Category Archives: Traveling

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 5-Tamat): Sunrise di Penanjakan

Hari 4: Minggu, 18 November 2012

Pukul 2.30 dini hari kami bangun tidur dan bersiap-siap untuk menuju ke Penanjakan II. Katanya pemandangan sunrise paling bagus ada di Penanjakan I, yakni tepat di bagian puncak Penanjakan. Penanjakan I bila dipandang dari Cemoro Lawang adalah tempat yang ada banyak semacam tower BTS atau tower listrik itu. Untuk mencapai Penanjakan I, pengunjung bisa menumpang jeep. Sayangnya ketika itu jalan sedang diperbaiki sehingga akses ke sana terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

Kami berangkat ke Penanjakan II dengan berjalan kaki. Jalanan yang dilalui sebagian sudah beraspal yang masih bisa dilalui kendaraan bermotor. Kemudian jalan menyempit menjadi berupa tanah, di mana kendaraan bermotor maksimal cuma sampai di sana saja. Lalu jalan berganti menjadi berupa anak-anak tangga.

Di Penanjakan II ini ada sebuah gazeebo besar sebagai tempat para pengunjung untuk mengamati sunrise. Namun, kami tak berhenti sampai di sana. Kami mendaki lagi melalui jalanan setapak yang cukup terjal sampai menemukan spot yang agak lapang namun tidak terlalu ramai dibandingkan dengan gazeebo yang tadi.

Oh ya, perjalanan dari penginapan menuju spot melihat sunrise kami ini kurang lebih sekitar sejam. Sebenarnya kalau dihitung-hitung jaraknya tidak begitu jauh. Hanya saja karena kami melalui jalan yang sudah ada dan jalan itu berkelak-kelok, jarak tempuhnya pun menjadi lebih jauh. Akan lebih cepat jika ambil jalan memotong melalui pematang ladang-ladang yang ada. Sayang euy, ketika itu keadaan masih sangat gelap.

Dari tempat kami tersebut kami menantikan detik-detik matahari terbit. Sekitar pukul setengah 5 pagi langit di sebelah timur Penanjakan mulai menampakkan rona merah fajar. Sementara itu, di sebelah barat, yakni kaldera pegunungan Tengger dan puncak Semeru di kejauhan berangsur-angsur mulai menunjukkan penampakannya. Kami pun tak melewatkan momen tersebut dengan berfoto-foto.

Oh ya, di sana kami sempat berkenalan dengan seorang backpacker asal Jerman yang datang ke Bromo bersama temannya yang berasal dari Medan yang juga sesama backpacker. Pertemuan mereka terjadi ketika sama-sama sedang travelling di Thailand. Kami menyempatkan juga foto-foto dengan cak Dominic (kalau tidak salah nama dia begitu ejaannya). 😀

Foto bareng bule Jerman (photo by Neo)

Foto bareng bule Jerman (photo by Neo)

Banyak juga ya bule-bule yang berkunjung ke Bromo. Selain cak Dominic ini juga ada bule-bule lain yang kalau kudengarkan sekilas percakapan mereka sepertinya berasal dari Eropa utara atau timur. Nggak heran sih, Bromo kan memang Continue reading

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 4): Bromo

Siang itu menunjukkan pukul 14.00 ketika kami selesai menunaikan sholat dhuhur dijama’ dengan ashar. Kami sempat ragu apakah akan berjalan kaki ke sana. Teman-teman sudah kelihatan lelah. Jarak yang ditempuh juga sangat jauh (asumsi jalan lewat daerah Bantengan).

Akhirnya kami memutuskan untuk mencarter jeep saja yang memang banyak berjejeran di depan kantor TNBTS. Negosiasi dilakukan dan bapak sopir jeepnya mentok di angka 500 ribu. Itu tawaran pertama dan bapaknya tidak mau memberikan kesempatan buat kami untuk menawar. Istilahnya, ‘take it or leave it‘.

