Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Menjajal Windows 8

 

Homscreen Windows 8

Homscreen Windows 8

 

Akhirnya kesampaian juga mencoba sistem operasi teranyar Microsoft, yakni Windows 8. Memang sih, masih versi release preview, tapi secara garis besar tak akan ada banyak perubahan dengan versi RTM yang akan dirilis Oktober nanti.

Dari segi tampilan, aku sangat suka dengan penampilan baru OS Windows yang kali ini mengusung tema Metro. So simple, so clean, so fresh. Memang sih sebagian orang bilang, “Apanya sih yang bagus, cuma kotak-kotak gitu.” Tapi entahlah, bagiku enak saja melihatnya.

Cukup salut juga dengan Microsoft yang cukup berani merilis OS baru dengan user experience yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Tanggapan user aku yakin tak sedikit pula yang negatif. Kini tinggal mencoba bagaimana kompatibilitas aplikasi-aplikasi yang biasanya kugunakan bila dipasang di Windows 8 ini.

Bagi yang ingin mencoba Windows 8 Release Preview ini, bisa mengunduhnya di sini. Oh ya, aku baru tahu kalau ternyata Windows 8 (dan ternyata Windows 7 pula) bisa di-install via USB. Selama ini yang kutahu baru Ubuntu saja yang bisa seperti itu.

Gagal Total di Olimpiade 2012

Sedih juga mendapati kenyataan bahwa badminton pada akhirnya benar-benar gagal total di Olimpiade kali ini. Tak hanya tradisi medali emas yang gagal dipertahankan, pada olimpiade kali ini tak satupun medali diraih pula. Bahkan, salah satu pasangan kita mendapatkan hukuman diskualifikasi dari Olimpiade.

Fix, 2012 harusnya dinobatkan sebagai tahun duka cita bagi dunia badminton Indonesia. Sebelumnya Indonesia telah sukses menodai rekor selalu melaju ke semifinal Piala Thomas, dengan hanya finish di perempat final Piala Thomas 2012 pada bulan Mei yang lalu. Prestasi yang mungkin membanggakan di tahun ini mungkin adalah kembali direbutnya gelar All-England dan Indonesia Open.

Sejatinya aku masih cukup mengapresiasi prestasi ganda campuran walaupun kalah di semifinal olimpiade. Namun, ketidakmampuan untuk bangkit mereka dari keterpurukan, terutama Tontowi Ahmad yang bermain sangat buruk di partai perebutan perunggu melawan Denmark, membuatku sebagai penggemar bulutangkis kecewa.

Tapi mungkin aku sedikit maklum karena melihat beratnya beban yang mereka pikul di olimpiade ini. Tak seperti olimpiade-olimpiade sebelumnya yang target medali emas biasanya dibebankan lebih dari satu wakil, kali ini terlihat sekali beban itu hanya mereka yang memikul. Yang lain? Yang ada hanya harapan dan harapan. Yah, olimpiade kali ini benar-benar mengingatkanku to not expecting more dan be more realistic.

Berharap ada perubahan pembinaan dari PBSI, bahkan kalau perlu perombakan besar-besaran. Ada yang salah di kepengurusan kali ini.

Badminton Gajah

Sebuah skandal badminton baru saja terjadi di Olimpiade London 2012. Yakni, insiden match-fixing dalam partai terakhir penyisihan Grup A Wang Xiaoli/Yu Yang (China, #1) vs dan Kim Ha Na/Jung Kyung Eun (Korea) dan penyisihan Grup B Ha Jung Eun/Kim Min Jung (Korea, #3) vs Greysia Polii/Meiliana Jauhari (Indonesia).

Badminton gajah

Badminton gajah [1]

Disebut match-fixing agak kurang pas juga sih, lebih tepatnya mungkin “bermain untuk sengaja mengalah” atau “match throwing“. Kalau dulu di sepak bola di Piala Tiger 1998 pernah ada insiden “sepak bola gajah” di mana Indonesia sengaja melakukan gol bunuh diri agar kalah dari Thailand, sekarang ada insiden “badminton gajah” di mana para pemainnya sengaja menyangkutkan shuttlecock di net atau tidak dapat mengembalikan bola agar menghasilkan poin untuk lawan.

