Catatan Perjalanan Tour Sukabumi & Ciamis (Day 4) : Adventure in Green Canyon

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya bahwa rombongan kami berpisah menjadi dua saat meninggalkan Sukabumi. Yang satu balik ke Bandung dan satunya lagi melanjutkan perjalanan ke Banjar. Nah, aku termasuk rombongan yang disebutkan terakhir tadi.

Kami tiba di Banjar pukul 2 dini hari. Mantap bengetlah si Ginanjar, temanku yang jadi driver malam itu. Jarak Bandung-Banjar ditempuh hanya dalam 3 jam kurang. Tempat singgah kami di Banjar adalah rumah Ginanjar. Kebetulan orang tuanya memiliki dua rumah. Yang kami tempati saat itu adalah rumah dia yang baru yang masih belum ditinggali. Kami benar-benar berterima kasih sekalilah sama keluarga Ginanjar yang meminjamkan rumahnya buat tempat istirahat :).

Sesampainya di rumah Gin, panggilan akrab Ginanjar, aku tidak langsung tidur, tapi nonton siaran sepak bola dulu. Waktu itu ada siaran pertandingan Serie A Napoli vs Cagliari di TV. Tapi karena rasa lelah yang masih mendera dan pertandingan yang membosankan, aku pun tertidur.

Pukul 5 pagi tiba-tiba aku terbangunkan oleh alarm handphone yang disetel anak-anak. Tapi entah kenapa kok tidak ada yang bangun, hihi. Lalu iseng-iseng kupotret saja anak-anak itu. Ini dia fotonya:

Tidur di rumah Gin

Tidur di rumah Gin

Setelah itu, aku langsung sholat Shubuh dan tidur lagi. Mau bagaimana lagi, sebabnya masih ngantuk banget, hehehe.

Bangun-bangun, ternyata sudah jam 7 saja. Saat aku bangun, anak-anak sudah ada yang mandi, lagi mandi, antri mandi, bikin kopi, dan tidur. Ada saja ternyata aktivitas mereka.

Tujuan utama kami hari itu adalah objek wisata Green Canyon. Sebuah objek alam berupa tebing-tebing dengan stalaktit yang berada di sisi-sisi sungai, terdapat di kawasan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Kalau mendengar kata Green Canyon, kita mungkin teringat dengan kata Grand Canyon di Amerika Serikat sana. Yah, memang mirip-mirip gitulah tempatnya, hehehe. Namun sebenarnya warga setempat juga punya sebutan sendiri untuk objek wisata itu, tapi tentu saja namanya menggunakan bahasa Sunda, Cukang Taneuh sebutannya.

Pagi itu kami berangkat dari rumah Gin sekitar pukul setengah 9. Kami mampir makan bubur ayam dulu di pinggir jalan di suatu sudut Kota Banjar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Green Canyon. Perjalanan menuju ke Green Canyon itu kurang lebih memakan waktu hampir 2 jam dari rumah Gin tadi.

Sepanjang jalan menuju Green Canyon itu kami melalui sungai-sungai yang warna airnya tampak hijau. Namun, ketika kami sampai di Green Canyon, kami sedikit kecewa karena warna sungai di sana justru cokelat. Kami memang kurang beruntung saat itu. Memang sih, kata orang-orang, sebaiknya kalau main ke Green Canyon jangan saat musim hujan, atau habis hujan sehari sebelumnya. Sebab, setiap habis turun hujan warnanya pasti berubah jadi cokelat.

Tapi tidak mengapa, toh kami juga sudah terlanjur datang. Masak mau balik lagi, hehe.

Di depan gerbang Cukang Taneuh

Di depan gerbang Cukang Taneuh

Baliho Cukang Taneuh

Baliho Cukang Taneuh

Untuk dapat menikmati wisata di Green Canyon, kita harus membayar Rp75.000 per perahu. Per perahunya bisa diisi sekitar 5-6 orang pengunjung. Setiap perahu biasanya ada dua orang tukang perahu. Yang satu berperan juga sebagai body rafting guide.

Oh ya, perlu diketahui, wisata Green Canyon ini tidak sekadar wisata naik perahu menikmati pemandangan alam saja, tetapi juga bisa body rafting menyusuri sungai (kalau Anda tertarik). Sebabnya, perahu tidak bisa berjalan jauh karena banyak ruas sungai yang terdapat bebatuan besar di tengah-tengahnya sehingga perahu pun tidak bisa lewat. Oleh karena itu, kalau masih ingin menikmati alam Green Canyon itu lebih jauh kita harus menyusuri sungai itu dengan berenang. Tenang saja, kita tidak perlu jago berenang untuk dapat menyusuri sungai itu. Kita bisa memakai rompi pelampung saat berenang itu. Jadi jangan khawatir akan tenggelam. Lagi pula kita juga akan dipandu oleh tukang perahu yang merangkap jadi body rafting guide itu. Dia yang akan mengarahkan kita rute mana yang aman dilalui.

Perlu diketahui juga, arus sungai di Green Canyon ini cukup deras dan kita harus berenang melawan arus tersebut untuk mencapai bagian Green Canyon yang lebih jauh. Mengenai rompi pelampung itu, kita tidak perlu membayarnya lagi karena itu sudah termasuk dalam biaya yang Rp75.000 tadi (fasilitas standar). Yang harus kita bayar adalah tips ke tukang perahunya karena sudah mau menunggu dan (bahkan) memandu kita berenang menyusuri sungai itu. Pengalaman kami kemarin, setelah melalui tawar-menawar yang cukup alot, setelah kami mulai dari harga Rp20.000, Rp30.000, Rp50.000, akhirnya berhenti di angka Rp75.000. Kalau kata akang tukang perahunya biasanya dia minta ke wisatawan lain itu Rp100.000-Rp150.000. Dalam hati kami berkata, “Ya wajar saja kang kalau wisatawannya bule dikasih harga segitu.” Serius, Green Canyon ini banyak juga ternyata pengunjung bulenya, seperti yang kami temui pada saat itu.

Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan adalah kamera. Tentunya kita nggak ingin melewatkan momen seru menyusuri sungai ini kan. Namun, mau tidak mau kita harus berenang alias berendam di dalam air saat body rafting itu. Makanya, perlu dipersiapkan juga kamera anti air (under water camera) yang biasa digunakan untuk memotret di dalam air. Atau bisa juga tas kecil yang dibungkus selimut tas anti air seperti yang dibawa temanku si Kun kemarin. Karena dia, kami bisa foto-foto sepuasnya di Green Canyon itu. :D

Nah, ini aku tampilkan foto-foto kami sewaktu di Green Canyon kemarin (maaf sebagian foto agak blur):

Dermaga wisata Cukang Taneuh

Dermaga perahu

Naik perahu menuju Green Canyon

Naik perahu menuju Green Canyon (photo by Kuncoro)

Perjalanan naik perahu

Perjalanan naik perahu

Tebing-tebing Green Canyon

Tebing-tebing Green Canyon

Stalaktit-stalaktit Green Canyon

Stalaktit-stalaktit Green Canyon

Siap berenang

Siap berenang (photo by Kuncoro)

"Pos 1" body rafting (photo by Kuncoro)

"Pos 1" body rafting (photo by Kuncoro)

Di kolam "pemandian putri"

Di kolam "pemandian putri" (photo by Kuncoro)

Aliran sungai Green Canyon 1

Aliran sungai Green Canyon 1 (photo by Kuncoro)

Aliran sungai Green Canyon 2

Aliran sungai Green Canyon 2 (photo by Kuncoro)

Habis body rafting

Habis body rafting

Balik ke dermaga

Balik ke dermaga

Kami benar-benar puas setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2,5 jam berpetualang di Green Canyon ini. Terus terang biaya sebesar itu awalnya memang terasa mahal bagi kami. Namun, setelah menjalani langsung body rafting di Green Canyon, dan sikap kooperatif tukang perahunya yang benar-benar membantu kami saat body rafting itu, baik itu membantu kami berenang (dengan menunjukkan arah atau memberikan tali), maupun memotretkan kami dengan senang hati, kami pun jadi tidak terlalu menyesal harus membayar semahal itu. :D

Puas berpetualang di Green Canyon, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pantai Batu Karas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi Green Canyon. Cuma butuh waktu sekitar 15 menit menuju ke sana dengan kendaraan.

Saat memasuki kawasan Pantai Batu Karas ini, yang terpikir di benakku adalah pantai ini mirip dengan pantai di Bali. Terutama dengan kehadiran turis-turis asing di sana. Selain itu, di Pantai Batu Karas ini juga terdapat orang-orang yang bermain selancar atau banana boat sebagaimana yang ada di pantai-pantai di Bali. Ombaknya di sana juga tenang, tidak seganas ombak-ombak pantai selatan pada umumnya. Ombak di sana punya karakteristik yang cocok untuk main selancar. Wajar saja ombak di Pantai Batu Karas ini tidak segarang ombak di pantai selatan Jawa lainnya. Pantai ini sebenarnya tidak menghadap langsung ke sebelah selatan (Samudra Hindia), tetapi kalau kita amati di peta, pantai ini sebenarnya malah menghadap ke timur karena pantai ini adalah bagian dari daratan yang menjorok ke lautan.

Bagaimana? Ingin main selancar di Batu Karas? Nggak punya/bawa papan selancar? Tenang, di sana ada distro yang menyediakan itu semua (lagi-lagi tampilannya pun mirip dengan yang ada di Bali).

Baysurf

Baysurf (photo by Kuncoro)

Di Batu Karas ini juga terdapat penginapan-penginapan yang tersebar di sepanjang jalan sejajar dengan garis pantai. Aku sempat iseng bertanya mengenai tarif penginapan kepada salah seorang bapak yang tampaknya mengelola salah satu penginapan di sana. Kata beliau sih tarifnya sekitar rentang Rp200.000 per malam, tapi bisa diisi banyakan orang. Hmm… boleh juga tuh kalau ramai-ramai. Tapi sepertinya sih memang masih ada yang lebih murah lagi.

Oh ya, waktu itu sekalian kami meminta bapak itu untuk memotret kami di pantai Batu Karas ini, Mumpung ada yang bersama kami, hehe:

Foto bersama @ pantai Batu Karas

Foto bersama @ pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas

Pantai Batu Karas

Banana boat

Banana boat

Surfing

Surfing

Sayangnya kami tidak berlama-lama berada di sana karena waktu kami sangat terbatas saat itu. Saat berada di Batu Karas itu, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 15.30. Mau tidak mau kami harus segera kembali ke Banjar untuk selanjutnya bersiap-siap kembali ke Bandung. Maklum, mobil yang kami sewa ini memang harus kembali paling lambat pukul 9 malam. Padahal banyak sekali tempat wisata di sekitar Pangandaran atau Cijulang itu yang ingin kami kunjungi juga. Namun, apa daya waktu kami terbatas. Ya mungkin lain waktu jika ada kesempatan aku akan ke sana lagi. :D

Dari Batu Karas kami langsung bergerak lagi menuju ke Banjar. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk menempuh jarak Pangandaran-Banjar itu. Di tengah perjalanan kami menyempatkan untuk sholat Ashar dijama’ dengan Dhuhur di masjid pinggir jalan di ruas Banjarsari.

