Category Archives: Random

Akhinya “SK” Pun Ganti Menjadi “SS”

Aku baru saja baca berita hari ini di Kompas. Sumber Kencono atau yang biasa disebut “SK” saja, bus “legendaris” di petak Jogja-Surabaya, ternyata baru saja berganti nama menjadi “Sumber Selamat” (SS). Hohoho…

Bus ini memang cukup terkenal di kalangan masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian Timur. Armada bus ini terkenal karena kebiasaan ugal-ugalannya. Selain itu, angka kecelakaannya juga termasuk tinggi. Tak heran nama Sumber Kencono ini sering dipelesetkan oleh masyarakat menjadi “Sumber Bencono” alias “sumber bencana”. Bahkan, suatu ketika bus ini pernah dibakar di Ngawi oleh massa karena menabrak pengendara sepeda motor hingga tewas. Mungkin karena ingin mengubah image, nama armada ini akhirnya diganti menjadi seperti itu (Sumber Selamat).

Aku sendiri dan orang tuaku cukup familiar juga dengan bus Sumber Kencono ini. Tapi itu dulu sih. Setiap berkunjung ke Jogja, Solo, atau Sragen, saat lebaran, pas balik ke Surabaya-nya kami  cukup sering menggunakan Sumber Kencono. Busnya memang murah, tapi ketepatan sampai di tujuan boleh dibilang melebihi bus PATAS, hehehe. Selain itu, bus ini selalu sedia 24 jam. Biasanya kami berangkat dari Sragen pukul setengah 6 pagi dan bus ini selalu yang kami temui.

Oke, sekarang dengan bergantinya nama “Sumber Kencono” menjadi “Sumber Selamat”, mudah-mudahan bukan hanya namanya yang berubah, tetapi pelayanan penumpang serta tata cara mengemudi di jalan raya pun juga bisa berubah menjadi lebih baik.

Bus "Sumber Kencono"

Bus "Sumber Kencono" (source: ylpkjatim.com)

Bus "Sumber Selamat"

Bus "Sumber Selamat" (source: Kompas.com)

Circle Me

Hmm… kalau Google Plus (Google+)—Jejaring sosial terbaru bikinan Google—jadi populer dan banyak orang yang tergabung, kira-kira akan ada frase atau idiom baru apa lagi ya yang bakal populer? Di Twitter kita kenal istilah “follow me”, “follow back”, “timeline”, dan “mention me”. Di Facebook kita kenal istilah “like this” dan “news feed” (Terus pa lagi sih?).

Google sendiri telah “menyumbangkan” satu kosa kata baru dalam bahasa Inggris yang akhirnya terdaftar pada Oxford Dictionary.  Di sana dikatakan sbb:

Google : search for information about (someone or something) on the Internet, typically using the search engine Google.

Nah, kelak apabila Google+ benar-benar populer, kayaknya bakal populer juga frase atau istilah “circle me”, “circle back”, “hangout”, dan “stream”. Jadi, nanti kalau ketemu teman atau orang lain, atau ngasih komentar di status orang, bakal ada yang bilang: “Eh, circle back gue dong”, “Eh, hangout-an yuk!”, “Stream gue lagi sepi nih”, dan lain sebagainya.

Mungkin ada tambahan lagi? Barangkali suatu saat kamus Oxford bakal nambah lagi daftar atau penjelasan kosa katanya gara-gara tren baru yang terbentuk. Hehehe. :mrgreen:

Warung Ariel

Tiba-tiba saja ingin menulis tentang ini. Gara-garanya, di timeline akun twitter @itweetb lagi membahas tentang warung Indomie (bukan ngiklan). Di daerah kosan mahasiswa-mahasiswa ITB, termasuk daerah Cisitu, warung-warung Indomie ini memang bertebaran. Sebenarnya nggak bertebaran juga sih. Di Cisitu ada 4-5 warung yang kutahu. Menu standarnya selain Indomie, juga ada bubur kacang hijau, bubur ayam, dan minuman (kopi, jahe, susu, STMJ, dsb.).

