Tag Archives: kereta api

Vandalisme Terhadap Kereta Api

Aku tengah asyik membaca buku ketika tiba-tiba seorang yang berada di seberang kanan bangkuku berteriak, “Awasss…!,” sambil memandang ke arah jendela samping kiriku.

Aku terkejut dengan teriakan Ibu itu dan secara spontan langsung menunduk dan menutupi mukaku dengan tangan. Tanpa menoleh pun aku tahu teriakan Ibu dimaksudkan mengenai adanya batu yang terbang ke arah jendela di samping kiriku itu. Sebab, sebelum itu ada setidaknya 3-5 kali terdengar hantaman batu pada badan kereta.

“Jeduarr…!” Suara hantaman batu pada kaca terdengar sangat cepat namun keras. Kali ini lemparan itu menyasar ke jendela tepat di sampingku. Kaca jendela pun pecah. Ya, pecah! Bukan sekedar menimbulkan garis-garis retakan pada kaca.

Jendela kaca pun nyaris bolong dibuatnya. Aku yakin hanya dengan sekali dorongan tangan, retakan yang sudah sangat rapuh itu akan membuat bolong kaca itu.

Sementara itu, serpihan-serpihan pecahan kaca nan kecil dan lembut terbang hingga ke lantai bawah Ibu yang berada di seberang kanan bangkuku. Tanpa sadar jempol kaki Ibu tersebut terluka kena serpihan tersebut. Sementara aku, alhamdulillah serpihan pecahan kaca itu tak sampai melukai. Namun, lantai kereta di bawahku telah dipenuhi serpihan-serpihan kaca itu. Celanaku pun tak luput jadi tempat mendarat beberapa serpihan tersebut.

Petugas kebersihan kereta secara sigap datang dan menyapu serpihan-serpihan kaca yang berceceran. Petugas keamanan kereta juga secara sigap datang dan mencatat kejadian tersebut ke dalam buku laporan yang dia pegang. Tak hanya itu, dia juga memplester retakan-retakan kaca tersebut dengan lakban. Bagian kaca yang nyaris lobang juga diplesternya dengan kardus.

Kaca jendela yang terkena lemparan batu

Kaca jendela yang terkena lemparan batu

Kejadian ini terjadi dalam perjalanan KA Malabar Bandung-Malang 3 Agustus kemarin. Kejadiannya di tengah area persawahan, petak antara Stasiun Cibatu dan Stasiun Bumiwaluya, sekitar pukul 17.15. Cerita tadi mungkin terkesan terlalu didramatisir, tapi aku ceritakan apa adanya.

Jujur, aku nggak habis pikir apa sih yang ada di pikiran orang-orang yang suka lempar batu ke kereta api itu. Oke, lebih tepatnya mungkin bukan ‘orang-orang’ tapi ‘anak-anak’. Selama ini aku tahunya yang suka iseng(?) lempar batu itu anak-anak. Mungkin mereka tidak cukup mengerti bahayanya tindakan mereka itu.

Ini pengalaman pertamaku kena lempar batu persis di jendela samping bangku tempat dudukku. Sebelum ini, beberapa kali naik kereta dan mendapati anak-anak yang melempar batu ke kereta. Di Purwakarta pernah, di petak Krian-Mojokerto pernah, dan paling sering di jalur sepanjang Garut ini, termasuk yang kemarin.

Pernah juga ada yang lempar lumpur dari sawah hingga masuk ke dalam kereta. Salah seorang ibu-ibu pakaiannya pun kotor terkena cipratan lumpur. Ketika itu kereta kelas bisnis belum dipasang AC sehingga celah di atas jendela masih bisa dibuka. Kejadiannya di sekitar Krian kalau nggak salah.

Pernah juga ada batu melayang hingga masuk ke dalam kereta. Untung tak sampai mengenai penumpang di dalamnya.

Solusi apa ya yang tepat untuk masalah seperti ini… . Idealnya sih memang jalur sepanjang rel itu steril dari pemukiman atau aktivitas warga dalam radius tertentu. Pengalaman naik kereta di Malaysia sih seperti itu. Sepanjang jalur kereta dikasih pagar. Tapi sepertinya susah diterapkan di Indonesia.

