Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Fun Trip Ke Garut Bersama IF’07

Akhir pekan yang lalu (5-6 Oktober) aku bersama teman-teman satu angkatan Informatika (IF) 2007 jalan-jalan bareng ke Garut, tepatnya ke Gunung Papandayan dan Puncak Darajat. Tidak semuanya memang. Hanya 29 orang saja, atau hampir 25% dari angkatan.

Acara jalan-jalan bareng angkatan ini terselenggara dengan bantuan EO (Event Organizer) Teras Nusantara. Kebetulan salah satu owner-nya adalah anak IF’07 juga. Semua urusan yang berkaitan dengan itinerary selama di sana, teknis keberangkatan, transportasi, makanan, hingga akomodasi sudah dipercayakan kepada mereka.

Jumat, 4 Oktober

Rombongan yang tergabung dalam acara ini terbagi ke dalam dua kota asal keberangkatan: Jakarta dan Bandung. Teman-teman regional Jakarta dan sekitarnya berkumpul di Sarinah Jl. Sudirman pukul 9 malam. Dari sana mereka menumpang Elf yang membawa mereka ke Bandung. Sementara itu teman-teman Regional Bandung, termasuk aku, berkumpul di Little Wings Cafe & Library Bandung, yang sebenarnya juga merupakan kantor dari Teras Nusantara. Di sanalah meeting point antara rombongan Jakarta dan Bandung.

Oh ya, Little Wings ini terbuka buat umum lho. Maksudnya, tempat ini bukan dikhususkan untuk peserta event-eventnya Teras Nusantara saja. Di sana kita bisa memesan beberapa makanan dan minuman. Sesuai namanya, di sini juga terdapat rak-rak yang dipenuhi dengan berbagai macam buku dari berbagai genre. Cocok buat mereka yang hobi baca. Halaman tempatnya juga asri. Haha, kok jadi promosi. Mending cek saja langsung di halaman Facebooknya.

Sabtu, 5 Oktober

01.00. Teman-teman dari Jakarta tiba di Little Wings. Sesuai itinerary kami baru akan memulai perjalanan ke Garut sekitar pukul 3 dini hari. Artinya masih ada waktu sekitar 2 jam bagi teman-teman untuk beristirahat. Dari pihak Teras Nusantara, mereka sudah menyediakan ruang luas di lantai 3 untuk teman-teman beristirahat. Ada sejumlah kasur dan bantal yang bisa digunakan untuk tidur.

03.00. Semuanya bersiap di lobi Little Wings. Tiga buah mobil KIA Pregio juga sudah bersiap di halaman Teras Nusantara. Peserta trip mulai memasukkan tas-tasnya ke dalam mobil. Sekitar pukul 3.30 kami pun berangkat menuju Garut. Di tengah jalan kami mampir ke SPBU untuk melaksanakan sholat Subuh.

06.00. Kami tiba di Desa Cisurupan yang berada di kaki Gunung Papandayan. Inilah desa terakhir yang dapat dicapai dengan angkutan umum bagi mereka yang hendak ke Gunung Papandayan. Untuk melanjutkan perjalanan ke pos pendakian, biasanya mereka mencarter mobil pick-up yang cukup banyak terlihat di sana. Di desa ini kami mampir membeli perbekalan di sebuah minimarket.

Perjalanan dari Desa Cisurupan menuju Pos pintu masuk Gunung Papandayan ini harus melalui jalanan yang sangat buruk. Banyak ruas jalan yang aspalnya berlubang. Jalannya juga memiliki banyak tanjakan. Salah satu mobil sempat terpaksa harus didorong ramai-ramai karena terjebak di salah satu lubang jalan. Kurang lebih 45 menit waktu dibutuhkan untuk mencapai pos pintu masuk dari Desa Cisurupan.