Sesampainya di Banjar kami tidak langsung menuju ke rumah Gin, tetapi mampir makan malam dulu di rumah makan Beta yang berada di persis setelah pintu masuk Kota Banjar di sisi barat, kebetulan juga dekat dengan rumah Gin. Nyaman sekali suasana tempat makan di sana. Rumah makan dengan arsitektur bambu dan rotan gitu. Selain itu juga terdapat kolam ikan berada di sekeliling dan di bawah rumah makan itu. Malam itu kami makan nasi dengan menu lalapan burung ayam-ayaman. Hmm… sedap sekali ayam-ayamannya. Sambelnya juga sangat gereget bikin nafsu makan meningkat, hehehe.

Menu lalapan ayam-ayaman

Menu lalapan ayam-ayaman

Makan malam @ rumah makan Beta

Makan malam @ rumah makan Beta

Alhamdulillah, akhirnya perut terisi juga setelah seharian cuma makan bubur ayam, hehe. Habis dari rumah makan itu kami langsung balik ke rumah Gin. Tanpa banyak membuang waktu, begitu kami tiba di rumah Gin, kami langsung mengemasi barang-barang kami dan bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Setelah semua barang-barang selesai dimasukkan ke dalam mobil, sebelum pulang ke Bandung, kami foto-foto dulu di depan rumah Gin. :D

Di depan rumah Gin

Di depan rumah Gin

Perjalanan Banjar-Bandung malam itu kami tempuh dalam waktu hampir 4 jam. Termasuk lama memang. Mau bagaimana lagi, malam itu di Nagrek benar-benar lagi macet parah. Alhasil kami baru tiba di Bandung sekitar pukul 11 malam lebih. Denda Rp50.000 harus kami tanggung atas keterlambatan dalam pengembalian mobil yang kami sewa itu.

Namun, overall kami benar-benar cukup puas dengan jalan-jalan bersama tengah semester ini. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan pernah kami lupakan. Selanjutnya kami berencana mengunjungi wisata alam yang lain yang ada di Indonesia lain waktu. Sekarang saatnya mengembalikan fokus ke kuliah dan tugas akhir kembali. :D

Catatan Perjalanan Tour Sukabumi & Ciamis (Day 3) : Jalan-Jalan ke Pelabuhan Ratu

Ahad, 20 Maret 2011. Hari itu seharusnya kami check out dari penginapan pukul 6.30 jika merunut pada run down yang sudah dibuat. Namun, karena kecapekan akibat padatnya kegiatan jalan-jalan di hari Sabtu-nya, teman-teman banyak yang kesiangan. Kami pun baru berangkat dari tempat penginapan sekitar pukul 9 pagi. Sebelumnya tentu saja kami sarapan dulu dengan menu yang masih sama seperti hari sebelumnya, yakni nasi, telor dadar, mie goreng, plus sambel jampang yang enak pedes-pedes itu.

Setelah semua selesai sarapan dan mandi, serta barang-barang telah beres di-packing dan yakin tidak ada barang tertinggal, kami pun berangkat meninggalkan Surade menuju ke kawasan Pelabuhan Ratu.

Jarak tempuh perjalanan dari Surade menuju Pelabuhan Ratu ini cukup lama. Kalau tidak salah, ada sampai 2 jam perjalanan. Tapi, sebelum menuju ke Pelabuhan Ratu, kami main-main dulu ke Pantai Loji. Di dekat pantai Loji ini terdapat sebuah kuil. Teman-teman pun mencoba mampir ke sana melihat-lihat.Namanya juga kuil, tempat ini sebenarnya bukan objek wisata, tapi tempat ibadah. Wah, gimana nih guide Kang Adi? Kok ngajak main-main ke tempat ibadah orang sih, orang lagi ibadah kok malah dilihatin :D. Tapi anehnya, di sana dibangun juga kamar Nyi Roro Kidul. Tanya kenapa?

Samudra Hindia tampak dari atas kuil

Samudra Hindia tampak dari atas kuil

Di kuil

Di kuil

Berpose kuda-kuda wing chun

Berpose kuda-kuda wing chun

Kalau Pantai Lojinya sendiri, tidak seperti pantai lain pada umumnya yang berpasir, sebagian besar permukaannya berupa bebatuan. Tapi siang itu cukup banyak juga orang-orang yang berwisata di Pantai Loji itu, sekedar melihat-lihat laut, berfoto, atau iseng melempar batu ke laut. Atau mungkin sekedar duduk-duduk melihat samudra Hindia sambil duduk di bawah pohon seperti mereka ini :P :

Memandangi laut di Loji

Memandangi laut di Loji

Pantai Loji

Pantai Loji

Dari Pantai Loji kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kawasan Pelabuhan Ratu. Objek yang kami tuju adalah Pantai Karang Hawu. Perjalanan menuju ke sana kira-kira memakan waktu sekitar sejam.

Sesampainya di Karang Hawu, mata kami langsung berbinar-binar begitu melihat ada lapangan bola dengan dua gawang dari bambu di sana. Timbullah hasrat untuk bermain sepak bola pantai di sana. Tak jauh dari tempat parkir mobil ada pedagang yang jualan bola plastik. Kami pun membeli satu buah bola plastik untuk dimainkan bersama.

And… the show goes on! Setelah dibagi dua tim kami mulai memainkan bola dari kaki ke kaki, saling menyerang ke gawang lawan. Baru sekitar 15 menit bermain nafas kami mulai terengah-engah. Ternyata berat juga main bola di pantai. Bukan berat bolanya, tapi berat di larinya. Berlari di pantai itu berat karena kesulitan mengayunkan kaki. Tiap kali berlari, rasanya ada gundukan pasir yan nyangkut di kaki ini sehingga terasa berat. Cukup lebaynya, hahaha. Yang jelas dalam permainan itu timku menang 4-0 walaupun aku nggak mencetak gol. Tapi yang penting ikut menyumbangkan assist, hehehe.

