Solo Backpacking ke Penang (Bagian 3-Tamat): Keliling Georgetown di Hari ke-2

Minggu, 17 November

Pagi itu pukul 6 aku sudah bangun tidur. Waktu Subuh di Penang saat itu sekitar pukul 5.50. Aku langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan sholat shubuh di kamar.

Kamar ketika itu lagi sepi. Di kamar hanya ada aku dan satu orang lagi yang masih tidur. Sementara empat orang lainnya masih belum pulang sejak tengah malam karena mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon.

Setelah sholat subuh, aku mandi. Kemudian killing time dengan memanfaatkan fasilitas di penginapan seperti pijat kaki refleksi dan browsing menggunakan PC yang disediakan di sana sembari menunggu baterai HP penuh di-charged.

Niatnya pagi itu mau keluar sarapan. Tapi penjual makanan-makanan di dekat penginapan kebanyakan orang China, yang masakannya kebanyakan mengandung babi. Mau cari nasi kandar atau lemak, artinya harus berjalan jauh. Ya sudah akhirnya kuputuskan sekalian saja cari makannya sesudah check-out agak siangan.

Menjelang pukul 9 pagi aku check-out dari penginapan. Aku sudah menyusun rencana hari itu bakal kuhabiskan untuk mengeksplor objek-objek menarik di Georgetown. Aku memulai dengan berjalan kaki menyusurui Jalan Pintal Tali lalu belok ke arah Jalan Lebuh Chulia, lalu belok lagi ke Jalan Lebuh Leith. Oh ya, di Jalan Lebuh Chulia ini ternyata banyak loh tempat yang menyewakan sepeda, sepeda motor, ataupun mobil.

Rute jalan kaki ane menyusuri Georgetown

Rute jalan kakiku menyusuri Georgetown

Dari Lebuh Leith Hingga ke Lebuh Farquhar

Place of interest di Lebuh Leith ini antara lain The Chocolate Boutique dan Cheong Fatt Tze Mansion yang terletak di paling ujung Jalan Lebuh Leith. Ada juga pujasera di sana yang kebanyakan menyajikan masakan China. Soal kehalalannya aku kurang begitu tahu karena aku sendiri tak mampir ke sana.

Di The Chocolate Boutique dan Cheoung Fatt Tze Mansion itu aku hanya numpang lewat saja. Untuk The Chocolate Boutique, aku nggak ke sana karena memang aku nggak niat untuk beli cokelat. Nggak enak kalau masuk, tapi nggak beli sesuatu. Nah, kalau Cheoung Fatt Tze Mansion ini, aku nggak ke sana karena di sana terpampang mengenai waktu tour yang hanya dilakukan pukul 11.00, 13.30, dan 15.00. Sedangkan saat itu waktu masih menunjukkan sekitar pukul 9.30. Untuk mengikuti tur itu, pengunjung dikenakan biaya RM 12. Kurang tahu sih apakah bisa masuk begitu saja tanpa mengikuti tur. Lagi sepi sih soalnya waktu aku ke sana.

Dari Jalan Lebuh Leith aku belok ke kanan ke Jalan Sultan Ahmad Shah. Btw, aku baru nyadar kalau jalan kaki lurus menyeberangi perempatan akan ketemu Penang Museum & Art Gallery. Sayang euy aku nggak sempat ke sana. Dari Jalan Sultan Ahmad Shah itu aku berjalan kaki lurus masuk ke Jalan Lebuh Farquhar.

Beberapa place of interest di sini antara lain Muzium Negeri (State Museum), Mahkamah Tinggi Georgetown, dan St George’s Church. Sayang sekali ketika aku ke sana Muzium Negeri ini sedang dalam renovasi. Di seberang Muzium Negeri itu berdiri bangunan Mahkamah Tinggi Georgetown. Bukan tempat wisata tentunya. Namun, bangunan Mahkamah Tinggi ini memiliki arsitektur yang menarik, khas Eropa zaman dulu banget. Sedangkan St George’s Church yang berada di pojok Jalan Lebuh Farquhar dan Jalan Masjid Kapitan Keling ini masuk kategori heritage landmark populer di Penang. Beberapa turis bule kulihat berkunjung ke dalam gereja yang katanya gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara ini. Karena alasan pribadi, aku cuma melihatnya dari luar saja.

