Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Berkunjung ke Negeri Ringgit (Lagi)

Malaysia

Malaysia

Hari ini — tepatnya pagi tadi pukul 8.30 — aku berangkat dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung menuju Kuala Lumpur LCCT, Malaysia dengan menumpang pesawat AirAsia. Beda dengan keberangkatan aku sebelumnya ke Malaysia yang bersama Jiwo, kali ini aku harus terbang sendirian ke Malaysia. Benar-benar pengalaman pertama berpergian naik pesawat sendiri, dan juga pengalaman pertama ke luar negeri sendiri. Untungnya aku sudah paham prosedur check-in dan berhadapan dengan pihak keimigrasian. Selain itu aku juga masih ingat bagaimana mencapai KL Sentral dan beberapa tempat di Kuala Lumpur setibanya di Bandara Kuala Lumpur.

Sebuah tantangan sih sebenarnya berada di negeri orang sendirian tanpa ada yang memandu. Aku harus aktif bertanya kepada orang lokal atau memahami berbagai papan informasi yang dipasang di setiap tempat.

Aku masih sering kagok di sini. Walaupun bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia mirip-mirip, tapi ada beberapa kata yang aku harus mikir dulu arti kata itu apa dan apakah mereka ngerti kata dalam bahasa Indonesia yang aku ucapkan. Seperti kata ‘kamar’. Mereka menyebutnya ‘bilik’. Terus tempat tidur atau kasur, mereka menyebutnya ‘katil’. Akhirnya, terpaksa harus dicampur dengan bahasa Inggris untuk beberapa kata yang aku atau mereka tak familiar dengan kata-kata dalam bahasa asli masing-masing.

Amcorp Mall

Amcorp Mall

Oh ya, tentang tempat makanan baru, kali ini aku mencoba makan di food court yang ada di lantai bawah Amcorp Mall, yakni di Restoran Al-Hayat. Menunya nasi paprik kantonis (RM 6.10) dan teh ais (RM 1.40). Mahal juga ya. Kalau malam, memang susah sih nyari makanan di Petaling jaya — kawasan tempatku menginap — yang harganya sekelas harga menu warung.

Layar Laptop Mulai Bergaris (Lagi)

Layar bergaris

Layar bergaris

Layar laptop mulai bergaris (lagi) :(. Berarti ini kali kedua layar laptopku bermasalah setelah tepat setahun yang lalu selesai diperbaiki. Dulu aku menserviskan laptopku ke Acer Service Center yang ada di jalan Gatot Subroto, Bandung. Selama kurang lebih seminggu laptopku harus menginap di tempat servis.

Kalau dulu tanpa laptop seminggu, memang tak masalah. Kalau sekarang … wah, susah rasanya tanpa laptop. Tak akan bisa ‘produktif’ karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan dengan laptop. Terpaksa harus cari pinjaman nih. 🙂

Tapi sejauh ini sih, kondisi layar bergaris atau warna pecah itu terjadi kadangkala. Kadang-kadang dan cukup sering juga layar tiba-tiba kembali normal dan bisa bertahan lama. Jadi mungkin rencana untuk menservis laptop ditunda dulu sampai kondisinya memang benar-benar parah. Tentu saja juga sambil menunggu ada pinjaman laptop. 😀

[Video] Malaysian Boy

Selama berada di Malaysia beberapa waktu yang lalu, entah itu di bus, mall, ataupun di TV aku sering mendengar lagu “Malaysian Boy” ini diputar. Waktu kali pertama mendengar ini, aku merasa de javu. Aku yakin sekali lagu ini rasanya pernah denger di manaaa … gitu sebelumnya. Bener dugaanku, ternyata lagu “Malaysian Boy” ini merupakan remix lagu “American Boy” yang lebih dulu populer. Aku baru tahu setelah dikasih tahu seorang teman.

