Tag Archives: pernikahan

Pertama Kali ke Ranah Minang

Dua minggu lalu (10/2) untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Ranah Minang. Perjalanan saya ke Provinsi Sumatera Barat ini sebenarnya dalam rangka untuk datang ke resepsi pernikahan seorang sahabat masa kuliah saya dulu, Neo, di Padang.

Sekitar 2-3 minggu sebelumnya, Neo membagikan undangan via Whatsapp ke grup sahabat jalan-jalan masa kuliah kami dulu. Salah seorang kawan saya di grup tersebut, Rizky, kemudian melalui private message mengajak saya untuk menghadiri pernikahan Neo tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya pun menyambut baik ajakan tersebut. Kapan lagi ada momen untuk pergi ke Tanah Minangkabau ini, pikir saya. Sudah lama sebetulnya saya penasaran ingin main ke sana.

Bagaimana tidak penasaran. Selama masa kuliah dulu beberapa kawan dekat saya banyak yang berasal dari sana. Sampai-sampai saya yang ketika tinggal di Malang bisa dihitung dengan jari berapa kali makan nasi Padang dalam setahun, sejak berteman dengan mereka, dalam seminggu minimal sekalilah makan nasi Padang. Hahaha.  Eh, ada hubungannya nggak ya? 😅

Karena itulah momen perjalanan ke Sumatra Barat ini pun, selain datang ke pernikahan Neo, juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan mengeksplorasi Kota Padang. Rizky yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Sumatera Barat dalam rangka urusan pekerjaan merekomendasikan untuk sekalian mengunjungi ke Bukittinggi dan daerah sekitarnya.

Jadilah disepakati usai acara pernikahan Neo, saya dan Rizky langsung pergi jalan-jalan. Sebelumnya, di acara pernikahan Neo pun kami sudah menjajal beberapa kuliner khas Minang. Ada Sate Padang, Martabak Kubang, dan tentu saja Nasi Padang. Hehehe.

Untuk cerita jalan-jalan di Padang dan sekitarnya akan saya coba tulis terpisah di artikel berikutnya. Btw, selamat menempuh hidup baru Neo! Semoga sakinah mawaddah wa rahmah.

 

 

Advertisements

Ke Jombang

Pada hari Minggu kemarin aku pergi ke Jombang untuk menghadiri pernikahan seorang teman kuliahku dulu, yang memang berasal dari Jombang. Kami beda jurusan sebenarnya. Namun, kami saling mengenal dengan baik karena pernah berada pada kelas yang sama saat kuliah tingkat satu dulu.

Btw, sudah lama aku tak pernah mampir ke Jombang. Aku dan teman-teman yang berasal dari Malang dulu biasa ‘mencegat’ kereta api Mutiara Selatan jurusan Surabaya-Bandung. Karena tak ada kereta Malang-Bandung ketika itu, kami pun terpaksa naik kereta dari Jombang (atau kadang-kadang juga dari Surabaya).

Dari Malang kami biasa naik mini bus ‘legendaris’ Puspa Indah yang ‘memonopoli’ rute Malang-Jombang via Batu-Pujon-Ngantang-Kandangan. Perjalanan ditempuh selama 2,5-3 jam. Tarifnya ketika itu Rp12.000. Kami memilih bus ke Jombang karena jalan tempat kami turun dari bus tidak terlalu jauh dari lokasi Stasiun Jombang. Cukup berjalan kaki saja.

Nah, kemarin ketika aku datang ke nikahannya temanku itu, aku pun juga naik bus Puspa Indah ini. Ongkosnya sekarang Rp14.000 sampai Jombang. Tapi kemarin aku sempat kebablasan dari lokasi di mana aku seharusnya turun. Untung ada Google Maps, jadi aku bisa mengetahui jarak dan denah lokasiku saat itu dengan lokasi acara nikahan (Gedung PSBR Jombang). Untung aku masih bisa sampai setengah jam sebelum acara berakhir, hehe.

Setelah acara nikahan, sambil menunggu jadwal kereta Mutiara Selatan ke Bandung, aku mampir ke Masjid Agung Baitul Mukminin. Sambil menunggu waktu Ashar aku duduk-duduk saja di serambi masjid sambil membaca buku. Suasana masjid agung ini terasa adem. Angin-angin semilir yang masuk terasa sejuk.

