Saya sudah pernah mencobanya sekali waktu solo traveling ke Penang 2 hari 1 malam bulan November lalu. Rasanya persis seperti yang disebutkan di artikel ini. Nggak enaknya adalah nggak ada orang yang bisa kita share perasaan senang kita ketika mengunjungi suatu tempat. Kalau ditanya mau traveling sendirian lagi nggak, saya jawab kalau ada teman barengan, itu lebih baik. 🙂
Category Archives: Traveling
Gowes Menikmati Kota Bandung
Ada salah satu cara untuk menikmati Kota Bandung yang perlu dicoba, yakni dengan bersepeda a.k.a gowes. Apalagi jika dilakukan beramai-ramai, semakin menambah keseruan dan keasyikan. Itulah yang aku dan teman-teman lakukan weekend kemarin (Sabtu, 28/12).
Sejak diresmikan pada tanggal 10 Juni 2012, baru kali ini aku nyobain nyewa sepeda di shelter Bike.Bdg ini. Sementara ini baru ada beberapa shelter di kawasan Dago dan Buah Batu saja. Yang ku tahu shelter-shelter di kawasan Dago antara lain di depan kampus ITB (Jl. Ganeca), depan gedung BCA Dago (persimpangan dengan Jl. Dipati Ukur), belakang gedung Anex ITB (di bawah jembatan layang Pasupati), dan di depan Unikom Jl. Dipati Ukur (yang satu ini aku kurang begitu mengamati apakah masih ada atau tidak).
Jadi ceritanya Sabtu itu salah seorang teman ane dari Jakarta lagi main ke Bandung dan mencetuskan ide untuk nggowes itu. Maklum, dia lagi hobi nggowes beberapa bulan belakangan ini. Bersama tiga orang yang lain yang juga lagi di Bandung, jadilah kita menyewa sepeda di shelter Bike.Bdg. Sebenarnya aku ada sepeda sendiri, tapi pingin juga nyobain nyewa sepeda yang di shelter-shelter itu.
Pertama kita datang ke shelter belakang gedung Anex. Sayang sekali, saat itu shelternya lagi nggak ada yang jaga, saudara-saudara. Akhirnya jalanlah kita ke shelter depan BCA Dago. Alhamdulillah shelternya buka. Shelter BCA Dago ini tampaknya yang memang paling hampir dipastikan selalu buka. Mungkin karena lokasinya yang strategis, sehingga kemungkinannya lebih besar orang-orang untuk menyewa ke sini.
Biaya sewa adalah 3000/jam, KTP/SIM/KTM atau kartu identitas yang lain ditinggal di shelter. Kalau sudah punya kartu anggota, tidak perlu meninggalkan kartu identitas (kalau nggak salah begitu). Sebenarnya biaya itu cukup murah sih menurutku dengan mempertimbangkan ada pemasukan juga yang diperlukan pengelola untuk pemeliharaan sepeda-sepeda itu.
Waktu ke sana, kondisi sepedanya kebanyakan masih bagus sih, artinya pedal masih nyaman dikayuh, rem benar-benar pakem, shifter masih bisa digunakan, rear deraillur masih oke. Memang sih beberapa sepedanya sudah mulai kelihatan berkarat. Tapi masih aman untuk digunakan lah. Jenis sepedanya adalah city bike.
Setelah selesai urusan administrasi — cuma nyatet nama di buku dan ninggalin kartu identitas aja sih — kami langsung mulai mengayuh sepeda kami. Tapi bingung juga tujuannya ke mana, haha. Akhirnya diputuskan untuk keliling-keliling dulu di kawasan perumahan elite dan kafe antara Dipati Ukur dan Dago ini. Di sana jalanan cukup teduh karena banyak pepohonan besar, tinggi nan menjulang, dan rindang.
Tapi ternyata butuh waktu sebentar saja kami muter-muter di sana. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan gowes hingga ke Braga. Rutenya melewati Jl. Ir. Haji Juanda-BIP-Jl. Aceh-Jl. Kalimantan-Jl. Jawa-Jl. Merdeka-Jl. Lembong-Jl. Braga. Sepanjang jalan Juanda sampai Jawa masih enak karena banyak pepohonan rindang. Bahkan di Jalan Aceh terdapat lane khusus sepeda. Jadi merasa lebih aman bersepeda di sana.
Dari Braga kami melanjutkan perjalanan lagi ke Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika. Di sana kami cuma duduk-duduk saja sih. Foto-foto, menikmati es duren dan cimol yang dijual pedagang kaki lima yang kebetulan jualan di dekat situ.
Dari Gedung Merdeka kami gowes lagi melalui Jl. Braga-Jl. Suniaraja-Jl. Stasiun Timur kemudian mampir ke Paskal Hyper Square. Beberapa dari kami baru pertama kali ke situ. Penasaran di dalamnya ada apaan sih. Akhirnya sepedaan muter-muter di kompleks tersebut. Kami juga sempat beristirahat beberapa menit di sana.
Setelah itu, lanjut gowes lagi. Tujuan kami selanjutnya mau ke OZ Radio. Lho kok? Iya, beberapa di antara kami kan besoknya mau ikut event lari OZ Color Me Bandung itu. Di sana tempat pengambilan race pack-nya. Jadilah sekalian kami gowes sampai sana. Jadi rute sepedanya dari Paskal Hyper Square lewat Jl. Pasir Kaliki-Jl. Sukajadi-Jl. Bungur-Jl. Prof. Dr. Sutami-Jl. Setrasari-OZ Radio. Sewaktu di Jl. Bungur, jalannya menanjak banget, baru terasa beratnya. Tapi enaknya di sana adem, banyak pepohonan. Kalau Pasir Kaliki dan Sukajadi, sudah jarang pepohonan, macet pula.
