Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Pajangan tengkorak hewan-hewan yang sudah mati

Trip ke Kawah Ijen & TN Baluran (Bag. 2-Tamat): Safari di Africa Van Java

Minggu, 9 November 2014

Perjalanan ke Taman Nasional Baluran

Dari Paltuding kami bergerak menuju ke destinasi berikutnya: Taman Nasional Baluran. Di tengah perjalanan kami mampir makan (menjelang) siang di Warung Nelayan Blambangan.

Rumah makan ini berada di tepi Selat Bali. Meja tempat di mana kami makan langsung menghadap ke Selat Bali. Daratan yang tampak di seberang adalah Taman Nasional Bali Barat.

Menu yang tersedia di rumah makan Nelayan Blambangan ini, sesuai namanya, tentu saja beraneka seafood. Tapi terus terang termasuk mahal sih harga menu di sana buat kantong kami, hiks, hiks, hiks. Nggak apa-apalah sekali-sekali.

View dari rumah makan. Pulau Bali tampak di seberang. (foto oleh Putri)

View dari rumah makan. Pulau Bali tampak di seberang. (foto oleh Putri)

Setelah makan siang, kami langsung meluncur ke Taman Nasional Baluran. Secara administratif TN Baluran ini sebenarnya masuk wilayah Kabupaten Situbondo. Namun, akses ke sana lebih dekat dijangkau dari Banyuwangi daripada dari Situbondo. Gerbang masuk Taman Nasional ini berada tidak jauh dari perbatasan Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi.

Tiket masuk TN Baluran ini adalah Rp7.500 per orang (weekend). Sedangkan tiket masuk kendaraan roda empat adalah Rp15.000. Setelah membayar tiket masuk, kami masuk ke dalam area taman nasional. Tujuan kami adalah menuju ke Bekol yang berjarak 12 km dari pos masuk.

Perjalanan ke Bekol

Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Waktu tempuhnya bisa selama itu karena jalan yang kami lalui memang rusak parah. Selain itu juga mobil sengaja tidak melaju kencang agar kami bisa melihat view sekeliling selama perjalanan.

Sepanjang perjalanan ke Bekol itu tersaji view hutan dengan pepohonan jati yang mengering di kanan kiri jalan. Musim kemarau yang cukup panjang membuat daun-daun pohon-pohon jati tersebut berguguran.

Namun, uniknya Continue reading

Fenomena Api Biru (foto oleh Pras)

Trip ke Kawah Ijen & TN Baluran (Bag. 1): Berburu Api Biru

Minggu kedua bulan November yang lalu aku dan beberapa teman melakukan trip ke Kawah Ijen dan Taman Nasional (TN) Baluran yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Total ada 9 orang yang ikut.

Sebenarnya ada 12 orang yang konfirmasi ikut, bahkan sudah membeli tiket PP. Namun, seminggu sebelum hari H ada 3 orang yang satu per satu mengundurkan diri karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.

Dari 9 orang itu, 7 orang adalah “alumni” backpacking Indochina bulan Mei yang lalu. Ide jalan-jalan ini juga spontan keluar begitu saja sewaktu kami meetup sambil buka bersama bulan Ramadhan yang lalu.

Perjalanan ke Banyuwangi

Karena kota domisili kami berbeda-beda, kami pun berangkat terpencar. Aku dan Gin berangkat dari Bandung. Yang lain ada yang join di Jogja, Surabaya, dan Banyuwangi langsung.

Aku dan Gin naik KA Kahuripan dari Stasiun Kiaracondong, Bandung, pada hari Jumat malam, 7 November. Tiba di Jogja keesokan harinya pukul 4.40.

Di Jogja bergabunglah Putri dan Helen, teman baru kami. Selanjutnya kami naik KA Sri Tanjung tujuan akhir Banyuwangi. Kereta berangkat pukul 7.20.

KA yang kami tumpangi tiba di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 13.30. Di sana kereta singgah agak lama. Pasalnya lokomotif harus dipindah ke rangkaian belakang karena kereta hendak berganti jalur rel ke selatan, ke arah Sidoarjo. Di Surabaya Gubeng bergabung lagi 3 orang, yakni Pambudi, Listi, dan Zaki.