07.00. Selama satu jam kami bersantai-santai dahulu di gerbang masuk Gunung Papandayan. Di sana terdapat parkiran mobil yang sangat luas. Di sisi barat dan selatannya berjejer-jejer warung makan. Kami mampir sarapan pagi di salah satu warung tersebut. Aku memesan nasi goreng yang harga satu porsinya Rp8.000 sudah termasuk telor mata sapi.

Setelah perut terisi dan persiapan sudah dilakukan, kami berkumpul kembali untuk mendapatkan briefing dari Yasir, selaku koordinator perjalanan kami kali ini. Kami juga sempat untuk berfoto bersama sebelum memulai trekking.

IF'07 di Papandayan (photo by Teras Nusantara)

IF’07 di Papandayan (photo by Teras Nusantara)

08.00. Trekking pun dimulai. Medan pertama yang kami lalui adalah berupa batu-batuan. Kurang lebih hanya 20 menit dari pintu masuk pendakian, kami sudah sampai di area perkawahan Papandayan. Yep, kawah! Inilah uniknya Papandayan. Kawahnya akan kita temui di awal pendakian. Asap belerang menyembul dari lubang di sela-sela bebatuan. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Tapi banyak sekali lubang-lubang yang menyembulkan asap belerang di kawah tersebut.

Setelah medan bebatuan, kami mulai melalui medan berupa tanah berkerikil. Cuaca saat itu terik matahari begitu menyengat walaupun angin yang berhembus cukup menyejukkan. Agak menyesal aku tak memakai sunblock ketika melakukan pendakian. Karena begitu pulang dari sana, beberapa teman bilang bahwa aku menjadi lebih hitaman. Kulit tangan juga terlihat jadi belang.

Di percabangan ke arah Pondok Salada dan Tegal Panjang kami beristirahat sebentar beberapa menit. Selain melalui pintu masuk pos pendakian Papandayan di Cisurupan, pendakian Gunung Papandayan ini juga dapat dilakukan melalui Pangalengan, Kabupaten Bandung, melewati Tegal Panjang. Kapan-kapan kayaknya harus nyobain ke Papandayan lewat Tegal Panjang ini. Lihat dari foto-fotonya … wah, cakep banget pemandangannya. Hidden paradise kalau kata temen mah.

09.45. Kami mencapai Pondok Salada. Pondok Salada adalah suatu padang rumput luas yang biasa dijadikan area perkemahan bagi para pendaki Gunung Papandayan. Pondok Salada biasa menjadi tempat pilihan berkemah karena tak jauh dari situ terdapat ‘kran’ pipa air bersih yang mengalir. Sehingga keperluan masak-memasak dan air minum dapat terpenuhi di sana.

Di Pondok Salada kami cuma beristirahat sebentar saja. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini destinasi kami adalah Tegal Alun. Jalur yang dilalui untuk mencapai ke sana cukup Continue reading

[Kuliner] Lawang Wangi Café & Art Space

Review kulineran kali ini masih di kawasan utara Bandung, tepatnya Dago Giri. Nama restonya, Lawang Wangi Cafe & Art Space. Lokasi tepatnya bisa dicek di halaman Foursquare ini. Dari terminal Dago lurus terus, tak jauh dari situ ada percabangan jalan, ambil jalan ke bawah (sebelah kiri). Sekitar 2 km menyusuri jalan utama, akan mendapati Lawang Wangi cafe di sebelah kanan jalan.

Posisi Lawang Wangi ini berada di daerah perbukitan, jadi tak heran malam itu hawanya lebih dingin dibandingkan daerah Bandung pada umumnya. Dari balkon lantai 2 Lawang Wangi ini kita bisa melihat view Kota Bandung. Malam itu view yang tampak adalah hanya gemerlap cahaya lampu dari Kota Bandung. Kalau siang, tentu akan lebih tampak jelas wajah Kota Bandung.

Balkon lantai 2

Balkon lantai 2

Sesuai namanya, Lawang Wangi ini bukan sekedar cafe biasa. Di sana juga terdapat galeri seni yang memasang karya-karya seni seperti foto-foto, lukisan, alat musik tradisional, dan produk-produk handcraft lainnya. Galeri seni itu menempati ruang yang sangat lapang di lantai 1. Sementara cafenya berada di lantai 2. Ada meja yang berada di dalam ruangan, dan ada juga meja yang berada di balkon.

