Nonton Langsung Singapore Open 2014 (Bag. 2-Tamat)

Penginapan di Singapura

Aku berada di Singapura selama 3 hari 2 malam. Selama 2 malam itu aku menginap di ABC Backpackers Hostel yang berlokasi di Jalan Kubor, Bugis. Aku memesan via Agoda dan mendapat tarif per malam sekitar 180 ribu rupiah.

Kenapa di sana? Pertimbangan utamaku adalah mencari hostel murah yang lokasinya dekat masjid. ABC Backpackers Hostel ini hanya berjarak sekitar 50 meter saja dari Masjid Sultan.

Dengan dekat masjid aku tak perlu repot-repot untuk mencari tempat sholat. Aku merasa nggak nyaman aja sholat di kamar yang memiliki model dormitory ini di tengah orang-orang yang nggak dikenal. Selain itu, biasanya di area sekitar masjid terdapat rumah makan yang (Insya Allah) sudah jelas kehalalannya.

Kondisi kamar yang kutempati

Kondisi kamar yang kutempati

Selain pertimbangan dekat dengan masjid, aku juga mempertimbangkan jarak hostel terhadap shelter bus atau stasiun MRT untuk mobilitas ke tempat lain. Nah, lokasi ABC Backpackers Hostel ini berjarak sekitar 200 meter ke stasiun MRT Bugis. Sekitar 20 meter dari hostel terdapat shelter bus juga.

So, maghrib itu setelah menonton babak semifinal OUE Singapore Open Super Series 2014, aku pergi menuju penginapan dengan menaiki MRT dari stasiun Stadium ke stasiun Bugis, transit di stasiun Promenade. Oh ya, waktu tempuh dari stasiun MRT ke stasiun Bugis ini juga menjadi salah satu pertimbanganku. Jarak keduanya hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit.

Finals Day

Pertandingan babak final Singapore Open pada hari itu baru dimulai pukul 13.00 waktu lokal. Artinya aku masih memiliki waktu efektif sekitar 3 jam lah untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Tempat yang kupilih adalah Singapore Botanic Gardens. Cerita tentang jalan-jalanku ke sana akan kutulis di artikel terpisah.

Selain Singapore Botanic Gardens, aku sempat main juga ke Merlion Park. Singkat cerita, dari Merlion Park, tepatnya stasiun MRT Raffles Place, aku naik MRT ke stasiun Stadium, transit di stasiun Marina Bay.

Berbeda dengan sehari sebelumnya di mana aku hampir telat 2 jam, pada babak final ini aku datang setengah jam lebih awal. Stadion sudah cukup ramai. Hanya kebanyakan mereka masih bertahan di booth area. Booth area ini hanya diisi oleh Li Ning kalau tidak salah, selain tentunya juga beberapa stand makanan. Li Ning “mengobral” jersey-jersey mereka seharga SGD30 atau sekitar Rp270.000. Aku nggak tahu sih harga segitu sebenarnya termasuk mahal, normal, atau murah. Yang jelas sayang banget beli jersey dengan ngeluarin duit segitu, haha.

Suasana dalam stadion yang masih sepi

Suasana dalam stadion yang masih sepi

Pukul 13.00 tepat babak final OUE Singapore Open Super Series 2014 ini dimulai. Partai ganda campuran antar sesama pemain Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Riky Widianto/Puspita Richi Dili mengawali babak final hari itu. Btw, 15 menit sebelum babak final dimulai Riky Widianto sempat diminta oleh tournament referee untuk menguji kondisi lapangan, terutama kondisi angin.

Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Tontowi/Liliyana dengan skor 21-15, 22-20. Pertandingannya sendiri menurutku kurang “panas” sih. Mungkin karena mereka sudah sering latihan bersama jadi sudah tahu sama tahu. Riky/Richi sendiri kelihatan tidak sedang dalam permainan terbaiknya saat itu.

Btw, orang Singapore yang duduk di sebelahku sempat penasaran Blibli itu nama perusahaan apa. Dia melihat di jersey yang dikenakan pemain Indonesia ada tulisan Blibli.com. Langsung kukasih tahu kepada beliau kalau Blibli itu adalah situs e-commerce di Indonesia. Aku jadi penasaran, Blibli ada fasilitas shipping internasional nggak sih? Atau jangan-jangan mereka memang mau go international seperti Amazon, e-bay, dll. dengan mensponsori pemain badminton Indonesia ini?