Setelah itu kereta melanjutkan perjalanan kembali. Kami sampai di Stasiun Karangasem — satu stasiun sebelum stasiun akhir Banyuwangi Baru — jam 9 malam, telat hampir 1 jam dari jadwal seharusnya. Saat kami tiba, hujan deras menyambut kami. Untungnya hujan tidak berlangsung lama.

TIba di Stasiun Karangasem (foto oleh Putri)

TIba di Stasiun Karangasem (foto oleh Putri)

Di Stasiun Karangasem rombongan kami menjadi lengkap dengan bergabungnya Pras dan Rizky yang sudah tiba lebih dulu. Rizky langsung cabut dari perjalanan dinasnya di Denpasar, sedangkan Pras naik KA Mutiara Timur yang tiba sore di Karangasem.

Perjalanan ke Paltuding

Di Stasiun Karangasem juga telah menunggu mobil rental yang menjemput kami. Kami sudah memesan mobil rental ini beberapa hari sebelumnya via telepon. Mobil yang kami sewa jenis Elf dengan kapasitas 10 orang penumpang plus driver.

Malam itu kami tidak langsung menuju ke Paltuding — daerah tempat Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen berada. Kami Continue reading

putty

Mengunggah Git Repository ke Shared Hosting Menggunakan Git-FTP

Apa itu Git? Bagi para developer tentunya sudah tak asing lagi dengan kakas (tool) yang satu ini. Git adalah sebuah kakas yang memudahkan para developer untuk mengelola versi aplikasi mereka.

Bagi mereka yang bekerja dalam sebuah tim, Git ini akan sangat membantu mengolaborasikan pekerjaan antar developer. Tak perlu itu copy file secara manual antar personel.

Direktori projek aplikasi yang berisi kode dan resource lainnya yang menggunakan Git biasa disebut dengan Git repository. Bitbucket dan Github adalah contoh website penyedia hosting Git repository secara gratis. Kita bisa meletakkan kode projek aplikasi di sana. Atau bisa juga kita men-setup sendiri Git Repository di komputer kita.

Ketika aplikasi sudah siap untuk di-deploy pada stage production alias live, kita tinggal menjalankan perintah “git pull” saja di server tempat aplikasi akan live. Nah, kendalanya adalah jika kita hosting web kita pada shared hosting. 

Umumnya penyedia jasa shared hosting ini tidak menyediakan fasilitas git. Pengguna shared hosting hanya bisa Continue reading

Hari Belanja Online Nasional dalam Google

Harbolnas dan Godaan Belanja

Kemarin Jumat tanggal 12-12-2014 merupakan Hari Belanja Online Nasional atau yang biasa disingkat dengan Harbolnas. Tahun ini adalah pelaksanaan yang ketiga kalinya sejak pertama pada tahun 2012. Lebih lanjut tentang Harbolnas, bisa dibaca di Wikipedia pada link ini.

Di beberapa negara lain sebenarnya ada perayaan semacam ini, seperti Black Friday dan Cyber Monday yang diadakan saat momen Thanksgiving. Namun, hanya Cyber Monday yang memang dikhususkan untuk mempersuasi orang berbelanja online.

Lalu kenapa sih ada event-event seperti itu. Nggak rugi apa mereka yang jor-joran ngelempar “Great Deals”, “Best Buy”, dan sejenisnya untuk produk-produk yang mereka jual. Ini ada penjelasan menarik dari Dan Holliday, mantan retailer manager di Walmart, di Quora tentang “What Are the Economics Behind the Black Friday Sales?”

Well, inti dari penjelasannya adalah dengan adanya event tersebut orang-orang akan terdorong untuk “be in that moment” karena  Continue reading

Bunga di Ranu Kumbolo

Pendakian Mahameru (Day 3-Tamat): Bye Ranu Kumbolo!

Senin, 1 Desember 2014

Hujan di luar tenda membuatku agak malas bangun subuh itu. Aku menunggu hujan reda. Kondisi cuaca Ranu Kumbolo dari semalam masih labil, gerimis-reda-gerimis-reda.

Pukul setengah 5 pagi hujan akhirnya reda. Aku pun segera bangun dan bergerak ke luar tenda. Mengambil air wudlu di Ranu Kumbolo kemudian mendirikan sholat subuh.