Main sepak bola pantai

Main sepak bola pantai

Capek bermain bola, kami beralih bermain-main air di laut. Namun, tidak lama kemudian, setelah puas bermain-main air kami beristirahat di sebuah warung di dekat pantai sambil meminum es kelapa muda. Harga kelapa muda di warung itu Rp7.000 per buah. Lumayan, sambil mengisi perut yang kosong. Setelah itu lanjut… foto-foto lagi, hehehe.

Main di pantai

Main di pantai

Pantai Karang Hawu

Pantai Karang Hawu

Makan kelapa

Makan kelapa

Karang Hawu

Karang Hawu

Di atas karang

Di atas karang

Di depan pantai

Di depan pantai

Iseng di Pantai

Iseng di Pantai

Puas bermain-main di pantai plus foto-foto, kami pun segera bersiap-siap untuk cabut lagi. Sebelumnya, teman-teman mandi dan sholat dulu di kamar mandi umum yang banyak bertebaran di sekitar pantai. Setelah semuanya beres, kami pun segera memacu mobil kembali ke arah Sukabumi.

Awalnya rencana kami adalah lanjut jalan-jalan ke Situ Gunung yang juga masih berada di Kabupaten Sukabumi. Namun, karena sudah terlalu sore dan jarak tempuh juga sangat jauh, akhirnya diputuskan kami langsung saja melaju menuju Sukabumi Kota. Di sana kami mampir makan malam di tempat yang direkomendasikan oleh Kang Adi. Namanya warung “Cah Solo”. Kami pun makan malam di sana. Selesai makan, tiba-tiba ada kepanikan di antara teman-teman. Ternyata Kuncoro baru sadar dompetnya hilanh entah di mana. Kemungkinan besar terjatuh di tempat makan itu. Kami pun semua membantu mencarinya bersama-sama. Namun tetap tidak ditemukan. Dengan berat hati kami pun menghentikan pencarian dan meminta tolong pemilik tempat makan agar menghubungi si Kun jika menemukan dompetnya.

Yak, makan malam di Sukabumi kali ini mengakhiri perjalanan kami bertiga belas selama kurang lebih 2 hari. Dari Sukabumi ini rombongan dipisah menjadi dua: yang satu kembali ke Bandung dan satunya lagi meneruskan perjalanan ke Banjar. Kenapa dipisah menjadi dua? Karena ada beberapa teman yang keesokan harinya harus menghadapi UTS, kuliah, atau ada deadline tugas yang telah menanti sehingga harus segera kembali ke Bandung. Aku sendiri ikut rombongan yang meneruskan perjalanan ke Banjar. Jadi, tenang saja, report mengenai jalan-jalan di sekitaran Banjar atau Ciamis akan kubuatkan juga setelah ini, hehehe. :D

 

 

Catatan Perjalanan Tur ke Sukabumi & Ciamis (Day 2) : Jalan-Jalan di Ujung Genteng

Sekitar pukul 5 subuh suara alarm handphone anak-anak meraung-raung. Aku pun terbangun pagi itu oleh suara alarm mereka. Seketika itu aku langsung beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudlu kemudian menunaikan sholat Subuh. Iseng-iseng ketika sebagian teman lagi tidur, kuambil foto mereka, hihihi. Maaf, fotonya agak buram. :D

Teman-teman lagi tidur

Teman-teman lagi tidur

Ketika langit mulai terang, sekitar pukul 7 pagi, aku bersama sebagian teman-teman pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan untuk sarapan. Kami berbelanja barang kebutuhan tersebut di Pasar Surade. Kami cuma membeli telor 1 kg, mie telor 2 bungkus, beras 5 kg, minyak goreng, dan cabe rawit.

Selesai berbelanja di pasar, kami kembali lagi ke tempat penginapan. Bahan-bahan makanan itu kami serahkan ke bibi dan nenek di dapur tempat penginapan ini. Oiya, perlu diketahui, nenek tersebut masih ada hubungan keluarga dengan Adi. Jadilah pagi itu kami sarapan dengan menu buatan neneknya Adi itu. Mau tahu rasanya? Hmm… Enak tenan. Apalagi sambalnya yang pedes-pedes gimana gitu, bikin kami ketagihan :D. Kalau tidak salah, namanya sambal Jampang. CMIIW.

Suasana sarapan pagi saat itu benar-benar menyenangkan. Kami sambil duduk lesehan mengitari lauk pauk dan nasi. Suasana desa begitu kental terasa. Apalagi menu yang kami makan itu dimasak dengan menggunakan arang. Jadi ingat suasana keluarga besar dari Bapak. Benar-benar guyublah pokoknya saat itu.

Sarapan pagi

Sarapan pagi

Setelah semuanya selesai sarapan dan mandi, kami langsung bersiap-siap untuk memulai jalan-jalan hari itu. Tujuan pertama kami adalah Curug Cikaso, wisata air terjun yang banyak orang menyebutnya sebagai “Niagara”-nya Indonesia. Retribusi untuk masuk kawasan wisata ini adalah sebesar Rp5.000 per orang.