Tontowi/Liliyana dan Riky/Richi sedang melakukan pemanasan

Tontowi/Liliyana dan Riky/Richi sedang melakukan pemanasan

Pertandingan kedua adalah all chinese women’s singles final antara Li Xuerui vs Wang Yihan. Pertandingan yang agak membosankan menurutku. Aku sampai ngantuk menontonnya. Sempat ada satu reli panjang dan sepertinya terpanjang dalam keseluruhan partai final hari itu. Tapi aku sejak awal sudah menduga partai ini akan dimenangkan oleh Wang Yihan. Entahlah, aku melihat banyak kesalahan dari Li Xuerui yang sepertinya disengaja. Another fixed match by China? Who knows.

Memasuki partai ketiga, semangatku untuk menonton mulai bangkit lagi. Partai ketiga ini mempertemukan pasangan ganda putra dari China Cai Yun/Lu Kai melawan ganda putra dari Taiwan Lee Sheng Mu/Tsia Chia Hsin. Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh pasangan China dengan skor 21-19, 21-14. Aku cukup impressed dengan penampilan Lu Kai secara khusus. Smash-smashnya dalam pertandingan ini benar-benar tajam dan kencang. Wow!

Awal set ke-2 partai ganda putra

Awal set ke-2 partai ganda putra

Partai keempat lagi-lagi juga menjadi milik China. Bao Yixin/Tang Jinhua yang turun di partai final ganda putri berhasil mengalahkan pasangan Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl melalui pertandingan sengit 14-21, 21-19, 21-15.

Akhirnya tibalah partai yang ditunggu-tunggu oleh penonton di stadion. Yakni partai final tunggal putra antara Lee Chong Wei dari Malaysia melawan pemain kualifikasi dari Indonesia, Simon Santoso.

Walaupun selisih peringkat kedua pemain terpaut sangat jauh, yakni peringkat 1 dunia dan 50-an, pertandingan ini menjanjikan pertarungan seru karena performa Simon yang menunjukkan kebangkitan belakangan ini. Lee Chong Wei datang ke Singapore Open ini dengan status juara 3 Super Series sebelumnya. Simon Santoso datang dengan status juara Malaysia Open GPG 2014.

Jelas, Lee Chong Wei adalah favorit kuat pada pertandingan ini. Penonton di Singapore Indoor Stadium ini juga banyak sekali yang mengelu-ngelukan Lee Chong Wei.

Adu netting antara Lee Chong Wei dan Simon Santoso

Adu netting antara Lee Chong Wei dan Simon Santoso

Namun, tanpa diduga pada pertandingan ini Simon bermain sangat cemerlang. Lee Chong Wei sepertinya tampak kaget dan tidak siap dengan penampilan bagus yang ditunjukkan Simon. Simon bermain rapih tanpa membuat banyak kesalahan. Netting-nettingnya sangat halus sehingga sering memaksa Chong Wei untuk mengangkat bola yang kemudian diakhiri Simon dengan smash yang akurat.

Dalam pertandingan ini Simon unggul 21-15, 21-10. Sebuah skor mencolok yang menunjukkan dominasi Simon atas Chong Wei. Wow! Benar-benar bangga rasanya melihat langsung pemain Indonesia berhasil mengalahkan Lee Chong Wei, apalagi dengan skor telak. Terakhir kali pemain Indonesia yang bisa mengalahkan Lee Chong Wei, kalau tidak salah, adalah Taufik Hidayat di Kejuaraan Dunia tahun 2010.

Btw, setelah kemenangan Simon ini di situs Badminton Central, forumnya para penggemar badminton dari manca negara, banyak yang menanyakan tentang brand Astec yang dipakai Simon ini. Tampaknya banyak yang baru mendengar tentang keberadaan Astec ini. Wah, kalau Simon bisa terus konsisten berprestasi, jelas ini bakal menjadi sarana promosi yang hebat bagi Astec. :D

Simon Santoso dan Lee Chong Wei di atas podium

Simon Santoso dan Lee Chong Wei di atas podium

Setelah menonton prize ceremony nomor tunggal putra, aku pulang meninggalkan stadion. Aku kembali menuju penginapan dengan menaiki MRT. Aku sholat jama’ takhir Ashar dan Dhuhur di Masjid Sultan. Malam itu aku masih stay di Singapura untuk 1 malam lagi. Jadwal pesawat ke Bandung baru pagi keesokan harinya. (tamat)

Nonton Langsung Singapore Open 2014 (Bag. 1)

Setelah nonton langsung Malaysia Open Super Series Premier Januari lalu (baca ceritanya di sini), weekend kemarin (12-13 April) gilirannya nonton Singapore Open Super Series. Berbeda dengan di Malaysia kemarin yang nonton bersama teman, kali ini aku berangkat sendiri ke Singapura.

