Tag Archives: makanan

Sambel Gledek

Makan Makanan Pedas

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk meredakan stress yang melanda dirinya. Tak terkecuali saya.

Salah satu cara saya untuk menghilangkan stress tersebut adalah dengan melampiaskannya pada makanan pedas. Saat stress biasanya saya menjadi kurang bernafsu makan. Karena itu, untuk meningkatkan nafsu makan itu saya biasanya mencari makanan pedas.

Di Bandung ini ada 1-2 tempat makan favorit saya yang menyajikan menu dengan sambal yang pedas. Saking pedasnya mereka ada yang menyebutnya dengan sambel gledek atau sambel membara.

Begitu melihat warnanya yang oranye merona seperti itu saja sudah bertambah nafsu makan saya. Begitu memakannya, muncul perasaan seperti terhibur dalam diri saya.

Dihinggapi rasa penasaran, saya mencari penjelasan ilmiahnya. Menurut artikel ini katanya makan makanan pedas dapat meningkatkan produksi hormon serotonin. Hormon tersebut menurut para peneliti merupakan hormon yang berperan dalam menyeimbangkan mood manusia, memberikan rasa bahagia atau sejenisnya.

Itu ternyata sebabnya. Jadi, walaupun harus berpeluh keringat dan kadang berlinang air mata, makan makanan pedas ternyata bisa membuat hati gembira. Hahaha. 😀

 

 

Advertisements

Aplikasi Halal Locator

Sebulan yang lalu sebelum berangkat trip ke Penang, Malaysia, aku tiba-tiba kepikiran ada nggak ya aplikasi Android untuk mencari restoran halal. Malaysia walaupun negaranya mayoritas (lebih dari 50%) berpenduduk muslim, tapi tetap saja aku merasa perlu untuk meyakinkan diri bahwa makanan-makanan yang akan kukonsumsi adalah halal.

Apalagi dari review-review yang kubaca di internet terkait wisata kuliner di Penang ini menceritakan bahwa beberapa rumah makan di sana, terutama masakan-masakan China, menyajikan makanan non halal. Tapi salutnya dari pengalaman beberapa traveler ketika mereka akan membeli makanan di sana, oleh pelayan/pemilik beberapa rumah makan di sana ia diperingatkan bahwa makanan yang disajikan di sana adalah non halal.

Kembali ke pencarian aplikasi Android tadi. Eh, ternyata ada lho aplikasi halal locator di Google Play. Ada beberapa, dan yang mendapatkan rate di atas 4 (skala 5) ada aplikasi Halal dan Sri Lanka Halal Product Finder. Well, coverage-nya memang tak seluruh negara di dunia. Aplikasi yang kedua kusebutkan, dari namanya sudah kelihatan lah ya… dia khusus negara Sri Lanka saja. Aplikasi yang pertama, Halal, ternyata hanya mencakup wilayah Malaysia saja. Tapi itu pas banget dengan yang kubutuhkan.

Aku tidak begitu tahu apakah aplikasi ini ada hubungannya dengan MUI-nya Malaysia atau tidak. Tapi di aplikasi itu ada copyright milik HDC (Halal Industry Development Corporation). Apa itu HDC? Silakan baca penjelasan lengkapnya di sini. Singkatnya sih, HDC ini adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh pemerintah Malaysia untuk mendorong perkembangan industri halal di Malaysia. Terkait dengan industri halal ini, Malaysia tampaknya memang menunjukkan keseriusannya sih. Mereka ingin menjadi role model dan bahkan leader di industri halal internasional, salah satunya melalu World Halal Forum.

Ok, balik lagi ke aplikasi tadi. Yang jelas direktorinya memang benar-benar lengkap. Hanya saja aku kurang begitu tahu apakah direktori itu terus diperbaharui ataukah tidak. Melalui aplikasi itu, pengguna bisa melakukan pencarian berdasarkan keyword tertentu, di negara bagian tertentu, dan ukuran perusahaan (UKM kah, sedang kah, atau multinasional).