Untuk mencapai lokasi air terjunnya, kami harus menyusuri areal persawahan dan lapangan ilalang terlebih dahulu. Begitu sampai di lokasi, Subhanallah… terus terang aku terkagum-kagum melihat keindahan panorama yang tersaji di hadapanku saat itu. Aku dan teman-teman sudah tak sabar untuk mengambil gambar-gambar di lokasi Curug Cikaso itu. Mungkin ini adalah air terjun terindah yang pernah kusaksikan. Di Malang seingatku aku pernah berkunjung ke wisata air terjun Coban Rondo dan Coban Manten. Kedua coban itu masih belum bisa mengalahkan indahnya panorama Curug Cikaso ini.

Rasanya ada yang kurang kalau ke tempat wisata air terjun tapi kita nggak ikut nyebur ke dalamnya. Begitu puas memotret pemandangan alam yang indah itu, aku langsung menyusul teman-teman menceburkan diri ke dalam sungai di bawah air terjun itu. Kami puas-puaskan bermain air di bawah rintikan air terjun itu sambil berfoto-foto. Rasanya benar-benar puas karena Curug Cikaso saat itu memang menjadi milik kami. Tidak ada pengunjung lain selain kami dan anak-anak kecil penduduk sekitar yang bermain-main di sana.

Berjalan menuju lokasi Curug Cikaso

Berjalan menuju lokasi Curug Cikaso

Curug Cikaso

Curug Cikaso

Main air di Curug Cikaso

Main air di Curug Cikaso

Foto komplit di Curug Cikaso

Foto komplit di Curug Cikaso

Puas bermain-main di Curug Cikaso, tepat adzan Dhuhur kami bersiap-siap untuk kembali ke penginapan lagi. Yap, kami berencana untuk beristirahat barang sejam di penginapan sembari menyiapkan kebutuhan untuk acara ke pantai ujung genteng dan sekitarnya sore hingga malam harinya. Kebutuhan yang dipersiapkan itu antara lain, nasi kurang lebih untuk 13 orang, sambal, bumbu masakan, pisau, kayu bakar, minyak tanah, dsb. Dari rupa-rupa barang yang kami bawa tampaknya sudah kelihatan kami mau ngapain. Benar sekali, kami berencana bakar-bakar ikan di pinggir pantai sekaligus makan malam di sana. Untuk ikan, kami berencana membelinya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Genteng pada sore harinya.

Jadilah siang itu kami berangkat menuju ke Ujung Genteng. Perjalanan menuju ke sana cukup lama, sekitar sejam. Namun, sebelum ke pantai Ujung Genteng, kami singgah dulu di kawasan semacam resort, namanya “villa Amanda Ratu”. Di sana kami cuma mampir untuk foto-foto saja. Ya, biar kesannya kalau orang lihat, kami kelihatan habis menginap di sana, hehehe.

Oiya, di dekat kawasan villa Amanda Ratu ini terdapat sebuah bongkahan batu besar, mirip seperti yang terdapat di Tanah Lot, Bali. Oleh karena itu, kata Adi, objek tersebut sering disebut dengan “Tanah Lot-nya Sukabumi”. Bedanya, kalau “Tanah Lot” yang ini nggak ada pura di atas bongkahan batu besarnya itu. Selain itu, “Tanah Lot” yang satu ini menjadi tempat muara sungai besar yang ada di sana sehingga warna air lautnya pun agak bercampur dengan warna air sungai yang cokelat.

Bergaya di Villa Amanda Ratu

Bergaya di Villa Amanda Ratu

Tanah Lot-nya Sukabumi

Tanah Lot-nya Sukabumi

Tidak lama kami berada di villa Amanda Ratu itu karena sebenarnya tujuan yang satu ini tidak masuk dalam agenda kami. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi ke arah selatan menuju pantai Ujung Genteng. Ada dua portal yang harus dilalui menuju ke sana. keduanya meminta retribusi Rp25.000 per mobil yang melintas masuk.

Kesan yang kami dapat saat berada di Ujung Genteng ini adalah pantai ini masih sangat alami. Banyak bebatuan karang dan kehidupan biota laut yang terdapat di sekitaran pantai itu yang bisa kita amati. Suasana pantai pada sore hari itu juga tidak ramai. Hanya ada beberapa wisatawan saja yang mengunjungi pantai ini yang bisa dihitung dengan jari.

Perlu diketahui, posisi pantai di Ujung Genteng itu tidak langsung berbatasan dengan laut lepas di mana di hadapan pantai tersebut terdapat “genangan” air yang di dalamnya terdapat karang dan hewan laut lainnya seperti yang kami temui itu ada terong laut, bulu babi, landak laut, kepiting, dsb. Di Ujung Genteng ini juga terdapat bekas bangunan yang sudah roboh, yang kalau tidak salah bekas benteng (atau pelabuhan?) zaman Belanda dulu.

pantai Ujung Genteng

pantai Ujung Genteng

"Genangan air laut" Ujung Genteng

"Genangan air laut" Ujung Genteng

Biota laut di Ujung Genteng

Biota laut di Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng bukanlah persinggahan terakhir kami untuk menghabiskan sore hari itu. Dari Pantai Ujung Genteng kami beranjak pergi menuju Pantai Pangumbahan. Tetapi sebelumnya, kami mampir dulu ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Genteng yang berada tidak jauh dari pantai. Kami membeli ikan bawal segar sejumlah 2 kg dengan harga Rp25.000 per kg. Ikan-ikan tersebut rencananya akan kami bakar sebagai lauk makan malam nantinya.

Dari TPI kami berjalan lagi menuju Pantai Pangumbahan. Jalan yang dilalui benar-benar seperti medan off road. Jalan tersebut bukan berupa aspal, melainkan tanah pantai yang kadang-kadang terdapat genangan air laut di atasnya. Belum lagi di beberapa tempat kanan-kiri jalan terdapat banyak semak belukar. Di tengah jalan menuju Pangumbahan kami (lagi-lagi) mampir di Pantai Cibuaya untuk sekedar berfoto-foto ria. Habisnya pemandangan di pantai itu bagus sih, sehingga menggoda kami untuk berfoto di tempat tersebut.