Malam itu kami cukup beruntung. Ketika kami datang, masih ada satu meja berkapasitas 5 orang yang tersisa. Setelahnya, beberapa rombongan orang yang datang terpaksa harus masuk waiting list. Namun, rasanya masuk waiting list pun tak terlalu masygul karena bisa menunggu sambil berkeliling melihat galeri seni di sana.

Sekarang tibalah saatnya kita melihat daftar menu yang ada di sana. Pertama yang kulihat adalah range harganya. Kisaran harga makanan dan minuman yang disediakan di Lawang Wangi ini tidak jauh berbeda dari Congo Cafe & Gallery yang pernah kukunjungi awal Juli lalu. Range harga makananannya berkisar antara 45-75 ribuan. Sementara minumannya, berkisar antara 15-30 ribuan. Jangan lupa, harga tersebut belum termasuk pajak 10% dan service charge 5%.

Karena penasaran dengan menu yang ada kata-kata “Lawangwangi”-nya, aku memesan Chicken Lawangwangi (52k). Selain Chicken Lawangwangi, ada juga Ayam Penyet Lawangwangi (aku lupa harganya). Untuk minumannya, aku memesan Moonlight (30k). Soal rasa, menurutku keduanya (Chicken Lawangwangi dan Moonlight) enak kok.

 

Chicken Lawangwangi ini disajikan dengan potato wedges dan beberapa iris wortel dan brokoli, serta blackpepper sauce. Sauce-nya bisa dipilih sebenarnya. Ada blackpepper, mushroom, dan barbeque. Ayamnya sendiri digoreng pakai tepung. Tekstur dagingnya lembut. Di dalamnya sepertinya ada campuran keju kalau aku tidak salah. Sementara Moonlight, disajikan dengan air sprite dan nata de coco.

Terakhir, kalau butuh tempat untuk menghabiskan waktu mengobrol dengan teman, atau mengerjakan tugas bareng, Lawangwangi bisa jadi salah satu opsi. Tempatnya nyaman, view-nya di sana juga ok, udaranya sejuk apalagi kalau malam lumayan dingin, dan ada wifi-nya. Waktu kami ke sana, teman ada yang nyoba torrent bisa sampai 92 kbps, hihi. Tapi tidak disarankan untuk ke sini sering-sering, karena bisa bikin kantong kering, hehe. 😀

Run To Work

Akhirnya tadi pagi nyobain juga lari ke tempat kerja alias “Run To Work”. Tapi jangan bayangkan aku berlari dengan mengenakan tas dan pakaian rapi untuk dipakai kerja. Sehari sebelumnya semua perlengkapan kerja, termasuk pakaian dan laptop, kutinggal di kantor. Aku hanya berlari dengan mengenakan kaos lari dan tas punggung kecil.

Jarak kosan dengan kantor lewat jalan ‘normal’ sebenarnya cuma sekitar 3-4 km saja. Namun, karena ingin mendapatkan jarak yang lebih jauh agar berkeringat lebih banyak, aku memilih jalan memutar lewat Dago Pojok dan Dago Atas. Lumayan bisa menambah jarak hingga 3 km.

Tiga kilometer pertama kontur jalan lebih banyak berupa tanjakan (bisa dilihat di diagram di bawah). Setelah itu, jalanan terus menurun hingga ke kantor. Berlari di jalan raya memang jauh berbeda dengan berlari di trek lari khusus. Pelari harus berhati-hati dengan lalu lalang kendaraan di sekitar. Karena itu tak heran average pace saat lari kemarin menurun hingga 6:29 menit/km. Padahal biasanya rata-rata di trek mendatar average pace sekitar 5 menit/km.

