Category Archives: Traveling

Open Trip ke Bromo

Menjelang pulang kampung Idul Adha minggu lalu, salah seorang kawan tiba-tiba mengajakku untuk ikut open trip (terjemahannya: perjalanan terbuka?) yang diadakan sebuah EO — kalau nggak salah namanya @trip_with_us. Objek wisata yang akan dikunjungi adalah Bromo. Sempat bimbang juga sih antara ikutan atau nggak. Sudah dua kali aku ke Bromo. Tapi pemandangan spektakuler di Bromo selalu menggoda untuk kembali ke sana. akhirnya, karena penasaran sama bagaimana rasanya ikut open trip dan mumpung ada teman juga, aku pun mengiyakan ajakan kawanku itu.

Jadwal pulang ke Malang pun tak berubah sesuai dengan tiket kereta api yang sudah jauh lebih dulu kupesan, yakni hari Jumat, 11 Oktober. Tiba di Malang pagi keesokan harinya. Sementara itu, kawanku ini sudah terlanjur membeli tiket kereta api ke Surabaya dengan jadwal yang sama.

Sabtu, 12 Oktober

Pihak EO sudah menyediakan 2 mobil yang akan menjemput peserta trip yang datang baik dari Malang maupun Surabaya. Jadi ceritanya ada 4 kelompok yang bergabung dalam open trip ini. Tiga kelompok — masing-masing terdiri atas 2 orang dari Tangerang dan 4 orang dari Jakarta serta aku sendiri — berangkat dari Malang. Sementara kelompok satunya terdiri atas 4 orang yang berangkat dari Surabaya. Kelompok terakhir yang dimaksud adalah kawanku yang pergi bersama 2 rekan kantor dan 1 orang teman SMA-nya.

Karena jadwal kedatangan kami berbeda-beda, kejadian saling menunggu tak terelakkan. Singkat cerita, siang menjelang sore kami baru bisa berkumpul di Bandara Abdul Rahman Malang, kemudian mobil bergerak ke Probolinggo. Di sana kami mampir makan siang di restoran Rawon Nguling. Pulang ke Jawa Timur memang kurang lengkap kalau nggak makan rawon:D. Kata sopirnya sih ini rawon yang populer di sana. Ketika sampai di sana, eh beneran lah, ada foto Pak SBY pas lagi di sana, haha. Fotonya gede, dipasang di dinding dalam restoran.

Perut pun sudah terisi. Perjalanan dilanjutkan kembali ke desa Sukapura, Probolinggo. Perjalanan menempuh waktu 1 jam lebih. Di sana kami sudah disediakan villa untuk menginap. Nggak ada acara khusus malamnya. Kebetulan lagi ada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 Indonesia vs Korsel. Jadi kami isi malam itu dengan acara nontong bareng timnas.

Villa

Suasana di dalam Villa

Minggu, 12 Oktober

Pukul 2.15 dini hari kami sudah bangun dari tidur masing-masing. Kami bersiap-siap untuk berangkat ke Penanjakan I untuk menyaksikan sunrise. Perjalanan dengan jeep memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sempat macet juga sih. Macet di antrian gerbang masuk Taman Nasional di Cemoro Lawang. Perjalanan dari Sukapura ini melalui rute Cemoro Lawang, kemudian turun ke lautan pasir dan mendaki lagi di bukit Penanjakan hingga puncaknya.

Sampai di Penanjakan jam 4 kurang sedikit. Beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh berkumandang. Aku menyempatkan sholat dulu di mushola yang tersedia di dekat gardu pandang tempat menyaksikan sunrise. Btw, air wudlu di sana bayar 2000. Tapi walaupun bayar, sebaiknya tetap dihemat airnya ketika berwudlu agar yang lain tetap kebagian. Maklum, di sana airnya sepertinya dibawa secara manual dari desa.

