Tag Archives: olimpiade

Zona Atung

Nonton Asian Games 2018 di GBK

Tak terasa sudah sepekan Asian Games 2018 berlalu. Alhamdulillah kita patut berbangga karena sebagaimana kita tahu, Indonesia sebagai tuan rumah berhasil meraih kesuksesan, baik secara prestasi maupun penyelenggaraan.

Sukses prestasi karena Indonesia bisa mengakhiri Asian Games di peringkat ke-4 dengan perolehan total medali emas jauh melebihi target. Sukses penyelenggaraan karena secara umum semua event pertandingan dapat terselenggara dengan baik dan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat untuk menyaksikan berbagai pertandingan yang ada. Tak ketinggalan pula, apresiasi tinggi diberikan oleh Komite Olimpiade Asia (OCA) kepada Indonesia.

Dalam multisport event 4 tahunan itu alhamdulillah saya juga mendapat kesempatan untuk turut menjadi saksi sejarah. Pada hari ke-8 Asian Games 2018 yang lalu, saya berangkat dari Bandung menuju Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta untuk ikut menonton Asian Games.

Kala itu sebenarnya saya ingin menyaksikan olahraga favorit saya, yakni badminton. Sayangnya di lokasi tidak dijual tiket on the spot sama sekali. Untungnya masih ada beberapa cabang olahraga lain yang menjual tiket pertandingan hari itu di GBK.

Suasana loket pembelian tiket

Suasana loket pembelian tiket

Saya dan kawan saya akhirnya memutuskan untuk Continue reading

Advertisements

Keterbatasan Tidak Membatasi Diri

Mungkin tak banyak yang mengetahui sejak tanggal 7 September yang lalu — menyusul Olimpiade Rio 2016 — tengah diselenggarakan Paralimpiade Rio 2016. Paralimpiade seperti halnya Olimpiade adalah sebuah event olahraga musim panas 4 tahunan yang mempertandingkan berbagai cabang olahraga, namun diperuntukkan untuk atlet yang memiliki disabilitas. Event ini akan berlangsung hingga tanggal 18 September ini.

Sungguh menginspirasi melihat bagaimana atlet-atlet tersebut bertanding. Keterbatasan yang dimiliki ternyata tidak membatasi semangat juang maupun teknik bertanding mereka. Bahkan dengan keterbatasan itu ternyata membuat mereka bisa memiliki kemampuan yang orang biasa (umumnya) tidak punya.

Seperti yang dipertontonkan atlet tenis meja berkebangsaan Mesir di video di bawah ini. Beliau tidak seberuntung orang pada umumnya yang memiliki dua tangan. Hal tersebut memaksa beliau bermain tenis meja dengan menggenggam raket di mulutnya. Selain itu, beliau juga menggunakan kakinya untuk melempar bola servis. Luar biasa!

Bermain tenis meja dengan mulut, well in the beginning it may sound impossible. Saya yakin kemampuan tersebut tentunya setelah melalui latihan yang berkali-kali. Dan tentunya juga dengan tekad yang luar biasa.

Nobar Olimpiade di Negeri Jiran

Seminggu yang lalu tepat badminton di Olimpiade Rio 2016 tengah memasuki babak-babak yang seru-serunya. Salah satunya adalah pertandingan final ganda campuran yang tepat dilangsungkan pada hari peringatan kemerdekaan negara kita, tanggal 17 Agustus.

Babak final tersebut mempertandingkan pasangan ganda campuran kebanggaan kita, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir melawan ganda campuran negeri jiran Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Kebetulan saat itu saya tengah berada di Kuala Lumpur. Saya pun menonton pertandingan final itu di sana. Saya ikutan nonton bareng di sebuah restoran mamak India muslim. Restoran tersebut memasang 2 layar proyektor, masing-masing di halaman depan dan belakang restoran. Dan juga ada beberapa TV di dalam.

Pengunjung restoran memenuhi kursi-kursi yang disediakan. Karena datang sendiri, saya pun berbagi meja dengan pengunjung yang lain.

Sepanjang pertandingan diri ini rasanya gatal untuk melemparkan kepalan tangan atau berteriak girang setiap poin diraih pasangan kita. Tapi terpaksa saya tahan karena saya pendukung Indonesia sendirian. Apalagi pasangan Malaysia tengah benar-benar dibantai oleh Tontowi/Liliyana malam itu. Penonton lainnya pun lebih banyak Continue reading

Gagal Total di Olimpiade 2012

Sedih juga mendapati kenyataan bahwa badminton pada akhirnya benar-benar gagal total di Olimpiade kali ini. Tak hanya tradisi medali emas yang gagal dipertahankan, pada olimpiade kali ini tak satupun medali diraih pula. Bahkan, salah satu pasangan kita mendapatkan hukuman diskualifikasi dari Olimpiade.