Mau tidak mau berarti harus ada tindakan hukum yang konkret sih terhadap pelaku-pelaku vandalisme seperti itu. Kalau pelakunya masih anak-anak, ya dikasih pembinaan. Peran orang tua, terutama warga di sekitar rel, sangat dibutuhkan untuk mendidik anaknya, agar tidak melakukan hal yang merusak dan membahayakan orang lain tersebut.

Advertisements

Ke Jombang

Pada hari Minggu kemarin aku pergi ke Jombang untuk menghadiri pernikahan seorang teman kuliahku dulu, yang memang berasal dari Jombang. Kami beda jurusan sebenarnya. Namun, kami saling mengenal dengan baik karena pernah berada pada kelas yang sama saat kuliah tingkat satu dulu.

Btw, sudah lama aku tak pernah mampir ke Jombang. Aku dan teman-teman yang berasal dari Malang dulu biasa ‘mencegat’ kereta api Mutiara Selatan jurusan Surabaya-Bandung. Karena tak ada kereta Malang-Bandung ketika itu, kami pun terpaksa naik kereta dari Jombang (atau kadang-kadang juga dari Surabaya).

Dari Malang kami biasa naik mini bus ‘legendaris’ Puspa Indah yang ‘memonopoli’ rute Malang-Jombang via Batu-Pujon-Ngantang-Kandangan. Perjalanan ditempuh selama 2,5-3 jam. Tarifnya ketika itu Rp12.000. Kami memilih bus ke Jombang karena jalan tempat kami turun dari bus tidak terlalu jauh dari lokasi Stasiun Jombang. Cukup berjalan kaki saja.

Nah, kemarin ketika aku datang ke nikahannya temanku itu, aku pun juga naik bus Puspa Indah ini. Ongkosnya sekarang Rp14.000 sampai Jombang. Tapi kemarin aku sempat kebablasan dari lokasi di mana aku seharusnya turun. Untung ada Google Maps, jadi aku bisa mengetahui jarak dan denah lokasiku saat itu dengan lokasi acara nikahan (Gedung PSBR Jombang). Untung aku masih bisa sampai setengah jam sebelum acara berakhir, hehe.

Setelah acara nikahan, sambil menunggu jadwal kereta Mutiara Selatan ke Bandung, aku mampir ke Masjid Agung Baitul Mukminin. Sambil menunggu waktu Ashar aku duduk-duduk saja di serambi masjid sambil membaca buku. Suasana masjid agung ini terasa adem. Angin-angin semilir yang masuk terasa sejuk.

Masjid Agung Baitul Mukminin

Masjid Agung Baitul Mukminin

Setelah Ashar, aku mampir ke alun-alun Jombang yang lokasinya persis di sebelah timur masjid. Yah, sekedar kulineran saja di sana sambil merasakan suasana alun-alun Jombang yang ketika itu masih basah setelah turun gerimis. Napak tilas masa-masa awal kuliah dulu ketika kami biasa menunggu kereta dengan duduk-duduk menikmati kulineran di alun-alun ini. Persis di sebelah selatan alun-alun di situlah terletak Stasiun Jombang. Sekitar pukul 5 aku pun masuk ke dalam stasiun untuk menunggu kereta yang datang pukul 6 sore.

Alun-alun Jombang

Alun-alun Jombang

 

Perubahan Jadwal Kereta Api Mulai 1 April 2013

Terhitung mulai tanggal 1 April 2013 kemarin, PT KAI telah menerapkan GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api) baru. Perubahan ini patut diperhatikan oleh para pelanggan layanan kereta api karena sebagian besar perjalanan mengalami perubahan jadwal yang selisih waktu keberangkatan dan kedatangan antara yang baru dengan yang lama bisa sangat drastis.