Suasana di Penanjakan I saat itu ramai sekali. Rata-rata pengunjungnya didominasi oleh rombongan muda-mudi yang touring sepeda motor dari kota-kota lain di Jawa Timur. Baru sebagian lainnya merupakan rombongan keluarga. Bule-bule pun juga ada, tapi jumlahnya tak terlalu banyak.

Oh ya, walaupun ini kali ketiga aku main ke Bromo, ini pertama kalinya aku melihat sunrise di Penanjakan I. Kunjungan pertama tanpa pakai acara lihat sunrise. Kunjungan kedua lihat sunrise dari Penanjakan II.

Beuhh… pemandangannya lebih mantap ternyata dari Penanjakan I ini. Kalau pernah lihat foto view sunrise Bromo yang populer di National Geographic, di sinilah tempatnya. Tapi ramainya sungguh terlalu ketika itu. Kurang enjoy jadinya. Terpaksa mencari tempat di pinggir-pinggir. Sempat nekat manjat pagar juga untuk turun ke tebing-tebing. Tapi tak lama kemudian aku balik lagi karena ditegur orang yang sepertinya salah satu petugas di sana.

View Bromo-Batok-Semeru

View Bromo-Batok-Semeru

Pukul 5.30 kami cabut dari gardu pandang. Turun mampir ke warung untuk sarapan (bakso). Kami juga nyobain sate kentang yang banyak dijajakan di jalan sepanjang pintu masuk gardu pandang. Konon kata temen kentang rebus di sana sangat enak. Setelah aku cobain, kok rasanya nggak se-wah yang diceritain temenku itu ya, haha. Tapi worth untuk dicoba. Oleh penjualnya dipatok harga 10 ribu tiga tusuk. Agak mahal sih, temen ada yang bisa nawar satu tusuknya 2 ribu.

Setelah perut terisi, kami kembali menuju mobil jeep. Agenda berikutnya adalah Continue reading

Fun Trip Ke Garut Bersama IF’07

Akhir pekan yang lalu (5-6 Oktober) aku bersama teman-teman satu angkatan Informatika (IF) 2007 jalan-jalan bareng ke Garut, tepatnya ke Gunung Papandayan dan Puncak Darajat. Tidak semuanya memang. Hanya 29 orang saja, atau hampir 25% dari angkatan.

Acara jalan-jalan bareng angkatan ini terselenggara dengan bantuan EO (Event Organizer) Teras Nusantara. Kebetulan salah satu owner-nya adalah anak IF’07 juga. Semua urusan yang berkaitan dengan itinerary selama di sana, teknis keberangkatan, transportasi, makanan, hingga akomodasi sudah dipercayakan kepada mereka.

Jumat, 4 Oktober

Rombongan yang tergabung dalam acara ini terbagi ke dalam dua kota asal keberangkatan: Jakarta dan Bandung. Teman-teman regional Jakarta dan sekitarnya berkumpul di Sarinah Jl. Sudirman pukul 9 malam. Dari sana mereka menumpang Elf yang membawa mereka ke Bandung. Sementara itu teman-teman Regional Bandung, termasuk aku, berkumpul di Little Wings Cafe & Library Bandung, yang sebenarnya juga merupakan kantor dari Teras Nusantara. Di sanalah meeting point antara rombongan Jakarta dan Bandung.

Oh ya, Little Wings ini terbuka buat umum lho. Maksudnya, tempat ini bukan dikhususkan untuk peserta event-eventnya Teras Nusantara saja. Di sana kita bisa memesan beberapa makanan dan minuman. Sesuai namanya, di sini juga terdapat rak-rak yang dipenuhi dengan berbagai macam buku dari berbagai genre. Cocok buat mereka yang hobi baca. Halaman tempatnya juga asri. Haha, kok jadi promosi. Mending cek saja langsung di halaman Facebooknya.