Begitu sampai di kantor, pendinginan sebentar, terus mandi. Wuih … segarnya. 😀

lari dago-cigadung

 

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

 

Pekerjaan: Tukang Unggah Video YouTube

Alkisah beberapa bulan yang lalu, secara viral ada beberapa teman membagikan link video di YouTube berjudul “Candy Crush The Movie (Official Fake Trailer)” yang diupload oleh seseorang dengan akun bernama nigahiga. Video itu menurutku sangat lucu dan menghibur. Karena itu aku kemudian penasaran siapa nigahiga ini. Aku pun men-subscribe akun dia dan mengikuti video-video terbaru yang diunggahnya ke YouTube. Pendapatku masih sama, video-videonya benar-benar lucu dan menghibur.

Video-video yang diunggahnya konsisten mendapatkan 3-7 juta views. Bahkan, ada salah satu videonya yang ditonton hingga 13 juta views. Total subscriber-nya sendiri mencapai angka 10 jutaan.

Melihat cara dia berkarya, yakni mengunggah video secara berkala … wait … what … hampir setiap minggu(!!!), timbul pertanyaan dalam diriku, “Kok ada ya orang yang seniat ini kegiatannya setiap minggu cuma bikin video dan upload ke YouTube.” Video-video yang Ryan Higa — nama asli pemegang akun — dkk buat itu bukan video parodi asal-asalan. Ada ide dan alur cerita yang mereka susun. Ada pembagian peran yang mereka lakukan. Ada kostum dan make-up untuk memperkuat karakter di dalam cerita. Ada penyuntingan video dengan menyisipkan efek animasi untuk membuat parodi lebih menghibur. Hanya dua kata yang cukup untuk mewakili apa yang mereka lakukan itu: niiaatt abisss!!

Dan di YouTube, orang-orang seperti Ryan Higa ini sangat banyak. Maka tak heran bila kemudian dewasa ini sering kita dengar istilah Seleb YouTube. Orang-orang yang meraih popularitasnya setelah video-video yang diunggahnya ngehit di YouTube.

Aku pun penasaran, sebenarnya apa sih yang mungkin dikejar orang-orang ini. Googling, googling, googling … eh, dari hasil “ngupload” video itu mereka bisa menerima pendapatan (Revenue) ratusan ribu hingga jutaan dolar pertahunnya. Besarnya revenue yang mereka dapat itu tergantung dari jumlah view yang mereka hasilkan dari video mereka. Coba deh, lihat Infographic di bawah ini:


Image source: MoneySupermarket

Faktanya, sejak YouTube meluncurkan program yang disebutnya dengan nama “YouTube Partner Program” pada April 2012, setiap pengguna YouTube berpeluang untuk mendapatkan uang dengan jalan memonetisasi videonya. Yakni, dengan mengizinkan YouTube untuk menampilkan iklan di video kita. Jadi sebenarnya iklan yang muncul di video YouTube itu tak akan muncul jika sang uploader tidak mengizinkannya. Untuk mengaktifkan iklan tersebut, pengguna dapat melakukan pengaturan di bagian Monetization di akun YouTube-nya.

Walaupun demikian, tidak semua video bisa dimonetisasi. Ada kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh YouTube yang harus dipatuhi oleh uploader. Intinya adalah orisinalitas dan tidak melanggar copyright orang lain. Video diperbolehkan untuk menggunakan musik milik orang lain selama pengunggah bisa membuktikan bahwa ia sudah mengantongi izin dari pemiliknya. Penjelasan lebih detail mengenai kriteria-kriteria tersebut bisa dibaca langsung di sini. Untuk mengetahui lebih detail mengenai YouTube Partner Program termasuk hal-hal berkaitan dengan monetization bisa mengunjungi tautan ini.