Pesawat Bandung-Singapura PP

Tiket Bandung-Singapura PP sudah kubeli pada awal bulan Desember 2013 lalu. Kebetulan waktu itu dapat promo Tigerair “Pergi Bayar Full, Pulang Bayar Rp 1″ (atau kebalik ya, haha). Kalau ditotal pulang-pergi habis Rp539.001,-. Itu sudah termasuk booking fee Tigerair yang berlaku untuk 1 penerbangan internasional sebesar Rp63.000 dikali 2 karena pulang-pergi. Mahal ya. Tapi segitu masih terbilang murah sih untuk tiket Bandung-Singapura PP.

Pada hari Sabtu kemarin (12/4) pesawat Tigerair nomor penerbangan TR2203 take off dari Bandung menjelang pukul 12 siang. Agak telat dari jadwal seharusnya sih yang pukul 11.40 (GMT+7). Tapi hebatnya pesawat tiba on time pukul 14.35 waktu setempat (GMT+8).

Pesawat Tigerair menjelang berangkat dari Bandara Husein Sastranegara

Pesawat Tigerair menjelang berangkat dari Bandara Husein Sastranegara

Naik MRT dari Changi Airport ke Singapore Indoor Stadium

Btw, ini adalah pengalaman pertamaku ke Singapura. Sempat bingung juga sih lewat mana setelah selesai urusan imigrasi. Untungnya papan-papan informasi dan penunjuk arah di bandara Changi ini sangat jelas. Yang jelas aku harus menuju ke stasiun MRT bandara untuk dapat naik MRT ke Singapore Indoor Stadium, tempat diselenggarakannya turnamen.

Pertama-tama, aku membeli kartu EZ-link dahulu di ticket office dekat MRT gates. EZ-link ini kuperlukan agar urusan naik MRT ke mana-mana menjadi praktis (EZ-link card tidak hanya berlaku untuk MRT saja lho). Setelah itu aku naik MRT ke stasiun Stadium, pakai transit ganti MRT di stasiun Tanah Merah dan Paya Lebar.

Aku tiba di stasiun Stadium sekitar setengah empat sore. Berarti aku telat hampir 2 jam. Babak semifinal dimulai pukul 2 siang. Yah, sudah risiko sih. Soalnya dari Bandung ke Singapore ongkos pesawat yang lagi murah cuma Tigerair yang berangkat siang ini. :D

Penampakan Singapore Indoor Stadium dari pintu keluar stasiun MRT

Penampakan Singapore Indoor Stadium dari pintu keluar stasiun MRT

Tiket Babak Semifinal dan Final

Jujur, tiket Singapore Open Super Series ini sungguh amat mahal! Standard Event Day Tickets untuk babak semifinal dipatok seharga S$40 dan final S$44. Aku nggak tahu sih itu harga tiket tersebut berlaku untuk kelas apa.

Namun untungnya pihak event organizer membuka early bird untuk tiket musiman alias untuk seluruh babak turnamen. Harganya S$40 untuk kelas 2. Yah, Kalo dihitung-hitung tentu jauh lebih murah ini sih. Akhirnya aku pun membeli tiketnya melalui website event organizer-nya, Sports Hub Singapore, di sini. Untuk masuk ke dalam stadion, aku tinggal menunjukkan print-out tiket yang sudah dikirimkan via email.

 

Tiket semifinal dan final Singapore Open 2014

Tiket semifinal dan final Singapore Open 2014

Semifinals Day

Sabtu sore hari itu aku telah melewatkan dua pertandingan pertama di court 1 yang mempertandingkan partai ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Liu Cheng/Bao Yixin dan tunggal wanita Li Xuerui vs Sung Ji Hyun. Sementara di court 2 aku melewatkan pertandingan wakil Indonesia lainnya di ganda campuran Riky Widianto/Puspita Richi Dili yang melawan pasangan Korea Ko Sung Hyun/Kim Ha Na.