Oh ya, di depan St George’s Church ini ada papan penunjuk jalan ke tempat-tempat tourist attraction terdekat. Ini dia yang aku suka dari Georgetown. Kelihatan sekali pemerintah setempat mengelola dengan serius pariwisata di kawasan Georgetown yang ‘jualan’-nya memang berupa landmark-landmark heritage yang memang sudah mendapatkan pengakuan oleh UNESCO. Selain papan penunjuk jalan itu, mereka juga menyediakan shuttle bus gratis yang tentu semakin memanjakan para turis di Georgetown ini.

Ke Esplanade

Dari St. George’s Church itu aku menyeberang jalan ke arah bangunan Mahkamah Tinggi, lalu berjalan hingga pertigaan Lebuh Light. Di pertigaan aku belok ke kanan dan tak jauh dari situ akan kelihatan sebuah padang rumput yang sangat luas, mirip lapangan sepakbola. Yak, itulah yang namanya Esplanade, atau sebutannya dalam bahasa setempat adalah Padang Kota Lama. Kalau di Pulau Jawa, istilahnya sama dengan “alun-alun”. Oh ya, salah satu pohon yang ditanam di Esplanade ini ternyata ada yang ditanam oleh walikota Medan tahun 1989. Belakangan aku baru tahu setelah googling ternyata Kota Medan dan Georgetown ini ada kerja sama sister city.

Di sisi barat Esplanade ini ada sebuah bangunan yang terpampang tulisan “Town Hall”. Sementara di sisi timurnya ada objek wisata yang lain, yakni Fort Cornwallis. Sisi utara dari Esplanade ini berbatasan dengan laut. Sepanjang garis pantai di utara Esplanade ini dibeton dan dibangun bangku-bangku untuk tempat bersantai warga atau turis yang ingin menikmati pemandangan laut di utara Pulau Penang ini.

Pemandangan hotel-hotel bertingkat di sisi barat — sepertinya di daerah Tanjung Bungah — terlihat jelas dari sini. Begitu pula pemandangan daratan Malaysia di seberang pulau Penang ini. Aktivitas pelabuhan Jetty juga tampak sangat jelas dari sini. Ketika aku tengah duduk-duduk di sana, aku bahkan sempat melihat kapal pesiar Star Cruises yang datang dari tengah lautan dan kemudian merapat ke pelabuhan.

Di salah satu titik di sisi utara Esplanade ini, tepatnya di sebelah sudut barat lautnya, terdapat tugu memorial yang katanya dibangun oleh British untuk mengenang korbang-korbang perang dunia. Pas banget ketika aku tengah main ke Esplanade ini ada rombongan tentara-tentara Inggris — dari seragamnya terlihat seperti angkatan laut — yang tengah berkunjung ke tugu tersebut. Mereka melakukan upacara kecil-kecilan di tugu tersebut. Kurang tahu sih maksud dan tujuan kedatangan mereka ke sana.

Btw, tugu tersebut awalnya memang dibangun oleh British untuk korban-korban perang dunia. Namun di plakat yang dipasang di depan tugu juga disebutkan perang-perang sesudahnya, termasuk korban konfrontasi Malaysia-Indonesia pada tahun 60-an.

Ke Fort Cornwallis

Tak jauh dari Esplanade, atau tepat di sisi bagian timur, terdapat satu kompleks persegi yang menyerupai benteng. Itulah Fort Cornwallis. Dari luar bangunan ini gampang sekali ditebak sebagai sebuah benteng, dengan dinding yang mengeliling kompleks dan sejumlah meriam yang dicondongkan ke arah luar dari atas dindingnya. Tipikal benteng banget lah, di depannya juga diberi parit dan pintu masuknya dapat diturunkan untuk dijadikan jembatan. Tapi itu dulu sih. Sekarang paritnya sudah nggak ada. Jembatannya juga sudah permanen. Tapi bekas-bekasnya masih kelihatan.

