Category Archives: Curhat

Cita-Cita Menjadi Pemain Bola

Gara-gara momen olimpiade nih, jadi teringat kenangan masa kecil dulu. Ya, dulu semasa masih SD aku pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Setiap kali ditanya oleh orang lain tentang cita-cita, aku menjawab ingin menjadi pemain sepak bola. Bahkan, karena keinginan untuk menjadi pemain bola itu, salah seorang pamanku sampai membelikan sepatu bola dan buku-buku teknik bermain bola.

Aku teringat ketika itu sedang berlangsung SEA Games 1997 di Jakarta. Final sepak bola mempertemukan Indonesia melawan Thailand. Indonesia kalah secara tragis melalui adu penalti. Tapi pesona pemain-pemain seperti Kurniawan, Widodo, Kurnia Sandy, Bima Sakti, Nur Alim, Aji Santoso, dkk. benar-benar menginspirasi diriku dan anak-anak kecil lainnya, tak terkecuali teman-teman sepermainanku. Tiap bermain bola, kami selalu menggunakan nama-nama idola itu dan berusaha dimirip-miripin seperti gaya mereka.

Tiada hari tanpa bermain bola. Bahkan saat sunnat pun, demi memenuhi hasrat bermain bola, aku terpaksa mempercepat masa ‘recovery’ haha. Niat menjadi pemain bola sempat kuseriusi dengan mendaftar ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Unibraw ’82 ketika kelas 4 SD.

Aku bergabung di SSB tersebut sampai menginjak kelas 6 SD. Aku sudah mantap untuk berusaha mengikuti jenjang pembinaan di SSB itu hingga ke tingkat junior dan akhirnya seleksi di klub profesional.

Menjelang Ebtanas SD (istilah UAN pada masa itu), ada seleksi untuk mengikuti Ligana (Liga anak-anak) Campina. Aku mengikuti proses seleksi itu hingga akhirnya diumumkan tim yang akan berkompetisi di Ligana Campina. Sayangnya aku gagal lolos seleksi.

Jelas, sedih sekali tak lolos seleksi. Impian untuk menjadi pemain bola terpaksa kupendam. Ada hikmahnya juga sih. Aku jadi bisa fokus ujian sekolah ketika itu.

Tapi aku masih tetap mengikuti sepak terjang teman-teman di Ligana Campina itu dan kadang-kadang menonton langsung. Entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya aku memutuskan mundur dari SSB itu. Yah, akhirnya sepak bola hanya menjadi sekedar hobi saja buatku.

Sebenarnya dulu sempat terpikir menjadi atlet badminton juga sih. Ketika itu meminta orang tua untuk didaftarkan di klub badminton juga, sayang di Malang nggak ada klub badminton yang ‘benar-benar serius’. Klub badminton yang terdekat ada di Surabaya. Dasar masih kecil ketika itu, aku nggak mau kalau harus pindah ke Surabaya. Niat jadi pemain badminton juga memang tidak terlalu serius sih.

Makanya, aku angkat topi terhadap orang-orang yang menekuni profesi atlet. Untuk menjadi seorang atlet yang benar-benar ‘jadi’ itu membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Mereka mengorbankan masa kecil mereka di mana umumnya anak-anak pada seusianya masih suka bermain, namun diisi dengan berlatih dan berlatih terus. Sebagian dari mereka bahkan ada yang harus berpisah dari orang tua ketika kanak-kanak untuk mengikuti pembinaan di luar daerah.

Sepenggal Potret Wisuda Juli 2012

Dari 64 wisudawan IF & STI Juli 2012 kemarin, 8 di antaranya adalah angkatan 2007 dan 2 orang angkatan 2006. Sisanya angkatan 2008. Sebuah angka yang sepi untuk angkatan 2007 & 2006. Yup, bintang wisuda Juli ini — dan juga untuk bulan Oktober (2012) dan April tahun depan — adalah angkatan 2008.

