Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Website Penipuan Pengumuman Hadiah

Bukan sekali dua kali sebenarnya aku menerima SMS yang berisikan “Pelanggan Yth. Selamat! Anda bla bla bla…”. Sudah nggak terhitung kayaknya. Biasanya langsung aku abaikan saja SMS seperti itu. Dari nomor pengirimnya yang menggunakan nomor handphone biasa, bukan menggunakan nomor premium (nomor yang cuma terdiri dari beberapa digit angka, semacam 6868, 4444, dsb), sudah ketahuan kalau itu adalah SMS penipuan. Apalagi di dalam SMS disebutkan bahwa untuk info lebih lanjut klik website bla bla bla yang alamatnya pakai domain gratisan semacam webs.com, weebly.com, blogspot.com, dsb.

Beberapa hari yang lalu aku menerima lagi SMS hadiah semacam itu. Entah lagi kesambet apa, tiba-tiba aku merasa penasaran seperti apa sih penampakan website-website penipuan SMS hadiah itu. Alamat website SMS yang kuterima adalah http://pestaundian-mkios.webs.com/.

Foto Direktur Keuangan Semen Gresik yang disalahgunakan oleh website penipuan

Foto Direktur Keuangan Semen Gresik yang disalahgunakan oleh website penipuan

Gilee… niat banget pakai menginformasikan bahwa acara undian berhadiah ini didukung oleh Gubernur DKI Jakarta Pak Jokowi, Pak Kapolri, dan jajaran pejabat lainnya. Terus dipasang sebuah foto yang menyebutkan bahwa dialah direktur marketing dari acara undian berhadiah itu. Pakai ditampilkan hasil scan KTP-nya pulak yang menunjukkan data diri sang direktur marketing, yang aku yakin bahwa KTP itu juga palsu. Nama kecamatannya saja tidak terdaftar di kota manapun di DKI Jakarta.

Aku pun yakin bahwa foto yang dipasang sebagai direktur marketing itu adalah palsu. Lantas aku penasaran sebenarnya ini itu foto siapa sih. Kasihan sekali foto beliau dipakai sembarangan untuk penipuan. Googling pakai Google Images, dapat deh link-link website yang menggunakan gambar beliau.

Ya Allah… banyak banget ya website-website penipuan yang menggunakan foto beliau sebagai “penanggung jawab” atau “customer service” dari acara pengumuman hadiah tipu-tipu itu. Ckckck … nggak kreatif amat ya orang-orang ini. Aku curiga jangan-jangan mereka sebenarnya adalah orang yang sama, atau sekomplotan.

Lucunya walaupun foto sama, tapi nama dan jabatannya beda-beda ternyata, haha :P. Ini nih beberapa website tipu-tipu yang kompak menggunakan foto beliau:

Setelah lanjut googling-googling lagi, akhirnya nemu artikel berita yang memasang foto beliau. Beliau masuk di dalam artikel Semen Gresik Pilih Opsi Obligasi Rupiah di situs Kabar Bisnis. Dari artikel tersebut aku baru tahu bahwa ternyata beliau sesungguhnya adalah direktur keuangan PT Semen Gresik Tbk. Dan nama beliau pun jauh, jauh, jauh sekali dari yang disebutkan di website-website penipuan itu, alias nggak ada mirip-miripnya blas. Sepertinya foto bapak terlalu keren, sehingga jadi favorit para penipu itu.

Wah, jadi harus hati-hati nih pasang foto pakai jas dan dasi di dunia maya. Khawatir disalahgunakan juga. 🙂

Berkunjung ke Bandara Kuala Namu

Kuala Namu International Airport (KNIA) telah resmi beroperasi sejak 25 Juli 2013 yang lalu. Bandara yang kabarnya adalah bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta ini memiliki desain dan fasilitas yang modern.

Ini dia beberapa foto suasana di Kuala Namu International Airport (KNIA) yang sempat kupotret sekitar sebulan yang lalu saat transit di sana dalam perjalanan menuju ke/dari Penang. Sayang euy beberapa jepretanku hasilnya blur.

1. Terminal Kedatangan

Arrival Hall

Arrival Hall

Foto di atas kupotret dengan membelakangi pintu keluar terminal kedatangan. Tempat yang ada angka “2”-nya itu adalah information center. Di balik tembok itu ada mesin komputer yang bisa digunakan oleh pengunjung bandara untuk membaca informasi interaktif mengenai Medan dan Sumatera Utara pada umumnya. Eskalator yang tampak di belakang itu adalah eskalator menuju terminal keberangkatan, tepatnya di area check-in.

Foto ini kujepret saat waktu menunjukkan hampir pukul 1 malam. Jadi banyak kios-kios yang sudah tutup. Kios yang berada di samping eskalator itu adalah kios money changer kalau nggak salah. Kios yang tampak di sebelah paling kiri foto adalah sebuah restoran. Sebelah kanan dari tempat aku memotret ini ada Alfamart yang buka 24 jam sepertinya. Saat aku tiba di sana, kios tersebut masih buka dan aku sempat membeli pop mie untuk mengisi perut.

Pintu keluar kedatangan penerbangan internasional berada di sayap kiri dan penerbangan domestik berada di sayap kanan dari arrival hall. Di arrival hall ini ada fasilitas beberapa kursi tunggu, resto-resto, musholla, dan toilet.