Fix, 2012 harusnya dinobatkan sebagai tahun duka cita bagi dunia badminton Indonesia. Sebelumnya Indonesia telah sukses menodai rekor selalu melaju ke semifinal Piala Thomas, dengan hanya finish di perempat final Piala Thomas 2012 pada bulan Mei yang lalu. Prestasi yang mungkin membanggakan di tahun ini mungkin adalah kembali direbutnya gelar All-England dan Indonesia Open.

Sejatinya aku masih cukup mengapresiasi prestasi ganda campuran walaupun kalah di semifinal olimpiade. Namun, ketidakmampuan untuk bangkit mereka dari keterpurukan, terutama Tontowi Ahmad yang bermain sangat buruk di partai perebutan perunggu melawan Denmark, membuatku sebagai penggemar bulutangkis kecewa.

Tapi mungkin aku sedikit maklum karena melihat beratnya beban yang mereka pikul di olimpiade ini. Tak seperti olimpiade-olimpiade sebelumnya yang target medali emas biasanya dibebankan lebih dari satu wakil, kali ini terlihat sekali beban itu hanya mereka yang memikul. Yang lain? Yang ada hanya harapan dan harapan. Yah, olimpiade kali ini benar-benar mengingatkanku to not expecting more dan be more realistic.

Berharap ada perubahan pembinaan dari PBSI, bahkan kalau perlu perombakan besar-besaran. Ada yang salah di kepengurusan kali ini.

Badminton Gajah

Sebuah skandal badminton baru saja terjadi di Olimpiade London 2012. Yakni, insiden match-fixing dalam partai terakhir penyisihan Grup A Wang Xiaoli/Yu Yang (China, #1) vs dan Kim Ha Na/Jung Kyung Eun (Korea) dan penyisihan Grup B Ha Jung Eun/Kim Min Jung (Korea, #3) vs Greysia Polii/Meiliana Jauhari (Indonesia).

Badminton gajah

Badminton gajah [1]

Disebut match-fixing agak kurang pas juga sih, lebih tepatnya mungkin “bermain untuk sengaja mengalah” atau “match throwing“. Kalau dulu di sepak bola di Piala Tiger 1998 pernah ada insiden “sepak bola gajah” di mana Indonesia sengaja melakukan gol bunuh diri agar kalah dari Thailand, sekarang ada insiden “badminton gajah” di mana para pemainnya sengaja menyangkutkan shuttlecock di net atau tidak dapat mengembalikan bola agar menghasilkan poin untuk lawan.

Bagi penggemar atau pengamat yang sudah lama mengikuti perkembangan badminton tentu mafhum kejadian match-throwing ini bukan yang pertama kali. Tapi hukuman yang baru dijatuhkan kepada pemain yang terlibat — setahu saya selama mengikuti badminton sejak kecil — baru kali ini terjadi. Ya, sangat disesalkan kenapa insiden seperti ini baru ditindak di event sebesar olimpiade.

Selama ini aktor match-throwing itu selalu pemain China. Setiap terjadi duel antar sesama pemain China, tak jarang selalu berakhir dengan WO. Tujuannya? Demi memuluskan langkah rekannya agar tak perlu memeras keringat untuk menghadapi pertandingan berikutnya atau untuk mendongkrak ranking rekan senegaranya.

Namun, sebenarnya itu bukan kehendak pemain juga, melainkan team order. Tak heran jika kebijakan itu sempat menimbulkan kekecewaan juga di kalangan pemainnya. Pindahnya Zhou Mi ke Hongkong, disinyalir karena kekecewaannya setelah diharuskan mengalah atas Zhang Ning di semifinal Olimpiade 2004 karena Zhang Ning dinilai lebih berpeluang mengalahkan Mia Audina di final Olimpiade kala itu.

Makanya kasus di Olimpiade ini sebenarnya tidak mengagetkan. Apalagi dengan sistem round robin seperti sekarang yang memberikan celah untuk memilih lawan. Tapi BWF kali ini terlihat seperti kebakaran jenggot. Selama ini mereka selalu diam ketika kasus seperti ini terjadi di event mereka. Namun kini kasus itu terjadi di event sebesar olimpiade yang jelas-jelas mendapatkan sorotan dari seluruh dunia. Mau tidak mau BWF harus mengeluarkan suatu sanksi untuk menunjukkan kredibilitas mereka!