Bagi penggemar atau pengamat yang sudah lama mengikuti perkembangan badminton tentu mafhum kejadian match-throwing ini bukan yang pertama kali. Tapi hukuman yang baru dijatuhkan kepada pemain yang terlibat — setahu saya selama mengikuti badminton sejak kecil — baru kali ini terjadi. Ya, sangat disesalkan kenapa insiden seperti ini baru ditindak di event sebesar olimpiade.

Selama ini aktor match-throwing itu selalu pemain China. Setiap terjadi duel antar sesama pemain China, tak jarang selalu berakhir dengan WO. Tujuannya? Demi memuluskan langkah rekannya agar tak perlu memeras keringat untuk menghadapi pertandingan berikutnya atau untuk mendongkrak ranking rekan senegaranya.

Namun, sebenarnya itu bukan kehendak pemain juga, melainkan team order. Tak heran jika kebijakan itu sempat menimbulkan kekecewaan juga di kalangan pemainnya. Pindahnya Zhou Mi ke Hongkong, disinyalir karena kekecewaannya setelah diharuskan mengalah atas Zhang Ning di semifinal Olimpiade 2004 karena Zhang Ning dinilai lebih berpeluang mengalahkan Mia Audina di final Olimpiade kala itu.

Makanya kasus di Olimpiade ini sebenarnya tidak mengagetkan. Apalagi dengan sistem round robin seperti sekarang yang memberikan celah untuk memilih lawan. Tapi BWF kali ini terlihat seperti kebakaran jenggot. Selama ini mereka selalu diam ketika kasus seperti ini terjadi di event mereka. Namun kini kasus itu terjadi di event sebesar olimpiade yang jelas-jelas mendapatkan sorotan dari seluruh dunia. Mau tidak mau BWF harus mengeluarkan suatu sanksi untuk menunjukkan kredibilitas mereka!

Kembali ke kronologi kasus kemarin. Semua itu sejatinya tak akan terjadi jika Qian/Zhao tidak kalah dari pasangan Denmark Christinne/Kamilla. Setelah kekalahan mengejutkan itu, di forum BadmintonCentral yang kuikuti, kemudian berkembang opini yang menyebutkan bahwa sangat mungkin ganda putri nomor 1 dunia, Wang/Yu akan sengaja mengalah dari pasangan Korea. Walaupun sudah ada opini seperti itu, kami tak menduga jika China ternyata benar-benar melakukannya. Dan secara terang-terangan pula!

Bagi yang belum sempat menonton videonya, coba deh tonton di link ini. The most awkward moment adalah ketika Pemain Korea melakukan servis dan sengaja menyangkutkan ke net. Namun, Yu Yang meminta servis diulang karena dia menyatakan belum siap menerima servis. Servis kedua yang diulang, lagi-lagi ‘dibuang’ oleh pemain Korea. Wkwkwkk … lelucon macam apa lagi itu :D.

Sedih sekali ketika BWF pada akhirnya tegas terhadap hal-hal seperti ini, namun justru pemain kita ternyata malah ikut-ikutan main kotor. Terlepas dari bantahan mereka yang menyatakan diri bahwa mereka bermain sungguh-sungguh, siapapun yang menonton pertandingan ganda putri Indonesia vs Korea itu pasti bisa menilai bahwa ada yang tak beres pada kedua pasangan itu. Dengan mudahnya bola dipukul keluar, servis menyangkut net, kembalian menyangkut net, dan sebagainya.

Naturally, sebenarnya wajar sih ketika kita diberi pilihan untuk menghadapi lawan yang berat atau lawan yang ringan, kita tentu akan memilih lawan yang ringan. Apalagi sistem yang digunakan oleh BWF di olimpiade kali ini punya banyak celah.

Untuk itu saya mencoba meng-quote salah satu analogi dari seorang member di BadmintonCentral: “Leaving your car unlocked with the keys inside in front of your house is unsafe and stupid, however, when a thief takes it, they should still be treated as a thief.” Poinnya adalah, memang sistem yang diterapkan oleh BWF di olimpiade ini memiliki celah  untuk memilih lawan. Tapi melakukannya, termasuk dengan cara sengaja mengalah dari lawan, tentu tetap tidak bisa dibenarkan, mencederai sportivitas olahraga, merugikan penonton terutama yang telah membayar mahal untuk menonton pertandingan, dan tidak sesuai dengan janji atlet yang diikrarkan saat pembukaan olimpiade.