Keluar terminal kedatangan

Keluar terminal kedatangan

Dari arrival hall tadi begitu keluar akan tampak stasiun kereta api bandara (airport railink) di depannya. Bagus banget penataan lokasinya. Jadi buat Anda yang baru pertama kali datang ke bandara tidak perlu bingung mencari di mana stasiun berada. Di sebelah kanan pintu terminal kedatangan ini juga tersedia bus-bus DAMRI yang juga bisa menjadi alternatif pilihan untuk melanjutkan perjalanan ke kota.

Karena aku cuma transit saja di sini, jadi aku langsung jalan menuju ke terminal keberangkatan. Pada foto di atas terlihat eskalator di sebelah kiri itu kan. Itu adalah eskalator menuju ke lantai dua. Terminal keberangkatan ada di lantai tiga. Dari lantai dua ke lantai tiga ada eskalator lagi. Selain eskalator, dari arrival hall juga tersedia lift yang bisa digunakan untuk sampai ke lantai tiga.

Hotel transit

Hotel transit

Di lantai dua ada apa? Sewaktu aku ke sana, yang terlihat hanyalah penunjuk arah yang menyebutkan “hotel transit” dan “toilet”. Selain itu, aku tidak tahu. Hotel transitnya sendiri belum jadi saat itu. Biasanya hotel transit di bandara ini model hotel budget seperti Hotel Ibis yang ada di Bandar Juanda Surabaya.

2. Terminal Keberangkatan

Setelah naik eskalator dari terminal kedatangan itu hingga ke lantai tiga, kita akan mendapati selasar terminal keberangkatan. Begitu keluar dari eskalator kita juga akan melihat bagian atap dari bangunan stasiun bandara Kuala Namu.

Selasar Terminal Keberangkatan

Selasar Terminal Keberangkatan

Di selasar terminal keberangkatan ini ada beberapa bangku yang tersedia. Beberapa orang yang menginap di bandara kebanyakan memanfaatkan bangku-bangku tersebut untuk tiduran. Di selasar ini juga tersedia troli-troli yang bisa digunakan langsung oleh para calon penumpang.

Selasar terminal keberangkatan

Selasar terminal keberangkatan

3. Check-in Area

Masuk ke dalam bandara dari pintu terminal keberangkatan, kita akan langsung berada di sebuah ruangan check-in yang sangat luas. Konter-konter check-in di sana terbagi ke dalam 4 banjar (A-D). Nggak perlu bingung di konter mana kita akan check-in. Kita bisa mencari tahu di konter mana kita harus check-in melalui layar TV informasi yang tersedia di bandara. Tinggal cari konter check-in yang melayani sesuai nomor penerbangan kita.

Check-In Area A

Check-In Area A

Check-in Area B

Check-in Area B

Bagusnya area check-in di Bandara Kuala Namu ini adalah diterapkannya sistem check-in terbuka. Para pengantar boleh memasuki area ini. Hal ini memberikan kesempatan bagi para penumpang yang hendak bepergian untuk memiliki waktu lebih lama untuk bersama keluarga atau rekan-rekan yang mengantarnya. Mungkin bisa sambil ngopi-ngopi atau makan bersama di kafe/resto dalam bandara. Calon penumpang baru benar-benar harus berpisah dari sang pengantar ketika akan memasuki boarding lounge.

Selain check-in terbuka, check-in di Kuala Namu ini juga menerapkan teknologi yang disebut dengan Baggage Handling System (BHS), alias sistem penanganan bagasi otomatis. Katanya dengan sistem ini kemungkinan bagasi untuk tertukar dengan penerbangan lain hampir nihil. Hmm… aku sendiri kurang tahu pasti sih bagaimana cara kerjanya. Tapi kalau melihat “wujud”-nya yang berupa rel — terletak di belakang setiap konter check-in, sepertinya dengan sistem tersebut, bagasi penumpang bisa dihantarkan secara otomatis ke suatu tempat atau mobil yang khusus untuk menampung bagasi penerbangan tertentu.

4. Boarding Lounge

Dari area check-in menuju boarding lounge kita harus melalui palang pintu otomatis terlebih dahulu. Untuk melewatinya, kita cukup menscan barcode airport tax (bukan barcode tiket pesawat) ke palang pintu tersebut. Di sini sepertinya banyak calon penumpang yang belum mengerti. Maklum, sepertinya ini memang baru pertama kali diterapkan di bandara di Indonesia. Ada beberapa petugas yang berada di dekat palang pintu yang siap membantu para calon penumpang yang kesusahan. Yah, lama-lama pasti juga akan terbiasa sendiri.

Boarding lounge ini dibedakan antara penerbangan domestik dan internasional. Yang penerbangan internasional menempati gate 1-4 (bagian kiri dari gedung) dan penerbangan domestik menempati gate 5-12 (bagian kanan dari gedung). Untuk menuju gate 1-4 (boarding lounge penerbangan internasional), penumpang harus melalui petugas imigrasi terlebih dahulu. Baru kemudian melalui security screening, sebelum akhirnya masuk ke dalam boarding lounge. Oh ya, baru sadar proses pemindaian atau screening di Kuala Namu ini, baik untuk penerbangan internasional maupun domestik, ternyata hanya dilakukan sekali. Yakni saat akan memasuki boarding lounge saja. Enak ya.

