Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Hujan yang Dinanti Pun Mulai Tiba

Aku tak ingat kapan terakhir kali hujan turun tiba di Bandung. Rasanya sudah lama sekali. Tak hanya Bandung, di berbagai daerah di Indonesia pun juga mengalami hal yang sama. Sungguh kemarau yang cukup panjang.

Jikalau kita mengikuti berita-berita di media massa kita juga akan mendapati bahwa kemarau panjang ini memiliki dua dampak utama yang merugikan, yakni persediaan air yang menipis dan produksi pangan yang menurun. Sungguh beruntung kita yang berada di kota-kota besar ini masih merasakan pasokan air dari PDAM. Namun, keadaan kurang beruntung dirasakan oleh saudara-saudara kita yang berada di daerah.

Di Prambanan, Yogyakarta warga kesulitan air bersih. Di Lebakbarang, Pekalongan malah lebih parah. Akibat debit air sungai yang menyusut, warga di sana tidak dapat menerima pasokan listrik dari pembangkit lisrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di daerah mereka. Dan masih banyak lagi cerita tentang krisis air dan produksi pertanian menurun di negeri ini yang bisa kita temukan di berbagai media massa.

Setelah 3 bulan tak didatangi hujan, pada tanggal 30 Agustus lalu, masyarakat sekitar kawasan Tangkuban Parahu melakukan sholat Istisqo di sekitar kawah Ratu untuk meminta hujan. Subhanallah, keesokan harinya Bandung diguyur hujan. Setelah itu sempat tidak turun hujan lagi selama kurang lebih seminggu. Namun, dalam dua hari terakhir ini alhamdulillah hujan turun lagi.

Di dalam Islam sendiri kita diajarkan untuk selalu mensyukuri hujan yang turun dan berdo’a salah satunya dengan do’a berikut:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعً

“Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat (kebaikan).”

Ya, kita selalu berdoa dan mengharapkan hujan yang turun adalah hujan yang membawa kebaikan bukan musibah seperti badai atau banjir. Tapi tentunya kita harus meyakini bahwasannya setiap tetes air hujan itu merupakan rahmat dari Allah dan semua ketetapan akannya merupakan yang terbaik untuk kita.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Adapun ketika turun hujan lebat, kita bisa membaca doa seperti yang dicontohkan oleh Nabi:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Subhanallah, itulah indahnya Islam. Untuk urusan hujan pun juga ada tuntunan terhadapnya.

Jalan-Jalan ke Kelagian & Kiluan

Setelah terakhir tahun lalu ke Tidung — walaupun sebagian juga ada yang backpacking keliling Asia Tenggara yang aku tidak ikut di dalamnya Maret lalu dan sebagian hiking ke Gunung Gede Juni lalu, kini kami bisa berkumpul lagi dan melakukan trip bersama-sama. Kali ini tujuan kami adalah ke Kelagian & Kiluan, Lampung.

Jumat, 31 Agustus 2012

Rombongan peserta trip kali ini terdiri atas dua orang domisili Bandung dan lima orang domisili Jakarta. Aku dan Kamal berangkat dari Bandung dan berkumpul di Stasiun Gambir, Jakarta bersama empat orang yang lain. Kami bersama-sama menumpang bus DAMRI Jakarta Gambir-Bandar Lampung. Sedangkan satu orang lagi, Adi, memilih untuk pergi pakai cara ngeteng, maksudnya nyambung-nyambung pakai transportasi umum gitu.

Sabtu, 1 September 2012

Rombongan 6 orang tiba lebih dulu di terminal Rajabasa, Bandar Lampung pada pukul 6.30. Sedangkan Adi menyusul tiba sekitar setengah jam kemudian. Untuk perjalanan selama di Lampung, kami menyewa mobil rental. Di rental tersebut sewa mobil diharuskan untuk menggunakan sopir dari mereka.

Sebelum berangkat ke tujuan sesungguhnya, kami mampir sejenak untuk sarapan di pinggir jalan depan Museum Lampung. Sembari sarapan, kami merencanakan itinerary untuk dua hari itu.