Contohnya KA Malabar yang kemarin saya tumpangi. Di GAPEKA lama kereta berangkat dari Malang pukul 15.45 dan tiba pukul 6.49 di stasiun Bandung. Nah, di GAPEKA baru kereta dijadwalkan berangkat dari Malang pukul 12.45 dan tiba pukul 04.10. Wew, selisihnya 3 jam lebih awal bukan?! Kalau sudah terbiasa dengan jadwal perjalanan yang lama dan tidak teliti dengan jadwal yang baru, bisa-bisa kita ketinggalan kereta atau datang terlalu dini di stasiun.

Untuk mengetahui GAPEKA yang baru — jadwal seluruh perjalanan kereta api jarak jauh di Sumatra dan Jawa, rekan-rekan bisa mengunduhnya di tautan berikut: http://www.kereta-api.co.id/ebook_infoka.html

GAPEKA 2013

GAPEKA 2013

Pergi Dadakan? Lupakan Kereta

Punya rencana bepergian — perjalanan jarak jauh dalam Pulau Jawa — secara mendadak? Bersiaplah untuk menanggalkan kereta api sebagai pilihan.

1. Alasan pertama, siap-siap kehabisan tiket mengingat sekarang pemesanan tiket kereta api dimulai sejak H-90 keberangkatan.

2. Alasan kedua, harga tiket sudah melonjak. Hmm … sebenarnya untuk alasan yang satu ini aku tidak bisa memastikan. Aku baru tahu demikian ketika pulang kampung pada momen Idul Adha kemarin.

Tiket yang aku pesan H-9 sebelum keberangkatan, harganya 190.000 (kelas ekonomi). Penumpang lain yang duduk di sebelahku, dia pesan H-14 dapat harga 135.000. Gila, gede banget selisihnya (55.000). Padahal cuma selisih 5 hari pembelian dan kami sama-sama membeli online di situs PT KAI. Yang kelas bisnis & eksekutif pun selisihnya juga sekitar itu.

Nah, untuk hal ini aku belum mendapatkan sosialisasinya baik di media massa online ataupun TV. Googling pun aku juga nggak nemu. Mungkin kata kuncinya yang kurang pas. Atau barangkali di stasiun sudah ada sosialisasinya? Entahlah.

Tampaknya aku harus mulai melirik moda transportasi lain untuk bepergian jauh. Pesawat adalah alternatif yang bersaing dengan kereta api sekarang. Kemarin saja, ada promo AirAsia Bandung-Surabaya 99.000. Tahu gitu aku pesan yang itu saja. Lebih cepat pula.

Tapi bagi railfan sepertiku ini susah memang untuk tidak bepergian jauh dengan kereta, haha. 😀

 

Pesan Tiket KA Online

Akhirnya aku kesampaian juga menjajal sistem pemesanan tiket kereta api melalui internet. Seminggu yang lalu aku memesan tiket untuk perjalanan balik ke Bandung dari Jogja. Sistemnya ternyata nggak jauh beda dengan sistem e-commerce pada umumnya. Hanya saja karena diriku tak punya kartu kredit, jadinya pembayaran kulakukan melalui ATM. Langkah-langkah pemesanan tiket KA ini kurang lebih sebagai berikut:

1. Buka situs http://kereta-api.co.id

2. Pada kolom “Info Jadwal & Reservasi” pilih stasiun asal, stasiun tujuan, tanggal keberangkatan, dan jumlah calon penumpang (maksimal untuk 4 orang).

Memilih stasiun asal, tujuan, tanggal, dan jumlah calon penumpang

Memilih stasiun asal, tujuan, tanggal, dan jumlah calon penumpang

3. Masukkan kode verifikasi sesuai gambar yang tertera dan klik tombol ‘Tampilkan’.

4. Lalu sistem akan menampilkan halaman daftar perjalanan dan tarif kereta api yang tersedia untuk rute dan tanggal tersebut.