Warung-warung itu cukup populer di lingkungan kami. Apalagi kalau sudah larut malam atau dini hari gitu. Warung tersebut boleh dibilang menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Maklum saja, warung-warung Indomie itu buka 24 jam, kecuali saat Jumatan :D.

Tapi ada satu hal yang menarik. Di Cisitu ada satu warung yang cukup laris karena salah satu mas-mas karyawannya, wajah, potongan rambut, dan posturnya mirip Ariel Peter Pan, hihihi. Makanya teman-teman dekat memberikan sebutan untuk warung itu dengan nama “warung Ariel”. Nah, di tweet akun @itweetb itu ternyata banyak juga yang berpikiran demikian. Tampaknya memang tidak hanya aku dan teman-temanku yang merasa mas-mas itu punya tampang mirip Ariel, anak-anak ITB juga punya pendapat yang sama, hehehe. Sayang nggak ada fotonya. Kalau ada, mungkin bisa dibandingkan :mrgreen: (*kurang kerjaan).

Menulis dan Berkarya

Baru dapat quote dari grup Facebook SMA yang dikutip oleh guru saya. Saya rasa quote-nya sangat bagus. Quote tersebut merupakan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, penulis kenamaan Indonesia.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer.

Mungkin menulis blog ini adalah termasuk yang dimaksud oleh bung Pramoedya tadi, hehehe. Mahasiswa menulis skripsi atau tugas akhir barangkali juga termasuk yang dimaksud oleh beliau. 😀

Namun, barangkali kalau boleh saya tambahkan, tidak hanya menulis agar tidak hilang dalam masyarakat dan sejarah. Anak Informatika atau Ilmu Komputer misalnya, dengan membuat software komputer, apalagi yang berguna untuk masyarakat banyak, Insya Allah ia tidak akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah itu tadi. Jadi poin utama di sini adalah BERKARYA.

Tentang Tokek

Tokek

Tokek (jabar.tribunnews.com)

Akhir-akhir ini saya sering mendengarkan suara tokek lagi saat pulang kampung ke Malang. Suara tokek itu sering terdengar dari belakang kamar saya yang memang merupakan kawasan pemakaman alias kuburan.

Tiba-tiba saya jadi tersadar, ternyata selama saya tinggal di Bandung rasanya saya belum pernah mendengar suara tokek di lingkungan sekitar tempat tinggal saya itu. Padahal saya sudah berpindah tempat kosan hingga 3 kali. Namun, di tiap daerah kosan yang saya tinggali, saya belum pernah mendengar suara tokek itu lagi. Padahal di lingkungan tempat tinggal saya di Malang, suara tokek itu sudah menjadi teman akrab sehari-hari (dulu, nggak tau kalo sekarang, hehe).

Waktu masa kecil dulu saya dan teman-teman sering mendapati tokek-tokek berkeliaran di dinding rumah-rumah kosong yang ada di lingkungan tempat tinggal kami. Pernah suatu kali kami dapat tokek kecil yang kebetulan jatuh dari dinding. Namanya anak kecil, suka usil, salah seorang dari kami ada yang usil naruh tokek tersebut ke punggung salah satu anak, hihi.

Hmm… sebenarnya saya penasaran banget sama si tokek a.k.a gecko ini. Mengapa ya tokek itu mengeluarkan bunyinya pada waktu tertentu saja dan suaranya keras sekali? Maksud saya, dibandingkan dengan bangsa reptil lainnya dia satu-satunya yang memiliki keunikan di situ. Kalau iseng kita hitung, setiap kali bersuara, jumlah kata ‘tekek’ yang dia keluarkan juga tidak selalu sama. Pengaruhnya apa ya?

Saya sudah coba googling di Internet, tapi belum menemukan artikel riset yang membahas tentang gecko phenomena ini. Kalau berita di Indonesia, yang ada malah berita tentang praktik jual beli tokek ini yang nilainya (katanya) sampai puluhan juta rupiah.

Kembali ke rasa penasaran saya tadi. Hmm… kenapa ya? Ada yang tahu?

Mati Listrik, Ngapain Ya?