Sebelum ke OZ Radio, kami sempat mampir makan mie ayam di Jl. Dr. Sutami yang kata teman cukup populer di situ. Setelah mengambil race pack, kami balik ke Dago melalui Jl. Bungur-Jl. Cemara-Jl. Cipaganti-Jl. Setiabudi-Jl. Cihampelas-Jl. Siliwangi-Jl. Dipati Ukur. Di tengah rute itu sempat mampir istirahat di sebuah taman di pertigaan Setiabudi-Cipaganti. Dari Dipati Ukur kami muter-muter lagi di kawasan perumahan elit dan kafe di sana sebelum mengembalikan sepeda.
Total waktu sewa kami adalah 4 jam lebih 5-10 menit. Lama juga ya. Tapi serius, nggak terasa lho karena memang menyenangkan gowes ramai-ramai. Jadi total biaya sewanya 15.000 rupiah per sepeda. Padahal tadi niatnya mau dipasin 4 jam, biar nggak rugi-rugi amat, hehe.
Btw, kalau taman-taman kota yang direncanakan oleh Pak walikota sudah jadi (2014, Ridwan Kamil ingin ada 6 taman baru di Bandung), bakal makin seru nih sepedaan dalam kota Bandung. Taman-taman tersebut bisa menjadi alternatif untuk tujuan rute bersepeda. Kolaborasi tersebut — taman dan bersepeda — bakal menjadi alternatif yang menarik untuk menikmati Bandung. Masa ke Bandung jalan-jalannya cuma ke mall atau factory outlet melulu. 😀
Berkunjung ke Bandara Kuala Namu
Kuala Namu International Airport (KNIA) telah resmi beroperasi sejak 25 Juli 2013 yang lalu. Bandara yang kabarnya adalah bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta ini memiliki desain dan fasilitas yang modern.
Ini dia beberapa foto suasana di Kuala Namu International Airport (KNIA) yang sempat kupotret sekitar sebulan yang lalu saat transit di sana dalam perjalanan menuju ke/dari Penang. Sayang euy beberapa jepretanku hasilnya blur.
1. Terminal Kedatangan
Foto di atas kupotret dengan membelakangi pintu keluar terminal kedatangan. Tempat yang ada angka “2”-nya itu adalah information center. Di balik tembok itu ada mesin komputer yang bisa digunakan oleh pengunjung bandara untuk membaca informasi interaktif mengenai Medan dan Sumatera Utara pada umumnya. Eskalator yang tampak di belakang itu adalah eskalator menuju terminal keberangkatan, tepatnya di area check-in.
Foto ini kujepret saat waktu menunjukkan hampir pukul 1 malam. Jadi banyak kios-kios yang sudah tutup. Kios yang berada di samping eskalator itu adalah kios money changer kalau nggak salah. Kios yang tampak di sebelah paling kiri foto adalah sebuah restoran. Sebelah kanan dari tempat aku memotret ini ada Alfamart yang buka 24 jam sepertinya. Saat aku tiba di sana, kios tersebut masih buka dan aku sempat membeli pop mie untuk mengisi perut.
Pintu keluar kedatangan penerbangan internasional berada di sayap kiri dan penerbangan domestik berada di sayap kanan dari arrival hall. Di arrival hall ini ada fasilitas beberapa kursi tunggu, resto-resto, musholla, dan toilet.
Dari arrival hall tadi begitu keluar akan tampak stasiun kereta api bandara (airport railink) di depannya. Bagus banget penataan lokasinya. Jadi buat Anda yang baru pertama kali datang ke bandara tidak perlu bingung mencari di mana stasiun berada. Di sebelah kanan pintu terminal kedatangan ini juga tersedia bus-bus DAMRI yang juga bisa menjadi alternatif pilihan untuk melanjutkan perjalanan ke kota.
Karena aku cuma transit saja di sini, jadi aku langsung jalan menuju ke terminal keberangkatan. Pada foto di atas terlihat eskalator di sebelah kiri itu kan. Itu adalah eskalator menuju ke lantai dua. Terminal keberangkatan ada di lantai tiga. Dari lantai dua ke lantai tiga ada eskalator lagi. Selain eskalator, dari arrival hall juga tersedia lift yang bisa digunakan untuk sampai ke lantai tiga.
Di lantai dua ada apa? Sewaktu aku ke sana, yang terlihat hanyalah penunjuk arah yang menyebutkan “hotel transit” dan “toilet”. Selain itu, aku tidak tahu. Hotel transitnya sendiri belum jadi saat itu. Biasanya hotel transit di bandara ini model hotel budget seperti Hotel Ibis yang ada di Bandar Juanda Surabaya.
2. Terminal Keberangkatan
Setelah naik eskalator dari terminal kedatangan itu hingga ke lantai tiga, kita akan mendapati selasar terminal keberangkatan. Begitu keluar dari eskalator kita juga akan melihat bagian atap dari bangunan stasiun bandara Kuala Namu.