Sebenarnya aku tidak terlalu kaget juga dengan tarif yang ditawarkan oleh sopir jeep tersebut. Sehari sebelumnya aku sempat bertanya kepada bapak sopir truk yang membawa kami ke Ranu Pani mengenai ongkos normal Ranu Pani-Bromo itu. Kata bapaknya sih di kisaran 450 ribu kalau naik jeep. Yah, pada faktanya ongkos yang ditawarkan selisih 50 ribu dari tarif normal. Bapak sopir jeep ini beralasan karena lagi peak season sehubungan dengan acara Avtech di Semeru ini jadi wajar harga segitu.

Kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami akan memaksakan untuk berjalan kaki saja ke Bromo. Kami pun akhirnya mengambil tawaran jeep tersebut.

Perjalanan dengan jeep dari Ranu Pani ke Bromo ini melalui Desa Ranu Pani, Bantengan, pertigaan Jemplang, bukit teletubbies (savana), dan lautan pasir. Di Bantengan kami berhenti sejenak untuk foto-foto dengan latar belakang kaldera Tengger.

Savana Tengger

Savana Tengger

Berempat di Bantengan

Berempat di Bantengan

Arghh … berada di Bantengan (dan juga Bromo) ini mengingatkanku akan masa SMA dulu (baca artikel ini). Ketika itu aku dan teman-teman sekelas jalan-jalan ke Bromo dengan didampingi beberapa guru juga. Saat disanalah aku tiba-tiba menyadari aku ‘menyukai’ salah seorang teman cewekku di kelas, hahaha.

Ok, kembali ke topik lagi. Dari Bantengan jeep melanjutkan perjalanan lagi menuju pertigaan Jemplang. Untuk menuju ke savana, jeep memang harus mengambil jalan memutar melalui pertigaan Jemplang karena memang dari sanalah akses jalan yang tersedia. Sedangkan apabila ingin berjalan kaki, dari Bantengan ini kita bisa melakukan trekking menuruni dinding kaldera melalui jalan setapak yang ada.

Di savana jeep berhenti lagi memberikan kesempatan kepada kami untuk berfoto-foto. Alhamdulillah, walaupun di Ranu Pani siang itu sempat turun hujan, di kaldera Tengger ini tidak tampak bekas dan tanda-tanda hujan turun. Kami pun bisa leluasa menikmati alam kaldera Tengger ini. Angin yang berhembus di sana juga sangat sejuk.

Neo dan Luthfi yang baru pertama kali ke kaldera Tengger ini sampa terkagum-kagum. Kayak di film Skyfall kata mereka pemandangan di sini.

Di depan jeep

Di depan jeep

Savana

Savana

Savana

Savana

Setelah puas berfoto-foto, kami kembali ke jeep dan melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Total waktu tempuh dari Ranu Pani hingga ke Gunung Bromo ini hampir dua jam, termasuk waktu untuk foto-foto.

Ketika tiba di kaki Gunung Bromo, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 4 sore lebih. Masih ada waktu buat kami untuk menikmati Bromo sebelum langit gelap. FYI, waktu maghrib di kawasan Bromo ini ketika itu sekitar pukul setengah enam kurang.

Kami menitipkan carriercarrier kami kepada bapak-bapak penjual makanan di kaki Bromo itu. Sebagai balas jasanya kami memberikan uang 10 ribu kepada beliau agar mau menjaga barang-barang kami.

Setelah itu, kami bersama-sama menaiki tangga untuk menuju kawah Bromo. Kondisi anak tangga ini sangat Continue reading

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 3): Ranu Kumbolo

Tracking dengan menggunakan ponco ternyata tidak begitu nyaman. Tangan menjadi tidak  cukup leluasa bergerak. Untung hujan mulai berangsur-angsur reda. Ketika hujan tinggal menyisakan gerimis, aku dan teman-teman yang lain pun melepas ponco.

Menurut papan petunjuk jalan yang ada, jarak dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo ini adalah 10,5 km. Ada 4 pos yang berada di trek antara Ranu Pani dan Ranu Kumbolo ini. Jarak dari titik start ke pos 1 sepertinya adalah yang paling panjang. Rasanya ada sejam lebih kami menempuhnya. Namun, trek yang dilalui ini masih sangat nyaman. Trek sudah terpasang paving stone dan medan cenderung landai.