Daftar perjalanan dan tarif kereta

Daftar perjalanan dan tarif kereta

Untuk mengetahui sisa tempat duduk yang tersedia untuk masing-masing kelas, kita bisa meng-hover tombol ‘Booking’. Di sana akan muncul tooltip bertuliskan angka yang menunjukkan sisa tempat duduk tersebut. 5. Klik tombol ‘Booking’ pada jadwal dan kelas kereta yang ingin kita pesan. 6. Sistem akan menampilkan halaman terms agreement. Beri tanda cek pada teks pernyataan dan klik tombol ‘Lanjutkan’.

7. Isi data calon penumpang sesuai dengan kartu identitas yang berlaku. Ingat, data (khususnya nama) yang nantinya akan tertera di tiket harus sesuai dengan data pada kartu identitas. Jangan lupa isikan alamat email yang valid dari pemesan. Pastikan alamat email tersebut valid. Sebab, email ini akan digunakan untuk pengiriman bukti pemesanan tiket. Klik ‘Selanjutnya’ untuk lanjut ke tahap berikutnya.

8. Pilih metode pembayaran. ATM atau kartu kredit. Klik ‘Selanjutnya’ untuk mengkonfirmasi.

9. Begitu proses reservasi selesai, kita akan mendapatkan kode pembayaran yang akan kita jadikan nomor referensi saat melakukan pembayaran baik via ATM maupun kartu kredit. Lembar reservasi ini selain dapat kita cetak langsung saat itu, juga dikirimkan ke email kita dalam format file PDF.

10. Melakukan proses pembayaran melalui alat yang sudah dipilih sebelumnya. Oh iya, perlu diingat, batas waktu pelunasan pembayaran adalah terhitung 3 jam sejak proses reservasi selesai dikonfirmasi. Apabila, pelunasan tidak segera dilakukan, reservasi yang telah dilakukan akan dianggap batal.

11. Untuk pengecekan status pembayaran dapat melalui halaman http://kereta-api.co.id/ibook.html?check=booking atau klik tombol “Check Kode Booking” pada halaman beranda. Masukkan kode pembayaran. Setelah itu, sistem akan menampilkan status pembayaran kita. Selain bisa mengecek melalui halaman tersebut, kita juga akan mendapatkan email konfirmasi status pembayaran yang telah diperbaharui beserta buktinya dalam format PDF. Lembar dalam file PDF inilah yang harus kita cetak untuk ditukarkan dengan tiket kereta yang valid.

Lembar tersebut hukumnya wajib kita bawa saat penukaran. Aku sempat mencoba untuk hanya menunjukkan email yang aku terima dengan HP. Namun, petugas tiket menolaknya. Padahal di beberapai maskapai penerbangan, hal seperti ini biasanya tidak dipermasalahkan.

Kelebihan dari reservasi tiket online ini tentu saja kita tidak perlu keluar rumah atau kantor untuk membeli tiket. Cukup dari komputer kita saja. Sedangkan kekurangannya mungkin ya selain kena charge, siap-siap saja antri lagi saat penukaran tiket di stasiun. Tapi biasanya nggak panjang juga kok antriannya.

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 1] — Berangkat ke Jakarta

Kali ini aku ingin bercerita tentang jalan-jalan yang kulakukan bersama 8 orang teman ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, pada tanggal 7-9 Oktober kemarin ini. Sebelumnya aku sudah pernah bercerita tentang perjalanan tur ke Sukabumi dan Ciamis. Di tulisan tersebut aku menyebutkan bahwa ada 13 orang yang ikut tur itu. Kini dari 13 orang itu, ada 9 orang yang ikut jalan-jalan ke Pulau Tidung ini. Mereka adalah Kamal, Adi, Khairul, Rizky, Haryus, Jiwo, Neo, Luthfi, dan tentu saja aku.

Nah, Aku mencoba berbagi pengalaman ini dengan menuliskannya dalam bentuk itinerary per hari.

Jumat, 7 Oktober 2011

18.45. Sesuai rencana awal, kami janjian untuk langsung bertemu saja di stasiun Hall Bandung pukul 19.00. Tiket KA Argo Parahyangan kelas bisnis sejumlah 9 buah sudah dibeli sehari sebelumnya.