Di selasar terminal keberangkatan ini ada beberapa bangku yang tersedia. Beberapa orang yang menginap di bandara kebanyakan memanfaatkan bangku-bangku tersebut untuk tiduran. Di selasar ini juga tersedia troli-troli yang bisa digunakan langsung oleh para calon penumpang.
3. Check-in Area
Masuk ke dalam bandara dari pintu terminal keberangkatan, kita akan langsung berada di sebuah ruangan check-in yang sangat luas. Konter-konter check-in di sana terbagi ke dalam 4 banjar (A-D). Nggak perlu bingung di konter mana kita akan check-in. Kita bisa mencari tahu di konter mana kita harus check-in melalui layar TV informasi yang tersedia di bandara. Tinggal cari konter check-in yang melayani sesuai nomor penerbangan kita.
Bagusnya area check-in di Bandara Kuala Namu ini adalah diterapkannya sistem check-in terbuka. Para pengantar boleh memasuki area ini. Hal ini memberikan kesempatan bagi para penumpang yang hendak bepergian untuk memiliki waktu lebih lama untuk bersama keluarga atau rekan-rekan yang mengantarnya. Mungkin bisa sambil ngopi-ngopi atau makan bersama di kafe/resto dalam bandara. Calon penumpang baru benar-benar harus berpisah dari sang pengantar ketika akan memasuki boarding lounge.
Selain check-in terbuka, check-in di Kuala Namu ini juga menerapkan teknologi yang disebut dengan Baggage Handling System (BHS), alias sistem penanganan bagasi otomatis. Katanya dengan sistem ini kemungkinan bagasi untuk tertukar dengan penerbangan lain hampir nihil. Hmm… aku sendiri kurang tahu pasti sih bagaimana cara kerjanya. Tapi kalau melihat “wujud”-nya yang berupa rel — terletak di belakang setiap konter check-in, sepertinya dengan sistem tersebut, bagasi penumpang bisa dihantarkan secara otomatis ke suatu tempat atau mobil yang khusus untuk menampung bagasi penerbangan tertentu.
4. Boarding Lounge
Dari area check-in menuju boarding lounge kita harus melalui palang pintu otomatis terlebih dahulu. Untuk melewatinya, kita cukup menscan barcode airport tax (bukan barcode tiket pesawat) ke palang pintu tersebut. Di sini sepertinya banyak calon penumpang yang belum mengerti. Maklum, sepertinya ini memang baru pertama kali diterapkan di bandara di Indonesia. Ada beberapa petugas yang berada di dekat palang pintu yang siap membantu para calon penumpang yang kesusahan. Yah, lama-lama pasti juga akan terbiasa sendiri.
Boarding lounge ini dibedakan antara penerbangan domestik dan internasional. Yang penerbangan internasional menempati gate 1-4 (bagian kiri dari gedung) dan penerbangan domestik menempati gate 5-12 (bagian kanan dari gedung). Untuk menuju gate 1-4 (boarding lounge penerbangan internasional), penumpang harus melalui petugas imigrasi terlebih dahulu. Baru kemudian melalui security screening, sebelum akhirnya masuk ke dalam boarding lounge. Oh ya, baru sadar proses pemindaian atau screening di Kuala Namu ini, baik untuk penerbangan internasional maupun domestik, ternyata hanya dilakukan sekali. Yakni saat akan memasuki boarding lounge saja. Enak ya.
Penampilan interior boarding lounge Bandara Kuala Namu ini sungguh elegan. Kesannya lux banget. Tidak dibedakan antara ruang tunggu internasional dan domestik. Alasnya pakai karpet warna merah yang memiliki harmonisasi perpaduan serasi dengan kombinasi warna merah maroon-putih bangku-bangku di ruang tunggu situ. Begitu pula dengan dindingnya yang terdiri atas kaca bening dan juga tembok dengan desain motif berwarna sama (kombinasi merah maroon-putih).
Sayangnya di boarding lounge ini hanya sedikit sekali tersedia colokan listrik untuk penumpang. Aku hanya menemukan satu ketika menunggu di ruang tunggu gate 2. Kekurangan lainnya adalah toilet yang berada di luar boarding lounge. Untuk ke sana, kita harus keluar melalui pintu screening X-ray tadi. Begitu kembali, mau nggak mau kita harus di-screening lagi.
Dari boarding lounge untuk menuju ke dalam pesawat, cukup enak. Kita tinggal menyusuri koridor dan garbarata lalu tiba-tiba sudah berada di dalam pesawat.
———–
Well, pembangunan Bandara Kuala Namu ini masih belum berhenti. Kabarnya Bandara Kuala Namu ini akan dipersiapkan sebagai bandara hub penerbangan internasional untuk regional Kualanamu akan menjadi bandara hub penerbangan internasional untuk regional Asia Tenggara. Selama ini peran bandara hub di Asia Tenggara lebih banyak dijalankan oleh Bandara Changi di Singapura. Jika Kuala Namu berhasil menggeser peran Bandara Changi tersebut, tentunya akan menjadi kabar bahagia bagi Indonesia karena akan memberikan tambahan yang sangat besar bagi devisa negara. Semoga saja!
Solo Backpacking ke Penang (Bagian 3-Tamat): Keliling Georgetown di Hari ke-2
Minggu, 17 November
Pagi itu pukul 6 aku sudah bangun tidur. Waktu Subuh di Penang saat itu sekitar pukul 5.50. Aku langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan sholat shubuh di kamar.
