Mengintip Peluang Tradisi Emas Bulutangkis di Olimpiade 2012

Dengan berakhirnya turnamen India Open Grand Prix Gold 25 Desember 2011 kemarin maka berakhir sudah gelaran turnamen BWF untuk tahun 2011 ini. Sebenarnya masih ada satu turnamen lagi yang tengah berlangsung, yakni Copenhagen Master. Namun, turnamen ini sifatnya hanya invitasi alias undangan, bukan turnamen resmi BWF.

Untuk tahun ini, dari 60 gelar SuperSeries yang dipertandingkan, Indonesia hanya mampu merebut 2 gelar. Keduanya dipersembahkan oleh pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Sementara itu, China menguasai perolehan gelar dengan total 45 gelar. Untuk Indonesia, prestasi tahun ini serupa dengan raihan tahun lalu.

World ranking terakhir untuk tahun ini telah dirilis oleh BWF hari kamis terakhir. Sebagai pecinta bulutangkis, aku pun gatal juga untuk memberikan sedikit analisis mengenai peluang tradisi emas Bulutangkis di Olimpiade London 2012 tahun depan. Yup, bulutangkis memang memiliki tradisi selalu menyumbangkan medali emas untuk Indonesia sejak olimpiade 1992. Nah, apakah tahun depan masih akan berlanjut tradisi itu?

Oke, sebelumnya sekedar diketahui, format turnamen yang akan diselenggarakan untuk cabang bulutangkis di olimpiade 2012 sedikit berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Sebelum memasuki babak knock-out, ada babak penyisihan grup yang mendahului.

Selain format berubah, aturan penentuan jatah pemain yang bisa mewakili suatu negara pun juga berubah. Untuk singles jatah pemain yang bisa lolos ke olimpiade adalah 38 yang akan dibagi ke dalam 16 grup. Sedangkan jatah untuk doubles adalah 16 pasangan yang akan dibagi ke dalam 4 grup. Mengenai detail format turnamen, dapat dilihat pada link ini (sumber resmi BWF). Untuk melihat penentuan jatah wakil tiap negara dan daftar pemain saat ini yang “akan” lolos ke Olimpiade dapat dilihat di link ini (thanks to @rhenzo).

Nah, sekarang jika melihat daftar ranking BWF terakhir untuk tahun ini, maka pemain Indonesia yang akan lolos adalah:

1. Men’s Singles

  • Simon Santoso [7]
  • Taufik Hidayat [9]

2. Women’s Singles

  • Lindaweni Fanetri [39]

3. Men’s Doubles

  • Mohammad Ahsan/Bona Septano [7]

4. Women’s Doubles

  • Greysia Polii/Meiliana Jauhari [8]

5. Mixed Doubles

  • Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir [4]

ket: tanda [] menunjukkan ranking dunia saat ini

Nah, jika menilik daftar pemain yang bakal lolos itu dan melihat prestasi yang ditorehkan selama tahun 2011 ini, aku menilai beberapa pemain/pasangan yang berpotensi untuk meraih medali — ya, saat ini kita bicara medali dulu lah, jangan buru-buru medali emas :p — dan diurutkan berdasarkan yang memiliki peluang paling besar adalah:

1. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Tontowi/Liliyana

Tontowi/Liliyana

Untuk Tontowi/Liliyana jelaslah kenapa aku taruh di kandidat nomor 1. Mereka satu-satunya pemain/pasangan penyumbang gelar Superseries tahun ini. Mereka juga meraih medali perunggu di World Badminton Championship (WBC) 2011, yang bisa dibilang ajang pemanasan buat Olimpiade nanti.

Mereka sempat menjadi the hottest pair in the mixed doubles pada periode April-Juni karena selalu masuk final di 4 turnamen dan meraih 3 gelar berturut-turut. Sayangnya, pasca WBC, prestasi mereka menurun. Mereka sering kalah di babak-babak awal turnamen, dan belum pernah mencicipi final Superseries lagi semenjak WBC itu.

Jumlah kekalahan mereka banyak diderita dari pasangan China. Tidak hanya dikalahkan oleh Zhang Nan/Zhao Yunlei (ranking 1 BWF), tapi juga oleh Xu Chen/Ma Jin (ranking 2 BWF), bahkan pernah juga oleh Hong Wei/Pan Pan (ranking 34 BWF). Awal rentetan kekalahan dari pemain China itu dimulai sejak final Indonesia Open Juni lalu. Dari pengamatanku dan beberapa teman yang menonton langsung final di Istora itu, kami sepakat kekalahan Tontowi/Liliyana lebih disebabkan karena taktik permainan dan kelemahan dari Tontowi/Liliyana ini sudah terbaca oleh Zhang Jun, pelatih ganda China yang juga peraih dua kali medali emas Olimpiade. Kemahiran Zhang Jun membaca taktik lawan ini patut diwaspadai. Variasi taktik mutlak diperlukan.