Kembali ke kronologi kasus kemarin. Semua itu sejatinya tak akan terjadi jika Qian/Zhao tidak kalah dari pasangan Denmark Christinne/Kamilla. Setelah kekalahan mengejutkan itu, di forum BadmintonCentral yang kuikuti, kemudian berkembang opini yang menyebutkan bahwa sangat mungkin ganda putri nomor 1 dunia, Wang/Yu akan sengaja mengalah dari pasangan Korea. Walaupun sudah ada opini seperti itu, kami tak menduga jika China ternyata benar-benar melakukannya. Dan secara terang-terangan pula!

Bagi yang belum sempat menonton videonya, coba deh tonton di link ini. The most awkward moment adalah ketika Pemain Korea melakukan servis dan sengaja menyangkutkan ke net. Namun, Yu Yang meminta servis diulang karena dia menyatakan belum siap menerima servis. Servis kedua yang diulang, lagi-lagi ‘dibuang’ oleh pemain Korea. Wkwkwkk … lelucon macam apa lagi itu :D.

Sedih sekali ketika BWF pada akhirnya tegas terhadap hal-hal seperti ini, namun justru pemain kita ternyata malah ikut-ikutan main kotor. Terlepas dari bantahan mereka yang menyatakan diri bahwa mereka bermain sungguh-sungguh, siapapun yang menonton pertandingan ganda putri Indonesia vs Korea itu pasti bisa menilai bahwa ada yang tak beres pada kedua pasangan itu. Dengan mudahnya bola dipukul keluar, servis menyangkut net, kembalian menyangkut net, dan sebagainya.

Naturally, sebenarnya wajar sih ketika kita diberi pilihan untuk menghadapi lawan yang berat atau lawan yang ringan, kita tentu akan memilih lawan yang ringan. Apalagi sistem yang digunakan oleh BWF di olimpiade kali ini punya banyak celah.

Untuk itu saya mencoba meng-quote salah satu analogi dari seorang member di BadmintonCentral: “Leaving your car unlocked with the keys inside in front of your house is unsafe and stupid, however, when a thief takes it, they should still be treated as a thief.” Poinnya adalah, memang sistem yang diterapkan oleh BWF di olimpiade ini memiliki celah  untuk memilih lawan. Tapi melakukannya, termasuk dengan cara sengaja mengalah dari lawan, tentu tetap tidak bisa dibenarkan, mencederai sportivitas olahraga, merugikan penonton terutama yang telah membayar mahal untuk menonton pertandingan, dan tidak sesuai dengan janji atlet yang diikrarkan saat pembukaan olimpiade.

Sumber gambar:

[1] http://willstrongart.blogspot.com/2010/06/will-strong-and-purple-crayon.html

Jadwal Badminton di Olimpiade 2012

Yak, bagi para penggemar badminton yang ingin menyaksikan perjuangan jago-jago badminton kita di olimpiade London 2012 yang akan berlangsung mulai tanggal 28 Juli hingga 5 Agustus nanti, monggo disimak jadwal pertandingannya.

Sumber: London 2012

Tanggal Nomor Jadwal Pertandingan (WIB)
28-31 Juli MS, WS, MD, WD, XD (Group stage) 14.30-17.00, 18.30-23.00, 00.30-05.00
1 Agustus MS (Round 16), WS (Round 16), XD (QF), WD (QF) 15.00-17.00, 18.30-21.00, 23.00-01.00
2 Agustus MD (QF), WS (QF), XD (SF), MS (QF), WD (SF) 15.00-17.00, 18.30-21.00, 23.00-01.00
3 Agustus WS (SF), MS (SF), XD (Bronze+Gold) 15.00-18.00, 19.30-23.00
4 Agustus MD (SF), WD (Bronze+Gold), WS (Bronze+Gold) 15.00-18.00, 19.30-23.00
5 Agustus MS (Bronze+Gold), MD (Bronze+Gold) 15.00-18.00, 19.30-23.00

Untuk keterangan lebih lengkap bisa langsung lihat jadwalnya di situs resmi Olimpiade London 2012 di sini. Untuk melihat livescore pertandingan bisa di sini.

Untuk siaran langsungnya sendiri di Indonesia, menurut rencana TVRI akan menayangkan langsung pertandingan-pertandingan Olimpiade enam jam tiap harinya, yakni pukul 15.00-17.00, 21.00-23.00, dan 01.00-03.00 WIB. Namun, sepertinya belum tentu (atau tidak selalu) cabang badminton yang akan ditayangkan. Kalaupun cabang badminton yang ditayangkan, belum tentu juga pemain Indonesia yang sedang bermain yang ditayangkan. Tergantung court mana yang merupakan TV court. 