Sabtu, 5 Oktober

01.00. Teman-teman dari Jakarta tiba di Little Wings. Sesuai itinerary kami baru akan memulai perjalanan ke Garut sekitar pukul 3 dini hari. Artinya masih ada waktu sekitar 2 jam bagi teman-teman untuk beristirahat. Dari pihak Teras Nusantara, mereka sudah menyediakan ruang luas di lantai 3 untuk teman-teman beristirahat. Ada sejumlah kasur dan bantal yang bisa digunakan untuk tidur.

03.00. Semuanya bersiap di lobi Little Wings. Tiga buah mobil KIA Pregio juga sudah bersiap di halaman Teras Nusantara. Peserta trip mulai memasukkan tas-tasnya ke dalam mobil. Sekitar pukul 3.30 kami pun berangkat menuju Garut. Di tengah jalan kami mampir ke SPBU untuk melaksanakan sholat Subuh.

06.00. Kami tiba di Desa Cisurupan yang berada di kaki Gunung Papandayan. Inilah desa terakhir yang dapat dicapai dengan angkutan umum bagi mereka yang hendak ke Gunung Papandayan. Untuk melanjutkan perjalanan ke pos pendakian, biasanya mereka mencarter mobil pick-up yang cukup banyak terlihat di sana. Di desa ini kami mampir membeli perbekalan di sebuah minimarket.

Perjalanan dari Desa Cisurupan menuju Pos pintu masuk Gunung Papandayan ini harus melalui jalanan yang sangat buruk. Banyak ruas jalan yang aspalnya berlubang. Jalannya juga memiliki banyak tanjakan. Salah satu mobil sempat terpaksa harus didorong ramai-ramai karena terjebak di salah satu lubang jalan. Kurang lebih 45 menit waktu dibutuhkan untuk mencapai pos pintu masuk dari Desa Cisurupan.

07.00. Selama satu jam kami bersantai-santai dahulu di gerbang masuk Gunung Papandayan. Di sana terdapat parkiran mobil yang sangat luas. Di sisi barat dan selatannya berjejer-jejer warung makan. Kami mampir sarapan pagi di salah satu warung tersebut. Aku memesan nasi goreng yang harga satu porsinya Rp8.000 sudah termasuk telor mata sapi.

Setelah perut terisi dan persiapan sudah dilakukan, kami berkumpul kembali untuk mendapatkan briefing dari Yasir, selaku koordinator perjalanan kami kali ini. Kami juga sempat untuk berfoto bersama sebelum memulai trekking.

IF'07 di Papandayan (photo by Teras Nusantara)

IF’07 di Papandayan (photo by Teras Nusantara)

08.00. Trekking pun dimulai. Medan pertama yang kami lalui adalah berupa batu-batuan. Kurang lebih hanya 20 menit dari pintu masuk pendakian, kami sudah sampai di area perkawahan Papandayan. Yep, kawah! Inilah uniknya Papandayan. Kawahnya akan kita temui di awal pendakian. Asap belerang menyembul dari lubang di sela-sela bebatuan. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Tapi banyak sekali lubang-lubang yang menyembulkan asap belerang di kawah tersebut.

Setelah medan bebatuan, kami mulai melalui medan berupa tanah berkerikil. Cuaca saat itu terik matahari begitu menyengat walaupun angin yang berhembus cukup menyejukkan. Agak menyesal aku tak memakai sunblock ketika melakukan pendakian. Karena begitu pulang dari sana, beberapa teman bilang bahwa aku menjadi lebih hitaman. Kulit tangan juga terlihat jadi belang.

Di percabangan ke arah Pondok Salada dan Tegal Panjang kami beristirahat sebentar beberapa menit. Selain melalui pintu masuk pos pendakian Papandayan di Cisurupan, pendakian Gunung Papandayan ini juga dapat dilakukan melalui Pangalengan, Kabupaten Bandung, melewati Tegal Panjang. Kapan-kapan kayaknya harus nyobain ke Papandayan lewat Tegal Panjang ini. Lihat dari foto-fotonya … wah, cakep banget pemandangannya. Hidden paradise kalau kata temen mah.