Foto bareng di pantai Cibuaya

Foto bareng di pantai Cibuaya

Cuma sebentar kami berada di Pantai Cibuaya itu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Tak lama waktu untuk mencapai Pantai Pangumbahan. Kira-kira 15 menit kemudian kami sudah sampai.

Pantai Pangumbahan merupakan pantai yang dijadikan sebagai salah satu tempat perlindungan dan budidaya penyu di Indonesia. Di area pantai ini dibuatkan tempat penangkaran untuk penyu. Tujuannya adalah penyu-penyu dapat bertelur dengan aman dan berkembang biak dengan lancar, menghindarkan dari tangan-tangan jahil yang memburunya.

Nah, pada sore hari itu, tepat pukul 17.30 diadakan pelepasan penyu-penyu mungil ke lautan. Acara pelepasan penyu ini diadakan setiap hari pada waktu sore, dan pengunjung yang hadir bisa ikut berpartisipasi di dalamnya dengan membantu pelepasan penyu ini. Sebenarnya ada acara lain yang bisa kita ikuti juga, yaitu melihat penyu bertelur. Sayangnya kalau yang satu ini tidak ada jadwal rutinnya alias tidak bisa dipastikan waktunya :P.

Sore itu, kami juga tidak ketinggalan dalam menyemarakkan acara pelepasan penyu-penyu mungil itu ke laut. Kami masing-masing setidaknya dapat satu jatah penyu kecil untuk dipegang kemudian dilepaskan bebarengan ke pantai. Selanjutnya penyu-penyu tersebut akan terseret air laut kemudian hidup bebas di dalam lautan luas sana.

Neo dan Haryus bawa penyu

Neo dan Haryus bawa penyu

Penyu merambat menuju laut

Penyu merambat menuju laut

Tak terasa, ufuk merah di ujung langit barat sana mulai tampak. Artinya waktu senja sudah mulai tiba. Matahari pun secara perlahan tampak tertelan oleh batas cakrawala. Kesempatan melihat pemandangan sunset yang mempesona tersebut tidak kami sia-siakan dan kami abadikan dengan memotretnya.

Sunset di Pantai Pangumbahan

Sunset di Pantai Pangumbahan

Langit senja di Pangumbahan

Langit senja di Pangumbahan

Dari Pantai Pangumbahan, berikutnya kami beranjak kembali menuju ke Pantai Cibuya. Tempat itulah yang kami pilih untuk melaksanakan acara api unggun atau bakar-bakar ikan sekaligus makan malam. Tentunya setelah mendapatkan izin dari warga sekitar.

Langit pada maghrib kala itu tampak mendung pertanda hujan tidak lama lagi akan turun. Saat kami menyiapkan api unggun pun sebenarnya sempat beberapa kali turun hujan rintik-rintik kecil. Tapi itu cuma sebentar saja sehingga tidak sampai mengganggu jalannya acara kami. So, acara bakar-bakar ikan pun terus berjalan.

Cahaya api unggun pun menerangi malam yang gelap di pinggir pantai kala itu. Malam yang dingin pun turut terminimalisasi dengan panas yang dihasilkan api unggun tersebut. Begitu semua ikan selesai dibakar, kami langsung bersantap bebarengan dengan menu nasi plus lauk ikan bakar dan sambel jampang yang enak dan pedasnya bikin nagih. Nasi dan ikan bakar itu kami sajikan di atas gelaran kertas pangsit (kertas yang biasa digunakan untuk membungkus makanan) yang ditata secara memanjang laiknya meja makan. Masing-masing orang mengambil posisi di sepanjang gelaran tersebut menghadap ke arah makanan yang tersaji. Suasana makan malam saat itu benar-benar terasa guyub. Penuh dengan kesederhanaan dibalut dengan suasana kekeluargaan pula.

Selesai santap malam, sisa-sisa makanan dan bungkusan lainnya tidak lupa kami bereskan agar tidak meninggalkan sampah di pantai Cibuaya tersebut. Selesai beres-beres, kami tidak langsung pulang, tetapi menikmati sisa api unggun yang masih menyala itu dan mengisi malam itu dengan bernyanyi bersama-sama menyanyikan lagu-lagu jadul ketika kami masih zaman SMP dan SMA dulu, hihihi. Walaupun suara kami fals, tapi tidak mengurangi asyiknya malam itu :P.

Bakar-bakar ikan

Bakar-bakar ikan

Ikan bakar. Hmm... harumnya... :)

Ikan bakar. Hmm... harumnya... :)

Makan malam bareng

Makan malam bareng

Nyanyi bareng

Nyanyi bareng

Tiba-tiba beberapa menit kemudian hujan deras mulai turun. Kami pun balik segera balik ke mobil sambil membereskan barang-barang yang kami keluarkan di pantai. Lalu kami langsung cabut kembali ke tempat penginapan. Akan tetapi, karena langit gelap dan tidak terdapat cukup penerangan di daerah sekitar pantai itu, mobil kami sempat nyasar ke daerah pantai yang banyak bebatuan di sana alias jalan buntu. Kami pun harus putar balik mobil. Namun, karena jalan pantai tersebut terdapat bebatuan yang cukup besar, kami pun benar-benar berhati-hati dalam memutar balik mobil kami tersebut. Sementara itu, hujan deras terus mengguyur kawasan pantai ketika itu. Jarak mobil terhadap garis pantai juga sangat dekat, kurang lebih ada 1-2 meter. Permukaan air laut kelihatan sedikit demi sedikit mengalami kenaikan. Kami sepakat, suasana saat itu terasa agak horor seperti di film-film :D. Langit gelap, hujan deras mengguyur, air laut yang nyaris meluap, dsb. Ada sekitar 15-20 menit kami berusaha memutar mobil ke arah sebaliknya. Akhirnya, usaha kami berhasil dan selanjutnya kami dapat menemukan kembali jalan yang benar. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang lagi. Alhamdulillah, satu jam kemudian kami semua akhirnya sampai di tempat penginapan dengan selamat :D.

