Monthly Archives: April 2011

Malam Mingguan di Punclut

Malam minggu ini aku bersama teman-teman kontrakan dan dua teman anak Elektro jalan-jalan ke Punclut. Sekedar menghilangkan kejenuhan dalam rutinitas yang selalu dijalani. Namanya malam minggu, di Punclut sangat ramai malam itu. Saung-saung makan di sepanjang jalan di kawasan Punclut hampir semuanya kebagian pengunjung. Kami sengaja mencari tempat yang jauh, mencari saung yang agak sepi. Seperti biasa, menu kami malam itu adalah nasi merah yang menjadi khas dari saung-saung makan di Punclut ini. Lauknya memakai ayam bakar saja, ditemani dengan segelas bajigur/bandrek. Suasana malam yang dingin berkabut dan pemandangan kota Bandung di kejauhan sana dengan gemerlap lampunya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata kuliner di Punclut. Kalau di Malang atau Batu, yang serupa dengan Punclut itu adalah kawasan Payung.

Pemandangan malam Bandung dari Punclut

Pemandangan malam Bandung dari Punclut

Menu nasi merah + ayam bakar

Menu nasi merah + ayam bakar

Stumbling on Happiness VS Alchemy of Happiness

Ada artikel menarik yang saya baca di situs Eramuslim mengenai perbedaan pandangan antara pemikir Barat dengan Islam mengenai konsep kebahagiaan. Perbedaan pandangan itu bisa terjadi karena landasan berpikir (al-qa’idah al-fikriyah) yang digunakan dalam memandang segala sesuatu (wolrd view) oleh masing-masing berbeda. Mengutip dari artikel tersebut, perbedaan tersebut adalah Barat sangat menjunjung rasio dan spekulasi filosofis, sedangkan Islam berazaskan wahyu, hadits yang dikombinasikan dengan akal, pengalaman, serta intuisi. Maka tak mengherankan, dalam mengkaji suatu masalah, ide-ide Barat hanya menyentuh hal-hal yang bersifat empiris, tidak menerobos sampai ke relung-relung metafisis. Termasuk dalam pembahasan mengenai konsep kebahagiaan. Apakah makna bahagia itu.

Seringkali ada situasi di mana hati kita berbunga-bunga atau wajah kita tersenyum. Apakah itu disebut bahagia? Bagaimana tolak ukur bahagia itu? Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bisa dilihat, tapi hanya bisa dirasakan oleh masing-masing individu dan bagaimana ia mendefinisikannya. Tidak ada tolak ukur yang bisa digunakan untuk mengetahui kebahagiaan yang dirasakan setiap orang.

Nah, kemudian di dalam artikel itu disebutkan ulasan pemikiran Barat mengenai makna kebahagiaan yang diwakili oleh Daniel Gilbert, seorang pakar psikologi dari Harvard University yang sering mendapatkan penghargaan dalam disiplin ilmunya, yang ditulis dalam sebuah buku berjudul “Stumbling of Happiness”. Sedangkan pemikiran Islam diwakili oleh Imam Ghazali yang ditulisnya dalam mahakarya “Ihya Ulumuddin” dalam sebuah chapter bernama “Kimmiyah Al-Sa’adah” atau “Alchemy of Happiness”. Artikel yang lebih lengkap mengenai bab “Alchemy of Happiness” itu dapat dibaca di sini.

Dalam buku itu Gilbert mengartikan kebahagiaan adalah pengalaman subyektif yang sulit dijabarkan bahkan oleh diri kita sendiri. Di akhir kesimpulannya Gilbert menyatakan sesungguhnya kebahagiaan itu sangat relatif. Setiap orang bisa mendefinisikan dan mengaktualisasikan sesuai dengan caranya sendiri atau dengan kata lain: kebahagiaan kita ada di tangan kita sendiri. Jadi sejatinya, tak ada rumus sederhana untuk memformulasikan makna kebahagiaan, menurut Gilbert.

Sedangkan kesimpulan Imam Ghazali mengenai konsep (kimia) kebahagiaan adalah bahwa kebahagiaan sejati dapat diperoleh melalui empat elemen: mengenal diri, mengenal Allah, mengenal dunia, dan mengenal sesudah kehidupan dunia (akhirat). Jika setiap manusia memiliki pemikiran yang tepat dan cemerlang (al-fikru al-mustanir) mengenai keempat elemen itu, kehidupan manusia akan berada pada jalan yang mulia.