Boarding lounge

Boarding lounge

Penampilan interior boarding lounge Bandara Kuala Namu ini sungguh elegan. Kesannya lux banget. Tidak dibedakan antara ruang tunggu internasional dan domestik. Alasnya pakai karpet warna merah yang memiliki harmonisasi perpaduan serasi dengan kombinasi warna merah maroon-putih bangku-bangku di ruang tunggu situ. Begitu pula dengan dindingnya yang terdiri atas kaca bening dan juga tembok dengan desain motif berwarna sama (kombinasi merah maroon-putih).

Sayangnya di boarding lounge ini hanya sedikit sekali tersedia colokan listrik untuk penumpang. Aku hanya menemukan satu ketika menunggu di ruang tunggu gate 2. Kekurangan lainnya adalah toilet yang berada di luar boarding lounge. Untuk ke sana, kita harus keluar melalui pintu screening X-ray tadi. Begitu kembali, mau nggak mau kita harus di-screening lagi.

Dari boarding lounge untuk menuju ke dalam pesawat, cukup enak. Kita tinggal menyusuri koridor dan garbarata lalu tiba-tiba sudah berada di dalam pesawat.

———–

Well, pembangunan Bandara Kuala Namu ini masih belum berhenti. Kabarnya Bandara Kuala Namu ini akan dipersiapkan sebagai bandara hub penerbangan internasional untuk regional Kualanamu akan menjadi bandara hub penerbangan internasional untuk regional Asia Tenggara. Selama ini peran bandara hub di Asia Tenggara lebih banyak dijalankan oleh Bandara Changi di Singapura. Jika Kuala Namu berhasil menggeser peran Bandara Changi tersebut, tentunya akan menjadi kabar bahagia bagi Indonesia karena akan memberikan tambahan yang sangat besar bagi devisa negara. Semoga saja!

Selamat Jalan Nelson Mandela!

Kamis malam kemarin (5/12) waktu setempat, atau Jumat dini hari waktu Indonesia, dunia telah kehilangan seorang tokoh inspirasi hampir seluruh penduduk dunia ini. Dialah Nelson Mandela, presiden pertama kulit hitam di Afrika Selatan. Perjuangannya menolak praktik kolonial dan apartheid, walaupun gara-gara hal tersebut ia sampai beberapa kali dipenjara, telah mendapatkan pengakuan dan menjadi inspirasi dunia internasional.

Aku sendiri mengetahui Nelson Mandela ketika masih SD kelas 6 dari pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Guruku saat itu bercerita bahwa Nelson Mandela ini adalah seorang pahlawan dunia. Nelson Mandela mampu mengakhiri politik Apartheid di Afrika Selatan. Keberhasilannya tersebut telah membuka mata dunia bahwa memang tak sepantasnya praktik diskriminasi ras dilakukan dalam kehidupan bersosial dan bernegara.

Somehow aku tiba-tiba kepikiran, kalau tidak ada perjuangan Nelson Mandela (dan Frederik Willem de Klerk, presiden kulit putih terakhir Afrika Selatan yang mengakhiri apartheid) dkk, bisa jadi nasib Afrika Selatan akan seperti Amerika Serikat dan Australia di mana orang-orang kulit putih melakukan diskriminasi terhadap penduduk pribuminya (masing-masing suku Indian dan suku Aborigin). Kalau tidak ada perjuangan tersebut, bisa jadi penduduk Afrika Selatan sekarang benar-benar merupakan orang-orang kulit putih dan penduduk aslinya hanya menjadi objek turisme saja.

Terlepas dari itu, melihat sosok Nelson Mandela ini, aku selalu merasa bahwa Nelson Mandela ini orang Indonesia. Di koran-koran dan internet semua fotonya selalu mengenakan batik! Kabarnya beliau menyukai batik Indonesia setelah diberikan kado baju batik dalam kunjungannya ke Indonesia. Sejak itu beliau selalu mengenakan batik di setiap kegiatan formalnya, termasuk ke sidang umum PBB.

Nelson Mandela, mungkin kini kau memang telah tiada. Kepergianmu telah meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia ini. Namun, nama dan jasa-jasamu tentu akan terus terekam dalam sejarah peradaban manusia di dunia ini. Selamat jalan Nelson Mandela!

PKN

Beberapa hari belakangan ini sedang heboh isu PKN yang dilangsungkan selama satu minggu tanggal 1-7 Desember 2013 ini. Apa itu PKN? PKN adalah singkatan dari Pekan Kuliner Kondom Nasional. Penyelenggaraan PKN yang digagas oleh Kementrian Kesehatan ini dilakukan bertepatan dengan hari AIDS sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember.

Wew, cara penanganan isu AIDS zaman sekarang dibandingkan dengan zaman saat aku masih SMP/SMA sudah jauh berbeda ternyata. Dulu seminar edukasi penyakit HIV/AIDS yang aku ikuti saat SMP sangat menekankan kepada kami para pelajar agar menghindari pergaulan bebas yang dapat menghantarkan perilaku seperti free sex, penggunaan narkoba, tato dan tindik karena berisiko tinggi dalam penularan virus HIV, Hepatitis B, atau Hepatitis C. Nah, kalau sekarang ternyata metode “edukasi” HIV/AIDS ke masyarakat itu adalah dengan meluncurkan program Pekan Kondom Nasional. Bahkan salah satu kegiatannya adalah cara meluncurkan “Bus Kondom” yang akan berkeliling ke sejumlah tempat nongkrong anak muda (baca beritanya di sini).