Kamar ketika itu lagi sepi. Di kamar hanya ada aku dan satu orang lagi yang masih tidur. Sementara empat orang lainnya masih belum pulang sejak tengah malam karena mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon.
Setelah sholat subuh, aku mandi. Kemudian killing time dengan memanfaatkan fasilitas di penginapan seperti pijat kaki refleksi dan browsing menggunakan PC yang disediakan di sana sembari menunggu baterai HP penuh di-charged.
Niatnya pagi itu mau keluar sarapan. Tapi penjual makanan-makanan di dekat penginapan kebanyakan orang China, yang masakannya kebanyakan mengandung babi. Mau cari nasi kandar atau lemak, artinya harus berjalan jauh. Ya sudah akhirnya kuputuskan sekalian saja cari makannya sesudah check-out agak siangan.
Menjelang pukul 9 pagi aku check-out dari penginapan. Aku sudah menyusun rencana hari itu bakal kuhabiskan untuk mengeksplor objek-objek menarik di Georgetown. Aku memulai dengan berjalan kaki menyusurui Jalan Pintal Tali lalu belok ke arah Jalan Lebuh Chulia, lalu belok lagi ke Jalan Lebuh Leith. Oh ya, di Jalan Lebuh Chulia ini ternyata banyak loh tempat yang menyewakan sepeda, sepeda motor, ataupun mobil.
Dari Lebuh Leith Hingga ke Lebuh Farquhar
Place of interest di Lebuh Leith ini antara lain The Chocolate Boutique dan Cheong Fatt Tze Mansion yang terletak di paling ujung Jalan Lebuh Leith. Ada juga pujasera di sana yang kebanyakan menyajikan masakan China. Soal kehalalannya aku kurang begitu tahu karena aku sendiri tak mampir ke sana.
Di The Chocolate Boutique dan Cheoung Fatt Tze Mansion itu aku hanya numpang lewat saja. Untuk The Chocolate Boutique, aku nggak ke sana karena memang aku nggak niat untuk beli cokelat. Nggak enak kalau masuk, tapi nggak beli sesuatu. Nah, kalau Cheoung Fatt Tze Mansion ini, aku nggak ke sana karena di sana terpampang mengenai waktu tour yang hanya dilakukan pukul 11.00, 13.30, dan 15.00. Sedangkan saat itu waktu masih menunjukkan sekitar pukul 9.30. Untuk mengikuti tur itu, pengunjung dikenakan biaya RM 12. Kurang tahu sih apakah bisa masuk begitu saja tanpa mengikuti tur. Lagi sepi sih soalnya waktu aku ke sana.
Dari Jalan Lebuh Leith aku belok ke kanan ke Jalan Sultan Ahmad Shah. Btw, aku baru nyadar kalau jalan kaki lurus menyeberangi perempatan akan ketemu Penang Museum & Art Gallery. Sayang euy aku nggak sempat ke sana. Dari Jalan Sultan Ahmad Shah itu aku berjalan kaki lurus masuk ke Jalan Lebuh Farquhar.
Beberapa place of interest di sini antara lain Muzium Negeri (State Museum), Mahkamah Tinggi Georgetown, dan St George’s Church. Sayang sekali ketika aku ke sana Muzium Negeri ini sedang dalam renovasi. Di seberang Muzium Negeri itu berdiri bangunan Mahkamah Tinggi Georgetown. Bukan tempat wisata tentunya. Namun, bangunan Mahkamah Tinggi ini memiliki arsitektur yang menarik, khas Eropa zaman dulu banget. Sedangkan St George’s Church yang berada di pojok Jalan Lebuh Farquhar dan Jalan Masjid Kapitan Keling ini masuk kategori heritage landmark populer di Penang. Beberapa turis bule kulihat berkunjung ke dalam gereja yang katanya gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara ini. Karena alasan pribadi, aku cuma melihatnya dari luar saja.
Oh ya, di depan St George’s Church ini ada papan penunjuk jalan ke tempat-tempat tourist attraction terdekat. Ini dia yang aku suka dari Georgetown. Kelihatan sekali pemerintah setempat mengelola dengan serius pariwisata di kawasan Georgetown yang ‘jualan’-nya memang berupa landmark-landmark heritage yang memang sudah mendapatkan pengakuan oleh UNESCO. Selain papan penunjuk jalan itu, mereka juga menyediakan shuttle bus gratis yang tentu semakin memanjakan para turis di Georgetown ini.
Ke Esplanade
Dari St. George’s Church itu aku menyeberang jalan ke arah bangunan Mahkamah Tinggi, lalu berjalan hingga pertigaan Lebuh Light. Di pertigaan aku belok ke kanan dan tak jauh dari situ akan kelihatan sebuah padang rumput yang sangat luas, mirip Continue reading
Solo Backpacking ke Penang (Bagian 2): Keliling dengan Rapid Penang di Hari ke-1
Sabtu, 16 November
Kira-kira pukul 8.15 aku menjejakkan kaki di Penang International Airport. Cepet banget penerbangan Medan-Penang. Nggak ada satu jam kayaknya.
Setelah menyelesaikan urusan imgrasi, aku bingung mau ngapain dan ke mana selanjutnya. Aku duduk-duduk nggak jelas di bangku selasar terminal kedatangan mengamati kondisi sekitar. Pertama yang di benakku adalah mencari counter HP yang menjual kartu perdana DiGi, operator seluler favorit kalau lagi di Malaysia.
