Category Archives: Indonesia

Ke Jombang

Pada hari Minggu kemarin aku pergi ke Jombang untuk menghadiri pernikahan seorang teman kuliahku dulu, yang memang berasal dari Jombang. Kami beda jurusan sebenarnya. Namun, kami saling mengenal dengan baik karena pernah berada pada kelas yang sama saat kuliah tingkat satu dulu.

Btw, sudah lama aku tak pernah mampir ke Jombang. Aku dan teman-teman yang berasal dari Malang dulu biasa ‘mencegat’ kereta api Mutiara Selatan jurusan Surabaya-Bandung. Karena tak ada kereta Malang-Bandung ketika itu, kami pun terpaksa naik kereta dari Jombang (atau kadang-kadang juga dari Surabaya).

Dari Malang kami biasa naik mini bus ‘legendaris’ Puspa Indah yang ‘memonopoli’ rute Malang-Jombang via Batu-Pujon-Ngantang-Kandangan. Perjalanan ditempuh selama 2,5-3 jam. Tarifnya ketika itu Rp12.000. Kami memilih bus ke Jombang karena jalan tempat kami turun dari bus tidak terlalu jauh dari lokasi Stasiun Jombang. Cukup berjalan kaki saja.

Nah, kemarin ketika aku datang ke nikahannya temanku itu, aku pun juga naik bus Puspa Indah ini. Ongkosnya sekarang Rp14.000 sampai Jombang. Tapi kemarin aku sempat kebablasan dari lokasi di mana aku seharusnya turun. Untung ada Google Maps, jadi aku bisa mengetahui jarak dan denah lokasiku saat itu dengan lokasi acara nikahan (Gedung PSBR Jombang). Untung aku masih bisa sampai setengah jam sebelum acara berakhir, hehe.

Setelah acara nikahan, sambil menunggu jadwal kereta Mutiara Selatan ke Bandung, aku mampir ke Masjid Agung Baitul Mukminin. Sambil menunggu waktu Ashar aku duduk-duduk saja di serambi masjid sambil membaca buku. Suasana masjid agung ini terasa adem. Angin-angin semilir yang masuk terasa sejuk.

Masjid Agung Baitul Mukminin

Masjid Agung Baitul Mukminin

Setelah Ashar, aku mampir ke alun-alun Jombang yang lokasinya persis di sebelah timur masjid. Yah, sekedar kulineran saja di sana sambil merasakan suasana alun-alun Jombang yang ketika itu masih basah setelah turun gerimis. Napak tilas masa-masa awal kuliah dulu ketika kami biasa menunggu kereta dengan duduk-duduk menikmati kulineran di alun-alun ini. Persis di sebelah selatan alun-alun di situlah terletak Stasiun Jombang. Sekitar pukul 5 aku pun masuk ke dalam stasiun untuk menunggu kereta yang datang pukul 6 sore.

Alun-alun Jombang

Alun-alun Jombang

 

Main ke Trans Studio Bandung

Semenjak dibuka pertama kali untuk umum pada Juni 2011, baru Sabtu pekan lalu (18/05) akhirnya aku berkunjung ke Trans Studio Bandung. Padahal aku tinggal (ngekos) di Bandung. Tapi malas saja ke sana. Alasannya, selain harga tiket masuknya yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa (ketika aku masih mahasiswa), juga karena tidak ada teman yang mau diajak main ke sana, hihi.

Sabtu kemarin itu kebetulan ada acara walimahan teman sesama angkatan 2007 Sekolah Elektro dan Informatika ITB di gedung dekat McD Gatot Subroto. Banyak teman, baik dari Elektro maupun Informatika yang menghadiri acara tersebut. Nah, setelah acara walimahan, muncul keinginan untuk jalan bareng ke suatu tempat, sekedar untuk meluangkan waktu bersama sambil mengobrol tentang  pekerjaan masing-masing atau mengenang kembali memori saat mahasiswa dulu. Dipilihlah Trans Studio Mall karena lokasinya yang sangat dekat dengan gedung pernikahan.