Ketika aku masuk ke dalam hall stadion, di court 1 baru akan memasuki partai ketiga antara Simon Santoso melawan Du Pengyu. Sementara di court 2 baru saja menyelesaikan set ke-1 partai ganda putra Cai Yun/Lu Kai vs Yoo Yeon Seong/Kim Sa Rang. Yah, lumayanlah masih sempat nonton Simon main. Yang lebih menggembirakan lagi, pada pertandingan itu Simon menang setelah melalui pertarungan ketat melawan Du Pengyu 16-21, 21-17, 21-17. Yayy… bisa lihat Simon di final!

Pertandingan seru lainnya sore itu tentu saja dua partai ganda putra antara Cai Yun/Lu Kai (China) vs Yoo Yeon Seong/Kim Sa Rang(Korea) dan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin (Taiwan) vs Ko Sung Hyun/Shin Baek Choel (Korea). Banyak terjadi adu reli dan jual beli smash. Men’s doubles at its highest intensity! Sayang euy, dari 2 pasangan Korea tersebut tak ada satupun yang lolos ke final.

Partai ke-4 di court 1, yakni antara pasangan ganda putri Denmark Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl melawan pasangan Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi, ternyata juga tak kalah menarik. Pertarungan antara dua pasangan ganda putri ini dimenangkan oleh Christinna/Kamilla 11-21, 21-15, 21-14.

Sementara itu, partai semifinal ganda putri lainnya antara sesama pasangan China urung dilaksanakan karena salah satu pasangan melakukan walkover. Ketika pengumuman ini disampaikan oleh presenter di dalam stadion, seluruh penonton kompak berteriak, “Boo…!” Yup, bukan sekali dua kali ini saja China melakukan taktik kotor seperti ini demi menyimpan energi atau menaikkan peringkat salah satu pasangannya.

Partai penutup pada babak semifinal hari itu adalah partai tunggal putra antara peringkat 1 dunia Lee Chong Wei melawan Srikanth K. dari India. Sangat banyak juga supporter Srikanth di Singapore Indoor Stadium ini. Tidak terlalu mengherankan sih, sebab banyak di Singapura ini banyak sekali warga lokal yang merupakan keturunan India. Teriakan-teriakan dukungan terhadap Srikanth terus bergema di dalam stadion. Alhasil, walau perbedaan peringkatnya cukup jauh dengan Lee Chong Wei (antara 25 dan 1), namun Srikanth mampu memberikan perlawanan ketat sehingga hanya kalah 19-21, 18-21. Aku pikir Srikanth memiliki potensi untuk menjadi pemain top tunggal putra di dunia.

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Semifinal Lee Chong Wei vs Srikanth K.

Berakhirnya partai Lee Chong Wei vs Srikanth K. itu menandai berakhirnya babak semifinal OUE Singapore Open Super Series 2014 ini. Para penonton pun langsung beranjak dari kursinya meninggalkan stadion. Aku pun pergi ke stasiun MRT Stadium untuk naik MRT ke penginapan. (bersambung)

 

Route Planner Transportasi Publik di Hong Kong

Mengetahui transportasi apa saja yang akan digunakan saat traveling sangat berguna bagi calon traveler dalam menyusun itinerary dan memperkirakan berapa duit yang harus disiapkan untuk perjalanan. Nah, bagi Anda yang ingin jalan-jalan di Hong Kong, terutama yang pertama kali, tentu tak ingin kan jika waktu Anda terbuang di sana karena harus mencari tahu dulu mau naik apa ke tempat tujuan dan ujung-ujungnya mungkin bisa keluar duit lebih banyak karena salah jurusan atau tak tahu ada alternatif yang lebih murah. Untungnya Hong Kong memiliki sistem transportasi yang kalau kubilang tarafnya sudah world class lah, terutama dalam penyajian informasinya.

Dua jenis transportasi publik utama di Hong Kong, MTR dan bus, memiliki fitur route planner di website-nya sehingga memudahkan kita dalam menyusun rencana perjalanan. Oke, mari kita lihat satu-satu:

1. MTR (Mass Transit Railway)

Website: http://www.mtr.com.hk/eng/homepage/cust_index.html

Di negara lain mungkin kita lebih sering mengenal istilah MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit), atau Metro train. Kalau di Hong Kong mereka menyebutnya MTR.

