Category Archives: Curhat

Naik Kereta Bisnis AC

Perjalanan naik KA Malabar semalam menjadi pengalaman pertamaku naik kereta kelas bisnis AC. Kalau tidak salah, sudah 1-2 bulan yang lalu kelas bisnis AC ini diperkenalkan. Tidak menggunakan gerbong yang baru, tapi hanya melakukan modifikasi pada gerbong yang sudah ada.

Tempat kipas angin sebelumnya, kini diganti dengan AC (lihat foto di bawah).

AC di kelas Bisnis

AC di kelas Bisnis

Tapi tampaknya aku tidak beruntung di pengalaman pertama ini. Entah memang sedang rusak atau memang begitu aslinya, aku tidak merasakan dinginnya AC di dalam gerbongku itu. Setidaknya hingga tengah malam. Aku justru merasa gerah hingga akhirnya harus melepas jaket. Maklum, sirkulasi udara di gerbong menjadi bergantung pada AC saja. Semua jendela di dalam gerbong ini menjadi “unopenable”. Tampaknya memang sengaja diganjal dengan sebuah skrup agar tidak bisa diangkat.

Baru ketika menjelang subuh aku mulai merasakan kedinginan. Jaket pun kembali kukenakan. Hmm … agak labil kayaknya nih AC. 😀

Car Free Day Hari Ini

Sebenarnya aku sangat jarang ikutan Car Free Day (CFD) Dago ini. Kalau nggak ada yang ngajak, sudah pasti nggak akan main ke sana. Pernah sih sesekali main ke sana sendiri cuma numpang lari pagi. Tapi itu pagi banget ketika CFD Dago masih sepi.

It’s been almost 2 months since my last visit to CFD Dago. Tiba-tiba pagi tadi Pambudi yang kebetulan lagi main ke Bandung mention ane di Twitter ngajakin main ke CFD. Terus aku pun ngajak Wafi.

Oh, ternyata Pam sudah janjian sama teman-teman Elektro-nya. Jadilah kami ketemuan sama mereka. Tapi sebenarnya cerita ketemuan sama mereka itu terjadi ketika menjelang CFD berakhir, hehe.

Aku, Pam, dan Wafi sempat mencicipi menu khusus CFD di pelataran Hotel Patra Jasa yang berada di seberang SPBU Petronas lama. Ini kali pertama aku melihat Patra Jasa ikut “berpartisipasi” di CFD. Sebelumnya belum pernah. Menunya cukup murah untuk ukuran hotel. Tapi, porsinya juga tahu sendirilah ya kalau dengan harga 12 ribu dapatnya seberapa, hehe. But like usual, mantra “sekali-sekali nggak apa-apa lah ya…” selalu ampuh untuk menghibur diri, hihi.

Sarapan di Patra Jasa

Menunggu pesanan di Patra Jasa #CFD

Sesudah makan, kami akhirnya berjumpa dengan 3 orang teman Elektro lainnya. Sejujurnya, karena aku berasal dari jurusan Informatika, aku tak banyak berinteraksi dengan mereka selama di perkuliahan dulu. Tapi kami saling mengenal karena di ITB, di tahun pertama masih belum ada penjurusan, sehingga semua yang berada di satu fakultas yang sama masih mengambil kuliah (dan sebagian juga berada di kelas) yang sama.

Kami mengobrol sepanjang jalan mengenai kesibukan masing-masing saat ini. Karena CFD akan segera berakhir (mendekati jam 10), kami beralih ke kampus ITB melalui gerbang parkir SR. Ketika masuk ke dalam kampus, topik pembicaraan berganti mengenai perkembangan kampus sekarang dan cerita-cerita nostalgia masa kuliah dulu.

Ketika mulai agak siangan, obrolan berlanjut pindah ke McD Simpang Dago. Di tengah jalan ke McD, bertemu seorang anak Elektro lainnya dan dia pun ikutan join. Jadilah kami mengobrol-ngobrol lagi mengenai bidang-bidang pekerjaan yang tengah kita geluti masing-masing di McD ini.

Tak terasa kami mengobrol hingga pukul 1 siang. Kami berpisah di sini. Pam langsung balik ke Cikarang tempatnya bekerja saat ini.

Oh man … time really flies so fast. Masa kuliah terasa baru beberapa ‘hari’ yang lalu. Tapi selalu menyenangkan bisa bertemu dan mendengarkan cerita dari kawan-kawan, terutama yang beda jurusan denganku, mengenai apa yang mereka lakukan di pekerjaan mereka. Ada yang berbisnis di bidang yang jauh dari kuliahnya, menjadi project engineer, merintis karir di perusahaan BUMN, menjalani start up IT, dsb.

What’s Next?

Tak terasa sekarang sudah memasuki bulan ketiga di tahun 2013. Sudah 24 tahun aku menjalani hidup di dunia ini. Wow, waktu berlalu begitu cepat.

Kadang-kadang aku teringat seorang sahabat yang telah meninggal dunia ketika aku masih berada di SMA, dan juga beberapa teman sekolah lainnya yang lebih dahulu dipanggil oleh-Nya. Karena itu aku selalu bersyukur bahwasannya telah diberikan kesempatan menghirup udara di dunia hingga sejauh ini.