Sumber gambar:

[1] http://willstrongart.blogspot.com/2010/06/will-strong-and-purple-crayon.html

Cita-Cita Menjadi Pemain Bola

Gara-gara momen olimpiade nih, jadi teringat kenangan masa kecil dulu. Ya, dulu semasa masih SD aku pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Setiap kali ditanya oleh orang lain tentang cita-cita, aku menjawab ingin menjadi pemain sepak bola. Bahkan, karena keinginan untuk menjadi pemain bola itu, salah seorang pamanku sampai membelikan sepatu bola dan buku-buku teknik bermain bola.

Aku teringat ketika itu sedang berlangsung SEA Games 1997 di Jakarta. Final sepak bola mempertemukan Indonesia melawan Thailand. Indonesia kalah secara tragis melalui adu penalti. Tapi pesona pemain-pemain seperti Kurniawan, Widodo, Kurnia Sandy, Bima Sakti, Nur Alim, Aji Santoso, dkk. benar-benar menginspirasi diriku dan anak-anak kecil lainnya, tak terkecuali teman-teman sepermainanku. Tiap bermain bola, kami selalu menggunakan nama-nama idola itu dan berusaha dimirip-miripin seperti gaya mereka.

Tiada hari tanpa bermain bola. Bahkan saat sunnat pun, demi memenuhi hasrat bermain bola, aku terpaksa mempercepat masa ‘recovery’ haha. Niat menjadi pemain bola sempat kuseriusi dengan mendaftar ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Unibraw ’82 ketika kelas 4 SD.

Aku bergabung di SSB tersebut sampai menginjak kelas 6 SD. Aku sudah mantap untuk berusaha mengikuti jenjang pembinaan di SSB itu hingga ke tingkat junior dan akhirnya seleksi di klub profesional.

Menjelang Ebtanas SD (istilah UAN pada masa itu), ada seleksi untuk mengikuti Ligana (Liga anak-anak) Campina. Aku mengikuti proses seleksi itu hingga akhirnya diumumkan tim yang akan berkompetisi di Ligana Campina. Sayangnya aku gagal lolos seleksi.

Jelas, sedih sekali tak lolos seleksi. Impian untuk menjadi pemain bola terpaksa kupendam. Ada hikmahnya juga sih. Aku jadi bisa fokus ujian sekolah ketika itu.

Tapi aku masih tetap mengikuti sepak terjang teman-teman di Ligana Campina itu dan kadang-kadang menonton langsung. Entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya aku memutuskan mundur dari SSB itu. Yah, akhirnya sepak bola hanya menjadi sekedar hobi saja buatku.

Sebenarnya dulu sempat terpikir menjadi atlet badminton juga sih. Ketika itu meminta orang tua untuk didaftarkan di klub badminton juga, sayang di Malang nggak ada klub badminton yang ‘benar-benar serius’. Klub badminton yang terdekat ada di Surabaya. Dasar masih kecil ketika itu, aku nggak mau kalau harus pindah ke Surabaya. Niat jadi pemain badminton juga memang tidak terlalu serius sih.

Makanya, aku angkat topi terhadap orang-orang yang menekuni profesi atlet. Untuk menjadi seorang atlet yang benar-benar ‘jadi’ itu membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Mereka mengorbankan masa kecil mereka di mana umumnya anak-anak pada seusianya masih suka bermain, namun diisi dengan berlatih dan berlatih terus. Sebagian dari mereka bahkan ada yang harus berpisah dari orang tua ketika kanak-kanak untuk mengikuti pembinaan di luar daerah.

Jadwal Badminton di Olimpiade 2012

Yak, bagi para penggemar badminton yang ingin menyaksikan perjuangan jago-jago badminton kita di olimpiade London 2012 yang akan berlangsung mulai tanggal 28 Juli hingga 5 Agustus nanti, monggo disimak jadwal pertandingannya.