Sarapan

Sarapan

Seusai sarapan, kami langsung melaju menuju Pantai Klara. Oh ya, trip leader kami kali ini adalah Adi. Dia yang merencakan dan mengatur agenda kami di Lampung ini. Perjalanan ke Pantai Klara menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam. Kami mampir dahulu di minimarket di kota untuk membeli bekal selama berada di ‘pelosok’ nanti.

Di hari Sabtu itu pantai Klara begitu sepi. Tentang pantainya itu sendiri, kalau boleh dibilang pantai ini sebenarnya ‘biasa-biasa’ saja. Tapi tiba-tiba ada tukang perahu menghampiri. Dia menawarkan jasa untuk mengantarkan ke pulau Kelagian. Tarif yang dia tawarkan Rp15.000 per orang PP. Kami berjumlah 7 orang dan harusnya kena Rp105.000. Setelah mencoba menawar, akhirnya sepakat di angka Rp90.000.

Perjalanan pantai Klara-pulau Kelagian ini memakan waktu skitar 20 menit menggunakan perahu. Sepanjang perjalanan menuju pulau Kelagian itu, tukang perahu itu menceritakan mengenai pulau Kelagian itu yang katanya punya pasir putih nan lembut itu. Selain itu, pulau ini sering dijadikan tempat latihan militer Angkatan Laut (AL). Bahkan, katanya pulau ini seringkali dijadikan sasaran tembak rudal dalam latihan AL yang markasnya berada di pulau seberang. Apabila AL akan melakukan latihan, otomatis pulau ini akan ditutup untuk masyarakat umum sementara waktu.

Menuju pulau Kelagian

Menuju pulau Kelagian

Begitu sampai di Kelagian, hanya ada satu kata di dalam benakku, “Wow!”

Benar yang dikatakan masnya. Pasir pantai di Kelagian ini benar-benar halus dan lembut. Hampir tak ada kerikil atau benda kasar apapun. Berguling-guling di pasir pun juga menyenangkan. Bahkan, si Neo, Luthfi, sama Rizky sampai menguburkan diri di pasir :D. Tampak sekali mereka begitu menikmati ‘luluran’ dengan pasir pantai Kelagian ini.

Menguburkan diri di pasir pantai

Menguburkan diri di pasir pantai

Asyik juga berada di pulau ini. Pasirnya putih, bersih, dan lembut. Suasananya begitu tenang, sepi, tak banyak orang di sana. Bahkan ketika kami ke sana, wisatawan pulau ini hanya rombongan kami dan ada satu rombongan lagi yang hanya mampir sebentar ke pulau ini sebelum lanjut ke spot snorkeling. Sayang euy, di sana kami tidak sempat snorkeling. Baru tahu dari teman setelah pulang dari Lampung kalau di sana itu sebenarnya ada spot snorkeling yang sangat cantik. Bahkan ada ikan ‘nemo’ juga katanya.

Beberapa gubug di Kelagian

Beberapa gubug di Kelagian

Putih dan lembutnya pantai Kelagian

Putih dan lembutnya pantai Kelagian

Puas bermain-main di pulau Kelagian, kami pun beranjak kembali ke pantai Klara. Di pantai Klara itu kami bersih-bersih diri di toilet umum yang terdapat di sana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Teluk Kiluan. Perjalanan dari pantai Klara ke Teluk Kiluan ini memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jaraknya sendiri sekitar 40-an km. Namun, akses menuju ke sana harus melalui jalanan yang berlubang sana-sini. Bahkan, ada Continue reading

Mirip Artis?

[Story 1] Suatu ketika di sebuah warung pulsa dekat kosan.