Tiket masuknya RM 2. Ada apa saja di dalam? Begitu masuk kita akan disuguhkan patung kapten Sir Francis Light, sang pendiri Fort Cornwallis. Di samping patung tersebut ada sebuah plakat yang menjelaskan sejarah Fort Cornwallis. Di belakang patung dan plakat itu ada sebuah lapangan rumput hijau yang luas yang juga berada tepat di tengah-tengah area benteng. Di sayap kanan benteng ada gereja kecil (chapel) dan beberapa ruangan yang penampilannya tampak seperti penjara atau bunker. Sedangkan di sayap kiri terdapat amphi theater, ruang mesiu, dan meriam terbesarnya yang bernama meriam Seri Rambai.

Keluar dari Fort Cornwallis, tidak jauh dari situ ada menara jam yang berada persis di tengah-tengah perempatan jalan. Namanya adalah The Queen Victoria Memorial Clock Tower. Ini adalah salah satu ikon terkenal di Pulau Penang.

Ke Jeti Swettenham

Dari menara jam Victoria aku berjalan kaki sekitar 150 meter ke timur. Di sana aku hanya mampir untuk memotret pelabuhan Jeti Swettenham. Sayang euy nggak bisa masuk. Ada tulisan larangannya dan juga ada penjaganya.

Ketika itu kapal pesiar Star Cruise baru saja merapat ke pelabuhan. Sepertinya kapal Star Cruise ini memang berasal dari Penang dan sebelumnya entah habis berpesiar ke mana. Soalnya banyak orang-orang yang keluar dari pelabuhan dengan menenteng-nenteng tas dengan logo Star Cruise, dan beberapa dari mereka sudah ada yang menjemput dari depan pelabuhan.

Pelabuhan Jeti Swettenham

Pelabuhan Jeti Swettenham

Car Free Day di Lebuh Pantai

Sebentar saja aku melihat Jeti Swettenham. Aku lalu berjalan kaki lagi balik menuju menara jam Victoria. Dari situ aku belok ke kiri ke Jalan Lebuh Pantai.

Wow, ternyata di Lebuh Pantai ini banyak deretan bangunan dengan arsitektur bergaya kolonial. Area Jalan Lebuh Pantai ini ternyata merupakan distrik finance. Bangunan-bangunan di sana kebanyakan digunakan oleh bank-bank atau perusahaan finance lainnya.

Pada hari Minggu kawasan Lebuh Pantai ini bebas dari kendaraan, alias car free dayBanyak sekali acara komunitas-komunitas di sana. Ada yang main basket, musik, dan bazar. Ada rental sepeda juga di sana. Sepeda tandem jadi favorit orang-orang yang menyewa siang hari itu.

Karena perut sudah nggak bisa berkompromi lagi — belum makan dari pagi, aku pun memutuskan untuk mencari tempat makan di sekitar sana. Aku belok ke Jalan Lebuh Gereja. Di sana ada restoran Old Town White Coffee. Alhamdulillah, restoran ini sudah tersertifikasi halal. Ada logo halalnya di papan nama restorannya. Akhirnya aku pun makan di sana.

Ke Pinang Peranakan Mansion

Habis makan di Old Town White Coffee sebenarnya aku berencana langsung ke Masjid Kapitan Keling. Sebab saat itu sudah pukul 1 siang yang artinya sebentar lagi akan masuk sholat Dhuhur. Jaraknya masih lumayan jauh, sekitar 600 meter.

Aku berjalan kaki ke arah barat menyusuri Jalan Lebuh Gereja ini. Tak tahunya, 100 meter dari Old Town White Coffee ada tourist attraction yang lain yang juga sangat populer di Penang. Yakni, Pinang Peranakan Mansion. Di pagarnya ada spanduk yang bertuliskan “Ranked #1 of 32 Attractions in George Town” dengan logo TripAdvisor di bagian atas.

Ranked #1of 32 Attractions in George Town

Ranked #1 of 32 Attractions in George Town by TripAdvisor

Aku memang sempat membaca sih review-review di internet yang banyak menyebutkan tempat ini. Tapi aku nggak tahu kalau tempat ini ternyata menduduki peringkat 1 dari 32 tourist attraction (ini serius ada 32 tourist attraction di Georgetown? Perasaan 20 aja nggak sampai deh yang kutahu) di situs TripAdvisor. Aku juga sebenarnya sejak awal nggak berniat masuk karena tahu dari artikel di internet kalau tiket masuknya mahal, yakni RM 20.