Tapi walaupun remix, lagu ini terdengar lebih enak dari lagu aslinya. Mungkin karena ditambahkan rap dan bahasanya lebih akrab di telinga kali ya, walaupun ada aksen-aksen Melayunya. 😀

Hari Keempat di KL: Jalan-Jalan Keliling KL

Mungkin agak heran kenapa langsung aku skip ke hari keempat. Tak banyak yang diceritakan tentang kegiatanku di hari ketiga karena hari itu seharian adalah untuk urusan “kerjaan”. Jalan-jalan sih iya, tapi untuk urusan “kerjaan”. Oh ya, di hari ketiga ini aku sempat mampir juga ke kota Dasanrama (bener begitu kan tulisannya?). Tentu saja masih  dalam rangka urusan “kerjaan”. 😛

Nah, di hari Sabtu ini, atau hari keempatku berada di Malaysia, aku dan Jiwo memutuskan untuk memanfaatkan waktu kami untuk jalan-jalan keliling Kuala Lumpur. Tujuan pertama kami adalah Muzium Negara alias National Museum. Dari Taman Jaya — stasiun terdekat kawasan tempat kami menginap — kami menumpang kereta LRT menuju KL Sentral.

Dari KL Sentral sempat bingung juga mau ke arah mana untuk menuju ke Muzium Negara.  Kami benar-benar buta arah. Untung ada GPS. Buka aplikasi Google Maps, dan rute jalan kaki menuju Muzium Negara pun digenerasi oleh aplikasi. Kami mengikuti rute yang telah ditunjukkan. Sebenarnya jarak point to point-nya nggak jauh. Tapi karena akses jalan yang tersedia memaksa kita harus memutar, jadi jarak tempuhnya pun menjadi lebih jauh. Walaupun lumayan juga jalan kaki lebih dari sekilo, nggak apa-apalah, yang penting nggak nyasar, hehehe. 😀

Gerbang Muzium Negara

Gerbang Muzium Negara

Biaya masuk ke dalam museum ini adalah RM 5 atau hampir Rp 15.000 per orang untuk turis asing. Cukup mahal memang. Harga tiket untuk turis lokal dan turis asing memang dibedakan. Kami yang WNI pun tentu saja masuk kategori turis asing.

Ruang D Muzium Negara

Ruang D Muzium Negara

Secara umum, ruangan museum ini dibagi menjadi 4 berdasarkan perjalanan waktu sejarah yang dialami Malaysia. Ruang A untuk zaman prasejarah. Ruang B untuk zaman kesultanan atau saat masuknya Islam ke tanah melayu. Ruang C untuk zaman penjajahan dan Ruang D untuk masa modern.

Dari cara penyajian menurutku kemasannya tidak monoton alias objeknya cukup variatif. Tidak hanya menampilkan miniatur-miniatur orang-orangan yang rasanya sudah umum selalu ada di tiap museum sejarah. Di muzium negara ini ada replika kapal perang, tahta kesultanan, sel tahanan, dll. Selain itu dari segi desain interiornya juga cukup menarik alias tidak monoton.

Dari berbagai objek yang ada di museum mungkin yang paling menarik buatku adalah yang terdapat pada ruang modern, khususnya memorabilia video perjuangan tim bulutangkis Malaysia kala menjuarai Piala Thomas tahun 1992. Mungkin karena aku suka bulutangkis kali ya.

Tapi ngomong-ngomong, ada nggak sih museum yang menampilkan sejarah Indonesia di era modern ini? Khususnya yang menampilkan prestasi-prestasi yang sudah diraih negara kita di kancah internasional di era modern ini. Tak hanya sejarah perpolitikan saja.

Oh iya, dari sisi konten yang ditampilkan, menurutku masih lebih kaya museum di Indonesia, khususnya museum Benteng Vredeburg yang ada di Yogyakarta. Di sana benar-benar komplet menyajikan kronologis sejarah Yogyakarta dari masa prasejarah hingga masa penjajahan.

Pasar Seni

Pasar Seni

Oke, cukup dengan jalan-jalan ke museumnya. Kami pun langsung menuju ke Pasar Seni alias Central Market. Kita hendak cari oleh-oleh di sini. Dari Muzeum Negara kami berjalan kaki. Lumayan capai juga sih, jaraknya ada lah sekitar 1 km lebih. Kami juga sempat menyeberangi stasiun Kuala Lumpur yang rancang bangunannya khas masa kolonial.

Kalau mau mencari oleh-oleh “berbau” Malaysia yang murah, di Pasar Seni lah tempatnya.   Di sana banyak kios-kios yang menjual beraneka ragam souvenir Malaysia seperti gantungan kunci, miniatur Petronas, hiasan kulkas, kaos, dan kerajinan tangan lainnya.