S (Saya) : “Teh, mau beli pulsa.”
T1 (Teteh penjual pulsa) : “Sok a’ ditulis nomornya.”
S : (lagi menulis nomor HP di kertas)
T1 : “Kok rasanya pernah lihat aa’ di TV. Main di acara apaaa… gitu.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
T2 (teman si teteh jualan pulsa) : “Teh ini ngefans sama mas.”
T1 : “Nggaakk … cuma ngerasa aja pernah lihat si aa’ di TV.”
S : (Pura-pura antusias) “Wah, siapa ya teh artisnya?”
T1 : “Nah itu, saya lupa.”
S : “Pulsanya sudah masuk teh. Makasih ya.”

[Story 2] Suatu ketika di tempat laundry dekat kosan.

S (Saya) : “Assalammu’alaikum.”
T (Teteh pemilik laundry) : “Wa’alaikumsalam. Oh, Dhito ya?”
S : “Iya teh, bener.”
T : (Sambil menghitung laundry-an) “Eh, Dhito kemarin Ramadhan atau lebaran gitu habis main film ya?”
S : (Bingung tiba-tiba ditanya begitu) “Ah, nggak teh. Saya di Ramadhan di Bandung, sama mudik ke Malang.”
T : “Tapi kemarin sempat nonton film ada yang mirip sama Dhito. Saya pikir itu Dhito.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
S : “Ah, teteh bisa aja. Saya mah nggak pernah main film teh, hehehe.”
T : “Bener itu bukan Dhito?” (Dengan nada yang agak memaksa)
S : “Haha, bukan teh, saya jamin.”
S : “Udah teh, gitu aja ya. Saya pamit dulu. Makasih. Assalammu’alaikum.”
T : “Wa’alaikumsalam.”

Pesan Tiket KA Online

Akhirnya aku kesampaian juga menjajal sistem pemesanan tiket kereta api melalui internet. Seminggu yang lalu aku memesan tiket untuk perjalanan balik ke Bandung dari Jogja. Sistemnya ternyata nggak jauh beda dengan sistem e-commerce pada umumnya. Hanya saja karena diriku tak punya kartu kredit, jadinya pembayaran kulakukan melalui ATM. Langkah-langkah pemesanan tiket KA ini kurang lebih sebagai berikut:

1. Buka situs http://kereta-api.co.id

2. Pada kolom “Info Jadwal & Reservasi” pilih stasiun asal, stasiun tujuan, tanggal keberangkatan, dan jumlah calon penumpang (maksimal untuk 4 orang).

Memilih stasiun asal, tujuan, tanggal, dan jumlah calon penumpang

Memilih stasiun asal, tujuan, tanggal, dan jumlah calon penumpang

3. Masukkan kode verifikasi sesuai gambar yang tertera dan klik tombol ‘Tampilkan’.

4. Lalu sistem akan menampilkan halaman daftar perjalanan dan tarif kereta api yang tersedia untuk rute dan tanggal tersebut.

Daftar perjalanan dan tarif kereta

Daftar perjalanan dan tarif kereta

Untuk mengetahui sisa tempat duduk yang tersedia untuk masing-masing kelas, kita bisa meng-hover tombol ‘Booking’. Di sana akan muncul tooltip bertuliskan angka yang menunjukkan sisa tempat duduk tersebut. 5. Klik tombol ‘Booking’ pada jadwal dan kelas kereta yang ingin kita pesan. 6. Sistem akan menampilkan halaman terms agreement. Beri tanda cek pada teks pernyataan dan klik tombol ‘Lanjutkan’.

7. Isi data calon penumpang sesuai dengan kartu identitas yang berlaku. Ingat, data (khususnya nama) yang nantinya akan tertera di tiket harus sesuai dengan data pada kartu identitas. Jangan lupa isikan alamat email yang valid dari pemesan. Pastikan alamat email tersebut valid. Sebab, email ini akan digunakan untuk pengiriman bukti pemesanan tiket. Klik ‘Selanjutnya’ untuk lanjut ke tahap berikutnya.