Aku butuh operator lokal untuk dapat akses internet. Kebutuhan akses internet ini lumayan vital buatku, terutama untuk membuka aplikasi Google Maps dan browsing. Sayang di bandara cuma ada counter Celcom saja. Karena aku nggak mau berspekulasi pakai kartu operator seluler yang belum kuketahui tarifnya, terutama paket internetnya, jadi aku nggak beli itu kartu Celcom.
Setelah itu, aku mencari lokasi halte bus Rapid Penang di bandara ini. Lokasinya ternyata sangat dekat. Persis di seberang terminal kedatangan. Kebetulan pas banget ketika aku ke sana, ada bus 401E yang datang. Eitts, jangan sampai salah bus ya. Walaupun sama-sama bus 401E, pastikan dulu tujuan bus tersebut apakah ke Balik Pulau atau Jetty. Gampang saja sih, kalau di busnya tertulis (digital) Balik Pulau-Jetty, berarti bus itu mau ke Jetty. Begitu pula sebaliknya kalau tulisannya Jetty-Balik Pulau, berarti tujuannya ke Balik Pulau. Sebab, baik yang tujuan Balik Pulau maupun Jetty, keduanya sama-sama singgah di halte yang sama di bandara ini.
Tips: Pelajari rute bus-bus Rapid Penang di sini atau di sini
Ke Queensbay Mall
Tujuan pertamaku adalah ke Queensbay Mall. Untuk ke sana aku naik bus 401E jurusan Jetty. Ongkos bus bandara-Queensbay Mall ini RM 2. Ongkos bus Rapid Penang ini bervariasi, tergantung jarak tujuan. Jadi begitu naik, kita sebutkan tujuan kita ke mana, nanti sang sopir akan menyebutkan berapa ongkosnya. Setelah itu uang kita masukkan ke dalam box yang ada di samping sopir, dan si sopir akan memberikan karcis sesuai dengan ongkos yang disebutkan. Dari yang kuamati, sepertinya kalau kita sudah tahu ongkosnya, bisa saja sih sebenarnya langsung bayar ke sopirnya tanpa ngasih tahu tujuan kita dulu. Di sini modal kejujuran benar-benar diperlukan. Oh ya, usahakan selalu menggunakan uang pas ketika membayar. Sebab, jarang sekali sopir menyediakan kembalian, soalnya uang yang dibayarkan langsung dimasukkan ke dalam box.
Ada apa di Queensbay Mall? Tujuanku ke sana adalah untuk mengambil race pack PBIM (Penang Bridge International Marathon). Walaupun batal lari, seenggaknya race pack harus tetap diambillah, haha.
Sepertinya Queensbay Mall ini adalah mall terbesar di Pulau Penang ini. Halaman parkirnya luasnya nggak kalah dengan halaman parkir stadion, haha. Di halaman parkir itu sudah berjejer-jejer stand-stand sponsor acara PBIM, termasuk sekretariat untuk pengambilan race pack. Di seberang Queensbay Mall ini pun juga telah dipasang gate start dan finish perlombaan.
Oh ya, dari depan Queensbay Mall ini kita bisa melihat pemandangan Penang Bridge di kejauhan. Kalau mau melihat lebih dekat lagi, kita bisa menyeberang jalan di depan Queensbay Mall dan berjalan kaki ke arah utara. Sekitar beberapa ratus meter akan ada semacam taman untuk pikinik gitu. Nah, view Penang Bridge akan terlihat lebih jelas dari sana. Sayang waktu itu aku tak sempat ke sana karena aku sendiri baru tahu belakangan ketika naik bus 401E balik ke bandara.
Ke Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR)
Dari Queensbay Mall aku berencana untuk langsung menuju ke Kompleks Tun Abdul Razak atau yang dikenal dengan singkatan KOMTAR saja. Di sanalah terletak terminal sentral kota Georgetown ini. Penginapanku juga hanya berjarak sekitar 500 m dari sana.
Lama juga ternyata menunggu bus 401E yang ke sana. Oh ya, sebelum naik, lagi-lagi perlu diperhatikan ke mana tujuan bus 401E yang transit di halte Queensbay Mall ini. Ada yang ke Balik Pulau, dan ada yang ke Jetty. Kalau hendak ke KOMTAR, berarti kita ambil jurusan Jetty.
Nah, saat menunggu bus 401E ini, aku melihat ada bus dengan nomor yang lain yang ternyata juga lewat KOMTAR. Cuma aku lupa nomornya. Wih… jalurnya panjang banget. Kayaknya dia memang nggak straight langsung ke KOMTAR, tapi muter-muter dulu. Nggak heran jika ongkosnya sampai RM 2,70.
Oh ya, saat naik bus Rapid Penang ini jangan harap kita bakal mendengar sang sopir bus berteriak-teriak menyebutkan nama halte atau daerah tempat bus akan berhenti seperti yang jamak kita temui di Indonesia. Kita harus proaktif tanya sama penumpang lain jika memang tak tahu di mana halte tempat kita berhenti. Aku sempat kebablasan ketika naik bus itu karena dengan pedenya, yang dimaksud lewat KOMTAR itu adalah bus masuk ke sebuah terminal bus seperti foto-foto yang kulihat di internet.