Trust me, menjadi angkatan minoritas yang diwisuda itu sungguh tidak mengenakkan. Aku beruntung masih ada 7 orang teman seangkatan yang diwisuda bersama dengan diriku. Bagaimana dengan angkatan 2006 yang ada? Acara syukuran wisuda (syukwis) himpunan  dan arak-arakan mereka tak ikuti. Aku hanya sempat bertemu dengan kak salah seorang calon wisudawan IF 06 saat acara syukuran wisuda STEI. Itu pun ia datang karena di acara itu akan dibagikan undangan wisuda.

Wisudawan IF 2007 (minus Adi)

Wisudawan IF 2007, minus Adi (photo by Hafid IF’07)

Ketika engkau merasa sepi karena menjadi angkatan minoritas yang diwisuda, kehadiran teman-teman seangkatan yang lain — baik yang belum diwisuda ataupun sudah diwisuda — ke acara syukwis dan arak-arakan sungguh memberikan arti bagi engkau. Oleh karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam aku sungguh berterima kasih kepada teman-teman angkatan 2007 yang telah meluangkan waktunya ke acara syukwis dan arak-arakan ini. Insya Allah, semoga kelak aku juga bisa menghadiri wisudaan teman-teman IF 2007 yang akan datang.

Bersama teman-teman plus kaprodi tercinta (photo by Ario EL'07)

Bersama teman-teman plus kaprodi tercinta (photo by Ario EL’07)

Ada bagusnya juga ya sistem tahun pertama yang menyatukan kuliah mahasiswa-mahasiswa di satu fakultas/sekolah yang sama. Manfaatnya terasa hingga wisudaan :D. Kita masih bisa saling sapa dengan wisudawan seangkatan dari prodi-prodi lain yang sefakultas/sesekolah dengan kita, hehehe. Kita jadi nggak merasa kesepian karena di prodi tetangga, teman-teman seangkatan ternyata banyak juga yang diwisuda :).

Bersama Aryan ET'07 dan Mita EL'07 (Photo by Mita EL'07)

Bersama Aryan ET’07 dan Mita EL’07 (Photo by Mita EL’07)

Seperti yang sudah-sudah, di setiap acara wisudaan ITB hampir selalu ada acara arak-arakan wisudawan oleh himpunan-himpunan mahasiswa jurusan di ITB. Tradisi itu berlanjut juga di wisudaan Juli 2012 ini. Himpunan jurusanku mengusung tema ‘Viva Las Vegas’. Dan angkatan yang mendapatkan kehormatan untuk mempersembahkan performance dalam arak-arakan kali ini ialah angkatan 2011.

Namun, ada perubahan rute arak-arakan yang diambil oleh himpunanku pada arak-arakan kali ini. Rute yang biasanya melintasi sisi barat ITB (melalui GSG-matematika-industri-mesin-penerbangan-sipil-…-labtek V), kali ini diganti melalui tengah kampus (GSG-oktagon-tvst-plaza widya-labtek V). Kalau tidak salah pertimbangan yang diambil adalah masalah waktu. Kami start dari Saraga saja ketika itu sudah pukul 15.30 dan dalam perjalanannya kami tiba di labtek V pukul 17.00 kurang sedikit. Tidak terbayang kalau mengambil rute penuh tadi.

Arak-arakan massa himpunan

Arak-arakan massa himpunan

Arak-arakan wisudawan di Plaza Widya

Arak-arakan wisudawan di Plaza Widya

Di tengah arak-arakan, tak kusangka ternyata aku berjumpa dengan dua orang adik angkatan di KOKESMA dulu yang memberikan bunga. Hiks … hiks … Continue reading

Akhirnya, ‘Sesuatu yang Tertunda’ itu …

Setelah sempat ‘tertunda’ selama hampir 10 bulan, ‘sesuatu’ itu akhirnya terjadi juga hari ini, Sabtu , 14 Juli 2012. Iya, alhamdulillah … akhirnya aku diwisuda juga!! 😀

Sungguh sebuah penantian panjang yang kualami. Ya bagaimana tidak, setahun lalu aku melaksanakan sidang dan euforia akan menjadi sarjana sudah kurasakan. Namun semua berubah ketika negara api menyerang, eh, berubah ketika aku tersangkut satu mata kuliah yang nilainya berubah dari T menjadi E. Itu terjadi karena miskomunikasi antara diriku dengan sang dosen. Akibatnya jumlah SKS-ku tak mencukupi untuk lulus S1. Aku pun terpaksa mengambil kuliah lagi di semester 2 tahun ajaran 2011/2012. Kenapa tidak semester 1-nya? Sebabnya, aku sudah terlanjur mengambil 0 SKS.