09.45. Kami mencapai Pondok Salada. Pondok Salada adalah suatu padang rumput luas yang biasa dijadikan area perkemahan bagi para pendaki Gunung Papandayan. Pondok Salada biasa menjadi tempat pilihan berkemah karena tak jauh dari situ terdapat ‘kran’ pipa air bersih yang mengalir. Sehingga keperluan masak-memasak dan air minum dapat terpenuhi di sana.

Di Pondok Salada kami cuma beristirahat sebentar saja. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini destinasi kami adalah Tegal Alun. Jalur yang dilalui untuk mencapai ke sana cukup Continue reading

Pendakian Gunung Gede 2.0 (Hari 2)

Subuh itu (7/7) udara dingin terasa amat menusuk sampai ke tulang. Kami semua masih berbaring di dalam tenda berjejer-jejer seperti ikan-ikan yang sedang dijemur. Bayangkan 1 tenda kapasitas 6 orang benar-benar diisi maksimum oleh 6 orang beserta ransel-ranselnya. Jadinya mau mau selonjor atau membaringkan badan ke samping pun agak susah, haha.

Begitu terbangun, aku langsung mencoba sholat Subuh di dalam tenda. Air wudlu terasa sungguh dingin sekali. Saat itu kami terpaksa menggagalkan rencana untuk melakukan summit attack pada dini hari. Teman-teman sepertinya masih kelelahan. Selain itu, keinginan kami, khususnya aku, untuk melihat sunrise juga tidak terlalu menggebu karena sudah pernah pada pendakian sebelumnya. Justru yang belum pernah adalah menikmati pagi yang cerah di hamparan padang Edelweiss Surya Kencana :).

Hamparan Edelweiss

Hamparan Edelweiss di pagi yang cerah

Kami mulai mempersiapkan keperluan untuk sarapan pagi. Kala itu, sang surya telah bersinar dengan terangnya. Walaupun demikian, hangatnya sinar mentari itu tak cukup untuk meredakan dinginnya angin yang berhembus di Surya Kencana pagi itu. Karena itu kami semua masih mengenakan jaket ataupun atribut penghangat lainnya.

Beruntung pagi itu kami mendapatkan pinjaman kompor dari tenda sebelah. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Kuncoro langsung menggunakan kompor tersebut untuk menanak nasi. Cukup lama kami menunggu nasi tersebut hingga matang. Ada mungkin sekitar 45-60 menit kami menunggu. Sambil menunggu itu kami menghabiskan waktu untuk berfoto-foto serta memulai packing barang-barang yang bisa dimasukkan ke dalam ransel saat itu.

Memasak nasi

Memasak nasi

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Aktivitas tersebut ternyata benar-benar efektif untuk menunggu nasi hingga matang, hihi. Sayangnya ternyata kompornya sudah buru-buru hendak diminta balik oleh si empunya. Kami pun tak sempat merebus telor atau memasak mie instan sebagai pelengkap karena jelas tak akan terburu. Kami hanya sempat memanaskan sarden untuk lauk sarapan pagi itu. Tapi untungnya nasi yang kita masak pagi itu merupakan nasi liwet atau nasi gurih yang sudah ‘berasa’ karena bumbu-bumbu di dalamnya. Continue reading

Pendakian Gunung Gede 2.0 (Hari 1)

Setelah kurang lebih 1 tahun sejak pendakian pertama, pada tanggal 6-7 Juli kemarin akhirnya terlaksana lagi pendakian Gunung Gede untuk kedua kalinya bagiku. Peserta yang tergabung dalam rombongan kali ini hampir semuanya muka baru kecuali aku dan Rizky. Selain aku dan Rizky, ada Neo, Khairul, Kuncoro, dan Fachri. Kami semua teman satu angkatan kuliah di ITB dulu. Namun, hanya Fachri yang berbeda jurusan dengan kami.