Jika diukur peluangnya dengan persentase, asal untuk meraih medali (emas/perak/perunggu) aku optimis peluangnya adalah 90-95%. Namun, jika ditanya peluang meraih medali emas, hmm … agak susah sih … mungkin baru 65-75% lah. Aku ingin melihat kiprah mereka di beberapa turnamen ke depan sebelum olimpiade, khususnya ketika melawan ganda campuran China, Zhang/Zhao dan Xu/Ma, sebelum benar-benar yakin.

2. Mohammad Ahsan/Bona Septano

Ahsan/Bona

Ahsan/Bona

Pasangan ini mulai meningkat perkembangannya sejak Indonesia Open 2011 lalu. Ketika itu mereka berhasil menembus semifinal sebelum takluk oleh Chai Biao/Guo Zhendong. Prestasinya berlanjut di WBC 2011 dengan menjadi semifinalis pula. Di WBC ini mereka sempat membalaskan dendam pada Chai/Guo dan mengandaskan unggulan kedua dari denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, sebelum akhirnya kandas di ganda nomor dua Korea, Yo Yeon Seong/Ko Sung Hyun.

Semenjak WBC 2011 itu, grafik prestasi mereka cukup baik. Mampu menjadi finalis Japan Open Superseries dan meraih medali emas SEA Games. Di Superseries Finals Desember lalu pun walau mereka gagal lolos dari penyisihan grup karena hanya menang sekali, yakni ketika melawan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, mereka mampu menyuguhkan permainan yang cukup apik dan semangat juang yang tinggi. Padahal tak ada pelatih yang mendampingi.

Namun, aku punya catatan khusus untuk pasangan ini. Yakni kurangnya ketenangan di poin-poin kritis. Khususnya Ahsan. Aku melihatnya kok dia sering terbawa emosi gitu ya. Aku tak tahu pasti sih, apakah itu disebut emosi atau semangat yang berapi-api, jadi dia sedikit-sedikit seringkali memaksakan smash. Dan kalau sudah menyangkut di net, seringkali raut frustrasi terpancar dari wajahnya.

Untuk peluang memperoleh medali (emas/perak/perunggu), aku melihatnya ‘cuma’ sekitar 50-65%. Sedangkan peluang medali emas, hanya 30-40%. Poin minus yang membuatku ragu pada pasangan ini adalah mereka belum pernah meraih gelar Superseries. Masuk final pun baru 2 kali (CMIIW), yakni Japan Open 2008 & Japan Open 2011. Selain itu, rekor pertemuan mereka terhadap top 5 ranking BWF saat ini cukup buruk. Namun, poin plus dari pasangan ini yang membuatku yakin adalah semangat dan keuletan mereka dalam menyerang & bertahan.

Performa mereka yang mengesankan bagiku sejauh ini — yang pernah kutonton — adalah ketika di final Japan Open 2011 melawan Fu Haifeng/Cai Yun. Walaupun kalah, tapi permainan mereka mengundang decak kagum bagi penonton dan komentator pertandingan saat itu. Tajam dalam menyerang dan kokoh dalam bertahan. Mudah-mudahan sebelum olimpiade 2012 ini permainan mereka semakin meningkat, dan bahkan dapat meraih gelar Superseries pertama mereka. Jika hal itu terjadi, tentu akan sangat mendongkrak kepercayaan diri mereka untuk meraih medali emas di olimpiade nanti.

—–     —–     —–

Kok cuma dua?

Terus terang, tanpa bermaksud mengecilkan peluang pemain/pasangan yang lain, aku melihat peluang yang lebih terbuka untuk meraih medali adalah kedua pasangan ini, Tontowi/Liliyana dan Bona/Ahsan. Hal ini telah terbukti kala mereka mampu menembus 4 besar di BWF World Championship 2011 lalu di London. Peluang mereka akan semakin terbuka apabila mendapatkan undian yang menguntungkan dengan tidak bertemu lawan berat di babak-babak awal.

Namun, aku juga masih berharap Markis Kido/Hendra Setiawan bisa lolos ke Olimpiade nanti. Prestasi mereka walaupun menurun, tapi secara permainan justru mereka lebih mampu bersaing dengan ganda-ganda putra top dunia saat ini dibanding ganda-ganda putra Indonesia yang lain saat ini. Seandainya mereka tidak lolos, semoga Bona/Ahsan bisa mengikuti jejak mereka menjadi juara olimpiade nanti. Lupakan dulu rekor pertemuan dengan lawan-lawan top dunia. Usaha di lapangan adalah penentu. Siapa sangka dulu Kido/Hendra mampu mengalahkan Koo KK/Tan BH (Malaysia) di Olimpiade 2008, padahal rekor mereka adalah 4-0 untuk Koo/Tan.

Ingat, tradisi Indonesia tidak hanya meraih medali emas badminton di olimpiade, tapi juga meraih minimal 3 medali badminton di setiap ajang olimpiade. Ya, semoga tradisi itu masih bisa dipertahankan. Maish segar di ingatanku ketika Maria Kristin berhasil merebut medali perunggu tunggal wanita dengan menumbangkan 3-4 unggulan. Mudah-mudahan apa yang pernah dilakukan Maria itu dapat menginspirasi atlet-atlet bulutangkis Indonesia yang akan bertanding di olimpiade 2012 nanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s