Mungkin wisuda ini hanya formalitas bagiku. Namun, walaupun euforia kelulusan ini tak kurasakan, tapi aku sungguh bersyukur akan berakhirnya penantian panjang ini. Sedih juga sih melepas status mahasiswa itu. Oh man … kalau dipikir-pikir banyak juga resolusiku — yang kucanangkan ketika mengawali status mahasiswa — yang belum/tidak tercapai hingga akhir status mahasiswaku ini.

Tapi setidaknya aku tak gamang lagi menjawab pertanyaan “Lagi sibuk apa sekarang?”. Dulu mau menjawab sudah kerja, tapi masih kuliah. Mau menjawab masih kuliah, tapi sudah sidang dan juga sedang bekerja. Ah, jadi harus menjelaskan lagi ke si penanya.

Kalau banyak bilang masa paling indah adalah masa SMA, mungkin itu tepat. Tapi masa menjadi mahasiswa (S1) adalah masa yang tak tergantikan. Memang sukses tidaknya perjalanan hidup ini tidak ditentukan oleh seberapa suksesnya diri ini di S1, tapi di sinilah kita benar-benar ditempa, merasakan manis-pahitnya hidup.

Ya, gelar sarjanaku ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku yang sudah banyak berkorban bagi anaknya, tiada henti mendoakan yang terbaik bagi anaknya siang dan malam, dan yang dengan sabar menantikan kelulusan anaknya ini.

Bersama orang tua tercinta

Bersama orang tua tercinta

Ya Allah … terima kasih atas karunia-Mu ini. Semoga gelar sarjana ini tak menjadi sia-sia. Semoga hamba-Mu ini bisa mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Amin. Bismillah!

It’s Time to Move On

It’s time to move on (baca: waktunya pindahan :D).

Ya, tak terasa sudah 3 tahun aku menetap bersama 5 orang kawanku sesama angkatan IF 2007, yakni Haris, Kamal, Khairul, Adi, dan Wafi di kontrakan di jalan Sangkuriang Dalam, yang kemudian kami sebut dengan padepokan Sandal, hahaha. Kini tiba saatnya perpisahan itu harus terjadi.

Pertama, pada bulan April lalu di mana Khairul yang lulus lebih dahulu pada bulan April itu, harus pindah ke Jakarta karena ia mendapatkan pekerjaan di sana. Lalu 2 bulan kemudian,   pada minggu ketiga Juni, Kamal menyusul pindahan ke rumah yang baru dibelinya di Bandung ini. Dan kini aku dan Wafi yang pindah ke kosan yang baru di Cisitu. Adi dan Haris sementara ini masih berada di kontrakan yang lama.

Malam kemarin kami berlima — minus Adi — melakukan farewell party (ceileeh istilahnya…) dengan makan malam bersama di Abuba Steak. Keesokan harinya, alias hari ini, kami, khususnya aku dan Wafi, mulai mengemasi barang-barang untuk pindahan hari ini juga. Yup, semalam akan menjadi malam terakhir aku menginap di kontrakan ini.
Khairul menyortir barang-barangnya

Khairul menyortir barang-barangnya

Capai juga ya mengurusi pindahan itu. Apalagi alat angkut yang kami gunakan adalah gerobak dorong. Aku dan wafi PP kosan lama-kosan baru sebanyak 3 kali. Lumayan juga sih. Barangnya banyak soalnya dan cukup berat juga.
Haris beberes