Sekitar pukul 2 siang berangkatlah kami bersepuluh (9 cowok + 1 cewek) ke Trans Studio Mall. Aku satu-satunya yang berasal dari Informatika di rombongan itu. Yang lain anak Elektro semua. Awalnya, rencana kami cuma ingin menonton film saja. Film apapunlah yang ada saat itu.

Tapi setelah mempertimbangkan (kalau tidak salah) kebetulan semua dari kami belum pernah ke masuk ke wahana Trans Studio, kenapa tidak sekalian saja main ke sana. Kebetulan ada salah satu teman yang tak keberatan untuk mentraktir kami semua ke Trans Studio, hehe. Tiket masuk untuk weekend 250.000 rupiah per orang. Alhamdulillah, pertama kalinya ke Trans Studio ada yang bayarin, hehe. Semoga rezekinya lancar terus ya mas! 🙂

Sebenarnya sore hari adalah waktu yang kurang tepat untuk memulai kunjungan ke Trans Studio. Sebab Anda akan melewatkan beberapa wahana seperti Special Effects Action dan Trans City Theater yang hanya menampilkan pertunjukan di siang hari.

Wahana yang kami kunjungi pertama yaitu Vertigo Galaxy, wahana permainan berupa kincir raksasa yang berputar 360 derajat. Cuma 4 orang dari kami yang menaiki wahana ini. Aku dan yang lain nggak mau karena merasa perut masih kenyang sehabis makan di walimahan sebelumnya, haha. #alibi

Vertigo Galaxy

Vertigo Galaxy

Setelah itu, kami masuk ke wahana Si Bolang-Bocah Petualang. Wahana Si Bolang ini begitu kental terasa Indomie-nya, hehe. Bagaimana tidak, di mana-mana ada properti bertuliskan Indomie. Bahkan, ketika kami berkeliling menggunakan kereta menjelajahi “Indonesia” yang menampilkan ragam rumah adat, pakaian adat, dan budaya masing-masing daerah, properti Indomie itu masih mendominasi. Hmm… sepertinya pepatah “di mana pun daerahnya, kulinernya tetap Indomie” cocok menggambarkan “petualangan” Bolang kami, hehe.

Membolang dengan naik kereta

Membolang dengan naik kereta

Setelah selesai membolang, selanjutnya kami kembali mengulang pelajaran-pelajaran Kimia dan Fisika sewaktu sekolah dulu. Pelajaran sekolah itu kami dapatkan di Science Center. Di “rumah belajar” ini kami menemukan hal-hal menarik untuk diketahui.

Sebagai orang yang berlatar belakang teknik — yang dahulu ketika masih tingkat satu pun kami mendapat kuliah Fisika Dasar dan Kalkulus — objek-objek sains di Science Center ini cukup menarik bagi kami. Ada alat untuk mengukur kekuatan genggaman tangan, harpa dengan senar laser yang bisa dimainkan layaknya harpa sungguhan, mesin elektrostatik Van De Graff, simulasi angin topan, dsb. Sebagian memang sudah pernah kulihat di Jatim Park (waktu SMP dulu), tapi di Trans Studio ini objek sainsnya lebih banyak — kebanyakan objek fisika. Cocok bangetlah buat pelajar-pelajar yang suka sama Fisika, hehe.

Science Center

Science Center

Keluar dari Science Center entah bagaimana ceritanya kami terpisah menjadi dua kelompok. Tiga orang entah ke mana. Sementara aku dan 6 orang lainnya lanjut ke wahana yang lain. Giant Swing menjadi pilihan kami. Di satu artikel Detik Travel pernah disebutkan tentang 5 wahana Trans Studio yang bisa bikin jantung ‘copot’, dan Giant Swing ini adalah salah satunya, juga  Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 4-Tamat): Dari Pantai ke Lawang Sewu

Hari 4: Selasa, 25 Desember 2012

Subuh-subuh kami semua sudah bangun dari tidur. Kami sengaja bangun lebih pagi agar bisa mengejar sunrise di Pantai Parangtritis. Setelah sholat subuh, kami semua langsung cabut menuju Pantai Parangtritis dengan mengendarai motor sewaan. Jalanan sangat lengang pagi itu. Maklum, matahari saja belum menampakkan batang hidungnya.