Jadi, yang terpenting pertama menurut Imam ghazali adalah mengenal diri. Jika kita tak bisa mengenal diri, hampir mustahil kita bisa mengenal hal-hal lain.Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Allah.” Dengan merenungkan penciptaan diri manusia akan memperoleh pemahaman mengenai keberadaan Allah. Benih dari kebahagiaan adalah cinta. Cinta kepada Allah bisa dikembangkan melalui ibadah. Melalui cinta pada Allah serta pengetahuan, jiwa akan terpelihara dan akan hancur bila mencintai selain-Nya.

Perlu disematkan dalam diri kita bahwasannya jasad hanya merupakan kuda tunggangan bagi jiwa yang kelak akan musnah. Sungguh sangat merugi manusia bila menukar kebahagiaan abadi dengan dunia. Namun, pada praktiknya seringkali kita terjebak dan disibukkan dengan angan-angan di dunia saja. Bagi sebagian orang, mendapat pekerjaan layak bahkan kalau bisa di perusahaan besar, berpenghasilan tinggi, memiliki harta banyak, memperoleh penghargaan atau jabatan ini-itu, menjadi target yang ingin diraih di dunia ini. Mereka disibukkan dengan usaha untuk memperoleh itu semua. Padahal persoalan utama manusia di dunia adalah menyiapkan diri untuk kehidupan di akhirat kelak. Penting diwaspadai bahwa dunia cenderung menipu dan memperdayai manusia.

Dari ulasan Imam Ghazali itu kebahagiaan sejati akan diraih bila manusia senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kebahagiaan yang digapai bukan hanya duniawi semata melainkan kebahagiaan yang lebih esensial: kebahagiaan di akhirat nanti. Islam sebagai sebuah agama yang paling lengkap dan final telah memberikan aturannya dalam kehidupan dunia dan akhirat dan jika dilaksanakan sepenuhnya, kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat akan diperoleh. Allah menjanjikan barang siapa mencari dunia hanya akan mendapat dunia, sedang bagi yang mencari akhirat akan mendapatkan dunia dan akhirat.

Datang ke Pernikahan Teman SMA di Kediri

Hari Ahad lalu (24 April 2011) seorang teman sekelasku semasa SMA melangsungkan pernikahan di Kediri. Wah, berarti sudah ada 4 temanku, entah itu teman SD, SMP, SMA, atau kuliah, yang telah menikah. Menariknya, keempat-empatnya adalah perempuan! Mantaplah. Dari keempat pernikahan itu, aku hanya datang ke pernikahan teman yang di Kediri itu. Maklum, 3 teman yang lain itu temanku sewaktu SD dan SMP, jadi aku nggak sampai diundang. Oiya, perkenalkan nama teamanku itu Masyita. Di SMA dulu biasa dipanggil dengan “Kak Syita” oleh teman-teman sekelas.

Sengaja aku datang dari Bandung ke Kediri untuk menghadiri acara pernikahan Kak Syita itu. Ada rasa kangen yang terselip di dalam hati ini untuk bertemu dengan teman-teman semasa SMA dulu. Mumpung ada acara pernikahan Kak Syita ini di mana teman-teman juga akan hadir ke sana, aku putuskan untuk datang ke acara itu walaupun harus jauh-jauh Bandung-Kediri PP dan hanya singgah sebentar saja di Kediri.

Dari Bandung aku menumpang KA Malabar yang berangkat pukul 15.30, pada hari Sabtu, 23 April 2011. Sampai di Kediri tepat saat waktu Subuh masih belum usai, sekitar pukul 5 kurang. Menurut rencana, dari stasiun Kediri aku akan disusul oleh teman-teman Telocor (code name kelasku saat SMA: Team Sewelas IA Limo Kocok Rame-Rame) yang berangkat dari Malang lalu bersama-sama datang ke tempat resepsi pernikahan Kak Syita.

Sambil menunggu teman-teman, aku mengisi waktu dengan menikmati hiruk-pikuk aktivitas orang-orang di stasiun. Tak lupa sebelumnya aku mandi pagi dulu di sana. Sengaja aku membawa bekal handuk, pakaian ganti, serta peralatan mandi untuk bersih-bersih diri di stasiun. Maklum, kalau sampai nggak mandi, tak terbayangkan betapa baunya tubuh ini bekas keringat yang menempel :D. Sehabis mandi, aku sarapan dulu di warung yang berada di depan stasiun. Menu sarapan saat itu adalah nasi pecel. Sudah lama aku tak makan menu tersebut sebab susah sekali mencari menu Jawa Timuran di Bandung ini yang benar-benar memiliki cita rasa masakan Jawa Timur.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Pukul 11 pagi lebih sedikit rombongan teman-teman dari Malang menjemputku di stasiun Kediri. Rombongan teman-teman Telocor terdiri atas 2 mobil, mobil yang satu dikendarai oleh Reza atau yang akrab dipanggil dengan Cimeng, ketua kelas kami saat kelas X, dan yang satunya lagi adalah mobil milik Atina, atau yang akrab dipanggil “bos” saat SMA dulu.

