Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia

[Book] Jonan & Evolusi KAI

Terjawab sudah rasa penasaran saya akan perubahan (sangat sangat sangat) positif dalam pelayanan KAI. Membaca buku ini saya jadi mengerti bagaimana permasalahan-permasalahan yang ada di tubuh KAI sebelumnya yang membuat KAI berjalan di tempat, jika tak mau disebut semakin terpuruk seiring berjalannya waktu.

Saya sepakat dengan yang dikatakan Dahlan Iskan, Ignasius Jonan memang kurang waras dan kosro. Sudah enak-enak menjabat sebagai Managing Director Citibank, beliau mau repot-repot ngurus KAI yang tengah terpuruk dan seolah nyaris tak punya harapan untuk berubah menjadi lebih baik. Beliau diangkat pada tahun 2009 oleh menteri BUMN saat itu, Sofyan Djalil, tanpa memiliki background sama sekali dalam manajemen di bidang transportasi. Namun, PT KAI bukan BUMN pertama yang beliau pimpin. Sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai direktur utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) pada 2001-2006.

Setelah menjabat sebagai direktur utama PT KAI, dengan latar belakangnya sebagai seorang profesionalisme dengan pengalaman segudang, Jonan sukses mengubah kultur perusahaan KAI dari birokrasi menjadi korporasi. Jonan juga berhasil merombak mindset pegawai KAI agar memiliki etos tinggi dalam melayani.

Baginya melayani penumpang dengan baik dan ramah adalah sebuah keharusan karena pada hakikatnya penumpanglah yang memberi makan KAI. Kebersihan stasiun dan kereta baginya merupakan bentuk penghargaan sekaligus pelayanan kepada penumpang. Kebersihan toilet menjadi salah satu indikasi paling gampang untuk mengukur sejauh mana customer friendly telah menjadi prioritas jajarannya,

Good Corporate Governance (GCG) merupakan hal yang paling sering didengungkan dalam usaha perubahan mindset karyawan. Di awal kepemimpinannya Jonan juga menetapkan 4 pilar utama KAI: keselamatan, pelayanan, ketepatan waktu, dan kenyamanan. Masing-masing pilar tersebut memiliki target terukur dan trennya membaik dari tahun ke tahun kepemimpinannya.

Angka kecelakaan ditekan dengan meningkatkan kedisiplinan petugas di stasiun dan perjalanan kereta, diklat, sertifikasi masinis, disiplin pemeriksaan dan perawatan lokomotif, kereta, gerbong, persinyalan, dan perlintasan KA. Hasilnya, PLH (Peristiwa Luar biasa Hebat) turun dari 113 pada tahun 2008, menjadi 100 pada tahun 2009, 76 pada tahun 2010, dan 54 pada tahun 2012. Rate of accident turun dari 0,302 (tahun 2007) ke 0,016 (tahun 2012).

Perubahan positif pada tubuh KAI terasa puncaknya pada peenyelenggaraan angkutan lebaran hari raya Idul Fitri 2012. Pemandangan penumpang kereta api berdesak-desakan di dalam kereta, masuk lewat jendela, berdiri di dalam toilet, bahkan ada yang sampai ikut naik lokomotif, sudah tak tampak lagi. Fenomena tersebut ibarat puncak gunung es dari sebuah proses perubahan yang berlangsung secara evolusioner di seluruh lini korporasi PT KAI.

Berbagai penghargaan bergengsi pun diterima PT KAI. Di ajang IT Excellence Award 2012 Asia Psifik, PT KAI meraih posisi 5 besar atau finalis. Inovasi IT di bidang Rail Ticketing System (RTS) kalah dari inovasi IT Changi Airport di Singapura. Perubahan kultur yang terjadi di tubuh PT KAI ternyata juga meraih pengakuan pada ajang BUMN Innovation Award 2013. PT KAI meraih penghargaan Gold Level untuk kategori Best Corporate Innovation Culture & Management. Dan masih ada banyak penghargaan yang lain.

Membaca buku ini saya juga bisa ikut merasakan gaya kepemimpinan Jonan di KAI. Sebab, penulis banyak menyisipkan kutipan-kutipan broadcast message dan email yang disampaikan Jonan kepada milis gruo KAI, serta hasil wawancara beberapa pihak yang berhubungan.

Salut dengan penulis dan timnya yang menurut saya cukup sukses dalam menyajikan gambaran perubahan yang terjadi di tubuh KAI di era kepemimpinan Ignasius Jonan dibandingkan sebelumnya. Ulasan yang disampaikan juga sangat komprehensif karena disarikan dari banyak sumber. Terakhir, buku ini sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang ingin mencari inspirasi untuk melakukan sebuah perubahan, khususnya dalam suatu organisasi.

