View Sabana 1 dan Gunung Merapi di kejauhan

Catatan Pendakian Gunung Merbabu (Hari 2-Tamat)

Jumat, 1 Januari 2016

Pukul setengah 5 pagi saya terbangun dari tidur. Setelah kesadaran benar-benar terkumpul, saya keluar dari tenda untuk melaksanakan sholat shubuh. Temperatur di Pos 3 Merbabu ini ternyata tak sedingin seperti yang saya rasakan di Surya Kencana, Gunung Gede, pada pendakian sebulan sebelumnya. Cuaca di sini pun juga sangat bersahabat, tidak berangin dan tidak berkabut.

Seusai sholat subuh, saya menyalakan kompor sembari menunggu yang lain terbangun. Mbak Meli, mas Teguh, dan mas Jamal menyusul keluar dari tenda mereka masing-masing. Saya memasak air hangat untuk menyeduh kopi.

Sementara itu di ufuk timur, matahari berangsur-angsur mulai naik melewati horizon. Langit di sekitarnya berubah menjadi berwarna kuning keemasan.

Naik ke Puncak

Pukul setengah 6 saya, Listi, dan mas Jamal bersiap-siap untuk naik ke puncak. Kami menyiapkan makanan dan minuman pada tas kecil kami untuk bekal di jalan. Tepat pukul 5.45 kami memulai perjalanan menuju puncak Merbabu.

Ketika tengah mendaki bukit menuju Sabana 1, saya membalikkan badan dan melihat ke arah Pos 3. Masya Allah… alangkah indahnya pemandangan yang sedang saya saksikan saat itu. Rumput-rumputan dan pepohonan yang sesungguhnya berwarna hijau, terlihat keemasan karena bermandikan sinar mentari yang sudah mulai meninggi meninggalkan garis horizon. Sementara di sebelah selatan terlihat pemandangan Gunung Merapi yang berdiri dengan gagahnya, dan diselimuti oleh samudra awan di sekelilingnya.

Pemandangan sunrise di Pos 3 Gunung Merbabu

Pemandangan sunrise di Pos 3 Gunung Merbabu

Butuh sekitar setengah jam untuk sampai ke Sabana 1 dari Pos 3. Lumayan ramai juga pendaki yang mendirikan tenda di Sabana 1 ini.

Di Sabana 1

Di Sabana 1

Dari Sabana 1 menuju Sabana 2 kami membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Saat mendaki bukit Sabana 2 ini lagi-lagi kami menyaksikan pemandangan yang tak kalah cantiknya. Kali ini matahari sudah bersinar dengan sangat terang dan langit pun sudah berwarna biru cerah. Sabana 1 yang baru saja kami tinggalkan terlihat hijau mulus di kejauhan. Sementara itu Gunung Merapi masih tampak gagah, namun samar-samar mulai tertutupi oleh samudra awan yang menyelimutinya.

View Sabana 1 dan Gunung Merapi di kejauhan

View Sabana 1 dan Gunung Merapi di kejauhan

Di Sabana 2 pun ternyata juga ramai dengan pendaki yang mendirikan tenda. Padang Sabana 2 ini sepertinya lebih luas daripada Sabana 1. Sehingga lebih terlihat lega di sini.

Dari Sabana 2 kami lanjut berjalan menuju ke puncak. 30 Menit kemudian kami tiba di Watu Lumpang yang berada di setengah perjalanan antara Sabana 2-Puncak. Ada juga ternyata yang mendirikan tenda di sini walaupun hanya beberapa. Jarak dari Watu Lumpang menuju Puncak, menurut yang tertulis pada papan penunjuk arah, adalah 504 meter lagi yang dapat ditempuh dalam waktu 35 menit.

Watu Lumpang

Watu Lumpang

Berbeda dengan 3 tanjakan bukit sebelumnya yang tanahnya masih lumayan padat. Tanjakan terakhir menuju Puncak ini memiliki medan yang cukup tricky. Tanahnya cukup berpasir, tidak padat seperti medan sebelumnya. Karena itu jika tidak berhati-hati, kita bisa terpeleset.