Di Pos 1

Di Pos 1

Dari pos 1 ke pos 2 jaraknya lebih ‘dekat’. Kurang dari sejam kami menyusurinya. Di antara pos 2 dan pos 3 ada ‘pos bayangan’ yang bernama Watu Rejeng. Kurang tahu juga kenapa dinamai seperti itu, padahal tak terlihat ada ‘batu rejeng’ di sana. Dari papan yang ada di sana kami mendapatkan informasi bahwa jarak dari Ranu Pani ke Watu Rejeng ini adalah 4,5 km. Wah, berarti masih ada sekitar 6 km lagi yang harus kami tempuh.

Memandang ke puncak Semeru

Memandang ke puncak Semeru

Tak terasa maghrib sudah tiba. Langit mulai gelap. Kami pun mengeluarkan senter untuk pencahayaan. Trekking pun menjadi mulai melambat karena harus lebih berhati-hati. Apalagi, trek cukup becek akibat hujan. Bila tak hati-hati bisa terpeleset ke jurang.

Singkat cerita, kami pun akhirnya sampai di pos 3. Aku masih ingat betul, ketika itu waktu menunjukkan pukul 18.30. Dari pos 3 ke pos 4 ini jaraknya tidak begitu jauh. Namun, banyak tanjakan yang harus dilalui. Cukup menguras tenaga juga.

Nah, dari pos 4 ke Ranu Kumbolo ini sangat dekat. Bahkan, Dari atas pos 4 ini kita sudah bisa melihat Ranu Kumbolo dengan bukit Tanjakan Cinta-nya. Dan malam itu dari pos 4 ini kami melihat Ranu Kumbolo bagaikan pasar malam. Bahkan mungkin lebih tepat disebut perkampungan. Gemerlap cahaya lampu dari tenda-tenda pendaki memenuhi ruang di tepi danau. Luar biasa. Aku tak bisa mengira berapa jumlah manusia yang berkumpul di sana. Ada ribuan mungkin.

Kami akhirnya sampai juga di Ranu Kumbolo. Tepatnya di sisi utara. Kami langsung mencari tanah kosong untuk mendirikan dua tenda. Satu tenda kapasitas 4 orang dan satu lagi tenda berkapasitas 2 orang. Tanpa banyak membuang waktu, begitu menemukan tanah lapang, kami pun segera mendirikan tenda.

Setelah tenda selesai didirikan, kami kemudian segera mempersiapkan peralatan memasak dan makan. Menu kami malam itu adalah mie instan pakai nasi dan sarden. Kami sengaja membawa yang simpel-simpel saja karena memang cuma berencana menetap di sana satu malam saja.

Pukul sepuluh malam setelah beres santap malam kami masuk ke tenda masing-masing yang sudah ditentukan untuk beranjak tidur. Sebelum itu, aku menunaikan sholat maghrib dan isya’ terlebih dahulu (jama’ takhir).

Hari 3: Sabtu, 17 November 2012

Pukul 04.20 aku terbangun dari tidur karena mendengar riuh suara kicauan burung plus percakapan orang-orang dari luar tenda. Langit sudah cukup terang ternyata. Aku pun langsung mengambil air wudlu dan menunaikan sholat shubuh. Setelah itu membangunkan teman-teman yang lain.

Langit Ranu Kumbolo Pukul 4.30

Langit Ranu Kumbolo Pukul 4.30

Kami tak ingin melewatkan sunrise dari Ranu Kumbolo ini. Sayang euy, karena kekurangtahuan, kami tak sempat menikmati sunrise di Ranu Kumbolo dari spot terbaik di sana. Pagi itu Ranu Kumbolo sangat ramai dengan para pendaki yang ingin menikmati sunrise juga. Spot terbaik sih katanya di Continue reading

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 2): Ranu Pani

Hari 2: Jumat, 16 November 2012

Pukul 7.05 keretaku tiba di Stasiun Malang Kota Baru. Hebat euy, bisa tiba tepat sesuai yang tertulis di jadwal. Setibanya di stasiun aku tidak langsung keluar, tetapi duduk di peron jalur 1 menunggu kedatangan Luthfi dan Neo dari Jakarta. Sementara Pras dan adiknya sudah berada di Malang sejak sehari sebelumnya dan menginap di sebuah wisma dekat stasiun.