Masjid Agung Baitul Mukminin

Masjid Agung Baitul Mukminin

Setelah Ashar, aku mampir ke alun-alun Jombang yang lokasinya persis di sebelah timur masjid. Yah, sekedar kulineran saja di sana sambil merasakan suasana alun-alun Jombang yang ketika itu masih basah setelah turun gerimis. Napak tilas masa-masa awal kuliah dulu ketika kami biasa menunggu kereta dengan duduk-duduk menikmati kulineran di alun-alun ini. Persis di sebelah selatan alun-alun di situlah terletak Stasiun Jombang. Sekitar pukul 5 aku pun masuk ke dalam stasiun untuk menunggu kereta yang datang pukul 6 sore.

Alun-alun Jombang

Alun-alun Jombang

 

The IF’07 2nd Wedding

Selamat buat Jiwo & Ike yang telah melangsungkan pernikahan hari Ini. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, ma waddah, wa rahmah.

image

Dengan demikian pernikahan ini menjadi pernikahan kedua di keluarga besar Informatika angkatan 2007. Sebelumnya yang pertama adalah Pasca bulan Desember kemarin. Sayang ketika itu aku tak bisa hadir Karena bentrok dengan acara nikahan saudara sepupuku. Pernikahan Jiwo ini walaupun dilangsungkan di Madiun yang jauh dari Bandung dan Jakarta, tapi alhamdulillah ada 17 orang IF’07 yang menyempatkan hadir di sana. Selepas acara nikahan, kami semua jalan-jalan ke Telaga Sarangan di Magetan.

10-11-12

Dua hari yang lalu bertepatan dengan tanggal ‘cantik’ 10-11-12 (10 November 2012). Sudah menjadi rahasia umum, banyak sekali pernikahan yang dilangsungkan pada hari itu. Termasuk dua saudara sepupuku. Yang satu (dari keluarga besar ibu) menikah di Pekanbaru, dan yang satu lagi (dari keluarga besar ayah) menikah di Purwokerto. Namun, sesuai pertimbangan keluarga, aku hanya hadir di pernikahan adik sepupuku yang di Purwokerto.

Out of topic sebentar, kemarin itu adalah kali pertama aku ke Purwokerto. Bingung mau naik apa ke sana. Kereta api nggak ada yang jalur Bandung-Purwokerto. Akhirnya naik bus malam dari Bandung. Kurang tahu sih, pilihan busnya apa saja. Tapi sewaktu datang ke terminal Cicaheum, oleh agen-agen bus di sana kompak disuruh naik bus Sinar Jaya jurusan Wonosobo.

Busnya kelas eksekutif. Ongkosnya Rp50.000 baik dari Bandung maupun sebaliknya. Di Banjar istirahat sebentar sekitar 30 menit di rumah makan yang dikelola oleh PO Sinar Jaya. Perjalanan Bandung-Purwokerto ini idealnya 6-7 jam, tapi kemarin fakta di lapangan menempuh waktu sampai 8 jam.

Ok, back to topic. Kembali ke tentang tanggal 10-11-12. Kira-kira berikutnya tanggal cantik apalagi ya yang bakal ramai banyak orang nikah *sekalian cari-cari tanggal* #eh *cari calon dulu* :P.

Yang paling dekat sih 12-12-12 (12 Desember 2012), 20-12-2012 (20 Desember 2012). Untuk tahun depan mungkin 3-1-13 (3 Maret 2013), 1-3-13 (1 Maret 2013),  dan 11-12-13 (11 Desember 2013). Ada lagikah? Tapi kalau bagiku sih, apalah arti tanggal, hehehe. Insya Allah, bila telah menemukan yang pas, lebih cepat lebih baik. #BukanEdisiGalau

Datang ke Pernikahan Teman SMA di Kediri

Hari Ahad lalu (24 April 2011) seorang teman sekelasku semasa SMA melangsungkan pernikahan di Kediri. Wah, berarti sudah ada 4 temanku, entah itu teman SD, SMP, SMA, atau kuliah, yang telah menikah. Menariknya, keempat-empatnya adalah perempuan! Mantaplah. Dari keempat pernikahan itu, aku hanya datang ke pernikahan teman yang di Kediri itu. Maklum, 3 teman yang lain itu temanku sewaktu SD dan SMP, jadi aku nggak sampai diundang. Oiya, perkenalkan nama teamanku itu Masyita. Di SMA dulu biasa dipanggil dengan “Kak Syita” oleh teman-teman sekelas.

Sengaja aku datang dari Bandung ke Kediri untuk menghadiri acara pernikahan Kak Syita itu. Ada rasa kangen yang terselip di dalam hati ini untuk bertemu dengan teman-teman semasa SMA dulu. Mumpung ada acara pernikahan Kak Syita ini di mana teman-teman juga akan hadir ke sana, aku putuskan untuk datang ke acara itu walaupun harus jauh-jauh Bandung-Kediri PP dan hanya singgah sebentar saja di Kediri.