Absen Sebulan

Wew… Rasa-rasanya sejak mulai aktif ngeblog, ini kali pertama saya absen menulis blog lebih dari sebulan. Selama bulan September kemarin tak ada satu artikel pun yang saya hasilkan. 😦

Sebuah kemunduran buat saya. Padahal saya mencoba berkomitmen untuk setidaknya menulis satu artikel dalam satu minggu.

Alasan penyebabnya sangat klasik: sibuk. Kebetulan sedang ada projek di kantor yang agak memaksa saya untuk mengerjakannya hingga malam hari. Ya karena mengejar milestone, ya karena butuh akses internet cepat juga yang itu bisa saya dapatkan di kantor.

Karena pekerjaan saya lebih banyak di depan komputer, jadi begitu pulang sampai kontrakan, sudah lelah menatap layar komputer lagi :(. Jadi nggak ada semangat buat nulis blog deh haha.

Selain itu juga koneksi internet di kontrakan yang terbatas, hanya mengandalkan tethering data dari paket internet HP saya. Faktor yang terakhir ini yang sebenarnya sangat krusial. Ini sangat memengaruhi mood saya dalam menulis blog. Sebenarnya kalau ada niat bisa saja sih ngetik di notepad dulu, terus diunggah kemudian, haha.

Padahal selama 2 bulan ke belakang, Agustus-September, ada beberapa event yang ingin saya share juga, selain tentu saja menyelesaikan seri cerita trip Indochina akhir bulan Mei lalu. Sekilas saja, jadi selama bulan Agustus-September itu beberapa event yang terlewat untuk saya ceritakan adalah:

  • 17 Agustusan di Gunung Papandayan
  • Lari 17 Km di Independence Day Run 2014
  • Lari Half Marathon di Bromo Marathon 2014
  • Berburu tiket di Travel Fair Garuda Indonesia 2014

Dalam beberapa artikel selanjutnya mungkin akan saya isi dengan cerita tentang event-event tersebut. Yuk ah, semangat menulis lagi di awal bulan Oktober ini. 🙂

[Book] Titik Nol

Titik Nol - Agustinus Wibowo

Titik Nol – Agustinus Wibowo

Sekitar dua bulan yang lalu aku dan Neo menyusun rencana untuk berpetualang ke Nepal tahun depan. Kami membagi plan tersebut di grup Whatsapp backpacker kecil kami. Kemudian oleh Lino aku disarankan untuk membaca buku tavel writing berjudul “Titik Nol” tulisan Agustinus Wibowo. Katanya di sana ada cerita tentang perjalanan Agustinus di Tibet dan Nepal. Aku pun tertarik membacanya. Akhirnya aku mencari buku tersebut di toko buku.

Titik Nol adalah buku pertama Agustinus Wibowo yang pernah ku baca. Ternyata Titik Nol ini tidak hanya menceritakan tentang kisah Agustinus di Tibet dan Nepal saja, sebagaimana yang awalnya kutangkap dari info yang diberikan Lino di Whatsapp. Lebih dari itu, buku ini bercerita tentang perjalanannya dari Beijing hingga ke Afghanistan.

Sangat menyenangkan membaca Titik Nol ini. Kupikir Titik Nol ini hanya akan bercerita tentang kisah-kisah sepanjang perjalanan saja. Ternyata tidak hanya itu. Agustinus dalam menceritakan kisah perjalanannya itu sering menyisipkan pemikiran-pemikiran hasil kontemplasinya akan makna perjalanan yang dia lakukan, fenomena-fenomena yang dilihat dan dialaminya, atau tentang makna kehidupan itu sendiri. Dia juga banyak membagi pelajaran-pelajaran yang dia peroleh dari orang-orang yang dia temui dalam perjalanan. Salah satunya dari seorang perempuan berkebangsaan Malaysia, Lam Li, yang telah dianggapnya sebagai guru perjalanan.

Di antara gagasan-gagasan pemikiran yang dituangkannya di buku ini, ada banyak hal baru yang ku dapatkan, namun ada juga yang saya tidak sepakat dalam beberapa hal. Namun hal tersebut tak mengurangi rasa kekagumanku akan gaya bercerita dan menyampaikan gagasan yang dia lakukan di buku Titik Nol ini.

Agustinus dengan sangat apik menyampaikan narasi dan deskripsi perjalanan yang dia lakukan. Membaca buku ini, aku seolah sedang ikut mengalami petualangannya yang dimulai dari Beijing dengan menumpang kereta yang penuh sesak ke Xinjiang, menyelundup ke Tibet, trekking di pegunungan Himalaya di Nepal, terserang penyakit hepatitis di India sehingga harus diopname beberapa hari, menjadi relawan pemulihan pasca gempa di Kashmir, mengamati penerapan agama Islam di Pakistan, dan menjadi jurnalis di Afghanistan sebuah negara di mana bom sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Di tiap tempat yang dia kunjungi itu ada banyak hal menarik yang dia temui. Tibet dan Nepal misalnya. Walaupun keduanya sama-sama menempati wilayah surga Himalaya, namun terasa perbedaannya. Tibet terasa jauh lebih surgawi dengan eksklusifitasnya, berbeda dengan Nepal yang mengobral surganya. Atau ketika di Afghanistan di mana sehari-hari orang Afghanistan menyampaikan salam “Zinda Boshi!” yang berarti “Hiduplah kau selalu!” kepada orang yang ditemui. Sebuah salam yang sungguh bermakna, menyadarkan setiap hembusan nafas begitu berharga di negeri yang nyawa seolah berharga sangat murah.