Stasiun Malang

Stasiun Malang

Sekitar pukul 7.40 kereta Matarmaja dari Jakarta Pasar Senen tiba. Ramai sekali rombongan ber-carrier yang terlihat turun dari kereta. Tujuan mereka belum tentu ke Semeru seperti halnya kami. Banyak sekali destinasi wisata dengan Malang Raya ini. Ada berbagai macam tempat wisata Kota Batu yang berjarak hanya kurang dari 60 menit dari pusat kota.Ada juga Pulau Sempu, Pantai Sendang Biru, Pantai Balekambang, Pantai Goa Cina, Bromo, dsb.

Kami bersih-bersih diri dahulu secara bergantian di dalam stasiun. Sementara itu, Pras dan adiknya menunggu di luar stasiun. Cukup lama kami berada di stasiun. Maklum, kamar mandi stasiun sedang laris saat itu. Banyak penumpang yang baru tiba juga ikut menumpang mandi di sana. Sepertinya mereka juga sama seperti kami, traveler yang hendak melanjutkan jalan-jalan di Kota Malang dan sekitarnya.

Ketika yang lain sedang bersih-bersih diri, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku. Ternyata beliau adalah sopir angkot yang menawariku untuk borongan ke Tumpang. Beliau menawarkan tarif Rp 100.000 untuk kami berlima sampai ke Tumpang. Aku pun mencoba menawar antara 50.000 – 60.000. Tapi bapak tersebut hanya mau menurunkan tawaran di angka 75.000. Hmm … daripada naik angkot dua kali dan harus menggotong-gotong carrier, memang lebih enak carter angkot karena langsung ke tujuan. Akhirnya, tawaran itupun kuiyakan.

Naik Angkot

Naik Angkot

Pukul 9.45 kami berangkat meninggalkan stasiun dengan menumpang angkot carteran. Di depan angkot kami ternyata juga ada angkot lain yang dicarter oleh rombongan anak-anak UI  berjumlah sekitar 13 orang. Nah, kalau mereka ini kenanya 100.000 karena orangnya banyakan. Perjalanan ke Tumpang ini memakan waktu sekitar 30 menit. Perlu diingat, karena ini carteran, jadi waktu tempuhnya lebih cepat.

Tujuan kami di Tumpang adalah basecamp Pak Rus. Di sana sudah berkumpul rombongan anak UI tadi. Aku pun bernegosiasi dengan ketua rombongan anak UI ini untuk join dengan mereka ke Ranu Pani. Pak Rus juga memperbolehkan. Masing-masing dari kami dikenakan ongkos 30.000 untuk menumpang truk Pak Rus ke Ranu Pani. Kami sepakat untuk berangkat ke Ranu Pani setelah sholat Jumat.

Basecamp Pak Rus

Basecamp Pak Rus

Sembari menunggu waktu keberangkatan, aku dan Neo mampir ke Indomaret di dekat Pasar Tumpang untuk membeli kebutuhan logistik. Selain itu, kami juga mampir di Puskesmas belakang Pasar Tumpang untuk membuat surat keterangan sehat. Ibu-ibu petugas Puskesmas itu ternyata sudah tahu apa tujuan kami ke sana :D. Maklum, puskesmas ini adalah langganan para calon pendaki untuk membuat surat keterangan sehat.

Oh ya, perlu diketahui persyaratan untuk mendaki Gunung Semeru ini selain surat keterangan sehat (fotocopynya) adalah Continue reading

Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo (Bagian 1): Persiapan

Pada long weekend kemarin aku bersama teman-teman kelompok backpacker semasa kuliah jalan-jalan ke Ranu Kumbolo (Gunung Semeru) dan kawasan Gunung Bromo. Sempat waswas juga sih ketika mendengar info bahwa pendakian di Semeru sempat ditutup karena ada event jambore “Avtech” yang kabarnya jumlah pesertanya hampir mencapai 2000 orang. Padahal tiket kereta sudah dibeli jauh-jauh hari dan mahal pula.