Suasana di dalam Pasar Seni

Suasana di dalam Pasar Seni

Namanya juga pasar, kita bisa melakukan tawar-menawar di sana. Tapi, walaupun namanya pasar, kesan bersih tetap terjaga di lingkungan dalam Pasar Seni ini. Satu nilai positif untuk kita contoh.

Ada kejadian menarik waktu aku hendak membeli souvenir di salah satu toko di sana. Aku mencoba menawar dengan sok-sokan pakai aksen Melayu. Setelah beberapa percakapan, tiba-tiba Continue reading

Hari Kedua di KL: Naik LRT dan ke Petronas

Petang hari tadi menjelang pukul 6 waktu setempat, untuk pertama kalinya aku menaiki LRT (Light Rail Transit) di Kuala Lumpur sepulang Mid Valley. Aku dan Jiwo naik LRT dari stesen Abdullah Hukum menuju stesen Taman Jaya, kawasan tempat kami menginap.

Hebat juga nih LRT. Melaju di atas rel tanpa ada masinis yang mengendalikan di dalam kereta. Sepertinya semua sistem di LRT ini memang sudah terprogram oleh komputer. Atau ada operator yang mengendalikan secara remote? Kayaknya lebih masuk akal kalau memang sudah diprogram.

Touch n Go

Touch n Go

Pembelian tiket menggunakan sistem Touch n Go. Kita tinggal menentukan stasiun tujuan kita, lalu memasukkan uang sejumlah yang diminta ke dalam vending machine tempat kita membeli tiket. Setelah itu token akses masuk dan keluar stasiun serta uang kembalian pun akan diberikan.

Pengalaman pertama naik LRT ini tak berjalan mulus. Ketika kereta transit di stasiun Kerinci, terjadi masalah dalam pengoperasian LRT ini. Semua LRT terpaksa tertahan di setiap stasiun. LRT yang kutumpangi terpaksa harus tertahan selama hampir setengah jam. Oh, man … lama sekali aku harus menunggu.

Tapi anehnya, tak ada suara-suara keluhan yang kompak terdengar dari penumpang di sekitarku. Beda dengan pengalamanku tiap kali naik kereta jarak jauh di Jawa. Setiap kereta harus terpaksa mengalah dari kereta lain di suatu stasiun, pasti ada saja suara keluhan penumpang. Padahal fenomena salah satu kereta harus mengalah di sini itu sudah biasa.

Yang aku salut dari kereta dan stasiun, serta Kuala Lumpur pada umumnya, lingkungannya itu bersih. Khusus di lingkungan stasiun dan dalam LRT, ada aturan buang sampah sembarangan denda RM500. Tak tahu apakah aturan itu benar-benar ditegakkan atau tidak. Tapi lihat saja hasilnya. Namun, di beberapa tempat di Kuala Lumpur, aku masih menemukan “beberapa” putung rokok yang dibuang sembarangan.

LRT

LRT

Malamnya kami pergi lagi menumpang LRT dari stasiun Taman Jaya dekat hotel kami menginap. Tujuan kami kali ini adalah jalan-jalan ke menara Petronas (Petronas Twin Towers), artinya kami harus turun di stasiun KLCC (Kuala Lumpur Convention Center). KLCC ini antara mall, convention hall, stasiun, tempat kerja, semuanya sudah terpadu. Kami menyempatkan sholat maghrib di “surau” di mall lantai bawah. Surau ini sangat luas, sehingga mampu menampung ratusan orang jamaah di dalamnya.

Suria Mall dengan background Petronas Twin Towers

Suria Mall dengan background Petronas Twin Towers

Setelah sholat kami menuju pelataran belakang Suria Mall. Dari area itu kita dapat melihat dengan jelas menara kembar Petronas dengan foreground kolam dan Suriah Mall. Subhanallah … what a beautiful view of Petronas Twin Towers at night! Lighting dari menara ini terlihat cantik sekali di malam hari.