Dari Bandung aku menumpang KA Malabar yang berangkat pukul 15.30, pada hari Sabtu, 23 April 2011. Sampai di Kediri tepat saat waktu Subuh masih belum usai, sekitar pukul 5 kurang. Menurut rencana, dari stasiun Kediri aku akan disusul oleh teman-teman Telocor (code name kelasku saat SMA: Team Sewelas IA Limo Kocok Rame-Rame) yang berangkat dari Malang lalu bersama-sama datang ke tempat resepsi pernikahan Kak Syita.

Sambil menunggu teman-teman, aku mengisi waktu dengan menikmati hiruk-pikuk aktivitas orang-orang di stasiun. Tak lupa sebelumnya aku mandi pagi dulu di sana. Sengaja aku membawa bekal handuk, pakaian ganti, serta peralatan mandi untuk bersih-bersih diri di stasiun. Maklum, kalau sampai nggak mandi, tak terbayangkan betapa baunya tubuh ini bekas keringat yang menempel :D. Sehabis mandi, aku sarapan dulu di warung yang berada di depan stasiun. Menu sarapan saat itu adalah nasi pecel. Sudah lama aku tak makan menu tersebut sebab susah sekali mencari menu Jawa Timuran di Bandung ini yang benar-benar memiliki cita rasa masakan Jawa Timur.

Akhirnya yang ditunggu datang juga. Pukul 11 pagi lebih sedikit rombongan teman-teman dari Malang menjemputku di stasiun Kediri. Rombongan teman-teman Telocor terdiri atas 2 mobil, mobil yang satu dikendarai oleh Reza atau yang akrab dipanggil dengan Cimeng, ketua kelas kami saat kelas X, dan yang satunya lagi adalah mobil milik Atina, atau yang akrab dipanggil “bos” saat SMA dulu.

Setelah itu, kami melaju menuju tempat resepsi pernikahan Kak Syita di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Banyak sekali undangan yang hadir saat itu yang berasal dari berbagai kota. Sementara itu, di tempat pelaminan pernikahan pasangan mempelai sudah duduk manis menebarkan senyum ke para undangan :).

Aku dan anak-anak Telocor yang lain langsung mengambil tempat yang tersedia. Kebetulan sesaat setelah kami datang acara berikutnya adalah makan-makan :D! Tanpa banyak diminta, kami pun langsung beranjak dari tempat duduk untuk bergabung dengan tamu undangan yang lain untuk mengambil menu yang tersajikan. Alhamdulillah, perut saya siang itu kenyang, hehehe. Jarang-jarang anak kos mendapat kesempatan makan sebanyak ini ^_^.

Selesai acara makan-makan, kami duduk-duduk dulu saling mengbrol satu sama lain sambil menunggu antrian untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan foto bersama. Saat menunggu itu, tiba-tiba piala “Telocor Wedding Award” yang sudah kami persiapkan untuk Kak Syita terjatuh dan patah. Oh ya, sekedar pemberitahuan, piala ini sengaja kami buat bersama sebagai piala bergilir untuk diserahkan kepada warga telocor yang baru saja menikah dan diukir namanya di piala itu. Makanya, begitu piala itu patah, sempat terjadi kepanikan di antara kami. Akhirnya, diputuskan untuk menyambungnya dengan lem alteco yang dibeli di toko dekat tempat resepsi. Hahaha, untung saja.

piala Telocor Wedding Award

piala Telocor Wedding Award

Sampai akhirnya tibalah giliran kami untuk berfoto bersama. Aku diberikan kepercayaan oleh teman-teman sekelas yang lain untuk mewakili kelas dalam menyerahkan piala tersebut kepada pasangan mempelai.

Aku menyerahkan piala

Aku menyerahkan piala

foto bersama Telocor + mempelai

Foto bersama Telocor + mempelai

Selesai foto-foto, kami berpamitan kepada mempelai untuk meninggalkan tempat resepsi. Selanjutnya, kami melaksanakan sholat berjamaah di masjid Desa Kalirong itu kemudian melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Malang. Sebelumnya tentu saja, aku diantar dulu ke stasiun Kediri. Aku berpisah dengan teman-teman Telocor di sana. Waktu yang hanya sebentar untuk kami bersama hari itu, tapi benar-benar 3 jam yang berkesan bagiku saat itu. Jauh-jauh dari Bandung ke Kediri bertemu dengan wajah-wajah yang akrab denganku saat SMA dulu, Setidaknya bisa menjadi penghibur bagi diriku yang tengah menjalani masa hectic mahasiswa tingkat akhir, hehehe.

So, who will be the next? 😀