Haris beberes

Mungkin dalam 1-3 tahun ke depan aku bakal masih pindah-pindah. Soalnya rencana yang kumiliki dalam kurun waktu itu masih abu-abu. Yah, mungkin kalau sudah beristri (amin… mudah-mudahan bisa menyegerakan :D), semuanya bakal lebih jelas. Setidaknya bisa memulai mencari tempat tinggal tetap, hehehe.
Anyway, waktu 3 tahun tinggal bersama kawan-kawan ini ternyata terasa sebentar. Tak terasa kami semua masing-masing sudah mulai menentukan jalan masing-masing. Walaupun kami masing-masing berpisah sudah tidak akan menetap di rumah itu lagi, tapi kenangan itu akan tetap terjaga selamanya di rumah kontrakan itu. Duh, kok jadi melankolis gini, hehehe. Lanjut beres-beres ah. 😛 

KA Ekonomi Pun Kini Banyak Calo

Kereta ekonomi (ilustrasi)

Kereta ekonomi (ilustrasi)

Tulisan ini kubuat karena aku sudah tidak paham lagi dengan sistem penjualan tiket kereta di negeri ini, khususnya kereta ekonomi. Sudah tiga kali aku gagal pulang kampung gara-gara kehabisan tiket KA Kahuripan.

Pertama, pada libur long weekend Nyepi pada akhir Maret lalu. Aku datang ke stasiun untuk membeli tiket pada H-2. Tiket habis. Ok, aku paham.

Kedua, pada libur long weekend Paskah pada awal April lalu. Aku datang ke stasiun pada H-3. Tiket habis. Ok, aku paham. Lain kali aku harus datang lebih awal lagi.

Sampailah pada hari Rabu kemarin tanggal 9 Mei atau H-7 sebelum rencana keberangkatan. Aku datang ke stasiun Kiaracondong pada pukul 7.30 dan berencana untuk membeli tiket KA Kahuripan untuk keberangkatan tanggal 16 Mei. Antrian cukup panjang ketika itu. Aku termasuk berada di antrian tengah-tengah. Mungkin ada sekitar 12-15 orang yang antri di depanku. Nah, ketika sampai pada giliranku — waktu menunjukkan pukul 8.05, aku pun memesan tiket KA Kahuripan. Tak dinyana, petugas mengatakan bahwa tiket KA Kahuripan sudah habis. Beliau menawarkan tiket KA Pasundan yang tentu saja tidak mungkin buatku untuk membelinya karena tidak sesuai dengan tujuan dan jam keberangkatan yang ku bisa.

Serius? Loket baru buka sekitar sejam, tapi tiket sudah habis. Ok, anggaplah  sekali perjalanan kereta membawa 6 gerbong penumpang yang masing-masing kapasitasnya 103 (CMIIW). Dikali 6 berarti ada sejumlah 618 kursi. Ok, mungkin aku mengabaikan fakta bahwa sistem ticketing ini sudah online di mana semua stasiun yang dilalui bisa melayani pemesanan tiket di saat bersamaan. Belum lagi pemesanan Indomaret, kantor pos, dan agen-agen. Tapi satu tiket pun masa tak tersisa di saat pemesanan dilakukan pada 1 jam setelah loket buka?

Yang bikin kesal, di luar stasiun ada saja calo-calo yang menawarkan tiket. Sebelumnya nggak pernah ada istilah kereta ekonomi itu dicaloin karena kapasitasnya yang ‘tak terbatas’. Kalau aku sih, lebih baik nggak pulang daripada harus beli tiket di calo. Toh, transportasi yang lain masih ada, walaupun tidak akan semurah naik kereta ekonomi. Hmm … mungkin lain kali harus menginap di stasiun kali ya biar bisa dapat antrian pertama.