Trayek MTR di Hong Kong ini terdiri atas 10 jaringan (bisa dicek di wikipedia). Kalau istilahnya di Bus TransJakarta itu koridor. Yah, jaringan itu maksudnya koridor gitu. Biasanya agak pusing sih kalau harus lihat peta rutenya, apalagi jika belum tahu lokasi stasiun yang hendak kita tuju di peta.

Untungnya MTR memiliki peta interaktif route planner a.k.a. journey planner di website yang aku sebutkan di atas tadi. Enak banget, kita tinggal mengetikkan nama stasiun asal dan stasiun tujuan kemudian peta akan menampilkan rute MTR yang bisa kita naiki. Informasi yang ditampilkan juga sudah mencakup interchange station (stasiun tempat berpindah antar koridor), perkiraan waktu tempuh, dan ongkos yang harus kita bayar (baik menggunakan octopus card maupun single journey ticket).

MTR Route Planner: Tung Chung-Tsim Sha Tsui

MTR Route Planner: Tung Chung-Tsim Sha Tsui

Pada peta interaktif tersebut kita juga bisa melihat informasi umum lokasi stasiun, seperti attraction recommendation di dekat situ, kondisi fasilitas untuk penyandang disabilitas, dan toko-toko apa saja yang ada di stasiun tersebut. Lengkap bukan? Untuk mengetahui informasi tersebut, kita tinggal hover nama stasiun lalu akan muncul menu informasi seperti screen shot di atas.

Hebatnya, peta interaktif ini tidak hanya memuat rute MTR di Hong Kong saja. Namun juga MTR di Shenzhen, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “metro”. Shenzhen ini adalah sebuah kota di China yang berbatasan dengan Hong Kong.

2. Citybus & NWFB

Website: http://www.nwstbus.com.hk/home/default.aspx

Citybus & NWFB (New World First Bus) ini hanyalah salah dua operator bus umum di Hong Kong. Masih ada operator bus umum yang lain seperti KMB (Kowloon Bus Motor), LWB (Long Win Bus), dan New Lantao Bus. Namun, selama backpacking di Hong Kong 3 bulan yang lalu, aku hanya menggunakan jasa bus Citybus & NWFB dan New Lantao saja. Untuk bus New Lantao, aku hanya naik sekali, yakni bus no. 23 saat perjalanan dari Tung Chung ke Ngong Ping (baca jadwalnya di sini).

Citybus & NWFB ini di websitenya memiliki fitur Point-to-Point Search. Enak sekali, kita tinggal memasukkan nama tempat asal dan nama tempat tujuan. Setelah itu, aplikasi akan menampilkan daftar trayek bus yang available. Nah, di tiap item trayek bus itu kita bisa melihat lebih detail informasi meliputi berapa meter jarak halte terdekat dari lokasi keberangkatan dan halte terdekat dari lokasi tujuan, halte apa saja yang dilewati, dan berapa tarifnya.

Bus route Central Ferry Pier-Garden Road Peak Tram Terminal

Bus route Central Ferry Pier-Garden Road Peak Tram Terminal

Pada peta interaktif tersebut kita juga bisa menggali informasi tiap halte bus meliputi daftar trayek bus yang berhenti di halte, pemberitahuan dari operator bus, next bus arrival time, dan foto serta Google street view lokasi halte berada. Enak banget kan?

Perlu diketahui bahwa MTR di Hong Kong ini memiliki jam operasi yang terbatas. Umumnya maksimal hingga pukul 1 malam. Untuk informasi lebih detailnya bisa dicek jadwal di masing-masing stasiun. Sedangkan bus umum di Hong Kong bisa dibilang beroperasi 24 jam. Namun, mereka menyediakan trayek bus yang berbeda untuk jam operasi overnight, yaitu jam lewat tengah malam (24.00) hingga pukul 5 pagi.

Selain MTR dan bus, masih ada kapal ferry yang digunakan untuk menyeberang antar lokasi di Hong Kong. Yang paling populer adalah Star Ferry yang digunakan untuk menyeberang dari Tsim Sha Tsui (Kowloon Peninsula) ke Central/Wan Chai (Hong Kong Island) PP. Star Ferry memiliki jam operasi mulai jam 6.30 hingga 23.30 dengan frekuensi penyeberangan mulai tiap 6 menit hingga 20 menit (tergantung jam-jam tertentu).