Aku, Kamal, Khairul, Adi, dan Haryus telah bersiap-siap di kontrakan Padepokan Sandal 36B. Kami akan berangkat bersama menuju ke stasiun dengan menumpang angkot Cisitu-Tegal lega. Sementara yang lain telah bersiap-siap di tempat masing-masing.

19.25. Kami semua telah berkumpul di stasiun Hall Bandung. Menurut jadwal, kereta akan berangkat pada pukul 20.05. Sambil menunggu keberangkatan kami menunaikan sholat Isya’ dahulu di mushola depan stasiun. Sebagian ada juga yang makan malam.

19.55. Kami semua sudah berada di dalam kereta menunggu keberangkatan. Tiba-tiba terjadi kepanikan di antara kami karena 2 dari 9 tiket yang kami beli ternyata salah tanggal keberangkatan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun turun dari kereta menuju kantor PPKA untuk meminta ganti tiket yang salah tanggal. Petugas KA sempat bergeming untuk tidak mau memberikan ganti tiket karena menganggap ini kesalahan kami yang tidak memeriksa lagi tanggal pada tiket yang tercetak.

Sementara itu, sambil menunggu masalah terselesaikan, petugas KA itu meminta perjalanan kereta untuk ditunda beberapa menit. Akhirnya, petugas KA itu pun mengalah dengan memberikan kami surat keterangan yang menyatakan bahwa tiket kami yang salah tanggal tadi tetap berlaku untuk perjalanan kereta hari itu. Mereka juga meminta maaf karena kesalahan pegawai mereka dalam mencetak tiket. “Maklum, pegawai kami itu masih baru,” kata petugas itu.

Masalah pun terselesaikan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun kembali ke dalam kereta. Sejumut kemudian kereta diberangkatkan. Sepanjang perjalanan beberapa orang bermain kartu di dalam kereta. Sementara itu, aku memilih untuk tidur me-recharge energi saja. 😀

Main kartu di dalam kereta

Main kartu di dalam kereta

23.30.  Pukul 23.30 kami tiba di stasiun Gambir. Suasana stasiun Gambir malam itu sangat lengang. Maklum saja, kereta kami adalah kereta terakhir yang datang pada hari itu. Setelah kereta kami, tidak ada kereta lain yang berangkat atau tiba di stasiun Gambir lagi.

foto berlatar belakang tugu monas

foto berlatar belakang tugu monas

Menurut rencana, kami akan berangkat ke Pulau Tidung dengan menumpang kapal motor (KM) dari dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, pada pagi harinya. Oleh karena itu, kami pun terpaksa menginap di stasiun untuk menunggu datangnya pagi.

Sambil mengisi waktu, anak-anak kembali bermain kartu lagi. Sebagian ada yang tidur-tiduran atau bahkan tidur benaran. Sebagian lagi ada yang jalan-jalan melihat-lihat stasiun Gambir. Kami juga menyempatkan untuk berfoto-foto di stasiun dengan mengambil latar belakang Tugu Monas di malam hari. Cantik sekali pemandangan malam itu.

 

Tugu Monas

Tugu Monas di foto dari stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Beli Tiket Kereta Api Termepet

Mungkin ini adalah pengalamanku termepet membeli tiket kereta api. Bayangkan, aku membeli tiket kereta api Turangga pukul 18.59. Padahal kereta akan berangkat pukul 19.00. Jadi hampir tidak ada semenit jeda antara aku membeli tiket dan naik ke dalam kereta.

Makanya, begitu aku membeli tiket kereta, langsung saja aku ambil langkah seribu menuju kereta. Benar saja, begitu aku lompat ke dalam kereta, secara perlahan kereta mulai berjalan. Nggak biasanya aku naik kereta semepet itu. Maklum saja, kepulangan malam hari itu memang benar-benar tidak aku rencanakan. Sorenya sehabis tanding voli membela HMIF di olimpiade di kampus, tiba-tiba langsung kepikiran pingin pulang ke Malang. Hihihi… Ada-ada saja.

Tiket KA bersejarah :)

Tiket KA bersejarah 🙂