Tag Archives: kuliah

100 Tahun ITB

Kemarin, 3 Juli 2020, adalah perayaan 100 tahun ITB (3 Juli 1920 – 3 Juli 2020). Ulang tahun ke-100 alias 1 abad mestinya menjadi momen untuk mengadakan peringatan dengan skala besar. Namun sayangnya momen 100 tahun ini bertepatan dengan masa pandemi sehingga tidak ada perayaan besar-besaran.

Walaupun demikian, euforia 100 tahun ini masih terasa di circle saya, utamanya di dunia maya. Di media sosial, banyak teman alumni yang memasang ribbon 100 Tahun ITB sebagai foto profil mereka. Mereka juga saling berbagi cerita mengenai kenangan-kenangan mereka selama berkuliah.

Mengenai ulang tahun ITB sendiri, sebetulnya saya agak bingung ITB mengacu ke ulang tahun yang mana, hehehe. Secara institusi, ITB memang sudah berdiri dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB) pada 3 Juli 1920. Namun, nama ITB secara resmi baru digunakan pada 2 Maret 1959.

Pengalaman selama kuliah dulu, seingat saya ya, perayaan dies natalis itu biasanya mengacu pada tanggal 2 Maret itu. Bahkan pada tahun 2009 dulu ITB sempat mengadakan Dies Emas 50 tahun ITB. Saya ingat betul acaranya sangat meriah ketika itu. Saya sendiri sempat berpartisipasi menjaga stand dalam acara bazaar yang berlangsung 3 hari.

Well, terlepas dari kapan ulang tahun ITB sebetulnya, THB sebagai perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Indonesia (dan juga sebagai cikal bakal ITB) memang tepat berulang tahun yang ke-100 pada tahun ini.

Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada kampus almamater tercinta ini. Alhamdulillah saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan berkuliah di ITB. Bukan karena keren bisa kuliah di ITB, tapi karena di sanalah saya bisa banyak bertemu orang keren baik secara kecerdasan, daya juang, kewirausahaan, keorganisasian, maupun hal-hal lainnya. Banyak ilmu dan pelajaran hidup yang saya dapatkan selama kuliah di ITB ini.

Pekan yang Cukup Sibuk

Sekitar dua pekan belakangan ini dan sepekan yang akan datang sepertinya bakal menjadi pekan yang cukup ‘sibuk’ bagiku. Ya, aku sedang terlibat proyek bersama beberapa teman dengan workload yang cukup tinggi dan waktu yang singkat. Jam tidur menjadi tidak teratur, dan terpaksa harus menginap di kosan teman, bahkan juga kantor. Selain itu, aku juga tak sempat menulis blog lagi, hehehe. Padahal selama seminggu lebih sejak tulisan terakhirku itu, ada banyak hal yang ingin kubagi, tapi tak sempat kutulis. Ya udahlah ya.

Ngomong-ngomong, pengalaman seperti ini sebenarnya sudah tak asing bagiku. Ketika ‘masih’ kuliah — sekarang pun sebenernya juga masih, hehehe — dulu, aku dan teman-teman kuliah juga sering menghadapi tugas besar mata kuliah yang membuat jam tidur menjadi kacau. Tapi bedanya, itu adalah tugas kuliah yang pengaruhnya tentu ‘hanya’ akan ke nilai yang didapat. Sedangkan proyek, pengaruhnya adalah kepada kepuasan klien dan ‘upah’ atau ‘punishment‘ yang diberikan kepada kita. Haha, tapi nggak sekejam yang kudeskripsikan itu juga sih.

Yang jelas pressure-nya berbedalah. Sudah ada dua teman yang sakit di tim proyek saat pengerjaan berlangsung. Semoga saja proyek ini bisa selesai dengan baik. Dan aku bisa rutin berolahraga lagi — terutama main bulutangkis — hehehe … 😀

Kuliah Filsafat Ilmu

Salah satu mata kuliah semester ini yang aku ambil adalah Filsafat Ilmu. Bobot kuliah ini “hanya” 2 SKS dan dalam satu minggu hanya ada tatap muka sekali selama 100 menit.

Menarik juga di ITB yang notabene kampus teknik, ada mata kuliah filsafat yang tak ada sangkut pautnya dengan engineering. Kalau di ITB, mata kuliah-mata kuliah seperti itu masuknya ke kelompok Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang bobotnya biasanya cuma 2 SKS. Namun, aku termasuk yang jarang mengambil kuliah MKDU.