Bagaimana Agustinus melatakkan plot-plot ceritanya di Titik Nol ini juga cukup unik. Tidak mudah menulis dua plot cerita secara paralel. Namun menurutku Agustinus cukup brilian merangkai dua plot cerita paralel tersebut, satu berkisah tentang perjalanannya dan satu lagi tentang cerita dirinya yang tengah menengok ibundanya yang terbaring sakit. Walaupun dua plot tersebut terjadi dalam waktu yang terpisah, namun selalu ada benang merah yang menghubungkan kedua plot yang sedang diceritakan.

Perjalanan Agustinus yang bermula dari Beijing itu sendiri sejatinya ingin diakhirinya di Afrika Selatan. Namun rencana tersebut terpaksa diakhiri ketika ia harus terbang pulang ke Indonesia demi merawat ibundanya yang terbaring sakit. Namun, justru dengan kepulangannya dan dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah Agustinus mulai menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan.

Di menjelang bagian akhir dari buku ini ada satu paragraf yang aku suka yang ingin ku kutip di sini:

“Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali.”

Btw, setelah membaca Titik Nol ini, saya menjadi tertarik untuk mengikuti tulisan-tulisan Agustinus di bukunya yang lain. 🙂

Tebing Keraton yang Lagi Happening

Entah bagaimana mulanya tiba-tiba nama “Tebing Keraton” menjadi populer, terutama di internet. Konon kata teman sih, semua itu berubah terjadi sejak negara api menyerang Ridwan Kamil, walikota Bandung yang memang gaul abis, foto selfie di sana. Tahu sendiri kan follower beliau baik di Instagram, Twitter, dan Facebook sungguh bejibun. Dan mayoritas adalah anak muda yang aktif di social media juga. Jadi make sense saja sih begitu beliau selfie di sana anak-anak muda ingin mengikuti. Apalagi view Tebing Keraton memang oke dijadikan tempat narsis, haha.

Aku sendiri mendengar nama Tebing Keraton pertama kali dari salah seorang teman di grup backpacker Indochina kemarin pasca lebaran. Dia ngajakin anak-anak untuk main ke sana. Tapi berhubung kesibukan masing-masing yang berbeda, rencana untuk ke sana bareng-bareng belum jelas kapan bisa terlaksana.

Akhirnya kemarin pagi (23/08) aku mengajak Kamal, teman satu kontrakan, pergi ke sana. Kami berangkat pukul 6 pagi dari rumah kontrakan kami yang berada di daerah Cisitu dengan mengendarai motor berboncengan. Temanku sudah menyalakan aplikasi GPS logger untuk merekam rute yang kami lalui ke sana. Ya kali ada yang butuh. Soalnya kami cek di Google Maps belum ada keterangan menuju ke sana.

Perjalanan ke sana dari tempat kami kira-kira membutuhkan waktu 20 menitan. Dari Cisitu sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya. Berdasarkan catatan aplikasi GPS Logger kami, jaraknya hanya 8,5 km (lihat peta di bawah).

Rutenya cukup mudah. Check point pertama adalah Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda. Petunjuk jalan ke arah sana dari Dago sudah sangat jelas. Jalannya pun masih mulus.

Beberapa meter dari Tahura kita akan menemui percabangan jalan berbentuk Y. Ambil jalan ke kanan. Dari situ kita tinggal mengikuti jalan saja terus sampai tiba di check point kedua, yakni Warung Bandrek atau yang biasa dikenal dengan sebutan Warban saja.

Di Warban ini lagi-lagi kita akan mendapati percabangan berbentuk Y. Kali ini ambil jalan ke kiri. Setelah itu tinggal mengikuti jalan terus sampai tiba di Tebing Keraton. Mendekati Tebing Keraton kita akan mendapati sepeda motor-sepeda motor yang terparkir di tepi-tepi jalan (kecuali Anda datang paling pertama, tentu nggak ada sepeda motor parkir di sana, hehe). Di sanalah tempat parkir sepeda motor pengunjung Tebing Keraton ini. Begitu tiba kita akan diberi karcis parkir dan diminta membayar Rp5.000 untuk biaya parkir.