Akan tetapi, bagi yang punya koneksi internet dewa, bisa mengunjungi situs badmintonlink. Kalau melihat kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, setidaknya ada dua court yang akan mereka sediakan live streaming-nya. Tapi harap maklum apabila kualitas gambar dan scoresheet yang disajikan tidak sebaik di TV.

Sebagai penggemar badminton tentu aku mengharapkan persaingan yang menarik di olimpiade kali ini. Semoga ada kejutan-kejutan terjadi, dan itu dilakukan oleh pemain-pemain Indonesia yang pada olimpiade kali ini sebenarnya tidak begitu diunggulkan. Semoga pula tradisi emas dapat dipertahankan.

Bahwa Peluang ‘Emas’ Itu Masih Ada

Sebelumnya aku ucapkan selamat dululah kepada ganda campuran kita Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang baru saja menjuarai turnamen All England Super Series Premier 2012 di Birmingham. Gelar tersebut tentu saja telah menghapus dahaga gelar yang dialami Indonesia di turnamen All England. Terakhir kali Indonesia meraih gelar juara di turnamen badminton tertua di dunia itu adalah 9 tahun yang lalu pada tahun 2003 melalui pasangan ganda putra Candra Wijaya/Sigit Budiarto. Selain itu, gelar tersebut juga merupakan gelar ganda campuran pertama yang diperoleh sejak pasangan Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada tahun 1979.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Namun, boleh dibilang gelar yang diperoleh oleh Tontowi/Liliyana di All England ini karena dibantu faktor keberuntungan. Dua unggulan teratas sektor ganda campuran, Zhang Nan/Zhao Yunlei dan Xu Chen/Ma Jin lebih dahulu gugur oleh lawan yang tak diunggulkan sebelum babak final. Padahal, Tontowi/Liliyana memiliki rekor yang kurang baik bila berhadapan dengan mereka.

Oleh karena itu, benar apabila kita jangan terlalu larut dalam euforia ini. Target utama adalah mempertahankan medali emas di olimpiade London 2012 nanti. IMHO, sebagai penggemar bulutangkis yang juga selalu mengikuti perjalanan pemain-pemain kita di berbagai turnamensepak terjang pemain kita di setiap turnamen, aku melihat masih banyak kekurangan yang dimiliki oleh pasangan ganda campuran kita ini yang dapat dieksploitasi oleh pasangan yang lebih kuat. Di antaranya:

  • Sering lengah ketika sudah unggul di poin-poin kritis. Seringkali Tontowi/Liliyana ini melejit dalam perolehan poin saat permainan. Unggul cukup banyak poin di di atas lawan. Namun, celakanya, ketika lawan bisa menyamakan kedudukan, seringkali mereka kehilangan konsentrasi dan melakukan kesalahan yang tak perlu yang menguntungkan lawan.
  • Pertahanan yang masih lemah. Ya, tak diragukan lagi mereka memiliki daya serang yang cukup mematikan, terutama Tontowi dengan smash tajamnya dan Liliyana dengan penempatan nettingnya yang menyusahkan lawan. Tapi pertahanan mereka tak cukup kuat ketika diserang.

Hahaha, mungkin terkesan abstrak. Tapi wajarlah, aku bukanlah siapa-siapa. Tapi setidaknya itulah yang bisa aku amati dari beberapa kegagalan Tontowi/Liliyana di beberapa turnamen. Sebenarnya ada tambahan satu lagi yakni pola permainan yang sudah terbaca oleh lawan. Tapi mereka — seperti yang diungkapkan mereka — berhasil mengubahnya menjadi lebih variatif ketika berlaga di All England.

Yah, sebagai pecinta bulutangkis Indonesia, tentu aku berharap Indonesia dapat mempertahankan emas di olimpiade nanti. Peluang itu masih ada walaupun kelihatannya lebih berat dibandingkan perhelatan sebelum-sebelumnya. Tentu akan lebih meyakinkan lagi bagi Tontowi/Liliyana apabila mereka berhasil mengalahkan dua ganda campuran terkuat China itu dalam turnamen-turnamen Super Series yang akan datang menjelang olimpiade. Kesempatan itu mungkin akan mereka dapatkan ketika perhelatan turnamen Indonesia Super Series Premier dan Singapore Super Series di bulan Juni.