Mati listrik (ilustrasi)

Nyala lilin di kontrakan

Tumben-tumbenan sore ini tadi mati listrik hingga 3 jam, dari sekitar jam 4 sore hingga jam 7 malam. Cukup lama juga mati listrik sore ini. Termasuk yang terlama yang pernah kurasakan selama di Bandung.Dulu pernah sih, mati listrik selama itu sebelumnya, tapi itu terjadi saat malam hari di mana orang-orang sudah terlelap, jadi nggak begitu terasa, hehe.

Bingung juga tadi sore begitu pulang dari kampus sehabis UAS, dihadapkan dengan listrik mati di kontrakan. Mau balik ke kampus, tapi ngapain. Akhirnya aku ambil sisi positifnya sajalah. Aku jadi tidak menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Sudah lama juga merindukan suasana hening dan gelap seperti ini. Hitung-hitung memberi kesempatan indera penglihatan dan pendengaran ini untuk sementara dari keramaian cahaya dan suara yang hampir setiap saat ditemui (kecuali waktu tidur :P).

Kesempatan itu aku manfaatkan juga ngumpul-ngumpul bareng anak-anak sekontrakan yang beberapa memang lagi ada di rumah. Kami ngumpul di kamar Khairul yang memang lebih luas dan lebih terang. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul ke mana-mana dan seperti biasa si Wafi selalu memancing perdebatan.

Kalau kalian gimana? 😀

Basa-Basi Pisang Goreng

Judul di atas adalah judul sebuah film pendek yang ikut serta dalam festival film LA Indie Movie 2009. Sudah lama memang. Sudah hampir 2 tahun yang lalu. Tapi saya baru tahu film itu baru-baru ini dari teman saya, hehe. Meskipun sudah lama banget, tidak ada salahnya kan kalau saya berkomentar sedikit tentang film itu.

Bagi yang ingin menonton film tersebut, ini dia streamingnya yang dapat ditonton via Youtube:

Film besutan Ruth Redico (Yogyakarta) ini menggunakan bahasa Jawa untuk dialog pemeran-pemerannya. Bahasa Jawa yang dipakai adalah Jawa halus alias krama inggil. Tapi ada juga sih beberapa dialog yang pakai bahasa Jawa ngoko.

Kesan saya terhadap film ini adalah film ini cukup kocak dan menyentil. Apa yang disentil? Apalagi kalau bukan karakter orang Jawa yang sungkanan. Bahkan, sampai urusan makan pisang goreng pun masih sungkan-sungkan. Di mulut bilangnya mempersilakan yang lain untuk duluan (makan pisang goreng), padahal di dalam hatinya dia sendiri sangat menginginkan (pisang goreng itu). Kalau saya sih, jika sudah menyangkut urusan makanan, tidak sungkan-sungkan kalau memang saya suka dan lapar, hehe.

Di akhir film itu ada sebuah lagu penutup beraliran rap yang memiliki lirik yang mengangkat tema tentang budaya orang Jawa yang sungkanan itu. Kerennya, lagu rap itu menggunakan lirik bahasa Jawa! Ini dia kutipannya:

Basa-basi wong Jowo
Saiki dadi budoyo
Ning lambe arep ngomong opo
Njubule ning ati nduwe karep liyo

Salah sawijining
Sifate wong Jowo
Wis mbudidoyo
Soko jaman semono
Ora biso ilang
Ora biso diganti
Eh lho kok saiki malah ngisin-ngisini
Basa-basi dumadi soko rasa sungkan
Roso sungkan ning wong lan ewoh-ewohan
Wong tuwo ning enom
Cah enom ning tuwo
Biso-biso malah dadi marai molo

Walah, pancen mbingungke
Yen wis koyo ngene, suwe-suwe biso dadi padu
Cocot canyocot, malah dadi saru
Yen tangan lan sikil wis melu, ora urusanku
Ora usah tukaran, mending guyon-guyonan
Lha wong dhewe iki urip soko kekancan
Basa-basi kuwi yo mung kebiasaan
Ora basa-basi, yo ora popo tho yoo…