
Aldevco Octagon Building lt 2
Jl. Warung Jati Barat Raya 75
Jakarta, DKI Jakarta 12740
IN
Administrative Contact, Technical Contact:
Siberkom, PT. Agranet Multicitra
Aldevco Octagon Building lt 2
Jl. Warung Jati Barat Raya 75
Jakarta, DKI Jakarta 12740
IN
+62 21 7941177 fax: +62 21 7941176

2. Mengetahui name server (NS) domain itb.ac.id dan detik.com

Dari cara nomor 1 di atas sebenarnya juga didapatkan name server (NS) untuk domain tersebut. Diketahui terdapat 5 name server (NS) untuk domain http://www.itb.ac.id:

1) Name Server : ns1.ai3.net
2) Name Server : ns1.itb.ac.id, IP Address : 167.205.23.1
3) Name Server : ns2.itb.ac.id, IP Address : 167.205.22.123
4) Name Server : ns3.itb.ac.id, IP Address : 167.205.30.114
5) Name Server : sns-pb.isc.org

  • detik.com

Diketahui terdapat 2 name server (NS) untuk domain detik.com:

1) Name Server : NS.DETIK.NET.ID
2) Name Server : NS1.DETIK.NET.ID

3. Mengetahui MX Records (MX) domain itb.ac.id dan detik.com

Untuk soal nomor 3 ini saya menggunakan service yang tersedia pada website http://www.kloth.net/services/nslookup.php. pada situs itu saya melakukan NSlookup dengan mengisi domain sesuai dengan tugas (itb.ac.id dan detik.com) dan query berupa MX (mail exchange).

Dari langkah di atas di dapatkan 2 MX record untuk itb.ac.id:

itb.ac.id mail exchanger = 20 mx2.itb.ac.id.
itb.ac.id mail exchanger = 10 mx1.itb.ac.id.

  • detik.com

Dari langkah di atas di dapatkan 1 MX record untuk itb.ac.id:

detik.com mail exchanger = 10 mail3.agrakom.com.

4. Zone Transfer terhadap domain itb.ac.id

Berikut ini adalah langkah yang saya lakukan dalam melakukan zone transfer terhadap domain itb.ac.id:
1) Membuka program Command Prompt di Windows
2) Menjalankan command sebagai berikut:

C:\> nslookup
Default Server : ns2.ITB.ac.id
Address : 167.205.22.123
> ls itb.ac.id > D:/itb.txt
[ns2.ITB.ac.id]
#
Received 1350 records.

3) Dari langkah no 2 di dapatkan file output dengan nama itb.txt yang berisi daftar subdomain di domain itb.ac.id sejumlah 1350.
Dari jumlah itu diketahui bahwa 4th level domain untuk domain itb.ac.id ada sejumlah 39 subdomain. Cara lain untuk mengetahui jumlah subdomain ini dapat juga dilakukan dengan cara melihat hasil query pada link http://www.who.is/website-information/itb.ac.id/.

5. Zone Transfer terhadap domain detik.com

Berikut ini adalah langkah yang saya lakukan dalam melakukan zone transfer terhadap domain detik.com (kurang lebih sama dengan langkah pada soal 4):
1) Membuka program Command Prompt di Windows
2) Menjalankan command sebagai berikut:

C:\> nslookup
Default Server : ns2.ITB.ac.id
Address : 167.205.22.123
> ls detik.com > D:/detik.txt
[ns2.ITB.ac.id]
Received 0 records.
*** Can't list domain detik.com: BAD ERROR VALUE
The DNS server refused to transfer the zone detik.com to your computer. If this is incorrect, check the zone transfer security settings for detik.com on the DNS server at IP address 167.205.22.123.

Dari uji coba di atas ternyata zone transfer tidak dapat dilakukan terhadap domain detik.com karena memiliki sistem proteksi tersendiri yang mungkin dilakukan untuk menghindari zone transfer oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
3)Akan tetapi ada cara lain untuk mengetahui jumlah subdomain dari detik.com yaitu dengan cara melihat hasil query pada link http://www.who.is/website-information/detik.com/ yaitu sejumlah 31 3th level domain.