Menjalankan Flash Video di Android KitKat

Sudah lama sih sebenarnya ingin share tentang cara menjalankan flash video di Android KitKat. Bagi yang sudah meng-update perangkat Android-nya ke KitKat pasti menemui masalah Flash player-nya tidak jalan. Muncul pesan yang mengatakan “This plug-in is not supported”.

Yup, baca-baca di XDA Developers, ternyata ada beberapa API yang dihapus di Android KitKat ini. Padahal API itu dibutuhkan oleh Flash Player agar dapat berjalan.

Thanks to @surviveland yang sudah melakukan modifikasi pada flash player sehingga bisa jalan di Android KitKat. Namun, web browser yang bisa mendukung flash player saat ini baru Dolphin Browser saja.

Berikut ini aku kutip dari situs XDA Developers tersebut langkah-langkah untuk membuat flash player bisa jalan di Android KitKat:

1. Unduh dan pasang Dolphin Browser

    • Download di sini
    • Pada bagian settings Dolphin Browser pastikan bahwa Dolphin Jetpack dalam kondisi on (Klik Menu>Settings).

Screenshot_2014-04-03-21-28-31

2. Unduh dan pasang flash player yang sudah dimodifikasi

    • Download di sini
    • Setelah memasang flash player, pada bagian settings Dolphin Browser pastikan bahwa Flash Player dalam kondisi on (Klik Menu>Settings>Web Content).

Screenshot_2014-04-03-21-35-01

Cukup mudah kan? Yayy… masih bisa muter flash video di Android. :D

Visual Live Score bwf.tournamentsoftware.com menggunakan flash player

Visual Live Score bwf.tournamentsoftware.com menggunakan flash player

Hasil Undian Babak Grup Piala Thomas & Uber 2014

Baru saja Maghrib tadi telah dilangsungkan pengundian babak penyisihan Piala Thomas & Uber 2014 di New Delhi, India. Ini dia hasil undian tersebut:

Piala Thomas

Thomas Cup Draw

Thomas Cup Draw

Piala Uber

Uber Cup Draw

Uber Cup Draw

Setelah melihat hasil undian di atas, tanpa menganggap remeh tim lain, di atas kertas tim Thomas Indonesia harusnya bisa menjadi juara grup. Lawan terberat mungkin akan datang dari tim Thailand. Sedangkan mengenai tim Uber Indonesia, aku pikir mereka sangat berpeluang lolos mendampingi Korea ke babak perempat final. Namun, Singapura tentunya tak bisa dianggap remeh karena secara teknik mereka memiliki kemampuan mencuri poin dari Indonesia.

Bagaimana dengan penentuan babak knock-out alias babak perempat final hingga final? Jika menilik regulasi Badminton World Federation (BWF) terkait Thomas & Uber Cup 2014 pasal 5.8.3 di sini, juara grup akan diurutkan berdasarkan ranking dunia masing-masing tim sehingga unggulan 1 dan 2 tidak akan bertemu sebelum final. Sementara runner-up masing-masing grup akan diundi untuk menentukan siapa lawan yang akan dihadapi. Oleh karena itu, jika Indonesia dan China bisa menjadi juara di grup masing-masing, mereka hanya akan bisa bertemu di babak final Thomas Cup.

Arak-arakan tim Thomas Indonesia 2002

Taufik Hidayat & Hendrawan saat diarak bersama piala Thomas 2002

Menurut rencana Piala Thomas & Uber 2014 ini akan berlangsung pada tanggal 18-25 Mei di New Delhi. Pada penyelenggaraan Piala Thomas & Uber tahun ini Indonesia masing-masing menempati unggulan ke-1 dan 5/8. Yup, untuk pertama kalinya mungkin sejak terakhir kali juara Piala Thomas 2002, tim Thomas Indonesia berhasil menempati unggulan pertama dalam Piala Thomas. Artinya, sebenarnya Indonesia kali ini secara matematis memiliki peluang yang sangat besar untuk merebut kembali Piala Thomas yang terakhir kali diraih pada tahun 2002 di Guangzhou, China.

Semoga saja Piala Thomas bisa kembali lagi ke Indonesia tahun ini! Untuk Piala Uber, aku tak berharap muluk-muluk. Lolos ke semifinal sudah menjadi prestasi luar biasa bagi Indonesia.