8. Pilih metode pembayaran. ATM atau kartu kredit. Klik ‘Selanjutnya’ untuk mengkonfirmasi.

9. Begitu proses reservasi selesai, kita akan mendapatkan kode pembayaran yang akan kita jadikan nomor referensi saat melakukan pembayaran baik via ATM maupun kartu kredit. Lembar reservasi ini selain dapat kita cetak langsung saat itu, juga dikirimkan ke email kita dalam format file PDF.

10. Melakukan proses pembayaran melalui alat yang sudah dipilih sebelumnya. Oh iya, perlu diingat, batas waktu pelunasan pembayaran adalah terhitung 3 jam sejak proses reservasi selesai dikonfirmasi. Apabila, pelunasan tidak segera dilakukan, reservasi yang telah dilakukan akan dianggap batal.

11. Untuk pengecekan status pembayaran dapat melalui halaman http://kereta-api.co.id/ibook.html?check=booking atau klik tombol “Check Kode Booking” pada halaman beranda. Masukkan kode pembayaran. Setelah itu, sistem akan menampilkan status pembayaran kita. Selain bisa mengecek melalui halaman tersebut, kita juga akan mendapatkan email konfirmasi status pembayaran yang telah diperbaharui beserta buktinya dalam format PDF. Lembar dalam file PDF inilah yang harus kita cetak untuk ditukarkan dengan tiket kereta yang valid.

Lembar tersebut hukumnya wajib kita bawa saat penukaran. Aku sempat mencoba untuk hanya menunjukkan email yang aku terima dengan HP. Namun, petugas tiket menolaknya. Padahal di beberapai maskapai penerbangan, hal seperti ini biasanya tidak dipermasalahkan.

Kelebihan dari reservasi tiket online ini tentu saja kita tidak perlu keluar rumah atau kantor untuk membeli tiket. Cukup dari komputer kita saja. Sedangkan kekurangannya mungkin ya selain kena charge, siap-siap saja antri lagi saat penukaran tiket di stasiun. Tapi biasanya nggak panjang juga kok antriannya.

Selamat Idul Fitri 1433 H

Lama nggak ngeblog nih. Mumpung masih suasana bulan Syawal, dalam kesempatan ini saya mau mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Semoga amal kita semua selama bulan Ramadhan yang lalu diterima oleh Allah SWT dan kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun yang akan datang.

Mohon maaf pula atas segala khilaf yang pernah saya perbuat. Semoga kita semua selalu diberikan kelimpahan rahmat dan ampunan-Nya.

Berkomentar Tanpa Membaca Dulu?

Sering aku membaca artikel-artikel berita online, entah itu berita politik, sosial, budaya, agama, hiburan, olahraga, dan sebagainya. Tak jarang di beberapa artikel itu telah masuk beberapa komentar dari para pembacanya. Bahkan, tak jarang pula di dalamnya sampai berdebat satu sama lain yang jikalau dikumpulkan bisa menjadi satu atau lebih artikel tersendiri.

Menurutku itu sangat wajar. Setiap orang punya hak beropini, sambil tetap memerhatikan aturan yang ditetapkan oleh moderator atau admin berita. Kadang-kadang malah aku sebagai pembaca malah lebih asyik membaca komentar-komentar pembaca yang lain daripada isi artikelnya itu sendiri :).

Tapi, suatu ketika aku mendapati artikel berita di Yahoo ini, yang komentar-komentar di dalamnya ternyata sangat kontradikitf dengan konten beritanya. Kalau sekedar membaca judul beritanya mungkin bakal nyambung, tapi setelah membaca isi berita dan komentar-komentar di bawahnya, cuma bisa tersenyum-senyum saja.

Suatu ketika aku juga pernah membaca artikel di sini. Aku tahu link berita ini dari tweet akun Twitter portal berita yang bersangkutan. Penasaran dengan judul “Pengurus Bulu Tangkis Ramai-Ramai ke London” dalam tweet tersebut, aku mencoba membuka link berita dan membacanya. Ya Allah … ternyata judulnya menjebak. Secara sekilas, aku berpikir bahwa ‘Pengurus Bulu Tangkis” yang dimaksud adalah pengurus PBSI. Tapi setelah mengunjungi link berita dan membacanya, ternyata yang dimaksud adalah pengurus BAM (PBSI-nya Malaysia). Ini penulisnya sengaja atau bagaimana sih.