Namun, apa yang tertulis di papan tersebut cukup akurat juga. Kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai akhirnya tiba di Puncak Triangulasi Gunung Merbabu. Total kami memerlukan waktu 2 jam untuk sampai di Puncak ini dari Pos 3. Sedangkan total jarak yang kami tempuh kurang lebih 2,5 km. Sedangkan untuk posisi, Puncak Triangulasi berada di ketinggian 3192 mdpl. Begitu yang tercatat di log GPS saya. Sementara itu, menurut catatan resmi, ketinggian Gunung Merbabu ini adalah 3142 mdpl.

Track Pos 3-Puncak Merbabu sebagaimana tercatat oleh log GPS

Track Pos 3-Puncak Merbabu sebagaimana tercatat oleh log GPS

Ketika saya tiba, Puncak Triangulasi telah (dan masih) ramai oleh pendaki. Jelas yang diburu oleh para pendaki untuk dijadikan objek foto adalah papan bertuliskan Puncak Trianggulasi (well, sebenarnya tulisannya . Kami harus mengantri untuk dapat bergantian mengambil foto dengan objek papan tersebut.

Para pendaki yang sedikit lagi mencapai puncak

Para pendaki yang sedikit lagi mencapai puncak

Ada beberapa puncak di Gunung Merbabu ini sebenarnya. Selain Puncak Triangulasi, tidak jauh dari situ ada Puncak Kenteng Songo yang tingginya juga 3142 mdpl. Satu puncak lagi bernama Puncak Syarif yang menurut yang saya baca di link ini tingginya adalah 3119 mdpl.

Saya hanya sempat mampir ke Puncak Kenteng Songo saja karena posisinya memang tidak sampai 5 menit dijangkau dari Puncak Trianggulasi. Di sana pun juga sama. Banyak pendaki yang tengah mengantri untuk dapat berfoto dengan objek papan bertuliskan Puncak Kenteng Songo. Namun di Kenteng Songo terlihat lebih ramai pendaki daripada di Puncak Trianggulasi. Bahkan, ada pendaki-pendaki yang mendirikan tenda di sana.

Di Puncak Kenteng Songo 3142 mdpl

Di Puncak Kenteng Songo 3142 mdpl

Ada sekitar satu jam saya bertahan di puncak. Saya berusaha menikmati momen di puncak ini dengan santai, tidak terburu-buru untuk turun, dan tidak terlalu sering mengambil foto. Hanya duduk-duduk mengamati pemandangan sekitar.

Cuaca di puncak sangat cerah ketika itu. Namun di puncak ini angin berhembus cukup kencang. Sinar matahari sebenarnya cukup menyengat. Akan tetapi angin yang berhembus memberikan hawa yang cukup sejuk sehingga sengatan sinar matahari yang kita rasakan lumayan tereduksi. Namun tanpa terasa ketika pulang dari Merbabu, kulit saya terlihat menjadi lebih hitam akibat sengatan matahari. Pergelangan tangan saya pun terlihat belang karena saya selalu menggunakan jam tangan.

Di Puncak Trianggulasi 3142 mdpl

Di Puncak Trianggulasi 3142 mdpl

Sekitar pukul 9 mas Jamal turun lebih dahulu kembali ke Pos 3. Sementara saya dan Listi menyusul 30 menit kemudian. Waktu yang kami butuhkan untuk turun ke Pos 3 ini bisa kita pangkas hingga 30 menit dari waktu yang kami butuhkan untuk naik ke puncak. Yup, memang sudah sewajarnya waktu untuk turun lebih cepat daripada waktu untuk naik.

Saat kami turun dari puncak, langit berubah menjadi berawan. Sangat berawan. Gunung Merapi sudah tak kelihatan lagi, tertelan oleh samudra awan. Awan yang memenuhi langit pun berwarna cukup gelap. Pertanda hujan segera turun. Karena itu kami turun cepat-cepat ke Pos 3.