Salah satu titik parkir

Salah satu titik area parkir

Jalanan dari Cisitu sampai Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda cukup mulus dan lancar. Namun, begitu mengendarai beberapa puluh meter dari Tahura, jalan mulai memburuk. Aspal jalan sudah tak berbentuk lagi. Lubang di mana-mana. Sebagian besar jalan tinggal menyisakan bebatuan kerikil saja. Selain itu, di beberapa ruas jalanan juga cukup menanjak. Apalagi jalan setelah Warung Bandrek. Beberapa motor kemarin kulihat pemboncengnya terpaksa turun agar motor dapat melaju naik.

Untuk menikmati Tebing Keraton ini, pengunjung dipungut tiket masuk sebesar Rp11.000 untuk turis lokal, atau Rp76.000 untuk turis asing. Biaya segitu sudah termasuk premi asuransi sebesar Rp1.000. Dan aku baru tahu ternyata penetapan tiket masuk ini baru dimulai sejak tanggal 8 Agustus ini. Sepertinya sebelum itu masih gratis atau sukarela bayarnya. Sayangnya tiket masuk Tebing Keraton ini masih menggunakan tiket masuk yang sama dengan Tahura. Tulisan “Rp7.500” yang menjadi harga tiket masuk Tahura ditutupi dengan ditempeli karcis premi asurasi.

Baliho harga tiket masuk

Baliho harga tiket masuk

Tiket masuk

Tiket masuk

Setelah memperoleh tiket masuk, kami pun berjalan ke Tebing Keraton. Dari pintu masuk masih perlu berjalan sekitar 100 meter menyusuri jalan setapak untuk sampai di tebing yang menjadi tempat favorit pengunjung menyaksikan view. 

Jalan setapak

Jalan setapak

Pagi itu walaupun jam “masih” menunjukkan pukul setengah 7 pagi, pengunjung sudah memadati tebing. Kami kesulitan untuk mencapai tempat the best untuk menikmati view yang berada di ujung tebing karena masih ditempati oleh rombongan lain.

Padatnya pengunjung Tebing Keraton

Padatnya pengunjung Tebing Keraton

View yang ditawarkan adalah deretan gunung-gunung sebagai background, kemudian kawasan hutan di depannya yang diselimuti kabut-kabut. Selain itu tentu saja view sinar matahari yang terbit dari celah-celah pegunungan di sebelah timur. Kuakui view yang ditawarkan cukup cantik. Aku paling suka dengan kabut-kabut putih yang menyelimuti area hutan di bawah tersebut. Seolah menyimpan kesan misterius di dalamnya.

Matahari terbit di sisi timur

Matahari terbit di sisi timur

View panorama di hadapan Tebing Karaton

View panorama di hadapan Tebing Karaton

View Pegunungan dan hutan yang diselimuti kabut

View Pegunungan dan hutan yang diselimuti kabut

Sebenarnya untuk melihat view itu tidak harus dari ujung tebing keraton sih. Dari bagian mana saja bisa. Namun, pandangan kita kurang lega karena sedikit terhalang oleh pepohonan atau pagar di tepi tebing.

Oh ya, soal mengapa dinamakan Tebing Keraton, ternyata di sana sudah dipasang “prasasti” yang akan menghapus rasa penasaran atas pertanyaan tersebut. Penulisan yang betulnya seharusnya “Karaton” bukan “Keraton”. “Karaton” yang dimaksud dalam bahasa Sunda lebih diartikan sebagai sebuah kemewahan alam. Jadi bukan “Keraton” yang identik dengan bangunan istana kerajaan. Namun, di social media nama yang sudah terlanjur populer adalah Tebing Keraton pakai “e”.

Sebelum nama Tebing Karaton sendiri tempat itu katanya sudah memiliki nama sendiri, yakni Cadas Jontor. Dinamakan demikian karena cadas tersebut menonjol ke depan dan memiliki ketinggian yang berbeda dengan cadas-cadas di sekitarnya.

Cerita asal mula nama Tebing Karaton

Cerita asal mula nama Tebing Karaton

Sejam saja aku dan Kamal berada di sana. Setelah itu kami pergi meninggalkan Tebing Karaton. Oh ya, waktu kunjungan Tebing Keraton yang diizinkan adalah mulai pukul 5 pagi hingga 6 sore (05.00-18.00).

Kesanku terhadap Tebing Karaton, view-nya memang oke. Namun, dengan harga tiket masuk segitu (Rp11.000), menurutku tak sebanding. Apalagi jika aku adalah turis asing dan datang ke sana membayar USD7 (anggap 76 ribu itu sekitar USD7). Ibaratnya sudah susah-susah ke sana, namun tak ada aktivitas lain yang bisa dilakukan selain cuma melihat view saja. Masih mending ke Tahura yang tiket masuknya lebih murah, dan bisa puas menjelajahi area hutan yang sangat luas, bertandang ke Goa Jepang/Belanda, jogging di sana, dsb. Yah, ini cuma opini pribadi saja.