Kurang lebih 40 menit perjalanan kami tempuh menuju Pantai Parangtritis. Jam masih menunjukkan sekitar pukul setengah 6 pagi. Walaupun demikian, suasana pantai sudah cukup ramai. Sepertinya ada rombongan anak sekolahan juga yang berkunjung ke pantai ini. Terlihat dari kaos seragam yang mereka kenakan. Selain orang-orang yang bermain ombak di pantai, ada juga orang-orang yang mengendarai ATV yang memang disewakan di sana.

Sunrise di Parangtritis

Sunrise di Parangtritis

Perlahan sinar matahari berangsur-angsur menerangi pantai selatan Bantul, DIY, ini. Pantai Parangtritis bukanlah pantai yang the best untuk menyaksikan sunriseArah datangnya sinar matahari di sana terhalang oleh tingginya tebing yang membentang di sisi timur pantai. Mungkin lain cerita dengan sunset. Sisi barat pantai terbentang luas tanpa penghalang. Walau demikian, tetap saja fenomena sunrise selalu memiliki pesonanya tersendiri.

Anak-anak bermain ombak

Anak-anak bermain ombak

Kios oleh-oleh di Parangtritis

Kios oleh-oleh di Parangtritis

Selama kurang lebih satu setengah jam kami bermain-main ombak di pinggir pantai ini. Ombak di Parangtritis ini memang terkenal cukup ganas. Kalau tidak hati-hati, apalagi berada hingga jauh dari bibir pantai, bisa-bisa tertarik ombak ke laut.

Kira-kira pukul setengah 8 lah kami mentas dari main air. Setelahnya, kami bersih-bersih diri. Sebelum pulang ke rumah, kami jalan-jalan sebentar menyusuri pantai dari ujung ke ujung.

Perjalanan pulang ke rumah dari Parangtritis ini terbilang cukup lancar. Yang ramai memang yang ke arah Parangtritisnya. Terlihat dari mulai berdatangannya bus-bus pariwisata.

Sempat ada musibah ketika motor yang dikendarai Rizky berboncengan dengan Kamal mengalami kebocoran di daerah Bantul sana. Kami berempat yang terlebih dahulu sampai di rumah harus menunggu mereka terlebih dahulu.

Sekitar pukul 10 pagi kami semua cabut dari rumah dan berpamitan kepada tanteku untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang. Tentu saja sebelumnya motor-motor ini kami kembalikan ke tempat rental.

Alhamdulillah kami masih sempat mengejar keberangkatan bus patas Ramayana ke Semarang yang dijadwalkan berangkat pukul 11.00 dari terminal Jombor. Alhamdulillah juga masih ada kursi yang tersedia untuk 6 orang.

Perjalanan Jogja-Semarang ini kurang lebih menempuh waktu sekitar 3 jam lebih sedikitlah. Kami turun persis di depan restoran “Soto Ayam dan Ayam Goreng Bangkong”, menjelang jalan tol — Banyumanik kalau nggak salah namanya.

Neo dan Luthfi pamitan untuk langsung cabut lagi menuju Stasiun Tawang karena mengejar keberangkatan kereta ke Jakarta pukul 4 sore. Sementara itu, tinggal kami berempat: aku, Kamal, Rizky, dan Khairul yang tak tahu mau lanjut ke mana.

Karena perut yang sudah keroncongan, akibat belum makan sejak terakhir kemarin malam, kami pun memutuskan untuk mampir makan siang dulu di rumah makan Soto Bangkong itu.

Ya, harus kubilang aku memang jatuh cinta pada Soto Semarang. Soto di rumah makan ini juga terbilang enak menurutku. Harganya juga tidak terlalu “mengejutkan”. Di rumah makan itu kami sekalian menumpang untuk sholat dhuhur dijama’ dengan ashar.

Sekitar pukul setengah 4 kami meninggalkan restoran. Tujuan berikutnya adalah Tugu Muda. Kami dua kali berganti kendaraan umum untuk sampai ke Tugu Muda itu. Di seberang jalan tempat kami turun sudah terlihat Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 3): Dari Dieng ke Kraton

Hari 3: Senin, 24 Desember 2012

Aku tiba-tiba terbangun dari tidur karena mendengar kaset lantunan ayat suci Al-Qur’an dari masjid yang memang berada persis di depan penginapan kami. Jam menunjukkan pukul 3.45. Aku langsung membangunkan anak-anak yang lain. Ya, rencananya kami memang ingin melihat sunrise pagi itu. Bukan di sikunir, tapi di sebuah bukit — aku lupa namanya — yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap.