Tapi gara-gara lihat spanduk itu aku jadi penasaran ingin tahu seperti apa dalamnya. Seenggkanya lihat halaman rumahnya sajalah. Sial, begitu aku menjejakkan kaki halamannya dua orang penjaganya langsung menuju ke diriku, menyambutku, lalu mengajakku masuk ke dalam. Dalam sekejap saja aku sudah berada di depan petugas karcis masuknya.

Aku mau bilang, “Maaf mas nggak jadi, tadi saya cuma mau lihat-lihat luarnya aja,” kok nggak kuasa. Sebab, aku sudah ditodong pertanyaan, “How many persons?” Dan akhirnya aku pun membeli karcis masuk itu dengan perasaan agak terpaksa, hiks hiks.

Oh ya, di Peranakan Mansion ini ada tour guide yang akan menjelaskan mengenai sejarah dan seluk beluk semua yang ada di Pinang Peranakan Mansion ini. Tour guide itu tersedia untuk bahasa Mandarin dan Inggris. Ketika aku mau pulang, sempat ada rombongan ibu-ibu Indonesia yang baru datang. Tour guide yang mendampingi mereka hebatnya bisa berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia lho, bukan bahasa Melayu. Mungkin beliau adalah seorang TKI yang bekerja di sini.

Aku sendiri berkeliling di dalam rumah itu tanpa tour guide. Habisnya nggak enak kalau aku ekslusif dapat tour guide sendirian, hehe. Ada juga satu keluarga bule Jerman yang tanpa tour guide. Pilihan sih sebenarnya. Tapi di tiap lantainya ada satu-dua orang penjaga yang juga bisa ditanyai sih kalau butuh informasi mengenai sejarah atau semacamnya tentang Peranakan Mansion ini. Ketika aku ke sana sedang ramai rombongan bule.

Well, setelah berkeliling di dalam, ternyata nggak membosankan seperti yang kubayangkan sebelumnya. Berkeliling di dalam Pinang Peranakan Mansion ini seolah membawaku menyelami kehidupan gaya orang-orang China tempo dahulu, persis seperti yang kulihat di film-film China. Tapi tetap saja harga RM 20 itu kalau dipikir-pikir memang kemahalan, hiks hiks.

Ke Masjid Kapitan Keling Via Little India

Dari Pinang Peranakan Mansion aku lanjut berjalan kaki lagi menyusurui Jalan Lebuh Gereja ke arah barat. Tujuanku adalah ke Masjid Kapitan Keling. Di perempatan kedua aku belok ke kiri ke Jalan Lebuh King. Aku sengaja memilih lewat jalan ini karena ingin melihat kawasan Little India-nya Pulau Penang ini.

Nggak salah memang disebut Little India. Sepanjang jalan Lebuh King ini suasana India begitu kental terasa. Lagu-lagu India diputar di beberapa toko yang ada di sana. Toko-toko itu umumnya menjual pakaian sari India dan kalung bunga khas India yang warna kuning itu. Selain itu juga ada satu atau dua kuil Hindu yang kulihat di sana. Orang-orangnya yang lalu lalang pun mayoritas juga orang India. Di sana juga ada beberapa rumah makan masakan khas India seperti roti cane, dsb.

Little India

Little India

Di Little India ini aku cuma numpang lewat saja. Aku meneruskan jalan kaki ke arah selatan hingga Jalan Chulia. Dari situ aku belok kanan dan berjalan kaki hingga ke perempatan Jalan Masjid Kapitan Keling. Masjid Kapitan Keling ada sekitar 50 meter ke arah selatan dari perempat tersebut.

Aku menunaikan sholat Dhuhur di Masjid Kapitan Keling ini. Ketika aku ke sana ada serombongan orang-orang bule yang sedang “tur religi” ke dalam masjid ini. Ya, Masjid Kapitan Keling ini ternyata punya program guided tour untuk turis. Beberapa bule yang memakai pakaian pendek diminta untuk mengenakan kain panjang yang telah disediakan untuk menutupi aurat mereka. Bule-bule itu tampak serius mendengarkan penjelasan dari sang tour guide. Sang tour guide sendiri — dari yang kuamati — tak hanya mengajak keliling bagian masjid, tapi juga menjelaskan beberapa ajaran Islam seperti konsep Tauhid, Malaikat, dan Rasul. Bagus juga ya programnya.