Memang berapa sih bagaimana menghitung revenue yang diterima oleh sang pengunggah video? Well, sejauh ini tak ada pernyataan resmi yang dirilis oleh YouTube terkait itu. Namun, sesuai yang dikatakan oleh Infographic di atas, dipercaya bahwa untuk iklan pre-roll video (cuplikan iklan yang tayang sebelum video diputar) bisa menghasilkan setidaknya $5.00 untuk setiap 1000 views. Sedangkan iklan banner dipercaya dapat menghasilkan $0.80-$1.00 untuk setiap 1000 views. Oleh karena itu tak mengherankan bila pada awal tahun ini, PSY dengan Gangnam Style-nya, yang jumlah view-nya mencapai 1,2 miliar kala itu, dikabarkan oleh orang Google sendiri (FYI bagi Anda yang belum tahu, YouTube adalah milik Google) mampu memperoleh $8 juta dari iklan. Wow!!

Well, makanya tak mengherankan bila ada orang-orang yang sampai rutin meluncurkan video secara berkala ke YouTube dan konten videonya pun dibuat dengan sangat serius. Entah itu video parodi seperti nigahiga, video remake lagu seperti AlexGMusic7, video tutorial atau kursus, dan lain sebagainya. Kalau sudah begitu, jangan heran di era sekarang apabila kita menanyai seseorang pekerjaan dia apa, kemudian dijawab: Tukang Unggah (Upload) Video YouTube! Hehehe… Nggaklah. Rasanya jawaban “YouTube Artist” lebih elegan dan keren. 😀

Serunya Ikutan Bromo Marathon

Wow… what can I say? What an amazing running race, amazing views, amazing organizers, amazing volunteers, and amazing locals!

Aku dan 2 orang teman kuliahku, Neo dan Kuncoro, hari Minggu kemarin (1/9) mengikuti event lari Bromo Marathon. Dari namanya sudah ketahuanlah di mana lokasinya. Tidak tepat di Gunung Bromo atau kaldera di sekelilingnya juga sih, tetapi rutenya mengambil jalan di pedesaan sekitar Bromo.

Bromo Marathon kemarin menjadi pengalaman yang tak biasa bagiku. Lari 10K di perbukitan dengan medan yang terdiri atas campuran 20/80 dirt trails vs roads. Jujur aku sempat underestimate rute yang akan kulalui setelah melihat ilustrasi elevasi medan untuk rute 10K yang dipos organiser.

Bromo 10K Course Elevations (BromoMarathon.com)

Bromo 10K Course Elevations (BromoMarathon.com)

“Wah, banyak turunannya,” pikirku. Eh, ternyata aku salah. Walaupun turunannya lebih banyak, tapi ternyata tanjakannya berat-berat. Bahkan, di 2 Km terakhir full tanjakan dengan kemiringan yang lumayan. Nafasku sudah kedodoran di 2 Km terakhir. Di 2 Km terakhir itu lebih banyak kuhabiskan untuk berjalan dibandingkan berlari. Luckily, I managed to finish in 12th position in 01:21:11. Lihat hasil lengkap di sini

Sebenarnya aku berpeluang untuk finish di #5 kategori 10K itu bila aku tidak disalip oleh 7 orang di 3 Km terakhir. Bahkan, sebelumnya aku sempat berada di #3 sampai KM 3. Setelah itu berada di #4 sampai KM 6-7.

Namun, bukan peringkat sebenarnya yang kucari. Tapi berlari di pegunungan, dengan ladang-ladang di sekeliling, penduduk yang antusias menonton di sepanjang desa yang dilalui, dan tak jarang mereka menyapa dan menyemangati pelari yang sedang berlari, benar-benar pengalaman yang tak didapatkan ketika berlari di event-event lari “mainstream”.

Sayang euy nggak ikutan yang kategori half marathon atau full marathon. View yang ditawarkan di rute itu lebih ‘wah’ daripada yang ada di kategori 10K. Pelari akan melalui kawasan Penanjakan I, yang memang sudah terkenal sebagai lokasi terbaik untuk melihat sunrise kaldera Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mungkin tahun depan jika ada kesempatan, aku akan mencoba mengikuti kategori half marathon. Selain itu, di rute tersebut kabarnya malah lebih banyak dirt trails-nya. Sekitar 70/30 antara trails vs roads.