Di semester 10 ini akhirnya aku berkesempatan untuk mengambil kuliah Filsafat Ilmu. Untungnya walaupun kuliah ini diberikan di kampus teknik, namun pengajarnya memang yang berkompeten di bidang filsafat karena memang pernah mengenyam pendidikan di jurusan filsafat.

Awal perkenalanku dengan dunia filsafat bermula saat SMP kelas 3 dipinjami buku tentang pemikiran-pemikiran KH. Misbach yang seorang komunis muslim. Kemudian, ketika SMA, semasa di aktif di Rohis aku bersama teman-teman juga pernah mengkaji mengenai sejarah filsafat Islam, khususnya mengenai perselisihan tentang konsep Qadla dan Qadar di para pemikir Islam dulu.

Sebenarnya aku kurang terlalu suka dengan bidang ilmu filsafat. Mungkin karena terlalu banyak perdebatan di dalamnya. Tapi entah kenapa, mengikuti atau membaca tentangnya selalu menarik, walaupun kadang-kadang bikin pusing, hehehe.

Pusing. Itu juga yang kurasakan saat pertemuan kedua kuliah kemarin. Topiknya sih masih seputar perkenalan ilmu filsafat itu sendiri. Nah, pada pertemuan kedua kemarin dari yang semula topiknya membahas mengenai “APA ITU ILMU”, tiba-tiba karena ada satu atau dua pertanyaan dari mahasiswa, lalu bahasannya tiba-tiba melebar ke topik humanisme, kapitalisme, sosialisme, paganisme, dll. Jadi bahasan kemarin itu muteerrr … entah ke mana. Tapi seru juga sih.

Kalau sudah demikian, 2 SKS untuk kuliah Filsafat Ilmu pun rasanya sangat kurang. Materi bahasan yang sedemikian banyaknya, tak cukup bila disampaikan dalam waktu 100 menit kali sekitar 14 pertemuan dalam sesemester. Hmm … tak sabar untuk segera masuk ke bahasan filsafat Barat dan Islam. 😀

 

S2, Kerja, dan Menikah

Tiga kata itulah yang kini sering menjadi topik perbincangan hangat di antara beberapa teman dekatku. Kalau dulu semasa orientasi kampus di Sabuga kami dikenalkan oleh bapak-bapak alumni kampus gajah ini dengan 3 hal yang menggambarkan kehidupan kampus: buku, pesta, dan cinta, kini sepertinya 3 hal itu telah tergantikan dengan 3 yang aku sebutkan di judul tulisan ini.

Bukan hal yang aneh ketika ketiga hal itu tiba-tiba menjadi trending topic di antara para SWASTA (baik itu Mahasiswa Sedang Tugas Akhir, Mahasiswa Sudah Sidang Tugas Akhir, maupun Mahasiswa Sudah Sarjana Teknik). Ketika kita akan meninggalkan dunia perkampusan ini, pasti mau tidak mau kita harus menyusun rancangan perjalanan hidup berikutnya.

Bagi teman-teman yang waktu kelulusannya ‘tertunda’ seperti aku ini, setidaknya masih punya sedikit nafas untuk memikirkan itu. Bagi teman-teman yang akan lulus April ini, sudah mulai tampak kegalauan mereka.

Kegalauan itu mengarah kepada apakah setelah lulus mau memilih S2 atau kerja dan siapakah pendamping wisudanya (dan tentu juga sebagai pendamping hidupnya) nanti. Dari pengamatanku soal S2 sebenarnya tak terlalu begitu menjadi pertimbangan yang berat di antara teman-teman yang lulus. Intinya mereka tak mempermasalahkan bisa S2 atau tidak. Jadi tingkat kegalauan untuk urusan S2 ini sangat rendahlah.

Untuk urusan kerja, beberapa teman sering curhat mengenai standar gaji yang selayaknya mereka terima. Ya, dari obrolan dengan beberapa kawan, aku menangkap secara sadar bahwa teman-teman di sejurusan ataupun jurusan ‘sebelah’ tak ada kekhawatiran tak mendapatkan pekerjaan (baguslah …). Yang menjadi kekhawatiran mereka sebagaian besar adalah masalah kecocokan dengan pekerjaan dan gaji yang tak ‘seberapa’.

Terakhir, mengenai ‘menikah’, satu hal, kata tersebut merupakan kata yang cukup sakral. Bagi sebagian orang hal ini mungkin terasa sangat sensitif, tapi bagi sebagian yang lain hal ini selalu menarik untuk diperbincangkan. Aku pun sering tak sungkan mengobrol atau mendengar curhatan seorang teman tentang hal yang satu ini.