Sama seperti tahun lalu, pendakian kali ini naik melalui pintu masuk Gunung Putri dan turun melalui jalur Cibodas. Namun bedanya, pada pendakian kali ini kami berangkat secara terpisah. Neo dan Khairul datang dari Jakarta. Sementara sisanya datang dari Bandung. Meeting point kami adalah Pasar Cipanas.

Meeting point di Pasar Cipanas

Meeting point di Pasar Cipanas

Sayangnya pada hari H itu, Kuncoro yang harusnya ikut bersama kami berangkat dari Bandung pukul setengah 7 pagi, ternyata kesiangan sehingga terpaksa ia harus menyusul sendirian ke Cipanas. Rencana untuk memulai pendakian jam 12 siang terpaksa kami urungkan.

Oh ya, untuk mencapai Cipanas ini dari Bandung, tepatnya terminal Leuwi Panjang, bisa menaiki bus jurusan Merak yang melewati jalur Puncak. Nama bus yang kami naiki adalah Garuda Pribumi. Ongkosnya 30 ribu. Kasus terburuk andaikan tak ada bus yang melalui puncak (biasanya karena jalur Puncak tengah ditutup), kita bisa menumpang bus ke Cianjur, turun di terminal Rawabango, Cianjur. Setelah itu, oper angkot ke mall Ramayana. Dari Ramayana bisa naik angkot biru jurusan Cipanas atau Elf jurusan Ciawi dan minta turun di Cipanas. Yang kasus terakhir ini memang ribet sekali karena harus oper beberapa kali. Itulah yang kami alami kemarin karena jalur Puncak kebetulan tengah ditutup, ada acara presiden di Istana Cipanas.

Dari Cipanas kami menumpang angkot yang menuju ke Gunung Putri. Kami memutuskan untuk menunggu Kuncoro di salah satu warung yang biasa menjadi basecamp untuk memulai pendakian di Gunung Putri itu. Di sana kami mengisi perut alias makan siang. Menunya macam-macam. Ada nasi goreng, nasi rames, soto, dsb. Harganya pun relatif murah. Di warung tersebut juga menyediakan mushola. Di sana kami menunaikan sholat Dhuhur dan Ashar sebelum memulai pendakian.

Daftar Menu

Daftar Menu

Makan siang

Makan siang

Sekitar jam setengah 4 sore akhirnya Kuncoro datang juga. Setelah itu, tanpa berlama-lama, seusai ia selesai sholat, kami langsung berjalan memulai pendakian. Sebelum itu, kami melapor dahulu ke pos perizinan Gunung Putri. Kami menunjukkan SIMAKSI kami dan sempat ditanya apakah kami membawa barang-barang seperti deterjen, sabun, dsb. Karena sudah paham mengenai peraturan sebelumnya, maka tak ada satupun dari kami yang membawanya. Cuma untuk senjata tajam, seperti pisau kami tetap membawanya karena merasa perlu. Kemudian petugasnya semacam memberikan catatan di surat SIMAKSI kami. Kurang jelas juga sih apa yang dia tulis. Setelah urusan pemeriksaan selesai, pendakian pun dimulai.

Continue reading

Ke Jombang

Pada hari Minggu kemarin aku pergi ke Jombang untuk menghadiri pernikahan seorang teman kuliahku dulu, yang memang berasal dari Jombang. Kami beda jurusan sebenarnya. Namun, kami saling mengenal dengan baik karena pernah berada pada kelas yang sama saat kuliah tingkat satu dulu.

Btw, sudah lama aku tak pernah mampir ke Jombang. Aku dan teman-teman yang berasal dari Malang dulu biasa ‘mencegat’ kereta api Mutiara Selatan jurusan Surabaya-Bandung. Karena tak ada kereta Malang-Bandung ketika itu, kami pun terpaksa naik kereta dari Jombang (atau kadang-kadang juga dari Surabaya).