Selama sepekan penuh masyarakat (termasuk anak kecil yang masih polos) akan terpapar berita mengenai kondom, kondom, dan kondom. Bahkan sangat mungkin sekali anak-anak kecil yang kebetulan sedang diajak orang tuanya ke mall akan melihat bus kondom itu dan bertanya pada orang tuanya, “Pa, Ma, itu bus apa sih ada gambar cewek (gambar Jupe) pose tiduran gitu? Kondom itu apa yah?” WTH!!!

Parahnya, di UGM sejumlah orang dari bus kondom (walaupun katanya mangkalnya di luar kampus, bukan di dalam) itu sampai membagi-bagikan kondom gratis kepada orang-orang yang sedang lewat saat itu. Bahkan, sampai ada yang berpesan kondomnya dapat digunakan sama pacar (baca beritanya di sini). Subhanallah!!

Mungkin aku tak cukup pintar untuk memahami logika yang digunakan oleh Kementerian Kesehatan negeriku ini, khususnya sang Ibu Menteri Kesehatan, dalam kampanye HIV/AIDS. Mungkin menurut mereka kampanye gunakan kondom sebelum berhubungan seks mungkin lebih efektif dibandingkan kampanye hindari seks pra nikah dan perselingkuhan karena berisiko tertular penyakit HIV/AIDS. Sudah jelas Pekan Kondom Nasional ini menyasar pada pelaku hubungan seks bebas (baca: seks pra nikah, selingkuh, prostitusi) — karena nggak mungkin kan suami-istri yang disuruh pakai kondom agar tak tertular AIDS — sehingga logika yang kutangkap adalah pemerintah menganggap perilaku seks bebas tersebut adalah biasa karena “mendukung”-nya dengan mengingatkan pelakunya agar jangan lupa menggunakan pengaman (baca: kondom).

Pemikiran bodohku mengatakan kebijakan itu bisa muncul karena kehidupan kita yang semakin sekuler, mengenyampingkan ajaran agama (karena dianggap tradisional), dan mengikuti budaya barat yang liberal. Karena seks bebas ini masuk ranah pribadi, pemerintah merasa tidak berhak melarang-larangnya, sehingga yang bisa dilakukan pemerintah cuma bisa menghimbau saja agar jangan lupa pakai pengaman agar tak sampai terkena HIV/AIDS. Padahal di dalam Al-Qur’an (Al Isra 17:32) bahkan Al-Kitab (Ibrani 13:4) sekalipun manusia sudah diperintahkan untuk menjauhi zina.

Oleh karena itu, logika bodohku berkata kampanye menghindari zina dalam rangka untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS jauh lebih substantif ketimbang kampanye kondom itu. Bahkan, kampanye kondom justru meningkatkan peluang (baca: bahasa halus dari mengajak) orang melakukan “seks berisiko”.

Oh ya bodohnya aku, baru ingat beberapa waktu yang lalu sempat beredar juga berita mengenai praktek “seks kilat” di gedung DPR (baca beritanya di sini). Sang ketuanya sendiri telah mengakui adanya praktek seperti itu dan cuma bisa menghimbau agar tidak ada lagi kondom bekas pakai yang ditemukan di tempat sampah gedung DPR. Oh pantes…

Setelah kegiatan Pekan Kondom Nasional dengan “bus kondom”-nya yang kontroversial itu usai, jangan terkejut bila kelak akan kita dapati pemandangan kondom dijual pedagang asongan di tempat-tempat umum seperti mereka menjual rokok sekarang. Ngerilah. Na’udzubillah. Tanda-tanda kehidupan manusia sekarang akan menuju kondisi yang disebutkan di dalam hadits di bawah ini sepertinya sudah semakin tampak:

Dari Abdullah bin Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai orang-orang bersetubuh di jalan-jalan seperti layaknya keledai.” Aku (Ibnu ‘Umar) berkata, “Apa betul ini terjadi?”. Beliau lantas menjawab, “Iya, ini sungguh akan terjadi”. (HR. Ibnu Hibban, Hakim, Bazzar, dan Thabrani)[1]

Sepertinya kita tak perlu menunggu lama untuk hal tersebut terjadi. Karena di belahan dunia barat sana, tepatnya di Swiss, hal itu sudah terjadi. Mereka menyediakan bilik-bilik untuk bercinta di pinggir jalan!! Mereka menyebutnya dengan nama “sex drive-in” (baca beritanya di sini). Kalau lapar dan buru-buru, kita bisa memanfaatkan fasilitas “drive-thru” di beberapa restoran. Nah sekarang kalau tiba-tiba “kebelet” dan buru-buru, jangan khawatir ada fasilitas “sex drive-in” ini. Subhanallah… *speechless*

Bilik-bilik cinta di Swiss

“Bilik-bilik cinta” di Swiss

Dunia, oh dunia… umurmu sudah tak panjang lagi.

Solo Backpacking ke Penang (Bagian 3-Tamat): Keliling Georgetown di Hari ke-2

Minggu, 17 November

Pagi itu pukul 6 aku sudah bangun tidur. Waktu Subuh di Penang saat itu sekitar pukul 5.50. Aku langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan sholat shubuh di kamar.

Kamar ketika itu lagi sepi. Di kamar hanya ada aku dan satu orang lagi yang masih tidur. Sementara empat orang lainnya masih belum pulang sejak tengah malam karena mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon.