Di Pos 3, saya dan Listi kembali bergabung dengan Gin dan Kamal yang ada di dalam tenda. Kami segera memasak untuk menu sarapan, eh makan siang kami. Waktu masih menunjukkan pukul 11. Langit masih mendung namun hujan (masih) belum turun. Walaupun demikian, suara petir yang menyambar-nyambar sudah mulai kedengaran di kejauhan.

Makan siang di luar tenda

Makan siang di luar tenda

Tak berapa lama kemudian hujan rintik-rintik mulai turun. Khawatir hujan bertambah deras, kami pun segera masuk ke dalam tenda. Namun, hujan cuma turun sebentar saja dan hanya berupa gerimis.

Usai makan, kami mulai membersihkan peralatan makan dan memasak kami dan mulai mengepaki barang-barang kami ke dalam tas. Tenda pun juga mulai kami bongkar dan lipat kembali.

Setelah beres packing, kami pun memulai perjalanan turun kembali ke Selo. Kali ini kami melewati jalur yang berbeda. Jika sebelumnya kami naik melalui Desa Selowangan, kali ini kami akan turun ke Desa Genting. Keduanya sama-sama berada di Selo, dan jarak kedua desa pun tidaklah jauh.

Rute naik dari Desa Selowangan (warna biru) dan rute turun ke Desa Genting (warna kuning)

Rute naik dari Desa Selowangan (warna biru) dan rute turun ke Desa Genting (warna kuning)

Perjalanan turun ini total memakan waktu hanya 2 jam saja. Berangkat turun jam 2 siang, jam 4 sore sudah tiba di Desa Genting. Itu pun sudah termasuk dua kali istirahat yang kalo ditotal ada setengah jam-an. Selain memang karena turunan, rute yang kami lalui kali ini sepertinya memang lebih pendek daripada rute dari Desa Selowangan. Medannya pun cenderung landai sehingga kami bisa berjalan cepattidak perlu berhati-hati sekali. Tapi sepanjang jalan pemandangannya selalu berupa hutan. Berbeda dengan rute dari Desa Selowangan di mana kita bisa melihat pemandangan Gunung Merapi, dan padang sabana di jalur antara Pos 2 dan Pos 3.

Sesampainya di Desa Genting kami diajak singgah di rumah pak porter yang terbilang besar juga di desa itu. Kami bersih-bersih diri di rumah beliau. Saya dan Listi tak lupa mengembalikan perlengkapan yang kami sewa ke basecamp Mbah Jupri. Saya sekalian sholat jama’ dhuhur dan ashar di mushola yang terletak di samping basecamp.

Sebenarnya ketika turun, pendaki diwajibkan kembali melapor ke petugas. Karena kami naiknya dari Desa Selowangan, seharusnya kami juga melapor ke sana. Tapi oleh pak porter kami kata beliau tidak masalah. Nanti beliau yang melaporkan, serta mengembalikan beberapa perlengkapan kami juga yang sempat kami sewa di sana.

Jam 5 sore kami cabut meninggalkan Desa Genting menuju Terminal Boyolali. Kami menyewa mobil pickup milik keluarga pak porter. Ongkosnya Rp300.000. Kami sudah mencoba menawar Rp250.000, tapi ayah beliau yang memiliki mobil pickupnya keukeuh di angka itu. Padahal sehari sebelumnya di Desa Selowangan, sebelum berangkat mendaki, kami sempat ditawari pulangnya nanti naik mobil APV saja dengan biaya Rp250.000. Ya sudahlah tidak mengapa.

Menumpang mobil pickup menuju Terminal Boyolali

Menumpang mobil pickup menuju Terminal Boyolali

Di Terminal Boyolali, sesudah makan malam bareng di rumah makan Sunda depan terminal, kami semua berpisah. Mbak Meli, mas Teguh, dan mas Jamal masing-masing langsung kembali ke Jakarta dan Cikampek malam itu juga dengan bus malam. Beruntung masih ada kursi tersisa malam itu. Sedangkan saya, Listi, Gin, dan Kamal, kami naik bus ke Kota Solo. Kami menginap semalam di sebuah hotel dekat Terminal Tirtonadi. Besoknya kami melanjutkan perjalanan kembali pulang ke kota masing-masing. (tamat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s