Kegalauan tentang hal ini di kalangan SWASTA dimulai ketika terbebani untuk mendapatkan pendamping di hari wisudanya. Hmm … tentang ini, aku tak tahu asal usulnya dari mana. Bahkan, ada seorang teman yang akan lulus April ini dia tengah berusaha mati-matian untuk memperolehnya. Tapi bukan sekedar pendamping wisuda, melainkan juga sebagai pendamping hidup.

Di luar tiga hal itu aku yakin pasti setiap orang punya pemikiran sendiri yang berbeda mengenai rencana perjalanan hidup berikutnya. Intinya sih, mari kita persiapkan bersama-sama apa yang sudah kita rencanakan dan jangan sampai terjebak dalam kegalauan yang berlarut-larut. Hahaha. 😀

(Masih) Masuk Kuliah (Lagi)

Ya, akhirnya masuk kuliah lagi. Kok masih masuk kuliah? You know why lah … kenapa aku masuk kuliah lagi. Setelah semester kemarin mengambil “cuti” alias 0 SKS, sekarang aku mengambil kuliah lagi 8 SKS. Sebenarnya aku tinggal butuh 2 SKS lagi untuk lulus, tapi rasa haus akan ilmu (cieeeh…) dan suasana perkuliahan membuatku ingin mengambil lebih.

Tapi fakta di lapangan sungguh berbeda. Dengan usia segini dan status bahwa aku adalah mahasiswa semester 10 yang masih nyetor muka ke kampus membuat langkah kaki ini terasa berat. Beberapa mata memandangku dan mungkin seraya bertanya dalam hati mereka — walaupun ada juga yang menanyakan langsung, “Lho mas ini kok masih di kampus aja, kirain udah lulus.” Aku pun hanya bisa tersenyum, tapi kecut.

Untungnya ada beberapa teman senasib dan seperjuangan dalam meneruskan sisa kuliah di ITB ini. Jadi perasaan malu dan berat itu sedikit tereduksilah. Ibarat kopi, yang mulanya pahit setelah dikasih gula jadi berkurang pahitnya. Yah, dijalani sajalah.

Akhirnya aku pun perlu mereview lagi keputusanku mengambil 8 SKS. Mungkin saat masa PRS nanti, aku akan menguranginya menjadi hanya 5 SKS saja maksimum. Tapi yang jelas, setidaknya aku ingin menyampaikan salam hangat kepada diriku sendiri, “Welcome back to your campus again, buddy!” Hehehe … 😀

Bismillah …

Saya Ingin Lanjut Kuliah Ke Luar Negeri

Hahaha… sesuai judulnya, ada kata-kata “ingin”, artinya saya memang masih belum tahu apakah bakal kesampaian untuk kuliah ke sana. Tapi saat saya menulis ini, saya mulai memantapkan niat untuk melangkah ke sana. Yak, terus terang awalnya tak ada bayangan dari saya untuk melanjutkan kuliah S2. Yang terbayang adalah ingin lulus S1 lalu mendapatkan pekerjaan yang layak atau bikin start up company bersama teman-teman dan mendapatkan gaji yang tinggi untuk menghidupi keluarga saya kelak (hahaha…).

Tapi perspektif berpikir saya mulai berubah setelah (lebih tepatnya sedang) menjalani Tugas Akhir (TA) di tingkat terakhir ini. Adalah dosen pembimbing saya yang mengatakan bahwa kalau saya mau serius mengerjakan TA saya ini, TA saya itu dapat berguna untuk melanjutkan S2 di luar negeri. Beliau menceritakan itu karena memang beliau sudah pengalaman (beliau S3 di JKU Linz-Austria). Ketika saya mendengar itu pertama kali, saya merasa biasa-biasa saja, sampai akhirnya saya mulai mengerjakan TA dan banyak membaca paper-paper dari luar negeri sebagai bahan TA saya. Saya mulai berpikir, “Wah, asyik juga ya kalau bisa melakukan riset seperti ini. Saya bisa memberikan sesuatu yang kontributif untuk masyarakat banyak.” Terus terang saya kagum dengan banyaknya riset yang ada di luar negeri. Bahkan, untuk topik TA yang saya ambil, banyak juga paper dari Vietnam yang saya peroleh dari internet. Selain itu banyak juga paper yang saya baca juga berasal dari negara-negara Eropa Timur, seperti Bulgaria dan Republik Ceko. Dari sini saya melihat dunia riset di negara-negara berkembang ternyata sangat banyak juga. Ayo, Indonesia jangan mau kalah… 😀

Kembali lagi ke perihal lanjut S2. Entah kenapa tiba-tiba saya memilih untuk berusaha mengambil S2 di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Daejeon, Korea Selatan. Mungkin karena topik TA yang saya ambil serupa dengan salah seorang kakak angkatan yang saat ini sedang mengambil S2 di KAIST sana, hehehe.