Lalu apa saja yang sudah kuperbuat hingga sejauh ini? What have I been through over the years? Terkadang memang aku suka melihat ke belakang apa yang sudah kulakukan, apa yang sudah tercapai, apa yang belum tercapai, dan apa yang ingin aku capai di masa yang akan datang.

What keeps me going is goals.” Begitulah kata Muhammad Ali, petinju legendaris dari Amerika Serikat. Ya, untuk tetap menjalani hidup dengan penuh ‘semangat’ diperlukan adanya gol-gol yang ‘harus’ kita capai. Jika tak ada gol yang ditargetkan, semua akan berjalan sebagai rutinitas biasa. Dan menurutku gol itu tak harus selalu sesuatu yang besar, tapi hal-hal yang kecil pun juga bisa jadi.

Tak kupungkiri banyak hal yang belum tercapai. Ada cukup banyak pula yang meleset. Terkadang memang ada penyesalan karena tak mungkin mencapainya lagi karena waktu tak mungkin bisa diputar ke belakang. Kalau sudah begitu, memang sudah seharusnya untuk move on. Menyusun lagi gol di masa yang akan datang.

So, what’s next? Keinginan untuk mengambil master (terutama di luar negeri) masih ada. Namun, itu belum menjadi prioritas yang mendesakku. Meningkatkan skill dalam bidang yang sedang aku geluti sambil mengamati peluang beasiswa master yang bisa kuambil dan mencoba menemukan sub bidang di Informatika yang menarik untuk kuajukan sebagai proposal master nantinya.

Di samping itu aku merasa ini sudah saatnya mencari the one. Insya Allah aku mulai berikhtiar untuk itu. Semoga bisa menyegerakan untuk yang satu itu. Bismillah. 🙂

Acara Nikahan di Palembang

Hari Jumat yang lalu — 14 Desember 2012 — aku untuk kali pertama pergi ke Palembang. Berarti ini adalah provinsi kedua di Sumatera yang pernah kukunjungi setelah Lampung. Kalau dulu ke Lampung karena ada urusan kerjaan dan juga plesir, kali ini ke Palembang karena ada acara nikahan saudara sepupu di sana.

Aku berangkat dari Bandung menuju bandara Soekarno-Hatta dengan menaiki travel Xtrans dari pool Bale Xtrans di Cihampelas pukul 13.30. Ongkosnya 100 ribu pas. Sampai di Terminal 1B — terminal keberangkatan pesawat-pesawat ke Sumatera — sekitar 17.45.

Btw, ini kali pertama juga aku naik pesawat dari Soekarno-Hatta, hehehe. Maklum, kampung halaman sama-sama di Jawa, jadi kalau bepergian jauh antar kota biasa naik kereta api atau bus.

Kali pertama juga naik pesawat Lion Air. Baru merasakan apa yang sering diceritakan orang mengenai Lion Air yang penerbangannya suka mengalami delay. Pesawat yang harusnya berangkat pukul 19.50, harus diundur dan baru berangkat sekitar satu jam kemudian. Penerbangan Jakarta-Palembang memakan waktu kurang dari sejam.

Resepsi

Resepsi

Hari Sabtu keesokan harinya adalah hari pernikahan saudara sepupuku yang mendapatkan jodoh cewek Palembang. Ya, ini pengalaman baruku mengikuti resepsi pernikahan dengan adat Palembang. Selama ini biasanya selalu datang ke pernikahan dengan adat Jawa.

Selain tata cara resepsinya yang berbeda, tentu menu makanannya juga berbeda, hehehe.  Menunya tentu saja khas Palembang. 😀

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Sayang di Palembang nggak sempat main ke mana-mana karena acara jalan-jalannya sudah dilakukan malam sebelumnya. Malam hari itu kami makan bersama keluarga besar di salah satu rumah makan di sana.

Keesokan harinya kami semua bareng pulang ke Jakarta dengan menumpang pesawat Lion Air pada penerbangan yang sama. Alhamdulillah kali ini pesawat tepat waktu. Kami tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul setengah 3 siang. Beruntung kami mengambil penerbangan jam segitu. Pada pukul 4 sore di bandara ternyata sempat mengalami mati listrik yang mengakibatkan radar di bandara ikut mati sehingga banyak penerbangan menuju ke Soekarno-Hatta dialihkan.

10-11-12

Dua hari yang lalu bertepatan dengan tanggal ‘cantik’ 10-11-12 (10 November 2012). Sudah menjadi rahasia umum, banyak sekali pernikahan yang dilangsungkan pada hari itu. Termasuk dua saudara sepupuku. Yang satu (dari keluarga besar ibu) menikah di Pekanbaru, dan yang satu lagi (dari keluarga besar ayah) menikah di Purwokerto. Namun, sesuai pertimbangan keluarga, aku hanya hadir di pernikahan adik sepupuku yang di Purwokerto.