Depan National Museum (photo by Ian)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 8): Day 7 – Phnom Penh-Ho Chi Minh

Jumat, 30 Mei 2014

Bus Virak Buntham mulai memperlambat jalannya dan beberapa kali berhenti di traffic lights. Kondisi tersebut membuatku terjaga dari tidurku. Banyaknya traffic lights yang kami temui dan rumah-rumah atau toko penduduk di kanan kiri jalan menandakan kami mulai memasuki kawasan kota.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Aku langsung bertayamum di tempat tidurku. Kemudian melaksanakan sholat shubuh sambil posisi setengah telentang. Kondisinya di situ memang sangat susah untuk bisa melaksanakan sholat sambil duduk.

Sekitar 1 jam kemudian bus tiba di depan kantor agen bus Virak Buntham. Di sanalah pemberhentian terakhir dan satu-satunya bus yang kami tumpangi ini di Phnom Penh. Lokasinya ternyata sangat dekat dari kawasan Riverside yang terkenal di Phnom Penh ini. Kantor agen bus Virak Buntham ini ternyata juga bersebelahan dengan pool bus Giant Ibis, bus eksekutif yang sempat masuk pertimbangan kami dalam memilih moda bus Siem Reap-Phnom Penh.

Di depan kantor agen bus Virak Buntham (photo by Ian)

Di depan kantor agen bus Virak Buntham (photo by Ian)

Kesalahpahaman dengan sopir tuk-tuk

Masih ingat dengan ceritaku di artikel sebelum ini yang bilang bahwa sopir tuk-tuk kami di Angkor Wat menawarkan temannya sesama sopir tuk-tuk di Phnom Penh untuk menjemput kami? Sempat terjadi kesalahpahaman di sini. Sopir tuk-tuk mengira kami ingin menginap dan berkeliling di Phnom Penh setibanya kami di sana. Padahal kami hanya transit sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Ho Chi Minh.

Sopir tuk-tuk sudah terlanjur mengajak teman-temannya sehingga total ada 6 tuk-tuk yang datang menjemput kami pagi itu. Sayangnya kami tidak bisa mengubah itinerary yang kami susun karena keterbatasan waktu. Sang perwakilan sopir tuk-tuk sempat agak emosi ketika kami mengatakan kami hanya ingin jalan kaki di sekitar kawasan Riverside ini saja sebelum pergi ke Ho Chi Minh.

Kami pun bernegosiasi dengan sopir tuk-tuk untuk mencari win-win solution. Sebenarnya kami kasihan juga dengan mereka yang sudah datang pagi-pagi menyambut “rejeki” yang sudah di depan mata ini. Akhirnya kami meminta mereka untuk mengantarkan kami ke restoran halal di sekitar Riverside ini. Kami akan membayar jasa mereka USD 1 per tuk-tuk. Mereka menyetujui usulan kami. Lumayanlah daripada tidak dapat uang sama sekali kata perwakilan mereka. Selain itu, kami juga menyetujui permintaan mereka untuk membelikan kami tiket bus ke Ho Chi Minh.

Terhadap permintaan mereka yang terakhir ini sebenarnya kami agak ragu. Takut kalau mereka menipu kami. Apalagi tiket bus yang mereka tawarkan lebih murah daripada jika
membeli melalui agen. Mereka menawarkan USD 8, lebih murah daripada di agen yang harganya USD 10.

Aku yakin dengan harga segitu dan memesankan tiket untuk 18 orang pasti mereka akan memperoleh komisi dari pihak bus. Makanya kami sempat khawatir jangan-jangan ini bus abal-abal yang akan kami naiki. Karena itu kami meminta mereka agar kami diperbolehkan untuk membayar DP setengahnya terlebih dahulu, dan baru melunasinya sebelum bus berangkat. Untungya mereka tidak mempermasalahkan.

Oh ya, di Phnom Penh ini kami berpisah lebih awal dengan Pambudi, Listyanto, kak Simon, dan kak Febri. Mereka cabut lebih dahulu ke Ho Chi Minh dengan menumpang bus Khai Nam keberangkatan pukul 8 pagi. Menurut rencana mereka akan pulang dari Ho Chi Minh pagi keesokan harinya. Karena itu mereka cabut lebih dahulu agar memiliki waktu lebih lama di Ho Chi Minh.

Jalan-jalan di kawasan Riverside

Kami diantarkan oleh sopir tuk-tuk ke restoran India muslim di depan kawasan Riverside. Sayangnya pagi itu restoran ini belum sepenuhnya buka. Mereka tampak sibuk menyiapkan bahan masakan dan menata restoran. Akhirnya kami mengalihkan pilihan kami ke restoran lain. Kami diantarkan ke sebuah restoran muslim melayu yang bernama Halal Restaurant.