Rencananya kami akan dipandu oleh guide dari penginapan ini. Tapi penginapan tampak sepi. Sepertinya orang-orang masih terlelap, termasuk mas yang akan menjadi pemandu kami.

Akhirnya, seusai melaksanakan sholat Subuh, kami putuskan untuk berjalan saja sendiri tanpa ada pemandu dengan berbekal GPS. Setelah kurang lebih satu jam berjalan kaki, kami akhirnya sampai ke suatu lembah di mana tak ada terusan jalan lagi.

Akhirnya kelihatan matahari

Akhirnya kelihatan matahari

Kami pun sadar bahwa kami telah salah jalan. Mau balik, lagi tidak mungkin. Kami pun menikmati alam yang ada saja di hadapan kami. Dari tempat kami ini, matahari tidak dapat terlihat karena terhalang oleh bukit di hadapan kami. Harus menunggu matahari berada di posisi yang agak tinggi baru bisa terlihat.

Ya sudah, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, lagi-lagi seperti kemarin, karena kurang kerjaan, aku ‘menuntun’ jalan anak-anak dengan melalui ladang kentang penduduk. Sempat khawatir ditegur warga sih seperti pengalaman di Desa Cemoro Lawang, Bromo, kemarin, hehehe.

Melewati ladang kentang

Melewati ladang kentang

Niatnya sih, kami bisa berjalan melewati ladang-ladang itu untuk sampai di Telaga Warna. Sial, ternyata ada pagar kayu yang membatasi akses ke sana dari ladang. Terpaksa kita mencari jalan lagi ke jalan utama.

Kami pun akhirnya kembali lagi ke jalan yang kami lalui sebelumnya. Kami menyempatkan berfoto-foto dahulu di Dieng Plateau Theater (DPT). Oh ya, di depan DPT itu terdapat situs  geotermal milik Pertamina. Tidak hanya di depan DPT ini saja ternyata. Di beberapa tempat lain di Dieng ini juga. Sepertinya Dieng memang Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 2): Dieng Plateau

Hari 2: Minggu, 23 Desember 2012

Subuh-subuh kami semua sudah bangun. Kami bergantian untuk menunaikan sholat Subuh dan juga mandi.

Ketika pagi datang, kami semua keluar untuk sarapan Soto Semarang di sebuah rumah makan di dekat rumah Dhana. Rasanya ini pertama kalinya aku makan soto Semarang. Enak bangeetttternyata. Maknyus. Soto Semarang disajikan secara khas dengan mangkuk kecil dan ada sate-satean (telur puyuh, ayam) dan perkedel yang juga bisa kita pilih untuk menambah nikmatnya makan kita.

Sekitar pukul 8 pagi kami berpamitan kepada Dhana dan keluarganya untuk melanjutkan pengembaraan alias mbolang kami ke Dieng. Ya, setelah berdiskusi, jadinya kami memang berencana akan pergi ke Dieng dan Yogya saja, dengan Dieng sebagai tujuan pertama kami.

Di dalam bus ke Dieng

Di dalam bus ke Dieng

Kami menyegat bus di daerah Banyumanik, Semarang. Kami menumpang bus tujuan Purwokerto via Wonosobo. Ongkos bus hingga Semarang-Wonosoboadalah 25 ribu per orang. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3,5 jam.

Setelah turun di Wonosobo, kami berganti menumpang mikro-bus Wonosobo-Dieng. Ongkosnya adalah 8.000 per orang. Perjalanan ke Dieng ini memakan waktu sekitar sejam. Di tengah jalan sempat hujan deras. Beruntung ketika kami tiba di Dieng, hujan sudah reda.

Kami pun mulai menyusuri jalan sambil mencari wisma atau motel untuk menginap. Btw, aku cukup terkejut di Dieng ini aku tak menemui para “calo” yang biasanya berkeliaran di kawasan villa atau tempat rekreasi pada umumnya menawarkan tempat menginap. Di Puncak, Songgoriti-Batu, dan Bromo, calo-calo itu hampir selalu kita temui.