Sumber: London 2012

Tanggal Nomor Jadwal Pertandingan (WIB)
28-31 Juli MS, WS, MD, WD, XD (Group stage) 14.30-17.00, 18.30-23.00, 00.30-05.00
1 Agustus MS (Round 16), WS (Round 16), XD (QF), WD (QF) 15.00-17.00, 18.30-21.00, 23.00-01.00
2 Agustus MD (QF), WS (QF), XD (SF), MS (QF), WD (SF) 15.00-17.00, 18.30-21.00, 23.00-01.00
3 Agustus WS (SF), MS (SF), XD (Bronze+Gold) 15.00-18.00, 19.30-23.00
4 Agustus MD (SF), WD (Bronze+Gold), WS (Bronze+Gold) 15.00-18.00, 19.30-23.00
5 Agustus MS (Bronze+Gold), MD (Bronze+Gold) 15.00-18.00, 19.30-23.00

Untuk keterangan lebih lengkap bisa langsung lihat jadwalnya di situs resmi Olimpiade London 2012 di sini. Untuk melihat livescore pertandingan bisa di sini.

Untuk siaran langsungnya sendiri di Indonesia, menurut rencana TVRI akan menayangkan langsung pertandingan-pertandingan Olimpiade enam jam tiap harinya, yakni pukul 15.00-17.00, 21.00-23.00, dan 01.00-03.00 WIB. Namun, sepertinya belum tentu (atau tidak selalu) cabang badminton yang akan ditayangkan. Kalaupun cabang badminton yang ditayangkan, belum tentu juga pemain Indonesia yang sedang bermain yang ditayangkan. Tergantung court mana yang merupakan TV court. 

Akan tetapi, bagi yang punya koneksi internet dewa, bisa mengunjungi situs badmintonlink. Kalau melihat kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, setidaknya ada dua court yang akan mereka sediakan live streaming-nya. Tapi harap maklum apabila kualitas gambar dan scoresheet yang disajikan tidak sebaik di TV.

Sebagai penggemar badminton tentu aku mengharapkan persaingan yang menarik di olimpiade kali ini. Semoga ada kejutan-kejutan terjadi, dan itu dilakukan oleh pemain-pemain Indonesia yang pada olimpiade kali ini sebenarnya tidak begitu diunggulkan. Semoga pula tradisi emas dapat dipertahankan.

Sepenggal Potret Wisuda Juli 2012

Dari 64 wisudawan IF & STI Juli 2012 kemarin, 8 di antaranya adalah angkatan 2007 dan 2 orang angkatan 2006. Sisanya angkatan 2008. Sebuah angka yang sepi untuk angkatan 2007 & 2006. Yup, bintang wisuda Juli ini — dan juga untuk bulan Oktober (2012) dan April tahun depan — adalah angkatan 2008.

Trust me, menjadi angkatan minoritas yang diwisuda itu sungguh tidak mengenakkan. Aku beruntung masih ada 7 orang teman seangkatan yang diwisuda bersama dengan diriku. Bagaimana dengan angkatan 2006 yang ada? Acara syukuran wisuda (syukwis) himpunan  dan arak-arakan mereka tak ikuti. Aku hanya sempat bertemu dengan kak salah seorang calon wisudawan IF 06 saat acara syukuran wisuda STEI. Itu pun ia datang karena di acara itu akan dibagikan undangan wisuda.

Wisudawan IF 2007 (minus Adi)

Wisudawan IF 2007, minus Adi (photo by Hafid IF’07)

Ketika engkau merasa sepi karena menjadi angkatan minoritas yang diwisuda, kehadiran teman-teman seangkatan yang lain — baik yang belum diwisuda ataupun sudah diwisuda — ke acara syukwis dan arak-arakan sungguh memberikan arti bagi engkau. Oleh karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam aku sungguh berterima kasih kepada teman-teman angkatan 2007 yang telah meluangkan waktunya ke acara syukwis dan arak-arakan ini. Insya Allah, semoga kelak aku juga bisa menghadiri wisudaan teman-teman IF 2007 yang akan datang.

Bersama teman-teman plus kaprodi tercinta (photo by Ario EL'07)

Bersama teman-teman plus kaprodi tercinta (photo by Ario EL’07)

Ada bagusnya juga ya sistem tahun pertama yang menyatukan kuliah mahasiswa-mahasiswa di satu fakultas/sekolah yang sama. Manfaatnya terasa hingga wisudaan :D. Kita masih bisa saling sapa dengan wisudawan seangkatan dari prodi-prodi lain yang sefakultas/sesekolah dengan kita, hehehe. Kita jadi nggak merasa kesepian karena di prodi tetangga, teman-teman seangkatan ternyata banyak juga yang diwisuda :).