Dari Malang kami biasa naik mini bus ‘legendaris’ Puspa Indah yang ‘memonopoli’ rute Malang-Jombang via Batu-Pujon-Ngantang-Kandangan. Perjalanan ditempuh selama 2,5-3 jam. Tarifnya ketika itu Rp12.000. Kami memilih bus ke Jombang karena jalan tempat kami turun dari bus tidak terlalu jauh dari lokasi Stasiun Jombang. Cukup berjalan kaki saja.

Nah, kemarin ketika aku datang ke nikahannya temanku itu, aku pun juga naik bus Puspa Indah ini. Ongkosnya sekarang Rp14.000 sampai Jombang. Tapi kemarin aku sempat kebablasan dari lokasi di mana aku seharusnya turun. Untung ada Google Maps, jadi aku bisa mengetahui jarak dan denah lokasiku saat itu dengan lokasi acara nikahan (Gedung PSBR Jombang). Untung aku masih bisa sampai setengah jam sebelum acara berakhir, hehe.

Setelah acara nikahan, sambil menunggu jadwal kereta Mutiara Selatan ke Bandung, aku mampir ke Masjid Agung Baitul Mukminin. Sambil menunggu waktu Ashar aku duduk-duduk saja di serambi masjid sambil membaca buku. Suasana masjid agung ini terasa adem. Angin-angin semilir yang masuk terasa sejuk.

Masjid Agung Baitul Mukminin

Masjid Agung Baitul Mukminin

Setelah Ashar, aku mampir ke alun-alun Jombang yang lokasinya persis di sebelah timur masjid. Yah, sekedar kulineran saja di sana sambil merasakan suasana alun-alun Jombang yang ketika itu masih basah setelah turun gerimis. Napak tilas masa-masa awal kuliah dulu ketika kami biasa menunggu kereta dengan duduk-duduk menikmati kulineran di alun-alun ini. Persis di sebelah selatan alun-alun di situlah terletak Stasiun Jombang. Sekitar pukul 5 aku pun masuk ke dalam stasiun untuk menunggu kereta yang datang pukul 6 sore.

Alun-alun Jombang

Alun-alun Jombang

 

Main ke Trans Studio Bandung

Semenjak dibuka pertama kali untuk umum pada Juni 2011, baru Sabtu pekan lalu (18/05) akhirnya aku berkunjung ke Trans Studio Bandung. Padahal aku tinggal (ngekos) di Bandung. Tapi malas saja ke sana. Alasannya, selain harga tiket masuknya yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa (ketika aku masih mahasiswa), juga karena tidak ada teman yang mau diajak main ke sana, hihi.

Sabtu kemarin itu kebetulan ada acara walimahan teman sesama angkatan 2007 Sekolah Elektro dan Informatika ITB di gedung dekat McD Gatot Subroto. Banyak teman, baik dari Elektro maupun Informatika yang menghadiri acara tersebut. Nah, setelah acara walimahan, muncul keinginan untuk jalan bareng ke suatu tempat, sekedar untuk meluangkan waktu bersama sambil mengobrol tentang  pekerjaan masing-masing atau mengenang kembali memori saat mahasiswa dulu. Dipilihlah Trans Studio Mall karena lokasinya yang sangat dekat dengan gedung pernikahan.

Sekitar pukul 2 siang berangkatlah kami bersepuluh (9 cowok + 1 cewek) ke Trans Studio Mall. Aku satu-satunya yang berasal dari Informatika di rombongan itu. Yang lain anak Elektro semua. Awalnya, rencana kami cuma ingin menonton film saja. Film apapunlah yang ada saat itu.