Masjid Kapitan Keling ini cukup unik. Arsitekturnya mengingatkanku akan penampakan Masjid Baiturrahman di Banda Aceh itu. Tempat wudlunya juga bukan berupa kran-kran air, melainkan bak air besar dengan gayung-gayung yang disediakan untuk mengambil air.

Naik kapal ferry Georgetown-Butterworth PP

Setelah sholat Dhuhur, aku leyeh-leyeh sebentar di masjid sambil ngadem. Sampai di sini sebenarnya beberapa place of interest sudah berhasil kueksplor. Aku bingung mau ke mana lagi. Kemudian terlintas sesuatu di pikiranku, “Hmm… kayaknya perlu nyobain nih nyeberang pulau lewat Penang Bridge.”

Kemudian aku googling-googling bagaimana cara menyeberang lewat Penang Bridge ini. Terus aku nemu blog tulisan bule di sini. Katanya ada bus umum yang menyeberang dari Bukit Jambul ke Butterworth.

Setelah itu aku pun pergi ke KOMTAR untuk naik bus 401E ke Bukit Jambul. Jambul, eh, jauh juga ya ternyata. 40 Menit kayaknya perjalanan ke sana. Di sana aku menunggu di halte bus Bukit Jambul. 30 Menit menunggu, kok nggak ada tanda-tanda bus yang mau ke Butterworth. Semuanya bus Rapid Penang dengan tujuan lokal Pulau Penang ini.

Akhirnya aku nyerah. Aku nggak mau berspekulasi. Kalau frekuensi busnya lama begini, baliknya bisa kemalaman ntar. Bisa-bisa ketinggalan pesawat aku. Aku pun memutuskan untuk balik ke Georgetown.

Tapi aku masih penasaran sama Penang Bridge itu. Okelah, nggak apa-apa nggak nyeberang lewat jembatannya. Masih bisa naik kapal ferry dari Georgetown ke Butterworth. Sisi lain pemandangan laut dan Penang Bridge-nya juga tetap kelihatan.

Aku sebenarnya nggak tahu sistem kapal ferry Georgetown-Butterworth ini seperti apa. Apakah ada jadwal tertentu atau nggak. Aku nekad aja pokoknya ke pelabuhan dulu. Dari Bukit Jambul ini aku naik bus nomor 301 ke Jetty. Jauh juga ya ternyata. Perjalanannya hampir sejam. Aku sampai tertidur di dalam bus. Untung Jetty ini tujuan terakhir, jadi nggak mungkin kebablasan, hehe. Oh ya, Jetty ini sebenarnya punya nama resmi Raja Tun Uda Ferry Terminal, lokasinya ada di Jalan Weld Quay.

Begitu turun dari bus, aku mengikuti sekumpulan orang yang berjalan kaki memasuki pelabuhan. Tanpa bertanya aku pede aja langsung masuk mengikuti koridor jalur yang sudah ditentukan. Pikirku koridor ini akan menuju ke loket penjualan tiket. Eh, ternyata langsung masuk ke dalam ruang tunggu naik Ferry. Perasaan orang-orang di depanku nggak mampir ke mana-mana. Apa mereka udah punya tiket terusan ya, pikirku.

Beberapa saat kemudian ada kapal ferry merapat. Semua orang di ruang tunggu itu langsung naik ke kapal ferry. Herannya penjaga tiket tidak menanyakan sama sekali perihal tiket atau semacamnya. Sejumut kemudian aku baru tahu bahwa perjalanan Ferry dari Georgetown ke Butterworth ini ternyata gratis, saudara-saudara! Leganya perasaanku saat itu. Aku pun bisa dengan tenang memotret pemandangan laut di sekitar dan juga Penang Bridge tentunya.