Rencana untuk melihat sunrise pagi itu gagal karena langit ternyata masih berawan. Walaupun demikian, menit demi menit, langit berangsur-angsur menjadi terang. Namun, tetap, matahari tak menampakkan bulatan wajahnya pagi itu. Hanya sinarnya saja yang bisa kami rasakan kehadirannya.

Suasana sunrise di Ranu Kumbolo

Suasana sunrise di Ranu Kumbolo

Aku mengambil beras yang tersisa untuk dimasak. Setelah menyalakan api kompor dan meletakkan panci berisi air beras ke atasnya, aku kembali berdiri di depan Ranu Kumbolo untuk memotret keindahan yang diperlihatkan oleh alam di sana.

Sementara itu, Zaki memasak air panas untuk kami semua. Ia juga sekaligus membuatkan kopi untuk masing-masing dari kami. Kopi hangat, udara sejuk khas pegunungan, dan keindahan Ranu Kumbolo di depan mata, wow, sebuah perpaduan sempurna untuk menikmati suasana pagi itu.

Aku mencoba menyusuri sisi selatan Ranu Kumbolo dan Continue reading

Sunrise di Mahameru

Pendakian Mahameru (Day 2): Mendung di Mahameru

Pukul 11 malam, masih di hari Sabtu, 29 November 2014, kami semua bangun dari tidur malam kami yang hanya 2 jam. Kami bersiap-siap untuk melakukan summit attack. Ada satu teman yang memutuskan untuk tidak ikut karena kakinya masih terasa sakit karena pendakian seharian sebelumnya.

Saat itu tak hanya kami, kelompok pendaki yang lain juga tengah bersiap-siap. Kami semua berkumpul dan berdoa bersama sebelum memulai pendakian ke Puncak Mahameru tengah malam itu. Pukul 23.30 pendakian pun dimulai.

Minggu, 30 November 2014

Summit Attack

Dari Kalimati kami mendaki menuju Arcopodo. Arcopodo merupakan kawasan vegetasi terakhir sebelum Puncak Mahameru. Pendakian kali ini terasa lebih ringan karena tidak perlu membawa beban yang berat di punggung.

Sekitar 1,5 jam kami menyusuri hutan Arcopodo. Kemudian tibalah kami di batas terakhir vegetasi. Medan berikutnya yang kami hadapi adalah lautan pasir berkerikil. Ketinggian saat itu sebagaimana yang aku cek dari GPS-ku adalah sekitar 3000 mdpl. Wew, berarti ada 676 meter ketinggian lagi yang harus kami tempuh untuk sampai puncak.

Teman-teman pendaki yang lain memilih untuk beristirahat di perbatasan tersebut terlebih dahulu. Sementara aku dan kenalan baruku, Gianluca, orang Italia yang sedang bekerja di Surabaya, melanjutkan pendakian. Jadilah kami berdua menjadi orang yang paling depan dalam summit attack itu.

Awal-awal medan pasir ini belum terasa berat. Aku bisa menjejakkan kaki dengan ‘normal’ karena sedikit terbantukan oleh pasir yang agak basah sehingga membuatnya agak padat. Langkah demi langkah akhirnya kesulitan itu datang juga. Kaki ini susah untuk dicengkeramkan ke tanah. Jika tak mampu menahannya, maka kita akan terperosok 1-2 langkah ke bawah.

Aku mencoba strategi pertama. Mendaki layaknya macan yang berjalan dengan 4 kaki. Tanganku kugunakan untuk mencengkeram kerikil dan bebatuan yang ada di depanku. Sekali gerak, aku bisa dapat 4-6 langkah. Lumayan ber-progress. Pada titik ini ternyata jarak antara kami (aku dan Gianluca) dengan teman-teman pemuncak lainnya sudah cukup jauh.

Semakin lama tenagaku semakin terkuras. Aku merasakan keletihan. Sudah 1,5 jam aku mendaki tanah berpasir ini. Namun, saat kulihat GPS-ku, ternyata kami baru setengah jalan dari Arcopodo tadi. Kami berada di ketinggian 3300-an mdpl. Masih ada 300-an meter lagi.