Namun sehari menjelang keberangkatan dapat kabar dari media sosial (akun @infogunung) bahwa pendakian telah dibuka kembali untuk umum. Fiuhh … senangnya hati ini. 😀

Ok, karena panjangnya cerita yang ingin kutulis, catatan perjalanan ini akan kubagi beberapa bagian (baca: artikel).

Hari 1: Kamis, 15 November 2012

Malam sebelumnya terpaksa menginap di kantor untuk menyelesaikan beberapa kodingan yang belum beres karena Senin-nya akan didemokan ke klien. Maklum saat jalan-jalan nanti sudah nggak mungkin bisa menyentuh laptop lagi.

Paginya dari kantor dalam perjalanan pulang ke kosan aku mampir terlebih dahulu di persewaan perlengkapan outdoor Almen di jalan burung puyuh. Di sana aku menyewa ransel 60L (Rp3.000/hari), matras (Rp2.500/hari), lampu badai (Rp2.500/hari), dan kompor gas portable (Rp10.000/hari), dan membeli tabung gas 230g (Rp11.000). Sayangnya, untuk ransel tidak tersedia rain coat di dalamnya. Padahal musim hujan begini. Tapi apa boleh buat karena aku punyanya cuma ransel 35L yang nggak mungkin cukup untuk barang-barang yang akan kubawa.

Selain menyewa peralatan di Almen, aku juga membeli beberapa kebutuhan di pasar simpang seperti trash bag (untuk tempat sampah dan sebagai cover untuk hujan) dan panci kecil, serta memberi beberapa perbekalan.

Ransel pun sudah siap

Ransel pun sudah siap

Karena keterbatasan ukuran tas (cuma 60L), sementara aku kebagian jatah untuk membawa kompor gas, lampu badai, dan panci yang cukup memakan tempat — belum barang-barang pribadi yang lain seperti sleeping bag, matras, pakaian ganti, ponco, dsb — akhirnya terpaksa harus ada yang dikorbankan (baca: ditinggal). Perlu pintar-pintar juga menata posisi barang di dalam ransel agar ruang yang ada bisa terpakai secara optimal.

Ba’da dhuhur akhirnya beres juga packing-nya. Setelah itu aku mandi, lalu berangkat menuju stasiun Bandung. Di stasiun Bandung ternyata ramai juga orang-orang ber-carrier. Kereta yang mereka tumpangi juga sama, yakni KA Malabar. Sepertinya tujuan mereka sama sepertiku, ke Malang.

Dalam perjalanan ke Malang ini seharusnya aku pergi bersama Kamal (teman kuliah dulu dan pernah satu kontrakan-red). Tapi seminggu sekitar seminggu sebelum hari H, ia tidak jadi ikut karena ada suatu urusan.

KA Malabar beranjak meninggalkan Bandung tepat pukul 15.30. And … the trip has begun! (bersambung)

Jalan-Jalan ke Kelagian & Kiluan

Setelah terakhir tahun lalu ke Tidung — walaupun sebagian juga ada yang backpacking keliling Asia Tenggara yang aku tidak ikut di dalamnya Maret lalu dan sebagian hiking ke Gunung Gede Juni lalu, kini kami bisa berkumpul lagi dan melakukan trip bersama-sama. Kali ini tujuan kami adalah ke Kelagian & Kiluan, Lampung.

Jumat, 31 Agustus 2012

Rombongan peserta trip kali ini terdiri atas dua orang domisili Bandung dan lima orang domisili Jakarta. Aku dan Kamal berangkat dari Bandung dan berkumpul di Stasiun Gambir, Jakarta bersama empat orang yang lain. Kami bersama-sama menumpang bus DAMRI Jakarta Gambir-Bandar Lampung. Sedangkan satu orang lagi, Adi, memilih untuk pergi pakai cara ngeteng, maksudnya nyambung-nyambung pakai transportasi umum gitu.