Penang Bridge

Penang Bridge

Perjalanan ferry Georgetown-Butterworth ini memakan waktu kurang lebih sekitar 20 menit. Frekuensi kapal yang lalu lalang Georgetown-Butterworth PP ini juga kurang lebih beroperasi setiap 20 menit. Untuk perjalanan Georgetown-Butterworth gratis, sedangkan Butterworth-Georgetown dikenakan tarif RM 1.20. Murah kan? Oh ya, tarif RM 1.20 itu cuma bisa dibayar dengan koin, yang dimasukkan ke dalam mesin gate-nya. Kalau nggak ada uang koin, bisa ditukar di loket di sana. Info lebih lanjut termasuk jam operasi, bisa dibaca di halaman Wikipedia ini.

Oh ya, Butterworth ini sebenarnya masih satu negara bagian Penang lho. Jadi jangan salah term “Penang” itu kurang tepat sebenarnya kalau digunakan untuk me-refer pulau tempat di mana kota Georgetown itu berada. Kalau memang yang dimaksud memang pulaunya, harusnya memang lengkap nyebutnya dengan nama “Pulau Penang”.

Di Butterworth aku nggak ke mana-mana. Begitu sampai aku langsung balik lagi. Soalnya waktuku sudah terbatas. Sudah jam 5 sore juga. Sementara pesawatku dijadwalkan take off pukul 21.45.

Walaupun nggak ke mana-mana, dari atas pelabuhan Butterworth ini aku sempat mengamati kondisi sekitar. Sekitar belasan meter ke arah timur ada terminal bus Rapid Penang. Sedangkan ke arah selatan terdapat Stasiun Butterworth. Stasiun Butterworth ini melayani perjalanan kereta api ke Thailand lho. Kapan-kapanlah kalau ada waktu mau nyobain. Setelah melihat-lihat situasi sekitar, aku balik langsung masuk lagi ke dalam pelabuhan.

Aku sempat agak ragu-ragu saat hendak naik kapal ferry. Di kapalnya ada tulisan Pulau Rawa. Jangan-jangan kapal ini mau ke Pulau Rawa, bukannya ke Georgetown, pikirku. Tapi di dalam Ferry sudah ada banyak sekali orang, termasuk mobil-mobil dan sepeda motor. Di loket tadi pun ngga ada tulisan jurusan ke pulau lain selain ke Pulau Penang (Georgetown). Aku pun pede aja naik kapal itu. Belakangan aku baru tahu kalau kapal-kapal ferry Georgetown-Butterworth ini memang dinamakan dengan nama-nama pulau di Malaysia. Padahal aku sudah rela sih kalau sampai ternyata nyasar ke pulau yang lain itu, hahaha.

Menghabiskan sisa waktu di Penang

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika aku tiba di Pelabuhan Raja Tun Uda, Georgetown. Kemudian aku berjalan kaki sekitar 650 meter menuju Masjid Kapitan Keling. Di sana aku menunaikan sholat Ashar.

Setelah sholat Ashar, aku berjalan kaki lagi menuju rumah makan Nasi Kandar Line Clear. Yep, aku masih belum tertarik untuk mencoba tempat makan yang lain. Bagiku Nasi Kandar Line Clear ini sangat enak untuk dicoba kembali. Apalagi porsi nasinya yang banyak dan teh tariknya yang enak itu begitu menggodaku untuk kembali ke sana.

Tapi entah kenapa sore itu perasaanku berkata bahwa nasi kandar yang disajikan porsinya tidak sebanyak sehari sebelumnya. Perasaanku ternyata memang benar. Nasi kandar yang diambilkan oleh pelayan itu dihargai RM 7 oleh kasirnya. Lebih murah setengah ringgit daripada sehari sebelumnya. Tapi ayam gorengnya masih sebesar seperti biasanya.

Habis makan, kira-kira saat itu pukul 6 sore, aku berjalan menyusuri Jalan Penang ke arah barat. Masih satu ruas dengan rumah makan Nasi Kandar Line Clear itu. Di pinggir Jalan Penang ini berjejer-jejer kios-kios yang menjual oleh-oleh dengan label Penang. Mulai dari kaos, gantungan kunci, topi, dan lain sebagainya. Ada juga oleh-oleh makanan atau minuman kemasan khas Penang, seperti Jeruk Madu Pak Ali dan Penang White Coffee.