Out of topic sebentar, kemarin itu adalah kali pertama aku ke Purwokerto. Bingung mau naik apa ke sana. Kereta api nggak ada yang jalur Bandung-Purwokerto. Akhirnya naik bus malam dari Bandung. Kurang tahu sih, pilihan busnya apa saja. Tapi sewaktu datang ke terminal Cicaheum, oleh agen-agen bus di sana kompak disuruh naik bus Sinar Jaya jurusan Wonosobo.

Busnya kelas eksekutif. Ongkosnya Rp50.000 baik dari Bandung maupun sebaliknya. Di Banjar istirahat sebentar sekitar 30 menit di rumah makan yang dikelola oleh PO Sinar Jaya. Perjalanan Bandung-Purwokerto ini idealnya 6-7 jam, tapi kemarin fakta di lapangan menempuh waktu sampai 8 jam.

Ok, back to topic. Kembali ke tentang tanggal 10-11-12. Kira-kira berikutnya tanggal cantik apalagi ya yang bakal ramai banyak orang nikah *sekalian cari-cari tanggal* #eh *cari calon dulu* :P.

Yang paling dekat sih 12-12-12 (12 Desember 2012), 20-12-2012 (20 Desember 2012). Untuk tahun depan mungkin 3-1-13 (3 Maret 2013), 1-3-13 (1 Maret 2013),  dan 11-12-13 (11 Desember 2013). Ada lagikah? Tapi kalau bagiku sih, apalah arti tanggal, hehehe. Insya Allah, bila telah menemukan yang pas, lebih cepat lebih baik. #BukanEdisiGalau

Pergi Dadakan? Lupakan Kereta

Punya rencana bepergian — perjalanan jarak jauh dalam Pulau Jawa — secara mendadak? Bersiaplah untuk menanggalkan kereta api sebagai pilihan.

1. Alasan pertama, siap-siap kehabisan tiket mengingat sekarang pemesanan tiket kereta api dimulai sejak H-90 keberangkatan.

2. Alasan kedua, harga tiket sudah melonjak. Hmm … sebenarnya untuk alasan yang satu ini aku tidak bisa memastikan. Aku baru tahu demikian ketika pulang kampung pada momen Idul Adha kemarin.

Tiket yang aku pesan H-9 sebelum keberangkatan, harganya 190.000 (kelas ekonomi). Penumpang lain yang duduk di sebelahku, dia pesan H-14 dapat harga 135.000. Gila, gede banget selisihnya (55.000). Padahal cuma selisih 5 hari pembelian dan kami sama-sama membeli online di situs PT KAI. Yang kelas bisnis & eksekutif pun selisihnya juga sekitar itu.

Nah, untuk hal ini aku belum mendapatkan sosialisasinya baik di media massa online ataupun TV. Googling pun aku juga nggak nemu. Mungkin kata kuncinya yang kurang pas. Atau barangkali di stasiun sudah ada sosialisasinya? Entahlah.

Tampaknya aku harus mulai melirik moda transportasi lain untuk bepergian jauh. Pesawat adalah alternatif yang bersaing dengan kereta api sekarang. Kemarin saja, ada promo AirAsia Bandung-Surabaya 99.000. Tahu gitu aku pesan yang itu saja. Lebih cepat pula.

Tapi bagi railfan sepertiku ini susah memang untuk tidak bepergian jauh dengan kereta, haha. 😀

 

Mirip Artis?

[Story 1] Suatu ketika di sebuah warung pulsa dekat kosan.

S (Saya) : “Teh, mau beli pulsa.”
T1 (Teteh penjual pulsa) : “Sok a’ ditulis nomornya.”
S : (lagi menulis nomor HP di kertas)
T1 : “Kok rasanya pernah lihat aa’ di TV. Main di acara apaaa… gitu.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
T2 (teman si teteh jualan pulsa) : “Teh ini ngefans sama mas.”
T1 : “Nggaakk … cuma ngerasa aja pernah lihat si aa’ di TV.”
S : (Pura-pura antusias) “Wah, siapa ya teh artisnya?”
T1 : “Nah itu, saya lupa.”
S : “Pulsanya sudah masuk teh. Makasih ya.”

[Story 2] Suatu ketika di tempat laundry dekat kosan.

S (Saya) : “Assalammu’alaikum.”
T (Teteh pemilik laundry) : “Wa’alaikumsalam. Oh, Dhito ya?”
S : “Iya teh, bener.”
T : (Sambil menghitung laundry-an) “Eh, Dhito kemarin Ramadhan atau lebaran gitu habis main film ya?”
S : (Bingung tiba-tiba ditanya begitu) “Ah, nggak teh. Saya di Ramadhan di Bandung, sama mudik ke Malang.”
T : “Tapi kemarin sempat nonton film ada yang mirip sama Dhito. Saya pikir itu Dhito.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
S : “Ah, teteh bisa aja. Saya mah nggak pernah main film teh, hehehe.”
T : “Bener itu bukan Dhito?” (Dengan nada yang agak memaksa)
S : “Haha, bukan teh, saya jamin.”
S : “Udah teh, gitu aja ya. Saya pamit dulu. Makasih. Assalammu’alaikum.”
T : “Wa’alaikumsalam.”