Bersama Aryan ET'07 dan Mita EL'07 (Photo by Mita EL'07)

Bersama Aryan ET’07 dan Mita EL’07 (Photo by Mita EL’07)

Seperti yang sudah-sudah, di setiap acara wisudaan ITB hampir selalu ada acara arak-arakan wisudawan oleh himpunan-himpunan mahasiswa jurusan di ITB. Tradisi itu berlanjut juga di wisudaan Juli 2012 ini. Himpunan jurusanku mengusung tema ‘Viva Las Vegas’. Dan angkatan yang mendapatkan kehormatan untuk mempersembahkan performance dalam arak-arakan kali ini ialah angkatan 2011.

Namun, ada perubahan rute arak-arakan yang diambil oleh himpunanku pada arak-arakan kali ini. Rute yang biasanya melintasi sisi barat ITB (melalui GSG-matematika-industri-mesin-penerbangan-sipil-…-labtek V), kali ini diganti melalui tengah kampus (GSG-oktagon-tvst-plaza widya-labtek V). Kalau tidak salah pertimbangan yang diambil adalah masalah waktu. Kami start dari Saraga saja ketika itu sudah pukul 15.30 dan dalam perjalanannya kami tiba di labtek V pukul 17.00 kurang sedikit. Tidak terbayang kalau mengambil rute penuh tadi.

Arak-arakan massa himpunan

Arak-arakan massa himpunan

Arak-arakan wisudawan di Plaza Widya

Arak-arakan wisudawan di Plaza Widya

Di tengah arak-arakan, tak kusangka ternyata aku berjumpa dengan dua orang adik angkatan di KOKESMA dulu yang memberikan bunga. Hiks … hiks … Continue reading

Akhirnya, ‘Sesuatu yang Tertunda’ itu …

Setelah sempat ‘tertunda’ selama hampir 10 bulan, ‘sesuatu’ itu akhirnya terjadi juga hari ini, Sabtu , 14 Juli 2012. Iya, alhamdulillah … akhirnya aku diwisuda juga!! 😀

Sungguh sebuah penantian panjang yang kualami. Ya bagaimana tidak, setahun lalu aku melaksanakan sidang dan euforia akan menjadi sarjana sudah kurasakan. Namun semua berubah ketika negara api menyerang, eh, berubah ketika aku tersangkut satu mata kuliah yang nilainya berubah dari T menjadi E. Itu terjadi karena miskomunikasi antara diriku dengan sang dosen. Akibatnya jumlah SKS-ku tak mencukupi untuk lulus S1. Aku pun terpaksa mengambil kuliah lagi di semester 2 tahun ajaran 2011/2012. Kenapa tidak semester 1-nya? Sebabnya, aku sudah terlanjur mengambil 0 SKS.

Mungkin wisuda ini hanya formalitas bagiku. Namun, walaupun euforia kelulusan ini tak kurasakan, tapi aku sungguh bersyukur akan berakhirnya penantian panjang ini. Sedih juga sih melepas status mahasiswa itu. Oh man … kalau dipikir-pikir banyak juga resolusiku — yang kucanangkan ketika mengawali status mahasiswa — yang belum/tidak tercapai hingga akhir status mahasiswaku ini.

Tapi setidaknya aku tak gamang lagi menjawab pertanyaan “Lagi sibuk apa sekarang?”. Dulu mau menjawab sudah kerja, tapi masih kuliah. Mau menjawab masih kuliah, tapi sudah sidang dan juga sedang bekerja. Ah, jadi harus menjelaskan lagi ke si penanya.

Kalau banyak bilang masa paling indah adalah masa SMA, mungkin itu tepat. Tapi masa menjadi mahasiswa (S1) adalah masa yang tak tergantikan. Memang sukses tidaknya perjalanan hidup ini tidak ditentukan oleh seberapa suksesnya diri ini di S1, tapi di sinilah kita benar-benar ditempa, merasakan manis-pahitnya hidup.

Ya, gelar sarjanaku ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku yang sudah banyak berkorban bagi anaknya, tiada henti mendoakan yang terbaik bagi anaknya siang dan malam, dan yang dengan sabar menantikan kelulusan anaknya ini.

Bersama orang tua tercinta

Bersama orang tua tercinta

Ya Allah … terima kasih atas karunia-Mu ini. Semoga gelar sarjana ini tak menjadi sia-sia. Semoga hamba-Mu ini bisa mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Amin. Bismillah!