Pekan yang Cukup Sibuk

Sekitar dua pekan belakangan ini dan sepekan yang akan datang sepertinya bakal menjadi pekan yang cukup ‘sibuk’ bagiku. Ya, aku sedang terlibat proyek bersama beberapa teman dengan workload yang cukup tinggi dan waktu yang singkat. Jam tidur menjadi tidak teratur, dan terpaksa harus menginap di kosan teman, bahkan juga kantor. Selain itu, aku juga tak sempat menulis blog lagi, hehehe. Padahal selama seminggu lebih sejak tulisan terakhirku itu, ada banyak hal yang ingin kubagi, tapi tak sempat kutulis. Ya udahlah ya.

Ngomong-ngomong, pengalaman seperti ini sebenarnya sudah tak asing bagiku. Ketika ‘masih’ kuliah — sekarang pun sebenernya juga masih, hehehe — dulu, aku dan teman-teman kuliah juga sering menghadapi tugas besar mata kuliah yang membuat jam tidur menjadi kacau. Tapi bedanya, itu adalah tugas kuliah yang pengaruhnya tentu ‘hanya’ akan ke nilai yang didapat. Sedangkan proyek, pengaruhnya adalah kepada kepuasan klien dan ‘upah’ atau ‘punishment‘ yang diberikan kepada kita. Haha, tapi nggak sekejam yang kudeskripsikan itu juga sih.

Yang jelas pressure-nya berbedalah. Sudah ada dua teman yang sakit di tim proyek saat pengerjaan berlangsung. Semoga saja proyek ini bisa selesai dengan baik. Dan aku bisa rutin berolahraga lagi — terutama main bulutangkis — hehehe … 😀

Kuliah Filsafat Ilmu

Salah satu mata kuliah semester ini yang aku ambil adalah Filsafat Ilmu. Bobot kuliah ini “hanya” 2 SKS dan dalam satu minggu hanya ada tatap muka sekali selama 100 menit.

Menarik juga di ITB yang notabene kampus teknik, ada mata kuliah filsafat yang tak ada sangkut pautnya dengan engineering. Kalau di ITB, mata kuliah-mata kuliah seperti itu masuknya ke kelompok Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang bobotnya biasanya cuma 2 SKS. Namun, aku termasuk yang jarang mengambil kuliah MKDU.

Di semester 10 ini akhirnya aku berkesempatan untuk mengambil kuliah Filsafat Ilmu. Untungnya walaupun kuliah ini diberikan di kampus teknik, namun pengajarnya memang yang berkompeten di bidang filsafat karena memang pernah mengenyam pendidikan di jurusan filsafat.

Awal perkenalanku dengan dunia filsafat bermula saat SMP kelas 3 dipinjami buku tentang pemikiran-pemikiran KH. Misbach yang seorang komunis muslim. Kemudian, ketika SMA, semasa di aktif di Rohis aku bersama teman-teman juga pernah mengkaji mengenai sejarah filsafat Islam, khususnya mengenai perselisihan tentang konsep Qadla dan Qadar di para pemikir Islam dulu.

Sebenarnya aku kurang terlalu suka dengan bidang ilmu filsafat. Mungkin karena terlalu banyak perdebatan di dalamnya. Tapi entah kenapa, mengikuti atau membaca tentangnya selalu menarik, walaupun kadang-kadang bikin pusing, hehehe.

Pusing. Itu juga yang kurasakan saat pertemuan kedua kuliah kemarin. Topiknya sih masih seputar perkenalan ilmu filsafat itu sendiri. Nah, pada pertemuan kedua kemarin dari yang semula topiknya membahas mengenai “APA ITU ILMU”, tiba-tiba karena ada satu atau dua pertanyaan dari mahasiswa, lalu bahasannya tiba-tiba melebar ke topik humanisme, kapitalisme, sosialisme, paganisme, dll. Jadi bahasan kemarin itu muteerrr … entah ke mana. Tapi seru juga sih.

Kalau sudah demikian, 2 SKS untuk kuliah Filsafat Ilmu pun rasanya sangat kurang. Materi bahasan yang sedemikian banyaknya, tak cukup bila disampaikan dalam waktu 100 menit kali sekitar 14 pertemuan dalam sesemester. Hmm … tak sabar untuk segera masuk ke bahasan filsafat Barat dan Islam. 😀