Sabtu, 1 September 2012

Rombongan 6 orang tiba lebih dulu di terminal Rajabasa, Bandar Lampung pada pukul 6.30. Sedangkan Adi menyusul tiba sekitar setengah jam kemudian. Untuk perjalanan selama di Lampung, kami menyewa mobil rental. Di rental tersebut sewa mobil diharuskan untuk menggunakan sopir dari mereka.

Sebelum berangkat ke tujuan sesungguhnya, kami mampir sejenak untuk sarapan di pinggir jalan depan Museum Lampung. Sembari sarapan, kami merencanakan itinerary untuk dua hari itu.

Sarapan

Sarapan

Seusai sarapan, kami langsung melaju menuju Pantai Klara. Oh ya, trip leader kami kali ini adalah Adi. Dia yang merencakan dan mengatur agenda kami di Lampung ini. Perjalanan ke Pantai Klara menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam. Kami mampir dahulu di minimarket di kota untuk membeli bekal selama berada di ‘pelosok’ nanti.

Di hari Sabtu itu pantai Klara begitu sepi. Tentang pantainya itu sendiri, kalau boleh dibilang pantai ini sebenarnya ‘biasa-biasa’ saja. Tapi tiba-tiba ada tukang perahu menghampiri. Dia menawarkan jasa untuk mengantarkan ke pulau Kelagian. Tarif yang dia tawarkan Rp15.000 per orang PP. Kami berjumlah 7 orang dan harusnya kena Rp105.000. Setelah mencoba menawar, akhirnya sepakat di angka Rp90.000.

Perjalanan pantai Klara-pulau Kelagian ini memakan waktu skitar 20 menit menggunakan perahu. Sepanjang perjalanan menuju pulau Kelagian itu, tukang perahu itu menceritakan mengenai pulau Kelagian itu yang katanya punya pasir putih nan lembut itu. Selain itu, pulau ini sering dijadikan tempat latihan militer Angkatan Laut (AL). Bahkan, katanya pulau ini seringkali dijadikan sasaran tembak rudal dalam latihan AL yang markasnya berada di pulau seberang. Apabila AL akan melakukan latihan, otomatis pulau ini akan ditutup untuk masyarakat umum sementara waktu.

Menuju pulau Kelagian

Menuju pulau Kelagian

Begitu sampai di Kelagian, hanya ada satu kata di dalam benakku, “Wow!”

Benar yang dikatakan masnya. Pasir pantai di Kelagian ini benar-benar halus dan lembut. Hampir tak ada kerikil atau benda kasar apapun. Berguling-guling di pasir pun juga menyenangkan. Bahkan, si Neo, Luthfi, sama Rizky sampai menguburkan diri di pasir :D. Tampak sekali mereka begitu menikmati ‘luluran’ dengan pasir pantai Kelagian ini.

Menguburkan diri di pasir pantai

Menguburkan diri di pasir pantai

Asyik juga berada di pulau ini. Pasirnya putih, bersih, dan lembut. Suasananya begitu tenang, sepi, tak banyak orang di sana. Bahkan ketika kami ke sana, wisatawan pulau ini hanya rombongan kami dan ada satu rombongan lagi yang hanya mampir sebentar ke pulau ini sebelum lanjut ke spot snorkeling. Sayang euy, di sana kami tidak sempat snorkeling. Baru tahu dari teman setelah pulang dari Lampung kalau di sana itu sebenarnya ada spot snorkeling yang sangat cantik. Bahkan ada ikan ‘nemo’ juga katanya.

Beberapa gubug di Kelagian

Beberapa gubug di Kelagian

Putih dan lembutnya pantai Kelagian

Putih dan lembutnya pantai Kelagian

Puas bermain-main di pulau Kelagian, kami pun beranjak kembali ke pantai Klara. Di pantai Klara itu kami bersih-bersih diri di toilet umum yang terdapat di sana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Teluk Kiluan. Perjalanan dari pantai Klara ke Teluk Kiluan ini memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jaraknya sendiri sekitar 40-an km. Namun, akses menuju ke sana harus melalui jalanan yang berlubang sana-sini. Bahkan, ada Continue reading

Pendakian ke Gunung Gede (Bagian 2 – Tamat) : Puncak Gede

Tak terasa waktu sudah mendekati subuh. Kabut yang semalam konsisten memenuhi seluruh ruang di udara Surya Kencana, kini hanya mengapung di kepala gunung saja. Kami pun mulai memberesi perlengkapan, termasuk membongkar tenda. Tetapi sebelum itu, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan mie instan.