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 3) : Denpasar Moon

Ahad, 26 Desember 2010. Pukul setengah empat subuh kami berempat beranjak dari stasiun Banyuwangi Baru menuju pelabuhan Ketapang. Saat itu kami benar-benar tidak tahu pelabuhan Ketapang ada di sebelah mana. Kami hanya berjalan mengikuti arah suara bel kapal yang terdengar cukup kencang sampai stasiun. Ternyata benar, pelabuhan Ketapang itu sangat dekat dengan stasiun. Cukup ditempuh 10 menit dengan jalan kaki dari stasiun Banyuwangi Baru ke arah timur sampai ketemu jalan raya kemudian belok kanan.

Sebelum ke pelabuhan Ketapang, kami mampir dulu di Ind*mar*t yang berada tepat di depan gang masuk stasiun tepat di pinggir jalan raya. Di sanam kami membeli perbekalan dulu sebelum menyeberang ke Bali. Mumpung di sini lebih murah karena kata orang-orang, kalau sudah di Bali, apa-apa mahal di sana.

Di depan jalan masuk stasiun Banyuwangi Baru

Di depan jalan masuk stasiun Banyuwangi Baru

Menyeberang dengan kapal feri

Sudah lama aku nggak pernah naik kapal feri sejak terakhir kalinya saat aku masih berusia 3 tahun. Saat itu aku bersama keluarga jalan-jalan ke Madura naik kapal feri dari Tanjung Perak Surabaya ke Ujung kamal Madura. Setelah sekian lama, akhirnya aku bakal naik feri lagi (wah, ndeso tenan seh mas iki :D).

Tarif kapal feri untuk menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk cuma Rp6.000 per orang. Perjalanan selalu tersedia selama 24 jam non stop. Kalau diamati, sebenarnya jauh lebih murah menyeberang dengan naik kapal langsung tanpa kendaraan dibandingkan dengan naik kendaraan umum atau bawa kendaraan sendiri. Sebab tanpa sengaja di pelabuhan saya menemukan tiket yang telah dibuang si empunya dan di tiket itu tertulis tarif sebesar Rp343.000 untuk kendaraan orang itu yang termasuk golongan VI A.

Oke, setelah itu kami naik ke atas kapal feri. Sampai di sana langsung disambut lagu-lagu bergenre melayu yang diputar oleh awak kapal. Yup, di belakang kapal disuguhi sebuah TV LCD yang memutar video-video lagu karaoke melayu dan dangdutan. Lumayanlah, ada hiburan :P.

Melangkah menuju kapal feri

Melangkah menuju kapal feri

Di atas kapal feri

Di atas kapal feri

Ternyata indah juga ya pemandangan malam hari pelabuhan jika dilihat kejauhan dari kapal. Gemerlap lampu kota terlihat terang benderang dari kejauhan di tengah luasnya lautan yang gelap.

Tak terasa, jam dinding kapal telah menunjukkan waktu pukul 4.00. Sudah saatnya untuk sholat Shubuh nih. Di kapal feri juga tersedia mushola dan tempat wudlu serta toilet bagi penumpang. Kami pun sholat Shubuh di kapal feri itu.

Penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk itu memakan waktu sekitar 45 menit. Kapal berangkat dari Ketapang pukul 3.45 dan merapat di Gilimanuk pukul 4.30.

memandang ke laut lepas

memandang ke laut lepas

Bali mulai tampak dari kejauhan

Bali mulai tampak dari kejauhan

Sampai di Gilimanuk

Suasana pagi yang segar menyambut kami setibanyanya di pelabuhan Gilimanuk. Begitu turun kapal, ada jeda waktu di mana kami terbengong tidak tahu harus jalan ke mana. Kami mengamati orang-orang pejalan kaki yang baru turun dari kapal, melihat ke mana mereka akan melangkah, sambil berharap mereka memiliki tujuan yang sama dengan kami. :)

Suasana pagi di pelabuhan Gilimanuk

Suasana pagi di pelabuhan Gilimanuk

“Dug..dug..dug..”. Tiba-tiba panggilan alam menghampiriku. Aku harus segera pergi ke tolilet. Oh, ternyata di area pelabuhan itu terdapat toilet yang berada persis di ujung bangunan depan dermaga tempat kapal tadi merapat. Lumayan, toilet di pelabuhan itu ternyata gratis alias nggak perlu membayar, bisa pake sepuasnya :D.

Nah, mumpung gratis, kami pun mandi sekalian. Sudah hampir dua hari kami nggak mandi karena terus berada di dalam kereta api. Bau badan anak-anak sudah nggak tertahankan lagi. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi lagi. Sueger.. ger.. ger… :D

Sehabis semua selesai mandi, kami mengobrol-ngobrol dengan petugas kebersihan di toilet itu. Orangnya cukup ramah dan kooperatif untuk dijadikan tempat bertanya. Kami mencoba mencari tahu berapa tarif transportasi umum dari Gilimanuk itu ke Denpasar dari orang tersebut. Kata beliau, biasanya tarifnya berkisar antara Rp20.000-Rp30.000.