Ini dia beberapa screenshoot dari aplikasi Halal tersebut.

Screenshoot di atas diambil dari menu Directory. Itu berguna sekali ketika kita mau ngecek apakah suatu produk atau restoran sudah tersertifikasi halal atau tidak. Nah, bagaimana kalau kita ingin mencari daftar restoran halal di dekat kita. Di aplikasi ini ada fitur Nearby. Halal locator lah istilah kerennya.

Sayang aku nggak sempat mengambil screenshoot-nya waktu di Penang kemarin. Baru kuambil saat sudah berada di Bandung ini. Tentu saja nggak muncul hasilnya lah, hihi.

Search nearby

Search nearby

It really works. Aku lumayan terbantukan sewaktu kelaparan mencari rumah makan saat jalan-jalan di Georgetown, Penang, sebulan yang lalu. Sebenarnya konsepnya miriplah sama aplikasi semacam foursquare, toresto, atau aplikasi pencari tempat makan yang lain. Cuma ini lebih spesifik ke produk halal (yang sudah tersertifikasi).

Sayang euy di Indonesia belum ada aplikasi semacam ini. Mungkin masih belum merasa perlu ya kita. Kalau di negara di mana umat muslimnya adalah minoritas, jelas akan sangat diperlukan aplikasi semacam ini. Semoga dari World Halal Forum tadi mampu membuat direktori produk-produk dan restoran halal di seluruh dunia kalau bisa. Dan semuanya itu bisa diakses dari satu aplikasi yang sama, jadi tidak perlu menginstal satu aplikasi tiap satu negara, hehe.

[Book] Halal Is My Way

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (Q.S. Al-Maidah : 88)

Melalui ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalal thayyiban). Tidak cuma halal, tapi juga baik (untuk tubuh kita). Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertakwa kepada Allah. Usaha kita mencari hal-hal yang halal dan menjauhi yang haram, ibarat penggaris yang mengukur keimanan kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita wajib tahu mengenai apa-apa yang masuk kategori halal dan haram.

Sebab walaupun kita tinggal di negara yang mayoritasnya Muslim, ternyata tidak menjamin bahwa makanan-makanan yang disajikan, terutama di restoran-restoran oriental atau masakan barat, bebasa dari zat yang diharamkan oleh syariat. Untuk itu, kita dituntut untuk selalu berhati-hati agar tidak sampai mengonsumsi makanan haram. Dan kehati-hatian itu perlu didukung juga dengan wawasan yang cukup.

Buku "Halal Is My Way"

Buku “Halal Is My Way”

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku “Halal Is My Way” karya Aisha Maharani (pengelola akun @halalcorner). Buku ini cukup ringan dibaca (dan dibawa :D). Konten utamanya saya hitung tidak sampai 100 halaman. Jadi cocok buat Anda yang suka mabuk duluan lihat buku tebal, hehe.

Buku ini dikemas dengan cukup menarik. Ada beberapa bab materi yang menjelaskan mengenai latar belakang edukasi halal, dampak mengonsumsi barang haram, ciri-ciri makanan dan minuman yang diharamkan, hingga pengetahuan mengenai proses sertifikasi halal. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa cerita kartun yang saya rasa akan menarik bagi anak-anak untuk belajar tentang halal sejak dini. Tak hanya itu, di buku ini juga disisipi resep-resep makanan dan minuman sederhana yang tentunya halal juga dong.

Bagi saya sendiri, setelah membaca buku ini saya mendapatkan banyak wawasan baru. Wawasan baru itu terutama mengenai varian zat bahan tambahan pangan (BTP) dan proses sertifikasi halal. Selain wawasan baru, melalui buku ini saya juga kembali diingatkan mengenai dampak-dampak dari mengonsumsi barang haram terhadap amalan ibadah dan juga efeknya bagi tubuh kita.