Well, ternyata tak semua bus yang menyebutkan KOMTAR sebagai rute yang dilaluinya berarti akan masuk ke dalam terminal. Sebab KOMTAR itu sesungguhnya adalah kompleks area bisnis, mulai dari pertokoan, restoran, perkantoran, dengan terminal bus di dalamnya juga. Dan dari sisi luar KOMTAR, terminal bus itu tak kelihatan. Karena itulah, sekali lagi, tak ada salahnya untuk bertanya atau meminta penumpang di sebelah Anda, atau sopir bus, untuk memberi tahu Anda ketika sudah tiba di tujuan. Aku sendiri kemudian diminta sang sopir untuk menambah RM 1.70 karena kebablasan ini, dan dipersilakan untuk tetap di dalam bus yang akan mengambil rute balik melalui terminal KOMTAR.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 ketika aku sampai di terminal KOMTAR. Perut sudah keroncongan. Aku ingat bahwa aku belum makan dari siang hari sebelumnya. Akhirnya aku mampir ke KFC di kompleks pertokoan di lantai atas terminal KOMTAR ini. Setelah makan, aku mampir membeli kartu perdana DiGi di salah satu counter DiGi yang juga masih di area pertokoan yang sama itu. Asyik akhirnya bisa akses internet.
Akses Internet Gratis
Oh ya, bicara mengenai akses internet, sebenarnya di Penang ini ada akses internet gratis via hotspot bernama “Penang Free Wifi“. Well, memang tidak semua tempat mendapatkan coverage wifi gratis ini. Tapi di beberapa tempat seperti KOMTAR, Esplanade, Fort Cornwellis, sinyal wifi ini cukup bagus. Namun, untuk dapat menggunakan akses internet tersebut kita diwajibkan untuk registrasi terlebih dahulu melalui web Penang Free Wifi (nanti akan di-redirect ke web begitu terhubung ke ke hotspot tersebut). Tenang saja, registrasi tersebut tak dipungut biaya kok.
Check-in Penginapan
Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, dalam selama di Penang ini aku stay di hostel Kimberley House. Sebenarnya di aturannya tertulis check-in baru bisa dilakukan pukul 14.00 waktu setempat (1 jam lebih awal daripada WIB). Sedangkan saat itu jam masih menunjukkan pukul 12.30.
Tapi aku nekat saja, toh seandanyai masih belum check-in aku bisa Continue reading
Solo Backpacking ke Penang (Bagian 1): Pesan Tiket Pesawat & Penginapan
Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, plan awal perjalanan ke Penang ini sebenarnya adalah untuk mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon. Namun, karena pinggang yang masih mengalami cedera, rencana tersebut batal dan agenda selama di Penang pun berganti, yakni hanya jalan-jalan saja selama di sana, hehe. 😀
Nah, catatan dari perjalanan kemarin rencananya akan aku bagi ke dalam 3 artikel. Artikel pertama, atau artikel yang sedang Anda baca ini, akan kutuliskan sedikit cerita mengenai hunting tiket, booking penginapan, dan bagaimana perjalanan dari Bandung hingga tiba di Penang International Airport. Artikel kedua akan menceritakan mengenai ‘petualangan’ hari pertama di Penang, dan artikel ketiga sudah barang tentu akan menceritakan mengenai petualangan di hari kedua atau terakhir di Penang.
Ambil Penerbangan Rute Bandung-Medan-Penang PP
Agak bingung sebenarnya aku dalam merencanakan keberangkatan dan kepulangan Bandung-Penang PP ini. Pasalnya, tak ada penerbangan langsung Bandung-Penang. Sedangkan penerbangan langsung dari Jakarta (yang terjangkau) cuma ada AirAsia pukul 17.45. Itupun sebenarnya masih termasuk mahal ongkosnya, yakni sudah kisaran 1 juta rupah saat aku cek. Selain itu, kalau aku mengambil penerbangan jam segitu, artinya aku sudah harus cabut 6 jam sebelumnya dari Bandung. Sebuah pilihan yang sulit, karena dengan begitu artinya aku harus ambil cuti atau kerja cuma setengah hari saja.
Beruntunglah ada situs seperti Traveloka (bukan promosi, hehe). Dengan mesin pencarinya aku bisa mendapatkan daftar kombinasi penerbangan yang dari sisi schedule dan harga oke buatku. Dari daftar tersebut aku memperoleh informasi bahwa rute penerbangan AirAsia Bandung-Medan-Penang adalah yang paling oke dari sisi schedule dan harganya pun paling murah di antara opsi yang lain. Bahkan opsi tersebut jauh lebih murah daripada penerbangan langsung AirAsia dari Jakarta tadi. Selisih sampai hampir 400 ribu rupiah. Apalagi rute AirAsia Bandung-Medan dan Medan-Penang itu lagi promo saat itu. Medan-Penang bahkan cuma Rp105.000!
Selain karena harga, sebenarnya faktor yang paling meyakinkanku untuk memilih opsi itu (transit di Medan) adalah karena jadwalnya yang bersahabat, tak perlu membuatku untuk izin kerja. Oh ya, ada satu faktor lagi, yakni rasa penasaran untuk melihat kayak bagaimana sih Bandara Kuala Namu yang dibanggakan itu, haha.
Namun, sialnya sekitar 2-3 minggu sebelum hari H keberangkatan, AirAsia menginformasikan bahwa mereka membatalkan penerbangan Bandung-Medan pukul 19.45. Sebagai gantinya, penerbanganku diganti oleh mereka menjadi pukul 8.00. What??!