Heboh Teror di Kampus ITB

Setidaknya ada 2 kejadian besar di ITB hari ini yang membuat massa kampus ITB terkejut, heran, takut, waswas, dan marah (atau ada yang malah senang?).

Pertama, pembakaran dan perusakan toilet. Toilet yang jadi korbannnya adalah toilet lantai 1 labtek VIII (gedung Elektro – FMIPA) dan toilet TVST. WC yang ada di labtek VIII itu kondisinya hancur total dan kondisi langit-langit dan dinding kamar mandi itu adalah menjadi berwarna hitam. Dugaan kuat sementara cara perusakannya dilakukan dengan peledakan. Tempat yang jadi objek pembakaran lainnya (tapi bukan toilet) adalah depan lift lantai 2 Labtek V (gedung IF – FTI). Selain itu, beberapa tempat sampah juga menjadi objek pembakaran yang dicurigai sebagai objek uji coba sebelum pembakaran atau peledakan sesungguhnya. Bahkan, kabar yang aku terima dari akun twitter @boulevarditb, kata satpam-satpam di kampus, percobaan pembakaran itu sudah dilakukan dua kali sebelumnya, yaitu di tempat sampah area gedung mekanika tanah dan gedung labtek VIII dasar.

Kedua, adalah penggantungan kepala babi. Hanya saja berita terbaru dari yang aku baca dari akun twitter @boulevarditb, yang notabene adalah surat kabar mahasiswa ITB, katanya kasus penggantungan kepala babi dan pembakaran dan pengrusakan itu adalah kejadian yang berbeda pelakunya. Kabarnya kasus ini hanyalah perbuatan iseng anak FSRD saja yang menggantungkan kepala babi sehabis acara syukuran panitia Pasar Seni 2010 yang diadakan pada Jumat malam sebelumnya (11 Februari 2011). Ada pula yang mengatakan motif anak FSRD itu melakukan perbuatan itu didasari motif sebagai bentuk protes atas pemilihan Dekan FSRD yang baru yang masih menyisakan sedikit kontroversi.

Kasus teror yang terjadi di ITB ini ternyata diangkat juga di forum Kaskus oleh Gurun Nevada, yang merupakan adik angkatanku di jurusan. Sempat bertahan lama di puncak forum Lounge karena banyak anak ITB yang ikut nimbrung di sana dan orang-orang luar yang penasaran tentang kasus di ITB ini.

Kabar terbaru yang aku dapat dari jejaring sosial twitter malam ini, kabarnya ada kebakaran lagi di labtek VIII, tepatnya panel lift labtek itu yang dibakar. Masya Allah… nekad benar si pelaku. Belum sampai sehari kasusnya, sudah bikin aksi lagi. Jam kejadiannya pun belum terlalu larut juga, masih sekitar jam 9 malam ini. Ckckck.

Nah, inilah foto-foto objek-objek teror di ITB itu (sebagian besar diambil dari thread Kaskus tersebut dan ada juga foto dari aku):

Kepala babi yang digantung (sumber: http://plixi.com/p/77754688)

Kepala babi yang digantung (sumber foto: http://plixi.com/p/77754688)

Percobaan pembakaran (sumber: http://bit.ly/h7GXGj)

Percobaan pembakaran (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

WC di labtek VIII yang hancur (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

WC di labtek VIII yang hancur (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

Toilet labtek VIII (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

Toilet labtek VIII (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

Lantai 2 Labtek V

Lantai 2 Labtek V

WC di TVST (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

WC di TVST (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

panel lift Labtek VIII yang dibakar (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

panel lift Labtek VIII yang dibakar (sumber foto: http://bit.ly/h7GXGj)

Semua Repot Karena Kucing

Kurang lebih sudah ada 2 bulan ini, Kuma (seekor kucing betina yang kami beri nama demikian), selalu ngendon di kontrakan kami. Entah gimana awalnya hingga ia tiba-tiba jadi ikut menjalani hidup bersama kami dalam satu atap. Perasaanku dulu kucing ini langsung ngacir setiap kepergok masuk ke dalam rumah. Anehnya sekarang kok nggak ada rasa takut sama sekali. Kayaknya karena sudah terlanjur kami manja dengan sering kami kasih makan jadinya kucing ini jadi betah di rumah kami. Ketika sebagian anak-anak pergi saat liburan semester kemarin si kucing ini jadi sering tidur di dalam rumah, bahkan sampai tidur di kasur kami. Oiya, nama Kuma ini yang beri si Kamal, entah apa alasannya diberi nama itu.