Salah satu rute dirt trail

Salah satu rute trail

Berlari di Bromo Marathon ini, walaupun medan yang dilalui cukup berat, ternyata tak terlalu memeras keringat — literally — bila dibandingkan dengan event-event lari yang pernah kuikuti di Jakarta. Mungkin karena sepanjang rute tersebut, udara dingin selalu berhembus sehingga tubuh tidak merasa kepanasan. Padahal start lari 10K baru dilakukan pukul 8.00, waktu yang sudah sangat siang untuk memulai lomba lari.

Anyway, semua pelari yang berhasil finish sebelum waktu cut-off masing-masing kategori berhak mendapatkan medali. Akhirnya aku punya medali lari juga, haha. Desan medalinya ciamik banget, euy. Bahannya juga bagus. Kelihatan kokoh.

Narsis bersama medali. *foto kanan oleh Kuncoro*

Narsis bersama medali. *foto kanan oleh Kuncoro*

Suasana Menjelang Start

Suasana Menjelang Start 10K

Selain event lari itu sendiri, panitia Bromo Marathon juga menyuguhkan mata acara yang menampilkan pergelaran seni asli Suku Tengger (dan propinsi Jawa Timur secara umum) sehari sebelumnya (31/8) di depan pendopo Desa Wonokitri. Ada kesenian Tari Remo, Drama tentang legenda asal muasal Upacara Kasadha dan terbentuknya Gunung Batok, Kidungan, dan kesenian lainnya. Selain peserta Bromo Marathon, masyarakat sekitar juga antusias menyaksikan acara tersebut.

Drama tentang asal-usul Upacara Kasadha

Drama tentang asal-usul Upacara Kasadha

Overall, untuk ukuran event yang baru diselenggarakan pertama kali, penyelenggaraan Bromo Marathon sudah cukup memuaskan. Shuttle gratis yang mengantarkan peserta dari Wonokitri (pusat kegiatan) ke desa-desa tetangga PP, volunteer yang ramah dan kooperatif, desain single lari dan medali finisher yang ciamik, trek lari dengan pemandangan sekitar yang mengagumkan, sambutan masyarakat lokal yang hangat, dan hal-hal lain yang tak dapat kusebutkan satu persatu. Can’t wait for the next year Bromo Marathon! 🙂

More photos of Bromo Marathon on my Flickr:

img70img69img68img49img67img48
img66img65img47img46img64img45
img63img44img62img43img61img42
img60img41img40img59img39img58

Bromo Marathon 2013, a set on Flickr.

Main ke Kampus ITB Jatinangor

Hari Sabtu lalu ada acara nikahan seorang teman di Sumedang. Sepulangnya dari acara, aku dan rombongan teman-teman KOKESMA (Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa) ITB 2007 mampir ke “cabang baru” kampus ITB di Jatinangor. Sebagian dari kami, termasuk aku, baru pertama kali ini ke sana.

Bagi yang belum tahu, ITB memiliki kampus baru di Jatinangor, menempati gedung dan lahan bekas kampus Universitas Wiyata Mandala (Unwim). Lahannya sungguh luas. Masih banyak lahan kosong di area kampus. Lokasinya persis bersebelahan dengan kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor. Hanya dipisahkan oleh Jalan Winaya Mukti. Wah, wah … setelah ini pasti makin banyak saja kisah cinta bersemi antara mahasiswa ITB dan Unpad, haha. 😀

Beberapa pembangunan gedung masih dilakukan, salah satunya gedung KOICA-ITB Cyber Security Center, gedung kerja sama antara STEI ITB dengan Korea International Cooperation Agency (KOICA). Sedangkan beberapa gedung yang sudah siap di sana antara lain gedung rektorat, asrama mahasiswa, gedung kuliah, dan amphi teather.