Well, saya tidak akan menceritakan detail isi buku ini tentunya. Bagi rekan-rekan pembaca yang tertarik membeli buku “Halal Is My Way” ini, bisa memesan secara online melalui websitenya di sini. Harganya Rp39.000 (belum termasuk ongkos kirim).

Satu kekurangan buku ini menurut saya adalah bukunya yang kurang tebal :P. Sebenarnya saya mengharapkan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai praktik penggunaan varian zat-zat yang diharamkan pada produk makanan dan kosmetik di masa yang teknologinya sudah semakin canggih ini. Tapi katanya akan dibahasa secara khusus di seri buku berikutnya. Mari kita tunggu saja. 🙂

Ke Acara Fermenstation di ITB

Well, terus terang selama kuliah di ITB seingatku aku belum pernah datang ke acara Fermenstation, semacam acara pameran makanan-makanan fermentasi karya mahasiswa-mahasiswa/i Mikrobiologi. Kalau tidak salah, produk-produk makanan fermentasi itu merupakan tugas di mata kuliah Mikrobiologi Analitik.

Nah, baru kali ini (tadi pagi) aku mengunjungi acara Fermenstation ini, haha. Yakni ketika aku sudah menjadi alumni dan tanpa sengaja pula ke sananya, wkwkwk. Ya, bukan hal yang direncanakan sebenarnya tadi. Aku dan dua orang teman kuliahku dulu ceritanya lagi jalan-jalan di kampus sehabis lari pagi di SARAGA dan iseng-iseng masuk ke arena pamerannya.

Kreatif-kreatif juga produk-produk fermentasinya. Acara Fermenstation itu, selain menampilkan produk-produk mahasiswa, juga ada beberapa stand pihak-pihak luar yang juga menyajikan produk-produk fermentasi juga. Sebagian di antaranya adalah alumni-alumni Mikrobiologi ITB juga. Ternyata dari produk-produk hasil ‘eksperimen’ mereka semasa mahasiswa, banyak di antaranya yang diseriusi dengan menjalankan bisnis jualan produk-produk mereka itu di pasaran.

Anyway, di setiap ajang pameran produk makanan tentu selalu ada yang namanya sample makanan alias makanan untuk tester, yang diberikan secara cuma-cuma untuk pengunjung, hehe. Termasuk di acara Fermenstation ini. *Tahu gitu, aku dulu rutin datang ke acara Fermenstation waktu masih jadi mahasiswa, hehe*.

Naluri mahasiswa untuk tidak mengenal malu menyantap semua makanan gratisan tampaknya mulai hilang. Dari sekitar 8 stand lebih, aku hanya mencicipi produk dari 2 stand saja. Tadi aku mencicipi cream cheese produk dari alumni Mikrobiologi 2008 dan fermentasi nasi produk dari salah satu kelompok mahasiswa Mikrobiologi 2010. Well, rasa makanan-makanan fermentasi itu memang cukup unik :D. Tidak hanya mencicipi produk-produk fermentasi itu sih, kami juga membeli produk makanan jadi mereka yang sudah dikemas dengan memanfaatkan hasil fermentasi itu. Ada cake isi cream cheese tadi dan juga cake dengan sauce fermentasi nasi itu tadi. Sayang euy tidak sempat aku potret tadi.

Btw, mereka sempat menjelaskan proses pengolahan dan lain-lainnya tentang produk mereka sih. Sedikit-sedikit mengerti, tapi lebih banyak nggak mengertinya sebenarnya, hehe. Kata kunci yang terdengar dari penjelasan mereka ya fermentasi, mikroba, pasteurisasi, dsb :D.

Ini beberapa foto di lokasi acara Fermentation tadi:

Penampilan tari Saman

Penampilan tari Saman

Keramaian pengunjung di stand mahasiswa

Keramaian pengunjung di stand mahasiswa

Stand-stand non mahasiswa

Stand-stand non mahasiswa