Sebagai pecinta kopi, aku membeli satu bungkus kopi kemasan Penang White Coffee. Satu bungkusnya isi 15 sachet. Harganya mungkin agak mahal sih dibandingkan kopi-kopi sachetan di sini (Indonesia), RM 11. Itupun setelah kutawar dari RM 15. Sempat kutawar RM 10, penjualnya nggak mau. Tapi memang worth sih. Enak banget kopinya. Teman-teman kantor pada suka sama kopi ini.

Senja sudah mulai tiba, langit sudah beranjak gelap. Kios-kios di Penang Street ini juga sudah mulai banyak yang tutup. Aku pun berjalan kaki lagi menuju daerah KOMTAR. Pukul 7 sore atau tepat beberapa menit menjelang adzan Maghrib, aku tiba di Masjid Al-Jamiul Azzakirin. Aku sholat Maghrib berjamaah di situ.

Cabut ke Bandara

Sehabis sholat, aku langsung bergegas menuju terminal bus KOMTAR. Ada 10 menitan aku kedatangan menunggu bus 401E. Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah 8. Aku baru tahu kalau jam segitu tuh adalah peak hour-nya bus nomor 401E jurusan Balik Pulau ini.

Hampir saja aku nggak bisa masuk ke dalam bus saking penuhnya. Untung ada petugas terminal yang mengatur penumpang agar merapat ke belakang untuk memberikan ruang bagi calon penumpang yang hendak naik. Itupun aku masih harus berdesak-desakan untuk masuk ke dalam bus. Ada beberapa orang yang terpaksa tetap tinggal menunggu bus selanjutnya. Ongkos KOMTAR-bandara adalah RM 2.70.

Jauh juga ternyata perjalanan ke bandara ini. Untungnya jalanan nggak macet. Tapi bus sempat berhenti beberapa menit ketika transit di halte Bukit Jambul. Banyak penumpang yang turun di halte ini. Tapi yang naik pun jumlahnya nggak kalah banyak. Desak-desakan lagi. Sopir busnya yang orang Melayu sampai marah-marah menyuruh penumpang yang di tengah untuk merapat ke belakang. Baru kali ini aku melihat marahnya orang Melayu, hihi.

Alhamdulillah bus akhirnya tiba di halte bandara tepat sejam sebelum waktu take off, alias pukul 20.45. Wow, that was close. Aku membayangkan seandainya aku nggak bisa maksain diri masuk bus ini, ada kemungkinan aku bisa telat boarding dan terpaksa ketinggalan pesawat.

Tiba di Medan

Kepulangan ke Indonesia ini masih sama rutenya dengan keberangkatan ke Penang ini. Yakni, pakai transit dulu di Medan. Alhamdulillah pesawat tiba di Medan dengan selamat sekitar pukul 21.45. Setelah melalui urusan imigrasi aku sholat Isya di mushola terminal kedatangan. Setelah itu naik ke terminal keberangkatan dan tidur di atas bangku sambil menunggu waktu check-in pesawat ke Bandung keesokan subuhnya.

Last but not least

Wow, akhirnya pecah telor juga melakukan solo traveling. Trip ke Penang ini menjadi pengalaman pertamaku solo traveling. Ternyata perjalanan sendirian itu selalu memunculkan tantangan tersendiri. Enaknya adalah kita bisa bebas mau ke mana saja, ngapain saja, dan kapan saja. Nggak perlu mau rembugan dulu sama orang lain mau ke mana, makan di mana, masuk tempat wisata ini nggak, dsb. Tapi nggak enaknya adalah nggak ada teman yang bisa diajak berbagi kesenangan atas hal-hal yang kita temui di perjalanan.

Terkait dengan Penang-nya sendiri, masih ada beberapa tempat sebenarnya yang belum sempat kueksplor karena waktu yang terbatas. Maklum, rencana ke Penang ini sebenarnya adalah untuk mengikuti acara Penang Bridge International Marathon. Namun, karena cedera yang kudapatkan secara mendadak, akhirnya terpaksa batal agenda tersebut. Karena itu, aku pun sebenarnya tak punya itinerary khusus yang dipersiapkan dalam solo backpacking ini. Cuma sebelumnya sudah riset-riset sedikitlah objek apa saja yang menarik di sana, transportasi dan perkiraan waktu tempuh ke objek-objek tersebut. Seru juga ternyata.