Setelah itu, kami melaju menuju tempat resepsi pernikahan Kak Syita di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Banyak sekali undangan yang hadir saat itu yang berasal dari berbagai kota. Sementara itu, di tempat pelaminan pernikahan pasangan mempelai sudah duduk manis menebarkan senyum ke para undangan :).

Aku dan anak-anak Telocor yang lain langsung mengambil tempat yang tersedia. Kebetulan sesaat setelah kami datang acara berikutnya adalah makan-makan :D! Tanpa banyak diminta, kami pun langsung beranjak dari tempat duduk untuk bergabung dengan tamu undangan yang lain untuk mengambil menu yang tersajikan. Alhamdulillah, perut saya siang itu kenyang, hehehe. Jarang-jarang anak kos mendapat kesempatan makan sebanyak ini ^_^.

Selesai acara makan-makan, kami duduk-duduk dulu saling mengbrol satu sama lain sambil menunggu antrian untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan foto bersama. Saat menunggu itu, tiba-tiba piala “Telocor Wedding Award” yang sudah kami persiapkan untuk Kak Syita terjatuh dan patah. Oh ya, sekedar pemberitahuan, piala ini sengaja kami buat bersama sebagai piala bergilir untuk diserahkan kepada warga telocor yang baru saja menikah dan diukir namanya di piala itu. Makanya, begitu piala itu patah, sempat terjadi kepanikan di antara kami. Akhirnya, diputuskan untuk menyambungnya dengan lem alteco yang dibeli di toko dekat tempat resepsi. Hahaha, untung saja.

piala Telocor Wedding Award

piala Telocor Wedding Award

Sampai akhirnya tibalah giliran kami untuk berfoto bersama. Aku diberikan kepercayaan oleh teman-teman sekelas yang lain untuk mewakili kelas dalam menyerahkan piala tersebut kepada pasangan mempelai.

Aku menyerahkan piala

Aku menyerahkan piala

foto bersama Telocor + mempelai

Foto bersama Telocor + mempelai

Selesai foto-foto, kami berpamitan kepada mempelai untuk meninggalkan tempat resepsi. Selanjutnya, kami melaksanakan sholat berjamaah di masjid Desa Kalirong itu kemudian melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Malang. Sebelumnya tentu saja, aku diantar dulu ke stasiun Kediri. Aku berpisah dengan teman-teman Telocor di sana. Waktu yang hanya sebentar untuk kami bersama hari itu, tapi benar-benar 3 jam yang berkesan bagiku saat itu. Jauh-jauh dari Bandung ke Kediri bertemu dengan wajah-wajah yang akrab denganku saat SMA dulu, Setidaknya bisa menjadi penghibur bagi diriku yang tengah menjalani masa hectic mahasiswa tingkat akhir, hehehe.

So, who will be the next? 😀

Kocak, Trofi Copa Del Rey Jatuh dan Terlindas Bus

Ada kejadian unik saat Real Madrid melakukan pawai perayaan atas gelar juara Copa Del Rey yang baru saja mereka peroleh. Trofi Copa Del Rey yang mereka raih itu terpaksa harus direlakan karena trofi tersebut rusak setelah “dijatuhkan” Sergio Ramos dari atas bus yang mengangkut para pemain Real Madrid dalam pawai kemenangan.

Walaupun kejuaraan yang dimenangkan hanya sekelas Copa Del Rey, Real Madrid menyambut kemenangan itu dengan penuh euforia. Maklum, terakhir kali Real Madrid menjuarai turnamen ini adalah pada tahun 1993 atau 18 tahun yang lalu. Selain itu, gelar terakhir yang mereka raih juga terjadi 3 tahun yang lalu.