Saya pun banyak berdiskusi dengan dia mengenai perkuliahan di sana dan bagaimana kehidupan di Daejeon sana, terutama bagi seorang muslim seperti saya ini. Ternyata, menurut dia, boleh dibilang perguruan tinggi di luar negeri yang sangat kondusif bagi mahasiswa muslim itu ya di KAIST itu. Di sana ada Mushola yang disediakan dalam kampus, makanan halal juga tidak susah diperoleh, sholat Jumat juga mudah karena hanya berjarak 15 menit dari Islamic Center of Daejeon (ICD). Biaya hidup di sana juga tergolong sangat murah. Dari 900 ribu won yang dia terima dari beasiswa perbulannya (1 won = Rp 9) katanya dia cuma menghabiskan 300 ribu won saja.

Sisi lain Daejeon, di sana juga banyak tempat-tempat riset perusahaan multi nasional seperti Samsung, LG, Hyundai, dll. Bisa dibilang Daejeon itu sillicon valley-nya Korea, kata dia. Kayak Bandung mungkin ya, dengan ITB salah satu di dalamnya :D.

Mendengar cerita dari kakak itu tentang KAIST, potensi, peluang, dan kehidupan di sana membuat saya semakin mantap untuk berusaha agar bisa kuliah di sana. Tapi jauh sebelum itu harus saya selesaikan dulu TA saya ini, hehehe. Apalagi, yang dibilang dosen pembimbing saya (seperti yang saya sebutkan di awal) ternyata memang benar. TA dia sewaktu masih S1 dulu ternyata menjadi pertimbangan profesor di sana untuk bisa diterima di KAIST.

Tulisan ini saya buat bukan untuk menyombongkan diri (memang apanya yang mau disombongkan? :D), melainkan untuk pemacu diri saya saja dan siapa tahu ada teman-teman yang sudah kuliah di luar negeri (syukur kalau alumni KAIST) mau share juga kepada saya. Bagi saya, cita-cita memang harus tinggi, karena usaha kita akan berbanding lurus dengan tingginya cita-cita yang kita canangkan. Dulu saya sewaktu SMA bercita-cita masuk ITB, saya buka webnya, dan hal yang paling banyak saya lakukan saat browsing itu cuma melihat foto-foto kampus dan kehidupan di dalamnya. Tujuannya sih supaya di otak saya saat itu berpikir “ITB, ITB, ITB, dan ITB”, hahaha. Belajar pun jadi semangat. Makanya saya sisipin foto KAIST di tulisan ini juga, hehehe. Bismillahirrahmanirrahim, yang penting TA dulu! 😀

KAIST (source: apec-smeic.org)

KAIST (source: apec-smeic.org)


Kuliah Perdana Studium Generale

Dua hari yang lalu, tepatnya hari Sabtu 29 Januari 2011, telah dilaksanakan kuliah perdana mata kuliah Studium Generale (selanjutnya disingkat SG). Seperti yang dikemukakan Rektor ITB, Bapak Profesor Akhmaloka, di awal sambutannya membuka kuliah itu, kuliah SG ini sudah lama tidak dibuka. Saat beliau masuk menjadi mahasiswa S1 ITB awal 80-an, kuliah SG ini sudah tidak ada. Namun, kini kuliah itu akhirnya diadakan kembali dengan menghadirkan menteri-menteri RI sebagai pengisi kuliahnya.

Pilihan pertama sebagai “dosen” di kuliah perdana SG ini jatuh kepada Bapak Suharso Monoarfa, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) RI. Beliau dulunya juga sempat menjadi mahasiswa S1 di ITB dan juga seorang aktivis di kampus Ganesha ini. Topik yang diangkat dalam kuliah beliau saat itu adalah “Pengurangan Kemiskinan Sebagai Ideologi Pembangunan”. Kuliah itu sendiri berlangsung selama kurang lebih 2 jam termasuk tanya jawab. Banyak cerita inspiraif dan motivasi yang beliau sisipkan selama kuliah itu dengan menceritakan perjalanannya selama menjadi mahasiswa hingga akhirnya menjadi menteri. Sungguh beruntung aku dan teman-teman mahasiswa ITB lainnya yang mungkin sudah hampir sedikit lagi akan lulus masih bisa menikmati mata kuliah SG yang dibuka pertama kalinya setelah mati berpuluh-puluh tahun.

Suasana Kuliah SG

Suasana Kuliah SG