Sempat terpikir olehku apa aku sekalian mengambil cuti saja ya agar bisa sekalian jalan-jalan di Medan, sambil menunggu penerbangan ke Penang. Sempat bimbang juga sih. Tapi nggak enak ah kalau ambil cuti di minggu hectic gini. Akhirnya, seminggu sebelum hari H aku baru mengkonfirmasi pembatalan kepada AirAsia. Aku mengisi form refund tiket secara online di website AirAsia. Btw, ini kali pertama aku melakukan pembatalan tiket pesawat. Kalau tiket kereta api mah sudah sering, hehe.
Penerbangan Bandung-Medan pun batal. Sebagai gantinya aku memilih penerbangan dengan Lion Air dari Jakarta pukul 21.35. Kupilih karena itu adalah opsi penerbangan paling malam menuju Medan dari Soekarno-Hatta, dan juga harganya nggak jauh beda dengan tiket AirAsia yang kubatalkan itu.
Booking Penginapan
Karena perjalanan ini bakal menjadi pengalaman pertamaku melakukan backpacking sendirian, aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya sejelas mungkin, termasuk penginapan. Online booking adalah cara yang paling mudah. Layanan online booking yang kupilih adalah Agoda, mengingat reputasinya yang sudah cukup populer.
Aku cari-cari penginapan dengan kriteria lokasi yang berada di Georgetown (ibukota Penang), dan sebisa mungkin jaraknya dekat dengan Terminal Bus KOMTAR, terminal pusat bus interchange di Penang, agar akses ke mana-mana mudah. Selain itu, sebisa mungkin tarif kamar per malamnya di bawah IDR 100 ribu.
Ada beberapa hostel yang sesuai dengan kriteriaku. Setelah membaca beberapa testimonial user lain baik di Agoda dan juga TripAdvisor, akhirnya pilihanku jatuh pada Kimberley House. Tipe kamar yang kupilih adalah kamar dengan model dormitory, yang satu kamarnya berisi 3 kasur tingkat. Tarif per malamnya adalah Rp 84.370, sudah termasuk pajak hotel 6% dan service charge 10%.
Untuk pembayarannya, karena aku tidak punya kartu kredit, aku mencoba googling cari jasa agen tour & travel yang bisa bantu booking hotel via Agoda. Sebenarnya bisa saja sih aku numpang kartu kredit milik teman. Tapi nggak enak karena sudah terlalu sering, hehe. Ujungnya aku pun menemukan link agen tour & travel yang melayani jasa booking hotel Agoda.
Sempat ragu-ragu sih jangan-jangan itu agen abal-abal. Setelah komunikasi via email, menurutku jawaban mereka sangat meyakinkan, akhirnya aku pesan melalui agen ini. Dan Alhamdulillah di hari H, semua lancar tanpa masalah. Aku bisa langsung check-in di Kimberley House dengan hanya menunjukkan voucher hotel dari Agoda yang dikirim oleh agen ini beserta pasporku.
Jumat, 15 November
Aku sudah pasrah hari itu jika aku sampai ketinggalan pesawat. Penyebabnya aku ketinggalan travel Xtrans yang akan mengantarkanku ke Cengkareng, yang berangkat dari Bandung pukul 15.30. Asumsi perjalanan Bandung-Jakarta adalah 5 jam (sudah termasuk macet-macetnya), maka itu adalah jadwal terakhir yang paling aman untuk sampai di bandara tepat pada waktunya.
Namun, untungnya aku masih bisa mengejar travel Cititrans yang seharusnya berangkat pukul 15.45, tapi hingga pukul 16.00 masih belum berangkat karena tak ada penumpang saat itu. Karena itu, jadilah aku penumpang satu-satunya yang berangkat dengan Cititrans sore itu. Btw, ini jadi pengalaman pertamaku naik travel sendirian (bersama sopir tentunya).
Alhamdulillah walaupun macet hampir di sepanjang jalan (cuma waktu di tol cipularang yang bisa ngebut buanget), travel bisa sampai di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu sekitar 4,5 jam. Masih ada waktu 45 menit sebelum batas masuk boarding gate.
Malam itu, pesawat Lion Air yang akan kutumpangi mengalami delay sampai 30 menit. Nggak terlalu masalah sih buatku, sebab pesawat ke Penang baru berangkat pukul 06.30 keesokan harinya! Pesawatku sendiri malam itu mendarat di Bandara Kuala Namu menjelang pukul 1 malam.
Aku benar-benar dibuat terkesan dengan bandara Kuala Namu ini. Yang paling mencolok adalah hall kedatangannya yang super luas, ada eskalator dan lift ke hall keberangkatan, dan di depan pintu keluar hall kedatangan langsung menghadap ke stasiun kereta api bandara. Mungkin detail ceritanya akan kutuliskan di artikel tersendiri. 🙂
Malam itu aku terpaksa menunggu keberangkatan sambil tiduran di bangku di selasar terminal keberangkatan. Kurang cocok nih Kuala Namu untuk para backpacker yang mau numpang nginap di bandara. Bandara Juanda menurutku lebih bagus soal ini karena punya hall khusus untuk tempat tiduran para calon penumpang yang menginap. Tiduran di bangku itu nggak nyaman saudara-saudara. Apalagi selasar terminal keberangkatan ini menghadap ke ruang terbuka, jadi anginnya lumayan kencang. Dingin lagi. Jadi nggak nyenyak tidur malam itu. Tapi lumayan bisa memejamkan mata selama hampir 1,5 jam.