“Halal Restaurant” Phnom Penh

Numpang ngecharge di restoran (photo by Putri)

Numpang ngecharge di restoran (photo by Putri)

Lebih enak makan di sini menurutku daripada restoran India. Menunya lebih familiar di lidah, hehe. Pagi itu aku memesan nasi goreng ayam dan es teh tarik.

Setelah makan, kami berjalan kaki menuju Riverside. Cuaca Phnom Penh menjelang pukul 9 pagi ini sudah begitu teriknya. Cuacanya 11-12 lah sama Siem Reap. Panas banget.

Riverside ini adalah taman kota Phnom Penh yang lokasinya berada di sisi sungai Mekong. Di sepanjang riverside ini terdapat bangku-bangku taman, area fitness, dan tiang-tiang bendera negara-negara di dunia. Aku cukup salut dengan pemerintah kota Phnom Penh ini. Terutama dengan fasilitas peralatan fitness yang mereka sediakan secara gratis di taman. Mengingatkanku pada taman kota di Reservoir Makau. Walaupun Kamboja termasuk negara berkembang, warganya hebat sekali bisa menjaga peralatan fitness ini agar tetap terawat.

Area fitness (photo by Ian)

Area fitness (photo by Ian)

Masih di kawasan Riverside, tak jauh dari situ terdapat beberapa objek turisme seperti National Museum dan Royal Palace. Kalau kita perhatikan, model bangunan tradisional Kamboja ini mirip sekali dengan Thailand. National Museum dan Royal Palace (istana raja) memiliki model yang mirip dengan Royal Palace atau Wat Pho-nya Thailand. Warna emas pun juga menjadi warna dominasi cat bangunan ini.

Karena keterbatasan waktu, tak satupun di antara dua tempat tersebut yang kami masuki. Untuk masuk ke tempat tersebut, ada entrance fee yang harus dibayar. Aku lupa berapa tepatnya. Kami hanya berfoto-foto di area luarnya saja dengan menjadikan kedua tempat sebagai latar belakang foto kami.

Depan National Museum (photo by Ian)

Depan National Museum (photo by Ian)

Tiang-tiang bendera di tepi sungai Mekong

Tiang-tiang bendera di tepi sungai Mekong

Yang paling indah dan worthy of visit tentu taman depan Royal Palace. Tamannya sangat rapi dan bersih. Dan yang paling menyenangkan adalah banyak burung dara yang berjalan-jalan dan beterbangan di taman. Suasananya seperti di taman-taman kota Eropa seperti yang pernah kulihat di TV atau internet.

Sayangnya tak semua dari kami sempat ke sana. Hanya aku, Pras, dan Khairul saja yang ke sana. Yang lain masih asyik foto-foto di area fitness dan depan National Museum. Faktor cuaca yang sangat terik ditambah bawaan ransel yang besar di punggung membuat kami agak berat berjalan jauh saat itu.

Di taman depan Royal Palace ini ada orang yang menjual biji-biji jagung untuk dikasih ke burung-burung dara tersebut. Kami membeli 3 bungkus biji jagung tersebut dengan harga USD 1. Seru lho ngasih makan burung-burung tersebut. Begitu kita lempar biji-biji tersebut, tiba-tiba Continue reading

[Kuliner] Karnivor Restaurant

Kamis pekan lalu (17/7) aku dan teman-teman kantor mengadakan event buka bersama. Kali ini tempat yang menjadi pilihan kami adalah Karnivor Restaurant yang berlokasi di Jalan Riau no. 127, Bandung. Ini pengalaman pertamaku mencoba menu makanan di sana.

Reservasi tempat

Pada event buka bersama ini aku kebagian urusan reservasi tempat. Total ada 14 orang yang saat itu rencananya akan ikut buka bersama. Tentu akan riskan apabila kami spontan datang ke sana. Dengan jumlah orang sebanyak itu belum tentu kami bisa mendapatkan tempat saat datang ke sana menjelang waktu berbuka.

Sangat mudah untuk menemukan nomor telepon reservasi Karnivor ini. Di akun Twitternya @KARNIVOResto dan page Facebooknya @Karnivor-Restaurant sudah dengan jelas tertera nomor telepon yang bisa dihubungi, yakni 022-7103111.

Dua hari sebelum hari H aku pun menelepon ke sana. Dari percakapan telepon itu aku baru tahu sebenarnya untuk reservasi itu jumlah minimal orangnya adalah 15. Namun, karena kami jumlah orangnya dekat-dekat itu jadi masih bisa ditoleransi lah, hehe.

Untuk reservasi ini kami harus membayar DP 200 ribu sebagai tanda jadi reservasi. Selain itu kami juga sudah harus menentukan menu-menu yang kami pesan. Jadi pihak Karnivor mengirimkan file image (resolusi tinggi) menu makanan dan minuman di sana via email kepada kami, kemudian kami mencatat menu apa saja yang kami order.