Sholat subuh

Sholat subuh

Butuh waktu agak lama ternyata buat memberesi perlengkapan kami dan menatanya ke dalam tas kembali. Mungkin karena ukuran tenda yang sempit membuat kami tak leluasa bergerak dan juga karena penerangan yang tak cukup. Kami pun terpaksa harus bergantian. Dua orang beres-beres, sementara yang lainnya sambil menunggu, sholat subuh dulu.

Semuanya beres ketika jam menunjukkan pukul 5. Wah, bakal kehilangan momen sunrise nih, dalam hati ku berujar. Sebabnya, jarak tempuh dari Surya Kencana Barat ke puncak Gede setidaknya memakan waktu 30 menitan. Itupun kalau kita mendaki normal tanpa banyak istirahat.

Pendakian subuh-subuh

Pendakian subuh-subuh

Faktanya, medan pendakian dari Surya Kencana Barat ke puncak Gede ini memang benar-benar sangat menanjak. Belum lagi beban carrier yang kami bawa, semakin membuat berat langkah kami. Ditambah dengan kondisi saat itu yang masih cukup gelap.

Ketika mungkin sudah ada separuh perjalanan lebih, aku pun memacu diri untuk berlari menuju puncak dengan meninggalkan teman-temanku yang masih beristirahat. Pikirku waktu itu, satu orang pokoknya harus ada yang menangkap momen sunrise itu. Tapi setelah kupikir-pikir kemudian, keputusan yang aku ambil itu sebenarnya salah juga sih, meninggalkan teman di belakang. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan mereka? Atau terjadi pada diriku sendiri?

Pada akhirnya aku sampai juga di puncak Gunung Gede lebih awal dari teman-teman. Ketika itu waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat 10 pagi. Sudah terlambat sebenarnya untuk menyaksikan sunrise. Walaupun demikian, setidaknya aku masih bisa menyaksikan langit kemerahan sisa-sisa rekahan fajar di balik sang surya. Subhanallah, sungguh pemandangan yang mempesona!

Sunrise di Puncak Gede

Sunrise di Puncak Gede

Sedikit OOT, ketika berada di puncak Gede itu, aku sempat disapa salah seorang anak ITB. Dia mengenaliku dari jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika yang kukenakan. Ternyata dia anak Tambang 2007 seangkatan denganku. Dia naik ke Gunung Gede karena ikut acara Mountain Magazine kalau nggak salah.

Sekitar setengah jam kemudian 3 orang temanku menyusul tiba di puncak Gede. Jadilah kami berfoto-foto bersama menikmati pemandangan di atas puncak Gunung Gede ini. Ketika itu, kondisi di puncak Gede ini angin bertiup cukup kencang dan suhunya juga sangat dingin.

Kawah Gunung Gede

Kawah Gunung Gede

Berempat di puncak Gede

Berempat di puncak Gede

Jalan di puncak Gede

Jalan di puncak Gede

Dari atas puncak Gunung Gede ini kita juga bisa melihat langsung Gunung Pangrango dan juga Gunung Salak di kejauhan.

Pangrango

Pangrango

Selain itu, tampak juga dari puncak Gunung Gede ini alun-alun Surya Kencana Barat yang menjadi kawasan favorit pendaki untuk berkemah.

Perkemahan di Surya Kencanan Barat

Perkemahan di Surya Kencanan Barat

Setelah puas berfoto-foto, sekitar pukul 8 pagi kami mulai perjalanan menuruni Gunung Gede ini. Kali ini jalur yang kami tempuh adalah jalur Cibodas. Dari puncak Gunung Gede kami berjalan ke arah barat. Kami melalui turunan yang oleh para pendaki dikenal dengan sebutan “turunan setan” atau “tanjakan setan” — tergantung dari mana arah kita melaluinya. Disebut demikian karena Continue reading