Menara Petronas

Menara Petronas

Banyak juga ya orang-orang yang melepas waktu di taman belakang Suriah Mall ini. Mereka duduk-duduk di padang rumput yang membentang di pinggir kolam. Suasananya memang asri dan menenangkan. Gelap malam disinari gemerlap cahaya bulan dan bintang serta lampu-lampu menara. Suara gemericik air mancur di kolam menambah suasana semakin menggalau malam itu. (eh, kok galau sih … :P)

Banyak juga ternyata orang-orang yang sengaja mengunjungi Petronas Twin Towers untuk berfoto-foto. Di antaranya ada bule-bule juga. Wah, makin marak saja suasana malam itu.

Setelah puas berfoto-foto di area sekitar Petronas, kami balik ke hotel dengan menumpang LRT lagi. Oh ya, Stasiun LRT KLCC ini berada di bawah tanah. Kita tinggal turun menyusuri mall untuk sampai di stasiun. Mirip subway gitulah :D.

Pesawat menuju Kuala Lumpur

Pengalaman Pertama Ke Luar Negeri

Dulu aku pernah menulis tentang pengalaman pertama ke pulau Sumatra. Maaf kalau kali ini postingannya terkesan agak ndeso lagi. Ya, hari ini atau sore tadi tepatnya, untuk kali pertama aku pergi ke luar negeri, yaitu ke Malaysia.

Aku pergi berdua dengan Jiwo, teman IF’07. Kami menumpang pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ7595 dari bandara Husein Sastranegara Bandung pukul 16.15. Pesawat mengalami keterlambatan 30 menit dari yang seharusnya pukul 15.45 sudah take-off.

Pesawat menuju Kuala Lumpur

Pesawat menuju Kuala Lumpur

Penerbangan dari Bandung ke Kuala Lumpur ditempuh selama 2 jam. Mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pukul 19.15 waktu setempat, atau sama dengan 18.15 WIB. Sampai di sana, suasananya sudah menjelang maghrib. Kami langsung mengganti kartu SIM ponsel kami dengan kartu SIM setempat. Mereknya DiGi. Harga starter pack-nya  RM 18.5.

Sebenarnya ketika mendarat di bandara KLIA, aku ingin memotret suasana bandara. Tapi ada larangan memotret area bandara. Ya sudah, tak jadi saja aku.

Dari KLIA menuju KL Sentral menggunakan feeder SkyBus yang tiketnya kami beli sekaligus dengan tiket pesawat. Jauh juga ternyata jarak dari KLIA menuju KL Sentral. Kurang lebih ada 40 menit perjalanan kami tempuh dengan bus. Selama di Malaysia nanti, kami akan stay di hotel Shah’s Village yang terletak di kawasan Petaling Jaya.

Di kawasan Kuala Lumpur (atau seluruh Malaysia?) ini ada tol dan gedung pencakar langit di mana-mana. Mirip-mirip Jakarta lah (atau Jakarta mirip KL?). Pemandangan malam itu begitu bagus. Cahaya lampu di mana-mana, perpaduan dari lampu jalan dan juga gedung-gedung pencakar langit.

Kami mampir makan malam di kawasan — sorry, aku lupa namanya — diajak oleh ‘teman’ dari Malaysia. Semacam food court gitu sih tempatnya. Insya Allah halal karena yang punya adalah orang India muslim. Tapi sempat terkejut juga sih ketika ada poster menu yang menawarkan masakan khas Jawa Timur. Jangan-jangan kokinya ada orang Indonesia juga nih. 😀

Menu Jawa Timuran

Menu Jawa Timuran

Oke, malam ini rasanya harus istirahat dulu. Tak sabar untuk menantikan esok hari untuk jalan-jalan di Kuala Lumpur melihat-lihat suasana di sana. 😀

Mengintip Peluang Tradisi Emas Bulutangkis di Olimpiade 2012

Dengan berakhirnya turnamen India Open Grand Prix Gold 25 Desember 2011 kemarin maka berakhir sudah gelaran turnamen BWF untuk tahun 2011 ini. Sebenarnya masih ada satu turnamen lagi yang tengah berlangsung, yakni Copenhagen Master. Namun, turnamen ini sifatnya hanya invitasi alias undangan, bukan turnamen resmi BWF.

Untuk tahun ini, dari 60 gelar SuperSeries yang dipertandingkan, Indonesia hanya mampu merebut 2 gelar. Keduanya dipersembahkan oleh pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Sementara itu, China menguasai perolehan gelar dengan total 45 gelar. Untuk Indonesia, prestasi tahun ini serupa dengan raihan tahun lalu.