Kemudian aku tertarik mengamati mention yang muncul sebagai tanggapan terhadap berita itu. Ternyata sebagian besar follower memiliki persepsi awal yang sama denganku. Mereka mengkritik PBSI melalui mention mereka ke artikel berita itu. Padahal isi beritanya tidak demikian.

Yah, itu mungkin hanya sebagian kecil contoh saja yang kutemukan. Yang bisa kuambil sebagai pertanyaan buat diriku sendiri khususnya, adalah apakah kita sudah sedemikian terlalu reaktifnya — sudah ‘sedemikian’, pakai ‘terlalu’ lagi 😀 — terhadap suatu isu yang muncul, sehingga kita lebih mengedepankan insting atau nafsu kita (entah itu berupa fisik, hujatan, cacian, dsb) untuk merespon isu itu dan tidak mengindahkan nalar lagi (mungkin dengan berusaha menelusuri asal-muasal sumber atau penyebabnya terlebih dahulu).

Tapi, by the way, sepertinya seru juga ya membuat aplikasi semacam sentiment analysis begitu untuk mengamati bagaimana respon pembaca terhadap suatu artikel. Tapi aplikasi ini fokus ke seberapa kontradiktifnya opini ‘pembaca’ (termasuk opini nyampah) terhadap konten berita. Manfaatnya? Kurang tahu juga sih. Tapi setidaknya jadi bisa tahu bagaimana karakter atau budaya berkomentar masyarakat kita di dunia maya.

Sekarang Bisa Pesan Tiket KA Via Internet!

Halaman beranda website PT KAI

Halaman beranda website PT KAI

Tadi siang iseng-iseng buka website PT KAI di http://kereta-api.co.id/. Cukup kaget juga ketika fitur info jadwal KA yang sejak dulu selalu ditaruh di posisi kanan atas situs ternyata sekarang bergandengan dengan kata ‘reservasi’. Di fitur tersebut yang biasanya kita cuma bisa memasukkan opsi tanggal keberangkatan, stasiun asal, dan stasiun tujuan, kini ada tambahan opsi jumlah penumpang dewasa dan anak-anak.

Ya, ternyata sejak 3 Agustus ini PT KAI telah meluncurkan fasilitas internet reservation atau istilah populernya online ticketing. Kabar baik nih bagi pelanggan setia kereta api, terutama yang punya kesibukan tinggi namun punya akses ke internet. Kini mereka tidak perlu susah-susah ke stasiun ataupun agen tiket. Cukup buka internet dari mana saja dan pesan tiket secara online!

Aku sendiri tadi sempat mencoba melakukan pemesanan tiket melalui situs tersebut. Proses reservasi online ini ternyata harus melalui 6 tahap. Pembayarannya dapat dilakukan baik melalui ATM ataupun kartu kredit Visa/Master. Tapi karena aku tidak memesan sungguhan, jadi aku cuma mencoba sampai tahap isi data saja.

Tahapan reservasi online

Tahapan reservasi online

Oh ya, ada sistem session juga lho. Jadi kalau kita melebihi waktu yang disediakan, kita akan di-kick dari proses reservasi yang sedang dijalani, dan harus mengulang dari awal lagi. Ada tambahan lagi, pemesanan online ini ternyata dikenakan charge pelayanan. Charge sebesar Rp7.500,-  dikenakan untuk pembayaran via ATM dan charge sebesar Rp22.500,- dikenakan untuk pembayaran via kartu kredit. Lumayan juga sih charge-nya.

Hmm … karena aku sendiri belum mencoba langsung proses reservasi online ini hingga selesai, jadi aku tak bisa berkomentar lebih lanjut. Selamat mencoba! 🙂