Setelah sholat subuh, aku mandi. Kemudian killing time dengan memanfaatkan fasilitas di penginapan seperti pijat kaki refleksi dan browsing menggunakan PC yang disediakan di sana sembari menunggu baterai HP penuh di-charged.

Niatnya pagi itu mau keluar sarapan. Tapi penjual makanan-makanan di dekat penginapan kebanyakan orang China, yang masakannya kebanyakan mengandung babi. Mau cari nasi kandar atau lemak, artinya harus berjalan jauh. Ya sudah akhirnya kuputuskan sekalian saja cari makannya sesudah check-out agak siangan.

Menjelang pukul 9 pagi aku check-out dari penginapan. Aku sudah menyusun rencana hari itu bakal kuhabiskan untuk mengeksplor objek-objek menarik di Georgetown. Aku memulai dengan berjalan kaki menyusurui Jalan Pintal Tali lalu belok ke arah Jalan Lebuh Chulia, lalu belok lagi ke Jalan Lebuh Leith. Oh ya, di Jalan Lebuh Chulia ini ternyata banyak loh tempat yang menyewakan sepeda, sepeda motor, ataupun mobil.

Rute jalan kaki ane menyusuri Georgetown

Rute jalan kakiku menyusuri Georgetown

Dari Lebuh Leith Hingga ke Lebuh Farquhar

Place of interest di Lebuh Leith ini antara lain The Chocolate Boutique dan Cheong Fatt Tze Mansion yang terletak di paling ujung Jalan Lebuh Leith. Ada juga pujasera di sana yang kebanyakan menyajikan masakan China. Soal kehalalannya aku kurang begitu tahu karena aku sendiri tak mampir ke sana.

Di The Chocolate Boutique dan Cheoung Fatt Tze Mansion itu aku hanya numpang lewat saja. Untuk The Chocolate Boutique, aku nggak ke sana karena memang aku nggak niat untuk beli cokelat. Nggak enak kalau masuk, tapi nggak beli sesuatu. Nah, kalau Cheoung Fatt Tze Mansion ini, aku nggak ke sana karena di sana terpampang mengenai waktu tour yang hanya dilakukan pukul 11.00, 13.30, dan 15.00. Sedangkan saat itu waktu masih menunjukkan sekitar pukul 9.30. Untuk mengikuti tur itu, pengunjung dikenakan biaya RM 12. Kurang tahu sih apakah bisa masuk begitu saja tanpa mengikuti tur. Lagi sepi sih soalnya waktu aku ke sana.

Dari Jalan Lebuh Leith aku belok ke kanan ke Jalan Sultan Ahmad Shah. Btw, aku baru nyadar kalau jalan kaki lurus menyeberangi perempatan akan ketemu Penang Museum & Art Gallery. Sayang euy aku nggak sempat ke sana. Dari Jalan Sultan Ahmad Shah itu aku berjalan kaki lurus masuk ke Jalan Lebuh Farquhar.

Beberapa place of interest di sini antara lain Muzium Negeri (State Museum), Mahkamah Tinggi Georgetown, dan St George’s Church. Sayang sekali ketika aku ke sana Muzium Negeri ini sedang dalam renovasi. Di seberang Muzium Negeri itu berdiri bangunan Mahkamah Tinggi Georgetown. Bukan tempat wisata tentunya. Namun, bangunan Mahkamah Tinggi ini memiliki arsitektur yang menarik, khas Eropa zaman dulu banget. Sedangkan St George’s Church yang berada di pojok Jalan Lebuh Farquhar dan Jalan Masjid Kapitan Keling ini masuk kategori heritage landmark populer di Penang. Beberapa turis bule kulihat berkunjung ke dalam gereja yang katanya gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara ini. Karena alasan pribadi, aku cuma melihatnya dari luar saja.

Oh ya, di depan St George’s Church ini ada papan penunjuk jalan ke tempat-tempat tourist attraction terdekat. Ini dia yang aku suka dari Georgetown. Kelihatan sekali pemerintah setempat mengelola dengan serius pariwisata di kawasan Georgetown yang ‘jualan’-nya memang berupa landmark-landmark heritage yang memang sudah mendapatkan pengakuan oleh UNESCO. Selain papan penunjuk jalan itu, mereka juga menyediakan shuttle bus gratis yang tentu semakin memanjakan para turis di Georgetown ini.

Ke Esplanade

Dari St. George’s Church itu aku menyeberang jalan ke arah bangunan Mahkamah Tinggi, lalu berjalan hingga pertigaan Lebuh Light. Di pertigaan aku belok ke kanan dan tak jauh dari situ akan kelihatan sebuah padang rumput yang sangat luas, mirip Continue reading

Solo Backpacking ke Penang (Bagian 2): Keliling dengan Rapid Penang di Hari ke-1

Sabtu, 16 November

Kira-kira pukul 8.15 aku menjejakkan kaki di Penang International Airport. Cepet banget penerbangan Medan-Penang. Nggak ada satu jam kayaknya.

Setelah menyelesaikan urusan imgrasi, aku bingung mau ngapain dan ke mana selanjutnya. Aku duduk-duduk nggak jelas di bangku selasar terminal kedatangan mengamati kondisi sekitar. Pertama yang di benakku adalah mencari counter HP yang menjual kartu perdana DiGi, operator seluler favorit kalau lagi di Malaysia.