Gowes Hari Ini: Nyasar ke Moko Daweung
Awalnya cuma spontan saja sih. Pagi ada perlu sebentar di daerah Pasir Impun. Terus kepikiran kenapa nggak sekalian saja nggowes lewat bukit-bukit di sana mencari jalan tembusan ke Dago via Maribaya. Akhirnya dipilihlah rute Dago-Tubagus Ismail-Cikutra-Cicaheum-Ujung Berung-Pasir Impun-Maribaya. Perjalanan berangkat ini — kalau dilihat di Google Maps — jauhnya sekitar 15 km lebih.
Tahu sendirilah perjalanan dari Dago sampai Ujung Berung ini masih enak, soalnya jalannya memang jalan kota yang ramai dilalui kendaraan dan tracknya juga menurun. Setelah belok ke Pasir Impun, jalannya mulai menanjak. Semakin ke dalam, jalannya semakin menanjak terus. Jarang sekali jalan mendatar. Tekstur jalannya awalnya beraspal, tapi lama kelamaan jalan yang dilalui mulai berbatu-batu.
Setelah melalui SDN Cikawari (di Google Maps tertulis SDN Cikawao 03 itu salah), jalan yang dilalui mulai campuran antara jalan berbatu dan tanah. Mulai terlihat pemandangan bukit-bukit di sekitar. Bahkan, setelah menempuh beberapa ratus meter, pemandangan bukit dengan hutan hijau yang rapat tersaji dan sejenak aku bergumam dalam hati, “Wow, beneran nih aku harus menembus hutan ini?”
Kalau berdasarkan peta dari Google Maps itu, warna hijau-hijau itu ternyata memang menunjukkan kawasan hutan. Tapi sepertinya aku tak bisa memercayai sepenuhnya peta yang ditampilkan Google Maps. Seperti yang kubuatkan garisnya di gambar, walaupun sudah berusaha mengikuti jalan setapak yang ada, somehow aku keluar dari hutan dan bertemu pertigaan dengan ‘prasasti’ bertuliskan “Waroeng Daweung”.
Di pertigaan itu aku istirahat sebentar di toko salah satu warga sekalian membeli air minum di sana. Wow, secara kebetulan aku ‘nyasar’ sampai Waroeng Daweung. Padahal rencana awal mau menembus hutan-hutan itu untuk menyeberangi bukit menuju Maribaya. Sayang sekali GPS hpku tidak bekerja dengan baik ketika berada di dalam hutan. Aku kehilangan informasi di mana posisiku berada.
Nah jalan menuju Warung Daweung ini ternyata tak ada di dalam Google Maps (lihat garis merah yang kutandai di peta menuju Warung Daweung). Jalan di Warung Daweung ini sebenarnya buntu, sudah tak ada jalan lagi, kecuali pematang di antara ladang-ladang penduduk. Akhirnya aku memutuskan untuk melalui pematang yang ternyata jalannya mengarah menuju ke dalam hutan.
Di hutan ini aku benar-benar mengandalkan insting saja. Sudah nggak tahu lagi mana arah yang benar. Di hutan ini cukup banyak percabangan jalan. Sempat ketemu beberapa rombongan motor trail yang lagi off road di sana.
Setelah berjalan menyusuri dalam hutan, akhirnya bisa keluar juga dan mendapati ladang-ladang penduduk. Nama desanya Pamuncangan. Aku baru sadar aku telah salah mengambil jalan keluar di hutan. Pamuncangan ini kalau di peta sebenarnya sejajar dengan jalan menuju Moko Daweung. Artinya, aku masuk ke dalam hutan tadi hanya mengambil jalan memutar saja (lihat peta). Harusnya aku berjalan lurus menembus Maribaya.
Mau nggak mau perjalanan harus tetap dilanjutkan. Harus cari jalan lagi ke arah Maribaya, walaupun memutar. Sialnya, baterai hp sudah habis, aku tak bisa melihat peta lagi. Terpaksa benar-benar mengandalkan insting saja. Singkat cerita, setelah jauh-jauh mengayuh sepeda menaiki dan menuruni bukit, ternyata keluarnya di daerah Bojong Koneng. Glek! -_-
Ujung-ujungnya aku kembali lagi ke Cikutra. Tapi aku tetap bersyukur akhirnya menemukan jalan pulang, haha. Aku sempat kurang lebih 1-2 jam mengayuh sepeda dan don’t have a clue where I am actually.
Btw, aku sempat terjungkal dari sepeda ketika keluar dari hutan melalui jalan setapak berupa turunan yang sangat curam menuju Pamuncangan. Tekstur jalan setapak yang berupa tanah berpasir, membuat rem tidak bekerja dengan baik, dan sepeda meluncur dengan kencang. Sialnya tanahnya tidak rata sehingga membuatku susah mengontrol sepeda. Tahu-tahu aku sudah terjungkal saja dari sepeda.
Lutut berdarah tapi alhamdulillah hanya luka biasa. Tapi yang sakitnya masih terasa sampai sekarang adalah di daerah pinggang sisi sebelah kanan belakang. Sepertinya memar terkena benturan dengan batu sewaktu terjatuh. Mudah-mudahan segera hilang rasa sakit ini sehingga aku bisa ikut dua event lari dalam dua pekan yang akan mendatang. 😦