Menu makanan

Menu makanan

Menu minuman

Menu minuman

Keesokan harinya atau H-1 aku dan salah seorang teman kantor datang ke Karnivor Restaurant. Kami menyerahkan daftar menu yang kami order pada secarik kertas dan membayar 200 ribu rupiah sebagai DP. Mbak-mbak yang melayani kami kemudian memberikan kwitansi sebagai bukti DP.

Menu-menu yang dipesan

Pada hari H kami datang beberapa menit menjelang pukul setengah 6 sore. Masih ada waktu sekitar 20 menitan sebelum adzan Maghrib. Kami langsung menuju ke meja yang sudah disiapkan oleh pihak Karnivor. Alhamdulillah ada ta’jil gratis yang disediakan oleh mereka di lobby depan untuk para pengunjung, yakni air kacang hijau.

Sekitar 10 menit setelah kami datang, makanan-makanan dan minuman-minuman yang sudah kami pesan sehari sebelumnya mulai diantarkan ke meja kami. Menu yang aku pesan saat itu adalah Continue reading

Pengunjung berbondong-bondong menuju Angkor Wat (photo by Ian)

Backpacking Indochina 9D8N (Bag. 7): Day 6 – Angkor Wat Tour

Kamis, 29 Mei 2014

Pukul 4 pagi aku sudah terbangun. Aku bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Subuh saat itu yang waktunya masuk pukul 4.10. Agenda kami hari itu adalah mengikuti full day tour di kompleks Angkor Wat hingga sore hari. Setelah itu malamnya kami akan meninggalkan Siem Reap menuju ke Phnom Penh. Karena itulah kami harus check-out hari itu juga.

Sesuai dengan perjanjian dengan sopir tuk-tuk sehari sebelumnya, kami akan dijemput di hostel pukul 5 pagi. Karena kami akan berada di kompleks Angkor Wat sampai sore, sedangkan batas waktu check-out adalah pukul 12 siang, maka kami check-out saat subuh itu juga, sebelum berangkat tur. Namun, ada beberapa orang dari kami yang extend semalam supaya ada tempat untuk istirahat sebentar dan menaruh barang-barang sembari menunggu keberangkatan bus ke Phnom Penh.

Ba’da sholat aku langsung mengemasi barang-barangku. Setelah itu aku langsung datang ke resepsionis untuk menyerahkan kunci kamar dan loker. Tas carrier-ku kuletakkan di sudut ruang lobby hostel. Di sana banyak sekali tas-tas carrier besar yang dititpkan. Yup, walaupun kita sudah check-out dari hostel, kita boleh kok menitipkan tas kita di sana. Sampai malam pun boleh kata respsionisnya.

Berangkat ke kompleks Angkor Wat

Pukul 5 pagi teng kami sudah berkumpul di depan hostel. Lima tuk-tuk sudah menunggu kami di sana. Satu tuk-tuk lagi menjemput Abdan dkk. di Palm Garden Lodge.

Berangkat ke Angkor Wat (photo by Ian)

Berangkat ke Angkor Wat setelah subuh (photo by Ian)

Tuk-tuk langsung meluncur ke Angkor Wat. Kalau lihat di Google Maps sih, jarak dari hostel kami ke pintu gerbang kompleks Angkor Wat ini sekitar 5 km. Jalanan Siem Reap ba’da subuh itu masih cukup sepi.

Di perjalanan menuju kompleks Angkor Wat ini kami sempat beberapa kali melewati kelompok-kelompok kecil bersepeda. Umumnya bule-bule sih yang naik sepeda ke Angkor Wat ini. Suatu saat kalau ada kesempatan ke Siem Reap lagi, harus nyobain nih nggowes ke Angkor Wat juga.

Untuk dapat memasuki candi-candi di kompleks Angkor Wat ini kita harus memiliki tiket yang disebut dengan Angkor Pass. Admission fee-nya sebesar USD 20. Tiket itu berlaku untuk one day tour di sana.

Suasana loket tiket Angkor Wat (photo by Rizky)

Suasana loket tiket Angkor Wat (photo by Rizky)

Karena Angkor Wat ini merupakan sebuah kompleks candi-candi yang sangat luas yang hampir mustahil dijelajahi seluruhnya dalam sehari, pihak pengelola menyediakan opsi tiket terusan untuk 3 hari (tidak harus berturutan) dan 1 minggu. Admission fee untuk masing-masing opsi tersebut adalah USD 40 dan USD 60.

Di Angkor Pass yang kita dapatkan akan tertera foto kita. Foto diambil saat itu juga ketika kita membayar admission fee di loket. Di Angkor Pass tertera juga tanggal berlaku tiket. Angkor Pass ini wajib kita tunjukkan kepada petugas setiap kali hendak memasuki suatu candi. Mereka akan mencocokkan wajah kita dengan foto yang tertera di tiket. Yup, dengan begitu tiket ini sifatnya non-transferable.