Aku butuh operator lokal untuk dapat akses internet. Kebutuhan akses internet ini lumayan vital buatku, terutama untuk membuka aplikasi Google Maps dan browsing. Sayang di bandara cuma ada counter Celcom saja. Karena aku nggak mau berspekulasi pakai kartu operator seluler yang belum kuketahui tarifnya, terutama paket internetnya, jadi aku nggak beli itu kartu Celcom.

Setelah itu, aku mencari lokasi halte bus Rapid Penang di bandara ini. Lokasinya ternyata sangat dekat. Persis di seberang terminal kedatangan. Kebetulan pas banget ketika aku ke sana, ada bus 401E yang datang. Eitts, jangan sampai salah bus ya. Walaupun sama-sama bus 401E, pastikan dulu tujuan bus tersebut apakah ke Balik Pulau atau Jetty. Gampang saja sih, kalau di busnya tertulis (digital) Balik Pulau-Jetty, berarti bus itu mau ke Jetty. Begitu pula sebaliknya kalau tulisannya Jetty-Balik Pulau, berarti tujuannya ke Balik Pulau. Sebab, baik yang tujuan Balik Pulau maupun Jetty, keduanya sama-sama singgah di halte yang sama di bandara ini. 

Tips: Pelajari rute bus-bus Rapid Penang di sini atau di sini

Ke Queensbay Mall

Tujuan pertamaku adalah ke Queensbay Mall. Untuk ke sana aku naik bus 401E jurusan Jetty. Ongkos bus bandara-Queensbay Mall ini RM 2. Ongkos bus Rapid Penang ini bervariasi, tergantung jarak tujuan. Jadi begitu naik, kita sebutkan tujuan kita ke mana, nanti sang sopir akan menyebutkan berapa ongkosnya. Setelah itu uang kita masukkan ke dalam box yang ada di samping sopir, dan si sopir akan memberikan karcis sesuai dengan ongkos yang disebutkan. Dari yang kuamati, sepertinya kalau kita sudah tahu ongkosnya, bisa saja sih sebenarnya langsung bayar ke sopirnya tanpa ngasih tahu tujuan kita dulu. Di sini modal kejujuran benar-benar diperlukan. Oh ya, usahakan selalu menggunakan uang pas ketika membayar. Sebab, jarang sekali sopir menyediakan kembalian, soalnya uang yang dibayarkan langsung dimasukkan ke dalam box.

Ada apa di Queensbay Mall? Tujuanku ke sana adalah untuk mengambil race pack PBIM (Penang Bridge International Marathon). Walaupun batal lari, seenggaknya race pack harus tetap diambillah, haha.

Sepertinya Queensbay Mall ini adalah mall terbesar di Pulau Penang ini. Halaman parkirnya luasnya nggak kalah dengan halaman parkir stadion, haha. Di halaman parkir itu sudah berjejer-jejer stand-stand sponsor acara PBIM, termasuk sekretariat untuk pengambilan race pack. Di seberang Queensbay Mall ini pun juga telah dipasang gate start dan finish perlombaan.

Oh ya, dari depan Queensbay Mall ini kita bisa melihat pemandangan Penang Bridge di kejauhan. Kalau mau melihat lebih dekat lagi, kita bisa menyeberang jalan di depan Queensbay Mall dan berjalan kaki ke arah utara. Sekitar beberapa ratus meter akan ada semacam taman untuk pikinik gitu. Nah, view Penang Bridge akan terlihat lebih jelas dari sana. Sayang waktu itu aku tak sempat ke sana karena aku sendiri baru tahu belakangan ketika naik bus 401E balik ke bandara.

Ke Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR)

Dari Queensbay Mall aku berencana untuk langsung menuju ke Kompleks Tun Abdul Razak atau yang dikenal dengan singkatan KOMTAR saja. Di sanalah terletak terminal sentral kota Georgetown ini. Penginapanku juga hanya berjarak sekitar 500 m dari sana.

Lama juga ternyata menunggu bus 401E yang ke sana. Oh ya, sebelum naik, lagi-lagi perlu diperhatikan ke mana tujuan bus 401E yang transit di halte Queensbay Mall ini. Ada yang ke Balik Pulau, dan ada yang ke Jetty. Kalau hendak ke KOMTAR, berarti kita ambil jurusan Jetty.

Nah, saat menunggu bus 401E ini, aku melihat ada bus dengan nomor yang lain yang ternyata juga lewat KOMTAR. Cuma aku lupa nomornya. Wih… jalurnya panjang banget. Kayaknya dia memang nggak straight langsung ke KOMTAR, tapi muter-muter dulu. Nggak heran jika ongkosnya sampai RM 2,70.

Oh ya, saat naik bus Rapid Penang ini jangan harap kita bakal mendengar sang sopir bus berteriak-teriak menyebutkan nama halte atau daerah tempat bus akan berhenti seperti yang jamak kita temui di Indonesia. Kita harus proaktif tanya sama penumpang lain jika memang tak tahu di mana halte tempat kita berhenti. Aku sempat kebablasan ketika naik bus itu karena dengan pedenya, yang dimaksud lewat KOMTAR itu adalah bus masuk ke sebuah terminal bus seperti foto-foto yang kulihat di internet.