Di depan penginapan

Di depan penginapan

Akhirnya kami pun menemukan satu wisma yang cukup murah dan sedang kosong dua kamar, yakni wisma “ASRI”. Tarif per kamarnya 75 ribu. Sepertinya itu harga ketika peak seasonnya. Kebetulan memang waktu itu sedang long weekend. Satu kamar kami isi bertiga.

Sore harinya kami keluar cari makan. Ya, nggak terasa dari pagi kami belum makan dan tanpa sadar perut sudah meronta-ronta. Kami makan di sebuah rumah makan di dekat kantor kecamatan Dieng yang juga bersebelahan dengan ‘terminal’.

Sehabis makan, kami jalan-jalan ke kompleks Candi Arjuna yang memang menjadi ikon Dieng itu. Tiket masuk 10 ribu per orang. Entah karena memang sudah terlalu sore atau Continue reading

Catatan Perjalanan Semarang-Dieng-Yogya (Bagian 1): Karimunjawa Failed

Hari 1: Sabtu, 22 Desember 2012

Ini adalah cerita liburan Natal bulan Desember 2012 kemarin. Kebetulan ada libur panjang mulai hari Sabtu hingga Selasa, tanggal 22-25. Pesertanya adalah aku, Neo, Luthfi, Khairul, Kamal, dan Rizky.

Niat awalnya sih mau ke Karimunjawa. Jadilah sebulan sebelum hari H, kami semua membeli tiket kereta menuju Semarang. Tapi karena kami berasumsi tiket kapal dari Semarang ke Karimunjawa bisa dibeli secara go show seperti halnya kapal ke Pulau Tidung yang kami tahu. Tapi, eh sesampainya di pelabuhan Tanjung Mas Semarang, kami baru tahu kalau penjualan tiket kapal Kartini Semarang-Karimunjawa PP ini dipegang oleh satu manajemen yang untuk pembeliannya harus booking dulu supaya tidak kehabisan. Dan saat itu juga kami diberi tahu bahwa tiket kapal sudah habis.

Alternatifnya sebenarnya bisa menumpang kapal yang berangkat dari Jepara. Tapi baca-baca di internet, jadwal keberangkatan ke Karimunjawa paling akhir pukul 10.30. Waktu ketika itu menunjukkan pukul 7.30. Masih ada waktu berarti. Kami pun mencoba menelepon contact person KM Muria. Sayang, ternyata kapal hari itu semuanya telah penuh.

KM Kartini

KM Kartini

Kami pun memutuskan untuk menunggu KM Kartini hingga berangkat. Berharap ada sejumlah orang yang membatalkan perjalanannya. Pada kenyataannya memang ada sejumlah orang yang membatalkan perjalanannya. Namun tiket ‘buangan’ itu diberikan pada sebuah keluarga yang menempati urutan pertama dalam waiting list. Jadilah, rencana kami ke Karimunjawa batal.

Menunggu Ketidakpastian

Menunggu Ketidakpastian

Namun, ketika kami berjalan di dermaga, kami berjumpa salah seorang petugas pelabuhan dan menceritakan apa yang sedang kami alami saat itu. Apabila masih ingin ke Karimunjawa, beliau menyarankan untuk menumpang kapal sayur yang akan berangkat subuh esok hari. Kata beliau ongkosnya biasanya seikhlasnya saja.

“Wah, kesempatan baik nih.” kata kami.

Kami pun berencana untuk mengambil kesempatan itu. Namun, petugas kapal sayur itu baru akan tiba petang hari nanti untuk mendata calon penumpang.

Sembari menunggu hingga petang hari, kami hendak Continue reading

[Video] Catatan Perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo

Iseng coba-coba belajar bikin video pakai Adobe Premiere, sekalian saja bikin video kompilasi foto-foto dan beberapa potongan video perjalanan ke Ranu Kumbolo & Bromo November kemarin.

Harap maklum kalau kualitasnya tak seberapa. Maklum, hasil ngoprek dalam satu malam Adobe Premiere. 😀