Kami sempat masuk ke dalam gedung rektorat untuk menumpang sholat di mushola yang ada di dalam sana. Di kampus ITB Jatinangor ini sendiri rencananya akan dibangun Masjid Salman 2, “cabang” dari Masjid Salman di kampus Ganesha. Dari gambar desain yang kulihat, arsitektur Masjid Salman 2 ini nyaris persis 100% dengan Masjid Salman yang sekarang. Sembari menunggu Masjid Salman 2 dibangun, di kampus ITB Jatinangor ini sudah disediakan masjid sementara berukuran kecil, atau lebih tepatnya disebut mushola pusat mungkin ya. Kami sempat sholat maghrib jamaah di sana.

Ini dia beberapa foto yang aku dan teman sempat ambil ketika berada di sana:

Teman-teman KOKESMA 2007

Teman-teman KOKESMA 2007 di depan gerbang jalan Jatinangor

Pintu masuk ITB Jatinangor dari Winaya Mukti

Pintu masuk ITB Jatinangor dari Winaya Mukti

Pintu masuk dari jalan utama Jatinangor

Pintu masuk dari jalan utama Jatinangor

Gedung rektorat

Gedung rektorat

Amphi Theater  dan 3 gedung asrama mahasiswa

Amphi Theater dan 3 gedung asrama mahasiswa

Pintu masuk mushola pusat ITB Jatinangor

Pintu masuk mushola pusat ITB Jatinangor

Kode Registrasi (Berwarna Biru)

Mengurus Perizinan Pendakian Gunung Gede

Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengurus perizinan pendakian Gunung Gede yang kami laksanakan awal bulan Juli lalu. Well, teknis untuk memperoleh izin pendakian Gunung Gede (dan juga Gunung Pangrango) mungkin agak berbeda dibandingkan dengan perizinan pendakian gunung-gunung lain di Indonesia. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango — atau yang biasa disingkat dengan TNGGP ini — memiliki kebijakan perizinan pendakian dengan menetapkan sistem kuota jumlah calon pendaki.

Para calon pendaki diwajibkan untuk memesan (booking) slot pendakian secara online dengan memilih hari, tanggal, waktu, pintu masuk dan pintu keluar, serta mendaftarkan nama-nama anggota kelompok pendakiannya melalui situs http://booking.gedepangrango.org/booking.php. Per kelompok pendakian dibatasi minimum 3 orang dan maksimum 10 orang, termasuk 1 orang sebagai ketuanya. Info ketentuan umum pendakian TNGGP dapat dibaca di http://gedepangrango.org/wp-content/uploads/2010/06/ketentuan-umum-pendakian-2010-rev-legal.pdf. Untuk info-info lainnya, termasuk pengumuman mengenai penutupan pendakian, dsb. dapat diikuti dari situs resmi TNGGP http://www.gedepangrango.org atau juga dari fan page Facebook https://www.facebook.com/pages/Booking-Pendakian-Gede-Pangrango/266636900105782. Situs TNGGP dan akun Facebooknya itu dapat diandalkan karena infonya yang selalu up to date.

Info-info bagaimana mengurus perizinan pendakian di TNGGP ini sudah sangat gamblang dijelaskan di situs TNGGP. Insya Allah kalau membacanya dengan seksama, proses perizinan pendakian akan dapat dilalui dengan lancar. Nah, pengalaman saya mengurus perizinan pendakian kemarin sebenarnya sudah diuraikan secara runtut dan terperinci di file PDF yang bisa diunduh dari tautan http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2013/07/tatacarapendakiantnggp.pdf  INI TATA CARA PERIZINAN PENDAKIAN YANG WAJIB DIKETAHUI BAGI PARA CALON PENDAKI TNGGP!!!

Bagi para calon pendaki TNGGP — terutama bagi mereka yang masih baru pertama kali — sebaiknya membaca terlebih dahulu tata cara pendakian yang sudah dijelaskan di file PDF tersebut. Di tulisan ini saya hanya ingin merangkum poin-poin yang penting untuk diperhatikan bagi kita Continue reading