Well, ternyata tak semua bus yang menyebutkan KOMTAR sebagai rute yang dilaluinya berarti akan masuk ke dalam terminal. Sebab KOMTAR itu sesungguhnya adalah kompleks area bisnis, mulai dari pertokoan, restoran, perkantoran, dengan terminal bus di dalamnya juga. Dan dari sisi luar KOMTAR, terminal bus itu tak kelihatan. Karena itulah, sekali lagi, tak ada salahnya untuk bertanya atau meminta penumpang di sebelah Anda, atau sopir bus, untuk memberi tahu Anda ketika sudah tiba di tujuan. Aku sendiri kemudian diminta sang sopir untuk menambah RM 1.70 karena kebablasan ini, dan dipersilakan untuk tetap di dalam bus yang akan mengambil rute balik melalui terminal KOMTAR.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 ketika aku sampai di terminal KOMTAR. Perut sudah keroncongan. Aku ingat bahwa aku belum makan dari siang hari sebelumnya. Akhirnya aku mampir ke KFC di kompleks pertokoan di lantai atas terminal KOMTAR ini. Setelah makan, aku mampir membeli kartu perdana DiGi di salah satu counter DiGi yang juga masih di area pertokoan yang sama itu. Asyik akhirnya bisa akses internet.

Akses Internet Gratis

Oh ya, bicara mengenai akses internet, sebenarnya di Penang ini ada akses internet gratis via hotspot bernama “Penang Free Wifi“. Well, memang tidak semua tempat mendapatkan coverage wifi gratis ini. Tapi di beberapa tempat seperti KOMTAR, Esplanade, Fort Cornwellis, sinyal wifi ini cukup bagus. Namun, untuk dapat menggunakan akses internet tersebut kita diwajibkan untuk registrasi terlebih dahulu melalui web Penang Free Wifi (nanti akan di-redirect ke web begitu terhubung ke ke hotspot tersebut). Tenang saja, registrasi tersebut tak dipungut biaya kok.

Check-in Penginapan

Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, dalam selama di Penang ini aku stay di hostel Kimberley House. Sebenarnya di aturannya tertulis check-in baru bisa dilakukan pukul 14.00 waktu setempat (1 jam lebih awal daripada WIB). Sedangkan saat itu jam masih menunjukkan pukul 12.30.

Tapi aku nekat saja, toh seandanyai masih belum check-in aku bisa Continue reading

Solo Backpacking ke Penang (Bagian 1): Pesan Tiket Pesawat & Penginapan

Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, plan awal perjalanan ke Penang ini sebenarnya adalah untuk mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon. Namun, karena pinggang yang masih mengalami cedera, rencana tersebut batal dan agenda selama di Penang pun berganti, yakni hanya jalan-jalan saja selama di sana, hehe. 😀

Nah, catatan dari perjalanan kemarin rencananya akan aku bagi ke dalam 3 artikel. Artikel pertama, atau artikel yang sedang Anda baca ini, akan kutuliskan sedikit cerita mengenai hunting tiket, booking penginapan, dan bagaimana perjalanan dari Bandung hingga tiba di Penang International Airport. Artikel kedua akan menceritakan mengenai ‘petualangan’ hari pertama di Penang, dan artikel ketiga sudah barang tentu akan menceritakan mengenai petualangan di hari kedua atau terakhir di Penang.

Ambil Penerbangan Rute Bandung-Medan-Penang PP

Agak bingung sebenarnya aku dalam merencanakan keberangkatan dan kepulangan Bandung-Penang PP ini. Pasalnya, tak ada penerbangan langsung Bandung-Penang. Sedangkan penerbangan langsung dari Jakarta (yang terjangkau) cuma ada AirAsia pukul 17.45. Itupun sebenarnya masih termasuk mahal ongkosnya, yakni sudah kisaran 1 juta rupah saat aku cek. Selain itu, kalau aku mengambil penerbangan jam segitu, artinya aku sudah harus cabut 6 jam sebelumnya dari Bandung. Sebuah pilihan yang sulit, karena dengan begitu artinya aku harus ambil cuti atau kerja cuma setengah hari saja.

Beruntunglah ada situs seperti Traveloka (bukan promosi, hehe). Dengan mesin pencarinya aku bisa mendapatkan daftar kombinasi penerbangan yang dari sisi schedule dan harga oke buatku. Dari daftar tersebut aku memperoleh informasi bahwa rute penerbangan AirAsia Bandung-Medan-Penang adalah yang paling oke dari sisi schedule dan harganya pun paling murah di antara opsi yang lain. Bahkan opsi tersebut jauh lebih murah daripada penerbangan langsung AirAsia dari Jakarta tadi. Selisih sampai hampir 400 ribu rupiah. Apalagi rute AirAsia Bandung-Medan dan Medan-Penang itu lagi promo saat itu. Medan-Penang bahkan cuma Rp105.000!

Selain karena harga, sebenarnya faktor yang paling meyakinkanku untuk memilih opsi itu (transit di Medan) adalah karena jadwalnya yang bersahabat, tak perlu membuatku untuk izin kerja. Oh ya, ada satu faktor lagi, yakni rasa penasaran untuk melihat kayak bagaimana sih Bandara Kuala Namu yang dibanggakan itu, haha.

Namun, sialnya sekitar 2-3 minggu sebelum hari H keberangkatan, AirAsia menginformasikan bahwa mereka membatalkan penerbangan Bandung-Medan pukul 19.45. Sebagai gantinya, penerbanganku diganti oleh mereka menjadi pukul 8.00. What??!