13 thoughts on “Solo Backpacking ke Penang (Bagian 3-Tamat): Keliling Georgetown di Hari ke-2

  1. Qq

    Hiiii, sy juga rencana splo travelling ke penang. Apa aman buat cew solo travelling kesana? Ada tips2 tertentu? Thanks before😉

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Insya Allah aman mbak. Alhamdulillah pengalaman saya kemarin sih soal keamanan nggak ada yg dikhawatirkan. Tipsnya basic aja sih, yang penting jangan sampai terlihat seperti orang hilang, pede aja, dan sebaiknya sudah memiliki informasi-informasi yg dibutuhkan sejak sebelum berangkat. Namun, perasaan waspada juga harus tetep ada walaupun di sana mungkin kelihatan aman-aman saja. Terutama di kendaraan umum. Di Penang pun yang namanya copet ada juga.🙂

      Like

      Reply
  2. fera

    hi kak.. boleh nanya gak ?
    kan sept nanti aku mau ke penang dan rencna balik ke kl naik kereta pagi jam 8 pagi..
    aku dr jalan burma jalan kaki ke komtar dan rencana mau station train nya via bus rapid dr komtar menuju jetty dan nyebrang pake ferry..kira2 klo aku dr komtar jam set 7 pagi rute no brp yg lbh cpt menuju ke jetty ya?soalnya klo saya liat via web rapid penang saya disuruh jalan kaki 1,5km menuju komtar timur bru turun ke balai bomba.. saya jd bingung dan agak ribet klo gk langsung turun di jettynya,karena ini pertama kalinya saya balik ke kl via kereta.. mohon bantuannya kak.. terima kasih,,

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Kalau lihat di webnya Rapid Penang, ada kok bus yang langsung dari jalan Burma ke Jetty. Bisa naik bus no. 103.

      Untuk waktu tempuhnya saya kurang tahu. Mungkin sehari sebelumnya bisa disimulasikan dulu naik bus no. 103 dari tempat mbak ke Jetty utk mengukur waktu tempuhnya. Atau bisa ditanyakan ke penduduk sekitar biasanya butuh berapa lama.

      Like

      Reply
  3. fitri

    hi salam kenal..
    mau nanya nih di penang ada tempat penitipan koper gak?
    sbb saya gak bermalam disana…

    thx before

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Hi, salam kenal juga… maaf nih, saya kurang tahu euy untuk tempat penitipan di sana. Coba cari infonya di Penang Airport, stasiun kereta Butterworth, atau terminal Komtar. Tempat-tempat itu yang menurut saya mungkin menyediakan tempat penitipan tas.

      Like

      Reply
  4. Bella

    Ass, maaf ya numpang nanya , tau g kira2 bis dr bandara ke penangnya paling malem jam brpa y? Aku sampe bandaranya jm 9 , kali ke kota kira2 msh ada bis g ya? Trimakasih banyak

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Wa’alaikumsalam. Jangan khawatir mbak, jam 9 malam di Penang itu sama kayak jam 8 malam WIB. Masih belum terlalu malam di sana. Seharusnya sih masih beroperasi. Saya pernah naik bus dari KOMTAR ke bandara sekitar pukul 19.30 dan baru tiba di bandara sekitar pukul 9 malam karena terjebak macet.

      Kalau lihat di website resmi Rapid Penang http://www.rapidpg.com.my/journey-planner/schedules/, di situ tertulis paling akhir bus 401E dari Balik Pulau menuju Weld Quay ada jam 11 malam. Jadi jangan khawatir sih. Seandainya kehabisan bus, masih ada taksi.😀

      Like

      Reply
    1. otidh Post author

      Dari bandara harus naik bus dulu ke Jetty, trus oper kapal ferry ke Butterworth. Perkiraan saya sih paling cepat sekitar 1 jam perjalanan dengan kondisi yang mendukung. Anda langsung dapat bus tanpa menunggu lama, jalanan nggak macet, langsung dapat kapal yang mau berangkat.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s