Lama-lama aku tertinggal oleh Gianluca. Jarakku dengannya semakin jauh. Tapi masih tak sejauh jarak antara diriku dengan pendaki di belakangku. Pada titik ini aku benar-benar merasa seperti sendirian. Di tengah kegelapan malam, tak ada suara sedikitpun. Benar-benar hening. Belum pernah aku merasakan keheningan yang benar-benar hening tanpa suara seperti itu. Bahkan Continue reading

Ranu Kumbolo

Pendakian Mahameru (Day 1): Mendaki Sampai Kalimati

Setelah 2 tahun yang lalu, akhir November kemarin aku kesampaian lagi untuk berkunjung ke Gunung Semeru, Jawa Timur. Jika 2 tahun lalu aku datang dengan tujuan hanya ingin menikmati Ranu Kumbolo saja (dan Gunung Bromo), pada kesempatan kali ini aku datang dengan misi untuk berusaha menjejakkan kaki di Puncak Mahameru yang berada di ketinggian 3676 mdpl.

Peserta pendakian kali ini selain aku, ada Zaki (EL’07), Fahmi (EL’07), Aban (EL’07), dan Ragil (teman kantor Zaki). Zaki sendiri adalah ketua tim kami. Dia yang menginisiasi rencana pendakian ini. Dia pula yang mengurus pendaftaran online perizinan pendakian ini.

Sabtu, 29 November 2014

Perjalanan ke Tumpang dari Jakarta

Pada hari Jumat, 28 November, kami bersama-sama menumpang pesawat AirAsia dari Jakarta menuju Surabaya dengan jadwal keberangkatan pukul 22.35. Pesawat sempat mengalami delay sekitar 15 menit. Kami tiba di bandara Juanda sekitar pukul 12 malam.

Keluar hall kedatangan, kami disambut belasan orang yang menawarkan jasa antar. Kami bilang tujuan kami hendak ke Tumpang, Malang. Mereka kompak menawarkan ongkos 500.000 rupiah. Kami mencoba menawar ke salah satu orang 400.000. Namun, mereka tetap keukeuh dengan harga segitu. Akhirnya kami pun sepakat dengan harga tersebut.

Perjalanan dari Juanda ke Tumpang menempuh waktu selama 2 jam. Kami di-drop di Alfamart yang terletak sekitar 100 meter setelah Masjid Jami’ Tumpang. Di Alfamart kami membeli logistik yang kami butuhkan untuk pendakian.

Perjalanan ke Ranu Pani

Saat tengah beristirahat di depan Alfamart, kami dihampiri sejumlah calon pendaki lain. Ternyata mereka adalah anak-anak Unair (Universitas Airlangga, Surabaya). Mereka mengajak untuk share cost naik truk ke Ranu Pani (biasa disebut dengan Ranu Pane juga), desa di kaki Gunung Semeru. Terang saja kami menyambut baik ajakan tersebut.

Jadilah kami naik truk ke Ranu Pani bersama rombongan anak Unair yang berjumlah 9 orang tersebut. Per orang dikenakan ongkos Rp40.000. Kami berangkat dari rumah sang pemilik truk jam setengah 6 pagi. Perjalanan ke Ranu Pani ini memakan waktu hampir 2 jam.

Ranu Pani

Ranu Pani

Setibanya di Ranu Pani kami langsung menuju ke Pos Ranu Pani untuk mengurus perizinan. Tak lupa kami menyiapkan persyaratan seperti bukti pembayaran, surat keterangan sehat, dan 1 lembar fotocopy KTP untuk diserahkan. Kami membayar Rp57.500 per orang sebagai tiket masuk (Tarif hari biasa Rp17.500/hari dan hari libur Rp22.500/hari).

Setelah surat izin pendakian dikantongi, kami segera bergerak ke warung untuk sarapan sebelum memulai pendakian. Di warung itu kami juga membungkus nasi untuk makan siang dan malam. Yak, kami memutuskan untuk tidak pakai acara masak-memasak di hari pertama ini demi menghemat waktu. Pasalnya kami berencana untuk langsung summit attack pada malam pertama ini.

Mengurus perizinan

Mengurus perizinan

Pendakian Dimulai

Pukul 9.30 kami memulai pendakian. Kami melewati Continue reading