Jadi, ceritanya malam hari setelah pertandingan final, Real Madrid langsung mengadakan penyambutan besar-besaran bersama para suporternya di kota Madrid. Dalam pawai itu para pemain Real Madrid diangkut dengan menumpang di atas bus sambil memamerkan trofi Copa Del Rey. Dalam video yang diunggah di Youtube, Sergio Ramos, bek Real Madrid asal Spanyol, terlihat hendak menurunkan trofi. Malangnya, trofi tersebut ternyata malah terjatuh. Begitu terjatuh, trofi tersebut langsung dilindas oleh bus Real Madrid itu. Selanjutnya sudah bisa ditebak, kondisi trofi itu pun menjadi rusak dan terdapat beberapa bagian yang patah. Untungnya, pembuat trofi Copa Del Rey mempunyai cadangan replika trofi tersebut. Keesokan paginya, trofi tersebut langsung diserahkan kepada Real Madrid.

Sumber: Goal.com Indonesia [1 2]

Perpustakaan Pusat Yang Terlupakan

Jangan salah mengartikan judul di atas. Dengar dulu penjelasan saya. Kata “terlupakan” di judul ini bukan berarti perpustakaan ini benar-benar dilupakan keberadaannya oleh mahasiswa ITB. Lebih tepatnya, sebenarnya judul itu saya tujukan untuk diri saya pribadi. kalau diingat-ingat sudah lama saya tidak mengunjungi perpustakaan pusat ITB ini. Terakhir kali kalau tidak salah saat aku semester 3. Waduhh… lama sekali itu. Kalau mengunjungi perpustakaan untuk sekedar menumpang sholat di musholla atau mampir ke toilet beda lagi ceritanya. Tentu saja itu sering saya lakukan, hehehe.

Yup, saya ingin bercerita menenai aktivitas saya seminggu terakhir ini di mana saya benar-benar intens mengunjungi perpustakaan pusat ITB ini. Untuk apa? Apalagi kalau bukan terkait urusan Tugas Akhir alias TA :D. Awalnya saya iseng mengunjungi perpustakaan ini untuk mencari buku-buku tentang Tata Bahasa Indonesia sebaga bahan TA saya. Eh, tak taunya ada. Tidak saya sangka memang, sebab notabene ITB adalah kampus sains dan teknik (plus seni). Tidak pernah terpikir oleh saya ada buku sastra di sana. Ternyata perpustakaan pusat ini memiliki koleksi yang lengkap. Bahkan, koleksi buku keinformatikaannya rasanya tidak kalah banyaknya dengan yang ada di perpustakaan prodi T. Informatika. Jadi, buat apa beberapa waktu yang lalu saya jauh-jauh ke perpustakaan Sastra Unpad (Universitas Padjadjaran). Memang sih, koleksi buku sastranya tidak selengkap yang ada di Unpad, tapi rasanya cukuplah buat jadi referensi TA saya. Tapi ada kekurangannya juga sih koleksi buku di perpustakaan pusat ini. Bukunya kebanyakan buku-buku jadul semua. Jarang sekali saya menemukan buku baru di sana, atau saya saja yang tidak tahu tempatnya, hihihi.

Namun, terus terang perpustakaan pusat ini benar-benar tempat yang nyaman buat belajar atau mengerjakan tugas. Jadi ingat saat masa saya tingkat 1 dulu. Perpustakaan pusat ini menjadi tempat favorit saya setiap akan ujian.

Perpustakaan pusat juga sudah banyak berbenah dibandingkan saat masa saya tingkat 1 dulu. Banyak fasilitas baru dan banyak acara juga di sana. Hmm, rasanya untuk mengerjakan tugas akhir ini, saya sudah memiliki tempat yang pas untuk menjadi tempat nongkrong saya, hehehe.

Perpustakaan pusat tampak dari atas

Perpustakaan pusat tampak dari atas

Salah satu sudut perpustakaan

Salah satu sudut perpustakaan

 

Second Leg Schalke vs Inter : Mission Impossible

Tim favoritku, Inter Milan, malam ini akan menjalani leg kedua melawan Schalke 04 di Gelsenkirchen, Jerman. Pada pertandingan pertama di Milan skor akhir adalah 2-5 untuk kemenangan Schalke 04. Terang saja, pertandingan di Jerman malam ini bisa dikatakan mission impossible bagi Inter Milan. Inter harus menang setidaknya dengan skor 4-0 untuk dapat melaju ke babak berikutnya.

Dalam sejarah Liga Champions, baru ada satu klub yang bisa mengatasi defisit tiga gol di pertandingan perdana sehingga bisa lolos ke babak berikutnya. Dialah Deportivo La Coruna, tim kuda hitam dari Spanyol saat itu. Setelah kalah 4-1 di first-leg melawan AC Milan di Italia, Deportivo mampu membalasnya dengan kemenangan 4-0 di Spanyol. Amazing comeback!