Perlu diketahui, sebelumnya, kami juga sudah punya referensi dari blog-blog orang yang kami baca. Kami bertanya untuk memastikan saja agar selisihnya tidak sampai terlalu jauh. Berdasarkan pengalaman orang-orang yang ditulis pada blog mereka, sebagian besar mengatakan kalau beruntung kita bisa dapat tarif Rp20.000 ke Denpasar. Tapi pada umumnya memang kena Rp25.000.

Nah, mas penjaga toilet itu menawarkan untuk mencarikan bus ke Denpasar di terminal Gilimanuk. Kami pun mengiyakan. Selang beberapa menit kemudian datang si mas itu sama seorang kenek bus. Ternyata benar, tarif pertama yang ditawarkan oleh kenek bus itu Rp25.000. Kami pun mencoba menawar Rp20.000. Setelah negosiasi sebentar, akhirnya sepakat Rp20.000 itu. Nggak butuh waktu lama kenek bus itu untuk mengiyakan. Makanya kami sempat curiga juga, sebenarnya berapa sih ongkos dari Gilimanuk ke Denpasar itu. Tapi, berapapun itu, yang jelas pagi itu pukul 6.30 jadilah kami berangkat ke Denpasar dengan menumpang bus “Bahagia”.

Perjalanan Gilimanuk-Denpasar

Sepanjang perjalanan mulai dari Giliminauk, Negara, Tabanan, hingga Denpasar pemandangan indah tersaji di kanan-kiri jalan. Taman nasional, sawah-sawah, hingga pantai bisa kita temui sepanjang perjalanan itu. Perjalanan berhenti ketika bus memasuki terminal Ubung. Suasana panas menyengat menyambut kami.

Selain itu, sesampainya di sana, begitu kami turun, sudah banyak sopir-sopir taksi, angkot, dan bus yang menawari tumpangan kepada kami. Terus terang, saat itu kami sampai bingung mau melanjutkan dengan naik kendaraan apa. Bahkan, tujuan berikutnya mau ke mana kami juga masih abstrak.

Akhirnya, kami mencari tempat makan dulu untuk menghindari keramaian itu. Kebetulan ada warung “Arema” di depan terminal Ubung itu. Dari namanya kelihatan banget orang Malang nih yang punya, dan Insya Allah makanannya halal. Perlu diketahui, susah sekali mencari warung makanan yang halal di Bali. Solusinya memang cari warung makan orang Jawa atau Minang yang kebetulan juga cukup banyak di sana dan insya Allah halal. Kami membeli 3 mangkok rawon dan 1 mangkok soto ayam di warung itu. Masing-masing seporsi harganya Rp8.000. Cukup mahal memang.

Setelah makan, Neo mencoba bertanya kepada polisi di pos terdekat tentang cara ke Denpasar dan berapa ongkosnya. Sementara aku mencoba melihat jam dinding di dalam warung “Arema” itu. “Wuih… udah jam sentengah sebelas aja!” teriakku waktu itu terkejut. “Masak perjalanan dari Gilimanuk sampai Ubung tadi menghabiskan waktu 3,5-4 jam sih?” tanyaku kepada anak-anak. Kami baru ingat, Bali itu termasuk wilayah WITA. Jadi, sebenarnya kita berangkat pukul 7.30 dan sampai di Ubung sekitar pukul 10.00.

Setelah itu Neo kembali. Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya diputuskan kami akan menumpang taksi saja dan tujuan kami adalah ke kuta saja. Baru saja kami keluar dari warung, seorang sopir taksi sudah mendatangi kami di depan warung. Setelah melakukan tawar menawar, akhirnya kami mentok di angka Rp100.000 untuk ongkos taksi. Kata si pak Polisi yang ditanyai Neo memang segitu sih kisarannya, antara Rp80.000-Rp100.000. Tapi nggak apa-apalah. Kondisi panas yang menyengat membuat kami benar-benar lelah saat itu. Belum lagi ditambah tas-tas berat yang kami bawa.

Tanpa perlu berlama-lama, kami langsung setuju saja, dan berangkat ke Kuta-Legian naik taksi. Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan sopir taksi itu bertanya mengenai kehidupan di Bali, rental motor/mobil, hingga penginapan murah di sekitar Kuta.

Sampai di Kuta-Legian

Perjalanan dari Ubung ke Legian memakan waktu sekitar sejam. Sampai di pantai Legian kita nggak tahu harus ke mana lagi. Kami berjalan terus menyusuri pantai Legian dengan memanggul tas-tas yang berat. Sambil jalan, kami berdiskusi hendak ke mana setelah ini. Akhirnya kami sepakat, akan cari penginapan saja.

Kami pun mencoba mencari losmen-losmen murah di sepanjang jalan Poppies seperti yang disarankan sopir taksi tadi. Akhirnya kami menemukan rumah yang menawarkan kamar-kamar di jalan Poppies II gang Sorga. Nama penginapannya “Ayu Beach Inn”. Kami meminta satu kamar untuk empat orang kepada pemilik rumah. Oleh beliau langsung ditawarkan Rp200.000. Sebenarnya jika dibandingkan dengan beberapa penginapan murah di Bandung harga itu termasuk mahal jika melihat fasilitas ditawarkan yang juga sama. Fasilitas itu antara lain, tempat tidur untuk dua orang 2 buah, tempat tidur untuk satu orang 1 buah, 1 lemari pakaian dua bilik, kipas angin, cermin, dan kamar mandi. Tapi harga segitu bisa jadi memang termasuk murah di Bali setelah kami mendengar ada dua orang yang ingin memesan kamar di sana kemudian dibandrol Rp160.000 oleh pemiliknya.

Yang penting bagi kami saat itu adalah akhirnya kami bisa beristirahat Continue reading