Tapi setelah mempertimbangkan (kalau tidak salah) kebetulan semua dari kami belum pernah ke masuk ke wahana Trans Studio, kenapa tidak sekalian saja main ke sana. Kebetulan ada salah satu teman yang tak keberatan untuk mentraktir kami semua ke Trans Studio, hehe. Tiket masuk untuk weekend 250.000 rupiah per orang. Alhamdulillah, pertama kalinya ke Trans Studio ada yang bayarin, hehe. Semoga rezekinya lancar terus ya mas! 🙂

Sebenarnya sore hari adalah waktu yang kurang tepat untuk memulai kunjungan ke Trans Studio. Sebab Anda akan melewatkan beberapa wahana seperti Special Effects Action dan Trans City Theater yang hanya menampilkan pertunjukan di siang hari.

Wahana yang kami kunjungi pertama yaitu Vertigo Galaxy, wahana permainan berupa kincir raksasa yang berputar 360 derajat. Cuma 4 orang dari kami yang menaiki wahana ini. Aku dan yang lain nggak mau karena merasa perut masih kenyang sehabis makan di walimahan sebelumnya, haha. #alibi

Vertigo Galaxy

Vertigo Galaxy

Setelah itu, kami masuk ke wahana Si Bolang-Bocah Petualang. Wahana Si Bolang ini begitu kental terasa Indomie-nya, hehe. Bagaimana tidak, di mana-mana ada properti bertuliskan Indomie. Bahkan, ketika kami berkeliling menggunakan kereta menjelajahi “Indonesia” yang menampilkan ragam rumah adat, pakaian adat, dan budaya masing-masing daerah, properti Indomie itu masih mendominasi. Hmm… sepertinya pepatah “di mana pun daerahnya, kulinernya tetap Indomie” cocok menggambarkan “petualangan” Bolang kami, hehe.

Membolang dengan naik kereta

Membolang dengan naik kereta

Setelah selesai membolang, selanjutnya kami kembali mengulang pelajaran-pelajaran Kimia dan Fisika sewaktu sekolah dulu. Pelajaran sekolah itu kami dapatkan di Science Center. Di “rumah belajar” ini kami menemukan hal-hal menarik untuk diketahui.

Sebagai orang yang berlatar belakang teknik — yang dahulu ketika masih tingkat satu pun kami mendapat kuliah Fisika Dasar dan Kalkulus — objek-objek sains di Science Center ini cukup menarik bagi kami. Ada alat untuk mengukur kekuatan genggaman tangan, harpa dengan senar laser yang bisa dimainkan layaknya harpa sungguhan, mesin elektrostatik Van De Graff, simulasi angin topan, dsb. Sebagian memang sudah pernah kulihat di Jatim Park (waktu SMP dulu), tapi di Trans Studio ini objek sainsnya lebih banyak — kebanyakan objek fisika. Cocok bangetlah buat pelajar-pelajar yang suka sama Fisika, hehe.

Science Center

Science Center

Keluar dari Science Center entah bagaimana ceritanya kami terpisah menjadi dua kelompok. Tiga orang entah ke mana. Sementara aku dan 6 orang lainnya lanjut ke wahana yang lain. Giant Swing menjadi pilihan kami. Di satu artikel Detik Travel pernah disebutkan tentang 5 wahana Trans Studio yang bisa bikin jantung ‘copot’, dan Giant Swing ini adalah salah satunya, juga  Continue reading

KLCC & Petronas

Ini beberapa foto hasil jalan-jalan malam Senin (21/4) yang lalu ke KLCC. Seperti biasa, main ke KLCC pasti yang menjadi object of interest-nya selalu menara kembar Petronas dan kolam air mancur depan Suria Mall. Tapi beberapa kali berkunjung ke KLCC, baru kali ini melihat kolam air mancur di sana dipercantik dengan hadirnya warni-warni cahaya lampu. 🙂

Petronas Twin Tower

Petronas Twin Tower

Water Fountain

Water Fountain

Water Fountain

Water Fountain

Water Fountain

Water Fountain