Misi serupa kini akan dijalani Inter Milan di Jerman. Jika berkaca pada pengalaman Deportivo, tentu ada harapan Inter Milan dapat mengulang sejarah itu, apalagi Inter memiliki materi pemain yang berkualitas. Sayangnya, yang membuat misi Inter lebih berat dan berbeda dibandingkan dengan Deportivo adalah Inter harus menjalani misinya di kandang lawan dan akan menghadapi kiper tangguh Manuel Nueur. Jika Deportivo saat itu sebenarnya ‘hanya’ butuh kemenangan 3-0 saja, Inter harus membukukan kemenangan 4-0. Secara psikologis tentu lebih berat mencetak 4 gol di kandang lawan dibandingkan 3 gol di kandang sendiri.

Oleh karena itu kalau boleh aku bilang, peluang Inter hanya 5% untuk lolos. Kemungkinan menang sih memang sangat besar, tapi untuk menang dengan selisih 4 gol, hampir mustahil. Mau tidak mau, Inter harus menyerang total, kalau perlu pasang 10 orang bertipe menyerang semua, hehehe. Sebagai seorang fans, aku hanya ingin menikmati pertandingan yang seru saja. Syukur kalau bisa terjadi banyak gol.

Di pertandingan lain, Tottenham Hotspurs juga mengemban misi yang sama saat melawan Real Madrid, yakni harus menang telak 5-0. Tidak ada yang tidak mungkin dalam pertandingan itu. Real Madrid pernah kalah 5-0 musim ini kok. Tapi beda, lawannya saat itu Barcelona, hehehe. Apakah Tottenham juga mampu? Menarik disimak. 😀

Latihan Inter di kandang Schalke

Latihan Inter di kandang Schalke

Sekilas Tentang (Unit) Wing Chun ITB

(Unit) Wing Chun di ITB ini sebenarnya mulai dirintis pada bulan Desember 2010 lalu. Wing Chun di ITB ini berafiliasi dengan perguruan Kungfu Naga Putih milik master Suwardana yang berada di kawasan Jabodetabek (Info mengenai Kungfu Naga Putih: www.naga-putih.com). Boleh dibilang di ITB ini adalah salah satu cabangnya.

Kebetulan aku berperan sebagai salah seorang perintis untuk yang di ITB ini bersama seorang teman yang menjadi koordinator utama untuk wilayah Bandung. Aku terpilih untuk ikut membantu merintis Wing Chun di ITB ini karena salah satu tim pelatih di perguruannya Master Dana tadi merupakan kakak sepupuku. Dia yang langsung minta tolong kepadaku untuk terlibat.

Akhirnya, diputuskan untuk latihan rutin di ITB setiap hari Ahad pukul 10 pagi. Rencana ke depan, aku dan teman-teman berencana menjadikan “perkumpulan” kami ini sebagai unit kegiatan mahasiswa (UKM) resmi di ITB. Beberapa waktu yang lalu aku sempat bertandang ke kantor LK ITB dengan didampingin Menteri Olahraga KM-ITB 2010-2011 untuk berkonsultasi dengan salah seorang petinggi LK mengenai kemungkinan untuk membentuk UKM baru di ITB. Ternyata tidak serumit yang dibayangkan dalam membentuk UKM baru di ITB ini. Syarat-syaratnya antara lain: (1) memiliki anggota minimal 50 orang yang berasal dari minimal 2 program studi, (2) memiliki pembina yang merupakan karyawan/dosen ITB, (3) memiliki AD/ART dan struktur kepengurusan, (4) tidak serupa dengan UKM yang sudah ada, dan (5) memiliki program kerja selama setahun ke depan. Sayangnya, kami baru bisa mengajukan pembentukan UKM baru itu saat akan memasuki tahun baru, atau dalam kasus kami artinya baru pada tahun 2012 kami bisa mendaftarkan UKM Wing Chun ini.

Tapi tidak masalah. Sambil menunggu tahun 2012, kami persiapkan dulu segala sesuatunya, terutama meningkatkan jumlah anggota. Jumlah anggota (unit) Wing Chun di ITB ini sementara baru sekitar 22 orang, tapi itupun rasanya ada sekitar 5 orang yang berasal bukan dari ITB (karena latihan ini memang terbuka untuk umum sebenarnya). Masih bisalah mengumpulkan orang dua kali lipat lagi sampai akhir tahun ini.

Ini dia beberapa foto latihan dan anggota kami:

Wing Chun Style

Wing Chun Style

Anggota (unit) Wing Chun ITB dan pelatih

Anggota (unit) Wing Chun ITB dan pelatih