Angkor Pass

Angkor Pass

Melihat sunrise di Angkor Wat

Jujugan candi pertama kami adalah Angkor Wat itu sendiri. Angkor Wat ini terkenal dengan view sunrise-nya yang sangat indah. Tak heran banyak orang yang sudah datang ke Angkor Wat ini pagi-pagi itu.

Pengunjung berbondong-bondong menuju Angkor Wat (photo by Ian)

Pengunjung berbondong-bondong menuju Angkor Wat (photo by Ian)

Kami memiliki waktu untuk menikmati Angkor Wat ini hingga pukul 8-an. Sebenarnya fleksibel sih waktunya. Tapi kami pikir 2,5 jam di dalam sudah cukup puaslah. Jadi sementara kami berkeliling di dalam Angkor Wat, sopir tuk-tuk akan stand by di depan.

Pagi itu penampakan sunrise yang kami lihat tidak seindah seperti yang aku lihat-lihat di wallpaper-wallpaper HD yang menampilkan sunrise Angkor Wat. Entah karena sedang tidak beruntung atau memang akhir Mei bukan waktu terbaik untuk melihat sunrise di Angkor Wat, atau spot yang kami pilih memang salah. Entahlah. Namun, orang-orang tampak bahagia menikmati pemandangan sunrise pagi itu. 😀

Siluet Angkor Wat

Siluet Angkor Wat

Tak ingin terlalu lama befoto-foto dengan background sunrise, kami beranjak masuk menjelajahi kompleks dalam Angkor Wat. Tampak banyak sekali restorasi di sana-sini di dalam kompleks. Jerman dan Perancis mendominasi proyek restorasi ini. Aku bisa tahu itu dari keterangan-keterangan pada peralatan-peralatan yang digunakan untuk restorasi ini.

Foto bersama (photo by Ian)

Foto bersama (photo by Ian)

Angkor Wat

Angkor Wat

Angkor Wat ini seolah menawarkan suasana yang mistikal di dalamnya. Mistik yang kumaksud bukan yang berhubungan dengan hal-hal ghaib tentunya. Di sana aku seolah-olah seperti kembali ke era kerajaan Khmer di masa kejayaan Raja Suryawarman II di abad 12. Lorong-lorong di dalam candi yang lembab dan gelap menambah suasana mistikal itu.

Oh ya, berhati-hatilah dengan warga lokal yang menawari dupa di lorong-lorong dalam Angkor Wat ini. Mereka baik-baikin pengunjung yang mereka temui dengan menawari dupa dan mengajak untuk bersembahyang. Jangan terima dupa tersebut. Itu scam! Tolak saja dengan halus. Ada teman yang terjebak, dan harus membayar 2 dollar.

Salah satu lorong di dalam Angkor Wat

Salah satu lorong di dalam Angkor Wat

Sarapan

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jujur, waktu 2,5 jam itu ternyata cukup sebentar. Aku masih belum sempat menjelajahi halaman belakang Angkor Wat ini. Yah… memang sih kalau nggak banyak foto-foto, cukup sebenarnya waktu 2,5 jam itu menjelajahi Angkor Wat ini, haha. Karena kami sudah janjian dengan sopir tuk-tuk, tentu nggak enak juga kalau kami menambah durasi waktu kami sepihak di sana.

Dari Angkor Wat ini selanjutnya kami dibawa oleh sopir tuk-tuk ke warung makanan untuk sarapan. Jadi di kompleks Angkor Wat yang besar itu ada satu area di mana di sana terdapat banyak warung-warung makanan berjajar. Di sana ada toko-toko souvenir juga.

Di warung makan (photo by Abdan)

Di warung makan (photo by Abdan)

Harga menu di sana mahal-mahal sih. Kisaran USD 4-6 lah. Aku memesan menu salad buah. Cari yang aman saja. Soalnya agak ragu sama kehalalan menu-menu yang lainnya. Salad buah ini harganya USD 5. Mahal ya. But, the show must go on. Begitu pun perut harus tetap diisi.

Untuk minum, aku beli botol air mineral 1,5L seharga USD 1. Mahal ya. Di minimart samping hostel harganya USD 0,75. Jadi mending beli dekat hostel kalau nggak mau rugi. Haha, perhitungan banget memang.

Ke kompleks Angkor Thom

Peta kompleks Angkor

Peta kompleks Angkor

Jam telah menunjukkan pukul setengah 10 pagi ketika kami selesai sarapan. Angkor Thom menjadi destinasi kami berikutnya. Kami diantarkan ke sana oleh sopir tuk-tuk. Kami diberi waktu hingga pukul 12 siang untuk berkeliling menjelajahi candi-candi di Angkor Thom ini. Setelah mengantarkan kami, sopir tuk-tuk meninggalkan kami Continue reading