Sempat terpikir olehku apa aku sekalian mengambil cuti saja ya agar bisa sekalian jalan-jalan di Medan, sambil menunggu penerbangan ke Penang. Sempat bimbang juga sih. Tapi nggak enak ah kalau ambil cuti di minggu hectic gini. Akhirnya, seminggu sebelum hari H aku baru mengkonfirmasi pembatalan kepada AirAsia. Aku mengisi form refund tiket secara online di website AirAsia. Btw, ini kali pertama aku melakukan pembatalan tiket pesawat. Kalau tiket kereta api mah sudah sering, hehe.

Penerbangan Bandung-Medan pun batal. Sebagai gantinya aku memilih penerbangan dengan Lion Air dari Jakarta pukul 21.35. Kupilih karena itu adalah opsi penerbangan paling malam menuju Medan dari Soekarno-Hatta, dan juga harganya nggak jauh beda dengan tiket AirAsia yang kubatalkan itu.

Booking Penginapan

Karena perjalanan ini bakal menjadi pengalaman pertamaku melakukan backpacking sendirian, aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya sejelas mungkin, termasuk penginapan. Online booking adalah cara yang paling mudah. Layanan online booking yang kupilih adalah Agoda, mengingat reputasinya yang sudah cukup populer.

Aku cari-cari penginapan dengan kriteria lokasi yang berada di Georgetown (ibukota Penang), dan sebisa mungkin jaraknya dekat dengan Terminal Bus KOMTAR, terminal pusat bus interchange di Penang, agar akses ke mana-mana mudah. Selain itu, sebisa mungkin tarif kamar per malamnya di bawah IDR 100 ribu.

Ada beberapa hostel yang sesuai dengan kriteriaku. Setelah membaca beberapa testimonial user lain baik di Agoda dan juga TripAdvisor, akhirnya pilihanku jatuh pada Kimberley House. Tipe kamar yang kupilih adalah kamar dengan model dormitory, yang satu kamarnya berisi 3 kasur tingkat. Tarif per malamnya adalah Rp 84.370, sudah termasuk pajak hotel 6% dan service charge 10%.

Untuk pembayarannya, karena aku tidak punya kartu kredit, aku mencoba googling cari jasa agen tour & travel yang bisa bantu booking hotel via Agoda. Sebenarnya bisa saja sih aku numpang kartu kredit milik teman. Tapi nggak enak karena sudah terlalu sering, hehe. Ujungnya aku pun menemukan link agen tour & travel yang melayani jasa booking hotel Agoda.

Sempat ragu-ragu sih jangan-jangan itu agen abal-abal. Setelah komunikasi via email, menurutku jawaban mereka sangat meyakinkan, akhirnya aku pesan melalui agen ini. Dan Alhamdulillah di hari H, semua lancar tanpa masalah. Aku bisa langsung check-in di Kimberley House dengan hanya menunjukkan voucher hotel dari Agoda yang dikirim oleh agen ini beserta pasporku.

Jumat, 15 November

Aku sudah pasrah hari itu jika aku sampai ketinggalan pesawat. Penyebabnya aku ketinggalan travel Xtrans yang akan mengantarkanku ke Cengkareng, yang berangkat dari Bandung pukul 15.30. Asumsi perjalanan Bandung-Jakarta adalah 5 jam (sudah termasuk macet-macetnya), maka itu adalah jadwal terakhir yang paling aman untuk sampai di bandara tepat pada waktunya.

Namun, untungnya aku masih bisa mengejar travel Cititrans yang seharusnya berangkat pukul 15.45, tapi hingga pukul 16.00 masih belum berangkat karena tak ada penumpang saat itu. Karena itu, jadilah aku penumpang satu-satunya yang berangkat dengan Cititrans sore itu. Btw, ini jadi pengalaman pertamaku naik travel sendirian (bersama sopir tentunya).

Alhamdulillah walaupun macet hampir di sepanjang jalan (cuma waktu di tol cipularang yang bisa ngebut buanget), travel bisa sampai di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu sekitar 4,5 jam. Masih ada waktu 45 menit sebelum batas masuk boarding gate.

Malam itu, pesawat Lion Air yang akan kutumpangi mengalami delay sampai 30 menit. Nggak terlalu masalah sih buatku, sebab pesawat ke Penang baru berangkat pukul 06.30 keesokan harinya! Pesawatku sendiri malam itu mendarat di Bandara Kuala Namu menjelang pukul 1 malam.

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Aku benar-benar dibuat terkesan dengan bandara Kuala Namu ini. Yang paling mencolok adalah hall kedatangannya yang super luas, ada eskalator dan lift ke hall keberangkatan, dan di depan pintu keluar hall kedatangan langsung menghadap ke stasiun kereta api bandara. Mungkin detail ceritanya akan kutuliskan di artikel tersendiri. 🙂

Malam itu aku terpaksa menunggu keberangkatan sambil tiduran di bangku di selasar terminal keberangkatan. Kurang cocok nih Kuala Namu untuk para backpacker yang mau numpang nginap di bandara. Bandara Juanda menurutku lebih bagus soal ini karena punya hall khusus untuk tempat tiduran para calon penumpang yang menginap. Tiduran di bangku itu nggak nyaman saudara-saudara. Apalagi selasar terminal keberangkatan ini menghadap ke ruang terbuka, jadi anginnya lumayan kencang. Dingin lagi. Jadi nggak nyenyak tidur malam itu. Tapi lumayan bisa memejamkan mata selama hampir 1,5 jam.