World ranking terakhir untuk tahun ini telah dirilis oleh BWF hari kamis terakhir. Sebagai pecinta bulutangkis, aku pun gatal juga untuk memberikan sedikit analisis mengenai peluang tradisi emas Bulutangkis di Olimpiade London 2012 tahun depan. Yup, bulutangkis memang memiliki tradisi selalu menyumbangkan medali emas untuk Indonesia sejak olimpiade 1992. Nah, apakah tahun depan masih akan berlanjut tradisi itu?

Oke, sebelumnya sekedar diketahui, format turnamen yang akan diselenggarakan untuk cabang bulutangkis di olimpiade 2012 sedikit berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Sebelum memasuki babak knock-out, ada babak penyisihan grup yang mendahului.

Selain format berubah, aturan penentuan jatah pemain yang bisa mewakili suatu negara pun juga berubah. Untuk singles jatah pemain yang bisa lolos ke olimpiade adalah 38 yang akan dibagi ke dalam 16 grup. Sedangkan jatah untuk doubles adalah 16 pasangan yang akan dibagi ke dalam 4 grup. Mengenai detail format turnamen, dapat dilihat pada link ini (sumber resmi BWF). Untuk melihat penentuan jatah wakil tiap negara dan daftar pemain saat ini yang “akan” lolos ke Olimpiade dapat dilihat di link ini (thanks to @rhenzo).

Nah, sekarang jika melihat daftar ranking BWF terakhir untuk tahun ini, maka pemain Indonesia yang akan lolos adalah:

1. Men’s Singles

  • Simon Santoso [7]
  • Taufik Hidayat [9]

2. Women’s Singles

  • Lindaweni Fanetri [39]

3. Men’s Doubles

  • Mohammad Ahsan/Bona Septano [7]

4. Women’s Doubles

  • Greysia Polii/Meiliana Jauhari [8]

5. Mixed Doubles

  • Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir [4]

ket: tanda [] menunjukkan ranking dunia saat ini

Nah, jika menilik daftar pemain yang bakal lolos itu dan melihat prestasi yang ditorehkan selama tahun 2011 ini, aku menilai beberapa pemain/pasangan yang berpotensi untuk meraih medali — ya, saat ini kita bicara medali dulu lah, jangan buru-buru medali emas :p — dan diurutkan berdasarkan yang memiliki peluang paling besar adalah:

1. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Tontowi/Liliyana

Tontowi/Liliyana

Untuk Tontowi/Liliyana jelaslah kenapa aku taruh di kandidat nomor 1. Mereka satu-satunya pemain/pasangan penyumbang gelar Superseries tahun ini. Mereka juga meraih medali perunggu di World Badminton Championship (WBC) 2011, yang bisa dibilang ajang pemanasan buat Olimpiade nanti.

Mereka sempat menjadi the hottest pair in the mixed doubles pada periode April-Juni karena selalu masuk final di 4 turnamen dan meraih 3 gelar berturut-turut. Sayangnya, pasca WBC, prestasi mereka menurun. Mereka sering kalah di babak-babak awal turnamen, dan belum pernah mencicipi final Superseries lagi semenjak WBC itu.

Jumlah kekalahan mereka banyak diderita dari pasangan China. Tidak hanya dikalahkan oleh Zhang Nan/Zhao Yunlei (ranking 1 BWF), tapi juga oleh Xu Chen/Ma Jin (ranking 2 BWF), bahkan pernah juga oleh Hong Wei/Pan Pan (ranking 34 BWF). Awal rentetan kekalahan dari pemain China itu dimulai sejak final Indonesia Open Juni lalu. Dari pengamatanku dan beberapa teman yang menonton langsung final di Istora itu, kami sepakat kekalahan Tontowi/Liliyana lebih disebabkan karena taktik permainan dan kelemahan dari Tontowi/Liliyana ini sudah terbaca oleh Zhang Jun, pelatih ganda China yang juga peraih dua kali medali emas Olimpiade. Kemahiran Zhang Jun membaca taktik lawan ini patut diwaspadai. Variasi taktik mutlak diperlukan.

Jika diukur peluangnya dengan persentase, asal untuk meraih medali (emas/perak/perunggu) aku optimis peluangnya adalah Continue reading