Nah, beberapa hari yang lalu si Kuma ini melahirkan bayi kucing yang lucu-lucu. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 6! Udah gitu, si Kuma ngelahirinnya di kamar salah satu penghuni kontrakan kami, namanya Wafi. Terpaksa dia ngalah, dan ia menyingkir dari kamarnya untuk sementara waktu, numpang tidur di tempat penghuni kontrakan yang lain, Haris, selama beberapa malam. Akan tetapi, setelah hari kelahiran anak-anak Kuma itu, beberapa hari kemudian si Wafi ini iba sampai ngurusin Kuma ma bayi-bayainya. Mulai menyediakan kardus buat tempat tidur bayi-bayinya, membuatkan susu untuk anak-anak si Kuma, dsb. Ya Allah, sungguh lelaki yang berhati mulia temanku satu ini… 🙂

Bahkan, saking antusiasnya dengan kelahiran anak-anak Kuma, Si Wafi sampai beberapa kali update status di Facebook menceritakan segala hal terkait Kuma. Ini salah satu screenshot status Wafi di Facebook:

Status facebook Wafi tentang Kuma

Status facebook Wafi tentang Kuma

Sampai akhirnya kemarin, kamis pagi, tiba-tiba si Wafi teriak-teriak di rumah kalau anaknya si Kuma mati. Jumlahnya cukup banyak, ada separuhnya (3). Aku sendiri belum jelas matinya si Kuma kenapa. Kata Wafi sih, anaknya mati kedinginan, sementara kata Kamal anaknya mati karena “dibunuh” sama kucing garong yang tiba-tiba sering menyusup ke dalam rumah.

Yang jelas, apapun sebab matinya 3 bayi kucing itu, si Kuma tiba-tiba saja jadi agresif. Ia menjadi sangat posesif terhadap anaknya. Aku pegang sedikit saja anaknya, dia langsung mengeong-ngeong seolah meneriakiku agar menyingkir dari anak-anaknya.

Sepanjang pagi hari itu, si Kuma survei ke tempat-tempat yang ada di dalam kontrakan. Tampaknya ia akan mencari tempat tinggal baru yang aman dan nyaman buat anak-anaknya. Orang-orang di rumah (terutama Wafi) jadi repot sendiri ngurusin perpindahan Kuma. Awalnya sempat dipindahin ke dalam kardus dan ditaruh di luar. Tiba-tiba ada pemulung yang mengambil kardusnya dan membiarkan anak-anak Kuma terlantar di jalanan. Wah, wah, dunia memang kejam.

Akhirnya, si Kuma mindahin satu-satu anaknya ke dalam rumah. Kasihan juga si Haris. Kasurnya, sempat jadi tempat tinggal si anak-anak Kuma itu. Kebetulan Haris waktu itu nggak ada di rumah. Jadi, begitu aku tahu kasurnya Haris dijadikan sarang baru bagi mereka, langsung aku pindahin anak-anaknya Kuma ke dalam kardus yang baru. Tapi dasar Kuma pinginnya tetap tinggal di dalam rumah, aku pun menaruh kardus itu di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Tapi ya gitu, tiap ada orang makan dia langsung dempet-dempet. Arrgghhh… bikin repot aja. Tiap mau makan harus pindah-pindah menghindari kucing satu ini. Kalau nggak gitu, siap-siap aja kucing ini bakal nekad menerjang lauk yang ada di piring.

Repot memang ngurus kucing satu ini. Tiap pagi, pasti kami harus mberesin tempat sampah yang ada di dalam kontrakan karena malamnya diberantakin ma si Kuma. Duh, harus sabar…

Kuma dan anak-anaknya

Kuma dan anak-anaknya